- Beranda
- Stories from the Heart
Cewek Kelinci (Usagi no Onna no Ko) ウサギの女の子
...
TS
NihonDamashii
Cewek Kelinci (Usagi no Onna no Ko) ウサギの女の子
Halo agan-agan,
Setelah sekian lama jadi silent reader di SFTH ini, akhirnya ane beranikan diri untuk ikut membuat thread dan menulis cerita.
Cerita ini adalah mix antara true story gw dengan fiksi.
Bagian mana yang true story, dan bagian mana yang fiksi, ane serahkan kepada agan untuk menebaknya aja ya
Tujuan ane nulis cerita ini, adalah semoga agan-agan disini terhibur.
Atau mungkin cerita ini bisa jadi temen agan minum kopi. Atau setidaknya, sambil menunggu cerita di thread laen yang belom di update sama suhu TSnya, bolehlah sekiranya agan mampir dulu disini, menunggu update-an dari mereka keluar
HARAP DIBACA DULU!
Oke deh, langsung aja ya. Selamat menikmati
INDEX:
BAB 1: Cieee.. Honeymoon Cieee...!!
- PART 1
- PART 2
- PART 3
- PART 4
- PART 5
BAB 2: Jepang, Aku Datang!
- PART 1
- PART 2
- PART 3
- PART 4 (With Japanese Translation)
BAB 3: Sendai dan Wortel?
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2
- PART 3 (With Japanese Translation)
- PART 4 (With Japanese Translation)
- PART 5 (With Japanese Translation)
- PART 6 (With Japanese Translation)
- PART 7 (With Japanese Translation)
- PART 8 (With Japanese Translation)
- PART 9 (With Japanese Translation)
- PART 10 (With Japanese Translation)
- PART 11 (With Japanese Translation)
- PART 12 (With Japanese Translation)
- PART 13 (With Japanese Translation)
BAB 4: Dia Datang!
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2
- PART 3
- PART 4 (With Japanese Translation)
- PART 5
- PART 6 (With Japanese Translation)
- PART 7 (With Japanese Translation)
- PART 8
- PART 9 (With Japanese Translation)
BAB 5: Pulang (Datang) Ke Indonesia!
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2 With Japanese Translation)
- PART 3
- PART 4 (End) (With Japanese Translation)
Cewek Kelinci (Special Part)
- PART - 1 Japanese Version -> Click Here
- PART - 2
Setelah sekian lama jadi silent reader di SFTH ini, akhirnya ane beranikan diri untuk ikut membuat thread dan menulis cerita.
Cerita ini adalah mix antara true story gw dengan fiksi.
Bagian mana yang true story, dan bagian mana yang fiksi, ane serahkan kepada agan untuk menebaknya aja ya

Tujuan ane nulis cerita ini, adalah semoga agan-agan disini terhibur.
Atau mungkin cerita ini bisa jadi temen agan minum kopi. Atau setidaknya, sambil menunggu cerita di thread laen yang belom di update sama suhu TSnya, bolehlah sekiranya agan mampir dulu disini, menunggu update-an dari mereka keluar

HARAP DIBACA DULU!
Quote:
Di bagian INDEX, ada part-part yang diberi keterangan: With Japanese Translation. Artinya ada 2 versi cerita yang ane tulis. Versi pertama adalah versi tanpa terjemahan bahasa Jepang, yang kedua adalah versi dengan terjemahan bhs Jepang.
Versi kedua ada di bawah versi pertama. Jadi tinggal scroll saja ke bawah.
Bagi yang tidak ingin ter-distract dan fokus pada isi cerita, silakan baca versi pertama.
Bagi yang ingin sekalian mengetahui bhs Jepang di setiap dialognya, silakan baca versi kedua.
Versi kedua ada di bawah versi pertama. Jadi tinggal scroll saja ke bawah.
Bagi yang tidak ingin ter-distract dan fokus pada isi cerita, silakan baca versi pertama.
Bagi yang ingin sekalian mengetahui bhs Jepang di setiap dialognya, silakan baca versi kedua.
Oke deh, langsung aja ya. Selamat menikmati

INDEX:
BAB 1: Cieee.. Honeymoon Cieee...!!
- PART 1
- PART 2
- PART 3
- PART 4
- PART 5
BAB 2: Jepang, Aku Datang!
- PART 1
- PART 2
- PART 3
- PART 4 (With Japanese Translation)
BAB 3: Sendai dan Wortel?
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2
- PART 3 (With Japanese Translation)
- PART 4 (With Japanese Translation)
- PART 5 (With Japanese Translation)
- PART 6 (With Japanese Translation)
- PART 7 (With Japanese Translation)
- PART 8 (With Japanese Translation)
- PART 9 (With Japanese Translation)
- PART 10 (With Japanese Translation)
- PART 11 (With Japanese Translation)
- PART 12 (With Japanese Translation)
- PART 13 (With Japanese Translation)
BAB 4: Dia Datang!
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2
- PART 3
- PART 4 (With Japanese Translation)
- PART 5
- PART 6 (With Japanese Translation)
- PART 7 (With Japanese Translation)
- PART 8
- PART 9 (With Japanese Translation)
BAB 5: Pulang (Datang) Ke Indonesia!
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2 With Japanese Translation)
- PART 3
- PART 4 (End) (With Japanese Translation)
Cewek Kelinci (Special Part)
- PART - 1 Japanese Version -> Click Here
- PART - 2
Quote:
BAB 1 Part 1
“Satu...dua...tiga...ya!” seru tukang foto keliling kepada kami.
“Wuuuhuuuuuu..!!!” “Hahahaha....!!!!” seru kami, tertawa lepas. Topi toga pun berseliweran ke atas.
Si bapak tukang foto Cuma bisa senyum sambil geleng-geleng kepala ngeliat tingkah laku kami.
Hari ini adalah hari yang telah lama kami nantikan. Hari dimana para mahasiswa yang selama beberapa bulan kurang tidur, datang ke kampus dengan muka kusut, mata merah, dan mendadak akrab dengan para dosen, terutama dengan dosen-dosen pembimbing, melepaskan status mahasiswanya dan menjadi para wisudawan-wisudawati.
Selama beberapa bulan terakhir ini, kami, para mahasiswa jurusan sastra Jepang, telah menumpahkan segala kemampuan dan tenaga kami untuk menyelesaikan skripsi kami.
