Jeritan Malam (ketika keindahan menjadi sebuah ketakutan)
TS
meta.morfosis
Jeritan Malam (ketika keindahan menjadi sebuah ketakutan)
pernahkan agan merinding disuatu tempat, merasakan kehadiran seseorang yang menurut agan hanya merupakan permainan imajinasi otak belaka dan ketika sebuah karunia datang untuk memberikan agan sebuah kesempatan untuk melihat sekilas apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan semua fenomena tersebut, apakah anda akan tetap tersenyum dengan logika dan keyakinan bahwa semua hanya imajinasi otak atau berteriak dan berharap agar mata ini tetap terpejam dan semua itu hanyalah sebuah mimpi ane akan bercerita sebuah kisah yang mungkin akan merubah cara pandang agan tentang semua kejadian yang pernah menimpa agan, ketika agan membaca dan bertanya apakah ini real story ? semua kembali kepada agan untuk menilai apakah ini sebuah fiksi belaka atau real story, selamat menikmati semoga sebuah sensasi akan menemani agan dalam gelapnya malam Mohon para reader yang masih dibawah umur agar bisa memilah antara yang baik dan buruk di cerita ini, ambil yang baik dan bermanfaat..jauhi yang buruk dan menyesatkan Waktu Update : Penulis adalah seorang pekerja yang akan selalu menulis disela sela waktu luangnya, jadi untuk update bisa dilakukan kapan saja entah itu malam, pagi ataupun siang, jadi tidak ada istilah mengulur ulur waktu Peraturan membaca di thread ini : Hargai hasil karya penulis, karena menulis adalah suatu hoby dimana penulis membutuhkan pembaca dan pembaca memberikan apresiasi/kritik/masukan sebagai bentuk penghargaan karya penulis
Jangan menjiplak/mengakui hasil karya penulis, ketika ingin copy paste ke thread atau blog lain biasakan etika untuk meminta izin dan mencantumkan sumber penulisan
Penulis berharap kepada para reader untuk tidak terpengaruh atau berusaha membalas apabila ada komentar reader negatif yang berusaha membuat rusuh atau mencari sensasi karena komentar balasan adalah motivasi mereka menjadi reader negatif Line Id : meta.morfosis untuk update harap bersabar gan
Spoiler for Prologue:
Menjadi manusia normal adalah sebuah impian setiap manusia, tapi apa jadinya ketika sebuah kejadian yang menimpa anda membuat semuanya menjadi sebuah mimpi buruk, saat waktu2 yang terasa indah untuk dinikmati kini menjadi sebuah kecemasan, saat tempat tempat terindah yang kita kunjungi kini menjadi sebuah pemandangan yang penuh dengan rasa ketakutan.
Nama gw reza, gw merupakan lulusan salah satu perguruan negeri ternama disalah satu universitas negeri di Jakarta, sebuah kampus yang berada dalam suatu lingkungan asri dengan pohon pohon besar disekitarnya bahkan hampir mirip disebut dengan sebutan hutan kota, gw menyelesaikan pendidikan SI dalam waktu yang normal, dengan predikat yang lumayan hingga akhirnya sebuah panggilan kerja mengantarkan kaki gw untuk berlabuh disalah satu kota di jawa timur.
Semua terasa begitu indah, begitu sempurna, bisa dibilang yang maha kuasa memudahkan semua langkah kehidupan gw, orang tua gw yang semula tidak menyetujui gw untuk pindah kota, akhirnya menyetujuinya, walaupun dengan resiko mereka kini harus tinggal hanya berdua saja di kota bogor yang tenang. Sebenarnya orang tua gw khususnya bokap gw menginginkan agar gw bekerja di Jakarta atau setidaknya meneruskan usaha yang sudah dirintisnya selama ini, berbagai macam argumen telah mereka keluarkan untuk menggagalkan keinginan gue untuk meninggalkan Jakarta, terutama alasan umur mereka yang sudah tua, berat rasanya meninggalkan mereka bila mengingat semua alasan itu, tapi keinginan untuk mandiri membuat gw bisa mengalahkan semua rasa tidak tega itu.
Tapi semua keindahan rangkuman perjalan hidup gw kini berubah secara drastis, seiring langkah kaki gw menaiki sebuah kereta yang mengantarkan gw menuju sebuah kota di jawa timur. Sebuah kereta yang menjadi awal dimulainya rentetan kejadian yang merubah perjalanan hidup gw….
