Jeritan Malam (ketika keindahan menjadi sebuah ketakutan)
TS
meta.morfosis
Jeritan Malam (ketika keindahan menjadi sebuah ketakutan)
pernahkan agan merinding disuatu tempat, merasakan kehadiran seseorang yang menurut agan hanya merupakan permainan imajinasi otak belaka dan ketika sebuah karunia datang untuk memberikan agan sebuah kesempatan untuk melihat sekilas apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan semua fenomena tersebut, apakah anda akan tetap tersenyum dengan logika dan keyakinan bahwa semua hanya imajinasi otak atau berteriak dan berharap agar mata ini tetap terpejam dan semua itu hanyalah sebuah mimpi ane akan bercerita sebuah kisah yang mungkin akan merubah cara pandang agan tentang semua kejadian yang pernah menimpa agan, ketika agan membaca dan bertanya apakah ini real story ? semua kembali kepada agan untuk menilai apakah ini sebuah fiksi belaka atau real story, selamat menikmati semoga sebuah sensasi akan menemani agan dalam gelapnya malam Mohon para reader yang masih dibawah umur agar bisa memilah antara yang baik dan buruk di cerita ini, ambil yang baik dan bermanfaat..jauhi yang buruk dan menyesatkan Waktu Update : Penulis adalah seorang pekerja yang akan selalu menulis disela sela waktu luangnya, jadi untuk update bisa dilakukan kapan saja entah itu malam, pagi ataupun siang, jadi tidak ada istilah mengulur ulur waktu Peraturan membaca di thread ini : Hargai hasil karya penulis, karena menulis adalah suatu hoby dimana penulis membutuhkan pembaca dan pembaca memberikan apresiasi/kritik/masukan sebagai bentuk penghargaan karya penulis
Jangan menjiplak/mengakui hasil karya penulis, ketika ingin copy paste ke thread atau blog lain biasakan etika untuk meminta izin dan mencantumkan sumber penulisan
Penulis berharap kepada para reader untuk tidak terpengaruh atau berusaha membalas apabila ada komentar reader negatif yang berusaha membuat rusuh atau mencari sensasi karena komentar balasan adalah motivasi mereka menjadi reader negatif Line Id : meta.morfosis untuk update harap bersabar gan
Spoiler for Prologue:
Menjadi manusia normal adalah sebuah impian setiap manusia, tapi apa jadinya ketika sebuah kejadian yang menimpa anda membuat semuanya menjadi sebuah mimpi buruk, saat waktu2 yang terasa indah untuk dinikmati kini menjadi sebuah kecemasan, saat tempat tempat terindah yang kita kunjungi kini menjadi sebuah pemandangan yang penuh dengan rasa ketakutan.
Nama gw reza, gw merupakan lulusan salah satu perguruan negeri ternama disalah satu universitas negeri di Jakarta, sebuah kampus yang berada dalam suatu lingkungan asri dengan pohon pohon besar disekitarnya bahkan hampir mirip disebut dengan sebutan hutan kota, gw menyelesaikan pendidikan SI dalam waktu yang normal, dengan predikat yang lumayan hingga akhirnya sebuah panggilan kerja mengantarkan kaki gw untuk berlabuh disalah satu kota di jawa timur.
Semua terasa begitu indah, begitu sempurna, bisa dibilang yang maha kuasa memudahkan semua langkah kehidupan gw, orang tua gw yang semula tidak menyetujui gw untuk pindah kota, akhirnya menyetujuinya, walaupun dengan resiko mereka kini harus tinggal hanya berdua saja di kota bogor yang tenang. Sebenarnya orang tua gw khususnya bokap gw menginginkan agar gw bekerja di Jakarta atau setidaknya meneruskan usaha yang sudah dirintisnya selama ini, berbagai macam argumen telah mereka keluarkan untuk menggagalkan keinginan gue untuk meninggalkan Jakarta, terutama alasan umur mereka yang sudah tua, berat rasanya meninggalkan mereka bila mengingat semua alasan itu, tapi keinginan untuk mandiri membuat gw bisa mengalahkan semua rasa tidak tega itu.
