- Beranda
- Stories from the Heart
that's what friends are for
...
TS
kabelrol
that's what friends are for
Spoiler for pembuka:
Spoiler for sampul:
Pesan whatsapp itu datang begitu saja,
Quote:
Tangan gue masih perih karena kejadian di pagi kemarin itu, kalo dirasa, perihnya hati gue lebih kerasa ketimbang tinju yang ngga dipake 10 tahun lebih buat nonjok orang lagi. Meski gitu, gue tetep berkeinginan untuk bales pesan itu.
"Sini aja, Nae,"
"Oke, gue emang udah di jalan, sih. Paling sepuluh menit sampe di tempat lo,"
centang biru. Gue nyengir aja. Itu bocah emang belum berubah terlalu banyak, kecuali ada gelar dokter yang baru dia dapet di depan namanya. Gue lihat profil kontak whatsappnya. Nae beneran ngga berubah, tidak ada juga perubahan pada warna rambut. Gue berdiri, ngeliat kaca, dan nyisir rambut pake tangan. Gue ganti celana dan baju. Gue berantakan banget, untung Nae dateng. Kalo ngga, bisa sepuluh hari dalam kondisi bau gitu, gue masih betah
Bener aja, ngga lama, ada yang ngetok pintu di lantai bawah--ya, iyalah, kalo ngetoknya di pintu lantai atas, ngeri amat, sob 
"Assalamu'alaikum,"
suaranya, sih, Nae, yang menyeru salam di bawah. Gue balas salamnya sembari lari ke bawah. Gue sendiri lagi di rumah kali ini, semua orang lagi jaga toko di toko pojokan itu. Gue absen ke orang rumah gue ngga bisa partisipasi jaga toko beberapa hari ini. Alasan gue, sih, masuk angin. Padahal, mah, justru badan gue lagi 'kosong' banget. Air mata ngosongin badan gue banget. Tsaah~
"Masuk, Bu Dokter!"
"Gue udah masuk, Mbel. Buset, berantakan amat lo, Har?"
"Yah, begitulah," gue cuma tersenyum kecut. Gue ngga beralasan nyinyir seperti, gue mah bukan dokter, jadi ngga wajib selalu bersih--padahal mah emang dasarnya aja gue jorok

"mana Haruki?"
Aah.. akhirnya pertanyaan itu pecah juga, keluar.
"Duduk dulu, Nae. Mau minum apa?" dan akhirnya kita berbasa-basi sejenak. Gue jadi punya waktu untuk nyiapin kata terbaik apakah yang akan mewakili rentetan kejadian sejauh ini--sudah terlalu jauh

"Har, apa perlu gue tanya sekali lagi? Mana Haruki?"
dr.Nae sepertinya menangkap gejala ngga beres dari gue. Sebab, apdetan medsos gue waktu itu, terakhir soal gue sama Haruki EO-in kateringnya perkimpoian Widya (
)"Dia udah pulang, Nae"
"Gue ngga yakin, Har, kalo Haruki cuma sekadar 'pulang' aja. Pasti ada yang harus lo ceritain ke gue,"
Ternyata, waktu basa-basi dan ngambilin minuman barusan tadi ngga cukup ngasih waktu gue untuk cari kata terbaik untuk memulai percurhatan ini

