- Beranda
- Stories from the Heart
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
...
TS
Shadowroad
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Ane mau share novel buatan ane sendiri gan
Novel ane bergenre action, horror, romance, school-life dan supranatural
Inspirasi dapat dari alur game, film, anime, kehidupan, komik, mitologi, legenda dan novel yang pernah ane amati
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Spoiler for Begini gan ceritanya::
Cerita ini tentang seorang remaja dari Jakarta yang keluarganya terbunuh karena kaum vampire. Cowok remaja ini bernama Erik Calendula. Setelah selamat dari bencana yang dibuat kaum vampire, dia lalu memohon pada Arthur Pendragon. Arthur adalah salah satu dari beberapa pemburu vampire yang menyelamatkan Erik. Dibakar oleh tangisan, amarah dan dendam atas kematian keluarganya, Erik meminta Arthur untuk mendidiknya agar menjadi seorang pemburu vampire. Erik berniat menghancurkan organisasi vampire penebar bencana yang menjadi penyebab kematian orang tuanya.
Arthur menyetujui permintaan Erik. Sebelum dididik, Erik dibawa ke markas pemburu vampire di Jakarta yang bernama Knights of the Silver Sword. Lebih singkatnya, organisasi ini biasa disebut Silver Sword. Setelah bergabung dengan Silver Sword dan dibekali pelatihan dari Arthur, karir Erik sebagai pemburu vampire dimulai. Seperti Arthur, Erik juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan listrik.
Arthur menyetujui permintaan Erik. Sebelum dididik, Erik dibawa ke markas pemburu vampire di Jakarta yang bernama Knights of the Silver Sword. Lebih singkatnya, organisasi ini biasa disebut Silver Sword. Setelah bergabung dengan Silver Sword dan dibekali pelatihan dari Arthur, karir Erik sebagai pemburu vampire dimulai. Seperti Arthur, Erik juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan listrik.
Spoiler for Daftar Isi:
Prolog: Hotel Indonesia
Part 1: Arthur Datang Menjenguk
Part 2: Sekolah
Part 3: Kekuatan Dietrich
Part 4: Amanda Myrna
Part 5: Kisah Raja Arthur
Part 6: Pelabuhan
Part 7: Ghoul
Part 8: Bersembunyi di Rumah Kosong
Part 9: Amanda sang Pembunuh
Part 10: Lightning Versus Sand
Part 11: Kematian Rudy
Part 12: Rumah Sakit
Part 13: Teman Sekelas
Part 14: Kunjungan Mario dan Maya
Part 15: Cerita di Malam Hari
Part 16: Serangan Vampire
Part 17: Sungai Kapuas
Part 18: Kelompok Elena Versus Taiyou no Kishi
Part 19: Lantai Tiga
Part 20: Maya Versus Callista
Part 21: Lantai Dua
Part 22: Serangan Balik
Part 23: Kekuatan Callista
Part 24: Rumah Bergaya Belanda
Part 25: Immortals
Part 26: Empat Pertanyaan
Part 27: Der Schwarze Stein
Part 28: Mantra Deprehensio
Part 29: Kelompok Elena Versus Si Ekor Kalajengking
Part 30: Kolam-kolam Air
Part 31: Hydromancer Magnus
Part 32: Sepulang Sekolah
Part 33: Mall Kemang
Part 34: Korban Vampire
Part 35: Chibi, Chernov dan Minsk
Part 36: Pengejaran
Part 37: Tim Erik dan Tim Maul Versus Geng James Wood
Part 37.1: Hutan Ilusi
Part 37.2: Eyes of Markmanship
Part 37.3: Sand Versus Fire
Part 37.4: Pedang dan Tameng Es
Part 37.5: Maul dan Vira Versus James Wood
Part 38: Arthur Versus Lu Bu
Part 39: Agen Ganda
Part 40: Rumah Darkwing Bersaudara
Part 41: Tiga Produk
Part 42: Di Perbatasan Uni Soviet
Part 42.1: Diego Versus Dragovich
Part 43: FlyHigh
Part 44: Pecandu dari Pluit's Boat
Part 45: Kartel Ching Yan
