- Beranda
- Stories from the Heart
Cewek Kelinci (Usagi no Onna no Ko) ウサギの女の子
...
TS
NihonDamashii
Cewek Kelinci (Usagi no Onna no Ko) ウサギの女の子
Halo agan-agan,
Setelah sekian lama jadi silent reader di SFTH ini, akhirnya ane beranikan diri untuk ikut membuat thread dan menulis cerita.
Cerita ini adalah mix antara true story gw dengan fiksi.
Bagian mana yang true story, dan bagian mana yang fiksi, ane serahkan kepada agan untuk menebaknya aja ya
Tujuan ane nulis cerita ini, adalah semoga agan-agan disini terhibur.
Atau mungkin cerita ini bisa jadi temen agan minum kopi. Atau setidaknya, sambil menunggu cerita di thread laen yang belom di update sama suhu TSnya, bolehlah sekiranya agan mampir dulu disini, menunggu update-an dari mereka keluar
HARAP DIBACA DULU!
Oke deh, langsung aja ya. Selamat menikmati
INDEX:
BAB 1: Cieee.. Honeymoon Cieee...!!
- PART 1
- PART 2
- PART 3
- PART 4
- PART 5
BAB 2: Jepang, Aku Datang!
- PART 1
- PART 2
- PART 3
- PART 4 (With Japanese Translation)
BAB 3: Sendai dan Wortel?
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2
- PART 3 (With Japanese Translation)
- PART 4 (With Japanese Translation)
- PART 5 (With Japanese Translation)
- PART 6 (With Japanese Translation)
- PART 7 (With Japanese Translation)
- PART 8 (With Japanese Translation)
- PART 9 (With Japanese Translation)
- PART 10 (With Japanese Translation)
- PART 11 (With Japanese Translation)
- PART 12 (With Japanese Translation)
- PART 13 (With Japanese Translation)
BAB 4: Dia Datang!
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2
- PART 3
- PART 4 (With Japanese Translation)
- PART 5
- PART 6 (With Japanese Translation)
- PART 7 (With Japanese Translation)
- PART 8
- PART 9 (With Japanese Translation)
BAB 5: Pulang (Datang) Ke Indonesia!
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2 With Japanese Translation)
- PART 3
- PART 4 (End) (With Japanese Translation)
Cewek Kelinci (Special Part)
- PART - 1 Japanese Version -> Click Here
- PART - 2
Setelah sekian lama jadi silent reader di SFTH ini, akhirnya ane beranikan diri untuk ikut membuat thread dan menulis cerita.
Cerita ini adalah mix antara true story gw dengan fiksi.
Bagian mana yang true story, dan bagian mana yang fiksi, ane serahkan kepada agan untuk menebaknya aja ya

Tujuan ane nulis cerita ini, adalah semoga agan-agan disini terhibur.
Atau mungkin cerita ini bisa jadi temen agan minum kopi. Atau setidaknya, sambil menunggu cerita di thread laen yang belom di update sama suhu TSnya, bolehlah sekiranya agan mampir dulu disini, menunggu update-an dari mereka keluar

HARAP DIBACA DULU!
Quote:
Di bagian INDEX, ada part-part yang diberi keterangan: With Japanese Translation. Artinya ada 2 versi cerita yang ane tulis. Versi pertama adalah versi tanpa terjemahan bahasa Jepang, yang kedua adalah versi dengan terjemahan bhs Jepang.
Versi kedua ada di bawah versi pertama. Jadi tinggal scroll saja ke bawah.
Bagi yang tidak ingin ter-distract dan fokus pada isi cerita, silakan baca versi pertama.
Bagi yang ingin sekalian mengetahui bhs Jepang di setiap dialognya, silakan baca versi kedua.
Versi kedua ada di bawah versi pertama. Jadi tinggal scroll saja ke bawah.
Bagi yang tidak ingin ter-distract dan fokus pada isi cerita, silakan baca versi pertama.
Bagi yang ingin sekalian mengetahui bhs Jepang di setiap dialognya, silakan baca versi kedua.
Oke deh, langsung aja ya. Selamat menikmati

INDEX:
BAB 1: Cieee.. Honeymoon Cieee...!!
- PART 1
- PART 2
- PART 3
- PART 4
- PART 5
BAB 2: Jepang, Aku Datang!
- PART 1
- PART 2
- PART 3
- PART 4 (With Japanese Translation)
BAB 3: Sendai dan Wortel?
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2
- PART 3 (With Japanese Translation)
- PART 4 (With Japanese Translation)
- PART 5 (With Japanese Translation)
- PART 6 (With Japanese Translation)
- PART 7 (With Japanese Translation)
- PART 8 (With Japanese Translation)
- PART 9 (With Japanese Translation)
- PART 10 (With Japanese Translation)
- PART 11 (With Japanese Translation)
- PART 12 (With Japanese Translation)
- PART 13 (With Japanese Translation)
BAB 4: Dia Datang!
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2
- PART 3
- PART 4 (With Japanese Translation)
- PART 5
- PART 6 (With Japanese Translation)
- PART 7 (With Japanese Translation)
- PART 8
- PART 9 (With Japanese Translation)
BAB 5: Pulang (Datang) Ke Indonesia!
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2 With Japanese Translation)
- PART 3
- PART 4 (End) (With Japanese Translation)
Cewek Kelinci (Special Part)
- PART - 1 Japanese Version -> Click Here
- PART - 2
Quote:
BAB 1 Part 1
“Satu...dua...tiga...ya!” seru tukang foto keliling kepada kami.
