Kaskus

Story

aldiansyahdzsAvatar border
TS
aldiansyahdzs
Kisah Tak Sempurna
Quote:

Kisah Tak Sempurna


Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh.


Selamat pagi warga Kaskus di Seluruh Muka Bumi.

Terimakasih kepada Agan / Aganwati yang sudah mampir di Thread ini. Terimakasih pula untuk sesepuh dan moderator SFTH. Thread ini adalah thread pertama kali saya main kaskus . Saya berharap Thread pertama kali saya di Kaskus bisa membuat Agan / Aganwati terhibur dengan coretan sederhana saya ini.

Thread ini bercerita tentang kisah putih abu - abu seorang laki laki yang saya beri nama Erlangga. Dari pada penasaran, lebih baik langsung baca aja gan! Selamat galau eh selamat membacaaa.

NB; Kritik dan Saran sangat saya butuhkan agar saya dapat menulis lebih baik lagi.

Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:

Quote:

Quote:

Quote:

Quote:

Quote:

Quote:

Quote:

Quote:

Keep in touch with me.
twitter: aldiansyahdzs
instagram : aldisabihat
Diubah oleh aldiansyahdzs 17-06-2019 18:30
yusuffajar123Avatar border
junti27Avatar border
JabLai cOYAvatar border
JabLai cOY dan 31 lainnya memberi reputasi
32
132.6K
879
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
aldiansyahdzsAvatar border
TS
aldiansyahdzs
#345
Hujan, dan Secangkir Teh – Part 5

Gelisah, gundah, takut, dan rindu bercampur jadi satu. Akhir – akhir ini Octa jarang membalas pesanku. Ada suatu pesan yang menandakan jika ia sebenarnya malas membalas e-mailku. Ada apa sebenarnya dengan dia? Mengapa ia mau menjelaskan apa yang sedang terjadi padanya?

Dibawah pohon yang mampu menahan rintik hujan aku bersandar. Memejamkan mata dan mencoba mengira – ngira apa yang terjadi sebenarnya dengan Octa. Aku berhipotesis kepada kenyataan pahit, bagaimana bila disana Octa bertemu dengan lelaki yang memang membuatnya jatuh cinta seutuhnya? Apa aku sudah siap menerima kenyataan sepahit itu?

Quote:


Ada apa sebenarnya dengan perempuan ini? Sifatnya tiba – tiba berubah ketika aku menjelaskan apa yang sedang terjadi dengan diriku? Sulit memang membaca emosi perempuan ini. Ia bisa cepat tersenyum namun bisa cepat juga untuk bersedih.

Hujan semakin deras, kami bergegas untuk berteduh di pinggir koridor kelas. Terlihat Dean basah kuyup. Ia sedikit mengigil. Aku langsung memakaikan jaketku. “Seengganya kamu tetep hangat kalo pake jaket ini” Ujarku yang masih menatap derasnya hujan. “Thanks, tapi kamu ga kedinginankan?” Tanyanya, ia menatap mataku dengan sayu. “Fine kok, tenang aja.” Ujarku ringan. “Tunggu disini ya bentar aku ke UKS dulu.” Ia beranjak, lalu pergi.

Tak butuh waktu lama, Dean menghampiriku. Ia membawa 2 cangkir teh salah satunya adalah untukku. “Hujan gini aku emang suka bikin teh”. Ujarnya membuka pembicaraan. “Kamu penyuka teh juga kan?” Tanyanya, aku membalasnya dengan anggukan kepala.

***


“Pagi Angga, semangat ya.” Sapa Dean, aku hanya membalasnya dengan senyum serta anggukan. Setidaknya pagi ini aku bisa merasakan bahagia meskipun nyatanya aku sedang rapuh. Beruntung rahang tegapku bisa menyimpan seribu satu kesedihan di dalam diri. Kini yang harus aku lakukan adalah memperbaiki kondisi psikisku, itu adalah fokus utamaku sekarang.

Sudah dua minggu aku tidak mengirimi Octa emai karena Octa tak membalas email terakhirku.

Quote:


***


Bel istirahat berdering, seisi kelasku langsung berhamburan menuju kantin. Aku, Adri dan Rendi memilih untuk hanya sekedar nongkrong di depan kelas. Seperti biasa, kami ngobrol ngalor – ngidul, entah apa yang sebenarnya kami bicarakan. Namun anehnya ngobrol dengan mereka bisa menghilangkan kegalauan yang sedang melanda.

Quote:


Aku hanya bisa menundukan kepalaku, mencoba menegaskan bahwa diriku baik baik saja. Namun laki – laki mana yang tidak akan patah hati bila seseorang yang selalu ada di fikirannya kini sedang bermesraan dengan laki – laki lain. Dalam foto itu Octa sedang memengan tangan laki – laki lain, Octa tersenyum memandang laki – laki itu.
Selama jam pelajaran berlangsung aku sulit memfokuskan diri. Kegalauan ini menggangguku. Ada suatu rasa tidak percaya dari dalam diriku. Mengapa semua ini bisa terjadi? Mengapa? Mengapa? Apa kah aku masih harus memperjuangkan orang yang kini sedang bersama orang lain? Entahlah, semakin hari semakin bingung apa yang harus aku lakukan

Jam pelajaranpun habis, aku langsung saja bergegas menuju rumahku, setidaknya ajakan jalan Dean hari ini bisa membuat perasaanku membaik.

Quote:


Di sepanjang jalan menuju tujuan hujan menemani perjalanan kami. Cukup deras, namun tidak ada satu kilatan petir. Meskipun Bandung saat ini dingin, namun tidak bagi kami. Percakapan – percakapan ringan membuat suasana hujan ini terasa hangat. Di balik kejutekan Dean kepada semua laki – laki yang mendekatinya ia mempunyai sisi lain, Dean seorang yang humoris tapi ia tak pernah mencela untuk membuat lawan bicaranya tertawa.
Tidak terasa akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Rintik hujan dan kabut menyambut kami di tempat yang kini menjadi destinasi warga Bandung. Dean menarik lenganku karena aku terlalu sibuk memandangi keindahan alam. “Jalannya rada cepet hujan tau.” Ujarnya. Aku mengikuti langkahnya yang cukup cepat.

Setelah membayar uang masuk, kami duduk di kayu panjang. Dean duduk begitupun aku. Ia kini malah sibuk memakan jagung bakar. Sedangkan aku lebih memperhatikan keindahan Bandung di sore hari ini.

Quote:

jimmi2008
delet3
junti27
junti27 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.