Jeritan Malam (ketika keindahan menjadi sebuah ketakutan)
TS
meta.morfosis
Jeritan Malam (ketika keindahan menjadi sebuah ketakutan)
pernahkan agan merinding disuatu tempat, merasakan kehadiran seseorang yang menurut agan hanya merupakan permainan imajinasi otak belaka dan ketika sebuah karunia datang untuk memberikan agan sebuah kesempatan untuk melihat sekilas apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan semua fenomena tersebut, apakah anda akan tetap tersenyum dengan logika dan keyakinan bahwa semua hanya imajinasi otak atau berteriak dan berharap agar mata ini tetap terpejam dan semua itu hanyalah sebuah mimpi ane akan bercerita sebuah kisah yang mungkin akan merubah cara pandang agan tentang semua kejadian yang pernah menimpa agan, ketika agan membaca dan bertanya apakah ini real story ? semua kembali kepada agan untuk menilai apakah ini sebuah fiksi belaka atau real story, selamat menikmati semoga sebuah sensasi akan menemani agan dalam gelapnya malam Mohon para reader yang masih dibawah umur agar bisa memilah antara yang baik dan buruk di cerita ini, ambil yang baik dan bermanfaat..jauhi yang buruk dan menyesatkan Waktu Update : Penulis adalah seorang pekerja yang akan selalu menulis disela sela waktu luangnya, jadi untuk update bisa dilakukan kapan saja entah itu malam, pagi ataupun siang, jadi tidak ada istilah mengulur ulur waktu Peraturan membaca di thread ini : Hargai hasil karya penulis, karena menulis adalah suatu hoby dimana penulis membutuhkan pembaca dan pembaca memberikan apresiasi/kritik/masukan sebagai bentuk penghargaan karya penulis
Jangan menjiplak/mengakui hasil karya penulis, ketika ingin copy paste ke thread atau blog lain biasakan etika untuk meminta izin dan mencantumkan sumber penulisan
Penulis berharap kepada para reader untuk tidak terpengaruh atau berusaha membalas apabila ada komentar reader negatif yang berusaha membuat rusuh atau mencari sensasi karena komentar balasan adalah motivasi mereka menjadi reader negatif Line Id : meta.morfosis untuk update harap bersabar gan
Spoiler for Prologue:
Menjadi manusia normal adalah sebuah impian setiap manusia, tapi apa jadinya ketika sebuah kejadian yang menimpa anda membuat semuanya menjadi sebuah mimpi buruk, saat waktu2 yang terasa indah untuk dinikmati kini menjadi sebuah kecemasan, saat tempat tempat terindah yang kita kunjungi kini menjadi sebuah pemandangan yang penuh dengan rasa ketakutan.
Nama gw reza, gw merupakan lulusan salah satu perguruan negeri ternama disalah satu universitas negeri di Jakarta, sebuah kampus yang berada dalam suatu lingkungan asri dengan pohon pohon besar disekitarnya bahkan hampir mirip disebut dengan sebutan hutan kota, gw menyelesaikan pendidikan SI dalam waktu yang normal, dengan predikat yang lumayan hingga akhirnya sebuah panggilan kerja mengantarkan kaki gw untuk berlabuh disalah satu kota di jawa timur.
Semua terasa begitu indah, begitu sempurna, bisa dibilang yang maha kuasa memudahkan semua langkah kehidupan gw, orang tua gw yang semula tidak menyetujui gw untuk pindah kota, akhirnya menyetujuinya, walaupun dengan resiko mereka kini harus tinggal hanya berdua saja di kota bogor yang tenang. Sebenarnya orang tua gw khususnya bokap gw menginginkan agar gw bekerja di Jakarta atau setidaknya meneruskan usaha yang sudah dirintisnya selama ini, berbagai macam argumen telah mereka keluarkan untuk menggagalkan keinginan gue untuk meninggalkan Jakarta, terutama alasan umur mereka yang sudah tua, berat rasanya meninggalkan mereka bila mengingat semua alasan itu, tapi keinginan untuk mandiri membuat gw bisa mengalahkan semua rasa tidak tega itu.