“Wuuuhuuuuuu..!!!” “Hahahaha....!!!!” seru kami, tertawa lepas. Topi toga pun berseliweran ke atas.
Si bapak tukang foto Cuma bisa senyum sambil geleng-geleng kepala ngeliat tingkah laku kami.
Hari ini adalah hari yang telah lama kami nantikan. Hari dimana para mahasiswa yang selama beberapa bulan kurang tidur, datang ke kampus dengan muka kusut, mata merah, dan mendadak akrab dengan para dosen, terutama dengan dosen-dosen pembimbing, melepaskan status mahasiswanya dan menjadi para wisudawan-wisudawati.
Selama beberapa bulan terakhir ini, kami, para mahasiswa jurusan sastra Jepang, telah menumpahkan segala kemampuan dan tenaga kami untuk menyelesaikan skripsi kami.
Penyelesaian skripsi yang setengah mati kami lakukan, masih harus ditambah lagi dengan sidang skripsi. Namun demi kelulusan, kami pantang menyerah. Bahkan tak sedikit yang rela mengorbankan sesuatu yang disukainya demi skripsi.
Rifki, teman gw yang hampir setiap hari main game di PC nya, berkorban untuk tidak menyentuh gamenya selama dia mengerjakan skripsi.
Boni, yang kerjaannya pacaran melulu, selama beberapa bulan terakhir ini jarang kelihatan berduaan dengan ceweknya. Dia bilang dia udah janji ke ceweknya untuk menyelesaikan skripsi tahun ini dan jadi sarjana. Jadi dia minta ke ceweknya untuk mengurangi waktu jalan-jalan dan apel malam minggu.
Ada juga seorang cewek di kelas gw yang mutusin pacarnya karena ingin fokus menyelesaikan skripsi. Gw agak kaget waktu ngedenger kabar itu dari temen-temen seper-gosip-annya. Gw gak ngerti, apa hubungannya nyelesaiin skripsi dengan mutusin pacar. Tapi ya udahlah. Gw gak mau ikut campur.
Gw? Gw sendiri gak berkorban begitu banyak dan ekstrim kayak temen-temen gw. Gw selama beberapa bulan terakhir ini Cuma berkorban waktu tidur aja. Skripsi gw berhasil membuat gw Cuma tidur 3-4 jam.
Tapi hari ini, dengan pakaian dan topi toga yang kami pakai, kami resmi menjadi sarjana S1. Sarjana Sastra.
Gw bakal punya waktu tidur yang banyak lagi. Si Rifki bakal bisa mesra-mesraan lagi sama komputernya. Si Boni bakal punya kebanggaan di depan calon mertuanya karena udah lulus S1.
Cuma ada 6 orang dari angkatan gw yang berhasil menyelesaikan skripsi tahun ini. Dan Alhamdulillah, gw termasuk salah satu di dalamnya.
“Ta! Kita foto berdua, yuk!” kata Gw pada Sinta setelah sesi foto rame-rame satu angkatan selesai.
“uhmm..OK,” jawab Sinta. “Mer, tolong fotoin kita, ya,” pinta Sinta pada Merta, temen sekelas kami.
“Cieee...foto prewed nih ceritanya.. Rangga dan Sinta,” goda Merta.
“Apaan sih.. Udah cepet fotoin,” seru Sinta sambil nyodorin hape gw. Gw Cuma bisa senyum.
“Iye, bawel,” Merta menurut. “Nih, udah,” katanya sambil mengembalikan hape ke gw.
“Jadi nih, kalian ke Jepang? Honeymoon nih yeee...” Goda Merta lagi.
Dan kalimat Merta tadi berhasil membuat temen-temen gw yang tadinya udah mau bubar, pada ngumpul lagi, ngerubungin gw dan Sinta.
“Elo berdua sekalian mau nikah disono, ya?” celetuk Rifki.
“Sok tau!” jawab Sinta sambil mencubit lengan Rifki.
“Aw! Sakit tau!” protes Rifki.
“Biarin!” Sewot Sinta.
“Udah...Udah...ribut mulu. Panas nih. Kita ke dalem lagi, yuk,” sela gw.
Kami semua pun mulai kembali ke dalam gedung.
“Eh, Ga, ntar kalo lo sama Sinta ke Jepang, lu lamar aja do’i,” bisik Rifki sambil berjalan.
“Anak orang maen lamar aja. Gw mau mikirin kerja dulu,” jawab gw.
“ah elo. Mikirin kerja mah abis ngelamar kan bisa,” seru Rifki tak mau kalah. “Lagian nih ya, kapan lagi lu sama Sinta bisa berduaan. Ke Jepang lagi. Jepang men..Jepang!” Tambah dia.
“Gimana ntar, deh” sahut gw.
“Tar kalo udah puropoozu*, kasih tau gw ya. Pokonya gw harus jadi orang pertama yang tau kalo kalian berdua tunangan.” Seru Rifki.
“Ho oh...,” jawab gw sambil ngeloyor meninggalkan Rifki. Kalo udah cerita tentang hubungan gw sama Sinta, itu anak emang berapi-api. Dan gw kadang gak bisa nanggepin omongan dia yang udah berapi-api itu. Gw suka jawab sekenanya aja. Bukan apa-apa, gw bukan tipe orang yang blak-blakan kalo ngomongin soal percintaan.
“Ga! Lo mau kemana?” Tanya Rifki yg gw tinggalkan di belakang gw.
“Makan,” jawab gw pendek.
==============================================================================================
*Puropoozu: ngelamar pasangan
“Satu...dua...tiga...ya!” seru tukang foto keliling kepada kami.