Dan percayalah ketika gw menuliskan ini semua, gw tercekam dalam rasa ketakutan, rangkaian kata yang gw tulis dengan menjentikan jari dalam barisan huruf di keyboard tidak lepas dari tatapan mata mereka, gw hanya berharap semoga malam cepat berlalu berganti menjadi siang.
Spoiler for Chapter 1 ( sebuah kabar indah tentang masa depan ):
Juli 2007, Irama langkah kaki gw bergegas cepat meninggalkan sebuah toko buku dan menuju ke stasiun kereta, kebetulan hari ini sehabis berkunjung kerumah seorang teman, gw mampir ke sebuah toko buku untuk membeli beberapa buah buku yang gw butuhkan untuk sekedar menjadi bahan bacaan peneman hari hari gw setelah lulus kuliah, disaat kesibukan mata gw mencari cari buku yang mungkin bisa menjadi bahan bacaan gw, sebuah panggilan telepon masuk, ya sebuah panggilan yang sama sekali tidak terduga dan akan menjadi awal hidup gw memasuki dunia kerja
“ hallo selamat siang, dengan bapak reza ” sebuah kalimat pembuka pembicaraan di telepon terdengar dari seorang wanita
“ benar mba, kalau boleh tau saya bicara dengan siapa ?”
“ saya indri pak, kami dari perusahaan PT. XXXXX, meminta bapak untuk hadir ke perusahaan kami untuk mengikuti proses seleksi penerimaan kerja ”
Sebuah kabar yang bagus, tapi kembali gw berpikir dan mencoba mengingat kembali surat surat lamaran yang pernah gw kirimkan, ingatan gw masih bisa mengingat perusahaan2 yang pernah gw layangkan surat lamaran kerja, dan menurut gw perusahaan ini tidak termasuk didalam daftar perusahaan yang masuk dalamlist surat lamaran kerja yang gw layangkan
“ aneh, ah masa bodo, yang penting gw jalanin aja dulu ” gumam gw, hingga akhirnya gw tertidur dikursi kereta yang mengantarkan gw ke stasiun bogor
“ wah tumben sudah rapih pagi pagi za ” tegur mamah ketika melihat gw yang sudah rapih dan mencoba menyiapkan sarapan sendiri
“ iya mah, hari ini ada panggilan kerja ”
“ Alhamdulillah za, cepat juga kamu dapat panggilan semoga diterima za ” terlihat mamah tersenyum dibalik kata katanya yang mengandung doa
“ diantar mang iwan aja za, biar tidak telat ” ucap bapak yang rupanya mencuri dengar pembicaraan kami, mang iwan merupakan supir yang bekerja dikeluarga kami
“ haduhh jangan pak, biar reza sendiri aja sekalian biar tau jalan ” jawab gw menolak tawaran itu
Setelah menyelesaikan sarapan dan pamit, segera gw pergi menuju perusahaan tempat gw akan melakukan tes pekerjaan, jam masih menunjukan pukul 7.30 sedangkan jadwal interview yang akan gw lakukan pukul 11, jadi cukuplah waktu tempuh yang akan gw habiskan untuk menuju perusahaan tersebut, dan kereta menjadi salah satu pilihan gw untuk mempersingkat jarak tempuh itu,tepat jam 10 kurang 15 akhirnya gw tiba di perusahaan tersebut, sebuah lokasi perusahaan yang terletak di Jakarta selatan
Setelah menuju ke bagian resepsionis dan memberitahukan maksud kedatangan gw, akhirnya gw dipersilahkan duduk disebuah ruang tunggu, waktu luang itu gw manfaatkan untuk mencoba membaca baca dan kembali mengingat materi kuliah yang pernah gw pelajari
“ bapak reza, mari ikut saya ” tegur seorang wanita yang mempersilahkan gw untuk mengikutinya ke salah satu ruangan tempat akan dilaksanakan interview
“ silahkan duduk pak, nanti usernya akan segera datang ” ucap wanita itu kembali sambil tersenyum dan beranjak pergi
Ada rasa tegang ketika pertama kali melaksanakan proses penerimaan kerja, ditambah gw masih terasa asing dengan perusahaan ini, hingga akhirnya rasa tegang itu sirna seiring sosok yang gw lihat memasuki ruangan
“ lohh mas kamil..?” ucap gw heran melihat sosok yang tersenyum dihadapan gw, mas kamil merupakan senior gw yang telah lulus satu tahun lebih cepat dari gw
“ kaget ya za ?”
