- Beranda
- Stories from the Heart
Vita est Militia (Cerita Si Belalang Tempur)
...
TS
aldogunz
Vita est Militia (Cerita Si Belalang Tempur)
Vita est Militia ( Cerita Si Belalang Tempur )

Vita est Militia artinya itu “Hidup adalah Perjuangan” , ya kehidupan memang harus kita perjuangkan sampai selesai. Aku menggambarkan diriku seperti belalang, belalang tempur tentunya. Belalang ini unik, dia tidak mempunyai senjata atau apapun untuk melindungi dirinya, ia hanya mampu melompat jauh, dan belalang tidak pernah berhenti melompat, dari satu tempat ke tempat lainnya. Jadi belalang adalah pejuang kehidupan, sama sepertiku yang terus mencoba mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
F.A.Q
Spoiler for F.A.Q:
Quote:
Kasih Rate dan Cendol kalau agan suka cerita ini ya, makasih gan.

Cerita akan diupdate secara berkala ya gan.
Quote:
TERIMA KASIH, CERITA INI BERAKHIR DI PART 07, CERITA SELANJUTNYA DI THREAD ANE YANG BARU YA GAN, KARENA AKAN GANTI JUDUL.
.Lanjutan ceritanya: Senja di Sungai Chaopraya
Diubah oleh aldogunz 14-12-2015 13:48
bukhorigan dan anasabila memberi reputasi
2
3.7K
24
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aldogunz
#1
PART 01
Jakarta 2010
Siang itu cuaca di Jakarta cukup panas. Aku berdiri di sebuah metromini yang penuh sesak. Metromini yang setia mengantarku setiap hari ke kampus. Pengamen memainkan gitarnya yang terdengar sumbang, suara yang keluar dari mulutnya tak seirama dengan petikan gitarnya. Mata merah, entah mabuk atau mungkin dia kurang tidur. Tapi aku tak senang dengan tipe pengamen macam itu, kadang dia mengitimidasi orang-orang yang tak memberikan uang padanya. Polusi udara dan panasnya cuaca membuat wajahku tampak kusam, ditambah rambut gondrong yang tak terurus, tampaklah aku seperti penjahat. Tapi ada unutungnya juga, para pengamen ataupun si orator yang hanya bercuap-cuap sama setiap harinya tak pernah sekalipun memaksaku memberi uang. Jakarta memang penuh sesak manusia. Kota ini seperti tanah terjanji, orang selalu berbondong-bondong datang. Mereka datang dengan mimpi-mimpi yang mereka bawa. Padahal Jakarta sudah tampak kelelahan untuk menampung mereka.
Akhirnya aku tiba di kampus dengan selamat. Sebenarnya setiap hari aku dan ribuan orang lainnya bermain dengan kematian. Lihat saja cara supir-supir itu mengendarai metromini, mereka tak peduli keselamatan, mereka hanya kejar setoran. Metromini ini macam kaleng kerupuk yang dihempaskan ke jalan, sekali saja kecelakaan akan mudah hancur beserta isinya. Karena kelas Filsafat Manusia sudah hampir dimulai, aku segera masuk ke dalam kelas tanpa sempat ngopi di warung pojok. Dosen mulai menerangkan sesuatu, tapi aku merasa dosen seperti mendongengkan cerita untuk anak sebelum tidur. Tak lama kemudian aku masuk ke alam mimpi. Tapi mimpi ini tak berjalan lama, dosen melihatku pulas dalam tidur, dan akhirnya mengusirku ke luar kelas. Aku kuliah di salah satu Sekolah Tinggi Filsafat yang ada di Jakarta. Kampus ini tak terlalu besar, jumlah mahasiswanya juga sedikit dan didominasi oleh mahasiswa laki-laki. Tempat ini terlalu maskulin, angkatanku saja hanya ada seorang perempuan. Mungkin wanita tak banyak yang tertarik dengan Filsafat. Karena aku diusir keluar, aku memilih warung pojok untuk sekedar ngopi. Segelas kopi hitam dan sebatang rokok kretek menemaniku dalam siang itu.
