- Beranda
- Stories from the Heart
AKU, KAMU, DAN LEMON
...
TS
beavermoon
AKU, KAMU, DAN LEMON
SELAMAT DATANG DI RUMAH BEAVERMOON
Hallo semua, salam hangat dari bawah Gorong-gorong Sudirman
Kali ini ane akan coba buat share cerita yang ane buat. Jadi, selamat menikmati cerita ini dan tetap dukung kami meskipun hasilnya ngga banget
Jangan lupa buat RATE jika berkenan di hati kalian dan KOMENG jika ada kritik dan saran

Spoiler for Tanya Jawab:
Tanya Jawab Seputar Cerita
Q: Ini cerita nyata atau fiksi?
A: Sebenernya cerita ini gabungan dari kisah nyata sama beberapa unsur fiksi
Q: Bagian yang nyata yang mana aja? Yang fiksi yang mana aja?
A: Nah, cerita ini dibuat agar para pembaca bisa berimajinasi secara individu. Jadi kalau di tanya yang nyata mana yang fiksi mana, ya coba bayangin aja sendiri
Q: Ini nama asli atau nama samaran?
A: Ada beberapa yang disamarkan karena privasi banget nget nget
Q: Kok banyak kentangnya sih? Kan jadi kesel
A: Tak kentang maka tak kenyang
Maklumlah namanya baru di dunia SFTH ini jadi ya banyakin kentangnya aja dulu
Q: Atas dasar apa cerita ini dibuat?
A: Asal mula bikin cerita ini sebenernya biar ngga gabut-gabut amat kalo malem kan daripada nontonin Saori Hara mulu mending bikin cerita
terus juga biar ngga galau galau amat belom lama menjadi jomblo lagi 
Q: Kok tampilan awalnya biasa aja sih?
A: Masih newbie ya, NI-U-BI!! Jadi belom ngerti ngerti amat apa yang harus ditampilin buat penghias tampilan awal cerita ini, kalo ada yang mau ngajarin ya monggo
Q: Ini cerita nyata atau fiksi?
A: Sebenernya cerita ini gabungan dari kisah nyata sama beberapa unsur fiksi

Q: Bagian yang nyata yang mana aja? Yang fiksi yang mana aja?
A: Nah, cerita ini dibuat agar para pembaca bisa berimajinasi secara individu. Jadi kalau di tanya yang nyata mana yang fiksi mana, ya coba bayangin aja sendiri

Q: Ini nama asli atau nama samaran?
A: Ada beberapa yang disamarkan karena privasi banget nget nget

Q: Kok banyak kentangnya sih? Kan jadi kesel

A: Tak kentang maka tak kenyang
Maklumlah namanya baru di dunia SFTH ini jadi ya banyakin kentangnya aja duluQ: Atas dasar apa cerita ini dibuat?
A: Asal mula bikin cerita ini sebenernya biar ngga gabut-gabut amat kalo malem kan daripada nontonin Saori Hara mulu mending bikin cerita
terus juga biar ngga galau galau amat belom lama menjadi jomblo lagi 
Q: Kok tampilan awalnya biasa aja sih?
A: Masih newbie ya, NI-U-BI!! Jadi belom ngerti ngerti amat apa yang harus ditampilin buat penghias tampilan awal cerita ini, kalo ada yang mau ngajarin ya monggo
Spoiler for Pembukaan:
AKU, KAMU, DAN LEMON
When life gives you lemons, make orange juice. Leave the world wondering how you did it
Cerita ini mengisahkan tentang remaja-remaja yang mulai beranjak dewasa. Konflik yang sering terjadi menjadi kisah mereka masing-masing. Mengejar mimpi, cita-cita, dan cinta mereka melengkapi kisah hidup mereka.
Pada dasarnya manusia diciptakan untuk berusaha dan mengejar apa yang mereka impikan. Jurang dalam yang menghadang dapat mereka tempuh dengan susah payah, namun hanya tinggal lubang kecil di depan mata, mereka menyatakan untuk menyerah.
Sabtu sore dipinggiran kota, aku duduk di sebuah kafe kecil di meja paling ujung. Mengaduk-aduk kopi yang sudah daritadi kupesan dan membiarkan gula dan kopinya terus beraduk layaknya pusaran air di lautan. Perkenalkan, namaku Bramantyo Satya Adjie, biasa dipanggil Bram. Aku adalah mahasiswa di sebuah universitas swasta di ibukota. Perawakanku tidaklah cukup baik, aku jarang untuk tersenyum pada hal-hal kecil.