Part 46: Ervan Versus Werewolf
Part 47: Berlindung di Balik Mobil
Part 48: Marga Asakura
Part 49: Hantu di Rumah Amanda
Part 50: Emmy Merah
Part 51: Pisau Dapur yang Melayang
Part 52: Lantai Dua
Part 53: Tim Sandra dan Dua Emmy
Part 54: Elektrokimia
Part 55: Aswatama
Part 56: Erik, Dietrich, Amanda Versus Arthur
Part 57: Erik, Dietrich, Amanda Versus Aswatama
Part 58: Napoleon Bonaparte dan Timnya
Part 59: Melacak
Part 60: Arthur Versus Jie Xiong
Part 61: Penyelamatan Professor Vaugh
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Part 1: Arthur Datang Menjenguk
Part 2: Sekolah
Part 3: Kekuatan Dietrich
Part 4: Amanda Myrna
Part 5: Kisah Raja Arthur
Part 6: Pelabuhan
Part 7: Ghoul
Part 8: Bersembunyi di Rumah Kosong
Part 9: Amanda sang Pembunuh
Part 10: Lightning Versus Sand
Part 11: Kematian Rudy
Part 12: Rumah Sakit
Part 13: Teman Sekelas
Part 14: Kunjungan Mario dan Maya
Part 15: Cerita di Malam Hari
Part 16: Serangan Vampire
Part 17: Sungai Kapuas
Part 18: Kelompok Elena Versus Taiyou no Kishi
Part 19: Lantai Tiga
Part 20: Maya Versus Callista
Part 21: Lantai Dua
Part 22: Serangan Balik
Part 23: Kekuatan Callista
Part 24: Rumah Bergaya Belanda
Part 25: Immortals
Part 26: Empat Pertanyaan
Part 27: Der Schwarze Stein
Part 28: Mantra Deprehensio
Part 29: Kelompok Elena Versus Si Ekor Kalajengking
Part 30: Kolam-kolam Air
Part 31: Hydromancer Magnus
Part 32: Sepulang Sekolah
Part 33: Mall Kemang
Part 34: Korban Vampire
Part 35: Chibi, Chernov dan Minsk
Part 36: Pengejaran
Part 37: Tim Erik dan Tim Maul Versus Geng James Wood
Part 37.1: Hutan Ilusi
Part 37.2: Eyes of Markmanship
Part 37.3: Sand Versus Fire
Part 37.4: Pedang dan Tameng Es
Part 37.5: Maul dan Vira Versus James Wood
Part 38: Arthur Versus Lu Bu
Part 39: Agen Ganda
Part 40: Rumah Darkwing Bersaudara
Part 41: Tiga Produk
Part 42: Di Perbatasan Uni Soviet
Part 42.1: Diego Versus Dragovich
Part 43: FlyHigh
Part 44: Pecandu dari Pluit's Boat
Part 45: Kartel Ching Yan
Part 46: Ervan Versus Werewolf
Part 47: Berlindung di Balik Mobil
Part 48: Marga Asakura
Part 49: Hantu di Rumah Amanda
Part 50: Emmy Merah
Part 51: Pisau Dapur yang Melayang
Part 52: Lantai Dua
Part 53: Tim Sandra dan Dua Emmy
Part 54: Elektrokimia
Part 55: Aswatama
Part 56: Erik, Dietrich, Amanda Versus Arthur
Part 57: Erik, Dietrich, Amanda Versus Aswatama
Part 58: Napoleon Bonaparte dan Timnya
Part 59: Melacak
Part 60: Arthur Versus Jie Xiong
Part 61: Penyelamatan Professor Vaugh
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Gan, setelah baca mohon komennya, ya
Ane sangat menerima kritik dan saran
Pertanyaan juga sangat dianjurkan, supaya agan2 dapat lebih memahami cerita yang rumit ini
Kalau terjadi kesalahan seperti tanda baca, kurang jelas, ketidak konsistenan cerita mohon diingatkan ya gan
Terima kasih gan
Diubah oleh Shadowroad 26-11-2017 06:31
2
86.9K
Kutip
544
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Shadowroad
#216
Spoiler for Part 33: Mall Kemang:
Quote:
“Kau masih mau tambah lagi, Erik?” tanya Amanda.
“Cukup. Dua mangkok sudah cukup. Tapi dalam waktu dekat ini kita harus ke sini lagi. Dengan Rama, Dietrich dan Gita tentunya,” kata Erik sambil mengelus perutnya.
“Cukup. Dua mangkok sudah cukup. Tapi dalam waktu dekat ini kita harus ke sini lagi. Dengan Rama, Dietrich dan Gita tentunya,” kata Erik sambil mengelus perutnya.