"Yaah.. jadi gini nae...
Spoiler for sekilas cerita sebelumnya:
...gitu, Nae.."
mata dr. Nae terlihat simpatik mendengar kisah yang belibet barusan.
"Widya kimpoi?" --gue ngangguk.
"Haruki ....?" --gue ngangguk lagi.
"Lo ngenes banget, Har..," --gue tersenyum kecut, sembari ngangkat bahu. Nasib gue begini kali.
"Terus, sekarang lo mau gimana, Har?" --gue tersenyum kecut lagi, ngangkat bahu lagi. Gue masih bingung, lebih tepatnya kaget sih. Nae mendesah perlahan, dia gigit bibir bawahnya. Keknya Nae semacam gemes dengerin cerita gue.
"Gue tanya balik sama lo, Nae. Kalo lo di posisi gue, apa yang lo lakukan?"
"Gue bakal nyari Haruki sampe dapet, ngga perduli gimana,"
Jeder! seakan ada durian jatuh di ubun-ubun gue. Yap, jawabannya emang sesimpel itu, tapi tentu dengan banyak ganjelan.
"Untuk apa? Toh, dia udah ada Farhan. Farhan pasti bisa ngelindungi Haruki,"
"Muka lo! Lo percaya sama Farhan, heh? Bukannya lo tau gimana Farhan?"
Jeder lagi! gue teringat bagaimana Widya nyiram pake air kola Farhan dan Nurul--sahabatnya Widya sendiri, di malam itu, di depan muka gue sendiri. Tapi, gue masih berusaha membebal.
"Waktu itu masih cinta monyet, jaman SMA, sekarang udah berubah kali,"
"bodoh! Kalo gitu, pertanyaannya gue inverse, bukannya lo ngga tau gimana Farhan?"
Lagi-lagi jeder lagi! Ya, gue tau Farhan, justru karena itu gue harus khawatir. Ya, justru gue ngga tau gimana Farhan sebenernya, karena itu gue harus lebih-lebih khawatir banget.
"Har, kejar, Har!"
"Gue harus gimana?"
"Lo dateng wisuda dan sumpah dokter gue, ya. Sampe itu, gue bantu lo," terus Nae kasih tanda 'V' dengan jari dan jari tengahnya ke depan muka gue, "dua bulan, lo harus cari ongkos ke kampus gue selama waktu ini buat ngehadirin wisuda gue,"
"kampus lo itu... siang di kampus gue, malem di kampus lo, kan?"
Nae ngangguk, dengan mantap. Gue neguk ludah sendiri. Gue coba ngitung-ngitung.. pasti ongkosnya lebih mahal ketimbang waktu Haruki ngongkosin gue nemenin dia mudik ketemu saudara kembarnya di kampung halamannya itu.. Bukan, bukan di Ciracas...
Quote:
Polling
0 suara
siapa yang punya tujuan paling jujur?
Diubah oleh kabelrol 09-12-2015 00:47
bukhorigan dan 2 lainnya memberi reputasi
3
67.7K
320
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
kabelrol
#208
mestakung (2)
Semacam biasa seperti tahun-tahun sebelumnya, hari-hari di bulan Puasa tahun ini berlalu seperti kedipan mata, cepet bener. Ngga kerasa, tiket buat perjalanan mudik yang kita siapin dari jauh-jauh hari buat sekeluarga tahun ini semakin mendekati hari keberangkatan aja. Yep, tahun ini kita sekeluarga mudik ke kampung halaman mamake gue, yang berarti, setelah sekian tahun, gue akan ketemu Lidya lagi. Emang sih, mudik tahun ini juga dikhususkan buat Lidya sob. Lepas Idul Fitri 10 hari, Lidya akan melepas masa jala.. eh, lajangnya
Berhubung lepas lebaran kita pada ngga bisa berangkat, mudik ini bertujuan jengukin (calon) manten yang masih perawan
Karena sakitnya bapak ngga bisa banget ada di perjalanan darat sehari semalem, belum ditambah macet, kita naik pesawat plat merah yang ada Novi di dalemnya. Sama sekali ngga ada hasrat pengen ketemu Novi di udara itu. Ngga ada... 
Karena kakek-nenek udah ngga ada, otomatis, lebaran ini ada dua keluarga, keluarga gue dan keluarganya Lidya. Dan karena gue yang relatif sepantaran sama Lidya dan dari kecil gue yang biasa diajak main sama Lidya dibanding adek atau kakak gue, percakapan di bawah ini jadi semacam standar ketika gue ketemu muka pertama kali sama Lidya:
"Liiiid, selamat yees selamat!!"
"Makasih Haar, makasiih. kamu kapan nyusul?"
untung aja sob sebelum gue berangkat ke M*L*NG ini, gue udah berlatih dasar-dasar menjadi ninja. Apalagi kalo bukan untuk nyiapin diri untuk ngejawab pertanyaan semacam itu, baik dari Lidya atau pakde atau bude gue. Belum nutup mangapnya pertanyaan Lidya, gue udah ngelempar bom asap (bikin sendiri
) dan lari menghilang menjauhi konflik pertanyaan kapan kimpoi-kapan kimpoi itu

