- Beranda
- Stories from the Heart
Kisah Tak Sempurna
...
TS
aldiansyahdzs
Kisah Tak Sempurna
Quote:

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh.
Selamat pagi warga Kaskus di Seluruh Muka Bumi.
Terimakasih kepada Agan / Aganwati yang sudah mampir di Thread ini. Terimakasih pula untuk sesepuh dan moderator SFTH. Thread ini adalah thread pertama kali saya main kaskus . Saya berharap Thread pertama kali saya di Kaskus bisa membuat Agan / Aganwati terhibur dengan coretan sederhana saya ini.
Thread ini bercerita tentang kisah putih abu - abu seorang laki laki yang saya beri nama Erlangga. Dari pada penasaran, lebih baik langsung baca aja gan! Selamat galau eh selamat membacaaa.
NB; Kritik dan Saran sangat saya butuhkan agar saya dapat menulis lebih baik lagi.
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Keep in touch with me.
twitter: aldiansyahdzs
instagram : aldisabihat
twitter: aldiansyahdzs
instagram : aldisabihat
Diubah oleh aldiansyahdzs 17-06-2019 18:30
JabLai cOY dan 31 lainnya memberi reputasi
32
132.7K
879
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aldiansyahdzs
#368
Teduh – Part 1
Pesanan yang telah kami tunggu telah datang, Dean memesan coklat panas sedangkan aku tentu saja aku memesan teh.
Mataku menatap kosong gumpalan awan kelabu. Masih saja pertanyaan mengapa, mengapa, dan seribu mengapa tergantung – gantung di kepalaku. Apa ini Tuhan jawaban dari rasa sayang terlalu tinggi untuk makluk-Mu? Diantara pertanyaan mengapa dan mengapa bisa terjadi aku memikirkan bagaimana caranya nanti aku bisa menata hatiku kembali? Entah aku harus menatanya sendiri atau ada orang yang membantu menata hatiku?
“Udah dong ah jangan ngelamun, masa aku mau dikacangin nih?” Ia mengarahkan telunjuknya ke dahiku. “Ehehe ngga kok kalem aja.” Ujarku sekenanya.
Rasanya memang benar berat menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan harap. Aku mencoba menerima kenyataan pahit ini meskipun ku tahu sulit sekali. Jika aku menarik lini masa, perkenalanku dengan Octa memang tak disangka – sangka. Octa mencoba mengenalku dengan cara yang aneh, ia rela di hukum berkali – kali. Entah bagaimana, kami menjadi lebih dekat setelah perkenalan itu. Octa sering mensupportku, ia juga sering memberikan kejutan – kejutan yang tak pernah ku duga. Tentang sepeda, tentang hujan, tentang batagor, dan semua hal antara aku dan Octa. Namun mengapa kemanisan ini berubah menjadi kepahitan? Adakah sebuah senyuman tanpa tangisan? Adakah sebuah rasa sayang tanpa penghianatan? Aku belum menemukan jawaban dari rangkaian pertanyaanku itu. Hanya saja saat ini tangis yang mampu mendeskripsikan aku.
Langit kini sedikit condong kearah timur, malam sebentar lagi akan tiba. Kami masih tetap saja berdua, mengusir sepi yang selalu datang kala kami sendiri. Kala kegundahan ini aku mencoba meyakinkan diri bahwa aku baik – baik saja. Setidaknya dengan cara itu aku mencoba menepis rasa sakit. Memang yang sulit setelah patah hati bukan melupakan, tapi memulai kembali.
Angin berhembus, membuat daun – daun gugur berjatuhan. Awalnya hanya satu namun karena angin yang berhembus terlalu kencang membuat ratusan daun gugur berjatuhan. Aku memungut daun – daun tersebut agar tidak terlihat berserakan. Lalu kini aku duduk memperhatikan ranting – ranting yang telah kehilangan daun. Mungkin sang ranting akan merasa kesepian. Tapi suatu saat nanti akan tumbuh daun yang baru.
Analogiku mungkin aneh. Tapi mungkin ada benarnya juga dari daun yang jatuh dari ranting. Aku mengibaratkan daun itu adalah kebahagiaan. Namun kebahagiaan itu bisa saja terbawa secepat angin. Tak ada yang benar – benar abadi di dunia ini. Tapi suatu saat nanti akan muncul lagi daun yang baru.