Tapi semua keindahan rangkuman perjalan hidup gw kini berubah secara drastis, seiring langkah kaki gw menaiki sebuah kereta yang mengantarkan gw menuju sebuah kota di jawa timur. Sebuah kereta yang menjadi awal dimulainya rentetan kejadian yang merubah perjalanan hidup gw….
Dan percayalah ketika gw menuliskan ini semua, gw tercekam dalam rasa ketakutan, rangkaian kata yang gw tulis dengan menjentikan jari dalam barisan huruf di keyboard tidak lepas dari tatapan mata mereka, gw hanya berharap semoga malam cepat berlalu berganti menjadi siang.
Spoiler for Chapter 1 ( sebuah kabar indah tentang masa depan ):
Juli 2007, Irama langkah kaki gw bergegas cepat meninggalkan sebuah toko buku dan menuju ke stasiun kereta, kebetulan hari ini sehabis berkunjung kerumah seorang teman, gw mampir ke sebuah toko buku untuk membeli beberapa buah buku yang gw butuhkan untuk sekedar menjadi bahan bacaan peneman hari hari gw setelah lulus kuliah, disaat kesibukan mata gw mencari cari buku yang mungkin bisa menjadi bahan bacaan gw, sebuah panggilan telepon masuk, ya sebuah panggilan yang sama sekali tidak terduga dan akan menjadi awal hidup gw memasuki dunia kerja
“ hallo selamat siang, dengan bapak reza ” sebuah kalimat pembuka pembicaraan di telepon terdengar dari seorang wanita
“ benar mba, kalau boleh tau saya bicara dengan siapa ?”
“ saya indri pak, kami dari perusahaan PT. XXXXX, meminta bapak untuk hadir ke perusahaan kami untuk mengikuti proses seleksi penerimaan kerja ”
Sebuah kabar yang bagus, tapi kembali gw berpikir dan mencoba mengingat kembali surat surat lamaran yang pernah gw kirimkan, ingatan gw masih bisa mengingat perusahaan2 yang pernah gw layangkan surat lamaran kerja, dan menurut gw perusahaan ini tidak termasuk didalam daftar perusahaan yang masuk dalamlist surat lamaran kerja yang gw layangkan
“ aneh, ah masa bodo, yang penting gw jalanin aja dulu ” gumam gw, hingga akhirnya gw tertidur dikursi kereta yang mengantarkan gw ke stasiun bogor
“ wah tumben sudah rapih pagi pagi za ” tegur mamah ketika melihat gw yang sudah rapih dan mencoba menyiapkan sarapan sendiri
“ iya mah, hari ini ada panggilan kerja ”
“ Alhamdulillah za, cepat juga kamu dapat panggilan semoga diterima za ” terlihat mamah tersenyum dibalik kata katanya yang mengandung doa
“ diantar mang iwan aja za, biar tidak telat ” ucap bapak yang rupanya mencuri dengar pembicaraan kami, mang iwan merupakan supir yang bekerja dikeluarga kami
“ haduhh jangan pak, biar reza sendiri aja sekalian biar tau jalan ” jawab gw menolak tawaran itu
Setelah menyelesaikan sarapan dan pamit, segera gw pergi menuju perusahaan tempat gw akan melakukan tes pekerjaan, jam masih menunjukan pukul 7.30 sedangkan jadwal interview yang akan gw lakukan pukul 11, jadi cukuplah waktu tempuh yang akan gw habiskan untuk menuju perusahaan tersebut, dan kereta menjadi salah satu pilihan gw untuk mempersingkat jarak tempuh itu,tepat jam 10 kurang 15 akhirnya gw tiba di perusahaan tersebut, sebuah lokasi perusahaan yang terletak di Jakarta selatan
Setelah menuju ke bagian resepsionis dan memberitahukan maksud kedatangan gw, akhirnya gw dipersilahkan duduk disebuah ruang tunggu, waktu luang itu gw manfaatkan untuk mencoba membaca baca dan kembali mengingat materi kuliah yang pernah gw pelajari
“ bapak reza, mari ikut saya ” tegur seorang wanita yang mempersilahkan gw untuk mengikutinya ke salah satu ruangan tempat akan dilaksanakan interview
“ silahkan duduk pak, nanti usernya akan segera datang ” ucap wanita itu kembali sambil tersenyum dan beranjak pergi
Ada rasa tegang ketika pertama kali melaksanakan proses penerimaan kerja, ditambah gw masih terasa asing dengan perusahaan ini, hingga akhirnya rasa tegang itu sirna seiring sosok yang gw lihat memasuki ruangan
“ lohh mas kamil..?” ucap gw heran melihat sosok yang tersenyum dihadapan gw, mas kamil merupakan senior gw yang telah lulus satu tahun lebih cepat dari gw
“ kaget ya za ?”
