- Beranda
- Stories from the Heart
AKU, KAMU, DAN LEMON
...
TS
beavermoon
AKU, KAMU, DAN LEMON
SELAMAT DATANG DI RUMAH BEAVERMOON
Hallo semua, salam hangat dari bawah Gorong-gorong Sudirman
Kali ini ane akan coba buat share cerita yang ane buat. Jadi, selamat menikmati cerita ini dan tetap dukung kami meskipun hasilnya ngga banget
Jangan lupa buat RATE jika berkenan di hati kalian dan KOMENG jika ada kritik dan saran

Spoiler for Tanya Jawab:
Tanya Jawab Seputar Cerita
Q: Ini cerita nyata atau fiksi?
A: Sebenernya cerita ini gabungan dari kisah nyata sama beberapa unsur fiksi
Q: Bagian yang nyata yang mana aja? Yang fiksi yang mana aja?
A: Nah, cerita ini dibuat agar para pembaca bisa berimajinasi secara individu. Jadi kalau di tanya yang nyata mana yang fiksi mana, ya coba bayangin aja sendiri
Q: Ini nama asli atau nama samaran?
A: Ada beberapa yang disamarkan karena privasi banget nget nget
Q: Kok banyak kentangnya sih? Kan jadi kesel
A: Tak kentang maka tak kenyang
Maklumlah namanya baru di dunia SFTH ini jadi ya banyakin kentangnya aja dulu
Q: Atas dasar apa cerita ini dibuat?
A: Asal mula bikin cerita ini sebenernya biar ngga gabut-gabut amat kalo malem kan daripada nontonin Saori Hara mulu mending bikin cerita
terus juga biar ngga galau galau amat belom lama menjadi jomblo lagi 
Q: Kok tampilan awalnya biasa aja sih?
A: Masih newbie ya, NI-U-BI!! Jadi belom ngerti ngerti amat apa yang harus ditampilin buat penghias tampilan awal cerita ini, kalo ada yang mau ngajarin ya monggo
Q: Ini cerita nyata atau fiksi?
A: Sebenernya cerita ini gabungan dari kisah nyata sama beberapa unsur fiksi

Q: Bagian yang nyata yang mana aja? Yang fiksi yang mana aja?
A: Nah, cerita ini dibuat agar para pembaca bisa berimajinasi secara individu. Jadi kalau di tanya yang nyata mana yang fiksi mana, ya coba bayangin aja sendiri

Q: Ini nama asli atau nama samaran?
A: Ada beberapa yang disamarkan karena privasi banget nget nget

Q: Kok banyak kentangnya sih? Kan jadi kesel

A: Tak kentang maka tak kenyang
Maklumlah namanya baru di dunia SFTH ini jadi ya banyakin kentangnya aja duluQ: Atas dasar apa cerita ini dibuat?
A: Asal mula bikin cerita ini sebenernya biar ngga gabut-gabut amat kalo malem kan daripada nontonin Saori Hara mulu mending bikin cerita
terus juga biar ngga galau galau amat belom lama menjadi jomblo lagi 
Q: Kok tampilan awalnya biasa aja sih?
A: Masih newbie ya, NI-U-BI!! Jadi belom ngerti ngerti amat apa yang harus ditampilin buat penghias tampilan awal cerita ini, kalo ada yang mau ngajarin ya monggo
Spoiler for Pembukaan:
AKU, KAMU, DAN LEMON
When life gives you lemons, make orange juice. Leave the world wondering how you did it
Cerita ini mengisahkan tentang remaja-remaja yang mulai beranjak dewasa. Konflik yang sering terjadi menjadi kisah mereka masing-masing. Mengejar mimpi, cita-cita, dan cinta mereka melengkapi kisah hidup mereka.
Pada dasarnya manusia diciptakan untuk berusaha dan mengejar apa yang mereka impikan. Jurang dalam yang menghadang dapat mereka tempuh dengan susah payah, namun hanya tinggal lubang kecil di depan mata, mereka menyatakan untuk menyerah.
Sabtu sore dipinggiran kota, aku duduk di sebuah kafe kecil di meja paling ujung. Mengaduk-aduk kopi yang sudah daritadi kupesan dan membiarkan gula dan kopinya terus beraduk layaknya pusaran air di lautan. Perkenalkan, namaku Bramantyo Satya Adjie, biasa dipanggil Bram. Aku adalah mahasiswa di sebuah universitas swasta di ibukota. Perawakanku tidaklah cukup baik, aku jarang untuk tersenyum pada hal-hal kecil.
