- Beranda
- Stories from the Heart
[TRUE STORY] Stupid Romi
...
TS
halberdiers
[TRUE STORY] Stupid Romi
Quote:
Spoiler for Cover:
Spoiler for Soundtrack:
Song by : Rocket Rockers - She's My Cheerleader
PROLOG
23 Oktober 2015.
Hari pertama menulis.
Nama gue Romi. Keturunan Sunda-Arab, tinggi 170cm, atau setidaknya itu yang tercatat di KTP dan SIM gue. Kulit sawo kematengan, alias putih tua. Konflik adalah bagian dari perjalanan hidup gue. Drama ramai mewarnai kisah perjalanan hidup gue. Problematika kehidupan adalah sahabat karib gue.
Tertawa, tersenyum, menangis, termenung, gusar, bisa terjadi kapan saja dalam hidup gue. Tersenyum di pagi hari bisa berubah jadi menangis di waktu jam makan siang. Vice versa. Kesalahan demi kesalahan, kekacauan, kekecewaan, pengkhianatan, ego, cinta dan air mata menjadi sebuah pengalaman yang tidak terlupakan. Bertahun-tahun menjalani kehidupan dengan berat namun pada akhirnya tertawa terbahak-bahak mengingat kebodohan masa muda yang seolah didramatisir itu.
Tapi gue bersyukur sama Tuhan yang benar-benar sayang sama gue. Tuhan mencambuk, menghardik, mendidik dan menganugerahi hidup gue dengan begitu penuh kasih sayangnya. Terima kasih Tuhan atas segala anugerah yang telah Kau berikan padaku. Semua kisah petualangan hidup yang benar-benar gue syukuri, gue belajar untuk bisa survive dari semua problematika kehidupan yang telah Tuhan skenario-kan buat gue. Alhamdulillah puji syukur.
Oh iya hampir gue lupa, semua yang bakal gue ceritain ini 100% bukan hasil imajinasi gue. Tapi 100% kisah hidup gue. Nama pemeran, lokasi kejadian, bukan lah nama yang sebenarnya. Untuk menjaga privasi mereka yang hari ini sudah memiliki masa depan nya masing-masing.
Tujuan gue menulis cerita ini, karena gue sadar banyak kesalahan yang gue lakukan di masa lalu. Kesalahan yang mungkin tidak termaafkan, belum dimaafkan. Gue harap orang-orang yang pernah gue sakiti, atau pernah tersakiti, bisa dan mau memaafkan gue. Dan tentu untuk kembali mengingatkan gue, bahwa sesungguh nya gue ini adalah manusia yang jauh dari sempurna, karena sesungguhnya sempurna adalah hak dari Tuhan Yang Maha Esa, Allah Azza wa Jalla.
Walau sedikit berat gue menceritakan kisah hidup gue, tapi gue berharap bisa jadi pelajaran buat adik-adik gue yang membaca cerita ini, menjadikan pelajaran untuk bisa menghindari kesalahan yang pernah gue buat.
Terima kasih buat istri gue. Terima kasih sudah menerima gue dengan semua keterbatasan yang gue miliki, dengan semua masa lalu gue yang pasti membuat hati istri gue kesal, meringis, simpati, dll. Dan terima kasih sudah mengizinkan gue menuangkan ini semua didalam karya tulis yang seadanya ini.
Tidak lupa Terima kasih yang tidak terbatas untuk kedua orang tua gue, bapak mertua gue, almarhumah ibu mertua gue. Gue sayang sama kalian semua.
Terutama untuk bokap gue. Gue sayang elo. Gue harap elo sadar dengan semua yang terjadi.
“belajar dari perjalanan hidup untuk perjalanan masa depan”
Quote:
Spoiler for Index:
Spoiler for Season 1 (END):
Prolog
Bagian Satu - Mencari Pintu Masa Depan
Bagian Dua - Tak Disangka
Bagian Tiga - Tangis Bahagia
Bagian Empat - "Rumah" Baru Part 1Part 2
Bagian Lima - MOS Part 1 Part 2
Bagian Enam - Ekskul Part 1 Part 2
Bagian Tujuh - Awal Dari Akhir
Bagian Delapan - X-A
------>Mini Chapter 1 - Ikut gak ikut yang penting asik!
------>Mini Chapter 2 - Prolog Kehidupan
------>Mini Chapter 3 - Cewek jutek & cewek rese
------>Mini Chapter 4 - Hockey
------>Mini Chapter 5 - Skenario Langit
------>Mini Chapter 6 - Accident
------>Mini Chapter 7 - Terasa ada yang salah (berbeda)
------>Mini Chapter 8 - Obsesi?
------>Mini Chapter 9 - Kisah Langit, Laut, dan Udara
------>Mini Chapter 10 - Antara Obsesi dan Realita
------>Mini Chapter 11 - Memutuskan untuk memulai
Bagian Sembilan - A New Day
------>Mini Chapter 1 - A New Day
------>Mini Chapter 2 - OSIS
------>Mini Chapter 3 - Kepercayaan
------>Mini Chapter 4 - Road to Limbangan
------>Mini Chapter 5 - Pelatihan OSIS
------>Mini Chapter 6 - Rahasia Malam
A Moment to Remember
------>Mini Chapter 7 - Kadang Cinta butuh Logika
A Pray and Promise for Vonny
------>Mini Chapter 8 - Jadian Massal
Bagian 10 - Never Back Again Part 1 Part 2
Bagian 11 - A Very First Mistake
------>Mini Chapter 1 - Namanya, Anak SMA!
------>Mini Chapter 2 - What's Wrong With These People?
------>Mini Chapter 3 - Friendship and Romance
------>Mini Chapter 4 - A Very First Mistake
------>Mini Chapter 5 - Rahasia
------>Mini Chapter 6 - Epilog
Outro
Spoiler for Season 2:
Bagian Satu - Romi, The Yes Man!
Bagian Dua - Super Sibuk
Bagian Tiga - Second Sins
------>Mini Chapter 1 - Unknown Number
------>Mini Chapter 2 - Namanya, Cemburu!
------>Mini Chapter 3 - First Date's Incident! (17+)
------>Mini Chapter 4 - Laga
------>Mini Chapter 5 - Anti Klimaks
------>Mini Chapter 6 - A Moment Before New Years Eve
------>Mini Chapter 7 - Second Sins (17+)
Bagian Empat - Happy Birthday Sayang! Part 1Part 2 Part 3
Bagian Lima - Transisi
Bagian Enam - More Friends More Story
------>Mini Chapter 1 - More Friends
------>Mini Chapter 2 - Introduction
------>Mini Chapter 3 - Kaka Pembimbing (MOS part 1)
------>Mini Chapter 4 - Cemburu Lagi (MOS part 2)
Quote:
Spoiler for Respect:
Terima kasih untuk senior-senior H2H dan SFTH yang bersedia menyempatkan diri untuk membaca kisah hidup saya, mohon maaf atas segala kekurangan nya. Saya baru pertama posting di kaskus, jadi mohon bimbingan nya jika masih banyak kekurangan, baik dari sisi kerapihan penulisan (maklum penulis amatiran hehe), ataupun kerapihan posting nya (maklum kaskuser newbie hehe). Segala kritik dan saran dengan senang hati saya tunggu.Terima kasih.
Quote:
Spoiler for FAQ:
Q: Cerita real atau fiksi?
A: Real.
Q: Dialog nya?
A: Beberapa yang inget dialog nya asli, yang gak inget dialog nya di improvisasi.
Q: Gak real dong?