“ iyalah mas, soalnya seingat gw, gw belum pernah melamar ke perusahaan ini ” kembali mas kamil tersenyum mendengar jawaban gw
Hingga akhirnya mas kamil menceritakan tentang sejarah dan bergerak dalam bidang apa perusahaan tempat kerjanya itu bergerak, kebetulan dia sudah memegang posisi penting didalam perusahaan tersebut dan merekomendasikan gw untuk mengisi sebuah tempat dalam departemennya yang kebetulan kosong
“ bagaimana za ?” tampak mata mas kamil mencoba memperhatikan gw
“ ternyata diluar Jakarta ya mas, sepertinya gw harus bicara sama kedua orang tua gw dulu ”
“ lu udah dewasa za, lelaki dewasa harus bisa punya keputusan sendiri ”
“ jangan sampai kesempatan yang sudah didepan mata lu sia siakan karena keraguan lu ” terang mas kamil kembali, sambil berupaya menumbuhkan rasa semangat gw
“ kalau lu berminat, sekarang jg gw minta bagian hrd mengurus surat kontraknya, karena gw memang lagi butuh cepat ” lama gw berpikir mencoba menimbang semua omongan mas kamil, antara keinginan bekerja dan restu dari orang tua, setelah gw berpikir lama akhirnya gw memutuskan untuk menerimanya, pasti orang tua gw akan menyetujui ini, niat yang baik untuk sebuah pekerjaan yang baik pasti akan disetujui
“ baik mas, saya terima ” sebuah senyum sumringah terlihat dari wajah mas kamil
“ gitu dong za, baik gw ke bagian hrd dulu untuk mengurus semua surat2nya ” ucap mas kamil sambil menepuk bahu gw dan pergi meninggalkan gw
Setelah semua surat surat kontrak telah gw tanda tangani, mas kamil segera menerangkan tentang pekerjaan yang akan gw lakukan dan proses training terlebih dahulu yang akan gw lakukan setibanya gw di kantor cabang
“ lu di training dulu selama seminggu za, tenang aja gw yakin lu bisa ” ucap mas kamil antusias
“ insha allah mas, jadi kapan gw berangkat ”
“ seminggu dari sekarang za, lu persiapin dah semuanya, jangan lupa izin sama orang tua lu ”
“ siap mas, terima kasih atas bantuannya ”
Dan akhirnya gw meninggalkan perusahaan tersebut dengan langkah kemenangan, seperti layaknya orang yang pulang dari pertempuran, gw diterima kerja dan gw akan memberitahukan kabar gembira ini kepada orang tua gw dan tidak lupa kepada wulan yang telah menjadi pacar gw selama kuliah
“ mah, saya diterima kerja ” ucap gw sesampainya dirumah dan menyampaikan kabar gembira ini kepada bapak dan mamah yang sedang bersantai diruang tamu
“ Alhamdulillah za..” jawab mamah sambil memeluk gw
“ selamat za, selamat jadi lelaki dewasa ” ucap bapak sambil tertawa dan memberikan selamat
Kegembiraan itu tidakberlangsung lama, ketika gw menerangkan tentang penempatan kerja gw
“ memangnya tidak bisa meminta posisi dijakarta za, bapak sama mamahmu ini sudah tua, kenapa tidak di jakarta aja, atau kamu nerusin usaha bapak ” ucap bapak sambil tangannya mencoba mengelap2 keris yang terlihat sudah tua, memeang bapak adalah pengkoleksi keris2 tua, bahkan bukan cuma keris saja, asalkan itu bernilai seni dan peninggalan masa lalu pasti dikoleksinya
Setelah gw menerangkan tentang keinginan gw untuk mandiri, dan alasan masa depan yang bagus di pekerjaan ini, akhirnya bapak dan mamah mengijinkan gw untuk pergi keluar kota dan menerima perkerjaan ini
“ kapan kamu berangkat za ” ucap bapak mencoba mencari keterangan
“ minggu depan pak, mohon restunya pak, mah ”
“ iya za, bapak sama mamah restuin yang penting kamu bisa jaga diri, dan bawa diri disana ” ucap mamah kembali memeluk gw disela sela isak tangisnya.