When life gives you lemons, make orange juice. Leave the world wondering how you did it
Cerita ini mengisahkan tentang remaja-remaja yang mulai beranjak dewasa. Konflik yang sering terjadi menjadi kisah mereka masing-masing. Mengejar mimpi, cita-cita, dan cinta mereka melengkapi kisah hidup mereka.
Pada dasarnya manusia diciptakan untuk berusaha dan mengejar apa yang mereka impikan. Jurang dalam yang menghadang dapat mereka tempuh dengan susah payah, namun hanya tinggal lubang kecil di depan mata, mereka menyatakan untuk menyerah.
Sabtu sore dipinggiran kota, aku duduk di sebuah kafe kecil di meja paling ujung. Mengaduk-aduk kopi yang sudah daritadi kupesan dan membiarkan gula dan kopinya terus beraduk layaknya pusaran air di lautan. Perkenalkan, namaku Bramantyo Satya Adjie, biasa dipanggil Bram. Aku adalah mahasiswa di sebuah universitas swasta di ibukota. Perawakanku tidaklah cukup baik, aku jarang untuk tersenyum pada hal-hal kecil.
Spoiler for Index:
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20 - 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30-31
Part 32
Part 33
Part 34
Part 35
Part 36
Part 37
Part 38
Part 39
Part 40
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44
Part 45
Part 46
Part 47
Part 48
Part 49
Part 50
Part 51
Part 52
Part 53
Part 54
Part 55
Part 56
Part 57
Part 58
Part 59
Part 60
Part 61
Part 62 - 63
Part 64
Part 65
Part 66
Part 67
Part 68
Part 69
Part 70
Part 71
Part 72
Part 73
Part 74
Part 75 (FINALE)
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20 - 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30-31
Part 32
Part 33
Part 34
Part 35
Part 36
Part 37
Part 38
Part 39
Part 40
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44
Part 45
Part 46
Part 47
Part 48
Part 49
Part 50
Part 51
Part 52
Part 53
Part 54
Part 55
Part 56
Part 57
Part 58
Part 59
Part 60
Part 61
Part 62 - 63
Part 64
Part 65
Part 66
Part 67
Part 68
Part 69
Part 70
Part 71
Part 72
Part 73
Part 74
Part 75 (FINALE)
Diubah oleh beavermoon 14-02-2016 13:50
dodolgarut134 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
187K
Kutip
823
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#414
Sudah bisa update lagi, enjoy!!
Jangan lupa kritik, saran dan juga kopinya 
Jangan lupa kritik, saran dan juga kopinya 
Spoiler for Part 52:
“BANG BERHENTI!!!!”
Aku yang cukup kaget mendengarnya secara tiba-tiba menghentikan kendaraanku dengan cepat. Sangat beruntung bahwa di belakang kami tidak ada kendaraan, jadi tidak menimbulkan kecelakaan.
“Ada apaan?” Kataku cukup kaget
“Nda ada apaan?” Kata Dinda dengan kagetnya juga
“Foto studio dulu itu di sebelah kanan..” Katanya datar
“Astaga Nanda, kamu apa-apaan sih? Abang kira ada apaan..” Kataku dengan cukup kesal
“Kamu jangan dadakan dong Nda, untung di belakang sepi. Coba kalau ada kendaraan lain.” Kata Dinda menjelaskan
“Iya lupa tadi mau ngomong pas di parkiran, cuma ada Ka Zahra jadi lupa..” Katanya
“Ya cuma kan kamu jangan ngedadak gini juga..” Kataku dengan masih kesal
“Udah udah, yaudah kita ke studio aja dulu.” Kata Dinda menenangkan
Akhirnya aku putuskan untuk membawa sedan tuaku ke sebuah tempat foto studio dekat perumahan
“Yaudah ayo turun..” Kataku
“Ngga mau..” Kata Nanda memelan
“Loh kok ngga mau? Kan tadi kamu yang ngajakin ke sini..” Kataku kebingungan
“Abang serem, ngomongnya begitu..” Kata Nanda sambil menunduk
“Ya abisan kamu............”
