- Beranda
- The Lounge
Hitoshi Imamura - "Penjajah" Jepang yang Peduli Rakyat Indonesia
...
TS
RightDeve
Hitoshi Imamura - "Penjajah" Jepang yang Peduli Rakyat Indonesia
Hitoshi Imamura - "Penjajah" Jepang yang Peduli Rakyat Indonesia

ARTIKEL INI BERDASARKAN SUMBER BUKU:
"THE JAPANESE EXPERIENCE IN INDONESIA: SELECTED MEMOIRS OF 1942-1945"
(Edited by Anthony Reid and Oki Akira)
Ohio University, United States - Monographs in International Studies
Southeast Asia Series, No. 72
"THE JAPANESE EXPERIENCE IN INDONESIA: SELECTED MEMOIRS OF 1942-1945"
(Edited by Anthony Reid and Oki Akira)
Ohio University, United States - Monographs in International Studies
Southeast Asia Series, No. 72
Quote:
****************************************************************************************************************

INTRO
Jendral Hitoshi Imamura adalah komandan Army ke-16 pasukan Jepang yang ditugaskan untuk membebaskan Pulau Jawa (dan Sumatera bagian selatan) dari cengkeraman Belanda. Ia adalah "Penjajah" Jepang yang justru sangat bersahabat dan peduli terhadap penduduk Indonesia kala itu.Ia disukai oleh masyarakat di Jawa; ia adalah teman bagi anak-anak kecil pribumi; dan bahkan seorang sahabat bagi Bapak Pendiri Indonesia itu sendiri, sang Proklamator, Sukarno.
Bagi sebagian penduduk Indonesia, zaman pendudukan Jepang mungkin adalah masa-masa keras dengan disiplin tinggi, bahkan tak jarang terjadi kekerasan dan penindasan bagi pribumi, karena kebutuhan Perang Jepang kala itu yang kian tersudut. Namun bagi penduduk Jawa, mungkin memori ini tidak begitu kelam, terutama ketika Hitoshi Imamura menjadi pemimpin mereka pasca jatuhnya penjajah Belanda di tahun 1942. Pada bulan November 1942, Imamura dipindahtugaskan untuk memimpin Area Army ke-8 yang berpusat di Rabaul, Papua Nugini, sebuah teater operasi militer yang sangat genting bagi Jepang kala itu. Dengan perginya Imamura, masa-masa pendudukan Jepang di Jawa pun semakin ketat & keras. Namun bangsa Indonesia tidak melupakan kebaikannya. Ini terbukti dengan niat baik Sukarno untuk menyelematkannya dari tawanan Belanda pasca perang.
Spoiler for FOTO:
Spoiler for FOTO:
Spoiler for FOTO:
Spoiler for FOTO:
OLAHRAGA RENANG DI SELAT SUNDA, LALU MINUM AIR KELAPA
Cerita Imamura di Jawa, dimulai ketika ia harus berpegangan erat-erat ke sebuah rakit, terombang-ambing di Selat Sunda. Dua kapal perang Australia & Amerika, yang ingin melarikan diri menuju Cilacap, justru berpapasan dengan armada Jepang yang mengangkut Army ke-16. Sebelum akhirnya hancur dan tenggelam, dua kapal ini berhasil menenggelamkan dua kapal Jepang, yang mana Hitoshi Imamura ada di dalamnya. Selama berjam-jam kedinginan dan tanpa pakaian, ia harus terombang-ambing di Selat Sunda sebelum akhirnya diangkut oleh Kapal Jepang menuju Pelabuhan Merak.
Dengan sangat kelelahan, ia dan stafnya bermalam di sebuah perkebunan kelapa di Banten. Ia tertidur sangat lelap di sebuah rumah petani. Keesokan paginya, ia sarapan roti kering dan minum air kelapa. Ia menulis di buku memoirnya pasca perang, "Ini adalah pertama kali saya minum air kelapa. Seorang tentara melubangi kelapa itu dan saya meminumnya sampai habis. Saya sangat kagum bagaimana alam menganugerahi masyarakat tropis ini dengan air yang begitu enak."