Tapi semua keindahan rangkuman perjalan hidup gw kini berubah secara drastis, seiring langkah kaki gw menaiki sebuah kereta yang mengantarkan gw menuju sebuah kota di jawa timur. Sebuah kereta yang menjadi awal dimulainya rentetan kejadian yang merubah perjalanan hidup gw….
Dan percayalah ketika gw menuliskan ini semua, gw tercekam dalam rasa ketakutan, rangkaian kata yang gw tulis dengan menjentikan jari dalam barisan huruf di keyboard tidak lepas dari tatapan mata mereka, gw hanya berharap semoga malam cepat berlalu berganti menjadi siang.
Spoiler for Chapter 1 ( sebuah kabar indah tentang masa depan ):
Juli 2007, Irama langkah kaki gw bergegas cepat meninggalkan sebuah toko buku dan menuju ke stasiun kereta, kebetulan hari ini sehabis berkunjung kerumah seorang teman, gw mampir ke sebuah toko buku untuk membeli beberapa buah buku yang gw butuhkan untuk sekedar menjadi bahan bacaan peneman hari hari gw setelah lulus kuliah, disaat kesibukan mata gw mencari cari buku yang mungkin bisa menjadi bahan bacaan gw, sebuah panggilan telepon masuk, ya sebuah panggilan yang sama sekali tidak terduga dan akan menjadi awal hidup gw memasuki dunia kerja
“ hallo selamat siang, dengan bapak reza ” sebuah kalimat pembuka pembicaraan di telepon terdengar dari seorang wanita
“ benar mba, kalau boleh tau saya bicara dengan siapa ?”
“ saya indri pak, kami dari perusahaan PT. XXXXX, meminta bapak untuk hadir ke perusahaan kami untuk mengikuti proses seleksi penerimaan kerja ”
Sebuah kabar yang bagus, tapi kembali gw berpikir dan mencoba mengingat kembali surat surat lamaran yang pernah gw kirimkan, ingatan gw masih bisa mengingat perusahaan2 yang pernah gw layangkan surat lamaran kerja, dan menurut gw perusahaan ini tidak termasuk didalam daftar perusahaan yang masuk dalamlist surat lamaran kerja yang gw layangkan
“ aneh, ah masa bodo, yang penting gw jalanin aja dulu ” gumam gw, hingga akhirnya gw tertidur dikursi kereta yang mengantarkan gw ke stasiun bogor
“ wah tumben sudah rapih pagi pagi za ” tegur mamah ketika melihat gw yang sudah rapih dan mencoba menyiapkan sarapan sendiri
“ iya mah, hari ini ada panggilan kerja ”
“ Alhamdulillah za, cepat juga kamu dapat panggilan semoga diterima za ” terlihat mamah tersenyum dibalik kata katanya yang mengandung doa
“ diantar mang iwan aja za, biar tidak telat ” ucap bapak yang rupanya mencuri dengar pembicaraan kami, mang iwan merupakan supir yang bekerja dikeluarga kami
“ haduhh jangan pak, biar reza sendiri aja sekalian biar tau jalan ” jawab gw menolak tawaran itu
Setelah menyelesaikan sarapan dan pamit, segera gw pergi menuju perusahaan tempat gw akan melakukan tes pekerjaan, jam masih menunjukan pukul 7.30 sedangkan jadwal interview yang akan gw lakukan pukul 11, jadi cukuplah waktu tempuh yang akan gw habiskan untuk menuju perusahaan tersebut, dan kereta menjadi salah satu pilihan gw untuk mempersingkat jarak tempuh itu,tepat jam 10 kurang 15 akhirnya gw tiba di perusahaan tersebut, sebuah lokasi perusahaan yang terletak di Jakarta selatan
Setelah menuju ke bagian resepsionis dan memberitahukan maksud kedatangan gw, akhirnya gw dipersilahkan duduk disebuah ruang tunggu, waktu luang itu gw manfaatkan untuk mencoba membaca baca dan kembali mengingat materi kuliah yang pernah gw pelajari
“ bapak reza, mari ikut saya ” tegur seorang wanita yang mempersilahkan gw untuk mengikutinya ke salah satu ruangan tempat akan dilaksanakan interview
“ silahkan duduk pak, nanti usernya akan segera datang ” ucap wanita itu kembali sambil tersenyum dan beranjak pergi
Ada rasa tegang ketika pertama kali melaksanakan proses penerimaan kerja, ditambah gw masih terasa asing dengan perusahaan ini, hingga akhirnya rasa tegang itu sirna seiring sosok yang gw lihat memasuki ruangan
“ lohh mas kamil..?” ucap gw heran melihat sosok yang tersenyum dihadapan gw, mas kamil merupakan senior gw yang telah lulus satu tahun lebih cepat dari gw
“ kaget ya za ?”
