- Beranda
- Stories from the Heart
AKU, KAMU, DAN LEMON
...
TS
beavermoon
AKU, KAMU, DAN LEMON
SELAMAT DATANG DI RUMAH BEAVERMOON
Hallo semua, salam hangat dari bawah Gorong-gorong Sudirman
Kali ini ane akan coba buat share cerita yang ane buat. Jadi, selamat menikmati cerita ini dan tetap dukung kami meskipun hasilnya ngga banget
Jangan lupa buat RATE jika berkenan di hati kalian dan KOMENG jika ada kritik dan saran

Spoiler for Tanya Jawab:
Tanya Jawab Seputar Cerita
Q: Ini cerita nyata atau fiksi?
A: Sebenernya cerita ini gabungan dari kisah nyata sama beberapa unsur fiksi
Q: Bagian yang nyata yang mana aja? Yang fiksi yang mana aja?
A: Nah, cerita ini dibuat agar para pembaca bisa berimajinasi secara individu. Jadi kalau di tanya yang nyata mana yang fiksi mana, ya coba bayangin aja sendiri
Q: Ini nama asli atau nama samaran?
A: Ada beberapa yang disamarkan karena privasi banget nget nget
Q: Kok banyak kentangnya sih? Kan jadi kesel
A: Tak kentang maka tak kenyang
Maklumlah namanya baru di dunia SFTH ini jadi ya banyakin kentangnya aja dulu
Q: Atas dasar apa cerita ini dibuat?
A: Asal mula bikin cerita ini sebenernya biar ngga gabut-gabut amat kalo malem kan daripada nontonin Saori Hara mulu mending bikin cerita
terus juga biar ngga galau galau amat belom lama menjadi jomblo lagi 
Q: Kok tampilan awalnya biasa aja sih?
A: Masih newbie ya, NI-U-BI!! Jadi belom ngerti ngerti amat apa yang harus ditampilin buat penghias tampilan awal cerita ini, kalo ada yang mau ngajarin ya monggo
Q: Ini cerita nyata atau fiksi?
A: Sebenernya cerita ini gabungan dari kisah nyata sama beberapa unsur fiksi

Q: Bagian yang nyata yang mana aja? Yang fiksi yang mana aja?
A: Nah, cerita ini dibuat agar para pembaca bisa berimajinasi secara individu. Jadi kalau di tanya yang nyata mana yang fiksi mana, ya coba bayangin aja sendiri

Q: Ini nama asli atau nama samaran?
A: Ada beberapa yang disamarkan karena privasi banget nget nget

Q: Kok banyak kentangnya sih? Kan jadi kesel

A: Tak kentang maka tak kenyang
Maklumlah namanya baru di dunia SFTH ini jadi ya banyakin kentangnya aja duluQ: Atas dasar apa cerita ini dibuat?
A: Asal mula bikin cerita ini sebenernya biar ngga gabut-gabut amat kalo malem kan daripada nontonin Saori Hara mulu mending bikin cerita
terus juga biar ngga galau galau amat belom lama menjadi jomblo lagi 
Q: Kok tampilan awalnya biasa aja sih?
A: Masih newbie ya, NI-U-BI!! Jadi belom ngerti ngerti amat apa yang harus ditampilin buat penghias tampilan awal cerita ini, kalo ada yang mau ngajarin ya monggo
Spoiler for Pembukaan:
AKU, KAMU, DAN LEMON
When life gives you lemons, make orange juice. Leave the world wondering how you did it
Cerita ini mengisahkan tentang remaja-remaja yang mulai beranjak dewasa. Konflik yang sering terjadi menjadi kisah mereka masing-masing. Mengejar mimpi, cita-cita, dan cinta mereka melengkapi kisah hidup mereka.
Pada dasarnya manusia diciptakan untuk berusaha dan mengejar apa yang mereka impikan. Jurang dalam yang menghadang dapat mereka tempuh dengan susah payah, namun hanya tinggal lubang kecil di depan mata, mereka menyatakan untuk menyerah.
Sabtu sore dipinggiran kota, aku duduk di sebuah kafe kecil di meja paling ujung. Mengaduk-aduk kopi yang sudah daritadi kupesan dan membiarkan gula dan kopinya terus beraduk layaknya pusaran air di lautan. Perkenalkan, namaku Bramantyo Satya Adjie, biasa dipanggil Bram. Aku adalah mahasiswa di sebuah universitas swasta di ibukota. Perawakanku tidaklah cukup baik, aku jarang untuk tersenyum pada hal-hal kecil.