A: Ya elah gan kejadian mulai dari 10 tahun yang lalu gituu
. maklum ya hehe. tapi story line nya real banget.Q: Cerita cinta ya gan?
A: Basic nya sih gitu. tapi karena hidup TS sedikit banyak ada pengalaman mistis nya. nanti di update kedepan ada part mistis nya jg.
Q: Kesimpulan?
A: Perjalanan hidup TS sejak 2004-sekarang.
Spoiler for Tambahan:
Tambahan:
Gue berusaha menceritakan dengan santay biar cerita nya bisa terungkap se-detail mungkin.
So, jangan buru-buru pengen klimaks ya. hehehe. STAY TUNED, SUBSCRIBE
, RATE
, dan CENDOL nya yaa. 
Yang terpenting comment nya ya, pendapat, kritik, saran apa aja asal sesuai dengan rules SFTH.
Gue berusaha menceritakan dengan santay biar cerita nya bisa terungkap se-detail mungkin.
So, jangan buru-buru pengen klimaks ya. hehehe. STAY TUNED, SUBSCRIBE
, RATE
, dan CENDOL nya yaa. 
Yang terpenting comment nya ya, pendapat, kritik, saran apa aja asal sesuai dengan rules SFTH.
Diubah oleh halberdiers 25-12-2015 23:18
anasabila memberi reputasi
1
81.2K
Kutip
427
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
halberdiers
#334
Quote:
BAGIAN TIGA - Second Sins
Mini Chapter Part 7 – Second Sins (17+)
“TEEEEEEEEETTTTTT!!!!”
“HOOONKKKKKKKKK!!!”
“A Trompet nya a, cuma 10ribu.”
“Kembang api kembang api, petasan petasan.”
Sore itu jalanan di kota Bandung sudah mulai ramai, terlihat di kiri kanan trotoar banyak penjual trompet dan pernak pernik untuk tahun baru. Penjual kembang api pun ikut menyemarakan suasana menjelang malam tahun baru.
“Yang mau beli terompet?”
“Mauuu hihi.”

