Untuk keterangan lebih lanjut bisa kontak author via message di wattpad/ kaskus/DM Instagram/ email/ atau nanti di-WA oleh tim marketing bila sudah ngisi form di link di atas.
Novelnya kayak gini ya...
MAHACINTABRATA - Sebuah novel modern buat yang suka atau mau tahu tentang wayang
Terimakasih atas perhatian dan dukungan readers serta ditunggu partisipasinya yaa... karena persediaan terbatas ;-)
Keep the spirit of wayang, Mahabraters!
Berhubung Mahacintabrata I dan Mahacintabrata II: Cinta Mati Dewanata sudah dikontrak oleh pihak webcomics(dot)co(dot)id maka mohon maaf hanya dibatasi pada chapter 1-5 untuk promosi. Untuk kembali membaca cerita Mahacintabrata Sukma Wicara dapat membaca di situs webcomics.
Terimakasih atas dukungan kaskuser selama ini... Nantikan selalu kelanjutan Mahacintabrata hingga tamat yaaa...
Quote:
Salam kenal agan-agan semua, para momod dan kaskuser sekalian
ijinkan ane mempersembahkan tulisan ane, mudah-mudahan berkenan di hati agan semuanya
ini adalah trit pertama ane, jadi ane mohon bimbingan dan arahannya dari momod dan agan semua
semoga bisa tetep update dan tetap berkarya agar jadi inspirasi buat ane dan agan semua
nikmati juga MAHACINTABRATA yang sudah diedit lebih rapi dan lengkap di situs atau aplikasi wattpad Indonesia, di link berikut:
"Mahacintabrata" adalah sebuah novel modern bagi penyuka wayang atau siapa pun yang ingin tahu tentang seni warisan budayawan Indonesia ini. Kisah pewayangan akan diceritakan dengan bahasa yang sangat menarik dan mudah dicerna, sehingga membuat pembaca ketagihan dan penasaran akan cerita selanjutnya tanpa takut terjebak pada plot yang membosankan seperti membaca buku sejarah.
Sebenarnya cerita wayang seperti Mahabharata dan Ramayana itu sangat keren, namun karena banyak penulisan kisahnya masih tradisional sehingga membingungkan pembaca yang kurang mengerti jalan cerita atau latar belakang kejadian.
Di dalam "Mahacintabrata", penulisan kisah pewayangan dikembangkan ke dunia penulisan roman dan drama modern agar lebih mudah disukai.
Dan sebagai gebrakan awal tokoh yang diangkat dalam "Mahacintabrata" adalah seseorang paling sentral sepanjang kisah Mahabharata dari awal sampai akhir peperangan besar Bharatayudha. Seorang tokoh yang membangun keturunan Bharata, mengasuhnya, menjaganya, membesarkannya, mendidiknya, melindunginya, hingga memperjuangkan dan membelanya sampai titik darah penghabisan. Dan bahkan demi kecintaan dan rasa sayangnya dia bersumpah tidak akan mencintai siapa pun untuk dirinya sendiri demi mencegah kemungkinan keturunannya merebut hak keturunan Bharata! Dialah Resi Bisma Dewabrata, kakek dari Pandawa dan Kurawa.
Tapi benarkah sang Resi tidak merasakan indahnya mencintai seseorang sepanjang hidupnya? Lalu baginya apakah arti seorang Srikandhi, ksatria wanita yang beliau relakan untuk mengalahkannya hingga tersungkur tak berdaya di tengah medan perang padahal dirinya sebagai panglima perang yang gagah perkasa justru tengah berhasil memimpin pasukannya ke ambang kemenangan perang maha dahsyat Bharatayudha?