Dari kelasku, aku memandang ke arah lapangan olahraga. Disana kelas X TKJ 1 sedang melakukan kbm olahraga. Aku tahu ini kelasnya Octa. Setelah mataku mencari – cari dia akhirnya ia tertangkap oleh mataku. Ada sebuah keinginan untukku menyapanya, tapi hatiku berkata tidak usah. Sudahlah aku tak usah menanyakan siapa laki – laki itu. Lagian setelah dia pulang ia tak pernah sekalipun mencoba menghubungiku. Biarlah semua ini tergerus oleh waktu. Aku yang harus menyesuaikan kembali dengan jalan kehidupanku. Tak boleh ada tangis, tidak.
Sudah dua mata pelajaran berlalu, bel istirahat telah berbunyi. Perutku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Sampailah aku di kantin, dengan terburu – buru aku memesan nasi goreng.
Quote:
Pesanan yang telah kami tunggu telah datang, Dean memesan coklat panas sedangkan aku tentu saja aku memesan teh.
Quote:
Mataku menatap kosong gumpalan awan kelabu. Masih saja pertanyaan mengapa, mengapa, dan seribu mengapa tergantung – gantung di kepalaku. Apa ini Tuhan jawaban dari rasa sayang terlalu tinggi untuk makluk-Mu? Diantara pertanyaan mengapa dan mengapa bisa terjadi aku memikirkan bagaimana caranya nanti aku bisa menata hatiku kembali? Entah aku harus menatanya sendiri atau ada orang yang membantu menata hatiku?
“Udah dong ah jangan ngelamun, masa aku mau dikacangin nih?” Ia mengarahkan telunjuknya ke dahiku. “Ehehe ngga kok kalem aja.” Ujarku sekenanya.
Rasanya memang benar berat menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan harap. Aku mencoba menerima kenyataan pahit ini meskipun ku tahu sulit sekali. Jika aku menarik lini masa, perkenalanku dengan Octa memang tak disangka – sangka. Octa mencoba mengenalku dengan cara yang aneh, ia rela di hukum berkali – kali. Entah bagaimana, kami menjadi lebih dekat setelah perkenalan itu. Octa sering mensupportku, ia juga sering memberikan kejutan – kejutan yang tak pernah ku duga. Tentang sepeda, tentang hujan, tentang batagor, dan semua hal antara aku dan Octa. Namun mengapa kemanisan ini berubah menjadi kepahitan? Adakah sebuah senyuman tanpa tangisan? Adakah sebuah rasa sayang tanpa penghianatan? Aku belum menemukan jawaban dari rangkaian pertanyaanku itu. Hanya saja saat ini tangis yang mampu mendeskripsikan aku.
Quote:
Langit kini sedikit condong kearah timur, malam sebentar lagi akan tiba. Kami masih tetap saja berdua, mengusir sepi yang selalu datang kala kami sendiri. Kala kegundahan ini aku mencoba meyakinkan diri bahwa aku baik – baik saja. Setidaknya dengan cara itu aku mencoba menepis rasa sakit. Memang yang sulit setelah patah hati bukan melupakan, tapi memulai kembali.
Quote:
***
Angin berhembus, membuat daun – daun gugur berjatuhan. Awalnya hanya satu namun karena angin yang berhembus terlalu kencang membuat ratusan daun gugur berjatuhan. Aku memungut daun – daun tersebut agar tidak terlihat berserakan. Lalu kini aku duduk memperhatikan ranting – ranting yang telah kehilangan daun. Mungkin sang ranting akan merasa kesepian. Tapi suatu saat nanti akan tumbuh daun yang baru.
Analogiku mungkin aneh. Tapi mungkin ada benarnya juga dari daun yang jatuh dari ranting. Aku mengibaratkan daun itu adalah kebahagiaan. Namun kebahagiaan itu bisa saja terbawa secepat angin. Tak ada yang benar – benar abadi di dunia ini. Tapi suatu saat nanti akan muncul lagi daun yang baru.
Dari kelasku, aku memandang ke arah lapangan olahraga. Disana kelas X TKJ 1 sedang melakukan kbm olahraga. Aku tahu ini kelasnya Octa. Setelah mataku mencari – cari dia akhirnya ia tertangkap oleh mataku. Ada sebuah keinginan untukku menyapanya, tapi hatiku berkata tidak usah. Sudahlah aku tak usah menanyakan siapa laki – laki itu. Lagian setelah dia pulang ia tak pernah sekalipun mencoba menghubungiku. Biarlah semua ini tergerus oleh waktu. Aku yang harus menyesuaikan kembali dengan jalan kehidupanku. Tak boleh ada tangis, tidak.
Sudah dua mata pelajaran berlalu, bel istirahat telah berbunyi. Perutku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Sampailah aku di kantin, dengan terburu – buru aku memesan nasi goreng.
Quote:
Diubah oleh aldiansyahdzs 10-12-2015 22:13
junti27 dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Tutup