- Beranda
- Stories from the Heart
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
...
TS
Shadowroad
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Ane mau share novel buatan ane sendiri gan
Novel ane bergenre action, horror, romance, school-life dan supranatural
Inspirasi dapat dari alur game, film, anime, kehidupan, komik, mitologi, legenda dan novel yang pernah ane amati
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Spoiler for Begini gan ceritanya::
Cerita ini tentang seorang remaja dari Jakarta yang keluarganya terbunuh karena kaum vampire. Cowok remaja ini bernama Erik Calendula. Setelah selamat dari bencana yang dibuat kaum vampire, dia lalu memohon pada Arthur Pendragon. Arthur adalah salah satu dari beberapa pemburu vampire yang menyelamatkan Erik. Dibakar oleh tangisan, amarah dan dendam atas kematian keluarganya, Erik meminta Arthur untuk mendidiknya agar menjadi seorang pemburu vampire. Erik berniat menghancurkan organisasi vampire penebar bencana yang menjadi penyebab kematian orang tuanya.
Arthur menyetujui permintaan Erik. Sebelum dididik, Erik dibawa ke markas pemburu vampire di Jakarta yang bernama Knights of the Silver Sword. Lebih singkatnya, organisasi ini biasa disebut Silver Sword. Setelah bergabung dengan Silver Sword dan dibekali pelatihan dari Arthur, karir Erik sebagai pemburu vampire dimulai. Seperti Arthur, Erik juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan listrik.
Arthur menyetujui permintaan Erik. Sebelum dididik, Erik dibawa ke markas pemburu vampire di Jakarta yang bernama Knights of the Silver Sword. Lebih singkatnya, organisasi ini biasa disebut Silver Sword. Setelah bergabung dengan Silver Sword dan dibekali pelatihan dari Arthur, karir Erik sebagai pemburu vampire dimulai. Seperti Arthur, Erik juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan listrik.
Spoiler for Daftar Isi:
Prolog: Hotel Indonesia
Part 1: Arthur Datang Menjenguk
Part 2: Sekolah
Part 3: Kekuatan Dietrich
Part 4: Amanda Myrna
Part 5: Kisah Raja Arthur
Part 6: Pelabuhan
Part 7: Ghoul
Part 8: Bersembunyi di Rumah Kosong
Part 9: Amanda sang Pembunuh
Part 10: Lightning Versus Sand
Part 11: Kematian Rudy
Part 12: Rumah Sakit
Part 13: Teman Sekelas
Part 14: Kunjungan Mario dan Maya
Part 15: Cerita di Malam Hari
Part 16: Serangan Vampire
Part 17: Sungai Kapuas
Part 18: Kelompok Elena Versus Taiyou no Kishi
Part 19: Lantai Tiga
Part 20: Maya Versus Callista
Part 21: Lantai Dua
Part 22: Serangan Balik
Part 23: Kekuatan Callista
Part 24: Rumah Bergaya Belanda
Part 25: Immortals
Part 26: Empat Pertanyaan
Part 27: Der Schwarze Stein
Part 28: Mantra Deprehensio
Part 29: Kelompok Elena Versus Si Ekor Kalajengking
Part 30: Kolam-kolam Air
Part 31: Hydromancer Magnus
Part 32: Sepulang Sekolah
Part 33: Mall Kemang
Part 34: Korban Vampire
Part 35: Chibi, Chernov dan Minsk
Part 36: Pengejaran
Part 37: Tim Erik dan Tim Maul Versus Geng James Wood
Part 37.1: Hutan Ilusi
Part 37.2: Eyes of Markmanship
Part 37.3: Sand Versus Fire
Part 37.4: Pedang dan Tameng Es
Part 37.5: Maul dan Vira Versus James Wood
Part 38: Arthur Versus Lu Bu
Part 39: Agen Ganda
Part 40: Rumah Darkwing Bersaudara
Part 41: Tiga Produk
Part 42: Di Perbatasan Uni Soviet
Part 42.1: Diego Versus Dragovich
Part 43: FlyHigh
Part 44: Pecandu dari Pluit's Boat
Part 45: Kartel Ching Yan
Part 46: Ervan Versus Werewolf
Part 47: Berlindung di Balik Mobil
Part 48: Marga Asakura
Part 49: Hantu di Rumah Amanda
