- Beranda
- Stories from the Heart
Petrus Trilogi, Indonesian Action Thriller Story
...
TS
clowreedt
Petrus Trilogi, Indonesian Action Thriller Story
Quote:
Note About This Thread :
1. Thread ini berisi cerita Fiktif yang menyadur beberapa kejadian nyata tentang keberadaan Petrus di Indonesia
2. Sesuai Judulnya, Petrus Ttrilogi ane rencanakan terbagi menjadi 3 Act atau 3 Season ( Act 1 : Petrus Origin , Act 2 : Petrus New Wave, Act 3 : Petrus Final Act)
3. Seperti Agan-agan yang laen ane punya kesibukan pribadi agar Lebih nyaman untuk semua pihak jadi ane jadwalkan untuk memberikan updatenya setiap hari senin
4. Tokohnya merupakan tokoh fiktif dengan setting waktu saat ini atau tahun 2015
Spoiler for Interaktif Story For Kaskuser:
Ane memberikan kesempatan untuk Kaskuser yang membaca Thread atau Story ini untuk berkontribusi dalam hal story dengan Ketentuan
1. Membuat Tokoh Petrus original versi agan, dengan story Independent yang agan buat sendiri namun dengan setting tahun 2015. Contoh : Petrus origins versi story ane adalah penembak misterius yang beroperasi di Jawa tengah dengan keahlian sebagai seorang penembak jitu (Sniper). agan di persilahkan untuk membuat karakter petrus original versi agan sendiri yang beroperasi di daerah yang berbeda dengan keahliannya sendiri
2. Basic Cerita petrus origin agan harus mencakup : Identitas pertrus agan, Signature (kemampuan uniknya) sebagai seorang petrus (One On One Combat, Sniping, Melee weapon, Hacking, dll), Targetnya (Preman, gali, koruptor, pengusaha) dan dijelaskan pula dosa targetnya, bagaimana dia menghabisi musuhnya.
3, Petrus Origin buatan agan yang menarik atau unik jika memungkinkan akan ane gunakan sebagai salah satu petrus yang ikut bertempur dalam Act ke 3 atau final act bersama dengan petrus-petrus yang sudah ada dalam origin story ane
4. Sebagai pelengkap story origin buatan agan boleh di tambahkan adegan yang Gore/kejam maupun BB tapi mohon untuk jangan terlalu vulgar
5. Untuk Mebedakan Story origin Kaskuser Mohon Untuk memberi Tanda/Hastag #kaskuseract sebelum judul story origin kaskuser. Contoh : Prasta Petrus Story #kaskuseract
Indeks Story
Prolog
File 001 : Penembak Misterius
File 002 : Untold
File 003 : Kontradiksi
Act 1 : Petrus origin
File 004 - Identity
File 005 - Peluru Perak
File 006 - MO
File 007 - Misi
File 008 - Hunt or Hunted
File 009 - Like A Ghost
File 010 - HELL
File 011 - Srigala Berbulu Domba
File 012 - Safe House
File 013 - Sexy Succubus
File 014 - Place where Hades Hide
File 015 - Bloody Joker
File 016 - Bet?
File 017 - Heritage
File 018 - Immortal Fighter
File 019 - Torture
Act 2 : Petrus New Wave
Act 3 : Petrus Final Act
Kaskuser Act
Quote:
l13apower : Part 1
l13apower : Part 2
l13apower : Part 3
l13apower : Part 4
l13apower : Part 5.1
l13apower : Part 5.2
l13apower : Part 6
l13apower : Part 7
l13apower : Part 8
l13apower : Part 9
Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh clowreedt 12-06-2016 21:41
Gimi96 dan 13 lainnya memberi reputasi
14
54K
Kutip
272
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
clowreedt
#99
Spoiler for File 009 - Like A Ghost:
Sudah satu bulan sejak penyerangan markas I.R.C Semarang oleh Densus yang dipimpin oleh Prasta. Prasta yang sempat harus di rawat selama 3 minggu akibat tertembak peluru beracun si peluru perak akhirnya di perbolehkan untuk meninggalkan rumah sakit, dan tempat pertama yang dia datangi setelah keluar dari rumah sakit tidak lain tidak bukan adalah café kopi.
Café kopi nampak lengang, mungkin karena memang masih pagi jadi belum banyak pengunjung. Tidak seramai jam makan siang atau malam hari. Begitu masuk kedalam orang pertama yang di lihat Prasta adalah Tio yang masih berkutat menata bangku. Cukup lama Prasta berdiri di pintu masuk hingga Tio menyadari keberadaannya dan melempar senyuman hangat.