karena jarak rumah orang tua Haruki sama Lidya ini cuma 2-3 jam, gue berencana menyempatkan silaturahmi kesana. Bukan ngga mungkin kan kalo Haruki ternyata pulang ke rumahnya? Bukan ngga mungkin kan orang tuanya nyari Haruki juga dengan cara yang lebih efektif?
Maka, keesokan harinya, atau berbekal ongkos bus PP, gue beranjak ke kota orang tua Haruki habis solat subuh. Tadinya, Lidya atau adek kakak gue mau ikut, tapi gue ngabur habis solat subuh di mesjid
Sepanjang perjalanan itu, gue ngga bisa tidur banget sob, padahal biasanya mah gue pelor bener
dan sepanjang perjalanan itu, gue sama sekali ngga mikir apa-apa, kepala gue kosong. Ngga ada harapan maupun ketakutan. Ngga ada harapan berlebihan mana tau ada Haruki yang ternyata lagi bobo siang di rumahnya dan ngga ada juga ketakutan harapan barusan cuma khayalan aja. Ngga ada.
Baik, singkat cerita, gue sampe jam 9 atau setengah 10 pagi, di mana matahari udah berasa jam 1 siang kalo di kota gue. Gue tanya sana-sini untuk alamat yang gue tuju. Beberapa lama, gue ketemu juga sama rumah itu. Firasat gue, rumah itu kosong. Gue buka gerbang besi yang berdiri diantara pagar dari semak. Gue berdiri di depan pintu, gue ketuk dan ucapkan salam. Hening. Rumah ini beneran kosong. Ngga ada aroma manusia dari dalem rumah. Gue duduk di kursi yang ada di teras. Gue mengedarkan pandangan ke sekeliling, berharap tiba-tiba orang rumah ini pulang.
btw, mungkin ini ngga terlalu penting sih, tapi kok rasanya pengen gue curhatin
pas lagi nunggu itu, gue buka instagram. Karena bertujuan random, gue buka menu 'search', singkat cerita gue nemu akun andori andari alias dorippu kalo ngga salah. Entahlah, Haruki sama Dori kerasa beda dari kepribadian kalo dilihat dari foto sob, tapi gue berhenti agak lama stalking akunnya dia
Gue semacam tertampar di sana. Akun Dori penuh dengan kemesraan sama pacaranya gamcul itu. Dari hasil stalking itu juga, gue tau antara Dori dan Gamcul itu pernah ada keretakan dalam hubungan, bahkan putus (cmiiw
) Mereka LDR selama bertahun-tahun pada beda negara. Lah, jarak gue sama Haruki cuma beda sehari semalem. Anjir gue malu sendiri. Rasanya, mereka relatif sering ketemu dibanding gue yang suka sok sibuk waktu mahasiswa
Gue makin nyesel aja sob rasanya.
Lagi asik-asiknya kepo, gue di sapa sama orang.
"Mas, nyari siapa, ya?"
"Bapak (sebut nama) ada bu?"
"Ooh, lagi pergi, Mas. Baru malam pulangnya, mau ditunggu atau ada titip pesan?"
Si ibuk-ibuk ini ngga inget gue banget apa yah. Ibuk-ibuk ini asisten rumah tangga yang pernah ketemu ketika kemaren gue sama Nae main kemari
Gue tau, opsi 'mau ditunggu' adalah basa-basi sementara ini jam 12 juga belum ada. Akhirnya, gue memilih 'titip pesan' aja. Gue pun berlalu dari rumah itu.
Pikiran gue kosong, ngga ada harapan atau ketakutan. Gue merasa, bahkan, potong kuku jauh menghasilkan kelegaan dibanding ini. Serius. Kalo motong kuku kan ada perasaan puas gimana gitu sob. Kita ngga ragu untuk ngupil atau cebok takut-takut berdarah
Gue melangkah dengan sangat random dan entah bagaimana ceritanya, sampe juga gue ke (mantan) kampusnya Haruki. Agaknya, keputusan dia ngekos bener juga, jauh dan macet bener sob
Gue berhenti di gedung yang katanya sih, setelah tanya-tanya, adalah jurusan arsitektur. Gue liat lorong-lorongnya. Gue liat ruang yang keliatannya ruang kelas. Gue liat ruang yang keliatannya ruang dosen atau ujian. Percuma, bangku panjang depan warung Encop masih jauh lebih baik untuk berkenang-kenang. Firasat gue, Haruki jarang ada di kampus. Gue jalan secara random, tentu saja kampus ini sepi. Pada mudik sih.
Sob, kekosongan pikiran gue waktu itu ada sebabnya. Pada saat jalan buntu begini, gue justru berandai-andai yang ketinggian, kalo gue ketemu Haruki, apa yang gue lakukan? meluk dia? hmm, mungkin, saat itu perutnya udah terlalu besar dan gue ngga bisa sembarangan meluk dia. barangkali pas lo ketemu dia, Haruki udah melahirkan, Har? hmm, itu lebih justru itu gue ngga bisa meluk dia. mungkin, dia lagi gendong anaknya (?) apa cukup dengan 'hai'? ngga, dan pasti suasananya super awkward. pertanyaan selanjutnya, kalo gue ketemu Haruki pas ada Farhan di sebelahnya, apa yang akan gue lakukan? apakah gue akan nonjok dagunya sampe gigi gerahamnya lepas? atau malah ngajak jabat tangan sembari ngasih selamat dan ucapan-ucapan semoga berbahagia ya kalian? hmmm.
Intinya, di kondisi jalan buntu ini, gue malah meragukan kembali apakah gue harus ngelanjutin nyariin Haruki atau sesungguhnya ini bukan lagi jadi yang penting. Yes, gue seorang galau
bingung mau ngapain, akhirnya gue mutusin untuk balik ke Malang. SEKIP SOB.
lebaran pun berlalu, setelah silaturahmi ke sanak sodara yang dianggap sodara
dan setelah pamit ke Lidya dalam bentuk perawan untuk terakhir kalinya, H+6 lebaran dan H-4 Lidya kimpoy, kitapun pulang. Saatnya kembali ke rutinitas, toko, gambar, klien, dan semua-muanya, barangkali akan membuat gue kembali berpikir "kalo jodoh mah ngga kemana". Setelah dipikir-pikir, ada banyak temen SMP atau SMA yang sejak lulus sekolah di sana, gue ngga pernah ketemu mereka lagi. Dan world dont give af... galau kan gue? ohya, note buat waktu itu: ketika itu, gue kehilangan banget apa yang namanya rasa cinta. bukan homo
bahkan, gue kehilangan birahi waktu itu. mungkin, ibadah puasa gue begitu efektif sob

H+2 pulang, toko udah operasi seperti biasa dan artinya gue ketemu Ara. Hari pertama itu kita buka dari siang, pagi kita buat acara halal bihalal karyawan. Ara ngga dateng, dia baru dateng sore, ketika mau tutup, dan dia dateng tergopoh-gopoh. Cengengesan.
"Bang, mohon maaf lahir batin, yak"
"Eh, elo. darimana aja lo gue cari-cariin. kalo mau ijin, sms atau wassap kek. jangan ngilang tanpa kabar atuh, Ra." -- ngga baper, itu manual aturan toko ini
"sori, sori, bang. alhamdulillah, bang Farhan pulang"
gue yang lagi di posisi duduk, seketika berdiri.
"bang, mohon maaf lahir batin, yak!" --Ara bilang itu dengan semangat dan ceria, tapi gue mengerti maksudnya. Gue ngga bisa ngangguk banget, barangkali ibadah puasa gue kurang efektif sob
Gue bahkan lupa pake sweater, ingetan cuma kunci pintu sana-sini, karyawan gue usirin suruh segera pulang
gue langsung tarik tangan Ara.
Kepala gue kosong. Kepala gue kosong. Gue ngga mikir sama sekali. Padahal, kalo gue pikir dengan jernih, hei, Farhan pulang bisa berarti dua hal: dia pulang dengan atau tanpa Haruki. Kenapa gue bergerak tanpa mikir banget waktu itu? Entahlah, mungkin kangen yang teramat sob
Gue menuju rumah Ara tempat gue ketemu Ara pertama kali itu, pake nyamar jadi tukang paket itu, dengan buru-buru. Segala polisi tidur gue terabas sampe semuanya bangun. Ara yang duduk di kursi belakang motor gue meluk merat pinggang gue. Takut jatoh kali. Jarak normal 20 menit jadi 7 menit. Gue tiba di depan rumah, gue liat Farhan ada di selasar rumahnya. Bodo amat ada orang tua mereka. Gue buka pager dan langsung tarik kerah dia, sampe Farhan berdiri dari tempat duduknya.
"Mana Haruki?!"
"Slow, eh"
"Mana. Haruki."
Farhan nyoba nepis tangan gue, tapi tangan gue sangat kuat nyengkram kerahnya. Di panik itu, gue bisa denger ada bunyi benang ketarik gitu.
Gue tatap dan tanya lebih tajam lagi, dengan pertanyaan yang sama,
"Mana. Haruki."
Gue ngga pernah semarah itu sejak hari keberangkatan Haruki beberapa bulan yang lalu itu. Gue ngga pernah sesemangat dan sekuat itu sejak gue dikejar anjing waktu SMP