“Mang terompet nya satu, yang suara nya paling kenceng.”, kata gue pada penjual terompet.

“Ini a mantap suara nya. 15ribu aja.”

“Tadi katanya 10ribu. Udah 10rb aja harga anak sekolah haha.”, tawar gue.

“20rb dua deh a.”

“Hmmmm ya udah. Kembang api punya gak mang?”
“Ada a. Mau sekalian?”, penjual terompet itu menunjukan koleksi kembang api nya yang ada didalam lemari jualan nya.
“Boleh deh sekalian, kembang api yang panjang itu tiga deh mang.”, kata gue sambil nunjuk kembang api yang berukuran cukup besar dan panjang.
“Jadi pas 50rb a semuanya.”
“Nih mang, nuhun ya.”, kata gue sambil mengeluarkan selembar uang 50ribuan.
“Yu cus pulang yang.”, ajak gue pada Alisha.
“Haiyuuu.”, Alisha dengan wajah sumringah naik ke atas motor.
“Sekarang kita pulang dulu, tar abis Isya aku jemput lagi ya yang.”
“Okee.”
“Dandan yang cantik haha.”
Motor pun melaju pelan menuju rumah Alisha, sambil menikmati ramai nya suasana kota sore itu. Sambil mengobrol santai, Alisha melingkarkan lengan nya di pinggang gue. Kami tertawa, bercanda seolah dunia milik berdua. Tak peduli apa kata orang.
“ALAY!”
Mungkin begitu kira-kira celotehan yang keluar dari mulut gue sekarang, saat gue liat dua sejoli yang masih berseragam putih abu berpacaran di jalanan. Hahaha gak nyadar dulu nya alay juga.
***
“Mam nanti mau ngajak pacar kesini hehe.”
“Iya sok. Jam berapa?”
“Sekarang mau jemput dulu hehe deket kok, masih di daerah sini juga.”
“Euhh pantesan suka mendadak ngilang ke rumah pacar nya yaa.”, sindir nyokap.
“Hehehe. Pergi dulu ya, Assalamualaikum.”
Setelah pamit, gue berangkat menuju rumah Alisha untuk ngejemput doi.
“Tok tok, assalamualaikum.”
"Masuk mi, buka aja pintu nya.”, terdengar suara ibu nya Alisha dari dalam rumah.
“Cekrek”, gue membuka pintu.
“Cie yang mau taun baruan.”