Erik baru saja menghabiskan dua mangkok gulai kambing. Semua ini karena Audrey memberitahu Erik bahwa ada gulai kambing yang terkenal enak di food court Mall Kemang. Padahal baru buka tapi langsung menarik banyak konsumen dalam waktu yang cukup singkat. Awalnya Erik menolak karena uangnya baru saja terpakai beberapa hari yang lalu untuk mengupgrade komputernya. Apalagi sekarang tanggal tua dan tanggal gajian masih seminggu lagi, jadinya dia bertekad untuk hemat. Tekad hemat itu benar-benar sirna ketika daging dan kuah gulai kambing menyentuh lidah Erik.
Quote:
“Enak kan?” kata Audrey, “Aku bilang juga apa.”
“Kau memang hebat kalau urusan wisata kuliner,” jawab Erik.
“Tapi hebat juga, Drey, Erik habis dua mangkok besar,” komentar Amanda.
“Ini sih belum apa-apa,” kata Erik, “Aku punya kakak tingkat yang, jangankan dua, empat mangkok seukuran begini sih pasti sudah habis. Yang aneh adalah dia tidak pernah gendut.”
“Pasti kakak tingkatmu itu memiliki black hole di dalam perutnya,” kata Amanda, “Yang menyerap semua lemak dan makanan yang ditelannya.”
“Aku juga punya senior macam begitu. Ah, sudahlah, membayangkannya saja sudah aneh,” kata Audrey, “Habis ini kita mau ke mana? Pulang?”
“Kau memang hebat kalau urusan wisata kuliner,” jawab Erik.
“Tapi hebat juga, Drey, Erik habis dua mangkok besar,” komentar Amanda.
“Ini sih belum apa-apa,” kata Erik, “Aku punya kakak tingkat yang, jangankan dua, empat mangkok seukuran begini sih pasti sudah habis. Yang aneh adalah dia tidak pernah gendut.”
“Pasti kakak tingkatmu itu memiliki black hole di dalam perutnya,” kata Amanda, “Yang menyerap semua lemak dan makanan yang ditelannya.”
“Aku juga punya senior macam begitu. Ah, sudahlah, membayangkannya saja sudah aneh,” kata Audrey, “Habis ini kita mau ke mana? Pulang?”
Amanda melihat jam di ponselnya. Ternyata masih jam tujuh malam. Amanda masih ingin di sini. Mumpung ibunya ada di rumah jadinya ada yang menemani Dinda. Lagi pula Amanda tidak memiliki pekerjaan rumah atau tanggungan apapun.
Quote:
“Kenapa terburu-buru pulang?” tanya Amanda, “Kau punya tugas dari guru untuk besok?”
“Syukurlah tidak ada,” Audrey menjawab, “Tidak ada kan, Erik?”
“Syukurlah tidak ada,” Audrey menjawab, “Tidak ada kan, Erik?”
Erik hanya menggeleng tanpa menjawab. Dia masih asyik menghabiskan minuman soda dinginnya.
Quote:
“Bagaimana denganmu?” tanya Audrey balik.
Amanda tersenyum dan menggeleng, “Tidak ada.”
“Bagus, jadi kita masih bisa bersenang-senang.”
“Bersenang-senang, ya? Ayo ke Game Zone,” usul Erik.
“Kau memang benar-benar gamer sejati, Erik,” kata Amanda, “Tapi boleh juga kalau kita ke tempat itu.”
Audrey tiba-tiba berdiri dan berkata, “Aku akan beli camilan dulu untuk kita bertiga. Tenang saja. Aku tahu apa yang akan kau ucapkan, Erik. Kutraktir kali ini.”
Amanda tersenyum dan menggeleng, “Tidak ada.”
“Bagus, jadi kita masih bisa bersenang-senang.”
“Bersenang-senang, ya? Ayo ke Game Zone,” usul Erik.
“Kau memang benar-benar gamer sejati, Erik,” kata Amanda, “Tapi boleh juga kalau kita ke tempat itu.”
Audrey tiba-tiba berdiri dan berkata, “Aku akan beli camilan dulu untuk kita bertiga. Tenang saja. Aku tahu apa yang akan kau ucapkan, Erik. Kutraktir kali ini.”
