- Beranda
- Stories from the Heart
Cewek Kelinci (Usagi no Onna no Ko) ウサギの女の子
...
TS
NihonDamashii
Cewek Kelinci (Usagi no Onna no Ko) ウサギの女の子
Halo agan-agan,
Setelah sekian lama jadi silent reader di SFTH ini, akhirnya ane beranikan diri untuk ikut membuat thread dan menulis cerita.
Cerita ini adalah mix antara true story gw dengan fiksi.
Bagian mana yang true story, dan bagian mana yang fiksi, ane serahkan kepada agan untuk menebaknya aja ya
Tujuan ane nulis cerita ini, adalah semoga agan-agan disini terhibur.
Atau mungkin cerita ini bisa jadi temen agan minum kopi. Atau setidaknya, sambil menunggu cerita di thread laen yang belom di update sama suhu TSnya, bolehlah sekiranya agan mampir dulu disini, menunggu update-an dari mereka keluar
HARAP DIBACA DULU!
Oke deh, langsung aja ya. Selamat menikmati
INDEX:
BAB 1: Cieee.. Honeymoon Cieee...!!
- PART 1
- PART 2
- PART 3
- PART 4
- PART 5
BAB 2: Jepang, Aku Datang!
- PART 1
- PART 2
- PART 3
- PART 4 (With Japanese Translation)
BAB 3: Sendai dan Wortel?
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2
- PART 3 (With Japanese Translation)
- PART 4 (With Japanese Translation)
- PART 5 (With Japanese Translation)
- PART 6 (With Japanese Translation)
- PART 7 (With Japanese Translation)
- PART 8 (With Japanese Translation)
- PART 9 (With Japanese Translation)
- PART 10 (With Japanese Translation)
- PART 11 (With Japanese Translation)
- PART 12 (With Japanese Translation)
- PART 13 (With Japanese Translation)
BAB 4: Dia Datang!
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2
- PART 3
- PART 4 (With Japanese Translation)
- PART 5
- PART 6 (With Japanese Translation)
- PART 7 (With Japanese Translation)
- PART 8
- PART 9 (With Japanese Translation)
BAB 5: Pulang (Datang) Ke Indonesia!
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2 With Japanese Translation)
- PART 3
- PART 4 (End) (With Japanese Translation)
Cewek Kelinci (Special Part)
- PART - 1 Japanese Version -> Click Here
- PART - 2
Setelah sekian lama jadi silent reader di SFTH ini, akhirnya ane beranikan diri untuk ikut membuat thread dan menulis cerita.
Cerita ini adalah mix antara true story gw dengan fiksi.
Bagian mana yang true story, dan bagian mana yang fiksi, ane serahkan kepada agan untuk menebaknya aja ya

Tujuan ane nulis cerita ini, adalah semoga agan-agan disini terhibur.
Atau mungkin cerita ini bisa jadi temen agan minum kopi. Atau setidaknya, sambil menunggu cerita di thread laen yang belom di update sama suhu TSnya, bolehlah sekiranya agan mampir dulu disini, menunggu update-an dari mereka keluar

HARAP DIBACA DULU!
Quote:
Di bagian INDEX, ada part-part yang diberi keterangan: With Japanese Translation. Artinya ada 2 versi cerita yang ane tulis. Versi pertama adalah versi tanpa terjemahan bahasa Jepang, yang kedua adalah versi dengan terjemahan bhs Jepang.
Versi kedua ada di bawah versi pertama. Jadi tinggal scroll saja ke bawah.
Bagi yang tidak ingin ter-distract dan fokus pada isi cerita, silakan baca versi pertama.
Bagi yang ingin sekalian mengetahui bhs Jepang di setiap dialognya, silakan baca versi kedua.
Versi kedua ada di bawah versi pertama. Jadi tinggal scroll saja ke bawah.
Bagi yang tidak ingin ter-distract dan fokus pada isi cerita, silakan baca versi pertama.
Bagi yang ingin sekalian mengetahui bhs Jepang di setiap dialognya, silakan baca versi kedua.
Oke deh, langsung aja ya. Selamat menikmati

INDEX:
BAB 1: Cieee.. Honeymoon Cieee...!!
- PART 1
- PART 2
- PART 3
- PART 4
- PART 5
BAB 2: Jepang, Aku Datang!
- PART 1
- PART 2
- PART 3
- PART 4 (With Japanese Translation)
BAB 3: Sendai dan Wortel?
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2
- PART 3 (With Japanese Translation)
- PART 4 (With Japanese Translation)
- PART 5 (With Japanese Translation)
- PART 6 (With Japanese Translation)
- PART 7 (With Japanese Translation)
- PART 8 (With Japanese Translation)
- PART 9 (With Japanese Translation)
- PART 10 (With Japanese Translation)
- PART 11 (With Japanese Translation)
- PART 12 (With Japanese Translation)
- PART 13 (With Japanese Translation)
BAB 4: Dia Datang!