“Hehe iya bu, keluar bentar.”

“Mau kemana rencana nya?”, tanya ibu.
“Jalan-jalan aja liat kembang api bu.”, jawab gue sedikit berbohong, takutnya gak diizinin kalo bilang mau kerumah gue hehehe.
“Icha nya udah siap belom bu?”, tanya gue mengalihkan pembicaraan.
“Tadi sih udah mandi, ga tau deh. Tau sendiri suka lelet anak itu mah.”, jawab ibu.

“…”, Alisha keluar kamar, dengan mengenakan cardigan biru muda dan kaos pendek warna putih, dengan celana jeans warna hitam. Rambut nya diikat.
“Wihhh mau kemana?”, sindir gue.

“Mau jalan-jalan cari cowok wekkk.”

“Ya udah sekalian aku mau cari cewek juga hahaha.”

“Ihhh mama tuh Romi nyaaa.”, Alisha manyun.

“Yeee kamu mah becandain orang, dibecandain balik manyun hahaha.”, kata ibu.

“Hahaha. Ya udah bu, berangkat dulu ya.”, kata gue sambil salim.
“Iya hati-hati ya, awas kalo ditempat rame banyak copet taun baru gini mah.”, pesan ibu.
“Iya bu. Assalamualaikum.”
“Dah mamahhh Assalamualaikum.”
***
“Yang ih aku deg-degan.”

“Kenapa yang?”

“Iya ketemu mama kamu deg-degan. Galak gak mama?”

“Hmmm ya gituuu dehhh hahaha.”

“Ih serius yang.”, wajah Alisha nampak khawatir.

“Iyaa, rada galak emang mama aku mah hahaha. Tenang aja sih gak bakal diomelin juga, tadi aku udah bilang kok mau ngajak pacar hahaha.”
“Cekrek. Assalamualaikum.”, gue membuka pintu rumah gue.
“…”, Alisha masih terdiam didepan pintu.
“Hayu masuk.”, ajak gue.

“Assalamualaikum.”, Alisha memberi salam.
“Walaikumsalam. Sini masuk.”, kata nyokap.
“I… Iya bu.”, jawab Alisha sambil mendekati nyokap terus salim.
“Siapa namanya?”
“Alisha bu.”, jawab Alisha tersenyum manis.

“Pinter cari pacar teh yang putih kamu mah mi haha.”, sindir nyokap.

“Iya lah, masa mau yang item juga haha.”

“…”, Alisha hanya tersenyum tersipu.


“Satu sekolah Alisha?”, lanjut nyokap bertanya.
“Iya bu, sekelas juga.”, jawab Alisha masih dengan senyum manis nya.
“Wah kebetulan, bilangin sama ibu kalo si Romi males atau suka bolos sekolah ya.”
“Hehe iya bu, gak suka sih bu kalo bolos.”

“Kalo males nya?”, tanya nyokap.
“Hehe dikit bu.”

“Ih malu udah punya pacar males disekolah.”, sindir nyokap ke gue.

“Hahaha.”, gue nyengir.

“Eh kayanya pernah kesini ya Alisha? Kapan ya?”, tanya nyokap.

“Iya pernah waktu ambil surat sakit Romi pas kecelakaan, tapi sebentar.”, jelas Alisha.
“Oh iyaa, dari tadi ibu mikir kapan yaa kok kaya pernah ketemu.”
“Ahh pikun si mamah mah hahaha.”, kata gue.

“Ya maklum udah tua haha. Eh udah makan belum Alisha?”, tanya nyokap.
“Udah bu tadi dirumah.”, jawab Alisha malu-malu.
“Boong mah belom makan tuh.”, sela gue.

“Ihh udahh.”

“Ya udah makan lagi aja, tuh ibu masak.”, kata nyokap.
“Widihh masak tumbennn.”, gue balik nyindir nyokap.

