Jeritan Malam (ketika keindahan menjadi sebuah ketakutan)
TS
meta.morfosis
Jeritan Malam (ketika keindahan menjadi sebuah ketakutan)
pernahkan agan merinding disuatu tempat, merasakan kehadiran seseorang yang menurut agan hanya merupakan permainan imajinasi otak belaka dan ketika sebuah karunia datang untuk memberikan agan sebuah kesempatan untuk melihat sekilas apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan semua fenomena tersebut, apakah anda akan tetap tersenyum dengan logika dan keyakinan bahwa semua hanya imajinasi otak atau berteriak dan berharap agar mata ini tetap terpejam dan semua itu hanyalah sebuah mimpi ane akan bercerita sebuah kisah yang mungkin akan merubah cara pandang agan tentang semua kejadian yang pernah menimpa agan, ketika agan membaca dan bertanya apakah ini real story ? semua kembali kepada agan untuk menilai apakah ini sebuah fiksi belaka atau real story, selamat menikmati semoga sebuah sensasi akan menemani agan dalam gelapnya malam Mohon para reader yang masih dibawah umur agar bisa memilah antara yang baik dan buruk di cerita ini, ambil yang baik dan bermanfaat..jauhi yang buruk dan menyesatkan Waktu Update : Penulis adalah seorang pekerja yang akan selalu menulis disela sela waktu luangnya, jadi untuk update bisa dilakukan kapan saja entah itu malam, pagi ataupun siang, jadi tidak ada istilah mengulur ulur waktu Peraturan membaca di thread ini : Hargai hasil karya penulis, karena menulis adalah suatu hoby dimana penulis membutuhkan pembaca dan pembaca memberikan apresiasi/kritik/masukan sebagai bentuk penghargaan karya penulis
Jangan menjiplak/mengakui hasil karya penulis, ketika ingin copy paste ke thread atau blog lain biasakan etika untuk meminta izin dan mencantumkan sumber penulisan
Penulis berharap kepada para reader untuk tidak terpengaruh atau berusaha membalas apabila ada komentar reader negatif yang berusaha membuat rusuh atau mencari sensasi karena komentar balasan adalah motivasi mereka menjadi reader negatif Line Id : meta.morfosis untuk update harap bersabar gan
Spoiler for Prologue:
Menjadi manusia normal adalah sebuah impian setiap manusia, tapi apa jadinya ketika sebuah kejadian yang menimpa anda membuat semuanya menjadi sebuah mimpi buruk, saat waktu2 yang terasa indah untuk dinikmati kini menjadi sebuah kecemasan, saat tempat tempat terindah yang kita kunjungi kini menjadi sebuah pemandangan yang penuh dengan rasa ketakutan.
Nama gw reza, gw merupakan lulusan salah satu perguruan negeri ternama disalah satu universitas negeri di Jakarta, sebuah kampus yang berada dalam suatu lingkungan asri dengan pohon pohon besar disekitarnya bahkan hampir mirip disebut dengan sebutan hutan kota, gw menyelesaikan pendidikan SI dalam waktu yang normal, dengan predikat yang lumayan hingga akhirnya sebuah panggilan kerja mengantarkan kaki gw untuk berlabuh disalah satu kota di jawa timur.
Semua terasa begitu indah, begitu sempurna, bisa dibilang yang maha kuasa memudahkan semua langkah kehidupan gw, orang tua gw yang semula tidak menyetujui gw untuk pindah kota, akhirnya menyetujuinya, walaupun dengan resiko mereka kini harus tinggal hanya berdua saja di kota bogor yang tenang. Sebenarnya orang tua gw khususnya bokap gw menginginkan agar gw bekerja di Jakarta atau setidaknya meneruskan usaha yang sudah dirintisnya selama ini, berbagai macam argumen telah mereka keluarkan untuk menggagalkan keinginan gue untuk meninggalkan Jakarta, terutama alasan umur mereka yang sudah tua, berat rasanya meninggalkan mereka bila mengingat semua alasan itu, tapi keinginan untuk mandiri membuat gw bisa mengalahkan semua rasa tidak tega itu.