“ iyalah mas, soalnya seingat gw, gw belum pernah melamar ke perusahaan ini ” kembali mas kamil tersenyum mendengar jawaban gw
Hingga akhirnya mas kamil menceritakan tentang sejarah dan bergerak dalam bidang apa perusahaan tempat kerjanya itu bergerak, kebetulan dia sudah memegang posisi penting didalam perusahaan tersebut dan merekomendasikan gw untuk mengisi sebuah tempat dalam departemennya yang kebetulan kosong
“ bagaimana za ?” tampak mata mas kamil mencoba memperhatikan gw
“ ternyata diluar Jakarta ya mas, sepertinya gw harus bicara sama kedua orang tua gw dulu ”
“ lu udah dewasa za, lelaki dewasa harus bisa punya keputusan sendiri ”
“ jangan sampai kesempatan yang sudah didepan mata lu sia siakan karena keraguan lu ” terang mas kamil kembali, sambil berupaya menumbuhkan rasa semangat gw
“ kalau lu berminat, sekarang jg gw minta bagian hrd mengurus surat kontraknya, karena gw memang lagi butuh cepat ” lama gw berpikir mencoba menimbang semua omongan mas kamil, antara keinginan bekerja dan restu dari orang tua, setelah gw berpikir lama akhirnya gw memutuskan untuk menerimanya, pasti orang tua gw akan menyetujui ini, niat yang baik untuk sebuah pekerjaan yang baik pasti akan disetujui
“ baik mas, saya terima ” sebuah senyum sumringah terlihat dari wajah mas kamil
“ gitu dong za, baik gw ke bagian hrd dulu untuk mengurus semua surat2nya ” ucap mas kamil sambil menepuk bahu gw dan pergi meninggalkan gw
Setelah semua surat surat kontrak telah gw tanda tangani, mas kamil segera menerangkan tentang pekerjaan yang akan gw lakukan dan proses training terlebih dahulu yang akan gw lakukan setibanya gw di kantor cabang
“ lu di training dulu selama seminggu za, tenang aja gw yakin lu bisa ” ucap mas kamil antusias
“ insha allah mas, jadi kapan gw berangkat ”
“ seminggu dari sekarang za, lu persiapin dah semuanya, jangan lupa izin sama orang tua lu ”
“ siap mas, terima kasih atas bantuannya ”
Dan akhirnya gw meninggalkan perusahaan tersebut dengan langkah kemenangan, seperti layaknya orang yang pulang dari pertempuran, gw diterima kerja dan gw akan memberitahukan kabar gembira ini kepada orang tua gw dan tidak lupa kepada wulan yang telah menjadi pacar gw selama kuliah
“ mah, saya diterima kerja ” ucap gw sesampainya dirumah dan menyampaikan kabar gembira ini kepada bapak dan mamah yang sedang bersantai diruang tamu
“ Alhamdulillah za..” jawab mamah sambil memeluk gw
“ selamat za, selamat jadi lelaki dewasa ” ucap bapak sambil tertawa dan memberikan selamat
Kegembiraan itu tidakberlangsung lama, ketika gw menerangkan tentang penempatan kerja gw
“ memangnya tidak bisa meminta posisi dijakarta za, bapak sama mamahmu ini sudah tua, kenapa tidak di jakarta aja, atau kamu nerusin usaha bapak ” ucap bapak sambil tangannya mencoba mengelap2 keris yang terlihat sudah tua, memeang bapak adalah pengkoleksi keris2 tua, bahkan bukan cuma keris saja, asalkan itu bernilai seni dan peninggalan masa lalu pasti dikoleksinya
Setelah gw menerangkan tentang keinginan gw untuk mandiri, dan alasan masa depan yang bagus di pekerjaan ini, akhirnya bapak dan mamah mengijinkan gw untuk pergi keluar kota dan menerima perkerjaan ini
“ kapan kamu berangkat za ” ucap bapak mencoba mencari keterangan
“ minggu depan pak, mohon restunya pak, mah ”
“ iya za, bapak sama mamah restuin yang penting kamu bisa jaga diri, dan bawa diri disana ” ucap mamah kembali memeluk gw disela sela isak tangisnya.