Penyelesaian skripsi yang setengah mati kami lakukan, masih harus ditambah lagi dengan sidang skripsi. Namun demi kelulusan, kami pantang menyerah. Bahkan tak sedikit yang rela mengorbankan sesuatu yang disukainya demi skripsi.
Rifki, teman gw yang hampir setiap hari main game di PC nya, berkorban untuk tidak menyentuh gamenya selama dia mengerjakan skripsi.
Boni, yang kerjaannya pacaran melulu, selama beberapa bulan terakhir ini jarang kelihatan berduaan dengan ceweknya. Dia bilang dia udah janji ke ceweknya untuk menyelesaikan skripsi tahun ini dan jadi sarjana. Jadi dia minta ke ceweknya untuk mengurangi waktu jalan-jalan dan apel malam minggu.
Ada juga seorang cewek di kelas gw yang mutusin pacarnya karena ingin fokus menyelesaikan skripsi. Gw agak kaget waktu ngedenger kabar itu dari temen-temen seper-gosip-annya. Gw gak ngerti, apa hubungannya nyelesaiin skripsi dengan mutusin pacar. Tapi ya udahlah. Gw gak mau ikut campur.
Gw? Gw sendiri gak berkorban begitu banyak dan ekstrim kayak temen-temen gw. Gw selama beberapa bulan terakhir ini Cuma berkorban waktu tidur aja. Skripsi gw berhasil membuat gw Cuma tidur 3-4 jam.
Tapi hari ini, dengan pakaian dan topi toga yang kami pakai, kami resmi menjadi sarjana S1. Sarjana Sastra.
Gw bakal punya waktu tidur yang banyak lagi. Si Rifki bakal bisa mesra-mesraan lagi sama komputernya. Si Boni bakal punya kebanggaan di depan calon mertuanya karena udah lulus S1.
Cuma ada 6 orang dari angkatan gw yang berhasil menyelesaikan skripsi tahun ini. Dan Alhamdulillah, gw termasuk salah satu di dalamnya.
“Ta! Kita foto berdua, yuk!” kata Gw pada Sinta setelah sesi foto rame-rame satu angkatan selesai.
“uhmm..OK,” jawab Sinta. “Mer, tolong fotoin kita, ya,” pinta Sinta pada Merta, temen sekelas kami.
“Cieee...foto prewed nih ceritanya.. Rangga dan Sinta,” goda Merta.
“Apaan sih.. Udah cepet fotoin,” seru Sinta sambil nyodorin hape gw. Gw Cuma bisa senyum.
“Iye, bawel,” Merta menurut. “Nih, udah,” katanya sambil mengembalikan hape ke gw.
“Jadi nih, kalian ke Jepang? Honeymoon nih yeee...” Goda Merta lagi.
Dan kalimat Merta tadi berhasil membuat temen-temen gw yang tadinya udah mau bubar, pada ngumpul lagi, ngerubungin gw dan Sinta.
“Elo berdua sekalian mau nikah disono, ya?” celetuk Rifki.
“Sok tau!” jawab Sinta sambil mencubit lengan Rifki.
“Aw! Sakit tau!” protes Rifki.
“Biarin!” Sewot Sinta.
“Udah...Udah...ribut mulu. Panas nih. Kita ke dalem lagi, yuk,” sela gw.
Kami semua pun mulai kembali ke dalam gedung.
“Eh, Ga, ntar kalo lo sama Sinta ke Jepang, lu lamar aja do’i,” bisik Rifki sambil berjalan.
“Anak orang maen lamar aja. Gw mau mikirin kerja dulu,” jawab gw.
“ah elo. Mikirin kerja mah abis ngelamar kan bisa,” seru Rifki tak mau kalah. “Lagian nih ya, kapan lagi lu sama Sinta bisa berduaan. Ke Jepang lagi. Jepang men..Jepang!” Tambah dia.
“Gimana ntar, deh” sahut gw.
“Tar kalo udah puropoozu*, kasih tau gw ya. Pokonya gw harus jadi orang pertama yang tau kalo kalian berdua tunangan.” Seru Rifki.
“Ho oh...,” jawab gw sambil ngeloyor meninggalkan Rifki. Kalo udah cerita tentang hubungan gw sama Sinta, itu anak emang berapi-api. Dan gw kadang gak bisa nanggepin omongan dia yang udah berapi-api itu. Gw suka jawab sekenanya aja. Bukan apa-apa, gw bukan tipe orang yang blak-blakan kalo ngomongin soal percintaan.
“Ga! Lo mau kemana?” Tanya Rifki yg gw tinggalkan di belakang gw.
“Makan,” jawab gw pendek.
==============================================================================================
*Puropoozu: ngelamar pasangan
“Satu...dua...tiga...ya!” seru tukang foto keliling kepada kami.
“Wuuuhuuuuuu..!!!” “Hahahaha....!!!!” seru kami, tertawa lepas. Topi toga pun berseliweran ke atas.
Si bapak tukang foto Cuma bisa senyum sambil geleng-geleng kepala ngeliat tingkah laku kami.
Hari ini adalah hari yang telah lama kami nantikan. Hari dimana para mahasiswa yang selama beberapa bulan kurang tidur, datang ke kampus dengan muka kusut, mata merah, dan mendadak akrab dengan para dosen, terutama dengan dosen-dosen pembimbing, melepaskan status mahasiswanya dan menjadi para wisudawan-wisudawati.
Selama beberapa bulan terakhir ini, kami, para mahasiswa jurusan sastra Jepang, telah menumpahkan segala kemampuan dan tenaga kami untuk menyelesaikan skripsi kami.
Penyelesaian skripsi yang setengah mati kami lakukan, masih harus ditambah lagi dengan sidang skripsi. Namun demi kelulusan, kami pantang menyerah. Bahkan tak sedikit yang rela mengorbankan sesuatu yang disukainya demi skripsi.
Rifki, teman gw yang hampir setiap hari main game di PC nya, berkorban untuk tidak menyentuh gamenya selama dia mengerjakan skripsi.