Tapi semua keindahan rangkuman perjalan hidup gw kini berubah secara drastis, seiring langkah kaki gw menaiki sebuah kereta yang mengantarkan gw menuju sebuah kota di jawa timur. Sebuah kereta yang menjadi awal dimulainya rentetan kejadian yang merubah perjalanan hidup gw….
Dan percayalah ketika gw menuliskan ini semua, gw tercekam dalam rasa ketakutan, rangkaian kata yang gw tulis dengan menjentikan jari dalam barisan huruf di keyboard tidak lepas dari tatapan mata mereka, gw hanya berharap semoga malam cepat berlalu berganti menjadi siang.
Spoiler for Chapter 1 ( sebuah kabar indah tentang masa depan ):
Juli 2007, Irama langkah kaki gw bergegas cepat meninggalkan sebuah toko buku dan menuju ke stasiun kereta, kebetulan hari ini sehabis berkunjung kerumah seorang teman, gw mampir ke sebuah toko buku untuk membeli beberapa buah buku yang gw butuhkan untuk sekedar menjadi bahan bacaan peneman hari hari gw setelah lulus kuliah, disaat kesibukan mata gw mencari cari buku yang mungkin bisa menjadi bahan bacaan gw, sebuah panggilan telepon masuk, ya sebuah panggilan yang sama sekali tidak terduga dan akan menjadi awal hidup gw memasuki dunia kerja
“ hallo selamat siang, dengan bapak reza ” sebuah kalimat pembuka pembicaraan di telepon terdengar dari seorang wanita
“ benar mba, kalau boleh tau saya bicara dengan siapa ?”
“ saya indri pak, kami dari perusahaan PT. XXXXX, meminta bapak untuk hadir ke perusahaan kami untuk mengikuti proses seleksi penerimaan kerja ”
Sebuah kabar yang bagus, tapi kembali gw berpikir dan mencoba mengingat kembali surat surat lamaran yang pernah gw kirimkan, ingatan gw masih bisa mengingat perusahaan2 yang pernah gw layangkan surat lamaran kerja, dan menurut gw perusahaan ini tidak termasuk didalam daftar perusahaan yang masuk dalamlist surat lamaran kerja yang gw layangkan
“ aneh, ah masa bodo, yang penting gw jalanin aja dulu ” gumam gw, hingga akhirnya gw tertidur dikursi kereta yang mengantarkan gw ke stasiun bogor
“ wah tumben sudah rapih pagi pagi za ” tegur mamah ketika melihat gw yang sudah rapih dan mencoba menyiapkan sarapan sendiri
“ iya mah, hari ini ada panggilan kerja ”
“ Alhamdulillah za, cepat juga kamu dapat panggilan semoga diterima za ” terlihat mamah tersenyum dibalik kata katanya yang mengandung doa
“ diantar mang iwan aja za, biar tidak telat ” ucap bapak yang rupanya mencuri dengar pembicaraan kami, mang iwan merupakan supir yang bekerja dikeluarga kami
“ haduhh jangan pak, biar reza sendiri aja sekalian biar tau jalan ” jawab gw menolak tawaran itu
Setelah menyelesaikan sarapan dan pamit, segera gw pergi menuju perusahaan tempat gw akan melakukan tes pekerjaan, jam masih menunjukan pukul 7.30 sedangkan jadwal interview yang akan gw lakukan pukul 11, jadi cukuplah waktu tempuh yang akan gw habiskan untuk menuju perusahaan tersebut, dan kereta menjadi salah satu pilihan gw untuk mempersingkat jarak tempuh itu,tepat jam 10 kurang 15 akhirnya gw tiba di perusahaan tersebut, sebuah lokasi perusahaan yang terletak di Jakarta selatan
Setelah menuju ke bagian resepsionis dan memberitahukan maksud kedatangan gw, akhirnya gw dipersilahkan duduk disebuah ruang tunggu, waktu luang itu gw manfaatkan untuk mencoba membaca baca dan kembali mengingat materi kuliah yang pernah gw pelajari
“ bapak reza, mari ikut saya ” tegur seorang wanita yang mempersilahkan gw untuk mengikutinya ke salah satu ruangan tempat akan dilaksanakan interview
“ silahkan duduk pak, nanti usernya akan segera datang ” ucap wanita itu kembali sambil tersenyum dan beranjak pergi
Ada rasa tegang ketika pertama kali melaksanakan proses penerimaan kerja, ditambah gw masih terasa asing dengan perusahaan ini, hingga akhirnya rasa tegang itu sirna seiring sosok yang gw lihat memasuki ruangan
“ lohh mas kamil..?” ucap gw heran melihat sosok yang tersenyum dihadapan gw, mas kamil merupakan senior gw yang telah lulus satu tahun lebih cepat dari gw
“ kaget ya za ?”
