Kaskus

Story

aldiansyahdzsAvatar border
TS
aldiansyahdzs
Kisah Tak Sempurna
Quote:

Kisah Tak Sempurna


Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh.


Selamat pagi warga Kaskus di Seluruh Muka Bumi.

Terimakasih kepada Agan / Aganwati yang sudah mampir di Thread ini. Terimakasih pula untuk sesepuh dan moderator SFTH. Thread ini adalah thread pertama kali saya main kaskus . Saya berharap Thread pertama kali saya di Kaskus bisa membuat Agan / Aganwati terhibur dengan coretan sederhana saya ini.

Thread ini bercerita tentang kisah putih abu - abu seorang laki laki yang saya beri nama Erlangga. Dari pada penasaran, lebih baik langsung baca aja gan! Selamat galau eh selamat membacaaa.

NB; Kritik dan Saran sangat saya butuhkan agar saya dapat menulis lebih baik lagi.

Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:

Quote:

Quote:

Quote:

Quote:

Quote:

Quote:

Quote:

Quote:

Keep in touch with me.
twitter: aldiansyahdzs
instagram : aldisabihat
Diubah oleh aldiansyahdzs 17-06-2019 18:30
yusuffajar123Avatar border
junti27Avatar border
JabLai cOYAvatar border
JabLai cOY dan 31 lainnya memberi reputasi
32
132.3K
879
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
aldiansyahdzsAvatar border
TS
aldiansyahdzs
#327
Hujan dan Secangkir Teh – Part 4

1 minggu berlalu, rindu ini semakin menggebu. Entah berapa lama aku melamun. Pandanganku kosong. Aku kini jarang berbicara, banyak menghabiskan waktu hanya mendengarkan lagu, serta membaca buku. Saat kumpul bersama teman – teman pun aku lebih dominan menjadi pendengar. Biasanya aku yang sering membuka topik pembicaraan lalu saling berargumen. Entah mengapa aku seperti ini padahal ini baru 1 minggu.

Aku memandang ke arah langit di balik jendela. Kadang aku mengira – ngira di negeri Kangguru sana apakah sedang turun hujan atau tidak? Apakah kehidupan disana sama dengan tanah air ini? Dan yang terakhir apakah Octa sama sepertiku, menahan rindu demi rindu yang tiap detik saling menghantui?

Selama 1 minggu ini aku tak tau apakah Octa rindu kepadaku atau tidak? Saling mengirim pesan di e-mail pun ia tak pernah berujar jika ia rindu? Jangan – jangan disana ia bertemu dengan pria yang lebih baik dariku? Jangan – jangan ? Ah semakin banyak pertanyaan di dalam fikiranku rasanya semakin tidak karuan.

Smartphonenya yang ku pegang saat ini tak mampu mengatasi rindu. Lebih parahnya lagi, benda ini membuat diriku semakin paranoid. Hampir tiap jam banyak laki – laki yang mengirim pesan bbm, line, whatsapp dan social media lainnya. Isinya? Ada yang mengajak berkenalan, ada yang iseng mengombali, ada juga yang menembak. Jujur saja, ini membuatku risih.

Kala jemariku mengetuk – ngetuk layar smartphone Octa. Hanphoneku berdering.
Call From Dean Rossalina

Quote:


Di luar sana, matahari tidak nampak. Awan kelabu menahan sinarnya untuk memberi kehangatan kepada setiap makluk yang berara di kulit bumi. Udara semakin dingin. Temperature di smartphone Octa menunjukan suhu 18 derajat celcius. Bandung lebih dingin dari biasanya.
Setiap pagi, aku selalu mengecek e-mail berharap Octa bisa meluangkan waktunya untuk sekedar membalas e-mail yang aku kirim. Ada notifikasi e-mail masuk. Aku langsung membukanya.

Quote:

Ada perasaan aneh saat ku baca e-mail tersebut. Ada rasa yang hilang juga. Perasaanku mulai tak karuan. Beberap pertanyaan bermunculan dalam kepalaku?[i]Apa dia sedang lelah? Apa dia sedang jenuh? Atau perasaannya hilang untukku?
Pertanyaan – pertanyaan itu menggantung dalam hatiku.
Aku memilih untuk membiarkan pesan tersebut. Keinginan untuk membalas pesan tersebut seperti hilang terbawa oleh angin. Biarlah, aku lebih baik membalas pesan ini saat perasaanku membaik. Jangan sampai dia tahu bahwa aku mulai curiga.

Ketukan pintu 3 kali menyadarkanku dari lamunan ini. Sudah bisa ku terka bahwa yang mengetuk adalah Dean. Aku langsung bergegas dari kamarku lalu membukakan pintu.

“Laptop gue masalah lagi.” Dean menjatuhkan dirinya diatas sofa. “Lah kamu kan spesialis hardware. Punya orang lain bisa bener, tapi punyamu sendiri ga bisa benerin.” Ku letakan secangkir teh diatas meja, Dean langsung menyeruput. “Entahlah, kayaknya laptop ini pengen dibenerin sama kamu.” Ia mengeluarkan laptopnya tersebut.

Aku mendiagnosa apa yang menjadi penyebab laptop ini menjadi mati. Aku bongkar, tidak ada kesalahan apapun.

“Kayaknya ini pengen di Install ulang.” Aku menggaruk – garukan kepalaku sedikit kebingungan. “Hehe. Sebenarnya aku pengen ngetest kamu di urusan hardware. Kamu emang teliti.” Betapa jengkelnya aku mendengar ucapan tersebut. “Bukan dari tadi bilang pengen di Install ulang, mana di telpon bilang kayak yang panik.” Ujarku, ku keluarkan CD installan windows 7 lalu ku masukan kedalam DVD-Rom.

Sambil menunggu installasi selesai kami mengobrol ngalor – ngidul. Ia bertanya layaknya seorang wartawan. Pertanyaan demi pertanyaan menyerangku, namun aku masih bisa menangkis dengan jawaban yang memuaskan.

“Ngambil beasiswa di Polban ga?” Tanyanya. “Ngambil kok, orang yang nyambung cuman ke Polban aja.” Ujarku dengan tangan yang masih menyeting setingan awal. “Teknik Telekomunikasi?” Ia mencoba menerka jurusan yang telah aku pilih. Aku hanya mengangguk.

Bila ku deskripsikan siapa Dean, mungkin semua siswa di sekolah ku menyebut bahwa siswa ini siswa terbaik yang di miliki oleh sekolah kami. Dean lebih akrab di pangil Eyan. Ia 2 kali juara 1 lomba kegiatan siswa (LKS) di nomor network engineering. Hidungnya mancung seperti orang turki, matanya bulat, alisnya tebal, dan tentu saja warna kulitnya kuning langsat. Selain mendapat predikat siswa terbaik ia menjadi idola kaum adam. Namun cukup sulit untuk melelehkan gadis keturunan Turki ini. Ia bisa membedakan mana yang tulus mana yang hanya mencintai fisiknya saja.

Cacing – cacing di perutku mulai bernyanyi. Aku lapar. Ku cek dompet, hanya 4 lembar kapten patimura. Mana mungkin uangku cukup untuk 1 porsi lontong kari.

“Tong laper ya?” Tanyanya. Aku hanya mengangguk. Ia mengambil tas, lalu mengeluarkan keresek, lalu ia mengeluarkan isi dari keresek tersebut. “Nih pesenenan kamu, enak ga enak makan aja.” Aku membuka tutup tupperware tersebut. Nasi goreng. “Makasih ya.” Aku langsung menyantap nasi goreng ini.
jimmi2008
delet3
junti27
junti27 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.