Spoiler for FOTO:
Spoiler for FOTO:
Spoiler for FOTO:
Spoiler for FOTO:
DISAMBUT DENGAN GEMBIRA OLEH PRIBUMI YANG MEMBAWA PARANG
Selanjutnya, ia dan pasukannya bergerak maju. Jalan yang ditempuh sangat sulit, karena pasukan Sekutu, yang terdiri dari Belanda, Amerika, Inggris, dan Australia, telah menanam bom di setiap pohon. Banyak pohon-pohon tumbang yang menghalangi jalan. Tiba-tiba datanglah ratusan penduduk Indonesia membawa parang. Tanpa disangka, mereka langsung membabat, memotong, dan membersihkan pohon-pohon tumbang itu, melancarkan jalan pasukan Jepang memburu Belanda.
Lalu banyak penduduk yang kagum berkumpul di sekitarnya, menyaksikan tentara Nippon yang gagah sedang berbaris maju. Penduduk ini sangat baik, mulai dari orang tua hingga anak-anak, mereka memberikan buah-buahan kelapa, pisang, dan pepaya kepada pasukan Jepang. Beberapa tentara Jepang ikut berbagi rokok, roti kering, dan coklat yang diambil dari ransum mereka. Penduduk lokal bersorak dengan gembira, sambil mengangkat tangan dan mengacungkan jempol.
Imamura bertanya kepada penerjemahnya:
"Mereka berkata 'tuan...tuan' sesuatu. Artinya apa itu?"
"Maksudnya mereka sedang mengucapkan terima kasih. Biasanya, kata 'terima kasih' sudah cukup, tapi mereka menambah kata 'tuan' sebagai penghormatan kepada anda."
Beberapa tentara Jepang mencoba praktek bahasa Indonesia dengan mencomot satu-dua kata dari Kamus Percakapan yang mereka bawa. Mereka berbincang patah-patah dengan orang tua dan anak-anak. Imamura terheran, "Apakah ini adalah medan peperangan?"
Spoiler for FOTO:
Spoiler for FOTO:
Spoiler for FOTO:
Spoiler for FOTO:
SEBAGIAN NENEK MOYANG JEPANG BERASAL DARI INDONESIA
Tiba-tiba datang seorang kakek. Dari penampilannya sepertinya adalah tetua desa. Ia mengacungkan jempol dan berkata sesuatu. Penerjemahnya mengobrol dengan kakek itu. Ia berkata "Jempol yang diacungkan itu maksudnya adalah 'bagus'. Sepertinya penduduk ingin berkata 'selamat datang' kepada kita. Kakek itu berkata, 'Di Indonesia, ada ramalan yang mengatakan bahwa, akan datang orang-orang yang serumpun dengan orang Indonesia, yang mengembalikan kebebasan bagi kami. Apakah tuan bangsa yang serumpun dengan kami?'"
Imamura berkata,
"Penerjemah! Beri tahu dia ini. Bahwa sebagian nenek moyang bangsa Jepang datang dari kepulauan Indonesia dengan menggunakan kapal. Anda dan orang Jepang adalah saudara. Kami bertarung melawan Belanda supaya kalian bisa kembali merdeka."
Ramalan yang dimaksud adalah ramalan Jayabaya, seorang raja Kediri di abad ke-12, yang mengatakan bahwa penjajahan bangsa Eropa terhadap Jawa akan diakhiri oleh pendudukan bangsa lain yang berkisar hanya 3-5 tahun atau seumur Jagung. Jawa lalu akan bersatu dan bebas, dan masa-masa keadilan akan datang. Sedangkan Imamura berkata bahwa Jepang adalah serumpun dengan orang Indonesia berdasar oleh teori sejarah yang umum di tahun 1930-40an. Di zaman modern juga kembali terkuak fakta arkeologis & genetik, bahwa telah terjadi banjir bandang raksasa yang menenggelamkan peradaban besar di Nusantara pada akhir zaman Es 12 ribu tahun yang lalu. Pada zaman Es, hanya daerah ekuator/tropis yang memiliki iklim hangat untuk menunjang tumbuhnya peradaban. Masyarakat yang selamat dari banjir akibat mencairnya es ini, kemudian bermigrasi ke segala penjuru Bumi termasuk ke Jepang kala itu. (untuk bacaan lebih lanjut mengenai hal ini, baca buku "Eden in The East - The Drowned Continent of Southeast Asia" yang ditulis oleh seorang peneliti genetis & sejarah ras manusia dari Universitas Oxford, Stephen Oppenheimer).