“Yee kan ada tamu jadi masak haha.”
“Iya bu nanti gampang hehe.”, Alisha nampak kaku seperti batang pohon, duduk manis tangan nya dilipat rapat diatas paha nya. Selalu ngejawab tiap pertanyaan nyokap dengan sopan dan sambil tersenyum.
“Ya udah nanti ajak Alisha makan ya Mi.”, kata nyokap.
“Okee mams.”
“Ibu tinggal dulu ya, udah ngantuk jam segini juga ibu mah.”, kaya nyokap sambil masuk kamar.
“Eh yang adik kamu mana?”, tanya Alisha.
“Udah tidur biasanya jam segini mah.”
“Masih jam 9 yang, nonton dulu aja ya.”, kata gue sambil menyalakan tivi.
“Ya udah terserah kamu aja.”, kata Alisha.

“Bete gak kamu yang cuma di rumah aja?”, tanya gue.
“Engga ko yanggg.”, kata Alisha nyender di bahu gue.

Setelah beberapa lama menonton tivi,
“Yang ke atas yu ah, bosen.”, kata gue.
“Iya hayu, kamar kamu yang mana yang? Pasti berantakan hahaha.”, ejek Alisha.

“Ya gitu deh hahaha.”, jawab gue sambil mengajak Alisha ke atas dan menunjukan letak kamar gue.
“Cekrek.”, gue buka pintu kamar gue yang mengarah ke balkon.
“Nongkrong disini aja yang.”, ajak gue.
“Ya ampun ini kamar apa kapal pecah yang.”, kata Alisha.
“Hahaha males beres-beres nya yang.”

“Aku beresin ya.”, Alisha menawarkan.
“Ihh gak usah repot-repot yang.”
“Gak apa-apa kok hehe.”, kata Alisha sambil melipat selimut bermotif pembalap favorit gue, Valentino Rossi.
“Ya udah deh gimana kamu aja, makasih ya hehe.”, kata gue sambil duduk dibalkon depan kamar gue.
Beberapa saat kemudian,
“Yang…”
“Yang…”
“Idih kemana tu anak.”, pikir gue.

“…”, gue masuk ke kamar dan ngeliat si Alisha tertidur di kasur gue yang sekarang sudah rapi. Lampu tidur kekuningan ditambah semilir angin membuat suasana sangat nyaman untuk tidur.
“Hadehhh, malah tidur.”

“Yang hey bangunnn.”, kata gue sambil mengusap-usap rambut panjang Alisha.
“Hmmm…”, Alisha menggeliat, cardigan nya tersingkap hingga kaos putih yang ternyata adalah sebuah tanktop itu terlihat.
“Yeeee malah ngenakin posisi.”, kata gue pelan.