Seminggu sudah berlalu dan tiba harinya keberangkatan gw, dengan diantar oleh mang iwan dan wulan, segera gw menuju ke stasiun kereta yang akan mengantarkan gw ke jawa bagian timur, sepanjang jalan terlihat wajah wulan yang agak berat melepas kepergian gw,hingga akhirnya kamipun tiba distasiun kereta
“ jangan lupa kasih kabar ” ucap wulan sebelum melepas gw menaiki kereta
“ doain aku, semoga aku cepat nikahi kamu dan kamu bisa ikut sama aku kesana ” ucap gw sambil memeluk wulan kemudian melepaskannya dalam balutan air matanya, dan akhirnya pijakan kaki gw mantap menaiki kereta
“ selamat tinggal Jakarta…selamat datang pekerjaan baru..semoga cepat sukses ” doa gw didalam hati Next Chapter : sebuah perjalanan dan celoteh seorang kakek tua Heran rasanya mendengar ocehan kakek tua ini, antara sebuah misteri atau sakit jiwa yang menimpa kakek ini, hingga akhirnya gw berlabuh di kantor cabang yang mengharuskan gw untuk menempati sebuah mess tua
Spoiler for Ketika fenomena ghaib mulai menampakan eksistensinya 5:
“ rencana ini merupakan rencana lama za, kami sudah sepakat untuk menjodohkan kamu dengan andira dan kami berharap semuanya dapat terealisasi dalam waktu dekat ini…”
“ maksud om ?”
“ kamu dan andira sebaiknya cepat menikah za.. mamah sudah terlalu tua untuk terlalu lama menunggu pernikahan kamu..” ucap mamah mencoba mewakili jawaban om wisnu
“ tapi mah…”
“ zaaa….” terlihat mamah memberikan isyarat agar gw tidak melanjutkan perkataan yang akan gw ucapkan
“ ada apa za ? “ tanya om wisnu dengan raut wajah penuh keingintahuan, lama gw terdiam mencoba menimbang dampak dari lanjutan perkataan yang akan gw ucapkan
“ maaf om..bukan saya menolak proses perjodohan ini…sebaiknya pernikahan ini di tunda dahulu..saya benar benar belum siap “ terlihat keterkejutan di wajah om wisnu, mungkin dia tidak menyangka gw akan berkata seperti ini, wajah andira yang semula hanya tertunduk kini terlihat tajam menatap gw
“ bisa kamu berikan alasannya za…sepertinya ada sesuatu yang kamu sembunyikan..” gw hanya terdiam seribu kata begitu melihat om wisnu mencoba meminta gw memberikan alasan
“ zaaa ?” raut wajah mamah terlihat sabar menanti alasan yang akan gw berikan, tapi kembali gw hanya bisa terdiam tanpa berusaha memberikan jawaban
“ dimana kujang/keris tua itu za …?” ucapan pertanyaan yang terlontar dari mulut om wisnu bagaikan suara petir di siang hari yang terik, bagaimana bisa om wisnu mengetahui tentang kujang/keris tua itu
“ apa maksud perkataan om wisnu ?”
“ kujang/keris tua yang pernah om berikan kepada bapak kamu za…kujang/keris tua itu memang sengaja om berikan kepada bapak kamu, untuk berjaga jaga jika terjadi sesuatu pada kamu…”
“ menjaga saya ?”
“ ya menjaga kamu…om sedikit banyak sudah mengetahui kamu za.. om banyak mengetahu itu dari bapak kamu…tentang sifat kamu yang selalu ingin mengetahui sesuatu yang belum kamu ketahui..”