Kepala gue kosong banget, tapi entah kenapa, suara Ara begitu masuk ke telinga gue, ke hati gue, menyelusup diantara kemarahan gue di sore menjelang petang waktu itu.
"Bang, ini udah nyambung..."
Sepapan HP ditempel ke kuping gue oleh Ara. Dan demi mendengar...
"Halo?"
suara yang amat gue kenal, suara yang amat gue rindukan... ITU SUARA HARUKI SOB

'anjing' yang mengejar gue sudah lepas mengejar gue. kekuatan gue hilang. tangan gue membanting Farhan terduduk di kursi. Gue ambil HP Ara dan badan gue membalik 270 derajat, serong ke arah sisi luar rumah itu.
"Halo....
...
...
..
Haruki?...."
dua kata itu terasa lamaa banget untuk diucapkan... sangat lama sob, gue berusaha mengurangi rasanya, tapi kok gue masih berasa berlebihan dalam deskripsi disini... ya.. bahkan, saat gue ngetik ini... gue masih hafal banget gimana rasanya.. gimana kondisi di petang itu... jingga di langit barat... surai angin yang bergerak memeluk lembut rambut gue dan langsung melepaskannya....
rindu itu... kangen itu... lepas....
"Harsyaaaa... apa kabaaar?"
tunai sudah, perasaan setengah tahun kurang ini tunai sudah sob. demi mendengar 'harsya, apa kabar?'-nya itu...
kepala gue kosong. gue berasa mimpi. apa gue masih mimpi yang pas bangun masih ketemu mimpi itu?
gue berasa lagi ada di depan Haruki. ngga ada yang gue omongin dan ngga ada yang pengen gue omongin.. pulsa Ara terbuang percuma.. ah, paling lama cuma semenit, tapi sumpah berasa banget 3 jam! padahal, gue cuma diem aja. gue berasa di depan dia. ah, rasanya itu.....
setelah jawab alhamudlillah, dan baru mau gue tanya: Haruki lo dimana? di seberang sana, kedengeran suara dari orang sebelah Haruki.
"Ki, ayo masuk ruangan dulu..."
"Har, nanti kita sambung lagi, ya. aku mau masuk ruang periksa dulu, nih. daah"
telepon ditutup. gue jatuh terduduk. ruang periksa? gue pandangi layar HP yang udah mati. mulut gue agaknya nganga.
"kalo lo nyari dia, dia ada di (kota asal Haruki)"
Gue udah ngga denger lagi kata Farhan itu, kecuali jadi bahan gue langsung melesat. ngontak temen-temen gue yang usaha travel, untuk perjalanan malam ini.. gue mudik lagi. H-2 Lidya nikah, gue sepertinya jadi nengokin dia nikah pas hari H
ah, tapi waktu itu, mana ada kepikiran. ada deng... gue mau minjem mobil bapaknya Lidya.
itu adalah perjalanan paling ngasal, serius, ngasal abis. Gue berangkat hanya dengan baju yang nempel di badan, bahkan pake sweater aja ngga. bekel gue (kalo boleh dibilang bekel) cuma dompet (isinya ngga seberapa, tekor buat THR sama mudik sob), HP tanpa casan( batere udah mau habis), dan kertas isinya nomer Haruki dari Ara (gue catet lagi di kertas, jaga-jaga kalo HP gue mati dan ngga nemu casan dan tempat buat ngecas). Setelah ngontak kesana-kemari, gue dapet tiket paling pagi. Gue bisa berangkat di hari itu juga kalo gue booking 20 menit lebih awal
, sementara bus yang ke bandara itu baru juga berangkat. akhirnya, gue ngambil penerbangan paling pagi.
info itu masuk pas gue lagi di bus tujuan bandara. Mau balik juga nanggung, maka gue bablas. Tidur di bandara aja, mungkin di bandara ada casan. Ngasal karena HP gue mau mati, tanpa casan, dan tiket onlen gue ada di email di HP. Artinya, sekali HP gue mati, gue ngga nemu casan, gue bisa gagal berangkat.
Dipikir-pikir, tahun 2015 ini tahun perjalanan yang ngasal banget. Awal tahun, gue menculik dan diculik Nyonya Ari ke pantai 3 hari 2 malem (dulu masih Nona Widya
), tiga bulanan kemudian, gue sama Nae juga berangkat ngasal tanpa rencana, di bulan 7 ini, gue lebih ngaco lagi 
Dan namanya rejeki, kalo emang jodoh mah, emang ngga kemana. Temen duduk gue di bus ini, di 1/3 perjalanan, beres ngecas di colokan yang disedian bus. Gue pinjem dan bapak-bapak ini dengan senang hati ngasihinnya. Gue sempet ditanya,
"Mau jemput, ya, Mas?"
"Ah, ngga, Pak, saya mau ke (nama kota Haruki)"
"Wah, cuma kaosan begini aja?"
"Iya, pak. Darurat, Pak"
dan si bapak itu cuma meng-oh aja dan dia pun beranjak tidur-tiduran. Pas deh, gue juga lagi ngga minat ngobrol. Pikiran gue udah pengen cepet banget besok subuh, jam 4.30.. SEKIP dan perjalanan sampe gue harus turun duluan di salah satu terminal bandara. Gue mau balikin casan bapak itu, lumayan, sekarang 50 persen. Setau gue di lobi keberangkatan ada juga casannya. Pas gue mau balikin, eh si bapak baik hati itu bilang,
"udah dek, bawa aja. kayaknya kamu lebih butuh casan itu daripada saya, bawa aja,"
Gue ngga bisa basa-basi nolak. Gue langsung nyalamin bapak itu sembari bilang semoga perjalannnya selamat. Gue pun berlari keluar bus. Walaupun gue tau gue bakal berangkat besok pagi, entah kenapa gue keburu-buru gitu sob.
yes, gue harus tidur di bandara. berbekal cuma satu kaos tipis, dan ngga mungkin banget gue beli jaket atau sweater di bandara yang harganya bisa beli gudang bulog, gue akhirnya bisa mikir jernih. Gue telpon Ari
jernih siah