Part 50: Emmy Merah
Part 51: Pisau Dapur yang Melayang
Part 52: Lantai Dua
Part 53: Tim Sandra dan Dua Emmy
Part 54: Elektrokimia
Part 55: Aswatama
Part 56: Erik, Dietrich, Amanda Versus Arthur
Part 57: Erik, Dietrich, Amanda Versus Aswatama
Part 58: Napoleon Bonaparte dan Timnya
Part 59: Melacak
Part 60: Arthur Versus Jie Xiong
Part 61: Penyelamatan Professor Vaugh
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Part 1: Arthur Datang Menjenguk
Part 2: Sekolah
Part 3: Kekuatan Dietrich
Part 4: Amanda Myrna
Part 5: Kisah Raja Arthur
Part 6: Pelabuhan
Part 7: Ghoul
Part 8: Bersembunyi di Rumah Kosong
Part 9: Amanda sang Pembunuh
Part 10: Lightning Versus Sand
Part 11: Kematian Rudy
Part 12: Rumah Sakit
Part 13: Teman Sekelas
Part 14: Kunjungan Mario dan Maya
Part 15: Cerita di Malam Hari
Part 16: Serangan Vampire
Part 17: Sungai Kapuas
Part 18: Kelompok Elena Versus Taiyou no Kishi
Part 19: Lantai Tiga
Part 20: Maya Versus Callista
Part 21: Lantai Dua
Part 22: Serangan Balik
Part 23: Kekuatan Callista
Part 24: Rumah Bergaya Belanda
Part 25: Immortals
Part 26: Empat Pertanyaan
Part 27: Der Schwarze Stein
Part 28: Mantra Deprehensio
Part 29: Kelompok Elena Versus Si Ekor Kalajengking
Part 30: Kolam-kolam Air
Part 31: Hydromancer Magnus
Part 32: Sepulang Sekolah
Part 33: Mall Kemang
Part 34: Korban Vampire
Part 35: Chibi, Chernov dan Minsk
Part 36: Pengejaran
Part 37: Tim Erik dan Tim Maul Versus Geng James Wood
Part 37.1: Hutan Ilusi
Part 37.2: Eyes of Markmanship
Part 37.3: Sand Versus Fire
Part 37.4: Pedang dan Tameng Es
Part 37.5: Maul dan Vira Versus James Wood
Part 38: Arthur Versus Lu Bu
Part 39: Agen Ganda
Part 40: Rumah Darkwing Bersaudara
Part 41: Tiga Produk
Part 42: Di Perbatasan Uni Soviet
Part 42.1: Diego Versus Dragovich
Part 43: FlyHigh
Part 44: Pecandu dari Pluit's Boat
Part 45: Kartel Ching Yan
Part 46: Ervan Versus Werewolf
Part 47: Berlindung di Balik Mobil
Part 48: Marga Asakura
Part 49: Hantu di Rumah Amanda
Part 50: Emmy Merah
Part 51: Pisau Dapur yang Melayang
Part 52: Lantai Dua
Part 53: Tim Sandra dan Dua Emmy
Part 54: Elektrokimia
Part 55: Aswatama
Part 56: Erik, Dietrich, Amanda Versus Arthur
Part 57: Erik, Dietrich, Amanda Versus Aswatama
Part 58: Napoleon Bonaparte dan Timnya
Part 59: Melacak
Part 60: Arthur Versus Jie Xiong
Part 61: Penyelamatan Professor Vaugh
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Gan, setelah baca mohon komennya, ya
Ane sangat menerima kritik dan saran
Pertanyaan juga sangat dianjurkan, supaya agan2 dapat lebih memahami cerita yang rumit ini
Kalau terjadi kesalahan seperti tanda baca, kurang jelas, ketidak konsistenan cerita mohon diingatkan ya gan
Terima kasih gan
Diubah oleh Shadowroad 26-11-2017 06:31
2
87K
Kutip
544
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Shadowroad
#221
Part 34: Korban Vampire
Maaf gan apdetannya baru muncul hari senin. Apdetan ini diitung apdetan minggu kemarin.
Spoiler for Part 34: Korban Vampire:
Mereka bertiga sekarang menunggu lift untuk turun ke lantai satu. Ketika menunggu, tiba-tiba ponsel Audrey berdering sehingga membuatnya harus menjauh dulu untuk menjawab panggilan. Di saat itulah Erik menggunakan kesempatannya untuk bertanya pada Amanda.
Lift sudah sampai dan terbuka. Amanda memanggil Audrey. Audrey segera menutup ponselnya dan berlari menghampiri Amanda. Amanda yang tak ingin menjawab pertanyaan Erik, segera meremas bahu Erik dan mendorong pengendali listrik itu masuk ke lift.