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2
- PART 3
- PART 4 (With Japanese Translation)
- PART 5
- PART 6 (With Japanese Translation)
- PART 7 (With Japanese Translation)
- PART 8
- PART 9 (With Japanese Translation)
BAB 5: Pulang (Datang) Ke Indonesia!
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2 With Japanese Translation)
- PART 3
- PART 4 (End) (With Japanese Translation)
Cewek Kelinci (Special Part)
- PART - 1 Japanese Version -> Click Here
- PART - 2
Quote:
BAB 1 Part 1
“Satu...dua...tiga...ya!” seru tukang foto keliling kepada kami.
“Wuuuhuuuuuu..!!!” “Hahahaha....!!!!” seru kami, tertawa lepas. Topi toga pun berseliweran ke atas.
Si bapak tukang foto Cuma bisa senyum sambil geleng-geleng kepala ngeliat tingkah laku kami.
Hari ini adalah hari yang telah lama kami nantikan. Hari dimana para mahasiswa yang selama beberapa bulan kurang tidur, datang ke kampus dengan muka kusut, mata merah, dan mendadak akrab dengan para dosen, terutama dengan dosen-dosen pembimbing, melepaskan status mahasiswanya dan menjadi para wisudawan-wisudawati.
Selama beberapa bulan terakhir ini, kami, para mahasiswa jurusan sastra Jepang, telah menumpahkan segala kemampuan dan tenaga kami untuk menyelesaikan skripsi kami.
Penyelesaian skripsi yang setengah mati kami lakukan, masih harus ditambah lagi dengan sidang skripsi. Namun demi kelulusan, kami pantang menyerah. Bahkan tak sedikit yang rela mengorbankan sesuatu yang disukainya demi skripsi.
Rifki, teman gw yang hampir setiap hari main game di PC nya, berkorban untuk tidak menyentuh gamenya selama dia mengerjakan skripsi.
Boni, yang kerjaannya pacaran melulu, selama beberapa bulan terakhir ini jarang kelihatan berduaan dengan ceweknya. Dia bilang dia udah janji ke ceweknya untuk menyelesaikan skripsi tahun ini dan jadi sarjana. Jadi dia minta ke ceweknya untuk mengurangi waktu jalan-jalan dan apel malam minggu.
Ada juga seorang cewek di kelas gw yang mutusin pacarnya karena ingin fokus menyelesaikan skripsi. Gw agak kaget waktu ngedenger kabar itu dari temen-temen seper-gosip-annya. Gw gak ngerti, apa hubungannya nyelesaiin skripsi dengan mutusin pacar. Tapi ya udahlah. Gw gak mau ikut campur.
Gw? Gw sendiri gak berkorban begitu banyak dan ekstrim kayak temen-temen gw. Gw selama beberapa bulan terakhir ini Cuma berkorban waktu tidur aja. Skripsi gw berhasil membuat gw Cuma tidur 3-4 jam.
Tapi hari ini, dengan pakaian dan topi toga yang kami pakai, kami resmi menjadi sarjana S1. Sarjana Sastra.
Gw bakal punya waktu tidur yang banyak lagi. Si Rifki bakal bisa mesra-mesraan lagi sama komputernya. Si Boni bakal punya kebanggaan di depan calon mertuanya karena udah lulus S1.
Cuma ada 6 orang dari angkatan gw yang berhasil menyelesaikan skripsi tahun ini. Dan Alhamdulillah, gw termasuk salah satu di dalamnya.
“Ta! Kita foto berdua, yuk!” kata Gw pada Sinta setelah sesi foto rame-rame satu angkatan selesai.
“uhmm..OK,” jawab Sinta. “Mer, tolong fotoin kita, ya,” pinta Sinta pada Merta, temen sekelas kami.
“Cieee...foto prewed nih ceritanya.. Rangga dan Sinta,” goda Merta.
“Apaan sih.. Udah cepet fotoin,” seru Sinta sambil nyodorin hape gw. Gw Cuma bisa senyum.
“Iye, bawel,” Merta menurut. “Nih, udah,” katanya sambil mengembalikan hape ke gw.
“Jadi nih, kalian ke Jepang? Honeymoon nih yeee...” Goda Merta lagi.
Dan kalimat Merta tadi berhasil membuat temen-temen gw yang tadinya udah mau bubar, pada ngumpul lagi, ngerubungin gw dan Sinta.
“Elo berdua sekalian mau nikah disono, ya?” celetuk Rifki.
“Sok tau!” jawab Sinta sambil mencubit lengan Rifki.
“Aw! Sakit tau!” protes Rifki.
“Biarin!” Sewot Sinta.
“Udah...Udah...ribut mulu. Panas nih. Kita ke dalem lagi, yuk,” sela gw.
Kami semua pun mulai kembali ke dalam gedung.
“Eh, Ga, ntar kalo lo sama Sinta ke Jepang, lu lamar aja do’i,” bisik Rifki sambil berjalan.
“Anak orang maen lamar aja. Gw mau mikirin kerja dulu,” jawab gw.
“ah elo. Mikirin kerja mah abis ngelamar kan bisa,” seru Rifki tak mau kalah. “Lagian nih ya, kapan lagi lu sama Sinta bisa berduaan. Ke Jepang lagi. Jepang men..Jepang!” Tambah dia.