“ iyalah mas, soalnya seingat gw, gw belum pernah melamar ke perusahaan ini ” kembali mas kamil tersenyum mendengar jawaban gw
Hingga akhirnya mas kamil menceritakan tentang sejarah dan bergerak dalam bidang apa perusahaan tempat kerjanya itu bergerak, kebetulan dia sudah memegang posisi penting didalam perusahaan tersebut dan merekomendasikan gw untuk mengisi sebuah tempat dalam departemennya yang kebetulan kosong
“ bagaimana za ?” tampak mata mas kamil mencoba memperhatikan gw
“ ternyata diluar Jakarta ya mas, sepertinya gw harus bicara sama kedua orang tua gw dulu ”
“ lu udah dewasa za, lelaki dewasa harus bisa punya keputusan sendiri ”
“ jangan sampai kesempatan yang sudah didepan mata lu sia siakan karena keraguan lu ” terang mas kamil kembali, sambil berupaya menumbuhkan rasa semangat gw
“ kalau lu berminat, sekarang jg gw minta bagian hrd mengurus surat kontraknya, karena gw memang lagi butuh cepat ” lama gw berpikir mencoba menimbang semua omongan mas kamil, antara keinginan bekerja dan restu dari orang tua, setelah gw berpikir lama akhirnya gw memutuskan untuk menerimanya, pasti orang tua gw akan menyetujui ini, niat yang baik untuk sebuah pekerjaan yang baik pasti akan disetujui
“ baik mas, saya terima ” sebuah senyum sumringah terlihat dari wajah mas kamil
“ gitu dong za, baik gw ke bagian hrd dulu untuk mengurus semua surat2nya ” ucap mas kamil sambil menepuk bahu gw dan pergi meninggalkan gw
Setelah semua surat surat kontrak telah gw tanda tangani, mas kamil segera menerangkan tentang pekerjaan yang akan gw lakukan dan proses training terlebih dahulu yang akan gw lakukan setibanya gw di kantor cabang
“ lu di training dulu selama seminggu za, tenang aja gw yakin lu bisa ” ucap mas kamil antusias
“ insha allah mas, jadi kapan gw berangkat ”
“ seminggu dari sekarang za, lu persiapin dah semuanya, jangan lupa izin sama orang tua lu ”
“ siap mas, terima kasih atas bantuannya ”
Dan akhirnya gw meninggalkan perusahaan tersebut dengan langkah kemenangan, seperti layaknya orang yang pulang dari pertempuran, gw diterima kerja dan gw akan memberitahukan kabar gembira ini kepada orang tua gw dan tidak lupa kepada wulan yang telah menjadi pacar gw selama kuliah
“ mah, saya diterima kerja ” ucap gw sesampainya dirumah dan menyampaikan kabar gembira ini kepada bapak dan mamah yang sedang bersantai diruang tamu
“ Alhamdulillah za..” jawab mamah sambil memeluk gw
“ selamat za, selamat jadi lelaki dewasa ” ucap bapak sambil tertawa dan memberikan selamat
Kegembiraan itu tidakberlangsung lama, ketika gw menerangkan tentang penempatan kerja gw
“ memangnya tidak bisa meminta posisi dijakarta za, bapak sama mamahmu ini sudah tua, kenapa tidak di jakarta aja, atau kamu nerusin usaha bapak ” ucap bapak sambil tangannya mencoba mengelap2 keris yang terlihat sudah tua, memeang bapak adalah pengkoleksi keris2 tua, bahkan bukan cuma keris saja, asalkan itu bernilai seni dan peninggalan masa lalu pasti dikoleksinya
Setelah gw menerangkan tentang keinginan gw untuk mandiri, dan alasan masa depan yang bagus di pekerjaan ini, akhirnya bapak dan mamah mengijinkan gw untuk pergi keluar kota dan menerima perkerjaan ini
“ kapan kamu berangkat za ” ucap bapak mencoba mencari keterangan
“ minggu depan pak, mohon restunya pak, mah ”
“ iya za, bapak sama mamah restuin yang penting kamu bisa jaga diri, dan bawa diri disana ” ucap mamah kembali memeluk gw disela sela isak tangisnya.