Nada sambung beberapa kali baru deh diangkat...

"Bro, sori ganggu..."
"Eh, halo, Har. Ari lagi di kamar mandi. bentar, ya" --Nyonya Ari yang ngangkat. Di kamar mandi? Hmmm...
bukan itu aja kekecewaan gue, yang lain adalah, gue jadi tau Ari lagi ngga di bandara. DIa lagi 'dines' di rumah
Har, lo nyinyir beut deh, sirik yak

dan beberapa saat kemudian..
"halo, bro? ada darurat apa?"
Ari ini tau banget kalo gue nelpon jam segini pasti ada maunya
akhirnya gue utarakan kondisi gue. Dia kasih beberapa opsi, salah satunya yang bikin kaget adalah dia mau nyariin ruangan istirahat kru kabin. Yakali
si Ari bercandanya berlebihan juga nih
ada juga opsi nginep di hotel sekitar bandara, ada juga nginep di kursi panjang yang disediain bandara sepeti rencana gue semula, tapi ngga mungkin karena gue ngga bakal kuat dinginnya
setelah berpikir sana-sini, gue berpikir beli jaket sama nginep semalem biayanya sama, akhirnya gue nyari ojek dan nyari tempat jual jaket bekas atau jaket baru murah meriah yang masih buka. Susah beut nyarinya, sampe gue kepikiran apa mending gue beli jaket si tukang ojek
, tapi berhubung gue takut ntar disangka tukang ojek onlen, yaudah walopun agak jauh gue nemu juga tuh tempat beli jaket bekas tuh 
catatan buat para turis atau trefeler: tidur di bandara itu berasa tidur tapi ngga tidur, ngga tidur tapi berasa tidur. hmmmm.. gue bolak balik ambil posisi rebah, duduk, kayang, lilin
sekip. pagi pun tiba.... (dan gue yang nulis ini udah ngantuk
tadinya mau gue tamatin sekalian, apadaya sudah ngantuk sob. sampai jumpa lagi di part terakhir)
Berhubung lepas lebaran kita pada ngga bisa berangkat, mudik ini bertujuan jengukin (calon) manten yang masih perawan
Karena sakitnya bapak ngga bisa banget ada di perjalanan darat sehari semalem, belum ditambah macet, kita naik pesawat plat merah yang ada Novi di dalemnya. Sama sekali ngga ada hasrat pengen ketemu Novi di udara itu. Ngga ada... 
Karena kakek-nenek udah ngga ada, otomatis, lebaran ini ada dua keluarga, keluarga gue dan keluarganya Lidya. Dan karena gue yang relatif sepantaran sama Lidya dan dari kecil gue yang biasa diajak main sama Lidya dibanding adek atau kakak gue, percakapan di bawah ini jadi semacam standar ketika gue ketemu muka pertama kali sama Lidya:
"Liiiid, selamat yees selamat!!"
"Makasih Haar, makasiih. kamu kapan nyusul?"
untung aja sob sebelum gue berangkat ke M*L*NG ini, gue udah berlatih dasar-dasar menjadi ninja. Apalagi kalo bukan untuk nyiapin diri untuk ngejawab pertanyaan semacam itu, baik dari Lidya atau pakde atau bude gue. Belum nutup mangapnya pertanyaan Lidya, gue udah ngelempar bom asap (bikin sendiri
) dan lari menghilang menjauhi konflik pertanyaan kapan kimpoi-kapan kimpoi itu