“Gimana ntar, deh” sahut gw.
“Tar kalo udah puropoozu*, kasih tau gw ya. Pokonya gw harus jadi orang pertama yang tau kalo kalian berdua tunangan.” Seru Rifki.
“Ho oh...,” jawab gw sambil ngeloyor meninggalkan Rifki. Kalo udah cerita tentang hubungan gw sama Sinta, itu anak emang berapi-api. Dan gw kadang gak bisa nanggepin omongan dia yang udah berapi-api itu. Gw suka jawab sekenanya aja. Bukan apa-apa, gw bukan tipe orang yang blak-blakan kalo ngomongin soal percintaan.
“Ga! Lo mau kemana?” Tanya Rifki yg gw tinggalkan di belakang gw.
“Makan,” jawab gw pendek.
==============================================================================================
*Puropoozu: ngelamar pasangan
“Satu...dua...tiga...ya!” seru tukang foto keliling kepada kami.
“Wuuuhuuuuuu..!!!” “Hahahaha....!!!!” seru kami, tertawa lepas. Topi toga pun berseliweran ke atas.
Si bapak tukang foto Cuma bisa senyum sambil geleng-geleng kepala ngeliat tingkah laku kami.
Hari ini adalah hari yang telah lama kami nantikan. Hari dimana para mahasiswa yang selama beberapa bulan kurang tidur, datang ke kampus dengan muka kusut, mata merah, dan mendadak akrab dengan para dosen, terutama dengan dosen-dosen pembimbing, melepaskan status mahasiswanya dan menjadi para wisudawan-wisudawati.
Selama beberapa bulan terakhir ini, kami, para mahasiswa jurusan sastra Jepang, telah menumpahkan segala kemampuan dan tenaga kami untuk menyelesaikan skripsi kami.
Penyelesaian skripsi yang setengah mati kami lakukan, masih harus ditambah lagi dengan sidang skripsi. Namun demi kelulusan, kami pantang menyerah. Bahkan tak sedikit yang rela mengorbankan sesuatu yang disukainya demi skripsi.
Rifki, teman gw yang hampir setiap hari main game di PC nya, berkorban untuk tidak menyentuh gamenya selama dia mengerjakan skripsi.
Boni, yang kerjaannya pacaran melulu, selama beberapa bulan terakhir ini jarang kelihatan berduaan dengan ceweknya. Dia bilang dia udah janji ke ceweknya untuk menyelesaikan skripsi tahun ini dan jadi sarjana. Jadi dia minta ke ceweknya untuk mengurangi waktu jalan-jalan dan apel malam minggu.
Ada juga seorang cewek di kelas gw yang mutusin pacarnya karena ingin fokus menyelesaikan skripsi. Gw agak kaget waktu ngedenger kabar itu dari temen-temen seper-gosip-annya. Gw gak ngerti, apa hubungannya nyelesaiin skripsi dengan mutusin pacar. Tapi ya udahlah. Gw gak mau ikut campur.
Gw? Gw sendiri gak berkorban begitu banyak dan ekstrim kayak temen-temen gw. Gw selama beberapa bulan terakhir ini Cuma berkorban waktu tidur aja. Skripsi gw berhasil membuat gw Cuma tidur 3-4 jam.
Tapi hari ini, dengan pakaian dan topi toga yang kami pakai, kami resmi menjadi sarjana S1. Sarjana Sastra.
Gw bakal punya waktu tidur yang banyak lagi. Si Rifki bakal bisa mesra-mesraan lagi sama komputernya. Si Boni bakal punya kebanggaan di depan calon mertuanya karena udah lulus S1.
Cuma ada 6 orang dari angkatan gw yang berhasil menyelesaikan skripsi tahun ini. Dan Alhamdulillah, gw termasuk salah satu di dalamnya.
“Ta! Kita foto berdua, yuk!” kata Gw pada Sinta setelah sesi foto rame-rame satu angkatan selesai.
“uhmm..OK,” jawab Sinta. “Mer, tolong fotoin kita, ya,” pinta Sinta pada Merta, temen sekelas kami.
“Cieee...foto prewed nih ceritanya.. Rangga dan Sinta,” goda Merta.
“Apaan sih.. Udah cepet fotoin,” seru Sinta sambil nyodorin hape gw. Gw Cuma bisa senyum.
“Iye, bawel,” Merta menurut. “Nih, udah,” katanya sambil mengembalikan hape ke gw.
“Jadi nih, kalian ke Jepang? Honeymoon nih yeee...” Goda Merta lagi.
Dan kalimat Merta tadi berhasil membuat temen-temen gw yang tadinya udah mau bubar, pada ngumpul lagi, ngerubungin gw dan Sinta.
“Elo berdua sekalian mau nikah disono, ya?” celetuk Rifki.
“Sok tau!” jawab Sinta sambil mencubit lengan Rifki.
“Aw! Sakit tau!” protes Rifki.
“Biarin!” Sewot Sinta.