Lalu kakek tua itu melanjutkan:
"Tentara Belanda telah menanam bom di setiap pohon. Namun tanggung jawab kepala desa untuk meledakkan bom-bom itu. Kami meledakkan beberapa bom agar tentara Belanda senang, makanya ada sebagian pohon tumbang. Tapi setelah mereka pergi kami tidak meledakkan bom lagi karena khawatir akan mengganggu jalan para penduduk."
Malam itu, ribuan penduduk lokal membantu tentara Jepang untuk membersihkan pohon-pohon tumbang di jalan. Melancarkan jalannya pasukan meriam & Artileri sehingga mereka cepat sampai di Serang, menyusul pasukan Infanteri.
Spoiler for FOTO:
Spoiler for FOTO:
Spoiler for FOTO:
Spoiler for FOTO:
MENYERANG BOGOR, BANDUNG, JAKARTA, SOLO, YOGYAKARTA, DAN SURABAYA
Sejak malam tanggal 3 Maret, sejumlah 3000 pasukan Jepang telah menyerang 7000 pasukan Australia yang bertahan di kota Buitenzorg (Bogor),sebuah kota yang di dalamnya terdapat istana Gubernur-Jenderal Hindia Belanda, dan juga taman botani tropis terbesar di seluruh dunia. Namun penyerangan terhambat karena pertahanan yang gigih dari musuh, dan juga medan sungai dengan tebing tinggi di sebelah barat Kota. Namun akhirnya pada tanggal 5 Maret, Divisi Maruyama melaporkan bahwa pasukan Australia telah pontang-panting mundur menuju benteng Bandung. Resimen Shoji berhasil menyeruak mengejar mereka di Bandung, namun karena jumlah prajurit yang kecil dibandingkan 50 ribu pasukan Belanda, Imamura menyuruhnya untuk menghentikan penyerangan dan menunggu bantuan datang.
Resimen Infanteri ke-29 yang berjalan menyusuri Pantai Utara, kini telah berhasil menguasai Batavia (Jakarta) pada tanggal 6 Maret setelah menghancurkan perlawanan musuh sepanjang jalan. Untuk mencegah anarki, Imamura memerintahkan agar pasukan dilarang memasuki kota seluruhnya. Selain itu, Divisi Tsucihashi telah berhasil mendarat di Jawa Timur dan kini sedang menuju Kota Surabaya; Brigade Sakaguchi telah menduduki kota kerajaan Solo dan Yogyakarta pada tanggal 3 Maret, lalu sebagian pasukannya berlanjut menuju Cilacap; Resimen Shoji yang sebelumnya diserang oleh pesawat-pesawat musuh, kini telah berhasil menguasai Pangkalan Udara Kalijati dan mengalahkan pasukan Belanda-Australia di sana.
Imamura berkata, "Tak ada keraguan bahwa kesuksesan ini dapat dicapai, karena rasa tanggung jawab besar yang ada pada setiap diri komandan pasukan, juga usaha dan bantuan dari 50 juta penduduk Indonesia yang bersahabat dengan Jepang dan anti-Belanda.
Spoiler for FOTO:
Spoiler for FOTO:
BELANDA CIUT NYALINYA
Pukul 12.30 dini hari, Imamura dibangunkan oleh stafnya. Ia membacakan laporan bahwa kurir Belanda telah mengunjungi Resimen Shoji. Tertulis: "Tolong sampaikan kepada Komandan pasukan Jepang sebuah pesan. Bahwa Komandan pasukan Sekutu di Hindia Belanda, Letnan Jendral ter Poorten, ingin mengajukan proposal penghentian perang. Kami menunggu jawaban dari pihak Jepang"
Imamura heran, mengapa pihak Sekutu tiba-tiba saja menyerah padahal belum terjadi pertarungan besar di Bandung. Selain itu, Belanda juga memiliki 50 ribu pasukan, dibandingkan dengan 40 ribu pasukan Jepang di seluruh Jawa, dan hanya 25 ribu pasukan yang menuju Bandung. Di akhir perang, Imamura mengetahui bahwa, Belanda mengira Jepang memiliki 200 ribu pasukan,yang menjadi alasan mengapa mereka menyerah begitu saja. Selain itu, sebuah insiden yang menyangkut Batalion Wakamatsu Mitsunori juga menyiutkan nyali Belanda. Imamura telah memberikan perintah agar seluruh Resimen Shoji menahan serangannya ke Bandung, namun perintah ini tidak berhasil sampai ke Batalion Wakamatsu Mitsunori. Sehabis turun gunung, Batalion ini langsung bergerak menuju kota Bandung dengan hanya 500 orang pasukan. Belanda terheran-heran terhadap kepercayaan diri pasukan Jepang, hanya 500 pasukan berani melawan 50 ribu pasukan Sekutu. Entah mereka begitu hebatnya atau pasti ada pasukan yang jauh lebih besar di belakangnya. Dan begitulah, nyali Belanda telah ciut akibat perintah Imamura untuk menahan serangan ke Bandung tidak berhasil sampai ke Batalion tersebut.