“ kujang/keris tua apa za..?” tanya mamah penuh kebingungan
“ bukan apa apa mah…reza juga enggak mengerti arah pembicaraan ini…” ucap gw mencoba berbohong
“ om curiga alasan penundaan yang kamu inginkan…ada hubungannya dengan kujang/keris tua ini..” ada rasa geram yang gw rasakan begitu mendengar kembali lanjutan perkataan om wisnu, gw tidak ingin mamah mengetahui semua kejadian gila yang pernah gw alami
“ kalau memang kujang/keris tua itu enggak ada hubungannya dengan alasan penundaan kamu…lantas dimana benda itu za..om mau lihat…” terlihat andira mencoba menahan kelanjutan perkataan ayahnya, mungkin dia ikut merasakan tekanan yang gw rasakan
“ andai memang ada hubungannya za..om akan coba membantu kamu.. sebaiknya kamu juga menjaga benda benda antik peninggalan ayah kamu…mereka semua membutuhkan perawatan za..membutuhkan pelayanan..mereka akan menjaga kamu..” ucap om wisnu kembali, sekilas tatapan matanya menatap ke lantai atas
“ jangan…jangan….” memori pikiran gw kembali teringat akan kejadian semalam, dimana aroma wangi kemenyan begitu sangat gw rasakan, tanpa banyak berbasa basi lagi segera gw berlari menuju ke lantai atas, mencoba memeriksa setiap sudut ruangan, dan alangkah terkejutnya gw begitu mendapati kenyataan menemukan kembali sebuah benda yang sangat gw tidak inginkan keberadaannya dirumah ini
“ brengsekk..” ucap gw dengan nada meninggi, ada amarah yang gw rasakan begitu melihat sebuah sesajen kecil yang diletakan di sudut ruangan, entah mengapa begitu melihat sesajen yang berada di sudut ruangan, insting gw langsung berkata ini bukanlah sesajen pertama yang akan gw lihat, tatapan mata gw langsung tertuju pada kamar dimana bapak menyimpan benda benda antiknya, dengan perlahan gw mulai mendekati kamar dan mendapati sebuah anak kunci yang masih yang masih melekat pada daun pintu
“ gw yakin…yakin…” ucap gw sambil membuka pintu kamar, dan benar saja…sesuai dengan perkiraan gw, sebuah sesajen tampak di lantai sudut ruangan…aroma wangi kemenyan sisa sisa semalam masih begitu jelas tercium di ruangan penyimpanan ini, membayangkan kelancangan yang telah om wisnu perbuat ingin rasanya gw melabrak dan mengusirnya dari rumah ini….tapi semua itu urung gw lakukan
“ apa yang telah om perbuat dirumah ini…?” ucap gw sambil meletakan dua buah sesajen itu diatas meja, rasa emosi yang gw rasakan masih tergambar jelas di wajah ini
“ itu hal yang biasa za….mungkin tanpa kamu ketahui..bapak kamu juga pernah melakukan itu..” dengan wajah tenang mencoba menjelaskan maksud dan tujuan dari perbuatannya
“ itu bapak saya om…bukan saya..tolong bedakan itu, buat saya sebuah benda antik tetaplah menjadi sebuah benda antik…tanpa ada embel embel mistis di dalamnya…”
“ hati hati dengan perkataan kamu za…mereka mendengar apa yang kamu ucapkan…” terlihat mata om wisnu berputar mengamati keadaan sekitar
“ zaaa…sekarang juga kamu harus jelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi…mamah sudah lelah melihat semua ini “ genangan air mata yang kini mulai tampak di kedua bola mata mamah telah membuat gw berpikir ulang untuk melanjutkan semua kebohongan kebohongan yang telah gw lakukan, tidak iba rasanya jika gw harus kembali membohongi mamah kembali, setelah lama berpikir..akhirnya mengalirlah sebuah cerita tentang kejadian kejadian aneh yang telah gw alami termasuk ritual yang telah gw lakukan, seakan tidak percaya dengan yang gw ceritakan, kini genangan air mata yang sedari tadi telah memenuhi kedua bola mata mamah telah berganti menjadi sebuah tangisan kecil
“ maafkan reza mah…” ucap gw sambil memeluk mamah, gw bisa merasakan kekecewaan dan kemarahan yang mamah rasakan