Boni, yang kerjaannya pacaran melulu, selama beberapa bulan terakhir ini jarang kelihatan berduaan dengan ceweknya. Dia bilang dia udah janji ke ceweknya untuk menyelesaikan skripsi tahun ini dan jadi sarjana. Jadi dia minta ke ceweknya untuk mengurangi waktu jalan-jalan dan apel malam minggu.
Ada juga seorang cewek di kelas gw yang mutusin pacarnya karena ingin fokus menyelesaikan skripsi. Gw agak kaget waktu ngedenger kabar itu dari temen-temen seper-gosip-annya. Gw gak ngerti, apa hubungannya nyelesaiin skripsi dengan mutusin pacar. Tapi ya udahlah. Gw gak mau ikut campur.
Gw? Gw sendiri gak berkorban begitu banyak dan ekstrim kayak temen-temen gw. Gw selama beberapa bulan terakhir ini Cuma berkorban waktu tidur aja. Skripsi gw berhasil membuat gw Cuma tidur 3-4 jam.
Tapi hari ini, dengan pakaian dan topi toga yang kami pakai, kami resmi menjadi sarjana S1. Sarjana Sastra.
Gw bakal punya waktu tidur yang banyak lagi. Si Rifki bakal bisa mesra-mesraan lagi sama komputernya. Si Boni bakal punya kebanggaan di depan calon mertuanya karena udah lulus S1.
Cuma ada 6 orang dari angkatan gw yang berhasil menyelesaikan skripsi tahun ini. Dan Alhamdulillah, gw termasuk salah satu di dalamnya.
“Ta! Kita foto berdua, yuk!” kata Gw pada Sinta setelah sesi foto rame-rame satu angkatan selesai.
“uhmm..OK,” jawab Sinta. “Mer, tolong fotoin kita, ya,” pinta Sinta pada Merta, temen sekelas kami.
“Cieee...foto prewed nih ceritanya.. Rangga dan Sinta,” goda Merta.
“Apaan sih.. Udah cepet fotoin,” seru Sinta sambil nyodorin hape gw. Gw Cuma bisa senyum.
“Iye, bawel,” Merta menurut. “Nih, udah,” katanya sambil mengembalikan hape ke gw.
“Jadi nih, kalian ke Jepang? Honeymoon nih yeee...” Goda Merta lagi.
Dan kalimat Merta tadi berhasil membuat temen-temen gw yang tadinya udah mau bubar, pada ngumpul lagi, ngerubungin gw dan Sinta.
“Elo berdua sekalian mau nikah disono, ya?” celetuk Rifki.
“Sok tau!” jawab Sinta sambil mencubit lengan Rifki.
“Aw! Sakit tau!” protes Rifki.
“Biarin!” Sewot Sinta.
“Udah...Udah...ribut mulu. Panas nih. Kita ke dalem lagi, yuk,” sela gw.
Kami semua pun mulai kembali ke dalam gedung.
“Eh, Ga, ntar kalo lo sama Sinta ke Jepang, lu lamar aja do’i,” bisik Rifki sambil berjalan.
“Anak orang maen lamar aja. Gw mau mikirin kerja dulu,” jawab gw.
“ah elo. Mikirin kerja mah abis ngelamar kan bisa,” seru Rifki tak mau kalah. “Lagian nih ya, kapan lagi lu sama Sinta bisa berduaan. Ke Jepang lagi. Jepang men..Jepang!” Tambah dia.
“Gimana ntar, deh” sahut gw.
“Tar kalo udah puropoozu*, kasih tau gw ya. Pokonya gw harus jadi orang pertama yang tau kalo kalian berdua tunangan.” Seru Rifki.
“Ho oh...,” jawab gw sambil ngeloyor meninggalkan Rifki. Kalo udah cerita tentang hubungan gw sama Sinta, itu anak emang berapi-api. Dan gw kadang gak bisa nanggepin omongan dia yang udah berapi-api itu. Gw suka jawab sekenanya aja. Bukan apa-apa, gw bukan tipe orang yang blak-blakan kalo ngomongin soal percintaan.
“Ga! Lo mau kemana?” Tanya Rifki yg gw tinggalkan di belakang gw.
“Makan,” jawab gw pendek.
==============================================================================================
*Puropoozu: ngelamar pasangan
Diubah oleh NihonDamashii 17-12-2015 20:01
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3
162.4K
Kutip
860
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
NihonDamashii
#591
UPDATE BAB 4 PART 4
Quote:
BAB 4 PART 4
Gw duduk bersandar di dekat pintu kaca geser. Sinta yang sedari tadi asyik membongkar kopernya, berjalan ke arah gw, membuka mantelnya, dan duduk di samping gw.
“Capek?” tanya gw.
“Lumayan. Tapi kayaknya nanti aja istirahatnya, sekalian tidur,” jawab Sinta.
Lalu kami berdua terdiam.
Di kamar ini berdua dengan Sinta, gw jadi merasa canggung. Gw jadi gak tahu harus ngobrolin apa lagi.
Dulu, sewaktu gw dan Sinta masih pacaran, apapun bisa kami obrolkan. Tapi sekarang, gw jadi ngerasa bingung harus mulai darimana.
“Jadi, kamu tinggal sendiri disini?” tanya Sinta. Akhirnya ia yang membuka topik pembicaraan.
Pertanyaan itu membuat gw teringat lagi akan Keiko. Apa gw ceritain aja tentang Keiko ke Sinta? Tapi apa pentingnya bagi Sinta? Gw dan Sinta udah gak ada hubungan apa-apa lagi. Gw gak merasa harus menceritakan detail keadaan gw disini pada Sinta.
“Iya sendiri. Seichi, orang yang punya kamar ini, tinggal di rumah temennya selama aku disini,” gw menjelaskan.
Dan kami pun terdiam lama lagi. Gw ngerasa apapun yang kami obrolkan, pembicaraan kami gak berkembang. Kami seperti sedang saling melakukan wawancara. Satu pertanyaan, satu jawaban. Obrolan kami terasa kaku dan canggung.
“Kita makan malem yuk. Kamu lapar kan?” Ajak gw pada Sinta. Daripada kami berdua diem-dieman, lebih baik kami pergi makan, pikir gw.
“Boleh. Kamu biasa makan dimana?”
“Biasanya aku makan di stasiun. Gimana, kamu mau?” tanya gw.
Sinta berpikir sejenak.
“Jam segini kayaknya masih banyak orang di stasiun. Gak usah kesana,” jawab Sinta.