“Wuuuhuuuuuu..!!!” “Hahahaha....!!!!” seru kami, tertawa lepas. Topi toga pun berseliweran ke atas.
Si bapak tukang foto Cuma bisa senyum sambil geleng-geleng kepala ngeliat tingkah laku kami.
Hari ini adalah hari yang telah lama kami nantikan. Hari dimana para mahasiswa yang selama beberapa bulan kurang tidur, datang ke kampus dengan muka kusut, mata merah, dan mendadak akrab dengan para dosen, terutama dengan dosen-dosen pembimbing, melepaskan status mahasiswanya dan menjadi para wisudawan-wisudawati.
Selama beberapa bulan terakhir ini, kami, para mahasiswa jurusan sastra Jepang, telah menumpahkan segala kemampuan dan tenaga kami untuk menyelesaikan skripsi kami.
Penyelesaian skripsi yang setengah mati kami lakukan, masih harus ditambah lagi dengan sidang skripsi. Namun demi kelulusan, kami pantang menyerah. Bahkan tak sedikit yang rela mengorbankan sesuatu yang disukainya demi skripsi.
Rifki, teman gw yang hampir setiap hari main game di PC nya, berkorban untuk tidak menyentuh gamenya selama dia mengerjakan skripsi.
Boni, yang kerjaannya pacaran melulu, selama beberapa bulan terakhir ini jarang kelihatan berduaan dengan ceweknya. Dia bilang dia udah janji ke ceweknya untuk menyelesaikan skripsi tahun ini dan jadi sarjana. Jadi dia minta ke ceweknya untuk mengurangi waktu jalan-jalan dan apel malam minggu.
Ada juga seorang cewek di kelas gw yang mutusin pacarnya karena ingin fokus menyelesaikan skripsi. Gw agak kaget waktu ngedenger kabar itu dari temen-temen seper-gosip-annya. Gw gak ngerti, apa hubungannya nyelesaiin skripsi dengan mutusin pacar. Tapi ya udahlah. Gw gak mau ikut campur.
Gw? Gw sendiri gak berkorban begitu banyak dan ekstrim kayak temen-temen gw. Gw selama beberapa bulan terakhir ini Cuma berkorban waktu tidur aja. Skripsi gw berhasil membuat gw Cuma tidur 3-4 jam.
Tapi hari ini, dengan pakaian dan topi toga yang kami pakai, kami resmi menjadi sarjana S1. Sarjana Sastra.
Gw bakal punya waktu tidur yang banyak lagi. Si Rifki bakal bisa mesra-mesraan lagi sama komputernya. Si Boni bakal punya kebanggaan di depan calon mertuanya karena udah lulus S1.
Cuma ada 6 orang dari angkatan gw yang berhasil menyelesaikan skripsi tahun ini. Dan Alhamdulillah, gw termasuk salah satu di dalamnya.
“Ta! Kita foto berdua, yuk!” kata Gw pada Sinta setelah sesi foto rame-rame satu angkatan selesai.
“uhmm..OK,” jawab Sinta. “Mer, tolong fotoin kita, ya,” pinta Sinta pada Merta, temen sekelas kami.
“Cieee...foto prewed nih ceritanya.. Rangga dan Sinta,” goda Merta.
“Apaan sih.. Udah cepet fotoin,” seru Sinta sambil nyodorin hape gw. Gw Cuma bisa senyum.
“Iye, bawel,” Merta menurut. “Nih, udah,” katanya sambil mengembalikan hape ke gw.
“Jadi nih, kalian ke Jepang? Honeymoon nih yeee...” Goda Merta lagi.
Dan kalimat Merta tadi berhasil membuat temen-temen gw yang tadinya udah mau bubar, pada ngumpul lagi, ngerubungin gw dan Sinta.
“Elo berdua sekalian mau nikah disono, ya?” celetuk Rifki.
“Sok tau!” jawab Sinta sambil mencubit lengan Rifki.
“Aw! Sakit tau!” protes Rifki.
“Biarin!” Sewot Sinta.
“Udah...Udah...ribut mulu. Panas nih. Kita ke dalem lagi, yuk,” sela gw.
Kami semua pun mulai kembali ke dalam gedung.
“Eh, Ga, ntar kalo lo sama Sinta ke Jepang, lu lamar aja do’i,” bisik Rifki sambil berjalan.
“Anak orang maen lamar aja. Gw mau mikirin kerja dulu,” jawab gw.
“ah elo. Mikirin kerja mah abis ngelamar kan bisa,” seru Rifki tak mau kalah. “Lagian nih ya, kapan lagi lu sama Sinta bisa berduaan. Ke Jepang lagi. Jepang men..Jepang!” Tambah dia.
“Gimana ntar, deh” sahut gw.
“Tar kalo udah puropoozu*, kasih tau gw ya. Pokonya gw harus jadi orang pertama yang tau kalo kalian berdua tunangan.” Seru Rifki.
“Ho oh...,” jawab gw sambil ngeloyor meninggalkan Rifki. Kalo udah cerita tentang hubungan gw sama Sinta, itu anak emang berapi-api. Dan gw kadang gak bisa nanggepin omongan dia yang udah berapi-api itu. Gw suka jawab sekenanya aja. Bukan apa-apa, gw bukan tipe orang yang blak-blakan kalo ngomongin soal percintaan.
“Ga! Lo mau kemana?” Tanya Rifki yg gw tinggalkan di belakang gw.
“Makan,” jawab gw pendek.