“ apa yang telah kamu perbuat za…bapak kamu za.. bapak kamuu “ suara mamah begitu terdengar berat diantara isak tangisnya, ingin rasanya gw berkata kepada mamah bahwa kejadian yang menimpa bapak mungkin saja tidak behubungan dengan ritual yang gw lakukan…mungkin saja itu adalah sebuah prose s alami yang dinamakan dengan takdir..tapi semua kata kata itu seolah olah melekat di lidah ini dan tidak bisa gw ucapkan, semua ritual yang telah gw lakukan telah menempatkan gw dalam sebuah posisi yang tidak mungkin untuk gw memberikan argumen ilmiah yang bisa diterima oleh akal sehat
“ maafkan reza mah…” ucap gw sambil mempererat pelukan gw ke mamah, hingga akhirnya terlihat mamah mulai bisa kembali mengontrol emosinya
“ jadi ini alasan kamu menunda semua rencana pernikahan ini…” gw hanya bisa terdiam membisu mendengar perkataan mamah, terlihat kini andira mulai bisa mengerti dengan alasan gw menunda semua rencana pernikahan itu
“ reza enggak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjada pada mamah…mamah harus yakin itu..” seperti layaknya seorang mamah yang memberikan kasih sayang tidak terbatas kepada anaknya, kini kemarahan yang mamah rasakan telah berganti dengan sebuah rasa kasih sayang dan sebuah kepercayaan bahwa gw akan menjaga mamah walaupun seberat apapun rintangan yang akan gw hadapi
Tanpa terasa sinar lembayung senja perlahan mulai memancarkan keindahannya, seiring waktu yang terus berjalan kini semua keindahan itu perlahan mulai memudar berganti dengan kegelapan malam yang sesekali tersingkap oleh senyuman rembulan
“ kapan orang orang pintar itu akan datang ded ?” tanya gw kepada dedi sambil menyeruput teh manis yang sengaja dibuatkan oleh andira, senang rasanya melihat andira sudah bisa bersikap normal kembali tanpa menyisakan sedikitpun ganjalan dihatinya
“ katanya sih sekitar jam tujuh malam ini za…” jawab dedi sambil menyulut sebatang rokok, sesekali matanya mencoba melihat ke arah pintu pagar, hingga akhirnya sebuah senyum terlihat dari wajahnya
“ nah itu mereka…” ucap dedi sambil berlari menghampiri orang pintar yang dimaksud, terlihat mang iwan ikut berdiri menyambut kedatangan orang pintar itu
“ perkenalkan za….ini pak limbo, mas gito dan mas wawan..” dengan santun gw menyalami mereka satu persatu, dari penampilan yang mereka perlihatkan sepertinya gaya penampilan mereka agak sedikit berbeda dengan orang pintar yang dulu pernah gw temui di mess tua
“ bisa kita mulai sekarang…?” ucap pak limbo, terlihat matanya mengawasi setiap sudut taman teras depan, sepertinya dia merupakan ketua dari rombongan orang pintar ini, dengan sigap mas wawan dan mas gito menyiapkan berbagai macam peralatan yang dibawanya
“ mau dimulai dari mana pak ?” tanya gw kepada pak limbo
“ kita mulai dari dalam rumah dulu…sepertinya aura negatif begitu menyelimuti rumah ini “ terlihat wajah pak limbo menunjukan keseriusannya, wajah mamah serta om wisnu beserta istri yang telah menanti didalam rumah terlihat sedikit menegang, mungkin mereka terpengaruh oleh atmosfer ketegangan yang diperlihatkan orang orang pintar itu
“ kamu yakin dengan yang kamu lakukan za ?” tanya mamah penuh kebimbangan
“ entahlah mah…kita lihat saja hasilnya “ jawab gw tanpa berasumsi bahwa semua proses ini akan berhasil ataupun gagal, kini terlihat pak limbo sedang berbincang bincang dengan anggota rombongannya, sesekali terlihat anggukan kepala dari dedi dan mang iwan yang mengikuti proses pembicaraan itu
“ za…kita akan terlebih dahulu akan mengadakan mediumisasi, kata pak limbo..andira cocok untuk dijadikan mediator..” ucap dedi begitu menghampiri gw, ada kecemasan yang gw rasakan begitu mendengar rencana itu, gw takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada andira, tapi semua kecemasan itu dapat ditepiskan berkat keyakinan andira untuk menjalani proses mediumisasi tersebut