Seminggu sudah berlalu dan tiba harinya keberangkatan gw, dengan diantar oleh mang iwan dan wulan, segera gw menuju ke stasiun kereta yang akan mengantarkan gw ke jawa bagian timur, sepanjang jalan terlihat wajah wulan yang agak berat melepas kepergian gw,hingga akhirnya kamipun tiba distasiun kereta
“ jangan lupa kasih kabar ” ucap wulan sebelum melepas gw menaiki kereta
“ doain aku, semoga aku cepat nikahi kamu dan kamu bisa ikut sama aku kesana ” ucap gw sambil memeluk wulan kemudian melepaskannya dalam balutan air matanya, dan akhirnya pijakan kaki gw mantap menaiki kereta
“ selamat tinggal Jakarta…selamat datang pekerjaan baru..semoga cepat sukses ” doa gw didalam hati Next Chapter : sebuah perjalanan dan celoteh seorang kakek tua Heran rasanya mendengar ocehan kakek tua ini, antara sebuah misteri atau sakit jiwa yang menimpa kakek ini, hingga akhirnya gw berlabuh di kantor cabang yang mengharuskan gw untuk menempati sebuah mess tua
Spoiler for andira…. ( kedatangan om wisnu dan sebuah rencana ) 5:
“ sebenarnya ada apa sih…koq tampang kalian setegang ini ?” tanya andira berusaha mencairkan suasana makan malam diantara raut wajah yang tegang
“ sebenarnya…”
“ sebenarnya enggak terjadi apa apa…mungkin tadi kami hanya salah dengar..” ucap gw memotong perkataan dedi, gw tidak mau dedi berbicara panjang lebar tentang kejadian kejadian aneh yang belakangan ini sering terjadi dirumah ini
“ wah..seperti ada yang sedang kalian coba tutup tutupi dari saya, baiklah…kalau begitu saya kembali ke kamar saja…” dengan wajah merajuk andira menyudahi makan malamnya yang belum selesai
“ ndira…sebentar, saya sama dedi sama sekali enggak berusaha menutup nutupi apa yang terjadi…hanya saja..” ucap gw berusaha menghentikan andira yang terlihat akan beranjak dari tempatnya duduk, untuk beberapa saat gw terdiam mencoba mempertimbangkan perkataan jujur yang andira minta
“ hanya saja apa ?”