Belum sempat aku selesai berbicara, Dinda memotong perkataanku
“Udah Bram..” Katanya sambil menyentuh pundakku
“Ayuk Nda kita turun, Ka Din minta maaf ya..” Katanya kepada Nanda
“Ka Din ngga salah..” Katanya masih menunduk
“Yaudah Abang minta maaf juga tadi udah bentak-bentak kamu..” Kataku memelan
“Iya udah dimaafin..” Katanya masih menunduk
“Terus kenapa masih nunduk juga kamunya?” Tanya Nanda
“Nggapapa...”
“Yaudah nanti Abang beliin es krim empat deh.” Kataku
“Tujuh...” Katanya
“Tujuh? Astaga. Yaudah iya iya tujuh, terserah kamu mau pilih yang mana..” Kataku dengan jelas
“Yeeay!! Janji ya tujuh. Yaudah kita turun, foto, terus beli es krim!!” Katanya dengan sangat senang
Aku dan Dinda hanya bisa menggeleng kepala melihat kelakuan Adikku yang satu ini. Setelah menuruti permintaanya, kami pun kembali ke rumah dengan membawa tujuh buah es krim yang sudah aku janjikan kepadanya. Setibanya di rumah aku dan Dinda langsung menuju balkon kamarku. Dinda juga menyusul tidak lama kemudian sambil membawa es krim yang sudah aku belikan sebelumnya.
“Kamu ganti baju dulu sana.” Kata Dinda
“Nanti dulu sebentar..” Kataku sambil mengangkat tanganku yang terselip rokok
“Kamu mau makan apa?” Tanya Dinda
“Kamu mau masakin apa?” Tanyaku balik ke Dinda
“Ikan aja kak, di bawah ada ikan.” Ucap Nanda
“Yaudah nanti aku masakin, Nanda mau bantuin?” Tanya Dinda
“Boleh Ka Din, sekalian aku belajar masak juga. Masa Abang mulu yang masakin..” Katanya sambil memakan es krim yang ada di tangannya
“Itu Ka Din dibagi dong es krimnya..” Kataku
“Udah buat Nanda aja. Yaudah ayuk Nda kita ke dapur..”
“Ayuk Ka..” Kata mereka sambil meninggalkanku di balkon sendirian
Setelah mereka turun, aku segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak butuh waktu lama untuk melakukannya, aku sudah berganti pakaian dan sudah kembali ke balkon kamarku. Saat aku melihat ke arah gerbang, pintunya bergeser dari luar. Ternyata Reza datang.
Dia yang saat itu menggunakan motornya langsung melihatku dan melambaikan tangannya. Selesai ia memarkirkan motornya, ia langsung masuk ke dalam rumahku.
“Itu Si Nanda sama Dinda masak apaan?” Tanya Reza sambil menjabat tanganku
“Ikan, tapi ngga tau mau diapain..” Kataku
“Oiya selamat nih buat wisudawan kita yang satu ini. Kebetulan gue udah gajian, jadi gue bisa beliin lu ini..” Katanya sambil memberikan sebuah bingkisan kepadaku
“Hahaha tumbenan ada hadiahnya, biasanya jabat tangan doang.” Kataku mengejeknya
“Udah lah, tuh buka aja.” Suruhnya
Aku lihat bingkisannya cukup besar. Dan langsung saja aku buka bingkisan itu.
“Wih, baju Dream Theater nih. Ori apa ngga? Hahaha.” Kataku mengejeknya lagi
“Wah ngeremehin nih orang ya, boleh diuji kok.” Katanya
“Hahaha makasih Ja.”
Tidak lama suara Nanda dari bawah memanggil
“Abang, udah jadi nih..”
“Iya sebentar.” Kataku
Aku dan Reza akhirnya turun ke bawah, dan melihat hidangan yang disajikan Dinda dan Nanda cukup memikat mata.
“Yaudah makan dulu kamunya Bram, Reza juga ya..” Kata Dinda
“Kebetulan belum makan daritadi...” Kata Reza sambil memegang perutnya yang masih gempal
Kamipun memakan hidangan yang sudah disajikan secara bersama-sama. Selesai makan, aku dan Dinda yang membereskannya. Nanda dan Reza sudah berada di kamarku terlebih dahulu.