Seiring waktu yang terus berjalan, suasana menjadi hening dan sepi…terlihat pak limbo mempersilahkan andira untuk duduk di sebuah tikar yang telah dipersiapkan, beberapa ritual dan gerakan dilakukan oleh orang orang pintar tersebut…tubuh mereka terlihat melakukan gerakan gerakan seperti layaknya orang yang sedang menarik sesuatu…hingga akhirnya terlihat tubuh andira mulai menegang dan kehilangan kesadarannya…wajahnya terlihat tertunduk..entah ini karena sebuah kebetulan atau tidak…sinar cahaya lampu ruang televisi yang semula terang terlihat mulai meredup…dan gw mulai bisa merasakan perubahan suhu ruangan…semua terasa menjadi lebih dingin dan kelam…wajah mamah yang semula terlihat tegang kini semakin bertambah tegang, ada kecemasan yang terlihat dari wajahnya
“ perkenalkan…siapa diri kamu…” ucap pak limbo sambil berlutut didepan andira yang tertunduk dalam dalam duduknya, untuk beberapa saat tidak terlihat sama sekali respon jawaban dari andira..wajahnya masih tetap tertunduk…hanya sesekali terdengar suara tawanya yang menyeramkan..terdengar pelan… sangat pelan…hingga akhirnya semua tawa itu berubah menjadi sebuah rintihan yang memilukan…rintihan kesakitan…sebuah rintihan yang jika didengarkan lebih lama akan membangkitkan bulu kuduk yang mendengarnya
“ siapa kamu…?” ucap pak limbo sekali lagi dengan nada suara agak meninggi, kini wajah andira secara perlahan mulai terangkat…sorot matanya terlihat begitu berbeda..terasa kosong dan penuh misteri.. untuk sesaat tatapan matanya tertuju kepada pak limbo hingga akhirnya sorot mata yang tajam itu mulai tertuju kepada gw…ini benar benar bukan andira yang gw kenal…
“ rezzaaa…” ucapnya pelan dan terdengar serak…hingga akhirnya andira kembali tertawa lirih sambil memainkan rambutnya
“ saya tanya sekali lagi…siapa kamu…?” tanya pak limbo dngan penuh kesabaran
“ saya wulan….saaayyaa…wu…llannn..” jawabnya sambil jarinya menunjuk ke arah gw dan orang orang di sekitar gw
“ saaakiitt zaaaa…ssaaaya mau kaaliiian semua..kaaallian semua menemani saayya…” terlihat ekspresi kebencian di wajah andira, sorot matanya semakin terlihat liar dan tajam…kini wajahnya menunjukan sebuah seringai yang tidak bisa gw jelaskan dengan kata kata…sebuah seringai yang bisa membuat kecut orang yang melihatnya…sungguh apa yang telah terjadi didepan mata gw telah membuat gw seperti terhipnotis menatapnya…gw hanya terdiam membisu tanpa ada sepatah katapun yang bisa gw ucapkan.., kini tubuh andira terlihat mulai berdiri dan menghampiri sebuah piano tua yang telah lama tidak pernah dimainkan lagi…sebuah piano tua yang kini hanya menjadi sebuah pemanis sebuah ruangan.. sebuah piano tua yang telah meninggalkan sebuah kesaksian akan kepiawaian wulan memainkan jari jemarinya di atas tuts piano
“ zaaaa…” ucap mamah dengan tatapan mata tidak percaya dngan apa yang dilihatnya, jari jemari tangannya kini terlihat erat mencekal pergelangan tangan gw, untuk sesaat terlihat andira terdiam didepan piano, kedua telapak tangannya mencoba mengelus elus badan piano, hingga akhirnya kedua jari jemari tangannya mulai menari pada barisan tuts piano…sebuah nada awal sebuah lagu mulai terdengar…sangat perlahan…hingga akhirnya terhenti sama sekali dan menyisakan suara tangis andira yang sangat memilukan….ini merupakan pemandangan yang benar benar tidak ingin gw saksikan, andai pemandangan ini gw saksikan seorang diri ditengah malam yang sepi tentu gw akan lebih memilih untuk tidak melihat ini semua….