When life gives you lemons, make orange juice. Leave the world wondering how you did it
Cerita ini mengisahkan tentang remaja-remaja yang mulai beranjak dewasa. Konflik yang sering terjadi menjadi kisah mereka masing-masing. Mengejar mimpi, cita-cita, dan cinta mereka melengkapi kisah hidup mereka.
Pada dasarnya manusia diciptakan untuk berusaha dan mengejar apa yang mereka impikan. Jurang dalam yang menghadang dapat mereka tempuh dengan susah payah, namun hanya tinggal lubang kecil di depan mata, mereka menyatakan untuk menyerah.
Sabtu sore dipinggiran kota, aku duduk di sebuah kafe kecil di meja paling ujung. Mengaduk-aduk kopi yang sudah daritadi kupesan dan membiarkan gula dan kopinya terus beraduk layaknya pusaran air di lautan. Perkenalkan, namaku Bramantyo Satya Adjie, biasa dipanggil Bram. Aku adalah mahasiswa di sebuah universitas swasta di ibukota. Perawakanku tidaklah cukup baik, aku jarang untuk tersenyum pada hal-hal kecil.
Spoiler for Index:
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20 - 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30-31
Part 32
Part 33
Part 34
Part 35
Part 36
Part 37
Part 38
Part 39
Part 40
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44
Part 45
Part 46
Part 47
Part 48
Part 49
Part 50
Part 51
Part 52
Part 53
Part 54
Part 55
Part 56
Part 57
Part 58
Part 59
Part 60
Part 61
Part 62 - 63
Part 64
Part 65
Part 66
Part 67
Part 68
Part 69
Part 70
Part 71
Part 72
Part 73
Part 74
Part 75 (FINALE)
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20 - 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30-31
Part 32
Part 33
Part 34
Part 35
Part 36
Part 37
Part 38
Part 39
Part 40
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44
Part 45
Part 46
Part 47
Part 48
Part 49
Part 50
Part 51
Part 52
Part 53
Part 54
Part 55
Part 56
Part 57
Part 58
Part 59
Part 60
Part 61
Part 62 - 63
Part 64
Part 65
Part 66
Part 67
Part 68
Part 69
Part 70
Part 71
Part 72
Part 73
Part 74
Part 75 (FINALE)
Diubah oleh beavermoon 14-02-2016 13:50
dodolgarut134 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
187.2K
Kutip
823
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#290
Masih pada protes ini kentang ngga ya? 

Spoiler for Part 41 :
“Menurut lu kapan nih?”
“Ha? Apanya yang kapan?” Tanyaku kebingungan
“Kapan mestinya gue nembak si Zahra?” Jelasnya
“Lah lu yang jalanin masa nanyanya ke gue. Intinya mah asal udah komunikasi dua arah mah berarti udah bisa kapan aja. Kalau masih satu arah mah jangan dulu deh. Lu gimana emang sama dia?”
“Terkadang masih satu arah, kadang juga dua arah...” Kata Reza
“Yaudah sabar aja dulu, banyakin usaha sama do’a.” Kataku sambil meminum kopi hitam yang ada di atas meja
Kami berbincang mengenai rencana pergi ke Bandung, karena Reza juga sedang libur, makanya dia bisa ikut juga. Kami merencanakan akan kemana saja setelah bertemu orang tua kami. Rencana sudah tersusun sangat rapi dan matang.
“Abang, jadi kan? Eh ada Bang Eja..” Kata Nanda yang baru saja bangun dengan muka kusutnya
“Iya jadi kok, kamu mandi aja dulu.” Kataku
“Hai Nona Manis, mau kemana gerangan sama Bang Bram? Adakah Bang Eja boleh ikut juga?” Katanya dengan ciri khasnya, cengiran onta!
“Mau ke ulang tahun temen Nanda, Ikut aja Bang nggapapa nanti juga ada Ka Din. Yaudah aku mandi dulu ya Bang..”