==============================================================================================
*Puropoozu: ngelamar pasangan
Diubah oleh NihonDamashii 17-12-2015 20:01
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3
162.4K
Kutip
860
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
NihonDamashii
#719
UPDATE BAB 4 PART 9
Quote:
BAB 4 PART 9
Lagi-lagi, suara ketukan pintu mengawali pagi gw hari ini. Suara ketukan itu tak mau berhenti, sehingga mau gak mau gw bangun dari tidur gw dan menuju ke pintu depan.
Gw udah bisa nebak siapa diluar.
Begitu gw membuka pintu, Keiko langsung nyelonong masuk kamar.
“Ada apa?” tanya gw yang masih nyoba untuk ngumpulin nyawa.
“Aku mau ngambil koper Sinta-san,” kata Keiko sambil mencari-cari di tiap sudut ruangan.
“Emang Sinta mau kemana?”
“Mau pulang katanya,”
“Pagi-pagi gini?”
“Iya,”
Setelah menemukan koper Sinta, Keiko bergegas keluar lagi dari kamar.
Kenapa Sinta gak ngasih tau gw dulu ya? Perasaan kemaren Sinta gak bilang mau pulang hari ini.
Gw berniat untuk kembali tidur, tapi kantuk gw udah hilang. Gw lihat jam di HP, menunjukkan jam 7 kurang sedikit.
Kalo Sinta mau pulang hari ini, berarti setidaknya gw harus mengantar dia sampai ke stasiun.
Pagi ini sangat dingin, dan sebenernya gw males mandi. Tapi karena harus pergi untuk nganter Sinta, gw pun terpaksa mandi.
Tak lama setelah beres mandi, suara ketukan di pintu terdengar lagi. Gw buka pintu, terlihat Sinta yang sudah rapi mengenakan mantel coklat panjang hingga lutut membalut sweater turtlenecknya yang berwarna krem dengan bawahan legging hitam dan sepatu boots semata kaki.
Sinta lebih terlihat sebagai model yang siap untuk sesi pemotretan daripada seorang yang mau pulang kampung.
Koper terlihat di sampingnya, siap menemani perjalanan pulangnya.
“Kamu mau kemana? Rapi amat,” tanya gw.
“Aku mau pulang. Anter aku yuk ke stasiun,” pinta Sinta.
“Kok gak bilang-bilang?”
“Ini udah bilang. Ayuk ah, ntar telat lagi...,”
Sebenernya gw pun udah siap. Jadi begitu Sinta ngajak pergi, gw pun langsung keluar dan mengunci pintu, lalu pergi bersama Sinta menuju lift.
“Keiko gak ikut nganter?” tanya gw.
“Dia udah pergi duluan. Katanya ada urusan,” jawab Sinta.
Mau kemana lagi dia? Kerja?
Itu anak emang sering muncul-ilang muncul-ilang kapan aja dia mau.
“Gak mau nginep dulu disini 1 atau 2 hari lagi?” tanya gw ketika di dalam lift.
“Emang kamu masih mau aku nginep lagi disini?” Sinta nanya balik. Entah apa maksud pertanyaannya ini.
“Aku sih nyantai aja,” jawab gw sekenanya.
“Kamu nyantai, Keiko yang gak nyantai,” ujar Sinta.
TING! Pintu lift terbuka. Kami keluar dari lift.
“Dia ngerasa keganggu ya?” tanya gw, sambil kami terus berjalan keluar apartemen.
“Hmm..gimana ya ngejelasinnya..., pokonya gitu deh,” jawab Sinta.
“Lagian gak ada lagi yang bisa aku lakuin disini. Tujuan aku dateng ke Sendai udah tercapai,” tambahnya.
Gw teringat lagi pembicaraan kami semalam. Pengakuan Sinta yang sudah mendapatkan pasangan baru.
Kami terus berjalan menuju stasiun Kawaramachi sambil sesekali mengobrol.
Sampai di stasiun, suasana sudah mulai ramai oleh orang-orang yang hendak pergi sekolah atau bekerja.
Dari stasiun Kawaramachi ini, kami naik kereta satu kali menuju stasiun Sendai.
Sampai di stasiun Sendai, kami harus menuju jalur Shinkansen, karena Sinta akan pergi ke Tokyo.
Setelah membeli tiket Shinkansen, kami bergegas menuju jalur Shinkansen. Sampai disana, masih ada waktu sekitar 20 menit hingga Shinkansen yang akan dinaiki Sinta tiba. Kami menuggu sambil duduk di bangku.
“Kamu udah sarapan?” tanya gw, baru inget kalo tadi kami berangkat terburu-buru.
“Nanti aja aku beli Bentou di dalem Shinkansen,” kata Sinta.
Gw lihat keadaan sekitar, ternyata banyak juga orang-orang yang hendak pergi menggunakan Shinkansen dari Sendai ini.
“Ga...,” sahut Sinta.
“Hm?”
“Aku mungkin bukan orang yang tepat untuk bilang ini ke kamu,” ujar Sinta sambil matanya menerawang ke depan.
“Tapi aku pikir kamu pantas dapet yang lebih baik dari aku,” ujarnya.
Gw hanya bisa ngedengerin Sinta bicara.
“Kamu cowok baik, Ga. Aku tau dan aku percaya itu,”
Gak ada tanggapan dari gw. Sinta juga gak ngomong apa-apa lagi. Kami berdua hanya diam menunggu Shinkansen tiba.
Tak lama kemudian, Shinkansen terlihat dari kejauhan. Setelah pintunya terbuka dan para penumpang dipersilakan masuk, Sinta bangkit dari bangku dan memegang kopernya. Dia berbalik dan melihat gw.