“Terus kita mau makan dimana?”
“Makan disini aja. Mie instan juga udah cukup,” saran Sinta pada gw.
Ya udah, karena maunya Sinta begitu, gw pun setuju aja. Gw pun pergi ke Laws*n di seberang apartemen untuk beli mie instan dan beberapa makanan lain.
Balik lagi ke kamar, gw lihat Sinta sedang memasak air panas di dapur. Bajunya sudah berganti dengan piyama dan cardigan berwarna kuning.
Mendengar gw masuk, Sinta menoleh dan tersenyum.
“Sini, aku siapin makan malam kita,” uja Sinta.
Gw sodorkan kantong belanjaan pada Sinta.
Gak berapa lama kemudian, makan malam kami pun sudah siap.
“Aku belom berbiasa dengan rasa makanan Jepang,” kata Sinta sambil kami makan.
“Selama kamu di Tokyo, kamu tinggal dimana?” tanya gw.
“Di rumah paman. Untungnya disana paman punya stok makanan Indonesia, kaya mie instan dan bumbu-bumbu dapur. Jadi waktu di rumah paman, aku selalu minta dimasakin masakan Indonesia,” sahut Sinta.
Ada jeda cukup lama sebelum gw mengutarakan pertanyaan yang akan gw ucapkan ke Sinta ini. Gw tahu, pertanyaan inilah yang akan membuat semua hal menjadi jelas.
“Ta, ada apa kamu dateng ke Sendai?” tanya gw.
Sinta melirik ke arah gw.
“Untuk ketemu kamu,” jawab Sinta.
Ingin gw lanjutkan bertanya ‘Untuk apa kamu ketemu aku?’, tapi gw urungkan. Gw ngerasa pertanyaan itu akan membuat Sinta marah.
Gimana kalo Sinta memang benar-benar cuma ingin ketemu gw? Mungkin dia gak ada teman yang bisa dia kunjungi selama dia di Jepang.
Dan ketika dia tahu ada orang yang dia kenal ada di Jepang, yaitu gw, dia pun memutuskan untuk berkunjung. Sesederhana itu.
Ya, mungkin sesederhana itulah alasan kenapa Sinta datang kesini.
Itulah yang ada di pikiran gw saat itu.
Tidak mau terlalu pusing memikirkan hal yang gak pasti, gw pun memikirkan hal lain. Gw teringat lagi pada Keiko. Kemana dia? Udah malam begini belom juga pulang?
Kalau dia bekerja, biasanya jam 3 juga udah pulang. Gw lihat hape gw, angka yang tertera disitu 20:39.
Gw mulai khawatir. Gw pun menghubungi Keiko lewat LINE.
Lama gak ada balasan dari Keiko.
Gak ada lagi yang bisa ge lakuin untuk tahu dimana Keiko dan lagi apa dia sekarang. Gw berpikiran positif aja, mungkin dia lagi lembur. Atau dia lagi di rumah temennya.
Setelah makan, gw dan Sinta pun kembali mengobrol. Kali ini obrolan kami sudah mencair, tidak kaku lagi. Namun obrolan kami hanya seputar teman-teman sewaktu di kuliah, atau rencana bekerja di masa depan. Tidak ada obrolan yang bersifat pribadi, obrolan dari hati ke hati.
Ketika kami sedang mengobrol, hape gw berbunyi. Ternyata ada balasan dari Keiko. Ketika gw lihat jamnya, sudah hampir jam 10 malam.
“Siapa?” tanya Sinta tiba-tiba.
“Huh? Oh, temen,” jawab gw. Gw masih belom mau menceritakan Keiko pada Sinta. Entah kenapa, tapi gw merasa Keiko gak ada hubungannya dengan Sinta.
“Udah malem nih. Kamu tidur aja duluan,” kata gw pada Sinta.
“Iya, udah ngantuk juga,” kata Sinta.
Gw menyiapkan futon untuk Sinta.
“Kamu tidur disini aja,” kata gw sambil menunjuk futon yang udah gw siapkan.
“Kamu tidur dimana?” kata Sinta.
“Pengennya sih tidur di mesjid aja, tapi disini gak ada mesjid. Jadi gak apa-apa ya kalo aku juga tidur di kamar ini?” sahut gw.
“Hahaha..kamu ini ada-ada aja. Iya, aku percaya kok sama kamu,” kata Sinta.
“Tapi awas aja kalo kamu macem-macem,” tambah Sinta.
“Enggak, Cuma satu macem aja kok,” timpal gw.
Dan...Bukk! Sebuah bantal pun dengan suksesnya mendarat di wajah gw.
Gw pun cuma nyengir melihat Sinta yang sedang pasang wajah keki dan meletin lidahnya. Tapi akhirnya diapun tersenyum.
“Oyasumi...” kata dia.
“Oyasumi...” sahut gw.
Gw matikan lampu, sehingga cahaya yang masuk ke kamar hanya dari sela-sela gorden yang menutupi pintu kaca geser.
Dan disinilah gw. Berduaan lagi dengan seseorang yang pernah menjadi wanita terpenting kedua setelah ibu gw.
Gw lihat wajah Sinta. Matanya sudah terpejam, walaupun gw gak tahu apakah dia sudah tertidur atau belum.
Walaupun hanya diterangi cahaya rembulan yang masuk dari sela-sela gorden, kecantikan wajah Sinta tetap saja terpancar. Kecantikan seorang wanita yang beranjak dewasa. Kecantikan yang baru saja matang.
Dan gw, dengan hati penuh penyesalan, hanya bisa melihat kecantikan itu dari jauh. Tak berdaya untuk menyentuhnya. Kecantikan itu bukan untuk gw lagi.
Gw palingkan wajah gw ke arah lain. Memandangi wajah Sinta hanya akan membuat gw semakin menyesal. Semakin sakit. Dan semakin ingin untuk memilikinya lagi...
Gw duduk bersandar di dekat pintu kaca geser. Sinta yang sedari tadi asyik membongkar kopernya, berjalan ke arah gw, membuka mantelnya, dan duduk di samping gw.
“Capek?” tanya gw.
“Lumayan. Tapi kayaknya nanti aja istirahatnya, sekalian tidur,” jawab Sinta.
Lalu kami berdua terdiam.