Dia berlalu meninggalkan kami
“Udah lu ikut aja, lagi libur juga kan..” Kataku sambil menepuk bahunya dan masuk ke dalam kamar
“Emang ulang tahunnya dimana Bram?” Tanyanya sambil mengikutiku masuk ke dalam kamar
“Deket tempat kita main Go Kart, inget ngga lu?” Kataku sambil merapihkan tempat tidur yang habis dipakai Nanda tidur
“Wah jauh juga, naik mobil lu kan? Abis bensin mobil gue.” Katanya dengan cengiran menggelikan lagi
“Mobilnya Nanda lah, lu ngga liat di parkiran cuma ada yang silver doang?”
“Lah baru nyadar gue juga hahaha, si Sexy kenapa lagi? Bukanya baru keluar ya?” Tanyanya
“Iya masuk lagi, ngambek lagi. Makanya kemaren ngga bisa nyala, dibawa ke bengkel aja diderek..” Jelasku
Kami menyempatkan diri untuk main game sebentar, tiga kali permainan dengan hasil dua untukku dan satu untuk Reza. Memang dari dulu dia tidak lebih jago untuk permainan bola basket seperti ini, namun dibanding temanku yang lain dia termasuk jago juga.
Setelah itu Nanda menghampiri kami dan segeralah kami menuju rumah Dinda terlebih dahulu. Setelah tiba di rumah Dinda, kamipun menyegerakan untuk lanjut ke rumah dimana pesta berlangsung
“Isi bensin dulu ya..” Kataku kepada mereka
“Nih Bram..” Kata Dinda sambil memberiku uang
“Ngga usah, aku aja..” Kataku menolaknya dengan halus
“Enak kan Ka Din, Bang Eja, jalan sama Abang ngga perlu ngeluarin uang hehe..” Kata Nanda
“Iya, enak juga ya udah gitu disupirin lagi kan hahaha..” Kata Reza sambil tertawa
“Ngga enak juga lah kalian gimana?” Kata Dinda membelaku
“Kebiasaan mereka mah Din, kalau ada aku mah mereka juga berani ngga bawa dompet..” Kataku dari luar sambil menunggu bensin terisi penuh
“Emang aku ngga bawa dompet Bang hehehehe..” Kata Nanda
“Dasar kamu....” Kata Dinda yang masih membelaku
Setelah bensin terisi penuh, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat acara berlangsung. Buatku sebenarnya jarak rumahnya cukup jauh juga namun beruntungnya malam ini tidak macet jadi tidak amakan waktu lama. Setelah menempuh 45 menit di jalan, akhirnya kami sampai juga di rumahnya. Sudah terlihat dari luar bahwa rumah ini sedang mengadakan pesta. Setelah aku memarkirkan mobil milik Nanda, kami pun keluar dari mobil
“Kita ikut masuk juga nih?” kata Reza
“Iya semuanya masuk, tadi aku udah bilang sama Nina kalau aku bawa kalian terus katanya nggapapa buat aku..” Jelas Nanda
“Yaudah yuk masuk, abis ini kita jalan lagi.” Kataku sambil mematikan rokok yang ada di tangan
Kami berempatpun masuk ke dalam rumahnya yang ternyata cukup ramai. Kami langsung mencari Si Ratu Pesta Semalam ini, mencari dari tempat satu ke tempat yang lain. Dan akhirnya kami bertemu di dekat kolam berenang.
“Ninaaaaa, Selamat ulang tahun ya cantiiiik.” Kata Nanda
“Ndaaaaaa, makasih ya udah dateng.” Katanya sambil memeluk Nanda
“Oh iya ini kenalin temen Abang aku, namanya Bang Reza”
Mereka berjabat tangan
“Nah kalau yang ini pacarnya Abang aku Nin, Namanya Ka Din.”
“Halo Nina selamat ulang tahun ya.” Kata Dinda sambil menjabat tangannya
“Iya makasih ya Ka Din..”
“Nah kalau yang ini mah ngga usah dikenalin lah ya hahaha..” Kata Nanda mengejekku
“Hahaha iya ini mah ngga usah.” Kata Nina
“Oh jadi kadonya ngga jadi nih? Yaudah lah balik aja deh sekalian sama kadonya juga..” Kataku gantian mengejek mereka
“Eh Bang Bram mah gitu sih hehe..” Kata Nina
“Hahaha, nih kadonya. Selamat ulang tahun ya Nina..” Kataku
“Makasih ya Bang hehe. Yaudah kalian mau makan dulu apa gimana? Kalau makan ada di meja itu kalau minum tinggal minta ke waitressnya aja ya.” Kata Nina menjelaskan
“Iya gampang lah Nin.” Kataku
“Yaudah kita liat temen yang lain dulu ya Bang, Ka Din.” Kata Nanda sambil berlalu dengan Nina meninggalkan kami
Kami akhirnya memutuskan untuk memesan minuman saja. Tidak lama kami memilih untuk menunggu Nanda di mobil. Reza sudah duduk di bangku depan sambil menyalakan radio, sedangkan aku dan Dinda masih menunggu di luar
“Si Nanda kemana lama amat?” Kataku
“Ngga tau, masih ada temen-temennya kali Bram. Apa mau kita susul aja ke dalem lagi?”