“Makasih untuk semuanya, Ga. Sayounara...,”
“Sama-sama. Sayounara,”
Lalu dia berjalan menuju pintu kereta lalu masuk.
Dari luar, gw bisa melihat Sinta berjalan mencari kursinya, menyimpan kopernya di atas kursi penumpang, lalu duduk di kursi samping jendela.
Sesekali dia menoleh dan melihat keluar kearah gw. Gw hanya balas dengan senyuman.
Tak lama menunggu, waktu keberangkatan pun tiba. Pintu kereta telah ditutup. Dan tak lama kemudian, kereta mulai berjalan perlahan.
Untuk terakhir kalinya, Sinta menoleh ke arah gw dan melemparkan senyuman. Gw balas dengan senyuman dan lambaian tangan.
Kemudian, gw bisa melihat kereta semakin lama semakin berjalan cepat, hingga makin jauh, makin mengecil.
Dan ketika kereta sudah hilang dari pandangan, gw masih duduk di bangku. Pikiran gw menerawang, namun entah apa yang gw pikirkan.
Keramaian orang di sekitar gw membuat gw terbangun dari lamunan gw. Akhirnya gw pun beranjak pergi dari tempat itu, kembali menuju
apartemen gw.
Sendai makin dingin pagi itu...
Sepertinya ini udah saatnya juga bagi gw untuk pulang...
Lagi-lagi, suara ketukan pintu mengawali pagi gw hari ini. Suara ketukan itu tak mau berhenti, sehingga mau gak mau gw bangun dari tidur gw dan menuju ke pintu depan.
Gw udah bisa nebak siapa diluar.
Begitu gw membuka pintu, Keiko langsung nyelonong masuk kamar.
“Ada apa?” tanya gw yang masih nyoba untuk ngumpulin nyawa.
“Aku mau ngambil koper Sinta-san,” kata Keiko sambil mencari-cari di tiap sudut ruangan.
“Emang Sinta mau kemana?”
“Mau pulang katanya,”
“Pagi-pagi gini?”
“Iya,”
Setelah menemukan koper Sinta, Keiko bergegas keluar lagi dari kamar.
Kenapa Sinta gak ngasih tau gw dulu ya? Perasaan kemaren Sinta gak bilang mau pulang hari ini.
Gw berniat untuk kembali tidur, tapi kantuk gw udah hilang. Gw lihat jam di HP, menunjukkan jam 7 kurang sedikit.
Kalo Sinta mau pulang hari ini, berarti setidaknya gw harus mengantar dia sampai ke stasiun.
Pagi ini sangat dingin, dan sebenernya gw males mandi. Tapi karena harus pergi untuk nganter Sinta, gw pun terpaksa mandi.
Tak lama setelah beres mandi, suara ketukan di pintu terdengar lagi. Gw buka pintu, terlihat Sinta yang sudah rapi mengenakan mantel coklat panjang hingga lutut membalut sweater turtlenecknya yang berwarna krem dengan bawahan legging hitam dan sepatu boots semata kaki.
Sinta lebih terlihat sebagai model yang siap untuk sesi pemotretan daripada seorang yang mau pulang kampung.
Koper terlihat di sampingnya, siap menemani perjalanan pulangnya.
“Kamu mau kemana? Rapi amat,” tanya gw.
“Aku mau pulang. Anter aku yuk ke stasiun,” pinta Sinta.
“Kok gak bilang-bilang?”
“Ini udah bilang. Ayuk ah, ntar telat lagi...,”
Sebenernya gw pun udah siap. Jadi begitu Sinta ngajak pergi, gw pun langsung keluar dan mengunci pintu, lalu pergi bersama Sinta menuju lift.
“Keiko gak ikut nganter?” tanya gw.
“Dia udah pergi duluan. Katanya ada urusan,” jawab Sinta.
Mau kemana lagi dia? Kerja?
Itu anak emang sering muncul-ilang muncul-ilang kapan aja dia mau.
“Gak mau nginep dulu disini 1 atau 2 hari lagi?” tanya gw ketika di dalam lift.
“Emang kamu masih mau aku nginep lagi disini?” Sinta nanya balik. Entah apa maksud pertanyaannya ini.
“Aku sih nyantai aja,” jawab gw sekenanya.
“Kamu nyantai, Keiko yang gak nyantai,” ujar Sinta.
TING! Pintu lift terbuka. Kami keluar dari lift.
“Dia ngerasa keganggu ya?” tanya gw, sambil kami terus berjalan keluar apartemen.
“Hmm..gimana ya ngejelasinnya..., pokonya gitu deh,” jawab Sinta.
“Lagian gak ada lagi yang bisa aku lakuin disini. Tujuan aku dateng ke Sendai udah tercapai,” tambahnya.
Gw teringat lagi pembicaraan kami semalam. Pengakuan Sinta yang sudah mendapatkan pasangan baru.
Kami terus berjalan menuju stasiun Kawaramachi sambil sesekali mengobrol.
Sampai di stasiun, suasana sudah mulai ramai oleh orang-orang yang hendak pergi sekolah atau bekerja.
Dari stasiun Kawaramachi ini, kami naik kereta satu kali menuju stasiun Sendai.
Sampai di stasiun Sendai, kami harus menuju jalur Shinkansen, karena Sinta akan pergi ke Tokyo.
Setelah membeli tiket Shinkansen, kami bergegas menuju jalur Shinkansen. Sampai disana, masih ada waktu sekitar 20 menit hingga Shinkansen yang akan dinaiki Sinta tiba. Kami menuggu sambil duduk di bangku.