Di dalam lift, mereka bertiga hanya terdiam. Audrey dan Amanda sibuk bergosip lagi. Sementara Erik sengaja tidak bertanya pada Amanda lagi karena selain ada Audrey, juga karena ada tiga orang lain di dalam. Perlahan, Erik merasakan dirinya mulai mengantuk dan diapun menguap.
Erik, Amanda dan Audrey sudah sampai di lantai satu dan segera berjalan ke tempat parkir. Di tempat parkir, perhatian mereka tertuju pada keramaian di sudut area parkir. Didorong rasa penasaran, mereka bertiga berjalan menuju ke kerumunan orang-orang itu. Rasa penasaran mereka bertambah ketika ada beberapa polisi mulai berdatangan. Tak mampu menjangkau penyebab keramaian ini, Erik bertanya pada salah seorang polisi yang berdiri di samping Erik.
Maulana Putranto adalah anggota Silver Sword di bawah bagian intelijen yang juga bekerja di kepolisian. Tugasnya adalah melacak para vampire yang meminum darah manusia seenaknya sendiri seperti saat ini. Untuk menutupi identitasnya sebagai seorang vampire hunter, dia aktif menyelesaikan berbagai masalah yang ada di kepolisian. Kemampuannya adalah mengendalikan listrik seperti Erik ditambah dengan kemampuan beast master. Hewan peliharaannya adalah dua ekor serigala dan seekor anjing.
Pria berkacamata tebal itu melirik Amanda dan Audrey sejenak karena berpikiran bahwa dua gadis ini adalah orang biasa. Lana mengetukkan dua jari ke lehernya dan membuat garis horizontal imajiner di leher Erik. Erik langsung mengangguk paham dan berbalik menghampiri Amanda dan Audrey.
Setelah bersalaman dengan Audrey, Erik kembali menghampiri polisi bernama Maul. Mereka mulai membicarakan ‘pembunuhan’ ini. Erik dan Maul bersandar di sebuah mobil sambil menyaksikan penyelidikan yang dilakukan oleh polisi.
Para polisi terlihat sangat sibuk dan berusaha membagi tugas. Beberapa polisi memasang garis polisi. Sementara yang lain sedang menginspeksi korban vampire yang menyedihkan. Lalu ada juga yang berbicara dengan wartawan-wartawan dari media lokal. Sebuah mobil polisi datang dengan sirinenya. Dua orang polisi keluar dari mobil itu, memasuki garis polisi dan mulai mengamati korban vampire. Hanya suara sirinenya yang dimatikan. Sedangkan lampunya yang berwarna merah dan biru itu tetap aktif.
Erik menempelkan ponsel di telinganya. Cukup menunggu tujuh detik untuk mendapatkan respon dari Dietrich. Blasteran Jerman itu berbicara dengan mulut penuh makanan.
Dari kejauhan, terlihatlah seorang gadis yang berlari ke arah Erik. Erik memperhatikan gadis itu. Bukan Amanda tentunya karena gadis yang berlari itu memakai pakaian putih khas dokter. Setelahnya jaraknya dekat, Erik baru mengenali bahwa gadis dokter ini adalah Niken Nikita. Seorang mahasiswi kedokteran yang juga anggota Paladin dari Divisi Medis. Erik mengenal Nikan saat peristiwa RS Lotus.
Erik tetap bersandar di mobil sambil melihat Maul dan Niken berjalan menembus kerumunan. Mereka merunduk melewati garis polisi. Setelah pembicaraan singkat dengan pimpinannya, Maul meninggalkan adiknya bekerja. Maul segera kembali ke tempat Erik. Pada saat yang bersamaan Amanda juga sudah kembali. Erik mengenalkan Amanda pada Maul.
Quote:
“Bagaimana pengendalian esmu berperan untuk mengakali mesin boneka yang menyebalkan tadi?” tanya Erik.
“Mudah saja,” bisik Amanda, “Aku membekukan ujung atas boneka tadi dengan mesinnya di sudut yang Audrey tidak mungkin melihatnya.”
“Pantas saja dia terkagum-kagum begitu.”
Setelah melirik Audrey yang masih mengobrol melalui ponselnya, Amanda bertanya pada Erik, “Menurutmu Audrey bagaimana?”
“Bagaimana apanya?”
“Ya … misalnya … sifatnya atau wajahnya … kelebihan atau kelemahannya … yah, kira-kira begitu …,” jawab Amanda.
“Wajahnya menurutku cantik. Sifat yang merupakan kelebihannya dia lumayan keibuan dan kekurangannya adalah galak.”