“ iyalah mas, soalnya seingat gw, gw belum pernah melamar ke perusahaan ini ” kembali mas kamil tersenyum mendengar jawaban gw
Hingga akhirnya mas kamil menceritakan tentang sejarah dan bergerak dalam bidang apa perusahaan tempat kerjanya itu bergerak, kebetulan dia sudah memegang posisi penting didalam perusahaan tersebut dan merekomendasikan gw untuk mengisi sebuah tempat dalam departemennya yang kebetulan kosong
“ bagaimana za ?” tampak mata mas kamil mencoba memperhatikan gw
“ ternyata diluar Jakarta ya mas, sepertinya gw harus bicara sama kedua orang tua gw dulu ”
“ lu udah dewasa za, lelaki dewasa harus bisa punya keputusan sendiri ”
“ jangan sampai kesempatan yang sudah didepan mata lu sia siakan karena keraguan lu ” terang mas kamil kembali, sambil berupaya menumbuhkan rasa semangat gw
“ kalau lu berminat, sekarang jg gw minta bagian hrd mengurus surat kontraknya, karena gw memang lagi butuh cepat ” lama gw berpikir mencoba menimbang semua omongan mas kamil, antara keinginan bekerja dan restu dari orang tua, setelah gw berpikir lama akhirnya gw memutuskan untuk menerimanya, pasti orang tua gw akan menyetujui ini, niat yang baik untuk sebuah pekerjaan yang baik pasti akan disetujui
“ baik mas, saya terima ” sebuah senyum sumringah terlihat dari wajah mas kamil
“ gitu dong za, baik gw ke bagian hrd dulu untuk mengurus semua surat2nya ” ucap mas kamil sambil menepuk bahu gw dan pergi meninggalkan gw
Setelah semua surat surat kontrak telah gw tanda tangani, mas kamil segera menerangkan tentang pekerjaan yang akan gw lakukan dan proses training terlebih dahulu yang akan gw lakukan setibanya gw di kantor cabang
“ lu di training dulu selama seminggu za, tenang aja gw yakin lu bisa ” ucap mas kamil antusias
“ insha allah mas, jadi kapan gw berangkat ”
“ seminggu dari sekarang za, lu persiapin dah semuanya, jangan lupa izin sama orang tua lu ”
“ siap mas, terima kasih atas bantuannya ”
Dan akhirnya gw meninggalkan perusahaan tersebut dengan langkah kemenangan, seperti layaknya orang yang pulang dari pertempuran, gw diterima kerja dan gw akan memberitahukan kabar gembira ini kepada orang tua gw dan tidak lupa kepada wulan yang telah menjadi pacar gw selama kuliah
“ mah, saya diterima kerja ” ucap gw sesampainya dirumah dan menyampaikan kabar gembira ini kepada bapak dan mamah yang sedang bersantai diruang tamu
“ Alhamdulillah za..” jawab mamah sambil memeluk gw
“ selamat za, selamat jadi lelaki dewasa ” ucap bapak sambil tertawa dan memberikan selamat
Kegembiraan itu tidakberlangsung lama, ketika gw menerangkan tentang penempatan kerja gw
“ memangnya tidak bisa meminta posisi dijakarta za, bapak sama mamahmu ini sudah tua, kenapa tidak di jakarta aja, atau kamu nerusin usaha bapak ” ucap bapak sambil tangannya mencoba mengelap2 keris yang terlihat sudah tua, memeang bapak adalah pengkoleksi keris2 tua, bahkan bukan cuma keris saja, asalkan itu bernilai seni dan peninggalan masa lalu pasti dikoleksinya
Setelah gw menerangkan tentang keinginan gw untuk mandiri, dan alasan masa depan yang bagus di pekerjaan ini, akhirnya bapak dan mamah mengijinkan gw untuk pergi keluar kota dan menerima perkerjaan ini
“ kapan kamu berangkat za ” ucap bapak mencoba mencari keterangan
“ minggu depan pak, mohon restunya pak, mah ”
“ iya za, bapak sama mamah restuin yang penting kamu bisa jaga diri, dan bawa diri disana ” ucap mamah kembali memeluk gw disela sela isak tangisnya.
