- Beranda
- Stories from the Heart
Vita est Militia (Cerita Si Belalang Tempur)
...
TS
aldogunz
Vita est Militia (Cerita Si Belalang Tempur)
Vita est Militia ( Cerita Si Belalang Tempur )

Vita est Militia artinya itu “Hidup adalah Perjuangan” , ya kehidupan memang harus kita perjuangkan sampai selesai. Aku menggambarkan diriku seperti belalang, belalang tempur tentunya. Belalang ini unik, dia tidak mempunyai senjata atau apapun untuk melindungi dirinya, ia hanya mampu melompat jauh, dan belalang tidak pernah berhenti melompat, dari satu tempat ke tempat lainnya. Jadi belalang adalah pejuang kehidupan, sama sepertiku yang terus mencoba mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
F.A.Q
Spoiler for F.A.Q:
Quote:
Kasih Rate dan Cendol kalau agan suka cerita ini ya, makasih gan.

Cerita akan diupdate secara berkala ya gan.
Quote:
TERIMA KASIH, CERITA INI BERAKHIR DI PART 07, CERITA SELANJUTNYA DI THREAD ANE YANG BARU YA GAN, KARENA AKAN GANTI JUDUL.
.Lanjutan ceritanya: Senja di Sungai Chaopraya
Diubah oleh aldogunz 14-12-2015 13:48
bukhorigan dan anasabila memberi reputasi
2
3.7K
24
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aldogunz
#5
PART 03
Waktu itu keadaan temanku juga tak memiliki pekerjaan. Akhirnya kuputuskan untuk mencari tempat tinggal sendiri. Aku menemukan tempat tinggal dengan harga sewa yang cukup murah, hanya 200.000/bulan. Aku menyebutnya Apartemen Cinta, tanpa cinta yang kuat akan sulit untuk tinggal di sana, kamarnya memiliki luas 2 x 3 meter, dindingnya terbuat dari triplek, sekali tendang mungkin roboh, berada di lantai dua. Kamar kecilku memiliki jendela kecil yang langsung menghadap pemukiman lainnya. Tepat di sebelah bangunan ada kandang sapi, baunya terkadang sampai masuk ke kamar, bunyi suara sapi pun membuat suasana kamar seperti di pedesaan. Pada siang hari kondisi kamar lebih mirip kamar sauna, panasnya luar biasa. Maklum saja atap bangunan ini perpaduan asbes dan seng. Tidak ada kipas angin, bahkan bantal saja aku tak punya. Bantal untuk tidurku terbuat dari plastik kresek yang kuisi dengan pakaian kotor. Alas tidur hanya sarung satu-satunya kepunyaanku. Tapi saat itu aku tak pernah mengeluh sama sekali, karena ini semua adalah hasil dari keputusan hidup yang kupilih. Di setiap pilihan tentunya punya resiko tersendiri.
Tapi aku hanya anak muda biasanya, yang terkadang frustasi dengan keadaan. Semua mimpi-mimpi yang kuinginkan terbentur dengan realitas kehidupan yang ada. Aku mulai menghisap ganja setiap hari. Bukan hanya ganja, sabu yang harganya mahalpun aku konsumsi juga. Aku larut dalam mimpi-mimpi semu setiap harinya. Tapi itu semua kudapatkan secara gratis, aku tak mampu untuk membelinya, makan saja kesulitan apalagi membeli narkoba yang harganya luar biasa. Aku berteman dengan tukang ojek setempat yang juga menjadi bandar narkoba. Kami berteman dekat, sehingga dia menitipkan dagangannya di dalam kamarku. Aku memakainya sesukaku, dan banyak menghabiskan waktu di dalam kamar. Kehidupan yang benar-benar di luar dugaanku dulu. Masuk ke dunia narkoba seperti kita tersesat dalam hutan, akan sangat sulit untuk mencari jalan keluarnya. Hari-hari tak bermakna tanpa berbuat apa-apa, sungguh menyedihkan keadaanku waktu itu.