“ kamu bukan wuuu…llan….buuu..kann…” teriak gw dengan suara bergetar, entah mengapa seminim apapun pengetahuan agama yang gw terima, gw tidak akan menerima semua yang gw lihat ini secara bulat bulat..ini tidak mungkin..gw masih mempunyai keyakinan untuk bisa berkata bahwa yang gw saksikan ini bukanlah wulan, wajah andira yang semula tertunduk dalam tangisnya kini mulai menatap gw dengan tatapan mata penuh kebencian
“ seberapapun usaha yang kamu lakukan..kamu bukan wulan..wulan sudah meninggal, kamu jangan menipu saya..kamu tidak lebih dari mahluk mahluk buruk yang pernah gw temui di mess tua itu..” ucap gw dengan penuh emosi diantara rasa takut yang gw rasakan
“ mati…matiiii…matiiiii…hihihihihihih…” suara yang keluar dari mulut andira benar benar tidak menggambarkan andira yang sebenarnya..semua terdengar begitu buruk dan menyeramkan, hingga akhirnya andira terkulai lemas, mas wawan yang sedari tadi telah bersiap dibelakang tubuh andira dengan sigap menangkap tubuh andira yang terkulai lemas tidak berdaya, dengan dibantu oleh mas gito kini tubuh andira diletakan kembali di tikar yang berada di lantai, mulut pak limbo terlihat berkomat kamit merapalkan sesuatu untuk menyadarkan andira yang masih dalam posisi tidak sadar
“ bi….tolong ambil air putih..” pinta mamah, begitu melihat andira sudah mulai siuman
“ koq lampunya masih redup ya kang…” tanya mang iwan sambil memperhatikan cahaya lampu yang belum kembali normal
“ coba mang iwan ambil lampu pengganti…” ucap gw kepada mang iwan, dengan setengah berlari mang iwan mulai menggambil lampu pengganti
“ di ganti sekarang kang…?” tanya mang iwan, ditangannya terlihat sebuah lampu pengganti, hanya anggukan kepala yang mewakili jawaban yang gw berikan, dengan segera mang iwan mulai mengambil tangga almunium dan mengganti lampu yang sedari tadi terlihat redup
“ kang….” ucap mang iwan dengan penuh keheranan, sinar cahaya lampu pengganti sepertinya tidak jauh berbeda dengan bola lampu yang digantikan..semua masih terlihat redup…sangat jauh dari kesan bola lampu baru…mendapati kenyataan seperti itu, tatapan mata gw mencoba melihat keadaan lampu sekitar…semua terlihat normal tanpa ada satupun yang meredup..ini sangat aneh..andai ini memang akibat gangguan penurunan daya listrik..pasti seluruh lampu lampu di rumah ini akan meredup..belum sempat gw mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang bermain main dalam pikiran gw..kembali terdengar suara yang sudah begitu familiar di telinga ini…suara dencingan rantai yang diseret secara perlahan begitu terdengar jelas…dan bagi gw itu merupakan pertanda yang buruk… cringg…cringgg…cringgg…
“ ada yang mendengar suara itu…?” tanya gw kepada orang orang disekitar gw…hanya beberapa orang yang ikut merasakan apa yang gw dengar, selain rombongan orang pintar yang bisa ikut merasakan kehadiran mereka, rupanya mamah juga mendengar apa yang telah gw dengar…dan itu sudah cukup menjadikan alasan mamah untuk mempererat genggaman tangannya di pergelangan tangan gw
Next Chapter : Ketika fenomena ghaib mulai menampakan eksistensinya 6