“Yaudah yuk. Eh Bon, gue sama Dinda manggil Nanda dulu ya lu jaga mobil.” Kataku sambil mengahadap mobil
“Siap Bro Bram...” Kayanya sambil menghembuskan asap dari mulutnya
Aku dan Dinda akhirnya masuk lagi ke dalam sana. Aku menemukan Nanda dengan Nina sedang asyik mengobrol. Kami menghampiri mereka dan mereka juga sepertinya melihat kami
“Nda, jadi ngga?” Kataku
“Bentar dulu ya Bang, Nina mau ngenalin saudaranya ke kita.” Kata Nanda
“Iya Bang, dia seangkatan sama Abang, anak arsitek juga di kampus Bang Bram.” Jelas Nina
Aku cukup kaget bahwa Nina memiliki saudara yang satu jurusan denganku, bahkan seangkatan. Aku dan Dinda saling tatap dan menerka-nerka siapa saudaranya Nina ini? Begitu terkejutnya aku bahwa yang dia maksud adalah Zahra. Aku, Dinda bahkan juga Nanda sama-sama terkejut melihatnya.
“Loh Bram? Kamu ke sini juga?” Tanyanya
“Iya, ini si Nanda temennya Nina kan di kelas.” Kataku sambil menepuk pundaknya Nanda
Dan lebih terkejutnya buat aku dan Dinda yaitu kami melihat Zahra bersama lelaki yang sama pada saat kami melihatnya di parkiran waktu itu. Dia memperkenalkan lelaki itu, namanya Indra. Tubuhnya cukup tinggi namun tidak melebihiku, badannya kurus, dan terlihat hidupnya cukup mewah juga karena barang-barang yang dia pakai termasuk harga yang luar biasa. Kami sempat berbincang sebentar dengan mereka.
“Buruan, jangan sampe Reza liat.” Bisik Dinda kepadaku
“Yaudah kita balik duluan ya, masih ada acara nih soalnya. Pamit ya.” Kataku kepada mereka
Kami akhirnya meninggalkan tepian kolam berenang tadi menuju rumahnya. Aku dan Dinda hanya saling tatap, kami memikirkan jika Reza melihat kejadian tadi bahkan kejadian waktu itu apa yang akan dia lakukan. Kami pikir semuanya berakhir di tepian kolam berenang.
“Nanda, tunggu..” suara yang terdengar dari belakang kami
Aku dan Dinda tetap berjalan, namun Nanda berhenti di belakang kami
“Maafin aku Nda, aku salah..” Suara itu membuat aku dan Dinda menghentikan langkah kami dan berbalik melihat ke belakang
Dan itu adalah Danang, lelaki yang sudah membuat Nanda patah hati dan sempat ingin aku goreng dengan adonan bakwan
“Mau apa lagi?” Kata Nanda
“Aku ngaku salah Nda, waktu itu aku khilaf. Aku minta kamu maafin aku, kita baikan.” Kata Danang
“Baikan? Lo udah selingkuh gitu aja terus minta baikan seenak lo aja?”
“Bisa kan kita baikan? Terus kita bisa juga balikan?” Kata Danang tanpa ragu
“Udah ya, ngga usah ganggu adek gue lagi. Adek gue udah punya hidup sendiri.” Kataku sambil meraih tangan Nanda untuk segera meninggalkan Danang
Kami berjalan cukup cepat untuk sampai di parkiran. Terlihat Reza sedang bersandar di kap mobil sambil merokok. Tak disangka Danang mengikuti dan mendahului kami. Dia mengahadang kami agar masuk ke dalam mobil. Reza cukup kebingungan dengan keadaan ini.
“Nda, aku mohon maaf bener Nda. Aku mau kita baikan, ngga kayak gini. Aku janji.......”
Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, aku yang sudah cukup kesal dengannya langsung kupukul Danang hingga ia terjatuh
“Baikan baikan, udah bagus ngga gue goreng pake adonan bakwan lu! Udah cabut aja.” Kataku cukup kesal
Aku, Nanda dan Dinda sudah di dalam mobil, namun Reza malah menghampiri Danang
“Baikan gundulmu!” Dia berbalik badan lalu menghembuskan angin kentut tepat di mukanya Danang
Aku tertawa melihat kejadian itu. Dan kami pun akhirnya meninggalkan Danang dan segera menuju tempat berikutnya. Di dalam mobil Reza memecahkan suasana hening
“Menurut lu tadi kentut gue pas ngga ya?” Katanya
“Hahahaha pas banget, Head Shot!” Kataku dengan tertawa
Akhirnya kami berempat tertawa lebar di dalam mobil dan melupakan kejadian yang barusan terjadi. Kami akhirnya tiba di sebuah Restoran Jepang yang cukup terkenal. Setelah kami memilih tempat duduk dan memesan pesanan, kami sempat mengobrol sebentar
“Kamu udah ngga mikirin dia lagi kan Nda?” Tanya Dinda
“Udah ngga Ka Din, aku udah ngga perduli lagi sama dia.” Kata Nanda
“Yaudah bagus kalau kayak gitu. Kamu emang udah waktunya untuk istirahat Nda.” Kataku
“Nggapapa deh ngga di goreng tuh orang, yang penting puas gue ngentutin dia hahaha.” Kata Reza
Kami pun tertawa lagi karena ulahnya yang terbilang cukup konyol. Akhirnya pesanan kami datang dan kami menikmati hidangan dengan nikmat. Sekitar jam 11 malam akhirnya kami memutuskan untuk pulang ke rumahku. Setibanya di rumah, Nanda sudah tertidur di kasurku dan Reza juga tertidur di karpet lantai kamarku. Hanya tersisa aku dengen Dinda di balkon kamar sambil menikmati kopi hitam dan lemon tea kami masing-masing. Suasananya cukup dingin malam ini. Kami hanya memerhatikan mereka berdua dari balkon.
“Akhirnya dia tau harus berbuat apa..” Kata Dinda
“Dia udah makin dewasa, ya meskipun kalau lagi sama aku tetep aja kayak anak umur 5 tahun..” Jelasku
Kami berdua pun tertawa pelan karena takut membangunkan mereka
“Kamu kapan mau potong rambut sama rapihin kumis sama jenggotnya?”
“Emang udah parah ya?” Tanyaku
“Kamu ngaca gih Bram..” Suruh Nanda
Aku segera melihat ke kaca dan memang benar, aku sudah tidak karuan lagi. Rambutku yang sudah menyentuh bahu, kumisku sudah menutupi sebagian bibir bagian atasku dan jenggotku yang membuat aku seperti tidak memiliki pipi sama sekali.
“Hehe iya juga ya udah berantakan, nanti deh abis ketemu Ayah Ibu. Gara-gara tugas juga jadi ngg sempet ngurusin ginian lagi.” Jelasku
“Yaudah nggapapa. Kamu mau gimana juga nggapapa, asal sifat baik kamu jangan berubah aja.” Kata Dinda
Aku hanya tersenyum menjawabnya dan segera memegang tangan Dinda, dan sekali lagi kami melihat Reza dan Nanda yang sudah tertidur
“Apapun perubahan fisik yang kau buat, jangan sampai kau merubah sifat baikmu..”
“Ha? Apanya yang kapan?” Tanyaku kebingungan
“Kapan mestinya gue nembak si Zahra?” Jelasnya
“Lah lu yang jalanin masa nanyanya ke gue. Intinya mah asal udah komunikasi dua arah mah berarti udah bisa kapan aja. Kalau masih satu arah mah jangan dulu deh. Lu gimana emang sama dia?”
“Terkadang masih satu arah, kadang juga dua arah...” Kata Reza
“Yaudah sabar aja dulu, banyakin usaha sama do’a.” Kataku sambil meminum kopi hitam yang ada di atas meja
Kami berbincang mengenai rencana pergi ke Bandung, karena Reza juga sedang libur, makanya dia bisa ikut juga. Kami merencanakan akan kemana saja setelah bertemu orang tua kami. Rencana sudah tersusun sangat rapi dan matang.