“ saya merasa belum saatnya kamu mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi…dan andaikan kamu tau, saya enggak mau melibatkan kamu terlalu jauh..” helaan nafas gw begitu dalam, mencoba menepiskan gambaran wajah wulan dipikiran ini, gw tidak mau kejadian buruk yang menimpa wulan akan kembali menimpa orang2 terdekat dengan gw…dan mungkin salah satunya adalah andira
“ lebih baik kamu jujur za…saya hanya ingin kamu jujur dengan apa yang terjadi, dan saya merasa ini adalah waktu yang tepat untuk awal kamu berbicara jujur…seiring waktu yang berjalan..saya akan bisa mengambil keputusan bahwa kamu memang layak menjadi pendamping hidup saya..” perkataan yang terlontar dari mulut andira sedikit mengagetkan gw, semula gw menduga andira sama halnya seperti gw.. tidak mengetahui semua proses perjodohan ini, ternyata gw salah menduga…
“ sepertinya gw salah tempat nih…sebaiknya gw pergi dulu, biar kalian bisa saling mengenal dulu “ sambil tersenyum menggoda
“ apaan sih lu ded..jangan pergi lu..” ucap gw dengan perasaan malu sambil menarik tangan dedi agar menghentikan langkahnya, terlihat wajah andira sedikit tersipu akibat candaan dedi
“ kamu yakin dengan ucapan kamu itu ?” tanya gw kepada andira
“ entahlah za, saya hanya bisa menunggu tawaran keyakinan yang kamu berikan…sekarang tolong kamu jelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi ?” jawab andira seraya balik bertanya
“ zaaa…lebih baik lu jelaskan saja, apa yang telah terjadi…biar bagaimanapun..andira lambat laun pasti akan mengetahuinya “ ucapan dedi seakan menepis keraguan gw untuk menceritakan peristiwa peristiwa yang selama ini telah gw lalui kepada andira, setelah lama terdiam, akhirnya gw putuskan untuk menceritakan semua kejadian yang telah gw alami selama ini
“ tumbal ? ritual ?... entah saya harus percaya atau enggak za…tapi semua ini sungguh gila, kamu harus mengakhiri ini semua za…tolong za..banyak yang kamu pertaruhkan dari semua ritual ini…” nada bicara andira terdengar agak meninggi, seolah memendam kemarahan atas kebodohan yang telah gw lakukan
“ jadi kamu percaya semua ini terjadi karena ritual itu ?” ucap gw tanpa berusaha membalas tatapan mata andira
“ za..ini bukan masalah percaya atau tidak percaya lagi..walaupun saya tidak pernah melihat bagaimana bentuk mahluk ghaib itu..saya mempercayai keberadaannya, seperti layaknya kehidupan manusia..ada kekuatan baik dan jahat didalamnya….dan kamu kini sedang berhadapan dengan kekuatan jahat itu “ ucapan yang terlontar dari mulut andira begitu menunjukan kedewasaan pola berpikirnya
“ entah bagaimana caranya saya harus mengakhiri ini semua “ ucap gw pelan sambil melangkah ke arah jendela dapur yang masih terbuka, lega rasanya menghirup udara malam diantara peliknya permasalahan yang gw hadapi
“ percayalah za…sekali saya berucap akan setia menemani kamu melalui semua ini..saya akan selalu bersama kamu melalui semua ini “ ucapan yang terlontar dari mulut andira sudah cukup untuk gw menolehkan wajah ke arahnya, wajah gadis yang sebelumnya terlihat begitu cuek dan jauh dari sisi kelembutannya sebagai seorang wanita, sekarang bagaikan menjelma menjadi seorang peri manis yang memberikan rasa tentram dihati ini
“ mungkin dalam beberapa hari ke depan, saya akan kembali ke tempat itu…tempat yang menjadi awal dari semua kejadian ini…dan semoga itu menjadi awal dari akhir semua kisah kelam ini “
“ gw ikut za…gw harus tau akhir dari semua ini “ raut wajah dedi menunjukan rasa ketertarikannya
“ tanpa meminta persetujuan siapapun..saya juga ikut za “ ucap andira sambil mengangkat jari tangannya, bingung rasanya menyikapi kebersediaan mereka untuk ikut menemani gw dalam mengakhiri semua masalah ini, entah bagaimana gw harus menyikapi semua perlakuan ini, terlalu naïf rasanya jika gw harus bergembira atas semua kebersediaan mereka jika pada akhirnya gw akan kembali menerima kesedihan
“ sudah larut…. koq mereka masih belum juga pulang “ tatapan mata andira menatap jam yang tergantung di dinding, rupanya kami sudah terlalu lamu terlibat dalam sebuah pembicaraan santai hingga tidak menyadari waktu sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam
“ mungkin mereka terjebak macet, enggak usah anehlah kalau tinggal di kota kota besar seperti Jakarta dan bogor itu..kita akan kerap pulang terlambat…” ucap dedi mencoba menghapus kekhawatiran di wajah andira
“ sebaiknya saya istirahat dulu…..” terlihat andira mulai bangkit dari kursi tempatnya duduk, sejenak dia terdiam menatap gw yang terpaku menatapnya
“ kenapa za…?”