Seminggu sudah berlalu dan tiba harinya keberangkatan gw, dengan diantar oleh mang iwan dan wulan, segera gw menuju ke stasiun kereta yang akan mengantarkan gw ke jawa bagian timur, sepanjang jalan terlihat wajah wulan yang agak berat melepas kepergian gw,hingga akhirnya kamipun tiba distasiun kereta
“ jangan lupa kasih kabar ” ucap wulan sebelum melepas gw menaiki kereta
“ doain aku, semoga aku cepat nikahi kamu dan kamu bisa ikut sama aku kesana ” ucap gw sambil memeluk wulan kemudian melepaskannya dalam balutan air matanya, dan akhirnya pijakan kaki gw mantap menaiki kereta
“ selamat tinggal Jakarta…selamat datang pekerjaan baru..semoga cepat sukses ” doa gw didalam hati Next Chapter : sebuah perjalanan dan celoteh seorang kakek tua Heran rasanya mendengar ocehan kakek tua ini, antara sebuah misteri atau sakit jiwa yang menimpa kakek ini, hingga akhirnya gw berlabuh di kantor cabang yang mengharuskan gw untuk menempati sebuah mess tua
Spoiler for Ketika fenomena ghaib mulai menampakan eksistensinya 4:
“ sebaiknya saya mengganti lampu kamar mamah dulu mang…kasihan mereka sudah terlalu lama menunggu…” ucap gw dengan sedikit nada cemas
“ kang reza disini aja…biar saya yang menggantinya…” mang iwan mencoba menawarkan diri untuk mengganti lampu kamar yang putus
“ enggak usah mang biar saya aja…mang iwan sebainya menjaga dedi dulu..usahakan kasih minyak wangi agar dia cepat siuman…” dengan bergegas segera gw melangkahkan kaki ke kamar mamah, tanpa sedikitpun menoleh ke sudut sudut yang terasa gelap
“ kamu kemana aja za…?” tanya mamah begitu melihat kehadiran gw
“ maaf mah…tadi agak sulit mencari kunci gudang”
“ loh..bukannya kamu megang kunci gudang sendiri “ tanya mamah kembali dengan wajah keheranan
“ enggak tau mah..sepertinya hilang..ini reza pakai kunci cadangan yang disimpan di laci ruang tv “ jawab gw kembali beralasan, terlihat mamah memperhatikan gw yang sedang berusaha mengganti lampu yang mati
“ wajah kamu terlihat agak pucat za…? apa yang sebenarnya sedang terjadi ?” sinar cahaya lampu yang kini mulai menerangi ruangan kamar begitu memperjelas ekspresi ketakutan yang gw rasakan, entah alasan apa lagi yang harus gw sampaikan ke mamah untuk menghilangkan kecurigaannya
“ mamah jangan berpikir yang enggak enggak…sebaiknya mamah istirahat dulu, kondisi mamah belum terlalu sehat…” jawab gw tanpa sedikitpun mencoba menjawab pertanyaan mamah, isyarat mata sempat gw layangkan kepada bi nani untuk tidak ikut membahas tentang apa yang terjadi ataupun menceritakan hal hal aneh yang bi nani pernah alami beberapa hari belakangan ini
“ zaaa….” tampak raut ketidakpuasan terlihat di wajah mamah mendapati jawaban yang gw berikan