“Udah...Udah...ribut mulu. Panas nih. Kita ke dalem lagi, yuk,” sela gw.
Kami semua pun mulai kembali ke dalam gedung.
“Eh, Ga, ntar kalo lo sama Sinta ke Jepang, lu lamar aja do’i,” bisik Rifki sambil berjalan.
“Anak orang maen lamar aja. Gw mau mikirin kerja dulu,” jawab gw.
“ah elo. Mikirin kerja mah abis ngelamar kan bisa,” seru Rifki tak mau kalah. “Lagian nih ya, kapan lagi lu sama Sinta bisa berduaan. Ke Jepang lagi. Jepang men..Jepang!” Tambah dia.
“Gimana ntar, deh” sahut gw.
“Tar kalo udah puropoozu*, kasih tau gw ya. Pokonya gw harus jadi orang pertama yang tau kalo kalian berdua tunangan.” Seru Rifki.
“Ho oh...,” jawab gw sambil ngeloyor meninggalkan Rifki. Kalo udah cerita tentang hubungan gw sama Sinta, itu anak emang berapi-api. Dan gw kadang gak bisa nanggepin omongan dia yang udah berapi-api itu. Gw suka jawab sekenanya aja. Bukan apa-apa, gw bukan tipe orang yang blak-blakan kalo ngomongin soal percintaan.
“Ga! Lo mau kemana?” Tanya Rifki yg gw tinggalkan di belakang gw.
“Makan,” jawab gw pendek.
==============================================================================================
*Puropoozu: ngelamar pasangan
Diubah oleh NihonDamashii 17-12-2015 20:01
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3
162.5K
Kutip
860
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
NihonDamashii
#661
UPDATE BAB 4 PART 6
Quote:
BAB 4 PART 6
Gw, Sinta, dan Keiko sedang berada di dalam kamar. Kami bertiga duduk di atas karpet. Gw dan Keiko duduk bersebelahan. Sementara Sinta duduk di hadapan kami berdua, terpisahkan oleh meja kecil.
Setelah gw dan Sinta berpapasan di koridor tadi, gw pun mengajak Sinta kembali ke kamar. Gw jelaskan pada dia bahwa dia gak salah kamar.
Kami pun masuk ke kamar, dan mendapatkan Keiko sedang berada di teras. Dia sedang melihat ke arah jalan raya di hadapannya, sepertinya tidak mengetahui kehadiran kami.
"Keiko," gw memanggil.
Keiko membalikkan badannya, dan menoleh ke arah gw, lalu pada Sinta.
"Bisa ngomong sebentar?" gw lanjutkan kata-kata gw.
Melihat gw dan Sinta datang bersamaan seperti ini, sepertinya Keiko paham dengan apa yang baru aja terjadi.
Dan sekarang, inilah kami. Duduk bertiga, dalam situasi yang sangat canggung. Bukan hanya karena kejadian salah paham tadi yang membuat suasana jadi canggung, tapi juga karena posisi kami bertiga sekarang.
Gw dan Keiko duduk bersebelahan, sementara Sinta ada di hadapan kami. Posisi formal seperti ini hanya pernah gw lihat di drama-drama jepang, tapi sekarang gw sendiri yang mengalaminya.
Siapa lagi yang punya ide ini selain Keiko. Ketika dia melihat kami, dia buru-buru merapikan meja kecil, dan mempersilakan kami duduk dengan kaki terlipat ke belakang, persis seperti hendak upacara minum teh (sadou).
Posisi dia, gw, dan Sinta pun dia sendiri yang atur. Kamu sebelah sini, aku sebelah sini, anda sebelah sini, katanya.
Setelah kami duduk di posisi masing-masing, dimulailah prosesi permohonan maaf ala Keiko.
"Aku minta maaf," Keiko membuka prosesi dengan kata-katanya. Dalam posisi duduk, dia membungkukkan badannya pada Sinta.
Sinta, yang sedari tadi sudah cukup bingung, merasa bertambah canggung dan bingung melihat Keiko membungkuk padanya.
Sinta melihat ke arah gw tanpa berkata-kata. Tatapan matanya seolah meminta penjelasan akan apa yang sedang terjadi, dan apa yang cewek yang ada di hadapannya ini sedang lakukan.
Gw hanya bisa menghela napas melihat tingkah laku Keiko yang seperti ini.
Gw tahu maksud Keiko untuk meminta maaf dengan tulus. Keiko bukanlah orang yang suka bercanda dengan perasaan orang.
Terlebih lagi jika dia melakukan kesalahan, dia pasti akan benar-benar merasa menyesal dan meminta maaf pada orang yang bersangkutan.
Namun, dengan tiba-tiba mengatur semua posisi kami seperti ini, tetap saja membuat siapapun kebingungan.
"Aku tidak tahu kalau anda kenal dengan Rangga-san," lanjut Keiko dalam pidato permohonan maafnya.
"Enggak apa-apa," akhirnya Sinta pun berbicara dalam bahasa Jepang.
"Enggak. Ini hal yang memalukan. Aku benar-benar minta maaf," kata Keiko.