“Kamu udah sarapan?” tanya gw, baru inget kalo tadi kami berangkat terburu-buru.
“Nanti aja aku beli Bentou di dalem Shinkansen,” kata Sinta.
Gw lihat keadaan sekitar, ternyata banyak juga orang-orang yang hendak pergi menggunakan Shinkansen dari Sendai ini.
“Ga...,” sahut Sinta.
“Hm?”
“Aku mungkin bukan orang yang tepat untuk bilang ini ke kamu,” ujar Sinta sambil matanya menerawang ke depan.
“Tapi aku pikir kamu pantas dapet yang lebih baik dari aku,” ujarnya.
Gw hanya bisa ngedengerin Sinta bicara.
“Kamu cowok baik, Ga. Aku tau dan aku percaya itu,”
Gak ada tanggapan dari gw. Sinta juga gak ngomong apa-apa lagi. Kami berdua hanya diam menunggu Shinkansen tiba.
Tak lama kemudian, Shinkansen terlihat dari kejauhan. Setelah pintunya terbuka dan para penumpang dipersilakan masuk, Sinta bangkit dari bangku dan memegang kopernya. Dia berbalik dan melihat gw.
“Makasih untuk semuanya, Ga. Sayounara...,”
“Sama-sama. Sayounara,”
Lalu dia berjalan menuju pintu kereta lalu masuk.
Dari luar, gw bisa melihat Sinta berjalan mencari kursinya, menyimpan kopernya di atas kursi penumpang, lalu duduk di kursi samping jendela.
Sesekali dia menoleh dan melihat keluar kearah gw. Gw hanya balas dengan senyuman.
Tak lama menunggu, waktu keberangkatan pun tiba. Pintu kereta telah ditutup. Dan tak lama kemudian, kereta mulai berjalan perlahan.
Untuk terakhir kalinya, Sinta menoleh ke arah gw dan melemparkan senyuman. Gw balas dengan senyuman dan lambaian tangan.
Kemudian, gw bisa melihat kereta semakin lama semakin berjalan cepat, hingga makin jauh, makin mengecil.
Dan ketika kereta sudah hilang dari pandangan, gw masih duduk di bangku. Pikiran gw menerawang, namun entah apa yang gw pikirkan.
Keramaian orang di sekitar gw membuat gw terbangun dari lamunan gw. Akhirnya gw pun beranjak pergi dari tempat itu, kembali menuju
apartemen gw.
Sendai makin dingin pagi itu...
Sepertinya ini udah saatnya juga bagi gw untuk pulang...
VERSI TERJEMAHAN BAHASA JEPANG
Quote:
BAB 4 PART 9
Lagi-lagi, suara ketukan pintu mengawali pagi gw hari ini. Suara ketukan itu tak mau berhenti, sehingga mau gak mau gw bangun dari tidur gw dan menuju ke pintu depan.
Gw udah bisa nebak siapa diluar.
Begitu gw membuka pintu, Keiko langsung nyelonong masuk kamar.
"Dou shita no?"
“Ada apa?”tanya gw yang masih nyoba untuk ngumpulin nyawa.
"Sinta-san no suutsu keesu wo totte kita no,"
“Aku mau ngambil koper Sinta-san,” kata Keiko sambil mencari-cari di tiap sudut ruangan.
"Sinta-san ha doko ka ni iku?"
“Emang Sinta mau kemana?”
"Kaerun datte,"
“Mau pulang katanya,”
"Asa kara?"
“Pagi-pagi gini?”
"Un,"
“Iya,”
Setelah menemukan koper Sinta, Keiko bergegas keluar lagi dari kamar.
Kenapa Sinta gak ngasih tau gw dulu ya? Perasaan kemaren Sinta gak bilang mau pulang hari ini.
Gw berniat untuk kembali tidur, tapi kantuk gw udah hilang. Gw lihat jam di HP, menunjukkan jam 7 kurang sedikit.
Kalo Sinta mau pulang hari ini, berarti setidaknya gw harus mengantar dia sampai ke stasiun.
Pagi ini sangat dingin, dan sebenernya gw males mandi. Tapi karena harus pergi untuk nganter Sinta, gw pun terpaksa mandi.
Tak lama setelah beres mandi, suara ketukan di pintu terdengar lagi. Gw buka pintu, terlihat Sinta yang sudah rapi mengenakan mantel coklat panjang hingga lutut membalut sweater turtlenecknya yang berwarna krem dengan bawahan legging hitam dan sepatu boots semata kaki.
Sinta lebih terlihat sebagai model yang siap untuk sesi pemotretan daripada seorang yang mau pulang kampung.
Koper terlihat di sampingnya, siap menemani perjalanan pulangnya.
“Kamu mau kemana? Rapi amat,” tanya gw.
“Aku mau pulang. Anter aku yuk ke stasiun,” pinta Sinta.
“Kok gak bilang-bilang?”
“Ini udah bilang. Ayuk ah, ntar telat lagi...,”
Sebenernya gw pun udah siap. Jadi begitu Sinta ngajak pergi, gw pun langsung keluar dan mengunci pintu, lalu pergi bersama Sinta menuju lift.
“Keiko gak ikut nganter?” tanya gw.
“Dia udah pergi duluan. Katanya ada urusan,” jawab Sinta.
Mau kemana lagi dia? Kerja?
Itu anak emang sering muncul-ilang muncul-ilang kapan aja dia mau.
“Gak mau nginep dulu disini 1 atau 2 hari lagi?” tanya gw ketika di dalam lift.
