Kaskus

Story

mr.eightsAvatar border
TS
mr.eights
Cinta dan Persahabatan Cowok Cuek (True Story)
Halo agan-agan semua, kenalin ane newbie banget di forum ini. Ane jadi teringat tentang masa lalu dan izinkan untuk menceritakan kisah cinta dan persahabatan yang gue jalanin semasa sekolah. Berhubung ini kisah nyata dan gue juga pengen ngejaga privasi orang-orang dalam cerita ini, jadi gue ubah nama dan beberapa hal untuk disamarkan. Kutipan percakapan kalimat tidak persis sama karena gue juga nggak ingat semua. Tapi tetap tidak mengubah jalan cerita dari yang gue alamin. Ini pertama kali gue bikin thread jadi pasti banyak yang kurang. Tapi sebisa-bisanya bakal diperbaiki sembari belajar emoticon-I Love Indonesia (S)

Quote:


INDEX
Diubah oleh mr.eights 22-12-2015 19:05
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
15.3K
50
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
mr.eightsAvatar border
TS
mr.eights
#10
Part 3
Suasana kelas terasa membosankan. Guru memberi tugas setelah panjang lebar menerangkan materi matematika yang menjemukan. Keramaian temen-temen setidaknya memudarkan rasa sepi pikiran yang telah menghinggapi di otak gue. Punggung pun terasa pegal rasanya seperti kayu ditanamkan ke ruas-ruas tulang belakang. Gue pun meregangkan otot-otot agar tubuh lebih rileks. Saat meregangkan tubuh yang kaku ini, Nabilah tiba-tiba kaget,
"Hah? Kok bisa kayak itu? Tio, lo beneran cowok aneh"
Ternyata Nabilah memperhatikan gimana gue ngelengkungin punggung ke belakang sampe kepala hampir menyentuh sandaran kursi. Sejak kecil gue emang punya tubuh yang cukup lentur dan melakukan hal semacam itu membuat otot-otot terasa lebih longgar. Nabilah adalah cewek yang sering gue usilin dan Gilang adalah 'partner in crime' gue. Pernah dia beli karet penghapus lalu gue pinjem ke dia.
"Nabilah, pinjem karet penghapus dong", gue pun langsung ngambil. Setelah beberapa saat gue balik lagi,
"Nabilah, pinjem lem dong", lagi-lagi gue pun langsung ngambil.
Lalu gue pun ngomong ke Gilang,
"Gilang, karet penghapusnya kita lem yok. "
"Di lem dimananya, Tio? "
"Di bangku Nabilah, bagian depan"
Lalu gue dan Gilang melumuri karet penghapus tersebut dengan lem. Setelah dirasa cukup, gue tempel karetnya di bangku Nabilah bagian depan. Nabilah nggak tau kalo karet penghapus miliknya gue taruh di bangkunya. Entah karena sifat yang pelupa, setelah beberapa lama dia nggak nanyain karet penghapusnya ada di mana. Beberapa hari kemudian Nabilah beli lagi yang baru.
"Eh, Tio. Liat, Nabilah beli karet penghapus baru lagi. Haha... ", Gilang ngasi tau gue sambil menahan tawa.
"Coba lagi yok", entah setan darimana yang ngebisikin gue buat ngerjain Nabilah lagi padahal dia sahabat kami sendiri.
"Jangan buru-buru, nanti dia nyadar. Tunggu beberapa hari dulu".
"Hmmm... Bener juga pendapat lo".
Entah berapa banyak kekonyolan yang gue lakuin ke Nabilah bareng sahabat gue yang lain dan masih aja beberapa kali dia kena. Polos sih. emoticon-Stick Out Tongue
Nabilah selain sahabatan sama Astrid, Gilang, dan gue, dia juga sahabatan dengan seorang cewek. Sebut saja namanya Luna. Luna salah satu siswi yang otaknya encer di kelas gue. Beberapa kali dia menjadi utusan sekolah mengikuti lomba mata pelajaran matematika dan fisika.
Bunyi bel istirahat membuat gue ingin melangkahkan kaki menuju kantin. Apalagi perut gue pun membunyikan belnya tanda harus segera diisi dengan sesuatu yang membuat gue menjadi lahap. Di depan kelas gue ngeliat Nabilah dan Luna saling ngobrol. Luna ngeliat gue yang berjalan ke arah kantin. Dari tatapan mata dan raut wajah, gue bisa ngerasain ada yang berbeda dari senyuman yang melukis wajah putihnya. Namun gue pun tidak terlalu memikirkannya. Hanya saja terlintas begitu aja di pikiran gue, ada yang berbeda dari cara ia menatap.
Berhari-hari kemudian, gue bareng temen-temen pergi nongkrong. Tak lupa Luna pun juga ikut. Astrid yang juga ikutan nongkrong ngomong,
"Luna, tuh bareng aja sama Tio."
Temen-temen pun mulai ngecengin. Dari sini gue juga bertanya-tanya, ada apa dengan Luna. Logikanya, gimana ceritanya Luna bisa dicengin sama temen-temen padahal gue nggak deket sama dia. Dengan kata lain, kemungkinannya temen-temen mau nyomblangin Luna sama gue (tapi kayaknya ini nggak mungkin, kan gue udah dicomblangin sama Juliya) atau yang kedua, Luna ngasih tau temen-temen bahwa selama ini dia.... Entahlah
Suatu saat gue selesai dari les. Saat udah mau pulang, temen-temen pada ngomong, "Tio, sekarang ngumpul yok. Ke rumah Dian".
Gue jadi bertanya-tanya, ngumpul apaan sih? Tapi namanya juga diajak ngumpul, ya udah ayok.
Sampai di depan rumah Dian, kita nggak masuk ke dalem rumah. Cuma di depan pagar rumah. Di situ kita ngobrol-ngobrol bentar dan tiba-tiba dari belakang,
"Sshhhuuarrrrr..... "
Gue dilemparin air kotor, tepung, telur, dan entah apa lagi yang bikin gue jadi berantakan.
"Selamat ulang tahuuunnnn..... Selamat ulang tahuuunnn...... Selamat ulang tahuunnnn..... Selamat ulang tahuuunnnnn..... "
temen-temen pada nyanyi selamat ulang tahun buat gue. Ternyata mau ngasi kejutan toh. Gue pun ngucapin makasi buat temen-temen. Lalu gue pun dikasi kado. Lagi-lagi gue ngucapin makasi pemberian mereka. Tapi ternyata itu bukan dari mereka,
"Tio, ini bukan dari kita. Ini dari Luna."
"Serius? ",gue penasaran.
"Nggak, bohong. Bukan dari gue", Luna menyangkal.
Entahlah mana yang bener, yang pasti gue ngucapin makasi buat mereka.
Hingga puncaknya, sebagaimana di cerita sebelumnya (part 2), saat Juliya ke kelas yang bikin kelas gue jadi rame gara-gara temen-temen ngecengin kami berdua, di saat yang sama ternyata ada cewek yang mewek duduk di belakang kelas emoticon-Berduka (S). Udah bisa ditebak, dialah Luna.

Bersambung...
Diubah oleh mr.eights 15-12-2015 19:03
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.