"Ayo, Rangga-san juga minta maaf!” tambahnya sambil menoleh ke arah gw.
HAH?
"Lho? Kenapa aku juga harus minta maaf?" sergah gw.
"Rangga-san kan bisa kasih tau aku kalo ada teman Rangga-san yang datang kesini. Kalo ngasih tau, pasti kejadian ini gak akan terjadi. Ayo minta maaf," jelas Keiko.
Hadeuuh...ini anak. Gak abis pikir deh gw.
Ternyata posisi gw dan Keiko bersebelahan ada di satu sisi, bermakna pihak yang bersalah. Sementara Sinta yang ada di hadapan kami ada di sisi lain, sebagai pihak yang tidak bersalah.
"Ayo minta maaf!” paksa Keiko pada gw.
"Aku kan gak ngelakuin apa-apa. Kenapa aku juga harus minta maaf sih?" sergah gw, tetap gak terima.
"Tapi kamu juga salah. Kamu gak ngasih tau aku," ujar Keiko tak mau kalah.
"Kamu kan lagi kerja di luar kota. Mana aku tau kamu pulangnya kapan," elak gw.
"Kamu kan bisa kasih tau aku lewat LINE," Keiko makin tak mau kalah.
"Udah..udah..gak apa-apa kok," Sinta mencoba menengahi.
"Enggak!!!” Jawab gw dan Keiko bersamaan.
Sinta kaget.
Gw, yang akhirnya udah bisa mengontrol emosi, mencoba untuk tenang dengan menghela napas dalam-dalam.
Lalu...
"Aku minta maaf," gw membungkuk pada Sinta.
Belum habis ekspresi Sinta yang kaget karena gw dan Keiko yang tadi berselisih, keterkejutannya ditambah lagi dengan gw yang membungkuk padanya.
"Aku minta maaf," Keiko pun melakukan hal yang sama.
Sekarang ada dua orang yang membungkuk di hadapan Sinta.
Dan Sinta pun makin gak karuan bingungnya.
Gw, Sinta, dan Keiko sedang berada di dalam kamar. Kami bertiga duduk di atas karpet. Gw dan Keiko duduk bersebelahan. Sementara Sinta duduk di hadapan kami berdua, terpisahkan oleh meja kecil.
Setelah gw dan Sinta berpapasan di koridor tadi, gw pun mengajak Sinta kembali ke kamar. Gw jelaskan pada dia bahwa dia gak salah kamar.
Kami pun masuk ke kamar, dan mendapatkan Keiko sedang berada di teras. Dia sedang melihat ke arah jalan raya di hadapannya, sepertinya tidak mengetahui kehadiran kami.
"Keiko," gw memanggil.
Keiko membalikkan badannya, dan menoleh ke arah gw, lalu pada Sinta.
"Bisa ngomong sebentar?" gw lanjutkan kata-kata gw.
Melihat gw dan Sinta datang bersamaan seperti ini, sepertinya Keiko paham dengan apa yang baru aja terjadi.
Dan sekarang, inilah kami. Duduk bertiga, dalam situasi yang sangat canggung. Bukan hanya karena kejadian salah paham tadi yang membuat suasana jadi canggung, tapi juga karena posisi kami bertiga sekarang.
Gw dan Keiko duduk bersebelahan, sementara Sinta ada di hadapan kami. Posisi formal seperti ini hanya pernah gw lihat di drama-drama jepang, tapi sekarang gw sendiri yang mengalaminya.
Siapa lagi yang punya ide ini selain Keiko. Ketika dia melihat kami, dia buru-buru merapikan meja kecil, dan mempersilakan kami duduk dengan kaki terlipat ke belakang, persis seperti hendak upacara minum teh (sadou).
Posisi dia, gw, dan Sinta pun dia sendiri yang atur. Kamu sebelah sini, aku sebelah sini, anda sebelah sini, katanya.
Setelah kami duduk di posisi masing-masing, dimulailah prosesi permohonan maaf ala Keiko.
"Aku minta maaf," Keiko membuka prosesi dengan kata-katanya. Dalam posisi duduk, dia membungkukkan badannya pada Sinta.
Sinta, yang sedari tadi sudah cukup bingung, merasa bertambah canggung dan bingung melihat Keiko membungkuk padanya.
Sinta melihat ke arah gw tanpa berkata-kata. Tatapan matanya seolah meminta penjelasan akan apa yang sedang terjadi, dan apa yang cewek yang ada di hadapannya ini sedang lakukan.
Gw hanya bisa menghela napas melihat tingkah laku Keiko yang seperti ini.
Gw tahu maksud Keiko untuk meminta maaf dengan tulus. Keiko bukanlah orang yang suka bercanda dengan perasaan orang.
Terlebih lagi jika dia melakukan kesalahan, dia pasti akan benar-benar merasa menyesal dan meminta maaf pada orang yang bersangkutan.
Namun, dengan tiba-tiba mengatur semua posisi kami seperti ini, tetap saja membuat siapapun kebingungan.
"Aku tidak tahu kalau anda kenal dengan Rangga-san," lanjut Keiko dalam pidato permohonan maafnya.