Ketika Audrey sudah menjauh, Erik dan Amanda mulai membicarakan masalah vampire dan organisasi. Akhir-akhir ini, para anggota Silver Sword mulai membicarakan tentang kelompok vampire yang bernama Der Schwarze Stein. Kelompok yang memakai lambang swastika itu ternyata tidak hanya terdiri dari vampire tapi juga ada beberapa manusia serigala.
Quote:
“Aku dengar dari beberapa anggota Silver Sword bahwa mereka juga menyerang New York, Stalingrad dan Osaka,” kata Erik.
Amanda menggelengkan kepala, “Jangan sampai, deh, kita berhadapan dengan Der Schwarze Stein.”
“Benar. Mereka kelihatannya kuat.”
“Bukan kelihatannya lagi, Erik. Sudah menjadi semacam aturan tak tertulis di Paladin dan Silver Sword bahwa sebisa mungkin jangan terlibat dengan apapun yang berhubungan dengan Nazi. Mereka sudah pasti sangat kuat. Negara lain juga berpendapat begitu, kok.”
“Ngomong-ngomon soal negara lain, kemarin Soviet, Inggris, Amerika dan Jepang masing-masing mengirimkan dua tim untuk rapat dengan Silver Sword dan Paladin mengenai Der Schwarze Stein. Inggris kenapa ikut, ya?”
“Negara itu merasa bertanggung jawab karena Black Orb yang dibawa Elena dicuri dari Inggris.”
“Der Schwarze Stein … padahal urusan dengan Black Heart dan Seven Diamonds belum selesai. Untuk Black Heart kita masih belum mengetahui jawaban dari empat pertanyaan itu. Lalu, untuk Seven Diamonds, Black Orb masalahnya.”
“Kau tahu informasi soal Black Orb?”
“Informasi terbaru yang kudapat tiga minggu lalu, Black Orb dibawa oleh Elena ke Kota Bintulu. Sekarang aku tak tahu mereka pergi kemana.”
“Tidak mungkin mereka menetap di suatu tempat untuk jangka waktu yang lama. Ditambah lagi mereka membawa benda macam Black Orb. Nazi akan membunuh mereka jika terlalu lama menetap di suatu tempat.”
“Sssttt. Hentikan. Audrey kemari.”
Amanda menggelengkan kepala, “Jangan sampai, deh, kita berhadapan dengan Der Schwarze Stein.”
“Benar. Mereka kelihatannya kuat.”
“Bukan kelihatannya lagi, Erik. Sudah menjadi semacam aturan tak tertulis di Paladin dan Silver Sword bahwa sebisa mungkin jangan terlibat dengan apapun yang berhubungan dengan Nazi. Mereka sudah pasti sangat kuat. Negara lain juga berpendapat begitu, kok.”
“Ngomong-ngomon soal negara lain, kemarin Soviet, Inggris, Amerika dan Jepang masing-masing mengirimkan dua tim untuk rapat dengan Silver Sword dan Paladin mengenai Der Schwarze Stein. Inggris kenapa ikut, ya?”
“Negara itu merasa bertanggung jawab karena Black Orb yang dibawa Elena dicuri dari Inggris.”
“Der Schwarze Stein … padahal urusan dengan Black Heart dan Seven Diamonds belum selesai. Untuk Black Heart kita masih belum mengetahui jawaban dari empat pertanyaan itu. Lalu, untuk Seven Diamonds, Black Orb masalahnya.”
“Kau tahu informasi soal Black Orb?”
“Informasi terbaru yang kudapat tiga minggu lalu, Black Orb dibawa oleh Elena ke Kota Bintulu. Sekarang aku tak tahu mereka pergi kemana.”
“Tidak mungkin mereka menetap di suatu tempat untuk jangka waktu yang lama. Ditambah lagi mereka membawa benda macam Black Orb. Nazi akan membunuh mereka jika terlalu lama menetap di suatu tempat.”
“Sssttt. Hentikan. Audrey kemari.”
Amanda dan Erik segera diam dan menatap ke Audrey yang menghampiri mereka. Audrey membawa tiga kantong usus ayam pedas dan tiga gelas minuman soda. Dia langsung meletakkan semua camilan di atas meja dan mengusap keringat di keningnya.
Quote:
“Kenapa kau berkeringat begitu?” tanya Erik.
“Nyaris tumpah, Erik,” kata Audrey sambil terengah-rengah, “Nyaris tumpah.”