“Hanya itu?”
Erik mengangkat sebelah alisnya, “Yaaa … dia memang begitu … apa jawabanku aneh? Tunggu … kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal ini?”
“Kau tadi bertanya. Tidak adil jadinya jika aku tidak bertanya.”
“Bukan itu maksudku. Kenapa kau menyakan hal tentang Audrey?”
“Mudah saja,” bisik Amanda, “Aku membekukan ujung atas boneka tadi dengan mesinnya di sudut yang Audrey tidak mungkin melihatnya.”
“Pantas saja dia terkagum-kagum begitu.”
Setelah melirik Audrey yang masih mengobrol melalui ponselnya, Amanda bertanya pada Erik, “Menurutmu Audrey bagaimana?”
“Bagaimana apanya?”
“Ya … misalnya … sifatnya atau wajahnya … kelebihan atau kelemahannya … yah, kira-kira begitu …,” jawab Amanda.
“Wajahnya menurutku cantik. Sifat yang merupakan kelebihannya dia lumayan keibuan dan kekurangannya adalah galak.”
“Hanya itu?”
Erik mengangkat sebelah alisnya, “Yaaa … dia memang begitu … apa jawabanku aneh? Tunggu … kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal ini?”
“Kau tadi bertanya. Tidak adil jadinya jika aku tidak bertanya.”
“Bukan itu maksudku. Kenapa kau menyakan hal tentang Audrey?”
Lift sudah sampai dan terbuka. Amanda memanggil Audrey. Audrey segera menutup ponselnya dan berlari menghampiri Amanda. Amanda yang tak ingin menjawab pertanyaan Erik, segera meremas bahu Erik dan mendorong pengendali listrik itu masuk ke lift.
Quote:
“Sudah, sudah. Ayo segera pulang. Keburu malam, lho,” kata Amanda.
Di dalam lift, mereka bertiga hanya terdiam. Audrey dan Amanda sibuk bergosip lagi. Sementara Erik sengaja tidak bertanya pada Amanda lagi karena selain ada Audrey, juga karena ada tiga orang lain di dalam. Perlahan, Erik merasakan dirinya mulai mengantuk dan diapun menguap.
Quote:
Amanda memukul perut Erik, “Tutup mulutmu yang menganga seperti kuda nil itu, Rik.”
Erik, Amanda dan Audrey sudah sampai di lantai satu dan segera berjalan ke tempat parkir. Di tempat parkir, perhatian mereka tertuju pada keramaian di sudut area parkir. Didorong rasa penasaran, mereka bertiga berjalan menuju ke kerumunan orang-orang itu. Rasa penasaran mereka bertambah ketika ada beberapa polisi mulai berdatangan. Tak mampu menjangkau penyebab keramaian ini, Erik bertanya pada salah seorang polisi yang berdiri di samping Erik.
Quote:
“Maaf, Pak,” kata Erik pada seorang pria berseragam polisi yang juga berada di kerumunan itu.
“Ya, nak?” polisi yang ditanya Erik menoleh.
Erik sangat mengenali polisi berkacamata tebal ini. Erik langsung berkata, “Kak Maul?”
“Ya, nak?” polisi yang ditanya Erik menoleh.
Erik sangat mengenali polisi berkacamata tebal ini. Erik langsung berkata, “Kak Maul?”
Maulana Putranto adalah anggota Silver Sword di bawah bagian intelijen yang juga bekerja di kepolisian. Tugasnya adalah melacak para vampire yang meminum darah manusia seenaknya sendiri seperti saat ini. Untuk menutupi identitasnya sebagai seorang vampire hunter, dia aktif menyelesaikan berbagai masalah yang ada di kepolisian. Kemampuannya adalah mengendalikan listrik seperti Erik ditambah dengan kemampuan beast master. Hewan peliharaannya adalah dua ekor serigala dan seekor anjing.
Quote:
“Erik? Apa yang kau lakukan di sini?” kata pria berkacamata tebal ini.
“Aku sedang berjalan-jalan dengan teman-temanku,” jawab Erik, “Sebenarnya ada apa di sini?”
“Aku sedang berjalan-jalan dengan teman-temanku,” jawab Erik, “Sebenarnya ada apa di sini?”
Pria berkacamata tebal itu melirik Amanda dan Audrey sejenak karena berpikiran bahwa dua gadis ini adalah orang biasa. Lana mengetukkan dua jari ke lehernya dan membuat garis horizontal imajiner di leher Erik. Erik langsung mengangguk paham dan berbalik menghampiri Amanda dan Audrey.