"Enggak apa-apa," akhirnya Sinta pun berbicara dalam bahasa Jepang.
"Enggak. Ini hal yang memalukan. Aku benar-benar minta maaf," kata Keiko.
"Ayo, Rangga-san juga minta maaf!” tambahnya sambil menoleh ke arah gw.
HAH?
"Lho? Kenapa aku juga harus minta maaf?" sergah gw.
"Rangga-san kan bisa kasih tau aku kalo ada teman Rangga-san yang datang kesini. Kalo ngasih tau, pasti kejadian ini gak akan terjadi. Ayo minta maaf," jelas Keiko.
Hadeuuh...ini anak. Gak abis pikir deh gw.
Ternyata posisi gw dan Keiko bersebelahan ada di satu sisi, bermakna pihak yang bersalah. Sementara Sinta yang ada di hadapan kami ada di sisi lain, sebagai pihak yang tidak bersalah.
"Ayo minta maaf!” paksa Keiko pada gw.
"Aku kan gak ngelakuin apa-apa. Kenapa aku juga harus minta maaf sih?" sergah gw, tetap gak terima.
"Tapi kamu juga salah. Kamu gak ngasih tau aku," ujar Keiko tak mau kalah.
"Kamu kan lagi kerja di luar kota. Mana aku tau kamu pulangnya kapan," elak gw.
"Kamu kan bisa kasih tau aku lewat LINE," Keiko makin tak mau kalah.
"Udah..udah..gak apa-apa kok," Sinta mencoba menengahi.
"Enggak!!!” Jawab gw dan Keiko bersamaan.
Sinta kaget.
Gw, yang akhirnya udah bisa mengontrol emosi, mencoba untuk tenang dengan menghela napas dalam-dalam.
Lalu...
"Aku minta maaf," gw membungkuk pada Sinta.
Belum habis ekspresi Sinta yang kaget karena gw dan Keiko yang tadi berselisih, keterkejutannya ditambah lagi dengan gw yang membungkuk padanya.
"Aku minta maaf," Keiko pun melakukan hal yang sama.
Sekarang ada dua orang yang membungkuk di hadapan Sinta.
Dan Sinta pun makin gak karuan bingungnya.
VERSI TERJEMAHAN BAHASA JEPANG
Quote:
BAB 4 PART 6
Gw, Sinta, dan Keiko sedang berada di dalam kamar. Kami bertiga duduk di atas karpet. Gw dan Keiko duduk bersebelahan. Sementara Sinta duduk di hadapan kami berdua, terpisahkan oleh meja kecil.
Setelah gw dan Sinta berpapasan di koridor tadi, gw pun mengajak Sinta kembali ke kamar. Gw jelaskan pada dia bahwa dia gak salah kamar.
Kami pun masuk ke kamar, dan mendapatkan Keiko sedang berada di teras. Dia sedang melihat ke arah jalan raya di hadapannya, sepertinya tidak mengetahui kehadiran kami.
"Keiko,"gw memanggil.
Keiko membalikkan badannya, dan menoleh ke arah gw, lalu pada Sinta.
"Chotto ii?"
"Bisa ngomong sebentar?" gw lanjutkan kata-kata gw.
Melihat gw dan Sinta datang bersamaan seperti ini, sepertinya Keiko paham dengan apa yang baru aja terjadi.
Dan sekarang, inilah kami. Duduk bertiga, dalam situasi yang sangat canggung. Bukan hanya karena kejadian salah paham tadi yang membuat suasana jadi canggung, tapi juga karena posisi kami bertiga sekarang.
Gw dan Keiko duduk bersebelahan, sementara Sinta ada di hadapan kami. Posisi formal seperti ini hanya pernah gw lihat di drama-drama jepang, tapi sekarang gw sendiri yang mengalaminya.
Siapa lagi yang punya ide ini selain Keiko. Ketika dia melihat kami, dia buru-buru merapikan meja kecil, dan mempersilakan kami duduk dengan kaki terlipat ke belakang, persis seperti hendak upacara minum teh (sadou).
Posisi dia, gw, dan Sinta pun dia sendiri yang atur. Kamu sebelah sini, aku sebelah sini, anda sebelah sini, katanya.
Setelah kami duduk di posisi masing-masing, dimulailah prosesi permohonan maaf ala Keiko.
"Sumimasen deshita,"
"Aku minta maaf," Keiko membuka prosesi dengan kata-katanya. Dalam posisi duduk, dia membungkukkan badannya pada Sinta.
Sinta, yang sedari tadi sudah cukup bingung, merasa bertambah canggung dan bingung melihat Keiko membungkuk padanya.
Sinta melihat ke arah gw tanpa berkata-kata. Tatapan matanya seolah meminta penjelasan akan apa yang sedang terjadi, dan apa yang cewek yang ada di hadapannya ini sedang lakukan.
Gw hanya bisa menghela napas melihat tingkah laku Keiko yang seperti ini.
Gw tahu maksud Keiko untuk meminta maaf dengan tulus. Keiko bukanlah orang yang suka bercanda dengan perasaan orang.