“Eh loe Prasta, selamat ya sudah keluar dari rumah sakit” Tio tergopoh-gopoh meninggalkan pekerjaannya menghampiri Prasta dan menyalaminya.
“Eh, iya Yo, makasih ya. Reza mana? Kok sendirian?”
“Reza ada di belakang, sedang packing. Katanya dia mau keluar kota beberapa hari”
“Ehm gitu, bisa minta tolong panggilin gak, gue mau ngomong bentaran ma dia”
“Oke, ntar ya. Duduk aja dulu sekalian gue bikini kopi. Gratis sebagai ucapan selamat udah keluar rumah sakit” Tio nyengir kemudian melangkah menuju ke ruang staff. Tak berapa lama dia keluar dari ruang staff dengan Reza mengikuti dibelakangnya. Tio melanjutkan langkahnya menuju pantry dan menyiapkan kopi untuk Reza dan Prasta yang langsung duduk satu meja.
Reza nampak sudah siap melakukan perjalanan dengan menenteng sebuah tas lusuh yang nampak cukup penuh oleh pakaian.
“Kata Tio loe mau keluar kota Za?”
“Iya Pras, ada kerjaan di Jakarta, gak bisa di tunda”
“Kerjaan? Sebagai Petrus atau sebagai Reza?” Suasana menjadi dingin. Reza dan prasta saling bertatapan dingin.
“Sebagai Petrus” Jawab Reza santai tanpa mengalihkan pandangannya dari Prasta. Di tengah-tengah perbincangan itu Tio datang mengantarkan kopi. Dari posisinya membuat kopi dia pasti mendengar pembicaraan antara Prasta dan Reza tapi dia santai saja meletakkan kopi di meja. Mengkonfirmasi kecurigaan Prasta bahwa Tio mengetahui pekerjaan sampingan Reza sebagai petrus.
“Diminum dulu aja Pras, keburu dingin kopinya” kata Tio saat meletakkan kopinya diatas meja dan kemudian melanjutkan pekerjaannya menata bangku.
“Jadi? Loe kesini buat menangkap gue?” kini gentian Reza yang bertanya.
Prasta mengangkat cangkir kopinya dan menyeruputnya sedikit. “Nggak Za, perintah gue Cuma satu menghentikan peluru perak. Entah itu dengan cara menangkapnya ataupun membunuhnya. Buat loe, mungkin pemerintah dah menyiapkan orang lain. Tapi bukan gue.”
“Lalu?”
“Saat incident di markas I.R.C. loe bilang bakal menjatuhkan peluru perak. Tapi gue gak menemukan jejak ataupun mayat dia”
“Gue bilang menjatuhkan, bukan membunuh. Gue Cuma menembak lensa scope-nya memberi kalian cukup waktu buat lari dari gedung.”
Brakk!!! Prasta menggebrak meja berdiri dan menarik kerah Reza. “Anj*ng!! gue hampir mati gara-gara rencana busuk loe”
Reza menepis tangan Prasta dari kerahnya “Gue udah bilang pancing dia buat menembak. Kalau loe emang gak pengen di tembak suruh aja anak buah loe buat jadi umpan”
Prasta terdiam. Di kepalanya kini terbayang bagaimana awal kejadian penyergapan yang berakhir dengan gugurnya beberapa polisi terbaik. Penyergapan yang di klaim sebagai keberhasilan Polisi dalam usaha pemberantasan geng I.R.C. meskipun fakta dilapangan tidak ada satupun anggota geng I.R.C yang tertangkap namun penemuan dan penyergapan terhadap markas mereka sudah di anggap sebagai prestasi tersendiri. Polisi-polisi yang menjadi korban di berikan bintang jasa sebagai pahlawan. Angga dan Herman mendapat promosi untuk menjadi anggota kesatuan Densus 88 Pusat direkomendasikan oleh Prasta.
“Loe orang yang baik Prast. Loe siap ngorbanin diri buat anak buah loe. Loe salah satu Polisi yang gak pengen gue lawan, tapi bukan berarti gue akan pasrah jika suatu saat kita musti berhadapan sebagai musuh” Kata-kata Reza tegas dan tajam.