Quote:
“Siapa polisi itu, Erik?” tanya Audrey.
“Temanku. Lebih tepatnya teman bermain futsal,” jawab Erik.
“Ada apa di sana?” tanya Amanda yang pandangannya terus menatap kerumunan.
“Pembunuhan, teman-teman,” kata Erik, “Dengan leher tergorok.”
“Berani sekali dilakukan di tempat terbuka seperti ini,” komentar Audrey yang langsung menutupi mulutnya karena menguap.
“Mau mendekat ke sana?” Amanda menawari Audrey.
“Inginku sih begitu. Tapi aku sudah mengantuk jadinya aku pulang saja, Amanda,” kata Audrey yang memandang Erik dan Amanda, “Kalian bagaimana? Masih tetap di sini atau pulang?”
“Kami tetap di sini saja,” kata Erik yang langsung melirik Amanda, “Amanda, kumohon, sebentar saja. Temani aku.”
Amanda melihat ponselnya sebentar untuk melihat jam. Dia berpikir sejenak lalu berkata, “Baiklah. Tapi aku ingin menemani Audrey ke sepeda motornya dulu.”
Erik tersenyum puas, “Boleh.”
“Temanku. Lebih tepatnya teman bermain futsal,” jawab Erik.
“Ada apa di sana?” tanya Amanda yang pandangannya terus menatap kerumunan.
“Pembunuhan, teman-teman,” kata Erik, “Dengan leher tergorok.”
“Berani sekali dilakukan di tempat terbuka seperti ini,” komentar Audrey yang langsung menutupi mulutnya karena menguap.
“Mau mendekat ke sana?” Amanda menawari Audrey.
“Inginku sih begitu. Tapi aku sudah mengantuk jadinya aku pulang saja, Amanda,” kata Audrey yang memandang Erik dan Amanda, “Kalian bagaimana? Masih tetap di sini atau pulang?”
“Kami tetap di sini saja,” kata Erik yang langsung melirik Amanda, “Amanda, kumohon, sebentar saja. Temani aku.”
Amanda melihat ponselnya sebentar untuk melihat jam. Dia berpikir sejenak lalu berkata, “Baiklah. Tapi aku ingin menemani Audrey ke sepeda motornya dulu.”
Erik tersenyum puas, “Boleh.”
Setelah bersalaman dengan Audrey, Erik kembali menghampiri polisi bernama Maul. Mereka mulai membicarakan ‘pembunuhan’ ini. Erik dan Maul bersandar di sebuah mobil sambil menyaksikan penyelidikan yang dilakukan oleh polisi.
Para polisi terlihat sangat sibuk dan berusaha membagi tugas. Beberapa polisi memasang garis polisi. Sementara yang lain sedang menginspeksi korban vampire yang menyedihkan. Lalu ada juga yang berbicara dengan wartawan-wartawan dari media lokal. Sebuah mobil polisi datang dengan sirinenya. Dua orang polisi keluar dari mobil itu, memasuki garis polisi dan mulai mengamati korban vampire. Hanya suara sirinenya yang dimatikan. Sedangkan lampunya yang berwarna merah dan biru itu tetap aktif.
Quote:
“Aku tadi melihat seorang vampire yang bernama Callista di mall,” kata Erik, “Jangan-jangan … apakah dia …”
“Oh, vampire pengendali api itu? Bisa jadi, Erik. Semua memiliki kemungkinan,” kata Maul, “Jam berapa kau melihatnya?”
“Sekitar satu jam yang lalu.”
“Kau menganggur, kan? Bantu aku. Kita akan segera melacak vampire ini.”
“Tentu saja, Kak Maul. Kak, salah satu dari temanku tadi adalah anggota Silver Sword seperti kita. Habis ini dia kemari. Pengendali es yang cukup hebat.”
“Cantik-cantik begitu?”
Erik mendengus, “Iya, memang cantik. Tapi bukan cantiknya yang kutekankan. Dasar jomblo.”
“Sialan!” Maul tertawa, “Kau sendiri juga jomblo kan? Berani sekali jomblo teriak jomblo?”
“Sebentar, akan kupanggil temanku yang satu lagi,” kata Erik sambil merogoh saku untuk mengambil ponselnya.
“Kali ini pengendali apa?”
Erik menjawab pertanyaan Maul sambil mencari kontak Dietrich di ponselnya, “Memiliki mata ilusi, melakukan pengendalian api sedikit, kemampuan menembak yang hebat dan …”
“Segera panggil dia, Erik!” perintah Maul dengan senyum lebar.