Spoiler for Arsip Link Mahacintabrata I: Brata Sukma Wicara (link closed):
Spoiler for CAST MAHACINTABRATA I : In order by appearance:
1. Bisma; Ganggadata; Dewabrata. Panglima besar Kerajaan Hastina, putra Maharaja Santanu dan Dewi Gangga.
2. Dewi Amba. Putri sulung Raja Kasindra, dari Kerajaan Kasi.
3. Raja Kasindra. Raja Kasi, ayah Dewi Amba, Dewi Ambika dan Dewi Ambahini.
4. Dewi Ambika. Putri kedua Raja Kasindra, dari Kerajaan Kasi.
5. Dewi Ambahini; Ambalika. Putri ketiga Raja Kasindra, dari Kerajaan Kasi.
6. Raja Salwa. Tunangan Dewi Amba.
7. Ratu Setyawati. Ratu Hastinapura, istri Begawan Palasara dan istri kedua Maharaja Santanu.
8. Wicitrasena; Wicitrawirya. Raja muda Hastinapura, putra kedua Maharaja Santanu dan Ratu Setyawati.
9. Ganggawati; Dewi Gangga. Dewi kahyangan penguasa sungai Gangga, istri pertama Maharaja Santanu.
10. Begawan Pratipa. Pemimpin padepokan Talkanda, ayah Maharaja Santanu.
11. Palasara. Raja Hastina yang menjadi Begawan di padepokan Saptarengga, suami pertama Setyawati.
12. Batara Narada. Penasihat kahyangan.
13. Citragada. Raja muda Hastina, putra pertama Maharaja Santanu dan Ratu Setyawati.
14. Begawan Abiyasa. Putra Begawan Palasara dan Ratu Setyawati.
15. Resi Hotrawahana. Kakek Dewi Amba, ayah Raja Kasindra.
16. Guru Parasurama; Rama Bargawa. Resi yang senang mengadu kesaktian, guru Bisma.
17. Prabu Drupada. Raja Pancala.
INDEX & LINK CERITA LANJUTAN SERIAL MAHACINTABRATA:
sumber cerita:
- komik serial wayang karya R.A. Kosasih alm.
- wikipedia
- tembi.net tulisan dan buku "Kidung Malam" dari Herjaka HS yang menulis artikel pewayangan, merupakan Hak Cipta yang dilindungi Undang Undang namun dipersilahkan mencopy content dengan menyertakan Credit atau link website http://www.tembi.net- Rumah Sejarah dan Budaya
- wayang.wordpress.com
- wattpad indonesia
- buku Istana Khayalan atau Pallace of Illussion karya Chitra Lekha Banerjee Divakaruni
- berbagai sumber yang akan disebutkan kemudian
Polling
0 suara
Siapa tokoh wayang yang paling mengesankan menurut agan?
Diubah oleh hardjasasmita 30-05-2022 12:20
tien212700 dan anasabila memberi reputasi
2
90.3K
Kutip
488
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Spoiler for Promosi Bagian 1-5 saja, lanjutannya di situs webcomics:
BAGIAN 1.
MAAFKAN
Spoiler for Bisma dalam versi pewayangan Jawa:
Waktu hampir tengah malam saat di dalam kamarnya, Bisma menjatuhkan badan di atas pembaringannya yang mencoba menyerap rasa lelah dari tubuh sang pangeran kerajaan Hastinapura ini. Perjalanan jauh selama beberapa hari baru saja berakhir menjelang malam tadi setelah rombongan yang dipimpinnya tiba kembali di istana. Rombongan yang berhasil melaksanakan misi mengikuti sayembara meminang putri-putri kerajaan Kasi, bahkan tiga putri sekaligus yang Bisma menangkan dan langsung dibawanya pulang. Keberhasilan besar oleh Bisma demi kelanjutan keturunan Kuru meneruskan tahta kerajaan Hastinapura.
Belum hilang rasa lelahnya, sebuah ketukan di pintu kamar terdengar. Bisma tidak mengharapkan kedatangan siapa pun mengeluh dalam hati seraya beranjak dari tempat tidurnya mendekati pintu kamar.
“Siapakah yang di luar?” tanya Bisma di balik pintu kamarnya. Beberapa saat menunggu, tidak ada jawaban dari luar sehingga Bisma bertanya-tanya tapi akhirnya dia buka pintu itu.