“Abang, jadi kan? Eh ada Bang Eja..” Kata Nanda yang baru saja bangun dengan muka kusutnya
“Iya jadi kok, kamu mandi aja dulu.” Kataku
“Hai Nona Manis, mau kemana gerangan sama Bang Bram? Adakah Bang Eja boleh ikut juga?” Katanya dengan ciri khasnya, cengiran onta!
“Mau ke ulang tahun temen Nanda, Ikut aja Bang nggapapa nanti juga ada Ka Din. Yaudah aku mandi dulu ya Bang..”
Dia berlalu meninggalkan kami
“Udah lu ikut aja, lagi libur juga kan..” Kataku sambil menepuk bahunya dan masuk ke dalam kamar
“Emang ulang tahunnya dimana Bram?” Tanyanya sambil mengikutiku masuk ke dalam kamar
“Deket tempat kita main Go Kart, inget ngga lu?” Kataku sambil merapihkan tempat tidur yang habis dipakai Nanda tidur
“Wah jauh juga, naik mobil lu kan? Abis bensin mobil gue.” Katanya dengan cengiran menggelikan lagi
“Mobilnya Nanda lah, lu ngga liat di parkiran cuma ada yang silver doang?”
“Lah baru nyadar gue juga hahaha, si Sexy kenapa lagi? Bukanya baru keluar ya?” Tanyanya
“Iya masuk lagi, ngambek lagi. Makanya kemaren ngga bisa nyala, dibawa ke bengkel aja diderek..” Jelasku
Kami menyempatkan diri untuk main game sebentar, tiga kali permainan dengan hasil dua untukku dan satu untuk Reza. Memang dari dulu dia tidak lebih jago untuk permainan bola basket seperti ini, namun dibanding temanku yang lain dia termasuk jago juga.
Setelah itu Nanda menghampiri kami dan segeralah kami menuju rumah Dinda terlebih dahulu. Setelah tiba di rumah Dinda, kamipun menyegerakan untuk lanjut ke rumah dimana pesta berlangsung
“Isi bensin dulu ya..” Kataku kepada mereka
“Nih Bram..” Kata Dinda sambil memberiku uang
“Ngga usah, aku aja..” Kataku menolaknya dengan halus
“Enak kan Ka Din, Bang Eja, jalan sama Abang ngga perlu ngeluarin uang hehe..” Kata Nanda
“Iya, enak juga ya udah gitu disupirin lagi kan hahaha..” Kata Reza sambil tertawa
“Ngga enak juga lah kalian gimana?” Kata Dinda membelaku
“Kebiasaan mereka mah Din, kalau ada aku mah mereka juga berani ngga bawa dompet..” Kataku dari luar sambil menunggu bensin terisi penuh
“Emang aku ngga bawa dompet Bang hehehehe..” Kata Nanda
“Dasar kamu....” Kata Dinda yang masih membelaku
Setelah bensin terisi penuh, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat acara berlangsung. Buatku sebenarnya jarak rumahnya cukup jauh juga namun beruntungnya malam ini tidak macet jadi tidak amakan waktu lama. Setelah menempuh 45 menit di jalan, akhirnya kami sampai juga di rumahnya. Sudah terlihat dari luar bahwa rumah ini sedang mengadakan pesta. Setelah aku memarkirkan mobil milik Nanda, kami pun keluar dari mobil
“Kita ikut masuk juga nih?” kata Reza
“Iya semuanya masuk, tadi aku udah bilang sama Nina kalau aku bawa kalian terus katanya nggapapa buat aku..” Jelas Nanda
“Yaudah yuk masuk, abis ini kita jalan lagi.” Kataku sambil mematikan rokok yang ada di tangan
Kami berempatpun masuk ke dalam rumahnya yang ternyata cukup ramai. Kami langsung mencari Si Ratu Pesta Semalam ini, mencari dari tempat satu ke tempat yang lain. Dan akhirnya kami bertemu di dekat kolam berenang.
“Ninaaaaa, Selamat ulang tahun ya cantiiiik.” Kata Nanda
“Ndaaaaaa, makasih ya udah dateng.” Katanya sambil memeluk Nanda
“Oh iya ini kenalin temen Abang aku, namanya Bang Reza”
Mereka berjabat tangan
“Nah kalau yang ini pacarnya Abang aku Nin, Namanya Ka Din.”