“Udah cukup kan? Gue musti cepat ke setasiun keburu berangkat kereta gue” lanjut reza Reza yang berdiri di depan Prasta dan kini kembali mamanggul tas punggungnya. Reza melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
“Cepat atau lambat. Pemerintah bakal ngirim orang buat ngeburu loe Za. Ada banyak orang yang lebih hebat dari loe di Densus. Sebaiknya loe nyiapin diri”
Reza menghentikan langkahnya sesaat dan menoleh kearah Prasta. “Kalau loe ketemu orangnya lebih dulu daripada gue. Loe mesti ngasih peringatan itu ke dia”
****
Reza turun dari kereta di stasiun pasar senen Jakarta. Dari pintu keluar dia berbelok kekanan menyusuri koridor dengan lantai berkeramik yang berwarna entah merah muda atau coklat tersamar karena lampu yang tidak terlalu terang.
Reza melangkahkan kakinya keluar dari areal stasiun langsung menuju pangkalan bajaj yang yang hanya berjarak 100-200 meter dari pintu keluar stasiun pasar senen. Setelah nego harga dengan supirnya dia langsung duduk di kursi belangkang menerobos suasana malam kota Jakarta.
Berbeda dengan kota semarang yang selama bertahun-tahun menjadi domisilinya, kota Jakarta masih ramai meski sudah hampir dini hari. Di beberapa sudut jalanan dekat dengan koridor busway nampak beberapa wanita nakal dengan pakaian minim menggoda.
“Kalau tertarik bisa saya carikan mas” kata supir bajajnya sambil tersenyum.
“Hahahaha, kapan-kapan aja pak” Reza tertawa kecut setelah ingat dengan isi dompetnya yang dia lihat sebelum nego harga dengan si supir Bajaj untuk di antar ke sebuah apartemen mewah di bilangan Jakarta utara.
Perjalanan panjang dengan kereta api di habiskan Reza dengan tidur, makanya sampai jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi matanya masih terang benderang. Tidak mengantuk sama sekali.
“Pak nanti gak usah diantar ke apartement. Saya turun di restoran cepat saji yang buka 24 jam deket apartemen aja, masih terlalu pagi mungkin temen saya belum bangun” Reza memberitahukan perubahan arah ke supir bajajnya karena memang masih terlalu pagi.
“Baik mas” Pak supir bajaj itupun melanjutkan perjalanan dengan tenang mengantarkan Reza ke sebuah Restoran cepat saji tidak jauh dari apartemen yang dia maksut.
Setelah memesan dia langsung naik ke lantai 2 memandang jalanan kota yang sedang di guyur hujan di luar dari balik jendela. Terdengar nada dering ponsel Reza menggema. Tanpa melihat layar hapenya Reza tahu bahwa Ria yang yang menelpon karena memang dia mengatur nada dering khusus untuk wanita special itu.
“Yups, kanapa ya?”
“Nyet loe kok pergi gak kabar-kabar gue sih” nada suara Ria persis kek emak-emak yang marah kalau anaknya males disuruh mandi.
“Yaelah paling cuma berapa hari doang. Gak usah kangen gitu”
“Pede gila, gue kan mau nitip barang buat Angga” Ria menjelaskan. Reza baru ingat saat ini Angga juga sedang berada di Jakarta untuk mulai pelatihan unit Densus 88 setelah mendapat rekomendasi dari Prasta.
“Iya iya, sorry. Gue buru-buru acaranya mendadak sih”
“Emang loe ada acara apaan sih nyet, sok sibuk amat sih loe”
“Gue musti beli stok buat café, sama ketemu calon investor”
“Asik… sukses ya nyet, kalau udah pulang traktir gue yah”
“Buset dah, anak konglomerat kok mentalnya traktiran”
“Jangan salah, itu salah satu cara biar tetep kaya.. hahahaha”
“Apa lu kata aja dah non.. besok ke kost gue ya, kuncinya gue tinggal di tempat biasa. Awas jangan di pake mesum. Terakhir gue tinggal kost gue, pas balik baunya aneh” Reza memang sering menitipkan kamar kostnya kepada Ria jika dia musti ke luar kota. Tiap beberapa hari sekali Ria bakal ke kost ngecek kondisinya aman atau nggak, kalau lagi rajin dia bersih-bersih.
“Oke bos!! Aku balik tidur lagi ya, mumpung libur”
Tut.. tut… tut… suara kalau telephone sudah ditutup dari seberang, meninggalkan Reza yang kembali sendirian menatap hujan. Makanan pesanannya belum tersentuh namun sudah mulai dingin.