“Oh, vampire pengendali api itu? Bisa jadi, Erik. Semua memiliki kemungkinan,” kata Maul, “Jam berapa kau melihatnya?”
“Sekitar satu jam yang lalu.”
“Kau menganggur, kan? Bantu aku. Kita akan segera melacak vampire ini.”
“Tentu saja, Kak Maul. Kak, salah satu dari temanku tadi adalah anggota Silver Sword seperti kita. Habis ini dia kemari. Pengendali es yang cukup hebat.”
“Cantik-cantik begitu?”
Erik mendengus, “Iya, memang cantik. Tapi bukan cantiknya yang kutekankan. Dasar jomblo.”
“Sialan!” Maul tertawa, “Kau sendiri juga jomblo kan? Berani sekali jomblo teriak jomblo?”
“Sebentar, akan kupanggil temanku yang satu lagi,” kata Erik sambil merogoh saku untuk mengambil ponselnya.
“Kali ini pengendali apa?”
Erik menjawab pertanyaan Maul sambil mencari kontak Dietrich di ponselnya, “Memiliki mata ilusi, melakukan pengendalian api sedikit, kemampuan menembak yang hebat dan …”
“Segera panggil dia, Erik!” perintah Maul dengan senyum lebar.
Erik menempelkan ponsel di telinganya. Cukup menunggu tujuh detik untuk mendapatkan respon dari Dietrich. Blasteran Jerman itu berbicara dengan mulut penuh makanan.
Quote:
“Hai Erik, bagaimana kencanmu?” kata Dietrich yang diikuti dengan tawanya.
Erik pun tertawa, “Lancar, Dietrich. Hei, kemarilah, apakah kau sedang sibuk? Bagaimana kerja kelompokmu?”
“Sudah selesai tiga jam yang lalu dan saat ini aku sedang bosan. Memangnya ada apa di sana?”
“Ada vampire yang menghisap darah di parkiran Mall Kemang. Lumayan buat obat bosanmu. Di sini juga ada Amanda.”
“Aku segera ke sana, Erik,” kata Dietrich yang segera menutup teleponnya.
“Temanku akan segera ke sini,” kata Erik pada Maul.
“Bagus. Ini akan membuat semuanya semakin lebih mudah. Timku dari Silver Sword juga akan ke sini.”
Erik pun tertawa, “Lancar, Dietrich. Hei, kemarilah, apakah kau sedang sibuk? Bagaimana kerja kelompokmu?”
“Sudah selesai tiga jam yang lalu dan saat ini aku sedang bosan. Memangnya ada apa di sana?”
“Ada vampire yang menghisap darah di parkiran Mall Kemang. Lumayan buat obat bosanmu. Di sini juga ada Amanda.”
“Aku segera ke sana, Erik,” kata Dietrich yang segera menutup teleponnya.
“Temanku akan segera ke sini,” kata Erik pada Maul.
“Bagus. Ini akan membuat semuanya semakin lebih mudah. Timku dari Silver Sword juga akan ke sini.”
Dari kejauhan, terlihatlah seorang gadis yang berlari ke arah Erik. Erik memperhatikan gadis itu. Bukan Amanda tentunya karena gadis yang berlari itu memakai pakaian putih khas dokter. Setelahnya jaraknya dekat, Erik baru mengenali bahwa gadis dokter ini adalah Niken Nikita. Seorang mahasiswi kedokteran yang juga anggota Paladin dari Divisi Medis. Erik mengenal Nikan saat peristiwa RS Lotus.
Quote:
“Lho, Erik, kan?” kata Niken pada Erik.
“Kak Niken, bagaimana kabarnya? Sudah sebulan, ya, sejak peristiwa itu?”
Niken tersenyum pada Erik, “Aku sehat saja. Luka-luka yang kudapat waktu peristiwa itu juga sudah sembuh semua.”
“Kalian saling kenal?” kata Maul sambil menunjuk Erik dan Niken bergantian, “Sejak kapan? ‘Peristiwa itu’ maksudnya peristiwa RS Lotus?”
Niken mengangguk, “Benar. Kami waktu itu melawan Callista. Namun tetap saja dia begitu tangguh.”
“Tunggu,” kali ini giliran Erik yang menunjuk Niken dan Maul bergantian, “Kalian saling kenal?”
“Dia adikku,” jawab Maul.