“Emang kamu masih mau aku nginep lagi disini?” Sinta nanya balik. Entah apa maksud pertanyaannya ini.
“Aku sih nyantai aja,” jawab gw sekenanya.
“Kamu nyantai, Keiko yang gak nyantai,” ujar Sinta.
TING! Pintu lift terbuka. Kami keluar dari lift.
“Dia ngerasa keganggu ya?” tanya gw, sambil kami terus berjalan keluar apartemen.
“Hmm..gimana ya ngejelasinnya..., pokonya gitu deh,” jawab Sinta.
“Lagian gak ada lagi yang bisa aku lakuin disini. Tujuan aku dateng ke Sendai udah tercapai,” tambahnya.
Gw teringat lagi pembicaraan kami semalam. Pengakuan Sinta yang sudah mendapatkan pasangan baru.
Kami terus berjalan menuju stasiun Kawaramachi sambil sesekali mengobrol.
Sampai di stasiun, suasana sudah mulai ramai oleh orang-orang yang hendak pergi sekolah atau bekerja.
Dari stasiun Kawaramachi ini, kami naik kereta satu kali menuju stasiun Sendai.
Sampai di stasiun Sendai, kami harus menuju jalur Shinkansen, karena Sinta akan pergi ke Tokyo.
Setelah membeli tiket Shinkansen, kami bergegas menuju jalur Shinkansen. Sampai disana, masih ada waktu sekitar 20 menit hingga Shinkansen yang akan dinaiki Sinta tiba. Kami menuggu sambil duduk di bangku.
“Kamu udah sarapan?” tanya gw, baru inget kalo tadi kami berangkat terburu-buru.
“Nanti aja aku beli Bentou di dalem Shinkansen,” kata Sinta.
Gw lihat keadaan sekitar, ternyata banyak juga orang-orang yang hendak pergi menggunakan Shinkansen dari Sendai ini.
“Ga...,” sahut Sinta.
“Hm?”
“Aku mungkin bukan orang yang tepat untuk bilang ini ke kamu,” ujar Sinta sambil matanya menerawang ke depan.
“Tapi aku pikir kamu pantas dapet yang lebih baik dari aku,” ujarnya.
Gw hanya bisa ngedengerin Sinta bicara.
“Kamu cowok baik, Ga. Aku tau dan aku percaya itu,”
Gak ada tanggapan dari gw. Sinta juga gak ngomong apa-apa lagi. Kami berdua hanya diam menunggu Shinkansen tiba.
Tak lama kemudian, Shinkansen terlihat dari kejauhan. Setelah pintunya terbuka dan para penumpang dipersilakan masuk, Sinta bangkit dari bangku dan memegang kopernya. Dia berbalik dan melihat gw.
“Makasih untuk semuanya, Ga. Sayounara...,”
“Sama-sama. Sayounara,”
Lalu dia berjalan menuju pintu kereta lalu masuk.
Dari luar, gw bisa melihat Sinta berjalan mencari kursinya, menyimpan kopernya di atas kursi penumpang, lalu duduk di kursi samping jendela.
Sesekali dia menoleh dan melihat keluar kearah gw. Gw hanya balas dengan senyuman.
Tak lama menunggu, waktu keberangkatan pun tiba. Pintu kereta telah ditutup. Dan tak lama kemudian, kereta mulai berjalan perlahan.
Untuk terakhir kalinya, Sinta menoleh ke arah gw dan melemparkan senyuman. Gw balas dengan senyuman dan lambaian tangan.
Kemudian, gw bisa melihat kereta semakin lama semakin berjalan cepat, hingga makin jauh, makin mengecil.
Dan ketika kereta sudah hilang dari pandangan, gw masih duduk di bangku. Pikiran gw menerawang, namun entah apa yang gw pikirkan.
Keramaian orang di sekitar gw membuat gw terbangun dari lamunan gw. Akhirnya gw pun beranjak pergi dari tempat itu, kembali menuju
apartemen gw.
Sendai makin dingin pagi itu...
Sepertinya ini udah saatnya juga bagi gw untuk pulang...
Lagi-lagi, suara ketukan pintu mengawali pagi gw hari ini. Suara ketukan itu tak mau berhenti, sehingga mau gak mau gw bangun dari tidur gw dan menuju ke pintu depan.
Gw udah bisa nebak siapa diluar.
Begitu gw membuka pintu, Keiko langsung nyelonong masuk kamar.
"Dou shita no?"
“Ada apa?”tanya gw yang masih nyoba untuk ngumpulin nyawa.
"Sinta-san no suutsu keesu wo totte kita no,"
“Aku mau ngambil koper Sinta-san,” kata Keiko sambil mencari-cari di tiap sudut ruangan.
"Sinta-san ha doko ka ni iku?"
“Emang Sinta mau kemana?”
"Kaerun datte,"
“Mau pulang katanya,”
"Asa kara?"
“Pagi-pagi gini?”
"Un,"
“Iya,”
Setelah menemukan koper Sinta, Keiko bergegas keluar lagi dari kamar.
Kenapa Sinta gak ngasih tau gw dulu ya? Perasaan kemaren Sinta gak bilang mau pulang hari ini.
Gw berniat untuk kembali tidur, tapi kantuk gw udah hilang. Gw lihat jam di HP, menunjukkan jam 7 kurang sedikit.
Kalo Sinta mau pulang hari ini, berarti setidaknya gw harus mengantar dia sampai ke stasiun.
Pagi ini sangat dingin, dan sebenernya gw males mandi. Tapi karena harus pergi untuk nganter Sinta, gw pun terpaksa mandi.