Sesosok wanita berdiri di depan pintu kamarnya, wajahnya tertunduk tetapi Bisma bisa mengenali wanita itu, memang baru hari ini mereka bertemu dan kali ini berhadapan berdua.
Dialah Putri Amba, putri sulung Raja Kasi dari tiga bersaudara.
“Apa gerangan yang membuat tuan putri mendatangi kamar saya di tengah malam begini? Bukahkah tuan putri bersama adik-adik sebaiknya beristirahat karena kelelahan setelah perjalanan panjang hari ini?” tanya Bisma lagi.
Amba masih terdiam dan tertunduk, mulutnya membisu dan hanya menggigit bibirnya yang bergetar. Bisma menghela nafas panjang dan mulai kehilangan kesabaran mengingat dirinya masih kelelahan. Tapi sebelum Bisma bertanya lagi, Amba tidak kuasa lagi menahan diri. Dia pun membalik badannya dan berlari meninggalkan Bisma yang terheran-heran di depan pintu kamarnya.
Bisma kebingungan menatap sosok Amba yang berlari dan tampak terguncang. Mau tidak mau ada rasa kekhwatiran yang mulai timbul pada Amba, sehingga dia pun berjalan menyusuri lorong istana mengikuti arah lari Amba. Suasana di dalam istana yang sudah mulai sepi hanya menyisakan beberapa penjaga yang kadang tidak menampakkan diri, mereka berada di lorong-lorong dan di depan pintu kamar beberapa petinggi kerajaan. Bisma enggan membuat keributan dengan memanggil mereka. Dia melangkah cepat mengikuti suara langkah kaki Amba yang menggema. Tak berapa lama Bisma bisa melihat Amba sedang berdiri di depan jendela dan pintu yang mengarah ke sebuah balkon istana.
Amba terkejut dan menoleh ke arah Bisma yang mendekat dan tak lama telah tiba di hadapannya. Sepertinya Amba tidak menyangka Bisma akan mengejarnya, tapi dia pun sudah mulai lelah berlari dan hanya bisa terdiam sambil melihat sosok Bisma dengan ekspresi penuh kegelisahan.
Remang-remang cahaya bulan purnama dari balkon istana menembus jendela dan menerangi wajah Amba saat Bisma memandanginya. Paras Amba yang cantik walau dipenuhi ekspresi keresahan, mata bulat yang indah walau tampak berkaca-kaca, bibirnya yang merah merekah walau sendu, dan pipi merahnya yang belum kering dari air mata. Bisma terpana sejenak dan sebersit perasaan yang sulit diungkapkan mulai tumbuh untuk pertama kali di hatinya.
Amba pun tersadar bahwa Bisma, sang pangeran Hastinapura yang gagah perkasa itu hanya terdiam sambil menatap wajahnya lekat-lekat. Segera dia menundukkan wajahnya sambil mengusap air mata dari pipinya dan mengatur nafasnya yang masih terengah. Bisma pun dengan canggung mengalihkan pandangannya, ditatapnya pintu balkon. Bisma meraih gagang pintu lalu mencoba membukanya, dan pintu itu pun terbuka.
“Baiklah Putri Amba, seandainya tuan putri mau mencoba berbicara kepada saya di balkon istana, saya akan dengan senang hati menemani dan saya berharap pemandangan indah cahaya bulan purnama dan cahaya obor dari rumah-rumah penduduk di sekitar istana akan mampu menghibur suasana hati tuan putri,” ajak Bisma mencoba mengalah dan berbicara seramah mungkin.
Amba menatap sejenak keluar balkon lalu akhirnya mengangguk dan menjawab, “Baiklah, Tuan Bisma…”
Mereka berdua lalu melangkah ke balkon istana dan berdiri dekat tembok balkon sambil menatap pemandangan malam hari di Hastinapura. Setelah beberapa saat, Amba masih terdiam melamun dan hanya memandang kosong keluar balkon. Bisma yang masih bingung pun mencoba membujuk Amba mulai bicara.