Terlebih lagi jika dia melakukan kesalahan, dia pasti akan benar-benar merasa menyesal dan meminta maaf pada orang yang bersangkutan.
Namun, dengan tiba-tiba mengatur semua posisi kami seperti ini, tetap saja membuat siapapun kebingungan.
"Rangga-san no shiriai tte shirimasen deshita,"
"Aku tidak tahu kalau anda kenal dengan Rangga-san," lanjut Keiko dalam pidato permohonan maafnya.
"Daijoubu desu yo,"
"Enggak apa-apa," akhirnya Sinta pun berbicara dalam bahasa Jepang.
"Iie, yokunai desu. Kore wa hontou ni haji to omottemasu. Hontou ni sumimasen deshita,"
"Enggak. Ini hal yang memalukan. Aku benar-benar minta maaf," kata Keiko.
"Rangga-san kara mo ayamatte,"
"Ayo, Rangga-san juga minta maaf!” tambahnya sambil menoleh ke arah gw.
HAH?
"Ha?! Nande boku mo ayamannakya ikenai no?"
"Lho? Kenapa aku juga harus minta maaf?" sergah gw.
"Rangga-san no tomodachi ga koko ni kuru tte iu koto, atashi ni oshiete kurenakatta kara. Oshietara, konna koto ga okinai to omou. Dakara ayamatte,"
"Rangga-san kan bisa kasih tau aku kalo ada teman Rangga-san yang datang kesini. Kalo ngasih tau, pasti kejadian ini gak akan terjadi. Ayo minta maaf," jelas Keiko.
Hadeuuh...ini anak. Gak abis pikir deh gw.
Ternyata posisi gw dan Keiko bersebelahan ada di satu sisi, bermakna pihak yang bersalah. Sementara Sinta yang ada di hadapan kami ada di sisi lain, sebagai pihak yang tidak bersalah.
"Hayaku ayamatte yo!"
"Ayo minta maaf!” paksa Keiko pada gw.
"Boku wa nan no koto mo shinakatta kara. Nande ayamannakya ikenai wake?"
"Aku kan gak ngelakuin apa-apa. Kenapa aku juga harus minta maaf sih?" sergah gw, tetap gak terima.
"Rangga-san wa atashi ni oshiete kurenakatta kara, rangga-san mo warui yo,"
"Tapi kamu juga salah. Kamu gak ngasih tau aku," ujar Keiko tak mau kalah.
"Kimi wa succhou ga aru shigoto datta darou. Itsuka kaeru no mo wakannai shi,"
"Kamu kan lagi kerja di luar kota. Mana aku tau kamu pulangnya kapan," elak gw.
"LINE de renraku sureba yokatta ja nai,"
"Kamu kan bisa kasih tau aku lewat LINE," Keiko makin tak mau kalah.
"Ma..ma...ii kara,"
"Udah..udah..gak apa-apa kok," Sinta mencoba menengahi.
"Yokunai!!!"
"Enggak!!!” Jawab gw dan Keiko bersamaan.
Sinta kaget.
Gw, yang akhirnya udah bisa mengontrol emosi, mencoba untuk tenang dengan menghela napas dalam-dalam.
Lalu...
"Suimasen deshita,"
"Aku minta maaf," gw membungkuk pada Sinta.
Belum habis ekspresi Sinta yang kaget karena gw dan Keiko yang tadi berselisih, keterkejutannya ditambah lagi dengan gw yang membungkuk padanya.
"Sumimasen deshita,"
"Aku minta maaf," Keiko pun melakukan hal yang sama.
Sekarang ada dua orang yang membungkuk di hadapan Sinta.
Dan Sinta pun makin gak karuan bingungnya.
Gw, Sinta, dan Keiko sedang berada di dalam kamar. Kami bertiga duduk di atas karpet. Gw dan Keiko duduk bersebelahan. Sementara Sinta duduk di hadapan kami berdua, terpisahkan oleh meja kecil.
Setelah gw dan Sinta berpapasan di koridor tadi, gw pun mengajak Sinta kembali ke kamar. Gw jelaskan pada dia bahwa dia gak salah kamar.
Kami pun masuk ke kamar, dan mendapatkan Keiko sedang berada di teras. Dia sedang melihat ke arah jalan raya di hadapannya, sepertinya tidak mengetahui kehadiran kami.
"Keiko,"gw memanggil.
Keiko membalikkan badannya, dan menoleh ke arah gw, lalu pada Sinta.
"Chotto ii?"
"Bisa ngomong sebentar?" gw lanjutkan kata-kata gw.
Melihat gw dan Sinta datang bersamaan seperti ini, sepertinya Keiko paham dengan apa yang baru aja terjadi.
Dan sekarang, inilah kami. Duduk bertiga, dalam situasi yang sangat canggung. Bukan hanya karena kejadian salah paham tadi yang membuat suasana jadi canggung, tapi juga karena posisi kami bertiga sekarang.
Gw dan Keiko duduk bersebelahan, sementara Sinta ada di hadapan kami. Posisi formal seperti ini hanya pernah gw lihat di drama-drama jepang, tapi sekarang gw sendiri yang mengalaminya.