Di kamar ini berdua dengan Sinta, gw jadi merasa canggung. Gw jadi gak tahu harus ngobrolin apa lagi.
Dulu, sewaktu gw dan Sinta masih pacaran, apapun bisa kami obrolkan. Tapi sekarang, gw jadi ngerasa bingung harus mulai darimana.
“Jadi, kamu tinggal sendiri disini?” tanya Sinta. Akhirnya ia yang membuka topik pembicaraan.
Pertanyaan itu membuat gw teringat lagi akan Keiko. Apa gw ceritain aja tentang Keiko ke Sinta? Tapi apa pentingnya bagi Sinta? Gw dan Sinta udah gak ada hubungan apa-apa lagi. Gw gak merasa harus menceritakan detail keadaan gw disini pada Sinta.
“Iya sendiri. Seichi, orang yang punya kamar ini, tinggal di rumah temennya selama aku disini,” gw menjelaskan.
Dan kami pun terdiam lama lagi. Gw ngerasa apapun yang kami obrolkan, pembicaraan kami gak berkembang. Kami seperti sedang saling melakukan wawancara. Satu pertanyaan, satu jawaban. Obrolan kami terasa kaku dan canggung.
“Kita makan malem yuk. Kamu lapar kan?” Ajak gw pada Sinta. Daripada kami berdua diem-dieman, lebih baik kami pergi makan, pikir gw.
“Boleh. Kamu biasa makan dimana?”
“Biasanya aku makan di stasiun. Gimana, kamu mau?” tanya gw.
Sinta berpikir sejenak.
“Jam segini kayaknya masih banyak orang di stasiun. Gak usah kesana,” jawab Sinta.
“Terus kita mau makan dimana?”
“Makan disini aja. Mie instan juga udah cukup,” saran Sinta pada gw.
Ya udah, karena maunya Sinta begitu, gw pun setuju aja. Gw pun pergi ke Laws*n di seberang apartemen untuk beli mie instan dan beberapa makanan lain.
Balik lagi ke kamar, gw lihat Sinta sedang memasak air panas di dapur. Bajunya sudah berganti dengan piyama dan cardigan berwarna kuning.
Mendengar gw masuk, Sinta menoleh dan tersenyum.
“Sini, aku siapin makan malam kita,” uja Sinta.
Gw sodorkan kantong belanjaan pada Sinta.
Gak berapa lama kemudian, makan malam kami pun sudah siap.
“Aku belom berbiasa dengan rasa makanan Jepang,” kata Sinta sambil kami makan.
“Selama kamu di Tokyo, kamu tinggal dimana?” tanya gw.
“Di rumah paman. Untungnya disana paman punya stok makanan Indonesia, kaya mie instan dan bumbu-bumbu dapur. Jadi waktu di rumah paman, aku selalu minta dimasakin masakan Indonesia,” sahut Sinta.
Ada jeda cukup lama sebelum gw mengutarakan pertanyaan yang akan gw ucapkan ke Sinta ini. Gw tahu, pertanyaan inilah yang akan membuat semua hal menjadi jelas.
“Ta, ada apa kamu dateng ke Sendai?” tanya gw.
Sinta melirik ke arah gw.
“Untuk ketemu kamu,” jawab Sinta.
Ingin gw lanjutkan bertanya ‘Untuk apa kamu ketemu aku?’, tapi gw urungkan. Gw ngerasa pertanyaan itu akan membuat Sinta marah.
Gimana kalo Sinta memang benar-benar cuma ingin ketemu gw? Mungkin dia gak ada teman yang bisa dia kunjungi selama dia di Jepang.
Dan ketika dia tahu ada orang yang dia kenal ada di Jepang, yaitu gw, dia pun memutuskan untuk berkunjung. Sesederhana itu.
Ya, mungkin sesederhana itulah alasan kenapa Sinta datang kesini.
Itulah yang ada di pikiran gw saat itu.
Tidak mau terlalu pusing memikirkan hal yang gak pasti, gw pun memikirkan hal lain. Gw teringat lagi pada Keiko. Kemana dia? Udah malam begini belom juga pulang?
Kalau dia bekerja, biasanya jam 3 juga udah pulang. Gw lihat hape gw, angka yang tertera disitu 20:39.
Gw mulai khawatir. Gw pun menghubungi Keiko lewat LINE.
Quote:
Gw: Keiko, kamu dimana? Masih kerja?
Lama gak ada balasan dari Keiko.
Gak ada lagi yang bisa ge lakuin untuk tahu dimana Keiko dan lagi apa dia sekarang. Gw berpikiran positif aja, mungkin dia lagi lembur. Atau dia lagi di rumah temennya.
Setelah makan, gw dan Sinta pun kembali mengobrol. Kali ini obrolan kami sudah mencair, tidak kaku lagi. Namun obrolan kami hanya seputar teman-teman sewaktu di kuliah, atau rencana bekerja di masa depan. Tidak ada obrolan yang bersifat pribadi, obrolan dari hati ke hati.
Ketika kami sedang mengobrol, hape gw berbunyi. Ternyata ada balasan dari Keiko. Ketika gw lihat jamnya, sudah hampir jam 10 malam.
Quote:
Keiko: Maaf terlambat membalasnya. Besok aku ada pekerjaan di luar kota, jadi malam ini aku gak pulang.
Gw: O gitu. Kalo gitu besok semangat ya kerjanya. Selamat istirahat.
Keiko: Makasih. Selamat istirahat.
Gw: O gitu. Kalo gitu besok semangat ya kerjanya. Selamat istirahat.
Keiko: Makasih. Selamat istirahat.
“Siapa?” tanya Sinta tiba-tiba.
“Huh? Oh, temen,” jawab gw. Gw masih belom mau menceritakan Keiko pada Sinta. Entah kenapa, tapi gw merasa Keiko gak ada hubungannya dengan Sinta.
“Udah malem nih. Kamu tidur aja duluan,” kata gw pada Sinta.
“Iya, udah ngantuk juga,” kata Sinta.
Gw menyiapkan futon untuk Sinta.
“Kamu tidur disini aja,” kata gw sambil menunjuk futon yang udah gw siapkan.
“Kamu tidur dimana?” kata Sinta.
“Pengennya sih tidur di mesjid aja, tapi disini gak ada mesjid. Jadi gak apa-apa ya kalo aku juga tidur di kamar ini?” sahut gw.