Tak lama setelah beres mandi, suara ketukan di pintu terdengar lagi. Gw buka pintu, terlihat Sinta yang sudah rapi mengenakan mantel coklat panjang hingga lutut membalut sweater turtlenecknya yang berwarna krem dengan bawahan legging hitam dan sepatu boots semata kaki.
Sinta lebih terlihat sebagai model yang siap untuk sesi pemotretan daripada seorang yang mau pulang kampung.
Koper terlihat di sampingnya, siap menemani perjalanan pulangnya.
“Kamu mau kemana? Rapi amat,” tanya gw.
“Aku mau pulang. Anter aku yuk ke stasiun,” pinta Sinta.
“Kok gak bilang-bilang?”
“Ini udah bilang. Ayuk ah, ntar telat lagi...,”
Sebenernya gw pun udah siap. Jadi begitu Sinta ngajak pergi, gw pun langsung keluar dan mengunci pintu, lalu pergi bersama Sinta menuju lift.
“Keiko gak ikut nganter?” tanya gw.
“Dia udah pergi duluan. Katanya ada urusan,” jawab Sinta.
Mau kemana lagi dia? Kerja?
Itu anak emang sering muncul-ilang muncul-ilang kapan aja dia mau.
“Gak mau nginep dulu disini 1 atau 2 hari lagi?” tanya gw ketika di dalam lift.
“Emang kamu masih mau aku nginep lagi disini?” Sinta nanya balik. Entah apa maksud pertanyaannya ini.
“Aku sih nyantai aja,” jawab gw sekenanya.
“Kamu nyantai, Keiko yang gak nyantai,” ujar Sinta.
TING! Pintu lift terbuka. Kami keluar dari lift.
“Dia ngerasa keganggu ya?” tanya gw, sambil kami terus berjalan keluar apartemen.
“Hmm..gimana ya ngejelasinnya..., pokonya gitu deh,” jawab Sinta.
“Lagian gak ada lagi yang bisa aku lakuin disini. Tujuan aku dateng ke Sendai udah tercapai,” tambahnya.
Gw teringat lagi pembicaraan kami semalam. Pengakuan Sinta yang sudah mendapatkan pasangan baru.
Kami terus berjalan menuju stasiun Kawaramachi sambil sesekali mengobrol.
Sampai di stasiun, suasana sudah mulai ramai oleh orang-orang yang hendak pergi sekolah atau bekerja.
Dari stasiun Kawaramachi ini, kami naik kereta satu kali menuju stasiun Sendai.
Sampai di stasiun Sendai, kami harus menuju jalur Shinkansen, karena Sinta akan pergi ke Tokyo.
Setelah membeli tiket Shinkansen, kami bergegas menuju jalur Shinkansen. Sampai disana, masih ada waktu sekitar 20 menit hingga Shinkansen yang akan dinaiki Sinta tiba. Kami menuggu sambil duduk di bangku.
“Kamu udah sarapan?” tanya gw, baru inget kalo tadi kami berangkat terburu-buru.
“Nanti aja aku beli Bentou di dalem Shinkansen,” kata Sinta.
Gw lihat keadaan sekitar, ternyata banyak juga orang-orang yang hendak pergi menggunakan Shinkansen dari Sendai ini.
“Ga...,” sahut Sinta.
“Hm?”
“Aku mungkin bukan orang yang tepat untuk bilang ini ke kamu,” ujar Sinta sambil matanya menerawang ke depan.
“Tapi aku pikir kamu pantas dapet yang lebih baik dari aku,” ujarnya.
Gw hanya bisa ngedengerin Sinta bicara.
“Kamu cowok baik, Ga. Aku tau dan aku percaya itu,”
Gak ada tanggapan dari gw. Sinta juga gak ngomong apa-apa lagi. Kami berdua hanya diam menunggu Shinkansen tiba.
Tak lama kemudian, Shinkansen terlihat dari kejauhan. Setelah pintunya terbuka dan para penumpang dipersilakan masuk, Sinta bangkit dari bangku dan memegang kopernya. Dia berbalik dan melihat gw.
“Makasih untuk semuanya, Ga. Sayounara...,”
“Sama-sama. Sayounara,”
Lalu dia berjalan menuju pintu kereta lalu masuk.
Dari luar, gw bisa melihat Sinta berjalan mencari kursinya, menyimpan kopernya di atas kursi penumpang, lalu duduk di kursi samping jendela.
Sesekali dia menoleh dan melihat keluar kearah gw. Gw hanya balas dengan senyuman.
Tak lama menunggu, waktu keberangkatan pun tiba. Pintu kereta telah ditutup. Dan tak lama kemudian, kereta mulai berjalan perlahan.
Untuk terakhir kalinya, Sinta menoleh ke arah gw dan melemparkan senyuman. Gw balas dengan senyuman dan lambaian tangan.
Kemudian, gw bisa melihat kereta semakin lama semakin berjalan cepat, hingga makin jauh, makin mengecil.
Dan ketika kereta sudah hilang dari pandangan, gw masih duduk di bangku. Pikiran gw menerawang, namun entah apa yang gw pikirkan.
Keramaian orang di sekitar gw membuat gw terbangun dari lamunan gw. Akhirnya gw pun beranjak pergi dari tempat itu, kembali menuju
apartemen gw.
Sendai makin dingin pagi itu...
Sepertinya ini udah saatnya juga bagi gw untuk pulang...
Diubah oleh NihonDamashii 04-12-2015 19:48
0
Kutip
Balas