Kemudian di pagi hari, Imamura dan Staf nya berangkat menuju Kalijati untuk melakukan perundingan dengan Belanda. Di tengah jalan, ternyata sebuah jembatan besi sepanjang 150 meter telah hancur diledakkan oleh Belanda. Terpaksa ia harus meninggalkan mobilnya dan menunggu mobil pengganti di seberang sungai. Ketika ia sedang menunggu, beberapa orang Tionghoa datang menghampirinya sambil hormat berkali-kali. Mereka mengeluhkan bahwa setelah tentara Belanda mundur ke Benteng Bandung, penduduk lokal banyak yang menjarah toko-toko Cina dan membawa semua barang, bahkan jendela kaca pun dicuri. Mereka minta agar tentara Jepang membantu mereka mengembalikan barang-barang ini.
Imamura menulis di memoirnya,
"Orang-orang Cina biasanya suka mencari-cari perhatian dan berteman dengan Belanda. Selain itu mereka juga memboikot produk-produk Jepang. Walaupun mereka sejatinya memusuhi Jepang, saya katakan kepada mereka:
'Seperti yang kalian lihat, kami sekarang sedang perang. Kami tak punya waktu untuk mencari barang-barang kalian yang dicuri. Setelah kami memenangkan pertempuran ini, kami akan mengeluarkan perintah agar Polisi mencari barang tersebut. Jika jiwa kalian terancam oleh penduduk Pribumi, kalian bisa minta perlindungan ke tentara Jepang.'
"Mendengar jawaban ini, mereka puas. Mereka pergi sambil berkata 'Terima kasih tuan besar'."
Kerusakan yang diderita kaum Tionghoa rupanya cukup parah, melihat bahwa rumah-rumah yang hancur sepanjang jalanan adalah rumah-rumah Cina. Mungkin ini karena sentimen penduduk lokal yang menganggap kaum Tionghoa adalah teman Belanda.
Spoiler for FOTO:
Spoiler for FOTO:
Spoiler for FOTO:
LANJUT DI BAWAH
0
106.2K
531
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•105.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
RightDeve
#2
BERSAMA ANAK-ANAK DI SEKOLAH
Suatu hari ia mengunjungi sekolah dasar di mana terdapat 150 murid dari penduduk lokal. Sebenarnya banyak sekali yang berminat masuk sekolah, namun karena keterbatasan pengajar profesional dari Jepang, maka jumlah murid harus dibatasi. Sekolah ini terdiri dari 8 kelas dan dibagi menjadi 4 tingkatan. Di sini mereka belajar membaca, menulis, matematika, dan bernyanyi. Mereka belum diajari huruf Kanji yang rumit, baru mengenal huruf sederhana "Kana-moji". Namun para murid sudah paham berbicara Jepang begitu bagusnya hanya dalam waktu 4 bulan sehingga Imamura terkesima, ia bisa membayangkan anak-anak ini adalah anak Jepang asli jika ia menutup mata mendengarkan mereka bernyanyi.
Setelah melihat-lihat 8 kelas, Imamura diminta untuk memberikan pidato kepada anak-anak. Sambil berdiri di tengah kerumunan anak-anak, ia bicara dalam bahasa Jepang:
"Kalian semua sangat lucu-lucu. Kalian paham tulisan Jepang dan lagu Jepang. Nyanyian kalian sangat bagus. Kalian harus terus belajar giat, mengikuti guru kalian.
"Jika kalian paham yang saya katakan, coba angkat tangan!"
Setelah ia bicara lagi dengan lebih perlahan, anak-anak mengangkat tangan mereka dan berkata,
"Ya! Kami paham!"