When life gives you lemons, make orange juice. Leave the world wondering how you did it
Cerita ini mengisahkan tentang remaja-remaja yang mulai beranjak dewasa. Konflik yang sering terjadi menjadi kisah mereka masing-masing. Mengejar mimpi, cita-cita, dan cinta mereka melengkapi kisah hidup mereka.
Pada dasarnya manusia diciptakan untuk berusaha dan mengejar apa yang mereka impikan. Jurang dalam yang menghadang dapat mereka tempuh dengan susah payah, namun hanya tinggal lubang kecil di depan mata, mereka menyatakan untuk menyerah.
Sabtu sore dipinggiran kota, aku duduk di sebuah kafe kecil di meja paling ujung. Mengaduk-aduk kopi yang sudah daritadi kupesan dan membiarkan gula dan kopinya terus beraduk layaknya pusaran air di lautan. Perkenalkan, namaku Bramantyo Satya Adjie, biasa dipanggil Bram. Aku adalah mahasiswa di sebuah universitas swasta di ibukota. Perawakanku tidaklah cukup baik, aku jarang untuk tersenyum pada hal-hal kecil.
Spoiler for Index:
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20 - 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30-31
Part 32
Part 33
Part 34
Part 35
Part 36
Part 37
Part 38
Part 39
Part 40
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44
Part 45
Part 46
Part 47
Part 48
Part 49
Part 50
Part 51
Part 52
Part 53
Part 54
Part 55
Part 56
Part 57
Part 58
Part 59
Part 60
Part 61
Part 62 - 63
Part 64
Part 65
Part 66
Part 67
Part 68
Part 69
Part 70
Part 71
Part 72
Part 73
Part 74
Part 75 (FINALE)
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20 - 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30-31
Part 32
Part 33
Part 34
Part 35
Part 36
Part 37
Part 38
Part 39
Part 40
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44
Part 45
Part 46
Part 47
Part 48
Part 49
Part 50
Part 51
Part 52
Part 53
Part 54
Part 55
Part 56
Part 57
Part 58
Part 59
Part 60
Part 61
Part 62 - 63
Part 64
Part 65
Part 66
Part 67
Part 68
Part 69
Part 70
Part 71
Part 72
Part 73
Part 74
Part 75 (FINALE)
Diubah oleh beavermoon 14-02-2016 13:50
dodolgarut134 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
187.4K
Kutip
823
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#93
3 in 1 

Spoiler for Part 20:
Kupastikan barang-barang tidak ada yang terlupakan. Perlengkapan untuk beberapa hari di Negeri Tetangga kurasa sudah cukup. Kuangkat koper-koper yang akan di bawa dan memasukannya ke dalam bagasi taksi dan kuletakkan dengan benar. Setelah berpamitan, taksi pun keluar dari rumah dan menuju Bandara untuk melakukan penerbangan pukul 9 nanti.
Benar, bukan aku yang pergi melainkan Ayah dan Ibu yang pergi untuk acara kantor Ayah bertemu mitranya di Negara Tetangga. Aku menjaga adikku yang masih sekolah di rumah. Hari ini dia bolos sehari karena ingin berpamitan dengan Ayah dan Ibu.
“Kamu mandi terus sarapan, itu udah Abang siapin di atas meja makan.” Suruhku kepada Nanda
“Iya bang. Yaudah aku masuk dulu ya.”
Kemudian aku menuju garasi dan mengeluarkan sedan yang sudah berdebu, dan segeralah aku cuci mobil kesayanganku ini. Baru saja aku menyiramnya, tiba-tiba kudengar suara yang cukup ku kenal
“Tiiiiit!!!”
“Ayam!! Astaga si Babon bener-bener deh lu!” Ku pukul helmnya dengan sedikit kesal
“Hehehehehe…” Cengiran ontanya keluar lagi
“Eh Orang Tua lu udah berangkat?” Tanyaku
“Udah barusan, bokap nyokap lu sendiri gimana?”
“Sama, satu pesawat kan ya?” Tanyaku
“Malahan depan belakang seatnya bro Bram.” Sambil menyalakan rokoknya
Tidak lama setelah kejadian klakson itu, adikku keluar dari balkon kamarnya
“Kenapa bang? Kok ada ayam?” Tanyanya heran
“Ini nih Siluman Babon Kelabu ngagetin..” Sambil kuarahkan keran yang sudah mengalir airnya ke dia, namun dia berhasil kabur
“Oh, halo bang Eja..” Adikku melambaikan tangannya
“Halo Nona Manis, makin cantik aja tiap hari..” Godanya
“Bisa aja bang Eja, Nanda masuk dulu ya bang..”