Siapa lagi yang punya ide ini selain Keiko. Ketika dia melihat kami, dia buru-buru merapikan meja kecil, dan mempersilakan kami duduk dengan kaki terlipat ke belakang, persis seperti hendak upacara minum teh (sadou).
Posisi dia, gw, dan Sinta pun dia sendiri yang atur. Kamu sebelah sini, aku sebelah sini, anda sebelah sini, katanya.
Setelah kami duduk di posisi masing-masing, dimulailah prosesi permohonan maaf ala Keiko.
"Sumimasen deshita,"
"Aku minta maaf," Keiko membuka prosesi dengan kata-katanya. Dalam posisi duduk, dia membungkukkan badannya pada Sinta.
Sinta, yang sedari tadi sudah cukup bingung, merasa bertambah canggung dan bingung melihat Keiko membungkuk padanya.
Sinta melihat ke arah gw tanpa berkata-kata. Tatapan matanya seolah meminta penjelasan akan apa yang sedang terjadi, dan apa yang cewek yang ada di hadapannya ini sedang lakukan.
Gw hanya bisa menghela napas melihat tingkah laku Keiko yang seperti ini.
Gw tahu maksud Keiko untuk meminta maaf dengan tulus. Keiko bukanlah orang yang suka bercanda dengan perasaan orang.
Terlebih lagi jika dia melakukan kesalahan, dia pasti akan benar-benar merasa menyesal dan meminta maaf pada orang yang bersangkutan.
Namun, dengan tiba-tiba mengatur semua posisi kami seperti ini, tetap saja membuat siapapun kebingungan.
"Rangga-san no shiriai tte shirimasen deshita,"
"Aku tidak tahu kalau anda kenal dengan Rangga-san," lanjut Keiko dalam pidato permohonan maafnya.
"Daijoubu desu yo,"
"Enggak apa-apa," akhirnya Sinta pun berbicara dalam bahasa Jepang.
"Iie, yokunai desu. Kore wa hontou ni haji to omottemasu. Hontou ni sumimasen deshita,"
"Enggak. Ini hal yang memalukan. Aku benar-benar minta maaf," kata Keiko.
"Rangga-san kara mo ayamatte,"
"Ayo, Rangga-san juga minta maaf!” tambahnya sambil menoleh ke arah gw.
HAH?
"Ha?! Nande boku mo ayamannakya ikenai no?"
"Lho? Kenapa aku juga harus minta maaf?" sergah gw.
"Rangga-san no tomodachi ga koko ni kuru tte iu koto, atashi ni oshiete kurenakatta kara. Oshietara, konna koto ga okinai to omou. Dakara ayamatte,"
"Rangga-san kan bisa kasih tau aku kalo ada teman Rangga-san yang datang kesini. Kalo ngasih tau, pasti kejadian ini gak akan terjadi. Ayo minta maaf," jelas Keiko.
Hadeuuh...ini anak. Gak abis pikir deh gw.
Ternyata posisi gw dan Keiko bersebelahan ada di satu sisi, bermakna pihak yang bersalah. Sementara Sinta yang ada di hadapan kami ada di sisi lain, sebagai pihak yang tidak bersalah.
"Hayaku ayamatte yo!"
"Ayo minta maaf!” paksa Keiko pada gw.
"Boku wa nan no koto mo shinakatta kara. Nande ayamannakya ikenai wake?"
"Aku kan gak ngelakuin apa-apa. Kenapa aku juga harus minta maaf sih?" sergah gw, tetap gak terima.
"Rangga-san wa atashi ni oshiete kurenakatta kara, rangga-san mo warui yo,"
"Tapi kamu juga salah. Kamu gak ngasih tau aku," ujar Keiko tak mau kalah.
"Kimi wa succhou ga aru shigoto datta darou. Itsuka kaeru no mo wakannai shi,"
"Kamu kan lagi kerja di luar kota. Mana aku tau kamu pulangnya kapan," elak gw.
"LINE de renraku sureba yokatta ja nai,"
"Kamu kan bisa kasih tau aku lewat LINE," Keiko makin tak mau kalah.
"Ma..ma...ii kara,"
"Udah..udah..gak apa-apa kok," Sinta mencoba menengahi.
"Yokunai!!!"
"Enggak!!!” Jawab gw dan Keiko bersamaan.
Sinta kaget.
Gw, yang akhirnya udah bisa mengontrol emosi, mencoba untuk tenang dengan menghela napas dalam-dalam.
Lalu...
"Suimasen deshita,"
"Aku minta maaf," gw membungkuk pada Sinta.
Belum habis ekspresi Sinta yang kaget karena gw dan Keiko yang tadi berselisih, keterkejutannya ditambah lagi dengan gw yang membungkuk padanya.
"Sumimasen deshita,"
"Aku minta maaf," Keiko pun melakukan hal yang sama.
Sekarang ada dua orang yang membungkuk di hadapan Sinta.
Dan Sinta pun makin gak karuan bingungnya.
0
Kutip
Balas