Lalu Imamura berkata lagi,
"Karena kalian semua anak-anak yang baik, saya akan mengirimkan kue siang ini. Kalian bisa mengambil dari guru-guru kalian."
Serentak mereka mengangkat tangan, tertawa, dan bersorak gembira sekali.
Imamura ingin agar beberapa anak ini dapat tinggal di rumah dinasnya. Ada 5 orang anak Jepang asli yang tinggal di rumahnya, sehingga mereka bisa menjadi teman yang baik. Ia meminta agar kepala sekolah memilih 2 murid yang mendapat izin dari orangtuanya untuk tinggal bersama Imamura.
Lima hari kemudian datanglah kepala sekolah membawa 4 orang anak. Mengira bahwa ia harus memilih dua anak, Imamura mengatakan kepada Kepala sekolah,
"Saya tidak masalah mana yang mau tinggal, silahkan anda pilih 2 orang anak"
Dengan muka kebingungan, ia menjawab,
"Apakah tidak bisa semuanya tinggal di rumah anda? Di zaman Belanda, tak ada orang Indonesia boleh menginjakkan kaki di rumah besar ini kecuali para pekerja kebersihan. Karena orang tua berpikir bahwa sekarang Belanda tidak ada, dan anak-anaknya boleh tinggal di rumah ini, maka banyak sekali yang berminat untuk bisa tinggal di sini. Sangat sulit membatasi hanya 4 anak. Jika kami harus memilih hanya 2 anak, maka orang tua dan anak-anak yang tidak terpilih akan sangat kecewa!"
Imamura terkejut, ia mengira hanya satu atau dua anak yang berminat, karena akan merasa aneh untuk tinggal di rumah sebesar ini.
Ia berkata,
"Jika begitu, maka saya menerima semua 4 anak ini. Agar orang tua tidak khawatir, mereka boleh pulang ke rumah orang tua setiap Sabtu hingga Senin. Kamar mereka akan berada di samping kamar penjaga, dan mereka harus makan bersama para tentara. Sebagai latihan disiplin, tolong beritahu orang tua, bahwa Kono, seorang anak Jepang yang disiplin dari keluarga petani, akan membimbing mereka. Saya akan beritahu dia untuk tidak menampar anak-anak ini. Jika orang tua ingin menjenguk, mereka dipersilahkan datang kapan saja."
Anak-anak ini sangat gembira, dan sudah dapat berbahasa Jepang dengan bebas. Mereka lalu berteman baik dengan para pembantu di rumah itu, yang mana mereka biasanya berlatih olahraga Sumo di taman sebelum makan malam. Setelah makan malam, kesembilan anak Indonesia dan Jepang ini duduk melingkar di taman, dengan Kono di tengah-tengah.
Imamura menulis di memoirnya,
"Melihat anak-anak ini bernyanyi lagu militer dan lagu populer Jepang sambil melingkar, sangat menyenangkan hati saya. Ketika ada pengunjung dari luar, anak-anak ini akan berseragam apron putih, lalu mereka melayani hidangan kami. Pengunjung sangat senang dengan pelayanan mereka."
Spoiler for FOTO:
Spoiler for FOTO:
Spoiler for FOTO:
Spoiler for FOTO:
Spoiler for FOTO:
SUKARNO DITAMPAR JEPANG
Jenderal Imamura juga adalah teman bagi sang Proklamator Indonesia, Bung Karno. Pernah suatu ketika, Imamura memerintahkan rumah-rumah untuk memadamkan lampu, sebagai latihan menanggulangi serangan udara musuh. Seorang tentara Jepang yang sedang mabuk, tiba-tiba memasuki rumah Sukarno dan menamparnya, membentak bahwa ia lupa memadamkan lampu.Mendengar cerita ini, Imamura menuntut agar tentara itu minta maaf kepada Sukarno atau akan dihukum dengan keras.
Sukarno bercerita, sambil bercengkerama dengan Imamura,
"Kemarin malam, seorang Perwira tiba-tiba masuk ke rumah saya dan menampar saya! Ia menunjuk-nunjuk jendela dan lampu di atas. Walaupun pada saat itu saya sangat marah, saya baru sadar akan kesalahan saya. Ternyata saat itu sedang ada perintah pemadaman cahaya untuk latihan penanggulangan serangan udara musuh. Saya sangat malu ketika Perwira itu kemudian datang dengan Kolonel Nakayama. Ia meminta maaf dengan sangat sopan sekali. Saya juga mengatakan bahwa saya telah salah saat itu. Setelah itu kami berdua menjadi sangat bersahabat, saling bersalaman. Saya dengar dari Kolonel Nakayama setelah itu, bahwa anda sangat menyesal dengan perbuatan Kapten ini. Saya datang ke sini untuk mengakui kesalahan saya dan mengucapkan terima kasih atas perhatian anda kepada saya."