Adikku langsung masuk meninggalkan kami berdua
“Macem-macem sama adek gue dijamin lu gue goreng pake adonan bakwan!” Ancamku
“Deh, mahal dong gue. Kapan lagi bakwan isi Babon Kelabu lagi kan warnanya..”
Kami pun tertawa lepas
“Eh gimana sama Zahra?” Aku mulai membuka pembicaraan baru
“Oh nona Zahira, ngga gimana-gimana. Masih chat tiap hari..”
“Jangan lupa kata-kata gue waktu di sevel..”
“Iya, jangan kelamaan ngebidik. Nanti bebeknya jadi bebek goreng lagi sama mamang depan komplek.”
Kami tertawa lagi. Hari ini Reza sedang off, makanya dia menyempatkan bermain ke rumah ku. Agenda hari ini hanya main ps di kamar dan berenang di sore harinya bersama adikku juga tentunya.
Benar, bukan aku yang pergi melainkan Ayah dan Ibu yang pergi untuk acara kantor Ayah bertemu mitranya di Negara Tetangga. Aku menjaga adikku yang masih sekolah di rumah. Hari ini dia bolos sehari karena ingin berpamitan dengan Ayah dan Ibu.
“Kamu mandi terus sarapan, itu udah Abang siapin di atas meja makan.” Suruhku kepada Nanda
“Iya bang. Yaudah aku masuk dulu ya.”
Kemudian aku menuju garasi dan mengeluarkan sedan yang sudah berdebu, dan segeralah aku cuci mobil kesayanganku ini. Baru saja aku menyiramnya, tiba-tiba kudengar suara yang cukup ku kenal
“Tiiiiit!!!”
“Ayam!! Astaga si Babon bener-bener deh lu!” Ku pukul helmnya dengan sedikit kesal
“Hehehehehe…” Cengiran ontanya keluar lagi
“Eh Orang Tua lu udah berangkat?” Tanyaku
“Udah barusan, bokap nyokap lu sendiri gimana?”
“Sama, satu pesawat kan ya?” Tanyaku
“Malahan depan belakang seatnya bro Bram.” Sambil menyalakan rokoknya
Tidak lama setelah kejadian klakson itu, adikku keluar dari balkon kamarnya
“Kenapa bang? Kok ada ayam?” Tanyanya heran
“Ini nih Siluman Babon Kelabu ngagetin..” Sambil kuarahkan keran yang sudah mengalir airnya ke dia, namun dia berhasil kabur
“Oh, halo bang Eja..” Adikku melambaikan tangannya
“Halo Nona Manis, makin cantik aja tiap hari..” Godanya
“Bisa aja bang Eja, Nanda masuk dulu ya bang..”
Adikku langsung masuk meninggalkan kami berdua
“Macem-macem sama adek gue dijamin lu gue goreng pake adonan bakwan!” Ancamku
“Deh, mahal dong gue. Kapan lagi bakwan isi Babon Kelabu lagi kan warnanya..”
Kami pun tertawa lepas
“Eh gimana sama Zahra?” Aku mulai membuka pembicaraan baru
“Oh nona Zahira, ngga gimana-gimana. Masih chat tiap hari..”
“Jangan lupa kata-kata gue waktu di sevel..”
“Iya, jangan kelamaan ngebidik. Nanti bebeknya jadi bebek goreng lagi sama mamang depan komplek.”
Kami tertawa lagi. Hari ini Reza sedang off, makanya dia menyempatkan bermain ke rumah ku. Agenda hari ini hanya main ps di kamar dan berenang di sore harinya bersama adikku juga tentunya.
Spoiler for Part 21:
“Bang, makan keluar yuk.”
“Lah makan sama Danang lah nanti, kan ini Sabtu malem agendanya kalian bermesraan di luar sana.” Kataku
“Danangnya lagi di Semarang sama Orang Tuanya, makanya hari ini ngga pacaran dulu..” Jelasnya
“Tapi jawab jujur dulu, kamu sama si Klimis itu udah pernah ngapain aja?”