“Yang bangun dong bete aku gak ada temen ini.”, kata gue sambil menggoyangkan tubuh Alisha pelan.
“Iya ayanngg, ngantuk aku.”, Alisha berusaha bangun.
“Ini baju benerin.”, kata gue sambil menarik cardigan nya kembali menutupi tanktop putih itu.
“Iyaa..”, Alisha berusaha merapikan kembali cardigan nya.
“Geser yang.”, kata gue sambil berbaring disebelah Alisha.
“…”, Alisha bergeser.
“Gak apa-apa kan?”, tanya gue.
“Ya gak apa-apa, tempat tidur punya kamu ini.”, jawab Alisha.
“Hap.”, gue balik badan sambil memeluk tubuh Alisha.
“Love you yang.”, bisik gue di telinga Alisha.
“Love you too.”, jawab Alisha pelan.
“Kamu beneran sayang sama aku?”, tanya Alisha.
“Iya sayang, kok nanya gitu.”, gue bertanya balik.
“Engga nanya aja.”, Alisha memeluk gue erat, kami berpelukan diatas tempat tidur gue.
“…”, gue narik dagu nya Alisha.
“Muachhhh.”, dan kami pun berciuman mesra, udara dingin dari sela-sela pintu balkon membuat pelukan kami semakin erat.
“Emmpphh.”, Alisha nampak sangat bergairah malam itu. Jemari nya meraba-raba punggung gue.
“…”, gue masih memeluk tubuh Alisha, tersentuh pinggang nya karena cardigan nya kembali tersingkap.
“Muachhhh.”, beberapa lama kami berciuman.
“…”, gue mengarahkan tangan gue ke area yang waktu itu pernah tidak sengaja gue pegang. Kali ini disengaja, karena otak dan tubuh gue sudah dikendalikan sesuatu yang bernama, nafsu.
“…”, Alisha berusaha menahan gerakan tangan gue.
“…”, kali ini gue mundur.
Berselang kemudian, gue melakukan percobaan kedua sambil bibir kami masih berciuman satu sama lain.
“…”, Kali ini Alisha pasrah.
“…”, gue sentuh perlahan area itu dari luar, dan seolah terasa darah mengalir begitu panas dalam tubuh gue.
“Muachhhh.”, ciuman Alisha semakin liar akibat sentuhan itu.
“Yang, udah yang takut ada mama kamu.”, kata Alisha.
“Iya yang sebentarrr.”, gue masih berusaha mencium bibir nya dan semakin mengokohkan pegangan gue.
“Yang plishhhh aku takuttt.”, suara nya bergetar.
“Iya iya maaf yang.”, gue menyudahi semua kegiatan gue itu, dan bangkit ke posisi duduk masih ditempat tidur.
Terlihat pakaian Alisha sedikit berantakan, begitu juga rambut nya.
“…”, Alisha memeluk guling dan berbalik ke arah tembok. Cardigan nya tersingkap, terlihat putih pinggang nya Alisha.
“Yang…”, kata gue pelan.
“Hiks hiks.”, terdengar seperti menangis.

“Yang kamu nangis?”, tanya gue sambil berusaha melihat wajah nya yang ditutupi guling.
“Hiks hiks.”, Alisha tidak menjawab.

“…”, gue memeluk lagi Alisha sambil mengusap rambut nya.
“Maaf yang, aku kebawa suasana.”, kata gue tidak begitu menyesal kali ini.
“Kamu jahat hiks hiks.”, kata Alisha masih menangis.

“Iya maaf yang.”
“Katanya gak akan sekali-kali lagi. Ini malah disengajain. Hiks hiks.”

“Iya aku kebawa suasana yang.”
“…”, kami pun saling diam beberapa lama.
***
“Yang, udah setengah dua belas, ke atas yu.”, ajak gue.
“…”, Alisha bangun dari tempat tidur, kemudian merapikan pakaian dan rambut nya.
“Yang udah atuh jangan marah.”, rayu gue.
“Tau ahh.”, Alisha manyun, seperti nya sudah memaafkan tindakan gue tadi.

“Ihhh jelek manyun gitu haha. Muachh.”, kata gue sambil mengecup bibir merah nya lagi.

“Awas ya kalo sekali-kali lagi.”, gerutu Alisha.

“Mau diapain emang kalo kaya gitu lagi haha?”, tanya gue.

“Liatin aja.”, Alisha cemberut.
“Mau mutusin aku gitu? Hahaha.”, gue menggoda.

“ENGGA! Enak di kamu huhhh.”, gerutu Alisha.

“Emang kamu gak enak gitu yang haha?”, pertanyaan-pertanyaan bodoh dari gue berusaha mencairkan suasana, entah memancing.

“Tau ah. Hayu ke atas liat kembang api.”, Alisha mengalihkan pembicaraan.
Gue pun mengajak Alisha ke atap rumah gue, atau mungkin bisa dibilang lantai 4 dari rumah gue. Setelah menaiki beberapa anak tangga besi, kami tiba di tempat yang gue katakan pada Alisha sebelum nya. Sebuah tempat berukuran sekitar 3x3 meter, dengan dua buah penampungan air, yang disekitar nya dibatasi dinding pengaman setinggi kurang lebih 50 cm.
“Ihhhh bagusss, bisa liat kota Bandung dari sini.”, Alisha terperangah melihat pemandangan dihadapan nya. Rambut panjang nya bergoyang tertiup angin malam khas kota Bandung yang cukup menusuk itu.
“Bagus kannn. Hehehe.”
“Iyaa, kamu sering nongkrong disini yang?”, tanya Alisha.
“Sekali-sekali aja kalo lagi pengen ngerokok hahaha.”, jawab gue jujur.