Imamura menjawab,
"Jelas bahwa kapten ini bertindak kasar untuk mengingatkan perintah pemadaman, tanpa mengetahui bahwa itu adalah rumah anda. Dalam tradisi tentara Jepang, menampar seseorang yang melakukan kesalahan adalah hal yang dianggap wajar. Pemerintah telah mencoba untuk menghentikan tradisi ini selama 30 tahun, namun sia-sia. Bahkan ada juga orang-orang seperti itu di Staf Markas saya, dan ada tentara-tentara yang menampar dan memukul orang Indonesia. Dalam pertemuan Komandan selanjutnya, saya akan perintahkan untuk menghentikan kebiasaan buruk ini. Tolong beritahu kami, jika ada lagi tentara Jepang yang bersikap kasar terhadap orang Indonesia. Namun demikian, saya sangat senang bahwa anda telah berdamai."
Spoiler for FOTO:
Spoiler for FOTO:
Spoiler for FOTO:
Spoiler for FOTO:
Spoiler for FOTO:
SUKARNO BEKERJA SAMA DENGAN JEPANG
Sekembalinya Sukarno dari pengasingan Belanda di Sumatra, ia bertemu dengan Hitoshi Imamura untuk pertama kalinya. Imamura berkata:
"Tuan Sukarno! Saya telah mengetahui dengan baik siapa anda, pemikiran-pemikiran anda, aktivitas anda di masa Belanda, dan juga kesusahan yang anda derita. Saya tak akan memerintah anda melakukan ini dan itu, karena saya tahu anda tidak akan menuruti perintah kecuali yang sejalan dengan pemikiran anda. Saya tak dapat mengatakan apa-apa tentang nasib Indonesia, apakah ia akan merdeka total, atau menjadi negara di bawah pemerintahan Jepang, atau menjadi negara merdeka di bawah pengaruh militer Jepang. Hal-hal ini adalah urusan yang harus dinegosiasikan antara Pemerintah Jepang dan Para Pemimpin Indonesia. Saya tidak memiliki wewenang untuk mencampuri urusan tersebut.
"Satu-satunya hal yang bisa saya janjikan kepada 60 juta penduduk Indonesia adalah bahwa pemerintahan saya akan memberikan partisipasi politik yang lebih besar kepada penduduk Indonesia, serta kesejahteraan yang lebih tinggi dibandingkan zaman penjajahan Belanda. Anda bebas memilih apakah akan bekerja sama dengan kami atau hanya sebagai pengamat. Pasukan Jepang akan melindungi kehormatan dan harta benda anda dengan sesungguhnya.
"Namun, saya tak akan membiarkan anda menghalangi pemerintahan Jepang melalui aktivitas anda ataupun kegiatan anda di media massa. Bahkan jika anda menghalang-halangi, saya tidak ingin memasukkan anda ke Penjara sebagaimana yang Belanda lakukan.Anda tidak perlu menjawab langsung. Silahkan beritahu jawaban anda melalui Kolonel Nakayama, setelah Anda berdiskusi dengan teman-teman anda."
Empat hari setelah pertemuan pertama, Sukarno memberikan jawabannya melalui Kolonel Nakayama: "Saya dan kawan-kawan saya akan bekerjasama dengan pemerintahan Jepang, karena anda telah menjanjikan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia dibandingkan zaman Belanda dulu. Namun, saya dengan tegas mengatakan, bahwa saya akan memiliki kebebasan bertindak setelah perang ini usai."
Berkat negosiasi dengan Kolonel Nakayama, kemudian disetujui bahwa pemerintah Jepang akan mendirikan Organisasi dan menyediakan kantor, staf, mobil, dan keuangan yang diperlukan agar Indonesia dapat bekerjasama dengan Jepang.