“Nah, sekarang aku akan bekerja dulu untuk menangani korban vampire ini,” kata Niken sambil tersenyum, “Setelah ini teman-temanku dari Divisi Medis Silver Swordakan segera datang.”
“Sebentar, Erik,” kata Maul, “Aku akan mengenalkan Niken pada pimpinan.”
“Kak Niken, bagaimana kabarnya? Sudah sebulan, ya, sejak peristiwa itu?”
Niken tersenyum pada Erik, “Aku sehat saja. Luka-luka yang kudapat waktu peristiwa itu juga sudah sembuh semua.”
“Kalian saling kenal?” kata Maul sambil menunjuk Erik dan Niken bergantian, “Sejak kapan? ‘Peristiwa itu’ maksudnya peristiwa RS Lotus?”
Niken mengangguk, “Benar. Kami waktu itu melawan Callista. Namun tetap saja dia begitu tangguh.”
“Tunggu,” kali ini giliran Erik yang menunjuk Niken dan Maul bergantian, “Kalian saling kenal?”
“Dia adikku,” jawab Maul.
“Nah, sekarang aku akan bekerja dulu untuk menangani korban vampire ini,” kata Niken sambil tersenyum, “Setelah ini teman-temanku dari Divisi Medis Silver Swordakan segera datang.”
“Sebentar, Erik,” kata Maul, “Aku akan mengenalkan Niken pada pimpinan.”
Erik tetap bersandar di mobil sambil melihat Maul dan Niken berjalan menembus kerumunan. Mereka merunduk melewati garis polisi. Setelah pembicaraan singkat dengan pimpinannya, Maul meninggalkan adiknya bekerja. Maul segera kembali ke tempat Erik. Pada saat yang bersamaan Amanda juga sudah kembali. Erik mengenalkan Amanda pada Maul.
Quote:
“Ngomong-ngomong, Kak Maul, bagaimana jika korban vampire ini menjadi vampire?”
“Kemungkinannya ada tiga, Erik … Eh, tunggu, apa kau tak tahu soal tiga kemungkinan itu?”
Erik menggeleng, “Yang kutahu hanya bertarung dan membunuh.”
“Jangan kaget, Kak Maul, dia memang minim informasi,” kata Amanda.
Maul memandang Amanda dengan mulut mengang, “Benarkah?”
Amanda tersenyum dan mengangguk, “Yang ada di kepalanya hanya bertarung dan membunuh.”
“Kau sepertinya hanya niat belajar jika berkaitan dengan pertempuran dengan vampire, ya, Erik? Baiklah, kujelaskan,” kata Maul, “Seorang manusia yang menjadi korban vampire memiliki tiga kemungkinan. Tiga kemungkinan itu adalah tetap menjadi manusia, mati atau menjadi vampire. Dari tiga kemungkinan itu, memiliki gejala awal yang sama yaitu detak jantung dan denyut nadi yang amat rendah. Sehingga kau benar-benar mengiranya bahwa korban telah mati. Jangankan manusia, elektrokardiograf saja nyaris tidak mampu membacanya. Fase ini disebut fase transformasi. Disebut fase transformasi karena saat itulah racun vampire berusaha mengubah korban.”
“Jadi, ada kemungkinan kalau korban itu …,” kata Erik.
“Ya. Masih hidup. Karena itulah aku memanggil Divisi Medis dari Paladin dan Silver Sword. Dengan kemampuan biokinesis, mereka mampu merasakan detak yang amat rendah. Baiklah akan kujelaskan tiga kemungkinannya. Sebisaku saja, ya?
“Kemungkinan pertama terjadi karena tubuhnya cenderung resistan terhadap zat-zat yang ada terkandung dalam gigi vampire. Zat-zat yang dianggap beracun itu gagal beradaptasi dan langsung dibasmi oleh tubuh. Biasanya korban akan muntah atau buang air besar berlebihan begitu melewati fase transformasi. Tubuh korban membuang semua racun yang ada.
“Kemungkinan kedua terjadi karena adanya ketidak cocokan pada sel … jaringan … atau darah, ya? Sebenarnya aku lupa, tapi intinya karena adanya ketidak cocokan. Zat-zat vampire yang gagal ini tetap mengendap dalam tubuh. Zat-zat inilah yang mengakibatkan berbagai macam penyakit. Untungnya penyakitnya bukan penyakit yang menular. Memang ada beberapa korban vampire yang terlihat baik-baik saja setelah melewati fase transformasi. Tapi, tetap saja racun-racun yang mengendap itu seperti bom waktu yang suatu saat bisa membunuh korban vampire. Informasi yang kudapat, korban vampire yang termasuk kemungkinan kedua ini minimal bertahan selama 24 jam setelah masa transformasi dan maksimal setahun.