“Ih abang mah apaan deh! Baru juga pegangan tangan, nyender-nyender sama meluk-meluk mah ngga. Abang mah ngaco aja.” Ucapnya kesal
sambil memukul pundakku
“Bener ya, kalau sampe dia macem-macem lapor ke abang. Abang goreng nanti pake adonan bakwan barengan sama si Babon satu itu..”
Kami pun tertawa lepas. Oh ya, ini hari kedua kami ditinggal oleh Ayah Ibu ke Luar Negeri. Dan akhirnya kami memutuskan untuk pergi makan pecel lele langganan keluarga yang kebetulan lokasinya dekat dengan sekolahannya Nanda. Niat kami hanya ingin mengendarai motor warisan tahun 1964 dari Kakek batal, karena mungkin sudah lama tidak terpakai jadinya susah untuk nyala lagi. Dan terpaksa kami menggunakan sedan bututku lagi.
Setelah kami parkir dekat dengan warung makannya, kami berjalan menuju warung tenda yang hanya berukuran sekitar 5 X 6 meter ini. Sebelum kami memesan makanan, kami memilih tempat duduk andalan kami yaitu di pojokan dekat pohon besar.
“Mang Ali, biasa ya. Cuma kali ini berdua aja.” Pesanku kepada Mang Ali penjual pecel lele
“Lah mas, Ibu Bapak kemana?” Tanyanya yang memang sudah akrab dengan keluarga kami
“Lagi tugas keluar mang, makanya berdua aja tuh sama Nanda.”
“Mang, Nasi uduk lele ya satu, minumnya lemon tea ya….”
Lemon tea? Apa benar? Tapi sedikit kuragukan. Namun agar raguku terbayarkan akhirnya kuberanikan untuk menoleh kepada wanita yang berdiri disampingku
“Kamu..”
“Lah makan sama Danang lah nanti, kan ini Sabtu malem agendanya kalian bermesraan di luar sana.” Kataku
“Danangnya lagi di Semarang sama Orang Tuanya, makanya hari ini ngga pacaran dulu..” Jelasnya
“Tapi jawab jujur dulu, kamu sama si Klimis itu udah pernah ngapain aja?”
“Ih abang mah apaan deh! Baru juga pegangan tangan, nyender-nyender sama meluk-meluk mah ngga. Abang mah ngaco aja.” Ucapnya kesal
sambil memukul pundakku
“Bener ya, kalau sampe dia macem-macem lapor ke abang. Abang goreng nanti pake adonan bakwan barengan sama si Babon satu itu..”
Kami pun tertawa lepas. Oh ya, ini hari kedua kami ditinggal oleh Ayah Ibu ke Luar Negeri. Dan akhirnya kami memutuskan untuk pergi makan pecel lele langganan keluarga yang kebetulan lokasinya dekat dengan sekolahannya Nanda. Niat kami hanya ingin mengendarai motor warisan tahun 1964 dari Kakek batal, karena mungkin sudah lama tidak terpakai jadinya susah untuk nyala lagi. Dan terpaksa kami menggunakan sedan bututku lagi.
Setelah kami parkir dekat dengan warung makannya, kami berjalan menuju warung tenda yang hanya berukuran sekitar 5 X 6 meter ini. Sebelum kami memesan makanan, kami memilih tempat duduk andalan kami yaitu di pojokan dekat pohon besar.
“Mang Ali, biasa ya. Cuma kali ini berdua aja.” Pesanku kepada Mang Ali penjual pecel lele
“Lah mas, Ibu Bapak kemana?” Tanyanya yang memang sudah akrab dengan keluarga kami
“Lagi tugas keluar mang, makanya berdua aja tuh sama Nanda.”
“Mang, Nasi uduk lele ya satu, minumnya lemon tea ya….”
Lemon tea? Apa benar? Tapi sedikit kuragukan. Namun agar raguku terbayarkan akhirnya kuberanikan untuk menoleh kepada wanita yang berdiri disampingku
“Kamu..”
Spoiler for Part 22:
"Kamu.............."
“Bram, kamu kok di sini?” Tanyanya
“Harusnya aku yang nanya sama kamu, ini kan langganan keluarga aku Din.”
“Dia juga langganan mas Bram, cuma beda hari aja ke sininya.” Suara Mang Ali memecahkan kebingungan kami berdua
“Oalah, kamu sama siapa ke sini?” Tanyaku lagi
“Sendiri aja kok. Kamu sendiri juga?”