Spoiler for FOTO:
Spoiler for FOTO:
Spoiler for FOTO:
Spoiler for FOTO:
LUKISAN BASUKI ABDULLAH
Suatu hari, Sukarno menelepon ajudan Kapten Tanaka Minoru, untuk bertanya apakah ia bisa menemui sang Jenderal dalam urusan pribadi. Imamura menyetujuinya dan terlihat Sukarno datang bersama seorang pria 30 tahun.
Sukarno berkata,
"Orang ini adalah keponakan saya, Basuki Abdullah. Ia adalah pelukis gaya Barat terbaik di negeri ini. Ia meminta saya agar bisa melukis komandan Imamura. Apakah bisa?"
"Wajah saya sebenarnya bukan objek seni yang bagus. Saya tidak keberatan jika anda ingin berlatih dengan wajah saya, tapi saya tidak bisa duduk diam lama sebagai model lukisnya" Imamura menimpali.
"Tidak, tidak perlu komandan diam. Anda bisa berbincang-bincang dengan saya"
Mereka berdua lalu datang empat kali selama dua minggu ke depan untuk melukis Imamura. Di kunjungan terakhir, Letkol Machida dan Shimizu, bersama-sama Sukarno, Basuki Abdullah, dan Hatta, memberikan kepadanya sebuah lukisan yang berbingkai indah. Mereka mengatakan ini adalah hadiah dari Sukarno kepada Jenderal Imamura. Imamura menawarkan untuk membeli lukisan itu dari Basuki Abdullah, tapi ditolak. Akhirnya ia menerima lukisan itu sebagai hadiah agar tidak disangka menganggap lukisan itu kurang bagus. Kemudian, Imamura mengirimkan bingkisan yang cukup bagus kepada Abdullah sebagai balasan atas lukisannya.
Imamura menulis di buku memoirnya,
"Saya baru mengetahui belakangan, bahwa peristiwa lukisan ini sebenarnya telah diatur oleh Shimizu agar saya dan Sukarno bisa bertemu lebih sering. Saya sangat senang bisa menjadi akrab dengan Sukarno melalui peristiwa tersebut."
Pemuda Indonesia menempatkan kepercayaan total kepada Sukarno. Bahkan mereka rela untuk mengorbankan nyawanya memperjuangkan kemerdekaan di bawah pimpinan Sukarno. Oleh karena itu, kerjasama Sukarno benar-benar sangat menguntungkan bagi jalannya pemerintahan Imamura.
Dikatakan bahwa Sukarno adalah seorang ahli pidato yang ulung.
"Karena saya belum pernah mendengar ia berpidato, saya ragu akan hal itu. Apakah orang yang keliatannya biasa saja ini... ?
"Ketika saya mengobrol dengan salah satu Penasihat Politik, Hayashi Kyujiro, ia menceritakan hal ini:
"Suatu hari ketika saya melewati alun-alun dengan mobil, saya menjumpai banyak orang berkumpul di situ, yang mengakibatkan saya tidak bisa lewat. Keluar dari mobil, saya bertanya apa yang terjadi. Ternyata Sukarno sedang melakukan pidato publik. Saya coba mendengar apa yang ia katakan. Tapi saya tidak bisa paham karena ia berbicara dengan bahasa Jawa. Tapi saya bisa melihat bagaimana kerumunan orang ini sangat terpesona dengan pidatonya, mereka benar-benar riuh merespon setiap naik turunnya nada bicara Sukarno."
Imamura terkesan,
"Benar-benar dia adalah ahli pidato yang ulung, sebagaimana dikatakan orang-orang. Saya sadar saat itu, bahwa pemerintah Belanda sangat membencinya. Berkali-kali memenjarakan dan mengasingkannya di tempat terpencil, dan memisahkannya dari rakyat Indonesia. Semua ini karena pengaruhnya yang besar dalam membangkitkan semangat kemerdekaan bagi rakyat."
Spoiler for FOTO:
Spoiler for FOTO:
Spoiler for FOTO:
Spoiler for FOTO:
Spoiler for FOTO:
USAHA SUKARNO MENYELAMATKAN IMAMURA DARI PENJARA BELANDA
Tujuh tahun setelah peristiwa-peristiwa di atas (tahun 1949), Hitoshi Imamura berada dalam penjara Cipinang sebagai terdakwa Kriminal Perang oleh Belanda. Ia berada dalam sel tahanan politik, yang mana keadaannya dapat dibilang layak, dibanding tahanan kriminal lainnya. Lebih dari setengah tahanan yang mendekam di blok Tahanan Politik ini sebenarnya adalah orang-orang Kriminal biasa seperti perampok, pencuri, pembunuh, dsb, namun keluarga mereka menyuap Belanda agar bisa dipindahkan ke blok Tahanan Politik yang lebih nyaman.