“Makanya minta bantuan ke kita, Audrey,” kata Amanda.
Audrey hanya mengerucutkan bibirnya pada Amanda. Kemudian dengan cepat dia melirik Erik dan kembali memandang Amanda. Amanda hanya tersenyum karena mengerti maksud Audrey.
“Kenapa melirikku begitu?” tanya Erik, “Tidak ikhlas, ya? Katanya ditraktir?”
“Ah, tidak. Ayo segera ke Game Zone.”
“Nyaris tumpah, Erik,” kata Audrey sambil terengah-rengah, “Nyaris tumpah.”
“Makanya minta bantuan ke kita, Audrey,” kata Amanda.
Audrey hanya mengerucutkan bibirnya pada Amanda. Kemudian dengan cepat dia melirik Erik dan kembali memandang Amanda. Amanda hanya tersenyum karena mengerti maksud Audrey.
“Kenapa melirikku begitu?” tanya Erik, “Tidak ikhlas, ya? Katanya ditraktir?”
“Ah, tidak. Ayo segera ke Game Zone.”
Mereka berdiri dan mulai berjalan menuju Game Zone. Jarak dari food court ke Game Zone adalah satu lantai. Seperti biasa, para cewek bergosip ria selama berjalan. Sementara, Erik berjalan di belakang Audrey dan Amanda. Dua tangannya membawa tas kresek yang berisi camilan yang dibeli Audrey tadi. Erik sama sekali tidak tertarik dengan gosip. Beberapa kali dia dicubit oleh Amanda untuk ikut berbicara. Erik hanya memandang Amanda, tersenyum dan menguap. Para cewek terus bergosip hingga sampai di Game Zone.
Quote:
“Hei, kalian berdua, kemarilah,” kata Amanda yang berdiri di permainan Get the Doll.
“Kau bisa permainan itu?” tanya Audrey, “Aku mencobanya sejak kelas satu SMP hingga sekarang tidak pernah berhasil.”
Erik hanya diam saja. Tak ada perubahan di wajah Erik. Karena dia tahu, Amanda pasti akan melakukan sesuatu yang aneh.
“Lihatlah, Audrey,” kata Amanda sambil menggesekkan member card ke mesin permainan.
“Kau bisa permainan itu?” tanya Audrey, “Aku mencobanya sejak kelas satu SMP hingga sekarang tidak pernah berhasil.”
Erik hanya diam saja. Tak ada perubahan di wajah Erik. Karena dia tahu, Amanda pasti akan melakukan sesuatu yang aneh.
“Lihatlah, Audrey,” kata Amanda sambil menggesekkan member card ke mesin permainan.
Begitu permainan dimulai, dua tangan Amanda mulai memainkan controllernya. Mesinnya mulai bergerak dan mengambil boneka kecil. Di saat ujung mesin menyentuh kepala boneka, di saat ituah Amanda melakukan sesuatu yang membuat semuanya lebih mudah. Cukup beberapa detik bagi Amanda untuk menggerakkan mesin dan menjatuhkan bonekanya ke lubang. Dia disambut oleh tepuk tangan pengunjung Game Zone. Amanda berhasil mendapatkan bonekanya dan memberikannya pada Amanda.
Quote:
“Hebat! Ajarin aku, dong, Amanda,” kata Audrey.
Amanda menggeleng, “Maaf, Amanda. Itu taktik rahasia yang diajarkan oleh keluargaku turun temurun.”
Erik hanya mencibir. Amanda mencubit pinggang Erik ketika melihat cibirannya.
“Kenapa kau tadi tidak tepuk tangan, Erik?” tanya Amanda.
Erik tidak langsung menjawab. Dia hanya tersenyum dan berbisik di telinga Amanda, “Kau memang pengendali es yang lumayan cerdik, Amanda.”
Lagi-lagi Amanda mencubit lengan Erik, “Tahu saja kau, Erik.”
Amanda menggeleng, “Maaf, Amanda. Itu taktik rahasia yang diajarkan oleh keluargaku turun temurun.”
Erik hanya mencibir. Amanda mencubit pinggang Erik ketika melihat cibirannya.
“Kenapa kau tadi tidak tepuk tangan, Erik?” tanya Amanda.
Erik tidak langsung menjawab. Dia hanya tersenyum dan berbisik di telinga Amanda, “Kau memang pengendali es yang lumayan cerdik, Amanda.”