****
Tok tok tok!! Reza mengetok pintu apartement berangka 623. Beberapa kali dia mencoba mengetok pintu tapi tidak ada jawaban. Akhirnya dia memutuskan untuk berbalik pergi. Namun baru beberapa langkah dia beranjak pintu terbuka.
“Permisi anda tadi yang mengetok pintu apartement saya?” Pria pemilik apartemen bernomor 623 itu menyusul dan menyapa Reza
“oh iya maaf, saya Reza.”
“Ada apa ya pak? Sepertinya saya tidak mengenal anda”
“Iya maaf, anda tidak mengenal saya. Saya kesini atas rekomendasi seorang teman. Dia bilang mungkin anda bisa memperbaiki perangkat elektronik saya” Reza mencoba menjalaskan maksut kedatanganya.
“Saya mungkin bisa membantu memperbaiki alat elektronik. Tapi saya tidak yakin saya membuka jasa reparasi hingga ada yang merekomendasikan saya” omongan pria itu terhenti ketika Reza mengeluarkan sepucuk pistol dari belakang punggungnya.
“Bisa kita berbicara secara privat? Saya tidak ingin tetangga anda melihat saya menodongkan senjata pagi-pagi buta seperti ini”
Pria itupun berbalik berjalan perlahan menuju pintu apartmentnya. Saat dia meletakkan tangannya pada knop pintu Reza mengehentikannya “Jangan berpikir melakukan hal bodoh, kita tahu bisa saja ada orang yang terluka”
Pria itu mengangguk mengerti sebelum akhirnya membuka pintunya dan membiarkan Reza masuk kedalam apartementnya. Apartement itu cukup luas dengan pandangan yang cukup luar ke beberapa sudut jalan. Lokasinya cukup tinggi hingga dia bisa melihat restoran cepat saji tempatnya makan tadi pagi.
“Alat elektronik yang anda tanyakan tadi mana barangnya? Atau hanya alasan untuk berbicara dengan saya?” Pria itu terlihat lebih rileks ketika sudah berada kembali kedalam apartementnya.
Reza menyembunyikan kembali pistolnya kebalik punggung dan mengeluarkan sebuah PDA seukuran telapak tangan orang dewasa. Dia melemparkannya begitu saja kepangkuan si Pria yang nampak kebingungan.
“Jaman sudah canggih, banyak Hanphone dengan kemampuan luar biasa dan anda masih menggunakan PDA?” Pria itu melihat Reza dengan pandangan aneh, mungkin sulit percaya masih ada orang yang menggunakan perangkat jadul seperti PDA.
“Benda itu tiba-tiba tidak mau menyala ketika saya baru sampai disini, ada data penting didalam. Saya membutuhkan secepatnya sebelum nanti malam” Reza berjalan menjauh dari jendela tempatnya berdiri sebelumnya.
“Ada beberapa bekas benturan, mungkin tertekan ketika perjalanan. Jika Hardwarenya yang rusak tidak mungkin selesai dalam waktu sehari.” Pria itu menjelaskan
“Bukan tertekan dalam perjalanan, saya memukulkannya beberapa kali karena tidak mau menyala, biasanya itu berhasil” ucap Reza santai.
Pria itupun tertawa lepas mendengar keluguan cara bicara Reza dan entah apa yang dipikirkan tentang memperbaiki PDA dengan cara memukul-mukulnya.
“Yang anda perlukan hanya datanya kan? Mungkin kita bisa mencoba sesuatu” Pria itu berjalan melintasi ruangan mengambil seperangkat laptop yang ada di atas meja. Reza hanya memperhatikan saja dengan santai saat pria itu menyambungkan PDA miliknya dan mengotak-atik laptopnya. Tak berapa lama muncul bunyi Ding dan pria itu tersenyum, dia memutar layar laptopnya menghadap ke arah Reza.Reza bisa melihat data yang ada di PDA miliknya kini ditampilkan di monitor.
“Buka folder Agenda, lihat jadwal kegiatan hari ini” perintah Reza pada pria itu.
Pria itu mengikuti saja perintah Reza entah karena takut atau justru karena penasaran. Dia membuka folder demi folder menemukan beberapa foto seorang pria berkumis yang dia kenali sebagai Faturohman seorang pejabat di daerah semarang yang beberapa waktu lalu terkena kasus korupsi namun didakwa bebas karena tidak cukup bukti.
“PDA ini? Bukan milik anda kan?” Pria itu mulai bertanya.