“Hahaha..kamu ini ada-ada aja. Iya, aku percaya kok sama kamu,” kata Sinta.
“Tapi awas aja kalo kamu macem-macem,” tambah Sinta.
“Enggak, Cuma satu macem aja kok,” timpal gw.
Dan...Bukk! Sebuah bantal pun dengan suksesnya mendarat di wajah gw.
Gw pun cuma nyengir melihat Sinta yang sedang pasang wajah keki dan meletin lidahnya. Tapi akhirnya diapun tersenyum.
“Oyasumi...” kata dia.
“Oyasumi...” sahut gw.
Gw matikan lampu, sehingga cahaya yang masuk ke kamar hanya dari sela-sela gorden yang menutupi pintu kaca geser.
Dan disinilah gw. Berduaan lagi dengan seseorang yang pernah menjadi wanita terpenting kedua setelah ibu gw.
Gw lihat wajah Sinta. Matanya sudah terpejam, walaupun gw gak tahu apakah dia sudah tertidur atau belum.
Walaupun hanya diterangi cahaya rembulan yang masuk dari sela-sela gorden, kecantikan wajah Sinta tetap saja terpancar. Kecantikan seorang wanita yang beranjak dewasa. Kecantikan yang baru saja matang.
Dan gw, dengan hati penuh penyesalan, hanya bisa melihat kecantikan itu dari jauh. Tak berdaya untuk menyentuhnya. Kecantikan itu bukan untuk gw lagi.
Gw palingkan wajah gw ke arah lain. Memandangi wajah Sinta hanya akan membuat gw semakin menyesal. Semakin sakit. Dan semakin ingin untuk memilikinya lagi...
VERSI TERJEMAHAN BAHASA JEPANG
Quote:
BAB 4 PART 4
Gw duduk bersandar di dekat pintu kaca geser. Sinta yang sedari tadi asyik membongkar kopernya, berjalan ke arah gw, membuka mantelnya, dan duduk di samping gw.
“Capek?” tanya gw.
“Lumayan. Tapi kayaknya nanti aja istirahatnya, sekalian tidur,” jawab Sinta.
Lalu kami berdua terdiam.
Di kamar ini berdua dengan Sinta, gw jadi merasa canggung. Gw jadi gak tahu harus ngobrolin apa lagi.
Dulu, sewaktu gw dan Sinta masih pacaran, apapun bisa kami obrolkan. Tapi sekarang, gw jadi ngerasa bingung harus mulai darimana.
“Jadi, kamu tinggal sendiri disini?” tanya Sinta. Akhirnya ia yang membuka topik pembicaraan.
Pertanyaan itu membuat gw teringat lagi akan Keiko. Apa gw ceritain aja tentang Keiko ke Sinta? Tapi apa pentingnya bagi Sinta? Gw dan
Sinta udah gak ada hubungan apa-apa lagi. Gw gak merasa harus menceritakan detail keadaan gw disini pada Sinta.
“Iya sendiri. Seichi, orang yang punya kamar ini, tinggal di rumah temennya selama aku disini,” gw menjelaskan.
Dan kami pun terdiam lama lagi. Gw ngerasa apapun yang kami obrolkan, pembicaraan kami gak berkembang. Kami seperti sedang saling melakukan wawancara. Satu pertanyaan, satu jawaban. Obrolan kami terasa kaku dan canggung.
“Kita makan malem yuk. Kamu lapar kan?” Ajak gw pada Sinta. Daripada kami berdua diem-dieman, lebih baik kami pergi makan, pikir gw.
“Boleh. Kamu biasa makan dimana?”
“Biasanya aku makan di stasiun. Gimana, kamu mau?” tanya gw.
Sinta berpikir sejenak.
“Jam segini kayaknya masih banyak orang di stasiun. Gak usah kesana,” jawab Sinta.
“Terus kita mau makan dimana?”
“Makan disini aja. Mie instan juga udah cukup,” saran Sinta pada gw.
Ya udah, karena maunya Sinta begitu, gw pun setuju aja. Gw pun pergi ke Laws*n di seberang apartemen untuk beli mie instan dan beberapa makanan lain.
Balik lagi ke kamar, gw lihat Sinta sedang memasak air panas di dapur. Bajunya sudah berganti dengan piyama dibalut cardigan berwarna hijau muda.
Mendengar gw masuk, Sinta menoleh dan tersenyum.
“Sini, aku siapin makan malam kita,” uja Sinta.
Gw sodorkan kantong belanjaan pada Sinta.
Gak berapa lama kemudian, makan malam kami pun sudah siap.
“Aku belom berbiasa dengan rasa makanan Jepang,” kata Sinta sambil kami makan.
“Selama kamu di Tokyo, kamu tinggal dimana?” tanya gw.
“Di rumah paman. Untungnya disana paman punya stok makanan Indonesia, kaya mie instan dan bumbu-bumbu dapur. Jadi waktu di rumah paman, aku selalu minta dimasakin masakan Indonesia,” sahut Sinta.
Ada jeda cukup lama sebelum gw mengutarakan pertanyaan yang akan gw ucapkan ke Sinta ini. Gw tahu, pertanyaan inilah yang akan membuat semua hal menjadi jelas.
“Ta, ada apa kamu dateng ke Sendai?” tanya gw.
Sinta melirik ke arah gw.
“Pengen ketemu kamu,” jawab Sinta.
Ingin gw lanjutkan bertanya ‘Untuk apa kamu ketemu aku?’, tapi gw urungkan. Gw ngerasa pertanyaan itu akan membuat Sinta marah.
Gimana kalo Sinta memang benar-benar cuma ingin ketemu gw? Mungkin dia gak ada teman yang bisa dia kunjungi selama dia di Jepang.
Dan ketika dia tahu ada orang yang dia kenal ada di Jepang, yaitu gw, dia pun memutuskan untuk berkunjung. Sesederhana itu.
Ya, mungkin sesederhana itulah alasan kenapa Sinta datang kesini.
Itulah yang ada di pikiran gw saat itu.
Tidak mau terlalu pusing memikirkan hal yang gak pasti, gw pun memikirkan hal lain. Gw teringat lagi pada Keiko. Kemana dia? Udah malam begini belom juga pulang?