“ reza tidur dulu mah…bi nani tolong jaga mamah…” ucap gw sambil berlalu meninggalkan kamar, ada rasa lega yang gw rasakan begitu gw berhasil keluar dan menutup pintu kamar, sedih rasanya untuk berulang ulang kali gw terpaksa memberikan kebohongan demi kebohongan kepada mamah
“ maafkan reza mah….” ucap gw pelan penuh dengan rasa sesal
Entah mengapa gw merasa malam ini terasa begitu lama berlalu, dan diantara malam malam sebelumnya…malam ini teror yang mereka berikan semakin berani…seakan akan mereka ingin menunjukan kepada gw bahwa mereka ada disini untuk memberikan kejutan kejutan yang lain….yang mungkin tidak akan bisa gw jelaskan dengan pemikiran sehat gw
“ kang reza…..bagaimana keadaan ibu ? “ tanya mang iwan dengan penuh kekhawatiran, terlihat dedi sudah mulai siuman walaupun tubuhnya masih terbaring di rerumputan
“ mamah baik baik saja mang…tapi sepertinya semakin lama mamah semakin curiga dengan apa yang telah terjadi..”
“ gimana keadaan lu ded…” tanya gw sambil menyulut sebatang rokok
“ lemas za…lemas banget…baru kali ini gw merasakan seperti ini..” terlihat tangan dedi meminta kotak rokok yang ada di genggaman tangan gw, untuk sesaat wajahnya terlihat seperti memikirkan sesuatu
“ selama gw kerja di rumah sakit, walapun gw pernah ngalamin kejadian kejadian aneh..tapi enggak seekstrim ini za…teror dirumah lu ini benar benar gila..” ucap dedi, mulutnya terlihat sibuk menghembuskan asap rokok
“ gw juga bingung ded…masa gw harus mengalah dengan kondisi seperti ini,,ini rumah gw…tempat tinggal gw sedari kecil…rasanya gw enggak rela jika gw harus takut di rumah gw sendiri..”
“ gw punya kenalan orang pintar yang mungkin bisa menjadi solusi masalah ini za..”
“ kyai ?” tanya gw yang masih bingung dengan arti kata orang pintar, terlihat dedi menggelengkan kepalanya
“ dukun…?”
“ bukan…bukan dukun za..tapi orang pintar..dia bisa menangani hal hal seperti ini..” dedi berusaha menceritakan kejadian kejadian yang pernah dan berhasil ditangani oleh orang pintar tersebut
“ ahhh gw agak enggak percaya ded…gw yakin..pada akhirnya orang pintar itu nantinya akan menggiring pola pikiran gw pada hal hal yang mistis tanpa sekalipun menyentuh hal yang logis yang bisa dijelaskan oleh akal sehat..”
“ tapi za…enggak ada salahnya buat kita coba…”
“ iya kang…dicoba dulu aja..” ucap mang iwan mencoba meyakinkan gw
“ kadang gw heran..kalian sholat..beribadah…tapi kalian yakin dengan keberadaan orang pintar itu..” terlihat dedi dan mang iwan sedikit terdiam mendengar apa yang gw ucapkan, mereka masih menunggu jawaban kepastian yang gw berikan
“ terus gimana za…?”
“ untuk sementara gw ikut dengan ide kalian, besok coba kalian panggil orang orang pintar itu ke rumah ini…semoga solusi yang kalian maksudkan akan kalian dapatkan dari orang pintar itu..” ucap gw seraya bangkit dari duduk
“ sebaiknya kita istirahat…”
“ kang reza….” ucap mang iwan pelan sambil mencoba membantu dedi bangkit dari duduknya
“ kenapa mang…?”