“Halo Nina selamat ulang tahun ya.” Kata Dinda sambil menjabat tangannya
“Iya makasih ya Ka Din..”
“Nah kalau yang ini mah ngga usah dikenalin lah ya hahaha..” Kata Nanda mengejekku
“Hahaha iya ini mah ngga usah.” Kata Nina
“Oh jadi kadonya ngga jadi nih? Yaudah lah balik aja deh sekalian sama kadonya juga..” Kataku gantian mengejek mereka
“Eh Bang Bram mah gitu sih hehe..” Kata Nina
“Hahaha, nih kadonya. Selamat ulang tahun ya Nina..” Kataku
“Makasih ya Bang hehe. Yaudah kalian mau makan dulu apa gimana? Kalau makan ada di meja itu kalau minum tinggal minta ke waitressnya aja ya.” Kata Nina menjelaskan
“Iya gampang lah Nin.” Kataku
“Yaudah kita liat temen yang lain dulu ya Bang, Ka Din.” Kata Nanda sambil berlalu dengan Nina meninggalkan kami
Kami akhirnya memutuskan untuk memesan minuman saja. Tidak lama kami memilih untuk menunggu Nanda di mobil. Reza sudah duduk di bangku depan sambil menyalakan radio, sedangkan aku dan Dinda masih menunggu di luar
“Si Nanda kemana lama amat?” Kataku
“Ngga tau, masih ada temen-temennya kali Bram. Apa mau kita susul aja ke dalem lagi?”
“Yaudah yuk. Eh Bon, gue sama Dinda manggil Nanda dulu ya lu jaga mobil.” Kataku sambil mengahadap mobil
“Siap Bro Bram...” Kayanya sambil menghembuskan asap dari mulutnya
Aku dan Dinda akhirnya masuk lagi ke dalam sana. Aku menemukan Nanda dengan Nina sedang asyik mengobrol. Kami menghampiri mereka dan mereka juga sepertinya melihat kami
“Nda, jadi ngga?” Kataku
“Bentar dulu ya Bang, Nina mau ngenalin saudaranya ke kita.” Kata Nanda
“Iya Bang, dia seangkatan sama Abang, anak arsitek juga di kampus Bang Bram.” Jelas Nina
Aku cukup kaget bahwa Nina memiliki saudara yang satu jurusan denganku, bahkan seangkatan. Aku dan Dinda saling tatap dan menerka-nerka siapa saudaranya Nina ini? Begitu terkejutnya aku bahwa yang dia maksud adalah Zahra. Aku, Dinda bahkan juga Nanda sama-sama terkejut melihatnya.
“Loh Bram? Kamu ke sini juga?” Tanyanya
“Iya, ini si Nanda temennya Nina kan di kelas.” Kataku sambil menepuk pundaknya Nanda
Dan lebih terkejutnya buat aku dan Dinda yaitu kami melihat Zahra bersama lelaki yang sama pada saat kami melihatnya di parkiran waktu itu. Dia memperkenalkan lelaki itu, namanya Indra. Tubuhnya cukup tinggi namun tidak melebihiku, badannya kurus, dan terlihat hidupnya cukup mewah juga karena barang-barang yang dia pakai termasuk harga yang luar biasa. Kami sempat berbincang sebentar dengan mereka.
“Buruan, jangan sampe Reza liat.” Bisik Dinda kepadaku
“Yaudah kita balik duluan ya, masih ada acara nih soalnya. Pamit ya.” Kataku kepada mereka
Kami akhirnya meninggalkan tepian kolam berenang tadi menuju rumahnya. Aku dan Dinda hanya saling tatap, kami memikirkan jika Reza melihat kejadian tadi bahkan kejadian waktu itu apa yang akan dia lakukan. Kami pikir semuanya berakhir di tepian kolam berenang.
“Nanda, tunggu..” suara yang terdengar dari belakang kami
Aku dan Dinda tetap berjalan, namun Nanda berhenti di belakang kami
“Maafin aku Nda, aku salah..” Suara itu membuat aku dan Dinda menghentikan langkah kami dan berbalik melihat ke belakang
Dan itu adalah Danang, lelaki yang sudah membuat Nanda patah hati dan sempat ingin aku goreng dengan adonan bakwan
“Mau apa lagi?” Kata Nanda
“Aku ngaku salah Nda, waktu itu aku khilaf. Aku minta kamu maafin aku, kita baikan.” Kata Danang
“Baikan? Lo udah selingkuh gitu aja terus minta baikan seenak lo aja?”