Seminggu sudah berlalu dan tiba harinya keberangkatan gw, dengan diantar oleh mang iwan dan wulan, segera gw menuju ke stasiun kereta yang akan mengantarkan gw ke jawa bagian timur, sepanjang jalan terlihat wajah wulan yang agak berat melepas kepergian gw,hingga akhirnya kamipun tiba distasiun kereta
“ jangan lupa kasih kabar ” ucap wulan sebelum melepas gw menaiki kereta
“ doain aku, semoga aku cepat nikahi kamu dan kamu bisa ikut sama aku kesana ” ucap gw sambil memeluk wulan kemudian melepaskannya dalam balutan air matanya, dan akhirnya pijakan kaki gw mantap menaiki kereta
“ selamat tinggal Jakarta…selamat datang pekerjaan baru..semoga cepat sukses ” doa gw didalam hati Next Chapter : sebuah perjalanan dan celoteh seorang kakek tua Heran rasanya mendengar ocehan kakek tua ini, antara sebuah misteri atau sakit jiwa yang menimpa kakek ini, hingga akhirnya gw berlabuh di kantor cabang yang mengharuskan gw untuk menempati sebuah mess tua
Spoiler for Ketika fenomena ghaib mulai menampakan eksistensinya:
Untuk sekian lama gw dan dedi hanya bisa terdiam terpaku tanpa beranjak dari tempat kami berdiri, gw hanya bisa merasakan semakin lama suara deringan itu bagaikan sebuah simponi nada yang memberikan efek kecemasan yang mendalam, hingga akhirnya suara deringan itu terhenti sesaat dan kembali terdengar memecah kesunyian
“ angkat za, siapa tau itu kabar penting..” ucap dedi seraya mendorong tubuh gw untuk melangkahkan kaki kedalam rumah, ada keraguan yang gw rasakan, berat rasanya melangkahkan kaki kedalam rumah hanya untuk mengangkat gagang telepon dan mendengar sebuah kabar yang sama sekali tidak gw ketahui apakah itu sebuah kabar baik ataukah sebuah kabar buruk
“ ayo za..tunggu apa lagi “ kembali dedi mendorong tubuh gw, ekspresi wajahnya menampakan rasa keingintahuan akan kabar yang akan kami terima
“ temani gw ded...” pinta gw dengan penuh kekhawatiran, walaupun sudah beberapa kali gw mengalami fenomena fenomena aneh, gw masih saja belum bisa mengalahkan semua rasa ketakutan yang gw rasakan, fenomena fenomena itu seperti meninggalkan sebuah trauma mendalam yang tidak mungkin hilang dalam jangka waktu yang lama
“ iya za...” jawab dedi, tatapan matanya terlihat tajam memperhatikan setiap sudut ruangan yang mengarah ke ruang makan, hingga akhirnya gw mulai memberanikan diri melangkah menuju keruang tengah, tempat dimana mamah selalu menghabiskan waktunya menonton televisi, suara deringan telepon yang terus terdengar membuat jantung gw berpacu semakin cepat
“ angkat za !” ucap dedi dengan setengah berteriak begitu melihat gw yang masih berdiri mematung di depan meja telepon, dengan gemetar gw mulai mengangkat gagang telepon, lama gw terdiam tanpa mengeluarkan sepatah katapun hingga akhirnya terdengar suara dari seseorang disana dengan nada suara panik
“ hallo...hallo..bisa bicara dengan kang reza..”
“ mang iwan ?” berjuta tanda tanya berkecamuk dihati gw begitu mendengar suara mang iwan, terasa janggal dan tidak pernah terjadi, mang iwan menghubungi gw disaat beliau sedang bertugas mengantar mamah ataupun bapak ke suatu tempat..ini tidak lazim..sangat tidak lazim
“ ini dengan saya sendiri mang..ada apa mang ?” tanya gw dengan penuh kekhawatiran, terlintas gambaran tentang bayangan hitam yang mengikuti mamah
“ kang rezaaa...mamah kang...mamah..” suara mang iwan terdengar terputus putus dan itu jelas semakin menambah kecemasan yang gw rasakan
“ ada apa dengan mamah...mang...”