“ saya enggak mau…. hal hal yang buruk akan kembali menimpa orang orang yang gw sayangi, berat rasanya untuk kembali merasakan semua itu…” seiring perkataan yang gw ucapkan, bermacam bayangan buruk akan peristiwa peristiwa pahit yang mungkin akan gw alami selanjutnya begitu memenuhi pikiran ini
“ saya percaya pada kamu za….semua yang telah terjadi bukanlah atas kemauan kamu, semua itu sudah menjadi takdir…kamu tidak perlu bersedih dan menyalahkan diri sendiri…saya percaya sama kamu za…”
“ percaya atas apa ?” tanya gw memotong perkataan andira
“ saya percaya kamu tidak akan membiarkan semua itu terjadi dan menimpa orang orang yang kamu sayangi….” perkataan yang keluar dari mulut andira terdengar begitu sederhana tapi sedikit banyak kembali membangkitkan semangat gw untuk segera mengakhiri semua kejadian kejadian yang selama ini datang silih berganti meneror kehidupan gw
“ terima kasih ndira…” seulas senyum terlihat dari wajah andira begitu melihat ada setitik keyakinan di wajah gw, entah mengapa seiring langkahnya yang mulai menjauh meninggalkan gw, ada sedikit keyakinan di hati gw bahwa andira adalah sosok wanita yang bisa menjadi tambatan hati gw dalam berbagi kesedihan dan kesenangan yang akan gw lalui
“ jangan sia siakan wanita seperti itu za, kalau lu enggak mau…gw bersedia koq za “ ucap dedi sambil melemparkan bungkusan rokok ke tubuh gw
“ brengsek lu ded…masih sempat sempat sempatnya lu mikir kayak gitu “ terlihat dedi tertawa kecil, gumpalan asap rokok keluar dari mulutnya, raut wajahnya menggambarkan bahwa dia sedang memikirkan sesuatu
“ selama gw bertugas di rumah sakit…sama sekali gw enggak pernah mengalami kejadian kejadian aneh, baru di rumah ini gw mengalami kejadian aneh itu za….”
“ lu menyesal ded ?”
“ ahh ucapan lu seperti baru mengenal gw aja za, lu tuh enggak jauh beda dengan gw, disaat lu penasaran…gw juga merasakan hal yang sama…sumpah gw juga penasaran dengan hal hal yang ghoib za.. tapi gw enggak senekat lu..”
“ sebaiknya lu enggak usah berpikir aneh aneh ded…gw enggak mau masalah yang kita hadapi akan bertambah runyam…” ucap gw sambil mencoba menerka nerka arah pikiran dedi
“ sebaiknya lu istirahat duluan ded…biar gw yang menunggu kepulangan nyokap dan om wisnu “
“ iya za…sebaiknya bi nani disuruh istirahat juga tuh za..kasihan dai tadi gw lihat nyuci piring enggak selesai selesai….” ucap dedi sambil menatap ke arah tempat pencucian piring, mendengar perkataan dedi gw mengernyitkan dahi, mencoba ikut melihat ke arah tempat pencucian piring…sama sekali gw tidak melihat sosok bi nani disana…kembali gw menatap dedi…tatapan mata gw mencoba memberikan sebuah isyarat kepada dedi bahwa gw tidak melihat apa yang telah dia lihat
“ zaaaa ?” ucap dedi dengan tatapan wajah penuh kebingungan
“ zaaa…lu kenapa sih ? jangan nakut nakutin gw….” ucapnya sekali lagi sambil menatap ke arah tempat pencucian piring, lama dedi terpaku dengan tatapan kosong, hingga ahirnya wajahnya menampakan perubahan ekspresi…..tampak sekali gambaran ketakutan di wajahnya
“ zaaaa…zaaaaa…” ucap dedi dengan terbata bata…kedua bola matanya terlihat tidak berkedip, entah apa yang dedi sedang saksikan, tapi gw bisa merasakan sebuah ketakutan yang teramat sangat sedang dia alami