Tinggal hampir enam tahun di dalam asrama membuatku sedikit merasa jenuh dengan keseharian. Rasanya waktu itu aku tak mau pulang ke asrama, aku ingin bebas mengatur hidupku. Kepala ini penuh dengan pertanyaan, tapi aku tak berdaya untuk menjawab semuanya. Aku ingin memulai hidup yang baru, tapi tak berdaya dengan keadaan. Jam kuliah telah berakhir, waktu itu aku putuskan untuk menemui salah seorang teman kecilku. Aku pergi ke kostannya di daerah Jakarta Selatan. Kami berbincang banyak soal kehidupan di dalam kamar kostannya yang tak terlalu besar tapi mewah menurutku karena kamar mandinya ada di dalam, dilengkapi pendingin ruangan dan televisi layar datar. Temanku ini kuliah malam, jadi siangnya bekerja. Terus terang waktu itu aku ingin mencoba merasakan hidup seperti temanku ini. Ada kebebasan yang bisa kulihat. Perasaan ingin keluar dari asrama terus menggebu, ditambah perekonomian keluarga yang sedang jatuh. Ada impianku ingin membantu orang tua,setidaknya kalau aku hidup di luar pasti bisa mencari pekerjaan. Setelah pulang ke asrama, kepala ini dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang harus kujawab segera mungkin. Bersambung....
Jakarta 2010
Siang itu cuaca di Jakarta cukup panas. Aku berdiri di sebuah metromini yang penuh sesak. Metromini yang setia mengantarku setiap hari ke kampus. Pengamen memainkan gitarnya yang terdengar sumbang, suara yang keluar dari mulutnya tak seirama dengan petikan gitarnya. Mata merah, entah mabuk atau mungkin dia kurang tidur. Tapi aku tak senang dengan tipe pengamen macam itu, kadang dia mengitimidasi orang-orang yang tak memberikan uang padanya. Polusi udara dan panasnya cuaca membuat wajahku tampak kusam, ditambah rambut gondrong yang tak terurus, tampaklah aku seperti penjahat. Tapi ada unutungnya juga, para pengamen ataupun si orator yang hanya bercuap-cuap sama setiap harinya tak pernah sekalipun memaksaku memberi uang. Jakarta memang penuh sesak manusia. Kota ini seperti tanah terjanji, orang selalu berbondong-bondong datang. Mereka datang dengan mimpi-mimpi yang mereka bawa. Padahal Jakarta sudah tampak kelelahan untuk menampung mereka.
Akhirnya aku tiba di kampus dengan selamat. Sebenarnya setiap hari aku dan ribuan orang lainnya bermain dengan kematian. Lihat saja cara supir-supir itu mengendarai metromini, mereka tak peduli keselamatan, mereka hanya kejar setoran. Metromini ini macam kaleng kerupuk yang dihempaskan ke jalan, sekali saja kecelakaan akan mudah hancur beserta isinya. Karena kelas Filsafat Manusia sudah hampir dimulai, aku segera masuk ke dalam kelas tanpa sempat ngopi di warung pojok. Dosen mulai menerangkan sesuatu, tapi aku merasa dosen seperti mendongengkan cerita untuk anak sebelum tidur. Tak lama kemudian aku masuk ke alam mimpi. Tapi mimpi ini tak berjalan lama, dosen melihatku pulas dalam tidur, dan akhirnya mengusirku ke luar kelas. Aku kuliah di salah satu Sekolah Tinggi Filsafat yang ada di Jakarta. Kampus ini tak terlalu besar, jumlah mahasiswanya juga sedikit dan didominasi oleh mahasiswa laki-laki. Tempat ini terlalu maskulin, angkatanku saja hanya ada seorang perempuan. Mungkin wanita tak banyak yang tertarik dengan Filsafat. Karena aku diusir keluar, aku memilih warung pojok untuk sekedar ngopi. Segelas kopi hitam dan sebatang rokok kretek menemaniku dalam siang itu.
Tinggal hampir enam tahun di dalam asrama membuatku sedikit merasa jenuh dengan keseharian. Rasanya waktu itu aku tak mau pulang ke asrama, aku ingin bebas mengatur hidupku. Kepala ini penuh dengan pertanyaan, tapi aku tak berdaya untuk menjawab semuanya. Aku ingin memulai hidup yang baru, tapi tak berdaya dengan keadaan. Jam kuliah telah berakhir, waktu itu aku putuskan untuk menemui salah seorang teman kecilku. Aku pergi ke kostannya di daerah Jakarta Selatan. Kami berbincang banyak soal kehidupan di dalam kamar kostannya yang tak terlalu besar tapi mewah menurutku karena kamar mandinya ada di dalam, dilengkapi pendingin ruangan dan televisi layar datar. Temanku ini kuliah malam, jadi siangnya bekerja. Terus terang waktu itu aku ingin mencoba merasakan hidup seperti temanku ini. Ada kebebasan yang bisa kulihat. Perasaan ingin keluar dari asrama terus menggebu, ditambah perekonomian keluarga yang sedang jatuh. Ada impianku ingin membantu orang tua,setidaknya kalau aku hidup di luar pasti bisa mencari pekerjaan. Setelah pulang ke asrama, kepala ini dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang harus kujawab segera mungkin. Bersambung....
Diubah oleh aldogunz 08-12-2015 14:35
0