“Makasih ya Din.” Kataku sambil menata piring yang sudah dicuci
“Iya sama-sama Bram..” Katanya dengan mencuci piring tersisa
Tidak lama setelah kami selesai, kami menyusul mereka untuk naik ke atas. Namun belum sampai tangga, Dinda meraih tanganku dari belakang
“Kamu kena...........”
Dinda memelukku, cukup erat. Aku membalas dengan memeluknya juga. Aku sedikit bingung, ada apa dengan dia.
“Kamu kenapa Din?” Tanyaku
“Makasih ya Bram..” Katanya
“Makasih? Buat apa?” Tanyaku lagi
“Semuanya.......” Pelukannya bertambah erat
Aku terdiam, tidak tahu harus berkata apa lagi. Apa yang harus aku katakan? Aku tidak tahu. Aku akan membiarkan dirinya selesai dengan semua ini. Sempat aku melihat ke atas dan menemukan Reza melihat kami, namun Dinda tidak sadar jika ada yang melihat kita di bawah sini.
Reza memberikan isyarat dua kuncup tangan yang saling bertemu yang aku sudah tahu apa artinya, namun aku hanya membalas dengan jari telunjukku di dekat mulutku dan menyuruhnya pergi dengan isyarat. Dia menurutiku dan segera masuk lagi ke dalam kamar.
“Kelamaan ya Bram?” Tanya Dinda
“Ngga kok.. Yaudah naik yuk..” Kataku sambil memegang tangannya
Kami berdua naik ke kamar ku dan menemukan Reza dan Nanda yang sedang bermain game balapan dengan serunya
“Bang Eja ngalah dong, masa daritadi Nanda kalah mulu.”
“Ya namanya balapan masa ngalah Nan..” Katanya
“Udah rusuh aja..” Kataku sambil masuk ke dalam kamar bersama Dinda
“Nyuci piringnya kok lama banget sih Bang?” Kata Nanda mengejekku
Aku segera melihat ke arah Reza dan dia menggeleng
“Tadi kan lumayan banyak yang belum dicuci.” Kataku
“Eh gue mau bikin minuman nih, pasti pada mau kan?” Tanya Reza
“Mau Bang mau..” Kata Nanda
“Nanda ikut Bang Eja bikin ya.”
“Yaudah deh Bang, ayuk ke bawah..” Kata Nanda sambil meninggalkan aku dan Dinda di kamar
Sambil berlalu, Reza mengacungkan jempolnya kepadaku. Aku dan Dinda kebingungan dengan kelakuannya. Akhirnya aku dan Dinda menuju balkon sambil aku membawa gitar.
“Kamu mau mainin lagu apa?” Tanya Dinda
“Lagunya Anang kali ya, yang udah di recycle sama Virzha. Judulnya Aku Lelakimu.” Kataku dengan mantap
Aku bersiap untuk memainkan gitar
“Datanglah bila engkau menangis, ceritakan semua yang engkau mau.”
“Percaya padaku, aku lelakimu.”
“Mungkin pelukku tak sehangat senja, ucapku tak menghapus air mata.”
“Tapi ku di sini, sebagai lelakimu..”
“Aku lah yang tetap memelukmu erat, saat kau berfikir mungkinkah berpaling.”
“Aku lah yang nanti menenangkan badai, agar tetap tegar kau berjalan nanti..”
“Sudah benarkah yang engkau putuskan, garis hidup sudah engkau tentukan.”
“Engkau memilih aku, sebagai lelakimu..”
“Aku lah yang tetap memelukmu erat, saat kau berfikir mungkinkah berpaling.”
“Aku lah yang nanti menenangkan badai, agar tetap tegar kau berjalan nanti..”
Aku yang cukup kaget mendengarnya secara tiba-tiba menghentikan kendaraanku dengan cepat. Sangat beruntung bahwa di belakang kami tidak ada kendaraan, jadi tidak menimbulkan kecelakaan.