“Maafkan bila tadi saya kaget menemukan tuan putri di depan pintu kamar saya, sehingga saya bertanya dengan nada suara yang mungkin lebih terdengar seperti hardikan bagi seorang putri kerajaan…” ucap Bisma.
Amba pun kembali tersadar dari lamunannya mendengar perkataan Bisma, kemudian dia menarik dan menghembuskan nafas panjang.
“Saya kira saya tidak merasa begitu, Tuan Bisma. Tadi saya hanya tiba-tiba merasa sangat tidak berdaya di hadapan sosok agung pangeran Hastinapura yang gagah perkasa, yang saya saksikan sendiri kegagahannya hari ini sewaktu pangeran mengikuti sayembara di istana rumah kami…” ucap Amba sambil tetap menatap jauh keluar balkon istana.
Bisma pun terdiam sejenak. Dia masih bisa mengingat semua kejadian hari ini saat dia tiba di Kasi dan mengikuti sayembara tersebut. Dia merasa bersalah, tetapi dia merasa semua sepak terjangnya itu selalu demi Hastinapura dan kejayaan Hastinapura selama ini tidak pernah lepas dari peran serta Bisma, sang pangeran yang sulit ditandingi kesaktiannya oleh manusia di seantero bumi Madyapada.
Bisma menghela nafas lalu berkata, “Saya rela melakukan segalanya demi Hastinapura dan akan melawan siapa pun yang menghalangi kejayaan kami, begitulah prinsip dan jiwa seorang ksatria. Tetapi tuan putri pun tidak perlu cemas pada saya, karena tuan putri akan segera menjadi bagian dari Hastinapura, sesuai takdir dan suratan sebagai seorang putri raja. Bukankah tuan putri senang bila memiliki pelindung dan penjaga negara seperti saya?”
Amba tidak segera menjawab, dia memejamkan mata dan merenung cukup lama sebelum akhirnya membuka mata, lalu memberanikan diri menatap Bisma dengan mata berkaca-kaca.
“Maafkan saya, Pangeran…” ucap Amba. “Sepertinya saya tidak ingin menjadi bagian dari Hastinapura sebagai permaisuri putra mahkota Hastinapura.”
Bisma pun terkejut mendengar hal yang tidak terduga ini. Sorot matanya mulai menajam dan kepalanya mulai terasa penat. Amba mengamati reaksi Bisma yang mulai keras dan mengigit bibirnya penuh ketegangan dan mencoba mengumpulkan keberanian untuk melajutkan perkataannya.
“Saya pada awalnya bersedia ikut ke Hastinapura demi menghormati perjanjian dan tradisi antara dua kerajaan yang telah berlangsung sejak lama, Pangeran. Saya dan adik-adik saya sebagai putri Kasi, juga tidak ingin mengambil risiko merusak hubungan baik kedua kerajaan. Kami sangat menghormati ayahanda kami dan mencintai keluarga serta seluruh rakyat Kasi, itulah sebabnya kami mengikuti kehendak Anda membawa kami ke Hastinapura, Pangeran Bisma..." ucap Amba. "Tetapi ... saya merasa tidak mungkin bisa mencintai putra mahkota Hastinapura, Pangeran Wicitrasena, adik anda, Pangeran Bisma… Dikarenakan beberapa alasan…”
Bisma yang masih menahan diri untuk menyimak hanya memberi tanda anggukan agar Amba melanjutkan.
Amba merenung sejenak, lalu berkata, “Salah satunya… usia Pangeran Wicitrasena masih sangat muda, bahkan ternyata lebih muda dari saya, pangeran. Saya lebih pantas jadi kakaknya daripada jadi permaisurinya. Sebagaimana Pangeran Bisma memandang Pangeran Wicitrasena sebagai kakak yang menyayangi adiknya, begitu pula lah saya memandangnya. Namun adik-adik saya lah yang lebih cocok jadi permaisuri karena usia kami pun terpaut cukup jauh.”
Bisma pun memegang keningnya dan mengeluh, “Lalu apa yang harus dilakukan untuk tuan putri? Apakah tuan putri harus saya kembalikan ke Kasi?”