“ ehhhh…boleh enggak malam ini saya tidur di kamar kang reza….aduhh sumpah kang..saya jadi mulai takut..” dengan wajah tersenyum gw menganggukan kepala, tanda menyetujui permintaan mang iwan, terlihat raut kegembiraan di wajahnya
“ pelan pelan mang…” dengan langkah tertatih dedi meraih bahu mang iwan, mungkin dia masih terlalu lemas untuk melangkahkan kakinya sendiri
“ muka lu pucat banget ded “ untuk sesaat gw memperhatikan muka dedi, terlihat senyum yang agak dipaksakan dari wajahnya
“ kang rezaa…… “ tegur mang iwan sambil menghentikannya langkahnya begitu melewati ruang televisi
“ apa ?”
“ ada aroma wangi kemenyan kang….” mendengar perkataan mang iwan, gw dan dedi serentak mencoba memastikan kebenaran ucapannya
“ iya za…ini beneran wangi kemenyan “ terlihat dedi mengenduskan hidungnya, matanya terlihat memperhatikan setiap sudut ruang televisi
“ sepertinya asal wanginya dari lantai atas za…” ucap dedi kembali sambil memandang barisan anak tangga yang menghubungkan ruang televisi dengan lantai atas
“ aneh…koq bisa bisanya ada wangi kemenyan didalam rumah ini…” entah mengapa gw merasa aneh dengan wangi kemenyan ini, semua ini mengingatkan gw akan ritual ritual yang pernah di lakukan di mess tua
“ gimana kang…mau diperiksa ?” tanya mang iwan, terlihat kini raut mukanya mulai menegang
“ dari pada kita penasaran…lebih baik kita periksa “
“ haduhh za…jangan gila dong, rasa lemas gw belum hilang..lahh sekarang kalian mau mulai lagi “ wajah dedi menunjukan ketidak setujuannya pada keputusan gw
“ gw juga heran sama lu zaa…”
“ heran kenapa ded ?”
“ kenapa sih lu hoby banget mematikan lampu lampu ruangan disaat sudah malam..udah tau situasi sekarang lagi agak kacau…tuh coba lihat itu “ tangan dedi menunjuk ke barisan anak tangga yang mengarah ke lantai atas
“ udah ruangan televisi gelap, lampu di anak tangga itu juga cahayanya redup banget…keluarga lu enggak pernah merasa takut za ?”
“ sekali lagi gw perjelas ded..ini rumah gw…tempat tinggal gw..apa alasan gw harus takut di tempat kelahiran gw sendiri..” ucap gw pelan seraya memperhatikan barisan anak tangga yang hanya diterangi cahaya lampu temaram
“ kalian tunggu disini…biar gw aja yang periksa..” terlihat mang iwan mencoba ikut menemani gw untuk memeriksa keadaaan di lantai atas, dengan isyarat yang gw berikan akhirnya mang iwan mengurungkan niatnya
“ mang iwan disini aja..kasihan si dedi masih terlihat lemas..”
“ hati hati kang…” dengan sedikit senyum dipaksakan gw mencoba memberikan sugesti kepada dedi dan mang iwan bahwa semua akan baik baik saja, sungguh ini sangat bertolak belakang dengan apa yang gw rasakan, rasa takut dan rasa penasaran yang gw rasakan begitu berkecamuk dihati ini, dengan langkah berat gw mulai menapaki barisan anak tangga, entah mengapa kini gw merasakan semakin lama suasana dirumah ini terasa semakin suram…hawa dingin yang gw rasakan kini bukan lagi hawa dingin yang gw rasakan karena kesejukan malam…ini sangat berbeda…semakin gw mendekati akhir anak tangga…gejolak hati gw semakin tidak menentu…aroma wangi kemenyan yang semakin menyengat seperti sebuah aroma yang memberikan sugesti buruk di pikiran gw
“ dari mana asal semua wangi kemenyan ini “ gumam gw pelan sambil memperhatikan kondisi lantai atas..semua terlihat gelap..seberkas cahaya terlihat diantara celah daun pintu kamar tamu..semua terasa hening…tidak terlihat sama sekali adanya aktifitas dari andira dan keluarga maupun dari mahluk mahluk ghoib yang malam ini begitu aktif menunjukan eksistensinya…ini aneh..