“Ada apaan?” Kataku cukup kaget
“Nda ada apaan?” Kata Dinda dengan kagetnya juga
“Foto studio dulu itu di sebelah kanan..” Katanya datar
“Astaga Nanda, kamu apa-apaan sih? Abang kira ada apaan..” Kataku dengan cukup kesal
“Kamu jangan dadakan dong Nda, untung di belakang sepi. Coba kalau ada kendaraan lain.” Kata Dinda menjelaskan
“Iya lupa tadi mau ngomong pas di parkiran, cuma ada Ka Zahra jadi lupa..” Katanya
“Ya cuma kan kamu jangan ngedadak gini juga..” Kataku dengan masih kesal
“Udah udah, yaudah kita ke studio aja dulu.” Kata Dinda menenangkan
Akhirnya aku putuskan untuk membawa sedan tuaku ke sebuah tempat foto studio dekat perumahan
“Yaudah ayo turun..” Kataku
“Ngga mau..” Kata Nanda memelan
“Loh kok ngga mau? Kan tadi kamu yang ngajakin ke sini..” Kataku kebingungan
“Abang serem, ngomongnya begitu..” Kata Nanda sambil menunduk
“Ya abisan kamu............”
Belum sempat aku selesai berbicara, Dinda memotong perkataanku
“Udah Bram..” Katanya sambil menyentuh pundakku
“Ayuk Nda kita turun, Ka Din minta maaf ya..” Katanya kepada Nanda
“Ka Din ngga salah..” Katanya masih menunduk
“Yaudah Abang minta maaf juga tadi udah bentak-bentak kamu..” Kataku memelan
“Iya udah dimaafin..” Katanya masih menunduk
“Terus kenapa masih nunduk juga kamunya?” Tanya Nanda
“Nggapapa...”
“Yaudah nanti Abang beliin es krim empat deh.” Kataku
“Tujuh...” Katanya
“Tujuh? Astaga. Yaudah iya iya tujuh, terserah kamu mau pilih yang mana..” Kataku dengan jelas
“Yeeay!! Janji ya tujuh. Yaudah kita turun, foto, terus beli es krim!!” Katanya dengan sangat senang
Aku dan Dinda hanya bisa menggeleng kepala melihat kelakuan Adikku yang satu ini. Setelah menuruti permintaanya, kami pun kembali ke rumah dengan membawa tujuh buah es krim yang sudah aku janjikan kepadanya. Setibanya di rumah aku dan Dinda langsung menuju balkon kamarku. Dinda juga menyusul tidak lama kemudian sambil membawa es krim yang sudah aku belikan sebelumnya.
“Kamu ganti baju dulu sana.” Kata Dinda
“Nanti dulu sebentar..” Kataku sambil mengangkat tanganku yang terselip rokok
“Kamu mau makan apa?” Tanya Dinda
“Kamu mau masakin apa?” Tanyaku balik ke Dinda
“Ikan aja kak, di bawah ada ikan.” Ucap Nanda
“Yaudah nanti aku masakin, Nanda mau bantuin?” Tanya Dinda
“Boleh Ka Din, sekalian aku belajar masak juga. Masa Abang mulu yang masakin..” Katanya sambil memakan es krim yang ada di tangannya
“Itu Ka Din dibagi dong es krimnya..” Kataku
“Udah buat Nanda aja. Yaudah ayuk Nda kita ke dapur..”
“Ayuk Ka..” Kata mereka sambil meninggalkanku di balkon sendirian
Setelah mereka turun, aku segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak butuh waktu lama untuk melakukannya, aku sudah berganti pakaian dan sudah kembali ke balkon kamarku. Saat aku melihat ke arah gerbang, pintunya bergeser dari luar. Ternyata Reza datang.
Dia yang saat itu menggunakan motornya langsung melihatku dan melambaikan tangannya. Selesai ia memarkirkan motornya, ia langsung masuk ke dalam rumahku.
“Itu Si Nanda sama Dinda masak apaan?” Tanya Reza sambil menjabat tanganku
“Ikan, tapi ngga tau mau diapain..” Kataku
“Oiya selamat nih buat wisudawan kita yang satu ini. Kebetulan gue udah gajian, jadi gue bisa beliin lu ini..” Katanya sambil memberikan sebuah bingkisan kepadaku
“Hahaha tumbenan ada hadiahnya, biasanya jabat tangan doang.” Kataku mengejeknya
“Udah lah, tuh buka aja.” Suruhnya
Aku lihat bingkisannya cukup besar. Dan langsung saja aku buka bingkisan itu.
“Wih, baju Dream Theater nih. Ori apa ngga? Hahaha.” Kataku mengejeknya lagi
“Wah ngeremehin nih orang ya, boleh diuji kok.” Katanya
“Hahaha makasih Ja.”
Tidak lama suara Nanda dari bawah memanggil
“Abang, udah jadi nih..”