Suatu hari, dua orang pejuang Indonesia, yang juga adalah tahanan politik, mengunjungi sel Hitoshi Imamura. Mereka berkata:
"Kami memiliki hal yang sangat penting untuk dibahas hari ini. Dapatkah anda meminta tuan Yamazaki sebagai penerjemah, karena bahasa Inggris kami tidak begitu bagus."
Lalu mereka melanjutkan,
"Sebagaimana anda tahu, banyak tahanan yang mendekam di penjara ini yang mendukung pemerintah Republik Indonesia. Di blok Tahanan Politik ini, ada sekitar 4 orang mata-mata Republik yang memiliki kontak kepada Pemerintah. Salah satu dari mata-mata ini memberikan kami perintah dari Republik Indonesia."
Imamura terkejut,
"Bagaimana mungkin perintah ini ada hubungannya dengan saya?"
"Perintah ini sangat berhubungan dengan anda, Jenderal! Menurut informasi dari mata-mata Republik, Jenderal Imamura kemungkinan besar akan dihukum mati, melihat dari fakta bahwa Komandan Divisi Maruyama dan Komandan Resimen Shoji, yang mana keduanya adalah anak buah anda, telah diberi hukuman mati.Walaupun kami tidak bisa memastikan hukuman apa yang akan anda terima, jika Maruyama dan Shoji dieksekusi mati, maka anda juga akan bernasib sama. Maka, sebuah rencana penyelamatan akan dilakukan kepada anda ketika menuju lapangan eksekusi, setelah kami mengetahui kapan tanggalnya hukuman itu dilaksanakan. Orang-orang Republik akan mengirim mobil, dan anda harus melompat ke dalamnya. Kami diperintah untuk memberitahu anda tentang hal ini."
Imamura menyadari bahwa mereka tidak main-main. Namun ia sadar bahwa ia tidak boleh menjawab sembarangan, karena ada juga mata-mata Republik yang disuap agar bekerja sebagai mata-mata Belanda. Terlebih dari itu, Imamura adalah seorang yang tidak menyukai ide melarikan diri, karena bertentangan dengan prinsip yang ia pegang.
Imamura berkata melalui penerjemah Yamazaki,
"Dari sudut pandang filosofi Bushido Jepang, menyelamatkan diri seperti ini adahal hal yang dianggap memalukan. Lebih dari itu, akan jatuh korban tembak menembak dari pihak Republik dan Belanda jika misi itu dijalankan. Tentu saja, saya tidak menolak untuk dikeluarkan dari penjara ini, jika penjara ini jatuh ke tangan pasukan Republik sebelum saya dieksekusi. Saya sangat berterima kasih atas perhatian dari pemerintah Sukarno. Namun tolong pahami bahwa saya tidak setuju dengan rencana penyelamatan tersebut."
Kedua pejuang itu tampak heran dengan jawaban Imamura, seolah-olah gagal paham dengan alasan yang ia ajukan. Namun setelah Yamazaki menjelaskan lebih terang, mereka berkata, "Kami akan menyampaikan jawaban anda melalui penjaga penjara yang juga seorang mata-mata." Lalu keduanya pergi, masih dengan muka keheranan.
Imamura menulis dalam buku memoirnya,
"Tak disangka, tuntutan jaksa agar saya dihukum mati digagalkan oleh hakim, yang memutuskan bahwa saya tidak bersalah. Hal ini berkat intervensi dari Gubernur-Jenderal Hindia Belanda saat itu. Oleh karena itu, rencana penyelamatan saya dari penjara tidak perlu dilaksanakan."
Insiden ini juga tertuang dalam buku memoir Sukarno sendiri, sehingga jelas bahwa rencana ini murni datang dari pihak Republik, bukan usaha Belanda untuk menjebak Hitoshi Imamura.
Spoiler for FOTO:
Spoiler for FOTO:
Spoiler for FOTO:
Spoiler for FOTO:
Spoiler for FOTO:
Diubah oleh RightDeve 14-11-2015 13:34
0















