karena jarak rumah orang tua Haruki sama Lidya ini cuma 2-3 jam, gue berencana menyempatkan silaturahmi kesana. Bukan ngga mungkin kan kalo Haruki ternyata pulang ke rumahnya? Bukan ngga mungkin kan orang tuanya nyari Haruki juga dengan cara yang lebih efektif?
Maka, keesokan harinya, atau berbekal ongkos bus PP, gue beranjak ke kota orang tua Haruki habis solat subuh. Tadinya, Lidya atau adek kakak gue mau ikut, tapi gue ngabur habis solat subuh di mesjid
Sepanjang perjalanan itu, gue ngga bisa tidur banget sob, padahal biasanya mah gue pelor bener
dan sepanjang perjalanan itu, gue sama sekali ngga mikir apa-apa, kepala gue kosong. Ngga ada harapan maupun ketakutan. Ngga ada harapan berlebihan mana tau ada Haruki yang ternyata lagi bobo siang di rumahnya dan ngga ada juga ketakutan harapan barusan cuma khayalan aja. Ngga ada.Baik, singkat cerita, gue sampe jam 9 atau setengah 10 pagi, di mana matahari udah berasa jam 1 siang kalo di kota gue. Gue tanya sana-sini untuk alamat yang gue tuju. Beberapa lama, gue ketemu juga sama rumah itu. Firasat gue, rumah itu kosong. Gue buka gerbang besi yang berdiri diantara pagar dari semak. Gue berdiri di depan pintu, gue ketuk dan ucapkan salam. Hening. Rumah ini beneran kosong. Ngga ada aroma manusia dari dalem rumah. Gue duduk di kursi yang ada di teras. Gue mengedarkan pandangan ke sekeliling, berharap tiba-tiba orang rumah ini pulang.
btw, mungkin ini ngga terlalu penting sih, tapi kok rasanya pengen gue curhatin
pas lagi nunggu itu, gue buka instagram. Karena bertujuan random, gue buka menu 'search', singkat cerita gue nemu akun andori andari alias dorippu kalo ngga salah. Entahlah, Haruki sama Dori kerasa beda dari kepribadian kalo dilihat dari foto sob, tapi gue berhenti agak lama stalking akunnya dia
Gue semacam tertampar di sana. Akun Dori penuh dengan kemesraan sama pacaranya gamcul itu. Dari hasil stalking itu juga, gue tau antara Dori dan Gamcul itu pernah ada keretakan dalam hubungan, bahkan putus (cmiiw
) Mereka LDR selama bertahun-tahun pada beda negara. Lah, jarak gue sama Haruki cuma beda sehari semalem. Anjir gue malu sendiri. Rasanya, mereka relatif sering ketemu dibanding gue yang suka sok sibuk waktu mahasiswa
Gue makin nyesel aja sob rasanya.Lagi asik-asiknya kepo, gue di sapa sama orang.
"Mas, nyari siapa, ya?"
"Bapak (sebut nama) ada bu?"
"Ooh, lagi pergi, Mas. Baru malam pulangnya, mau ditunggu atau ada titip pesan?"
Si ibuk-ibuk ini ngga inget gue banget apa yah. Ibuk-ibuk ini asisten rumah tangga yang pernah ketemu ketika kemaren gue sama Nae main kemari
Gue tau, opsi 'mau ditunggu' adalah basa-basi sementara ini jam 12 juga belum ada. Akhirnya, gue memilih 'titip pesan' aja. Gue pun berlalu dari rumah itu.Pikiran gue kosong, ngga ada harapan atau ketakutan. Gue merasa, bahkan, potong kuku jauh menghasilkan kelegaan dibanding ini. Serius. Kalo motong kuku kan ada perasaan puas gimana gitu sob. Kita ngga ragu untuk ngupil atau cebok takut-takut berdarah

Gue melangkah dengan sangat random dan entah bagaimana ceritanya, sampe juga gue ke (mantan) kampusnya Haruki. Agaknya, keputusan dia ngekos bener juga, jauh dan macet bener sob
Gue berhenti di gedung yang katanya sih, setelah tanya-tanya, adalah jurusan arsitektur. Gue liat lorong-lorongnya. Gue liat ruang yang keliatannya ruang kelas. Gue liat ruang yang keliatannya ruang dosen atau ujian. Percuma, bangku panjang depan warung Encop masih jauh lebih baik untuk berkenang-kenang. Firasat gue, Haruki jarang ada di kampus. Gue jalan secara random, tentu saja kampus ini sepi. Pada mudik sih.Sob, kekosongan pikiran gue waktu itu ada sebabnya. Pada saat jalan buntu begini, gue justru berandai-andai yang ketinggian, kalo gue ketemu Haruki, apa yang gue lakukan? meluk dia? hmm, mungkin, saat itu perutnya udah terlalu besar dan gue ngga bisa sembarangan meluk dia. barangkali pas lo ketemu dia, Haruki udah melahirkan, Har? hmm, itu lebih justru itu gue ngga bisa meluk dia. mungkin, dia lagi gendong anaknya (?) apa cukup dengan 'hai'? ngga, dan pasti suasananya super awkward. pertanyaan selanjutnya, kalo gue ketemu Haruki pas ada Farhan di sebelahnya, apa yang akan gue lakukan? apakah gue akan nonjok dagunya sampe gigi gerahamnya lepas? atau malah ngajak jabat tangan sembari ngasih selamat dan ucapan-ucapan semoga berbahagia ya kalian? hmmm.
Intinya, di kondisi jalan buntu ini, gue malah meragukan kembali apakah gue harus ngelanjutin nyariin Haruki atau sesungguhnya ini bukan lagi jadi yang penting. Yes, gue seorang galau

bingung mau ngapain, akhirnya gue mutusin untuk balik ke Malang. SEKIP SOB.
lebaran pun berlalu, setelah silaturahmi ke sanak sodara yang dianggap sodara
dan setelah pamit ke Lidya dalam bentuk perawan untuk terakhir kalinya, H+6 lebaran dan H-4 Lidya kimpoy, kitapun pulang. Saatnya kembali ke rutinitas, toko, gambar, klien, dan semua-muanya, barangkali akan membuat gue kembali berpikir "kalo jodoh mah ngga kemana". Setelah dipikir-pikir, ada banyak temen SMP atau SMA yang sejak lulus sekolah di sana, gue ngga pernah ketemu mereka lagi. Dan world dont give af... galau kan gue? ohya, note buat waktu itu: ketika itu, gue kehilangan banget apa yang namanya rasa cinta. bukan homo
bahkan, gue kehilangan birahi waktu itu. mungkin, ibadah puasa gue begitu efektif sob