“ apa yang sebenarnya sedang terjadi..” ada keraguan yang gw rasakan ketika gw harus kembali melangkahkan kaki menapaki lantai atas, sebuah keraguan yang akhirnya mengurungkan niat gw untuk mencari sumber aroma wangi kemenyan itu
“ gimana za…apa yang lu lihat diatas sana…dari mana asal aroma kemenyan itu ?” tanya dedi dengan antusias
“ entahlah….gw enggak mau keributan yang kita perbuat akan membangunkan andira dan keluarga serta semakin memancing kecurigaan mamah..” jawab gw seraya mengajak dedi dan mang iwan untuk segera berlalu menuju kamar
“ lu yakin enggak penasaran za ?” tanya dedi sambil merebahkan tubuhnya di kasur, tatapan matanya menerawang menatap langit langit kamar, terlihat mang iwan mulai menggelar kasur kecil dilantai
“ pertanyaan lu…seperti lu enggak mengenal gw aja ded….” Jawab gw sambil merebahkan tubuh di sisi dedi, berbagai macam pertanyaan yang bermain main dipikiran gw seperti kayu penyangga di kelopak mata gw hingga terasa sulit untuk memejamkan mata
“ sepertinya tidur gw malam ini enggak akan nyenyak…”
“ semoga kita menemukan solusinya besok za…” ucap dedi pelan, hingga akhirnya perkataannya tidak terdengar lagi berganti dengan suara dengkuran yang terdengar saling bersahutan
Lama gw terdiam dalam lamunan panjang tak bertepi, berbagai macam rencana seperti bermain main dalam pikiran gw
“ bagaimanapun caranya..apapun hasilnya…gw harus mengakhiri semua ini…” gumam gw pelan sambil menatap jam yang tergantung di dinding, sayup sayup mulai terdengar suara azan shubuh yang menandakan hari mulai beranjak pagi, rasa ngantuk yang mulai gw rasakan akhirnya memaksa gw untuk memejamkan mata
“ tok…tok…tok..”
“ kang reza…bangun kang…dipanggil mamah…” rasanya belum lama mata ini terpejam, terdengar suara bi nani diantara ketukan tangannya pada daun pintu, untuk sesaat gw terdiam tanpa merespon permintaan bi nani, tatapan mata gw yang masih terasa buram mencoba melihat angka jarum jam yang telah menunjukan pukul sepuluh pagi
“ kang reza….”
“ sebentar bi…nanti saya kesana “ jawab gw sambil mencoba membangunkan dedi yang masih asyik terlelap dalam tidurnya, sosok mang iwan kini sudah tidak terlihat lagi keberadaannya dikamar ini
“ jam berapa za ?” tanya dedi sambil menguap
“ sepuluh ded…” jawab gw sambil bergegas menuju kamar mandi untuk sekedar mencuci muka, tidak berselang lama gw tinggalkan dedi yang masih terdiam dalam lamunannya
“ ada apa mah….” tanya gw begitu mendapati mamah yang tengah berbincang bincang dengan om wisnu dan istri di ruang televisi, terlihat andira memalingkan pandangannya dari gw, mungkin dia masih merasa kesal dengan perkataan gw di kamar itu
“ duduk za…” ucap mamah sambil menggeserkan posisi duduknya dan memberikan gw tempat disampingnya
“ kamu masih kelihatan mengantuk za…” rupanya om wisnu memperhatikan kondisi mata gw yang masih nampak memerah
“ iya om, semalam agak kurang tidur…” terlihat om wisnu mengernyitkan dahinya begitu mendengar perkataan gw
“ begini za… om sama mamah kamu mau membicarakan sesuatu… “ mendengar ucapan om wisnu pikiran gw langsung mengarah pada rencana perjodohan itu, gw hanya bisa terdiam mencoba mendengar kelanjutan arah pembicaraan ini
Next Chapter : Ketika fenomena ghaib mulai menampakan eksistensinya 5