“ mamah...” lama tidak terdengar kelanjutan ucapan mang iwan, rasa cemas yang gw rasakan kini semakin bertambah besar, gambaran akan kejadian buruk seperti memenuhi pikiran ini
“ mamah kenapa mang...!!” nada suara gw terdengar meninggi seperti menggambarkan luapan emosi yang gw rasakan
“ mamah ada dirumah sakit kang...” mendengar lanjutan perkataan mang iwan sontak membuat tubuh gw terasa lunglai, trauma masih begitu gw rasakan, rasanya gw masih tidak sanggup untuk mendengar perkataan tentang rumah sakit, bayangan akan kematian bapak masih begitu menghantui....dan kini gw harus bersiap kembali mendengar kata kata itu, gagang telepon yang semula berada di genggaman tangan seketika terlepas dari genggaman, rasanya gw tidak sanggup lagi untuk mendengar lanjutan keterangan yang diberikan mang iwan, dedi yang semula hanya berdiri memperhatikan seketika itu juga mengambil gagang telepon yang terjatuh dan kembali melanjutkan pembicaraan dengan mang iwan, terlihat keseriusan dari wajahnya sambil sesekali mengangguk anggukan kepalanya
“ za...” terlihat dedi mencoba menjelaskan apa yang baru saja diperbincangkan
“ cukup ded...cukup..” ucap gw berharap dedi tidak melanjutkan lagi ucapannya
“ za...dengar gw...lu gak bisa seperti ini...” kedua tangan dedi mencengram begitu kuat di bahu gw, sorot matanya terlihat tajam menatap gw
“ lu harus kuat za...dan gw yakin lu kuat...kita harus ke rumah sakit sekarang za, nyokap lu sedang dalam penanganan di rumah sakit...” entah gw harus bersikap apa mendengar kelanjutan perkataan dedi
“ apa yang terjadi pada mamah..ded..?” tanya gw diantara tubuh yang terasa lemas, hanya kepasrahan yang membuat gw kuat untuk mengucapkan itu semua
“ nyokap lu mengalami kecelakaan za, dari perkataan mang iwan gw bisa mengambil kesimpulan itu hanyalah kecelakaan ringan, tapi walaupun begitu sebaiknya kita ke rumah sakit...” ucap dedi seraya membangkitkan gw yang terduduk lemas dilantai
“ apa yang terjadi ?” terlihat andira berdiri di ujung tangga dengan tatapan penuh tanda tanya, mungkin keributan yang kami timbulkan telah memancingnya untuk keluar kamar
“ nyokap reza mengalamai kecelakaan ringan, sekarang beliau ada di rs dan kami berencana untuk ke rumah sakit...” jawaban yang terlontar dari mulut dedi, sempat membuat andira terdiam terpaku dengan ekspresi tidak percaya atas apa yang didengarnya
“ bagaimana dengan orang tua saya ?” tanyanya dengan penuh rasa khawatir
“ mereka baik baik saja...sebaiknya kami berangkat sekarang “ dengan sedikit memapah, dedi mulai mengajak gw berjalan menuju teras depan, diiringi tatapan mata andira yang masih terdiam terpaku
“ kalian tunggu sebentar...saya ikut..” teriak andira seraya berlari memasuki kamar
Setelah menunggu cukup lama diteras depan, akhirnya andira menampakan dirinya dalam balutan kaos putih dan celana jeans tanpa ada sedikitpun makeup yang menghiasi wajahnya, terlihat sederhana jauh sekali dari kesan wanita modis
“ sebaiknya kami berangkat sekarang bi...” ucap gw kepada bi nani yang tampak masih terlihat mengantuk
“ biar gw yang bawa kendaraan za, lu duduk dibelakang aja..” terlihat dedi memberikan isyarat kepada andira untuk duduk menemani gw dibelakang, dan akhirnya mobilpun berlalu meninggalkan pekarangan rumah dengan membawa sebuah tanda tanya besar di hati gw, apakah yang melatar belakangi kecelakaan yang telah menimpa mamah