Amba tidak menjawab, walau seharusnya dia menjawab iya. Tetapi selain pertimbangan tradisi dan tanggung jawab politik antar kerajaan, ada sebuah perasaan baru di hatinya yang seolah-olah mencegahnya menjawab. Perasaan yang muncul tiba-tiba hari ini dan terus mendesaknya di tengah-tengah keputusasaanya akan seseorang. Secara disadarinya Amba memilih untuk ikut ke Hastinapura dan meninggalkan seseorang di Kasi.
Bisma menunggu jawaban Amba, tetapi Amba ternyata tetap tidak sanggup menjawab. Akhirnya Bisma berkata, “Baiklah, Putri Amba. Besok pagi saya akan menghadap ibunda Ratu Setyawati dan menceritakan hal ini. Saya akan membujuk ibunda untuk mengizinkan tuan putri dikembalikan ke Kasi, dan saya sendiri yang akan mengantar tuan putri kembali ke sana.”
Amba seolah tidak mendengar perkataan Bisma. Hatinya masih kalang kabut dan jantungnya berdegup kian kencang serta seluruh darah di tubuhnya mengalir kencang penuh ketegangan.
“Bagaimana Putri Amba, apakah tuan putri bersedia menanti keputusan sampai esok pagi dan malam ini kita bisa melanjutkan mengistirahatkan tubuh kita yang sudah kelelahan?” tanya Bisma.
Amba memandang Bisma dengan penuh keraguan, tetapi pada akhirnya dia hanya bisa menganggukkan kepala.
“Baiklah tuan putri, saya rasa pembicaraan ini sementara selesai. Dan kita bisa kembali beristirahat di kamar masing-masing. Saya yakin semua sudah disediakan sebaik-baiknya oleh para dayang istana. Mari saya antar tuan putri sampai ke depan pintu kamar," ajak Bisma sambil melangkah ke dalam lorong istana.
Amba pun mau tidak mau terpaksa mengikuti langkah Bisma di tengah-tengah kekalutan hatinya seolah-olah masih ada hal yang masih harus disampaikannya kepada Bisma, yang justru itulah hal yang paling penting dan meresahkan hatinya semalaman ini. Namun Amba tidak mampu bicara saat mereka menyusuri lorong istana sampai tibalah mereka di depan pintu kamar para putri Kasi. Amba merasa inilah kesempatan terakhirnya malam ini untuk menyampaikan sesuatu yang sangat penting itu.
“Pangeran, ada satu alasan lagi…” ujar Amba tiba-tiba.
“Alasan apa, tuan putri?” tanya Bisma heran.
“Alasan mengapa saya tidak bisa jadi permaisuri Pangeran Wicitrasena.”
“Tuan putri bisa menyampaikannya besok, mungkin lebih baik langsung kepada ibunda ratu.”
Amba menggeleng cepat, "Tidak, pangeran. Saya hanya ingin mengatakannya kepada pangeran."
Bisma mengernyit heran, lalu bertanya lagi, "Apa itu, tuan putri?"
"Pada awalnya, saat Pangeran Bisma tiba di Kasi hari ini sampai saya tiba di Hastinapura, saya mengira Pangeran Bisma-lah putra mahkota Hastinapura..." ucap Amba penuh harap sambil menatap wajah Bisma lekat-lekat.
Bisma menatap Amba bingung, masih mencoba memahami maksud perkataan Amba. Tetapi Amba yang tidak sanggup lagi berlama-lama di hadapan Bisma, segera meraih pegangan pintu, membukanya dan segera memasuki kamar.
"Selamat malam, Pangeran Bisma," ucap Amba sambil menutup pintu tanpa menunggu jawaban Bisma.
Bisma pun tertinggal di depan pintu kamar Amba, termenung penuh kebingungan sebelum akhirnya membalikkan langkah menuju kamarnya. Malam ini seharusnya sang pangeran beristirahat, tetapi benaknya kini dipenuhi pertanyaan akan makna semua kejadian antara dia dan Amba, wanita yang sebenarnya baru ditemuinya hari ini.