“Ngga, aku sama adik aku tuh disana.” Sambil menunjuk tempat adikku duduk
“Oh itu adik kamu? Lucu juga ya.” Katanya
“Kamu orang keberapa yang bilang kayak gitu hehe. Eh yaudah barengan aja yuk, sekalian aku kenalin ke adik aku.” Pintaku
“Emang nggapapa sama adik kamu Bram?” Tanyany ragu
“Udah nggapapa kok.”
Setelah itu aku ajak dia ke sana dan dia berkenalan dengan adikku
“Dek, kenalin ini temen abang.”
“Eh hai aku Dinda.” Dindalah yang menjulurkan tangannya terlebih dulu
“ Eh hai kak, Aku Nanda adeknya abang aku yang ganteng ini.” Sambil dia menjabat tangan Dinda
“Hahaha apaan sih kamu dek.” Kataku
“Kamu masih sekolah apa udah kuliah juga?”
“Aku masih sekolah kak kelas 11 di sini…” Sambil menunjuk sekolah yang ada di belakang kami persis
“Oh, guru matematikanya masih Bu Wardiman bukan?”
“Iya, ih kok kakak tau sih?” Tanya Nanda kaget
“Aku dulu alumni sini tau, dulu masih jamannya…….”
Begitulah obrolan mereka dengan saling antusiasnya dan aku dilupakan. Mungkin begitulah wanita kalau udah nyambung topik pembicaraannya. Pesanan kami pun tiba dan segeralah kami menyantapnya. Selesai makan kami masih menyempatkan untuk mengobrol sebentar
“Abang mau kemana?”
“Mau bayar lah masa ngga bayar.” Kataku
“Eh aku nitip juga nih..”
“Ngga usah biar aku aja yang bayarin Din.” Kataku
“Biarin aja kak, abang aku kan baik. Iya ngga bang hehe..” Goda Nanda
Aku hanya tersenyum dan berlalu melewati mereka berdua yang masih seru berbincang tentang hal yang tidak aku dengar dengan baik karena suaranya beradu dengan bunyi minyak goreng dengan lele didalamnya. Selesai kami membayar, kami menuju dimana mobil kami diparkirkan
“Yaudah aku pulang duluan ya Nda, Bram..”
“Eh bentar, naik apa kamu? Tanyaku
“Naik bus di depan nanti..”
“Jangan! Udah aku anter aja sekalian.” Kataku
“Kamu udah bayarin aku tadi, aku ngga mau nambah repot kamu lagi pake nganterin aku pulang..”
“Udah nggapapa. Naik aja.” Suruhku
Di dalam mobil
“Dek, temenin Kak Dinda di belakang gih.” Seruku
“Lah kamu di depan sendirian Bram?”
“Udah nggapapa, biar kamu ada temen ngobrolnya Din.”
“Kan udah aku bilang, abang aku mah baik kak. Sayang aja belom ada yang mau sama dia. Mungkin kakak mau jadian sama abang aku ini.” Katanya meledek
“Ngomong apa kamu dek, kita juga kenal baru..” Aku yakin pasti mukaku merah saat itu juga
“Hehehe kan kali aja..” Kata Nanda
Dinda hanya tersenyum malu menjawabnya. Dan kami pun menuju rumah Dinda. Sepanjang perjalanan mereka berdua asik mengobrol tentang hal-hal wanita dan lagi-lagi aku hanya jadi supir belaka. Setelah Dinda turun di depan rumahnya, Nanda berpindah lagi duduk di depan.
“Kak Dinda seru juga ya kak, kenal dimana deh penasaran.” Ucap adikku penasaran
“Awal ketemu mah di kampus, Cuma baru kenalnya di kafe.”
“Kampus? Jadi dia kenal dong sama si Cewe Cuek kemaren?” Nadanya mulai sedikit tinggi
“Ya ngga lah, Dinda itu anak Sastra.”
“Ih mending Kak Dinda kemana-mana deh dibanding sama Cewe Cuek itu.”
Aku hanya menanggapinya dengan geleng-geleng kepala. Sepanjang jalan, dia terus menceritakan tentang kebaikan Dinda. Aku yang mendengarnya cukup senang, dia tidak memikirkan tentang Zahra lagi.
“Bram, kamu kok di sini?” Tanyanya
“Harusnya aku yang nanya sama kamu, ini kan langganan keluarga aku Din.”