“ za...” ucap andira pelan dengan tatapan mata menenangkan, jari jemari tangannya terasa halus menggenggam jemari gw, entah mengapa..di saat semua momen ini terjadi gw bisa merasakan kembali rasa kasih sayang dan rasa perhatian yang selama ini telah lama hilang seiring dengan kepergian wulan, sesekali terlihat dedi yang tertangkap mata mencoba mencuri pandang melalui kaca spion dalam
“ di ruang apa ded ?” tanya gw begitu mobil terhenti di pelataran parkir sebuah gedung rumah sakit di kota bogor, untuk kesekian kalinya gw berusaha membuang kenangan buruk yang gw alami ketika gw harus ke rumah sakit yang sama untuk melihat bapak meregang nyawa
“ di ruang igd za “ jawab dedi dengan tenang, seiring langkahnya yang penuh dengan ketenangan dedi berjalan mendahului kami sambil sesekali menyapa petugas rumah sakit yang dikenalnya, hingga akhirnya langkah kaki kami terhenti di depan ruang igd dengan deretan bangku tunggu yang menghiasinya, seiring langkah kaki memasuki ruangan igd, detak jantung gw berpacu semakin cepat, memandang tirai tirai putih yang memisahkan setiap tempat tidur yang berada di ruangan igd telah kembali mengingatkan gw pada sebuah kenangan buruk yang meninggalkan sebuah luka dan trauma yang mendalam
“ nyonya hernata..?” tanya gw kepada seorang perawat yang bertugas, terlihat dedi sedang berbicara dengan seorang petugas keamanan
“ tunggu sebentar…” jawab perawat tersebut, terlihat dia bertanya pada salah seorang perawat jaga yang lain
“ maaf mas, ternyata ny hernata sudah pulang karena kondisinya sudah mulai membaik…” ucap perawat itu kembali
“ kalau boleh tau, apa yang sebenarnya terjadi dengan mamah saya sus..?” kembali jari jemari tangan andira menggenggamerat jemari tangan gw, seolah oleh berkata bahwa dia akan selalu berada disamping gw walau apapun yang terjadi, dengan ramah perawat tersebut mengantarkan gw kepada seorang dokter jaga yang sedang bertugas
“ mas siapanya ny hernata ?” tanya dokter tersebut sambil membuka buka berkas pemeriksaan
“ saya anaknya dok…apa yang sebenarnya terjadi pada mamah saya ?” jawab gw balik bertanya, setelah dokter tersebut terlibat pembicaraan ringan dengan perawat yang mengantarkan kami, akhirnya mengalirlah sebuah keterangan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada mamah
“ seberapa parah lukanya dok ?” tanya gw dengan perasaan cemas, begitu mendengar keterangan dari dokter tersebut
“ sebenarnya tidak terlalu parah…beruntung kendaraan yang menabrak mamah kamu itu melaju tidak terlalu kencang, tapi biar bagaimanapun kami tetap harus melakukan pemeriksaan atas kondisi luka di kening mamah kamu…takut terjadi geger otak ringan..” sesaat dokter tersebut menghentikan ucapannya, terlihat dia sedikit memberikan arahan pada seorang perawat yang bertanya
“ lalu bagaimana hasilnya dok ?”
“ kondisi mamah kamu tidak seburuk yang kami perkirakan, beliau hanya mengalami shock…sempat beberapa kali mamah kamu itu meracau sesuatu yang sama sekali tidak kami mengerti “
“ maksud dokter ?”gw hanya bisa mengernyitkan dahi mencoba mengartikan maksud dari perkataan dokter tersebut
“ sempat beberapa kali mamah kamu berkata jangan….jangan…tolong lepaskan…., saya tidak mengerti akan maksud perkataannya “ ucap dokter tersebut, hingga akhirnya dokter tersebut meminta izin untuk melanjutkan tugasnya
Wajah andira dan dedi yang sedari tadi ikut mendengarkan, kini terlihat memandang gw, seakan akan meminta sebuah penjelasan dari peristiwa yang telah terjadi, namun apa daya…jangankan untuk menjelaskan kepadamereka, gw pun merasakan hal yang sama dengan mereka.. gw pun tidak mengerti dengan maksud perkataan mamah
“ apa ini ada hubungannya….”