“Anda lihat sendiri data di dalamnya? Anda pasti sudah tahu. Tolong buatkan salinannya”
“Anda ini? Siapa sebenarnya?”
“Saya? Orang-orang dulu menyebut orang seperti saya sebagai Penembak misterius. Sekarang mereka hanya menyebut kami pembunuh”
Pria itu terdiam sejenak kemudian melanjutkan kegiatanya mengotak-atik laptop mencari file agenda yang di maksut oleh Reza. “Ini dia ketemu”
Reza melangkah mendekat memperhatikan dengan seksama file yang di buka oleh pria tersebut. Dari file tersebut dia tahu bahwa Faturohman telah membokinng kamar di sebuah hotel berbintang yang cukup terkenal di Jakarta Utara.
“Anda ada kendaraan? Antar saya hotel itu!”
“Tidak bisakah anda mengambil saja mobilku dan pergi kesana sendiri?”
“Sebenarnya saya lebih suka pakai motor kalau ada, saya tidak bisa naik mobil. Anda tahukan…”
“seriously? Anda petrus dan mabuk naik mobil? Anda orang yang sangat merepotkan” Pria itu nampak kini menjadi sama sekali tidak takut terhadap Reza.
****
“Anda yakin mau ikut saya ke Atas? Anda mungkin tidak akan suka melihat apa yang akan saya lakukan”
“Sepertinya ikut anda naik keatap lebih baik dari pada menunggu di gang gelap ini sendirian”
“Terserahlah” Reza mulai naik ke atas melalu tangga darurat di ikuti Pria itu yang ternyata cukup cekatan melakukan aktifitas fisik yang berat itu. Tangga demi tangga, lantai demi lantai mereka lewati satu demi satu menuju ke puncak gedung perkantoran yang beseberangan dengan hotel tempat faturohman menginap.
Akhirnya mereka telah sampai di puncak gedung. Reza segera mengeluarkan sebuah sniper rifle dari dalam tasnya. Memasang satu-persatu perlengkapan yang dia butuhkan. Penyangga senapan, peredam suara hingga lensa scoope.
“Kau yakin akan melakukannya disini? Di pusat kota?”
“Kenapa tidak? Saat ini Kita ada di Indonesia, Response tercepat polisi ketika terjadi tindak criminal bahkan di tengah kota seperti ini 30-40 menit. Cukup waktu bagi kita untuk melarikan diri dan menghilang” ucap Reza santai sambil masih terur mengatur posisi senapan dan scoopnya.
“Make sense…” kata pria itu masih memperhatikan Reza yang sudah mengambil posisi menembak.
“Dia datang” Reza berbisik. Dia memantapkan posisinya untuk menembak. Menunggu saat yang tepat. Faturohman yang tidak mengetahui bahaya yang mengancamnya tersenyum sambil menggandeng tangan seorang wanita cantik yang masih muda memasuki kamar. Ciuman mereka yang mesra dan panas terllihat jelas oleh Reza di balik lensa scopenya.
Bzzzttt!! Suara tembakan yang teredam terdengar. Digedung sebelah suara teriakan keras si wanita muda yang sedang di sewa faturohman menggema. Wajahnya penuh cipratan darah yang keluar dari kepala faturohman ketika peluru dari sniper rifle milik Reza ditembakkan.
Reza memalingkan pandanganya kepada si Pria yang dengan setia menunggunya. Tidak ada wajah panic, kaget atau ketakutan padahal dihadapannya ada seorang petrus yang baru saja melakukan pembunuhan keji. “Anda membawa salinnan file yang ada di PDA itu kan?”
Pria itu menyerahkan sekeping disc yang berisi salinan data dari PDA yang di bawa Reza. Reza memasukkannya kedalam sebuah plastic bening besama dengan selongsong peluru yang dia gunakan membunuh faturohman dan meninggalkanya begitu saja diatap gedung.
“Selesai… Saatnya pergi”
****
Benar kata Reza. Setengah jam perjalanan mereka dari TKP kembali ke apartement. Saat ini sedang ada siaran live tentang berita pembunuhan Faturohman dan penemuan bukti korupsinya.
“Sudah lama anda melakukan ini?” Pria itu kini santai saja bertanya pada Reza
“Sudahlah berhenti bersikap formal, mungkin lebih enak kalau kita bicara biasa aja”
“Mungkin.. gue capek ngomong bahasa formal gitu”
“Sip, sepertinya udah saatnya gue pamit. Thanks buat bantuan loe seharian ini”
“Loe gak takut gue ngelaporin loe kepolisi? Atau yang lain?”