“Bisa kan kita baikan? Terus kita bisa juga balikan?” Kata Danang tanpa ragu
“Udah ya, ngga usah ganggu adek gue lagi. Adek gue udah punya hidup sendiri.” Kataku sambil meraih tangan Nanda untuk segera meninggalkan Danang
Kami berjalan cukup cepat untuk sampai di parkiran. Terlihat Reza sedang bersandar di kap mobil sambil merokok. Tak disangka Danang mengikuti dan mendahului kami. Dia mengahadang kami agar masuk ke dalam mobil. Reza cukup kebingungan dengan keadaan ini.
“Nda, aku mohon maaf bener Nda. Aku mau kita baikan, ngga kayak gini. Aku janji.......”
Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, aku yang sudah cukup kesal dengannya langsung kupukul Danang hingga ia terjatuh
“Baikan baikan, udah bagus ngga gue goreng pake adonan bakwan lu! Udah cabut aja.” Kataku cukup kesal
Aku, Nanda dan Dinda sudah di dalam mobil, namun Reza malah menghampiri Danang
“Baikan gundulmu!” Dia berbalik badan lalu menghembuskan angin kentut tepat di mukanya Danang
Aku tertawa melihat kejadian itu. Dan kami pun akhirnya meninggalkan Danang dan segera menuju tempat berikutnya. Di dalam mobil Reza memecahkan suasana hening
“Menurut lu tadi kentut gue pas ngga ya?” Katanya
“Hahahaha pas banget, Head Shot!” Kataku dengan tertawa
Akhirnya kami berempat tertawa lebar di dalam mobil dan melupakan kejadian yang barusan terjadi. Kami akhirnya tiba di sebuah Restoran Jepang yang cukup terkenal. Setelah kami memilih tempat duduk dan memesan pesanan, kami sempat mengobrol sebentar
“Kamu udah ngga mikirin dia lagi kan Nda?” Tanya Dinda
“Udah ngga Ka Din, aku udah ngga perduli lagi sama dia.” Kata Nanda
“Yaudah bagus kalau kayak gitu. Kamu emang udah waktunya untuk istirahat Nda.” Kataku
“Nggapapa deh ngga di goreng tuh orang, yang penting puas gue ngentutin dia hahaha.” Kata Reza
Kami pun tertawa lagi karena ulahnya yang terbilang cukup konyol. Akhirnya pesanan kami datang dan kami menikmati hidangan dengan nikmat. Sekitar jam 11 malam akhirnya kami memutuskan untuk pulang ke rumahku. Setibanya di rumah, Nanda sudah tertidur di kasurku dan Reza juga tertidur di karpet lantai kamarku. Hanya tersisa aku dengen Dinda di balkon kamar sambil menikmati kopi hitam dan lemon tea kami masing-masing. Suasananya cukup dingin malam ini. Kami hanya memerhatikan mereka berdua dari balkon.
“Akhirnya dia tau harus berbuat apa..” Kata Dinda
“Dia udah makin dewasa, ya meskipun kalau lagi sama aku tetep aja kayak anak umur 5 tahun..” Jelasku
Kami berdua pun tertawa pelan karena takut membangunkan mereka
“Kamu kapan mau potong rambut sama rapihin kumis sama jenggotnya?”
“Emang udah parah ya?” Tanyaku
“Kamu ngaca gih Bram..” Suruh Nanda
Aku segera melihat ke kaca dan memang benar, aku sudah tidak karuan lagi. Rambutku yang sudah menyentuh bahu, kumisku sudah menutupi sebagian bibir bagian atasku dan jenggotku yang membuat aku seperti tidak memiliki pipi sama sekali.
“Hehe iya juga ya udah berantakan, nanti deh abis ketemu Ayah Ibu. Gara-gara tugas juga jadi ngg sempet ngurusin ginian lagi.” Jelasku
“Yaudah nggapapa. Kamu mau gimana juga nggapapa, asal sifat baik kamu jangan berubah aja.” Kata Dinda
Aku hanya tersenyum menjawabnya dan segera memegang tangan Dinda, dan sekali lagi kami melihat Reza dan Nanda yang sudah tertidur
“Apapun perubahan fisik yang kau buat, jangan sampai kau merubah sifat baikmu..”
khuman dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Kutip
Balas