Lagi-lagi Amanda mencubit lengan Erik, “Tahu saja kau, Erik.”
Tiba-tiba Erik ada sesuatu yang menarik pandangan Erik. Pengendali listrik itu memandang keluar area Game Zone. Sesosok wanita dewasa berdiri di tengah keramaian. Wanita itu tersenyum memandang Erik. Rambut pirang yang ikal dan lipstick pink yang khas itu membuat Erik membelalakkan matanya. Wanita itu menciptakan percikan api kecil dari telunjuknya. Tak lain dan tak bukan, Erik semakin yakin bahwa wanita itu adalah Callista. Walaupun hanya berhadapan sekali, Erik masih ingat wajah vampire itu. Vampire dari Black Heart yang hampir membunuhnya ketika penyerangan Rumah Sakit Lotus. Begitu Erik mengedipkan matanya, Callista sudah tak terlihat lagi. Erik mencoba mencarinya lagi dan memandang ke segala arah. Vampire itu tidak ada. Callista hilang di antara keramaian Mall Kemang.
Quote:
“Hei,” kata Audrey, “Ayo main.”
“Hah?” kata Erik yang balik memandang Audrey.
“Kenapa wajahmu begitu? Seperti melihat hantu saja,” komentar Amanda, “Kau habis lihat apa?”
“…. Hanya melihat seseorang yang sepertinya kukenal,” jawab Erik, “Mungkin aku salah lihat.”
“Siapakah itu? Cewek?” tanya Audrey dengan tatapan yang menyelidiki.
“Bukan cewek, Drey, tapi waria,” jawab Erik dengan tertawa pelan. Amanda tersenyum mendengar jawaban Erik.
“Hah?” kata Erik yang balik memandang Audrey.
“Kenapa wajahmu begitu? Seperti melihat hantu saja,” komentar Amanda, “Kau habis lihat apa?”
“…. Hanya melihat seseorang yang sepertinya kukenal,” jawab Erik, “Mungkin aku salah lihat.”
“Siapakah itu? Cewek?” tanya Audrey dengan tatapan yang menyelidiki.
“Bukan cewek, Drey, tapi waria,” jawab Erik dengan tertawa pelan. Amanda tersenyum mendengar jawaban Erik.
Audrey tidak tertawa dengan jawaban Erik. Gadis itu justru menatap Erik dengan tatapan curiga. Audrey semakin dalam menatap mata Erik. Tak kuasa beradu pandang dengan Audrey yang sepertinya tidak sedang bercanda, Erik menurunkan pandangannya dan hanya memandang lantai.
Quote:
“Serius, Rik,” kata Audrey yang sedikit menaikkan nada suaranya. Matanya menatap Erik tanpa berkedip sekalipun.
Erik merasa pinggangnya disikut oleh Amanda. Paham bahwa itu adalah tanda agar dirinya menjawab pertanyaan Audrey dengan serius. Erik melihat Amanda yang tadinya ikut tersenyum kini wajahnya berubah serius.
Quote:
“Iya. Cewek,” jawab Erik singkat.
“Apa kau dekat dengannya?” tanya Audrey lagi.
“Kenapa … tiba-tiba …”
“Sudahlah! Jawab pertanyaanku, Rik!”
“Tidak, kok.”
“Kusarankan kau jangan pacaran dulu.”
“Kenapa? Apa hubungannya?”
“Nilai biologimu masih di bawah standard. Jika nilaimu tetap jelek, akulah yang harus bertanggung jawab pada Bu Christina karena aku ketua kelompok belajarmu.”
“Apa kau dekat dengannya?” tanya Audrey lagi.
“Kenapa … tiba-tiba …”
“Sudahlah! Jawab pertanyaanku, Rik!”
“Tidak, kok.”
“Kusarankan kau jangan pacaran dulu.”
“Kenapa? Apa hubungannya?”
“Nilai biologimu masih di bawah standard. Jika nilaimu tetap jelek, akulah yang harus bertanggung jawab pada Bu Christina karena aku ketua kelompok belajarmu.”
Setelah berkata begitu, Audrey berjalan menjauh dari Erik dan Amanda. Dia berjalan menuju tempat penukaran poin atas game yang dimenangkan.
Pikiran Erik masih meraba-raba untuk mencari alasan kenapa Audrey begitu marah hanya karena hal ini. Sebenarnya Erik ingin menanyakannya pada Audrey. Namun, dia segara menutup mulutnya sebelum bertanya. Tak mau berdebat lebih lama lagi, Erik hanya diam dan menghela nafas.