“Coba aja… Mungkin aku akan mengejar buat ngebunuh loe, meski gue gak tahu siapa yang akan terbunuh kalau kita benar-benar berduel. Loe punya skill loe sendiri buat ngebunuh orang. Iya kan? Ghost Bullet?”
Pattituci tertegun tidak dengan apa yang di katakana oleh reza. “Darimana loe tahu?”
“Sederhana. kamu jenius membuat sebuah metode pembunuhan yang tidak terdeteksi. Peluru custome milikmmu jelas sangat bermanfaat. Tehnikmu benar-benar seperti hantu, tapi sayangnya kau tetap manusia. Manusia tidak bisa menghilang, manusia bisa di kejar.” Nampak Reza seerius dalam menjelaskan bagaimana dia bisa menemukan identitas Pattituci.
“Kuberitahu bagaimana aku menemukanmu. Pertama : loe kurang bersosialisasi dengan orang lain. pembunuhanmu terkesan seperti kecelakaan, tapi ketika kecelakaan yang sering terjadi di satu titik jelas membuat curiga. Kau mengeksekusi mereka semua dari jarak jauh dengan peluru yang bisa menghilang, tapi tetap saja kau melakukannya dari apartemenmu. Radius pembunuhanmu hanya sekitar apartemen. Kau hebat tapi kemampuan menembakmu saat ini masih terbatas 1,5 km sekitar apartemen”
Pattituci mendengaar dengan seksama penjelasan dari Reza.
“Kedua : kau berusaha sekeras mungkin agar pembunuhanmu terlihat seperti kecelakaan. Tapi kamu manusia, kamu tidak sempurna karena itu kamu harus tetap berada cukup dekat dengan korban berjaga-jaga jika rencanamu gagal. Dan mengakhirinya dengan cara lain. Begitulah yang kau lakukan dengan preman yang mati di empang ikan lele.”
Ketiga : kau hanya keluar dari apartement untuk 2 alasan. Bekerja dan membunuh, sesekali untuk berkencan. Selalu ada orang yang meninggal ketika kau meninggalkan rumah cukup jelas polanya. Kau gabungkan ketiga aspek itu dan lihat apa yang terjadi.
Pattituci nampak berpikir tentang hal hal yang di jelaskan oleh Reza. Dia akhirnya sadar kalau wajar Reza bisa menemukannya. “Loe bener za, tapi ada banyak sekali penghuni apartment ini, dan semua mungkin punya potensi yang sama. Kenapa akhirnya loe berpikir gue orangnya?”
“Peluru loe bisa ilang, tapi bekas pelurunya tidak. Waktu loe membunuh pemerkosa dengan menembak bannya sampai dia terjatuh dan nampak seperti kecelakaan. Pelurunya menghilang, tapi bekas peluru dijalan tidak. Ada lubang bekas peluru di aspal yang saat ini sudah mulai memudar, tapi masih nampak. Tadi pagi sebelum kesini aku memeriksanya. Dari kedalaman dan sudutnya gue bisa memperkirakan darimana peluru itu ditembakkan”
“Lalu?”
“Lalu aku masuk apartemenmu melihat dari jendela dan mengkonfirmasi kebenaran tentang identitasmu” Reza tersenyum penuh kemenangan.
Pattituci tertawa keras mendengar penjelasan Reza yang tidak bisa dibantahnya.”hahaha nice one”
“Tapi ada yang perlu loe inget Pat. Peluru Perak, Aku, atau Petrus lain diluar sana bisa melakukan pembunuhan dengan cara sepertimu. Tapi tidak kami lakukan, tahu kenapa? Petrus membunuh untuk memberi rasa takut, memberi statement agar pelaku kejahatan jera. Karena Alasan itulah dulu, ketika mereka menghabisi seseorang, mayatnya di tinggalkan di tempat umum, sehingga masyarakat takut berbuat kejahatan. Petrus bukan Pahlawan, kami adalah penjahat yang di hukum. Hukuman kami adalah bertarung melawan kejahatan.
Reza berdiri meninggalkan sebuah peluru caliber .375 dihadapan Pattituci. “Jika kau tertarik bergabung dengan pertarungan kami. Gunakan peluru itu.”
Malam itu, Reza kembali menaiki kereta untuk pulang kembali ke Semarang.
ariefdias dan jiyanq memberi reputasi
2
Kutip
Balas