“ cukup ded…jangan terlalu banyak berasumsi, sebaiknya nanti gw tanyakan sendiri kepada mamah, apa sebenarnya yang terjadi…” muak rasanya mendengar segala sesuatu yang terjadi selalu dihubung hubungkan pada ritual yang telah gw lakukan, terlihat andira memberikan isyarat melalui matanya agar dedi tidak melanjutkan perkataannya
Dinginnya malam ditambah hawa dingin ac mobil seakan akan tidak bisa mendinginkan kemarahan yang gw rasakan, pikiran gw seperti bercampur aduk antara rasa muak dan penyesalan karena telah melakukan sebuah ritual bodoh yang telah mengantarkan gw pada semua peristiwa aneh ini
“ mang iwan…dimana mamah ?” tanya gw sesampainya dirumah, terlihat ekspresi wajah mang iwan seperti sedang memikirkan sesuatu
“ ada di kamar kang….sedang istirahat, tadi sih masih di temani pak wisnu dan istrinya “ jawab mang iwan, wajahnya terlihat seperti ingin menerangkan sesuatu, dengan agak tergesa segera gw melangkah ke dalam rumah, berharap gw akan mendapatkan sebuah jawaban yang pasti dari mamah
“ zaaa…” teriak om wisnu pelan sambil bangkit dari duduknya, terlihat istri om wisnu menatap gw dengan tatapan kosong
“ apa yang terjadi dengan mamah..om…” tanya gw seraya menghampiri om wisnu dan istrinya yang berada di ruang televisi
“ om juga tidak mengerti za, tadi mamah kamu…tiba tiba saja berlari menyebrang jalan raya tanpa terlebih dahulu melihat kendaraan yang lalu lalang…seperti…”
“ seperti apa om ?” tanya gw memotong perkataan om wisnu
“ mamah kamu itu seperti melihat sesuatu yang memancingnya melakukan itu…” keterangan yang diberikan om wisnu telah membuat gw kembali berpikir..apa sebenarnya yang terjadi dengan mamah
“ dimana mamah sekarang om…?”
“ mamah kamu ada di kamarnya…sekarang sedang ditemani oleh bi nani…” tanpa berniat bertanya lebih lanjut, segera gw melangkah ke kamar mamah, meninggalkan andira yang masih terlibat pembicaraan dengan orang tuanya
“ za…..” teriak dedi begitu gw hendak memasuki kamar, terlihat dedi berlari menghampiri
“ sepertinya…malam ini akan semakin bertambah buruk ded…dan gw merasa malam malam selanjutnya akan semakin memburuk…” ucap gw sambil menghela nafas panjang
“ gw mengerti za….luharus yakin semua ini akan segera berlalu…kita akan hadapi semua ini bersama sama…” seiring ucapan dedi segera gw memasuki kamar, mata gw nanar menatap mamah yang sedang terbaring di tempat tidur
“ mamah..kang..” ucap bi nani seraya bangkit dari duduknya dan mempersilahkan gw untuk duduk, terlihat mata mamah mulai terbuka dan menatap gw dengan tatapan yang menyimpan sebuah cerita
“ apa yang terjadi mah….” tanya gw sambil memperhatikan luka yang ada di tubuh mamah, tidak tega rasanya memperhatikan raut wajah mamah yang sudah mulai memperlihatkan kerutan tuanya terbaring dalam penderitaan, perlahan jemari tangan gw mulai membelai keningnya, mencoba menyibak rambutnya yang terlihat mulai memutih dan tanpa gw sadari butir butir air mata mulai menetes dari mata ini
“ maafkan reza mah….” ucap gw dengan terisak, mendengar ucapan gw kedua telapak tangan mamah menyentuh pipi gw dengan sebuah kasih sayang, gw bisa merasakan itu…tapi mamah tidak bisa mengungkapkan semuanya itu walaupun hanya dalam sebuah senyuman
“ bapak kamu za….bapak…” ucap mamah dengan lirih
“ tolong jelaskan pada reza mah…apa yang terjadi…reza sayang mamah…” dan kali ini isak tangis gw sudah berubah dalam tangisan kecil
“ mamah takut za…” ucap mamah kembali dengan tatapan mata kosong, ekspresi wajahnya menunjukan ketakutan, entah apa yang telah membuat mamah setakut ini… jari jemari tangan gw berusaha menggenggam jemari tangan mamah dengan erat, gw berharap ini bisa memberikan mamah sebuah ketenangan dan kekuatan untuk menceritakan semua yang telah terjadi
Next Chapter : Ketika fenomena ghaib mulai menampakan eksistensinya 2