Hari demi hari berlalu, aku mulai kesulitan untuk sekedar membeli makanan. Aku mulai menghubungi teman-temanku. Mereka tidak pernah tau aku tinggal di tempat yang sangat minimalis, dan cenderung kumuh ini. Yang mereka tau aku tinggal di kostan di daerah Jakarta Selatan dan dekat dengan daerah Kemang. Pasti mereka kira aku tinggal di tempat yang cukup mewah, kenyataannya berbalik 180 derajat. Aku mengundang teman-temanku untuk sekedar mampir, sambil memesan mie instan atau makanan lainnya untuk dibawa. Beberapa temanpun datang membawakanku makanan. Walau hanya mie instan saja itu sungguh berarti untukku. Setidaknya ada persediaan makanan di kamar. Mereka yang datang cukup miris melihat keadaanku waktu itu. Aku berhenti kuliah, dan menjadi pengangguran. Seorang teman menanyakan mengapa aku tak pulang saja ke rumah. Saat itu keadaan perekonomian keluarga sangat jatuh, aku tak mau membebani mereka. Aku punya mimpi untuk bisa membantu orang tua, walau tak semudah yang kubayangkan. Teman-teman yang datang membuatku kembali sadar akan impian yang ingin kucapai saat kuputuskan keluar dari asrama. Bersambung...
Waktu itu keadaan temanku juga tak memiliki pekerjaan. Akhirnya kuputuskan untuk mencari tempat tinggal sendiri. Aku menemukan tempat tinggal dengan harga sewa yang cukup murah, hanya 200.000/bulan. Aku menyebutnya Apartemen Cinta, tanpa cinta yang kuat akan sulit untuk tinggal di sana, kamarnya memiliki luas 2 x 3 meter, dindingnya terbuat dari triplek, sekali tendang mungkin roboh, berada di lantai dua. Kamar kecilku memiliki jendela kecil yang langsung menghadap pemukiman lainnya. Tepat di sebelah bangunan ada kandang sapi, baunya terkadang sampai masuk ke kamar, bunyi suara sapi pun membuat suasana kamar seperti di pedesaan. Pada siang hari kondisi kamar lebih mirip kamar sauna, panasnya luar biasa. Maklum saja atap bangunan ini perpaduan asbes dan seng. Tidak ada kipas angin, bahkan bantal saja aku tak punya. Bantal untuk tidurku terbuat dari plastik kresek yang kuisi dengan pakaian kotor. Alas tidur hanya sarung satu-satunya kepunyaanku. Tapi saat itu aku tak pernah mengeluh sama sekali, karena ini semua adalah hasil dari keputusan hidup yang kupilih. Di setiap pilihan tentunya punya resiko tersendiri.
Tapi aku hanya anak muda biasanya, yang terkadang frustasi dengan keadaan. Semua mimpi-mimpi yang kuinginkan terbentur dengan realitas kehidupan yang ada. Aku mulai menghisap ganja setiap hari. Bukan hanya ganja, sabu yang harganya mahalpun aku konsumsi juga. Aku larut dalam mimpi-mimpi semu setiap harinya. Tapi itu semua kudapatkan secara gratis, aku tak mampu untuk membelinya, makan saja kesulitan apalagi membeli narkoba yang harganya luar biasa. Aku berteman dengan tukang ojek setempat yang juga menjadi bandar narkoba. Kami berteman dekat, sehingga dia menitipkan dagangannya di dalam kamarku. Aku memakainya sesukaku, dan banyak menghabiskan waktu di dalam kamar. Kehidupan yang benar-benar di luar dugaanku dulu. Masuk ke dunia narkoba seperti kita tersesat dalam hutan, akan sangat sulit untuk mencari jalan keluarnya. Hari-hari tak bermakna tanpa berbuat apa-apa, sungguh menyedihkan keadaanku waktu itu.
Hari demi hari berlalu, aku mulai kesulitan untuk sekedar membeli makanan. Aku mulai menghubungi teman-temanku. Mereka tidak pernah tau aku tinggal di tempat yang sangat minimalis, dan cenderung kumuh ini. Yang mereka tau aku tinggal di kostan di daerah Jakarta Selatan dan dekat dengan daerah Kemang. Pasti mereka kira aku tinggal di tempat yang cukup mewah, kenyataannya berbalik 180 derajat. Aku mengundang teman-temanku untuk sekedar mampir, sambil memesan mie instan atau makanan lainnya untuk dibawa. Beberapa temanpun datang membawakanku makanan. Walau hanya mie instan saja itu sungguh berarti untukku. Setidaknya ada persediaan makanan di kamar. Mereka yang datang cukup miris melihat keadaanku waktu itu. Aku berhenti kuliah, dan menjadi pengangguran. Seorang teman menanyakan mengapa aku tak pulang saja ke rumah. Saat itu keadaan perekonomian keluarga sangat jatuh, aku tak mau membebani mereka. Aku punya mimpi untuk bisa membantu orang tua, walau tak semudah yang kubayangkan. Teman-teman yang datang membuatku kembali sadar akan impian yang ingin kucapai saat kuputuskan keluar dari asrama. Bersambung...
0