“Iya sebentar.” Kataku
Aku dan Reza akhirnya turun ke bawah, dan melihat hidangan yang disajikan Dinda dan Nanda cukup memikat mata.
“Yaudah makan dulu kamunya Bram, Reza juga ya..” Kata Dinda
“Kebetulan belum makan daritadi...” Kata Reza sambil memegang perutnya yang masih gempal
Kamipun memakan hidangan yang sudah disajikan secara bersama-sama. Selesai makan, aku dan Dinda yang membereskannya. Nanda dan Reza sudah berada di kamarku terlebih dahulu.
“Makasih ya Din.” Kataku sambil menata piring yang sudah dicuci
“Iya sama-sama Bram..” Katanya dengan mencuci piring tersisa
Tidak lama setelah kami selesai, kami menyusul mereka untuk naik ke atas. Namun belum sampai tangga, Dinda meraih tanganku dari belakang
“Kamu kena...........”
Dinda memelukku, cukup erat. Aku membalas dengan memeluknya juga. Aku sedikit bingung, ada apa dengan dia.
“Kamu kenapa Din?” Tanyaku
“Makasih ya Bram..” Katanya
“Makasih? Buat apa?” Tanyaku lagi
“Semuanya.......” Pelukannya bertambah erat
Aku terdiam, tidak tahu harus berkata apa lagi. Apa yang harus aku katakan? Aku tidak tahu. Aku akan membiarkan dirinya selesai dengan semua ini. Sempat aku melihat ke atas dan menemukan Reza melihat kami, namun Dinda tidak sadar jika ada yang melihat kita di bawah sini.
Reza memberikan isyarat dua kuncup tangan yang saling bertemu yang aku sudah tahu apa artinya, namun aku hanya membalas dengan jari telunjukku di dekat mulutku dan menyuruhnya pergi dengan isyarat. Dia menurutiku dan segera masuk lagi ke dalam kamar.
“Kelamaan ya Bram?” Tanya Dinda
“Ngga kok.. Yaudah naik yuk..” Kataku sambil memegang tangannya
Kami berdua naik ke kamar ku dan menemukan Reza dan Nanda yang sedang bermain game balapan dengan serunya
“Bang Eja ngalah dong, masa daritadi Nanda kalah mulu.”
“Ya namanya balapan masa ngalah Nan..” Katanya
“Udah rusuh aja..” Kataku sambil masuk ke dalam kamar bersama Dinda
“Nyuci piringnya kok lama banget sih Bang?” Kata Nanda mengejekku
Aku segera melihat ke arah Reza dan dia menggeleng
“Tadi kan lumayan banyak yang belum dicuci.” Kataku
“Eh gue mau bikin minuman nih, pasti pada mau kan?” Tanya Reza
“Mau Bang mau..” Kata Nanda
“Nanda ikut Bang Eja bikin ya.”
“Yaudah deh Bang, ayuk ke bawah..” Kata Nanda sambil meninggalkan aku dan Dinda di kamar
Sambil berlalu, Reza mengacungkan jempolnya kepadaku. Aku dan Dinda kebingungan dengan kelakuannya. Akhirnya aku dan Dinda menuju balkon sambil aku membawa gitar.
“Kamu mau mainin lagu apa?” Tanya Dinda
“Lagunya Anang kali ya, yang udah di recycle sama Virzha. Judulnya Aku Lelakimu.” Kataku dengan mantap
Aku bersiap untuk memainkan gitar
“Datanglah bila engkau menangis, ceritakan semua yang engkau mau.”
“Percaya padaku, aku lelakimu.”
“Mungkin pelukku tak sehangat senja, ucapku tak menghapus air mata.”
“Tapi ku di sini, sebagai lelakimu..”
“Aku lah yang tetap memelukmu erat, saat kau berfikir mungkinkah berpaling.”
“Aku lah yang nanti menenangkan badai, agar tetap tegar kau berjalan nanti..”
“Sudah benarkah yang engkau putuskan, garis hidup sudah engkau tentukan.”
“Engkau memilih aku, sebagai lelakimu..”
“Aku lah yang tetap memelukmu erat, saat kau berfikir mungkinkah berpaling.”
“Aku lah yang nanti menenangkan badai, agar tetap tegar kau berjalan nanti..”
khuman dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Kutip
Balas