H+2 pulang, toko udah operasi seperti biasa dan artinya gue ketemu Ara. Hari pertama itu kita buka dari siang, pagi kita buat acara halal bihalal karyawan. Ara ngga dateng, dia baru dateng sore, ketika mau tutup, dan dia dateng tergopoh-gopoh. Cengengesan.
"Bang, mohon maaf lahir batin, yak"
"Eh, elo. darimana aja lo gue cari-cariin. kalo mau ijin, sms atau wassap kek. jangan ngilang tanpa kabar atuh, Ra." -- ngga baper, itu manual aturan toko ini

"sori, sori, bang. alhamdulillah, bang Farhan pulang"
gue yang lagi di posisi duduk, seketika berdiri.
"bang, mohon maaf lahir batin, yak!" --Ara bilang itu dengan semangat dan ceria, tapi gue mengerti maksudnya. Gue ngga bisa ngangguk banget, barangkali ibadah puasa gue kurang efektif sob

Gue bahkan lupa pake sweater, ingetan cuma kunci pintu sana-sini, karyawan gue usirin suruh segera pulang
gue langsung tarik tangan Ara.Kepala gue kosong. Kepala gue kosong. Gue ngga mikir sama sekali. Padahal, kalo gue pikir dengan jernih, hei, Farhan pulang bisa berarti dua hal: dia pulang dengan atau tanpa Haruki. Kenapa gue bergerak tanpa mikir banget waktu itu? Entahlah, mungkin kangen yang teramat sob

Gue menuju rumah Ara tempat gue ketemu Ara pertama kali itu, pake nyamar jadi tukang paket itu, dengan buru-buru. Segala polisi tidur gue terabas sampe semuanya bangun. Ara yang duduk di kursi belakang motor gue meluk merat pinggang gue. Takut jatoh kali. Jarak normal 20 menit jadi 7 menit. Gue tiba di depan rumah, gue liat Farhan ada di selasar rumahnya. Bodo amat ada orang tua mereka. Gue buka pager dan langsung tarik kerah dia, sampe Farhan berdiri dari tempat duduknya.
"Mana Haruki?!"
"Slow, eh"
"Mana. Haruki."
Farhan nyoba nepis tangan gue, tapi tangan gue sangat kuat nyengkram kerahnya. Di panik itu, gue bisa denger ada bunyi benang ketarik gitu.
Gue tatap dan tanya lebih tajam lagi, dengan pertanyaan yang sama,
"Mana. Haruki."
Gue ngga pernah semarah itu sejak hari keberangkatan Haruki beberapa bulan yang lalu itu. Gue ngga pernah sesemangat dan sekuat itu sejak gue dikejar anjing waktu SMP

Kepala gue kosong banget, tapi entah kenapa, suara Ara begitu masuk ke telinga gue, ke hati gue, menyelusup diantara kemarahan gue di sore menjelang petang waktu itu.
"Bang, ini udah nyambung..."
Sepapan HP ditempel ke kuping gue oleh Ara. Dan demi mendengar...
"Halo?"
suara yang amat gue kenal, suara yang amat gue rindukan... ITU SUARA HARUKI SOB