Quote:
“Kenapa dia tiba-tiba begitu marah? Padahal tadi dia terlihat ceria,” tanya Erik, “Masa dia marah hanya karena aku bertemu cewek.”
“Entahlah,” jawab Amanda, “Coba tanyakan saja padanya.”
“Aku tidak mau berdebat lagi dengannya. Masa kau tidak tahu? Kau kan ahli mencari informasi.”
Amanda tertawa, “Meskipun begitu, bukan berarti aku bisa membaca hati orang.”
“Bagaimana kalau kita pulang saja setelah tiga atau empat permainan?” kata Erik sambil memakan camilannya, “Sepertinya suasana hati Audrey sedang buruk.”
“Entahlah,” jawab Amanda, “Coba tanyakan saja padanya.”
“Aku tidak mau berdebat lagi dengannya. Masa kau tidak tahu? Kau kan ahli mencari informasi.”
Amanda tertawa, “Meskipun begitu, bukan berarti aku bisa membaca hati orang.”
“Bagaimana kalau kita pulang saja setelah tiga atau empat permainan?” kata Erik sambil memakan camilannya, “Sepertinya suasana hati Audrey sedang buruk.”
Setelah Audrey kembali, mereka mulai melanjutkan permainan. Selama bermain, Erik semakin bertanya-tanya. Padahal ketika membahas masalah cewek tadi, Audrey terlihat begitu marah. Kini Audrey bisa tertawa bersama Erik dan Amanda. Erik hanya menyimpan pertanyaannya dalam otaknya. Dirinya tidak mau Audrey marah lagi. Hingga akhirnya waktu menunjukkan pukul setengah sembilan malam dan kini saatnya mereka pulang. Mereka mulai berjalan ke tempat parkir yang terletak di lantai paling bawah Mall Kemang.
Quote:
“Kelak aku akan mengalahkanmu, Erik,” kata Audrey, “Tidak hanya mengalahkanmu. Lebih tepatnya, berkali-kali mengalahkanmu.”
“Ah, omong besar,” balas Erik dengan senyuman. Senyuman yang penuh rasa syukur karena Audrey sepertinya lupa masalah yang tadi.
“Lho, kelak akan kubuktikan itu,” jawab Audrey.
“Kalau kau ingin mengalahkan, Erik,” kata Amanda yang memeluk Audrey, “Kau harus sering latihan denganku.”
“Eh, Amanda, tolong ajari aku permainan yang ambil boneka tadi, dong,” kata Audrey.
Amanda tertawa, “Itu rahasia, Audrey.”
Erik dari tadi memperhatikan Amanda yang memeluk Audrey. Pengendali listrik itu lalu berkata, “Sebenarnya aku ingin seperti kalian begitu.”
“Apanya?”
“Saling berpelukan bebas begitu,”
Amanda tertawa, “Dasar bocah mesum!”
Audrey menggoda Erik dan berkata, “Nanti, ya, kalau kau sudah mendapatkan hatiku.”
Amanda tersenyum, “Itu namanya kode, Rik.”
Erik terbahak, “Hatimu milik Mario, Drey.”
“Ah, omong besar,” balas Erik dengan senyuman. Senyuman yang penuh rasa syukur karena Audrey sepertinya lupa masalah yang tadi.
“Lho, kelak akan kubuktikan itu,” jawab Audrey.
“Kalau kau ingin mengalahkan, Erik,” kata Amanda yang memeluk Audrey, “Kau harus sering latihan denganku.”
“Eh, Amanda, tolong ajari aku permainan yang ambil boneka tadi, dong,” kata Audrey.
Amanda tertawa, “Itu rahasia, Audrey.”
Erik dari tadi memperhatikan Amanda yang memeluk Audrey. Pengendali listrik itu lalu berkata, “Sebenarnya aku ingin seperti kalian begitu.”
“Apanya?”
“Saling berpelukan bebas begitu,”
Amanda tertawa, “Dasar bocah mesum!”
Audrey menggoda Erik dan berkata, “Nanti, ya, kalau kau sudah mendapatkan hatiku.”
Amanda tersenyum, “Itu namanya kode, Rik.”
Erik terbahak, “Hatimu milik Mario, Drey.”
0
Kutip
Balas