Kalau dia bekerja, biasanya jam 3 juga udah pulang. Gw lihat hape gw, angka yang tertera disitu 20:39.
Gw mulai khawatir. Gw pun menghubungi Keiko lewat LINE.
Lama gak ada balasan dari Keiko.
Gak ada lagi yang bisa ge lakuin untuk tahu dimana Keiko dan lagi apa dia sekarang. Gw berpikiran positif aja, mungkin dia lagi lembur. Atau dia lagi di rumah temennya.
Setelah makan, gw dan Sinta pun kembali mengobrol. Kali ini obrolan kami sudah mencair, tidak kaku lagi. Namun obrolan kami hanya seputar masa-masa sewaktu di kuliah, atau rencana bekerja di masa depan. Tidak ada obrolan yang bersifat pribadi, obrolan dari hati ke hati.
Ketika kami sedang mengobrol, hape gw berbunyi. Ternyata ada balasan dari Keiko. Ketika gw lihat jamnya, sudah hampir jam 10 malam.
“Siapa?” tanya Sinta tiba-tiba.
“Huh? Oh, temen,” jawab gw. Gw masih belom mau menceritakan Keiko pada Sinta. Entah kenapa, tapi gw merasa Keiko gak ada hubungannya dengan Sinta.
“Udah malem nih. Kamu tidur aja duluan,” kata gw pada Sinta.
“Iya, udah ngantuk juga,” kata Sinta.
Gw menyiapkan futon untuk Sinta.
“Kamu tidur disini aja,” kata gw sambil menunjuk futon yang udah gw siapkan.
“Kamu tidur dimana?” kata Sinta.
“Pengennya sih tidur di mesjid aja, tapi disini gak ada mesjid. Jadi gak apa-apa ya kalo aku juga tidur di kamar ini?” sahut gw.
“Hahaha..kamu ini ada-ada aja. Iya, aku percaya kok sama kamu,” kata Sinta.
“Tapi awas aja kalo kamu macem-macem,” tambah Sinta.
“Enggak, Cuma satu macem aja kok,” timpal gw.
Dan...Bukk! Sebuah bantal pun dengan suksesnya mendarat di wajah gw.
Gw pun cuma nyengir melihat Sinta yang sedang pasang wajah keki dan meletin lidahnya. Tapi akhirnya diapun tersenyum.
“Oyasumi...” kata dia.
“Oyasumi...” sahut gw.
Gw matikan lampu, sehingga cahaya yang masuk ke kamar hanya dari sela-sela gorden yang menutupi pintu kaca geser.
Dan disinilah gw. Berduaan lagi dengan seseorang yang pernah menjadi wanita terpenting kedua setelah ibu gw.
Gw lihat wajah Sinta. Matanya sudah terpejam, walaupun gw gak tahu apakah dia sudah tertidur atau belum.
Walaupun hanya diterangi cahaya rembulan yang masuk dari sela-sela gorden, kecantikan wajah Sinta tetap saja terpancar. Kecantikan seorang wanita yang beranjak dewasa. Kecantikan yang baru saja matang.
Dan gw, dengan hati penuh penyesalan, hanya bisa melihat kecantikan itu dari jauh. Tak berdaya untuk menyentuhnya. Kecantikan itu bukan untuk gw lagi.
Gw palingkan wajah gw ke arah lain. Memandangi wajah Sinta hanya akan membuat gw semakin menyesal. Semakin sakit. Dan semakin ingin untuk memilikinya lagi...
Gw duduk bersandar di dekat pintu kaca geser. Sinta yang sedari tadi asyik membongkar kopernya, berjalan ke arah gw, membuka mantelnya, dan duduk di samping gw.
“Capek?” tanya gw.
“Lumayan. Tapi kayaknya nanti aja istirahatnya, sekalian tidur,” jawab Sinta.
Lalu kami berdua terdiam.
Di kamar ini berdua dengan Sinta, gw jadi merasa canggung. Gw jadi gak tahu harus ngobrolin apa lagi.
Dulu, sewaktu gw dan Sinta masih pacaran, apapun bisa kami obrolkan. Tapi sekarang, gw jadi ngerasa bingung harus mulai darimana.
“Jadi, kamu tinggal sendiri disini?” tanya Sinta. Akhirnya ia yang membuka topik pembicaraan.
Pertanyaan itu membuat gw teringat lagi akan Keiko. Apa gw ceritain aja tentang Keiko ke Sinta? Tapi apa pentingnya bagi Sinta? Gw dan
Sinta udah gak ada hubungan apa-apa lagi. Gw gak merasa harus menceritakan detail keadaan gw disini pada Sinta.
“Iya sendiri. Seichi, orang yang punya kamar ini, tinggal di rumah temennya selama aku disini,” gw menjelaskan.
Dan kami pun terdiam lama lagi. Gw ngerasa apapun yang kami obrolkan, pembicaraan kami gak berkembang. Kami seperti sedang saling melakukan wawancara. Satu pertanyaan, satu jawaban. Obrolan kami terasa kaku dan canggung.
“Kita makan malem yuk. Kamu lapar kan?” Ajak gw pada Sinta. Daripada kami berdua diem-dieman, lebih baik kami pergi makan, pikir gw.
“Boleh. Kamu biasa makan dimana?”
“Biasanya aku makan di stasiun. Gimana, kamu mau?” tanya gw.
Sinta berpikir sejenak.
“Jam segini kayaknya masih banyak orang di stasiun. Gak usah kesana,” jawab Sinta.
“Terus kita mau makan dimana?”
“Makan disini aja. Mie instan juga udah cukup,” saran Sinta pada gw.
Ya udah, karena maunya Sinta begitu, gw pun setuju aja. Gw pun pergi ke Laws*n di seberang apartemen untuk beli mie instan dan beberapa makanan lain.
Balik lagi ke kamar, gw lihat Sinta sedang memasak air panas di dapur. Bajunya sudah berganti dengan piyama dibalut cardigan berwarna hijau muda.
Mendengar gw masuk, Sinta menoleh dan tersenyum.
“Sini, aku siapin makan malam kita,” uja Sinta.
Gw sodorkan kantong belanjaan pada Sinta.
Gak berapa lama kemudian, makan malam kami pun sudah siap.