'anjing' yang mengejar gue sudah lepas mengejar gue. kekuatan gue hilang. tangan gue membanting Farhan terduduk di kursi. Gue ambil HP Ara dan badan gue membalik 270 derajat, serong ke arah sisi luar rumah itu.
"Halo....
...
...
..
Haruki?...."
dua kata itu terasa lamaa banget untuk diucapkan... sangat lama sob, gue berusaha mengurangi rasanya, tapi kok gue masih berasa berlebihan dalam deskripsi disini... ya.. bahkan, saat gue ngetik ini... gue masih hafal banget gimana rasanya.. gimana kondisi di petang itu... jingga di langit barat... surai angin yang bergerak memeluk lembut rambut gue dan langsung melepaskannya....
rindu itu... kangen itu... lepas....
"Harsyaaaa... apa kabaaar?"
tunai sudah, perasaan setengah tahun kurang ini tunai sudah sob. demi mendengar 'harsya, apa kabar?'-nya itu...
kepala gue kosong. gue berasa mimpi. apa gue masih mimpi yang pas bangun masih ketemu mimpi itu?
gue berasa lagi ada di depan Haruki. ngga ada yang gue omongin dan ngga ada yang pengen gue omongin.. pulsa Ara terbuang percuma.. ah, paling lama cuma semenit, tapi sumpah berasa banget 3 jam! padahal, gue cuma diem aja. gue berasa di depan dia. ah, rasanya itu.....
setelah jawab alhamudlillah, dan baru mau gue tanya: Haruki lo dimana? di seberang sana, kedengeran suara dari orang sebelah Haruki.
"Ki, ayo masuk ruangan dulu..."
"Har, nanti kita sambung lagi, ya. aku mau masuk ruang periksa dulu, nih. daah"
telepon ditutup. gue jatuh terduduk. ruang periksa? gue pandangi layar HP yang udah mati. mulut gue agaknya nganga.
"kalo lo nyari dia, dia ada di (kota asal Haruki)"
Gue udah ngga denger lagi kata Farhan itu, kecuali jadi bahan gue langsung melesat. ngontak temen-temen gue yang usaha travel, untuk perjalanan malam ini.. gue mudik lagi. H-2 Lidya nikah, gue sepertinya jadi nengokin dia nikah pas hari H
ah, tapi waktu itu, mana ada kepikiran. ada deng... gue mau minjem mobil bapaknya Lidya.**********************
\itu adalah perjalanan paling ngasal, serius, ngasal abis. Gue berangkat hanya dengan baju yang nempel di badan, bahkan pake sweater aja ngga. bekel gue (kalo boleh dibilang bekel) cuma dompet (isinya ngga seberapa, tekor buat THR sama mudik sob), HP tanpa casan( batere udah mau habis), dan kertas isinya nomer Haruki dari Ara (gue catet lagi di kertas, jaga-jaga kalo HP gue mati dan ngga nemu casan dan tempat buat ngecas). Setelah ngontak kesana-kemari, gue dapet tiket paling pagi. Gue bisa berangkat di hari itu juga kalo gue booking 20 menit lebih awal
, sementara bus yang ke bandara itu baru juga berangkat. akhirnya, gue ngambil penerbangan paling pagi.info itu masuk pas gue lagi di bus tujuan bandara. Mau balik juga nanggung, maka gue bablas. Tidur di bandara aja, mungkin di bandara ada casan. Ngasal karena HP gue mau mati, tanpa casan, dan tiket onlen gue ada di email di HP. Artinya, sekali HP gue mati, gue ngga nemu casan, gue bisa gagal berangkat.
Dipikir-pikir, tahun 2015 ini tahun perjalanan yang ngasal banget. Awal tahun, gue menculik dan diculik Nyonya Ari ke pantai 3 hari 2 malem (dulu masih Nona Widya
), tiga bulanan kemudian, gue sama Nae juga berangkat ngasal tanpa rencana, di bulan 7 ini, gue lebih ngaco lagi 
Dan namanya rejeki, kalo emang jodoh mah, emang ngga kemana. Temen duduk gue di bus ini, di 1/3 perjalanan, beres ngecas di colokan yang disedian bus. Gue pinjem dan bapak-bapak ini dengan senang hati ngasihinnya. Gue sempet ditanya,
"Mau jemput, ya, Mas?"
"Ah, ngga, Pak, saya mau ke (nama kota Haruki)"
"Wah, cuma kaosan begini aja?"
"Iya, pak. Darurat, Pak"
dan si bapak itu cuma meng-oh aja dan dia pun beranjak tidur-tiduran. Pas deh, gue juga lagi ngga minat ngobrol. Pikiran gue udah pengen cepet banget besok subuh, jam 4.30.. SEKIP dan perjalanan sampe gue harus turun duluan di salah satu terminal bandara. Gue mau balikin casan bapak itu, lumayan, sekarang 50 persen. Setau gue di lobi keberangkatan ada juga casannya. Pas gue mau balikin, eh si bapak baik hati itu bilang,
"udah dek, bawa aja. kayaknya kamu lebih butuh casan itu daripada saya, bawa aja,"
Gue ngga bisa basa-basi nolak. Gue langsung nyalamin bapak itu sembari bilang semoga perjalannnya selamat. Gue pun berlari keluar bus. Walaupun gue tau gue bakal berangkat besok pagi, entah kenapa gue keburu-buru gitu sob.
yes, gue harus tidur di bandara. berbekal cuma satu kaos tipis, dan ngga mungkin banget gue beli jaket atau sweater di bandara yang harganya bisa beli gudang bulog, gue akhirnya bisa mikir jernih. Gue telpon Ari

jernih siah

Nada sambung beberapa kali baru deh diangkat...

"Bro, sori ganggu..."
"Eh, halo, Har. Ari lagi di kamar mandi. bentar, ya" --Nyonya Ari yang ngangkat. Di kamar mandi? Hmmm...
bukan itu aja kekecewaan gue, yang lain adalah, gue jadi tau Ari lagi ngga di bandara. DIa lagi 'dines' di rumah
Har, lo nyinyir beut deh, sirik yak

dan beberapa saat kemudian..
"halo, bro? ada darurat apa?"
Ari ini tau banget kalo gue nelpon jam segini pasti ada maunya
akhirnya gue utarakan kondisi gue. Dia kasih beberapa opsi, salah satunya yang bikin kaget adalah dia mau nyariin ruangan istirahat kru kabin. Yakali
si Ari bercandanya berlebihan juga nih
ada juga opsi nginep di hotel sekitar bandara, ada juga nginep di kursi panjang yang disediain bandara sepeti rencana gue semula, tapi ngga mungkin karena gue ngga bakal kuat dinginnya
setelah berpikir sana-sini, gue berpikir beli jaket sama nginep semalem biayanya sama, akhirnya gue nyari ojek dan nyari tempat jual jaket bekas atau jaket baru murah meriah yang masih buka. Susah beut nyarinya, sampe gue kepikiran apa mending gue beli jaket si tukang ojek
, tapi berhubung gue takut ntar disangka tukang ojek onlen, yaudah walopun agak jauh gue nemu juga tuh tempat beli jaket bekas tuh 
catatan buat para turis atau trefeler: tidur di bandara itu berasa tidur tapi ngga tidur, ngga tidur tapi berasa tidur. hmmmm.. gue bolak balik ambil posisi rebah, duduk, kayang, lilin

sekip. pagi pun tiba.... (dan gue yang nulis ini udah ngantuk
tadinya mau gue tamatin sekalian, apadaya sudah ngantuk sob. sampai jumpa lagi di part terakhir)Diubah oleh kabelrol 08-12-2015 17:52
pulaukapok dan dany.agus memberi reputasi
2
Tutup

zumpah, ane zuzur ngga nyangka bakal dapet sambutan sebegitu bagusnya 