“ ampunnn jangan ganggu gw…jangan ganggu gw…” kedua telapak tangan dedi mencoba menutupi pengelihatannya, mendadak gw yang semula tidak begitu merasakan ketakutan, kini mulai bisa merasakan ketakutan itu….secara perlahan gw bisa merasakan perubahan suhu ruangan…semua terasa begitu dingin dan itu sudah cukup untuk membangunkan bulu bulu yang berada di tengkuk ini, tanpa menunggu sesuatu terjadi lebih buruk…segera gw mengahmpiri dedi dan mencoba membangkitkan dari duduknya
“ bi nani za…bi nani….” ucap dedi sambil menunjuk ke arah pencucian piring
“ ded…sadar ded…sadar…istigfar “ gw mencoba menenangkan ketakutan yang dedi rasakan, hingga akhirnya gw menarik dedi secara paksa untuk segera meninggaklan ruang makan menuju teras depan, terasa berat sekali langkah dedi untuk melangkah, seperti ada kekuatan lain yang mencoba menahan langkahnya
“ sadar ded...” ucap gw sambil terus memaksanya untuk melangkah, mungkin andai gw melihat apa yang sedang dedi saksikan kali ini, gw akan merasakan hal yang sama dengan apa yang dedi rasakan, setelah berjuang dengan sedikit susah payah akhirnya kami berhasil menapakan kaki di teras depan
“ lu lihat apa sih ded…!” tanya gw dengan sedikit membentak mencoba mengembalikan kesadaran diri dedi
“ ded…lu lihat apa…jawab ded..?” ucap gw sekali lagi sambil menggoyang goyangkan bahunya, tatapan dedi terlihat begitu kosong, rasa kaget yang dia alami seakan akan meninggalkan sebuah rasa trauma
“ zaaa…zaa..bi nani za…” dengan suara terbata bata dedi mencoba mengeluarkan suaranya dan mencoba menjelaskan apa yang sudah dilihatnya
“ tadi gw melihat bi nani mencuci piring za…awalnya biasa aja..satu persatu piring yang di cuci diletakannya di tempat piring..hingga akhirnya…” dedi kembali terdiam sejenak, ekspresi wajahnya menggambarkan rasa tidak percaya dengan apa yang baru dia saksikan
“ akhirnya kenapa ded…?” tanya gw dengan rasa penasaran
“ disaat bi nani kembali meletakan sebuah piring…gw melihat telapak tangan bi nani tertinggal za…masih menempel di piring itu…tapi gw enggak melihat sama sekali ada darah yangkeluar diantara tangan yang terputus itu za…..” helaan nafas dedi terasa begitu berat, seperti mencoba membuang ketakutan yang dia rasakan
“ gw ingin teriak dan memanggil bi nani za…tapi semua itu urung gw lakukan…bi nani yang sama sekali enggak menghadapkan wajahnya ke arah gw…tiba tiba seperti merintih…hingga akhirnya suara tangisnya itu berubah menjadi sebuah suara tawa yang nyaris membuat gw mati kaku za…sumpah ini hal terseram yang baru pertama kali gw lihat za….” entah gw harus berkata apa mendengar keterangan yang dedi berikan, teror yang semula hanya gw rasakan kini mulai bisa dirasakan oleh orang orang di sekeliling gw di rumah ini
“ lu enggak melihat za? enggak mendengar suara tawa dan tangisnya yang terdengar melengking itu ?” tanya dedi berharap gw ikut merasakan apa yang dia rasakan…tapi hanya sebuah jawaban gelengan kepala yang bisa gw berikan untuk menjawab pertanyaan dedi
“ sebaiknya lu mulai menjauh dari kehidupan gw ded…” ucap gw sambil melepaskan pegangan tangan gw di bahu dedi dan mencoba menyulut sebatang rokok untuk menghilangkan ketegangan yang kini gw rasakan
“ enggak akan gw ninggalin lu za…disaat lu mulai berbagi semua kisah itu dengan gw…disaat itu gw berkomitmen untuk membantu lu…” terlihat dedi mulai bisa menenangkan dirinya, kini telapak tangannya mencoba menepuk nepuk bahu gw seakan memberikan isyarat bahwa dia akan ikut serta didalam semua langkah yang akan gw tempuh…lama kami terdiam tanpa pembicaraan..hingga akhirnya dering suara telepon yang berasal dari dalam rumah terdengar memecah kesunyian…
Next Chapter : Ketika fenomena ghaib mulai menampakan eksistensinya