“Kemungkinan ketiga adalah kecocokan antara racun dengan tubuh korban. Mudah saja menjelaskannya. Racun dan bakteri berhasil beradaptasi dan mengubah tubuh manusia menjadi vampire. Fase transformasinya memang lebih lama daripada kemungkinan satu dan dua. Karena itulah banyak orang langsung menguburkan saudara yang menjadi korban vampire karena dikira sudah mati. Kondisi korban benar-benar sempurna. Maksudnya sempurna adalah terlihat tanpa nafas, tanpa denyut dan tanpa detak jantung. Biasanya, korban vampire yang ada dalam kendali Silver Sword langsung dihancurkan jantungnya begitu fase transformasinya lebih lama dari kemungkinan satu dan dua."
“Kemungkinannya ada tiga, Erik … Eh, tunggu, apa kau tak tahu soal tiga kemungkinan itu?”
Erik menggeleng, “Yang kutahu hanya bertarung dan membunuh.”
“Jangan kaget, Kak Maul, dia memang minim informasi,” kata Amanda.
Maul memandang Amanda dengan mulut mengang, “Benarkah?”
Amanda tersenyum dan mengangguk, “Yang ada di kepalanya hanya bertarung dan membunuh.”
“Kau sepertinya hanya niat belajar jika berkaitan dengan pertempuran dengan vampire, ya, Erik? Baiklah, kujelaskan,” kata Maul, “Seorang manusia yang menjadi korban vampire memiliki tiga kemungkinan. Tiga kemungkinan itu adalah tetap menjadi manusia, mati atau menjadi vampire. Dari tiga kemungkinan itu, memiliki gejala awal yang sama yaitu detak jantung dan denyut nadi yang amat rendah. Sehingga kau benar-benar mengiranya bahwa korban telah mati. Jangankan manusia, elektrokardiograf saja nyaris tidak mampu membacanya. Fase ini disebut fase transformasi. Disebut fase transformasi karena saat itulah racun vampire berusaha mengubah korban.”
“Jadi, ada kemungkinan kalau korban itu …,” kata Erik.
“Ya. Masih hidup. Karena itulah aku memanggil Divisi Medis dari Paladin dan Silver Sword. Dengan kemampuan biokinesis, mereka mampu merasakan detak yang amat rendah. Baiklah akan kujelaskan tiga kemungkinannya. Sebisaku saja, ya?
“Kemungkinan pertama terjadi karena tubuhnya cenderung resistan terhadap zat-zat yang ada terkandung dalam gigi vampire. Zat-zat yang dianggap beracun itu gagal beradaptasi dan langsung dibasmi oleh tubuh. Biasanya korban akan muntah atau buang air besar berlebihan begitu melewati fase transformasi. Tubuh korban membuang semua racun yang ada.
“Kemungkinan kedua terjadi karena adanya ketidak cocokan pada sel … jaringan … atau darah, ya? Sebenarnya aku lupa, tapi intinya karena adanya ketidak cocokan. Zat-zat vampire yang gagal ini tetap mengendap dalam tubuh. Zat-zat inilah yang mengakibatkan berbagai macam penyakit. Untungnya penyakitnya bukan penyakit yang menular. Memang ada beberapa korban vampire yang terlihat baik-baik saja setelah melewati fase transformasi. Tapi, tetap saja racun-racun yang mengendap itu seperti bom waktu yang suatu saat bisa membunuh korban vampire. Informasi yang kudapat, korban vampire yang termasuk kemungkinan kedua ini minimal bertahan selama 24 jam setelah masa transformasi dan maksimal setahun.
“Kemungkinan ketiga adalah kecocokan antara racun dengan tubuh korban. Mudah saja menjelaskannya. Racun dan bakteri berhasil beradaptasi dan mengubah tubuh manusia menjadi vampire. Fase transformasinya memang lebih lama daripada kemungkinan satu dan dua. Karena itulah banyak orang langsung menguburkan saudara yang menjadi korban vampire karena dikira sudah mati. Kondisi korban benar-benar sempurna. Maksudnya sempurna adalah terlihat tanpa nafas, tanpa denyut dan tanpa detak jantung. Biasanya, korban vampire yang ada dalam kendali Silver Sword langsung dihancurkan jantungnya begitu fase transformasinya lebih lama dari kemungkinan satu dan dua."
0
Kutip
Balas