“Aku belom berbiasa dengan rasa makanan Jepang,” kata Sinta sambil kami makan.
“Selama kamu di Tokyo, kamu tinggal dimana?” tanya gw.
“Di rumah paman. Untungnya disana paman punya stok makanan Indonesia, kaya mie instan dan bumbu-bumbu dapur. Jadi waktu di rumah paman, aku selalu minta dimasakin masakan Indonesia,” sahut Sinta.
Ada jeda cukup lama sebelum gw mengutarakan pertanyaan yang akan gw ucapkan ke Sinta ini. Gw tahu, pertanyaan inilah yang akan membuat semua hal menjadi jelas.
“Ta, ada apa kamu dateng ke Sendai?” tanya gw.
Sinta melirik ke arah gw.
“Pengen ketemu kamu,” jawab Sinta.
Ingin gw lanjutkan bertanya ‘Untuk apa kamu ketemu aku?’, tapi gw urungkan. Gw ngerasa pertanyaan itu akan membuat Sinta marah.
Gimana kalo Sinta memang benar-benar cuma ingin ketemu gw? Mungkin dia gak ada teman yang bisa dia kunjungi selama dia di Jepang.
Dan ketika dia tahu ada orang yang dia kenal ada di Jepang, yaitu gw, dia pun memutuskan untuk berkunjung. Sesederhana itu.
Ya, mungkin sesederhana itulah alasan kenapa Sinta datang kesini.
Itulah yang ada di pikiran gw saat itu.
Tidak mau terlalu pusing memikirkan hal yang gak pasti, gw pun memikirkan hal lain. Gw teringat lagi pada Keiko. Kemana dia? Udah malam begini belom juga pulang?
Kalau dia bekerja, biasanya jam 3 juga udah pulang. Gw lihat hape gw, angka yang tertera disitu 20:39.
Gw mulai khawatir. Gw pun menghubungi Keiko lewat LINE.
Quote:
Keiko, doko ni iru no? Mada shigoto?
Gw: Keiko, kamu dimana? Masih kerja?
Gw: Keiko, kamu dimana? Masih kerja?
Lama gak ada balasan dari Keiko.
Gak ada lagi yang bisa ge lakuin untuk tahu dimana Keiko dan lagi apa dia sekarang. Gw berpikiran positif aja, mungkin dia lagi lembur. Atau dia lagi di rumah temennya.
Setelah makan, gw dan Sinta pun kembali mengobrol. Kali ini obrolan kami sudah mencair, tidak kaku lagi. Namun obrolan kami hanya seputar masa-masa sewaktu di kuliah, atau rencana bekerja di masa depan. Tidak ada obrolan yang bersifat pribadi, obrolan dari hati ke hati.
Ketika kami sedang mengobrol, hape gw berbunyi. Ternyata ada balasan dari Keiko. Ketika gw lihat jamnya, sudah hampir jam 10 malam.
Quote:
Henji osokunatte gomen. Ashita wa machi no soto ni itte, shigoto suru kara, konya wa kaeranai.
Keiko: Maaf terlambat membalasnya. Besok aku ada pekerjaan di luar kota, jadi malam ini aku gak pulang.
Sou ka. Ja, ashita wa mata ganbatte ne. Oyasumi.
Gw: O gitu. Kalo gitu besok semangat ya kerjanya. Selamat istirahat.
Arigatou. Oyasumi.
Keiko: Makasih. Selamat istirahat.
Keiko: Maaf terlambat membalasnya. Besok aku ada pekerjaan di luar kota, jadi malam ini aku gak pulang.
Sou ka. Ja, ashita wa mata ganbatte ne. Oyasumi.
Gw: O gitu. Kalo gitu besok semangat ya kerjanya. Selamat istirahat.
Arigatou. Oyasumi.
Keiko: Makasih. Selamat istirahat.
“Siapa?” tanya Sinta tiba-tiba.
“Huh? Oh, temen,” jawab gw. Gw masih belom mau menceritakan Keiko pada Sinta. Entah kenapa, tapi gw merasa Keiko gak ada hubungannya dengan Sinta.
“Udah malem nih. Kamu tidur aja duluan,” kata gw pada Sinta.
“Iya, udah ngantuk juga,” kata Sinta.
Gw menyiapkan futon untuk Sinta.
“Kamu tidur disini aja,” kata gw sambil menunjuk futon yang udah gw siapkan.
“Kamu tidur dimana?” kata Sinta.
“Pengennya sih tidur di mesjid aja, tapi disini gak ada mesjid. Jadi gak apa-apa ya kalo aku juga tidur di kamar ini?” sahut gw.
“Hahaha..kamu ini ada-ada aja. Iya, aku percaya kok sama kamu,” kata Sinta.
“Tapi awas aja kalo kamu macem-macem,” tambah Sinta.
“Enggak, Cuma satu macem aja kok,” timpal gw.
Dan...Bukk! Sebuah bantal pun dengan suksesnya mendarat di wajah gw.
Gw pun cuma nyengir melihat Sinta yang sedang pasang wajah keki dan meletin lidahnya. Tapi akhirnya diapun tersenyum.
“Oyasumi...” kata dia.
“Oyasumi...” sahut gw.
Gw matikan lampu, sehingga cahaya yang masuk ke kamar hanya dari sela-sela gorden yang menutupi pintu kaca geser.
Dan disinilah gw. Berduaan lagi dengan seseorang yang pernah menjadi wanita terpenting kedua setelah ibu gw.
Gw lihat wajah Sinta. Matanya sudah terpejam, walaupun gw gak tahu apakah dia sudah tertidur atau belum.
Walaupun hanya diterangi cahaya rembulan yang masuk dari sela-sela gorden, kecantikan wajah Sinta tetap saja terpancar. Kecantikan seorang wanita yang beranjak dewasa. Kecantikan yang baru saja matang.
Dan gw, dengan hati penuh penyesalan, hanya bisa melihat kecantikan itu dari jauh. Tak berdaya untuk menyentuhnya. Kecantikan itu bukan untuk gw lagi.
Gw palingkan wajah gw ke arah lain. Memandangi wajah Sinta hanya akan membuat gw semakin menyesal. Semakin sakit. Dan semakin ingin untuk memilikinya lagi...
Diubah oleh NihonDamashii 15-11-2015 20:26
0
Kutip
Balas