“Dia juga langganan mas Bram, cuma beda hari aja ke sininya.” Suara Mang Ali memecahkan kebingungan kami berdua
“Oalah, kamu sama siapa ke sini?” Tanyaku lagi
“Sendiri aja kok. Kamu sendiri juga?”
“Ngga, aku sama adik aku tuh disana.” Sambil menunjuk tempat adikku duduk
“Oh itu adik kamu? Lucu juga ya.” Katanya
“Kamu orang keberapa yang bilang kayak gitu hehe. Eh yaudah barengan aja yuk, sekalian aku kenalin ke adik aku.” Pintaku
“Emang nggapapa sama adik kamu Bram?” Tanyany ragu
“Udah nggapapa kok.”
Setelah itu aku ajak dia ke sana dan dia berkenalan dengan adikku
“Dek, kenalin ini temen abang.”
“Eh hai aku Dinda.” Dindalah yang menjulurkan tangannya terlebih dulu
“ Eh hai kak, Aku Nanda adeknya abang aku yang ganteng ini.” Sambil dia menjabat tangan Dinda
“Hahaha apaan sih kamu dek.” Kataku
“Kamu masih sekolah apa udah kuliah juga?”
“Aku masih sekolah kak kelas 11 di sini…” Sambil menunjuk sekolah yang ada di belakang kami persis
“Oh, guru matematikanya masih Bu Wardiman bukan?”
“Iya, ih kok kakak tau sih?” Tanya Nanda kaget
“Aku dulu alumni sini tau, dulu masih jamannya…….”
Begitulah obrolan mereka dengan saling antusiasnya dan aku dilupakan. Mungkin begitulah wanita kalau udah nyambung topik pembicaraannya. Pesanan kami pun tiba dan segeralah kami menyantapnya. Selesai makan kami masih menyempatkan untuk mengobrol sebentar
“Abang mau kemana?”
“Mau bayar lah masa ngga bayar.” Kataku
“Eh aku nitip juga nih..”
“Ngga usah biar aku aja yang bayarin Din.” Kataku
“Biarin aja kak, abang aku kan baik. Iya ngga bang hehe..” Goda Nanda
Aku hanya tersenyum dan berlalu melewati mereka berdua yang masih seru berbincang tentang hal yang tidak aku dengar dengan baik karena suaranya beradu dengan bunyi minyak goreng dengan lele didalamnya. Selesai kami membayar, kami menuju dimana mobil kami diparkirkan
“Yaudah aku pulang duluan ya Nda, Bram..”
“Eh bentar, naik apa kamu? Tanyaku
“Naik bus di depan nanti..”
“Jangan! Udah aku anter aja sekalian.” Kataku
“Kamu udah bayarin aku tadi, aku ngga mau nambah repot kamu lagi pake nganterin aku pulang..”
“Udah nggapapa. Naik aja.” Suruhku
Di dalam mobil
“Dek, temenin Kak Dinda di belakang gih.” Seruku
“Lah kamu di depan sendirian Bram?”
“Udah nggapapa, biar kamu ada temen ngobrolnya Din.”
“Kan udah aku bilang, abang aku mah baik kak. Sayang aja belom ada yang mau sama dia. Mungkin kakak mau jadian sama abang aku ini.” Katanya meledek
“Ngomong apa kamu dek, kita juga kenal baru..” Aku yakin pasti mukaku merah saat itu juga
“Hehehe kan kali aja..” Kata Nanda
Dinda hanya tersenyum malu menjawabnya. Dan kami pun menuju rumah Dinda. Sepanjang perjalanan mereka berdua asik mengobrol tentang hal-hal wanita dan lagi-lagi aku hanya jadi supir belaka. Setelah Dinda turun di depan rumahnya, Nanda berpindah lagi duduk di depan.
“Kak Dinda seru juga ya kak, kenal dimana deh penasaran.” Ucap adikku penasaran
“Awal ketemu mah di kampus, Cuma baru kenalnya di kafe.”
“Kampus? Jadi dia kenal dong sama si Cewe Cuek kemaren?” Nadanya mulai sedikit tinggi
“Ya ngga lah, Dinda itu anak Sastra.”
“Ih mending Kak Dinda kemana-mana deh dibanding sama Cewe Cuek itu.”
Aku hanya menanggapinya dengan geleng-geleng kepala. Sepanjang jalan, dia terus menceritakan tentang kebaikan Dinda. Aku yang mendengarnya cukup senang, dia tidak memikirkan tentang Zahra lagi.
khuman dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Kutip
Balas