“Bilangin mama ahhhh.”
“Ih atuh jangan yanggg. Kamu mah tar aku dimarahin.”

“Hahahaha.”, Alisha tertawa.

“Awas jangan pinggir-pinggir yang horror.”, gue memperingatkan.
“Iya ih tinggi banget.”, Alisha bergeser posisi berdiri.
“SLIIINNNNGGGG BOOOOOMMMMM.”, terdengar bunyi kembang api yang seperti nya berjarak tidak begitu jauh dari rumah gue.
“Tuh yang kembang api.”, kata gue sambil menunjuk.
“Iyaaaa bagus yang.”, Alisha kegirangan.

“Kamu baru pertama liat kembang api apa gimana sih yang hahaha.”, kata gue heran ngeliat tingkah pacar gue itu.


“Engga ihhh, ya seneng aja liat nya.”, jawab Alisha sambil terus memandangi kembang api yang mulai ramai dinyalakan.
“Seneng liat kembang api nya atau seneng bareng aku nya? Hahaha.”

“Dua-duanya haha.”

“SLIIINGGGGGG BOOOOMMMMM BOOOOMMMM BOOOOMMMM.”, suara kembang api semakin rapat dan ramai menjelang pergantian tahun.
“TEEETTTTTTTT”, gue tiup terompet.
“Mana terompet aku sini yang.”, pinta Alisha.

“Nih.”, gue memberikan terompet.
“HOOOOONKKKKKKK.”, Alisha meniup terompet, kami pun tertawa bersama.
“Cekrek.”, gue menyalakan korek api dan mengarahkan nya pada sumbu kembang api.
“AWASSS YANGGG.”, teriak gue sambil memegang kembang api itu dan diarah kan keatas.

“Ihhhh ayang awas baha…”

“BOOOMMMM BOOOMMMM BOOOMMMM BOOOOOMMM.”
“Hahahaha seru kan yang.”, kata gue ketawa-ketawa.

“Ih bahaya kamu teh kalo kena tangan gimana.”
“Engga lah yanggg. Eh itu liat kalo arah sana itu, itu gasibu yang.”, kata gue sambil menunjuk ke arah barat.
“Tunggu bentar lagi pasti rame kembang api dari arah sana.”, lanjut gue.
Dan benar saja berselang beberapa saat kemudian,
“BOOOOOOMMMM BOOOOMMMM BOOOOOMMMMM!!!!!”, tiap sudut mata memandang ledakan kembang api di langit kota Bandung saling bersahutan, diiringi suara terompet samar-samar entah dari arah mana.
“…”, gue peluk Alisha dari belakang sambil menikmati kembang api berwarna-warni yang menghiasi langit gelap malam tahun baru.
“…”, Alisha menggenggam erat tangan gue yang ada dipinggang nya.
“HAPPY NEW YEARRR SAYANGGGG.”, teriakan gue terdengar samar diantara ledakan-ledakan kembang api.
“IYAAAAA HAPPY NEW YEAR JUGAAAA.”, Alisha pun berteriak.
Dan sekali lagi diantara letupan bola api berwarna-warni yang menerangi gelap malam tahun baru 2005 itu, kami berciuman di atap rumah gue, disaksikan bintang-bintang dan rembulan. Suasana romantis itu, dalam sekejap mampu membuat gue melupakan sejenak sesosok perempuan yang bernama, Vonny.
bersambung...
efti108 memberi reputasi
1
Kutip
Balas
![[TRUE STORY] Stupid Romi](https://dl.kaskus.id/i1379.photobucket.com/albums/ah148/ernfachmi/Stupid%20Romi_zpsybzs8wcf.jpg)