- Beranda
- Stories from the Heart
[TRUE STORY] Stupid Romi
...
TS
halberdiers
[TRUE STORY] Stupid Romi
Quote:
Spoiler for Cover:
Spoiler for Soundtrack:
Song by : Rocket Rockers - She's My Cheerleader
PROLOG
23 Oktober 2015.
Hari pertama menulis.
Nama gue Romi. Keturunan Sunda-Arab, tinggi 170cm, atau setidaknya itu yang tercatat di KTP dan SIM gue. Kulit sawo kematengan, alias putih tua. Konflik adalah bagian dari perjalanan hidup gue. Drama ramai mewarnai kisah perjalanan hidup gue. Problematika kehidupan adalah sahabat karib gue.
Tertawa, tersenyum, menangis, termenung, gusar, bisa terjadi kapan saja dalam hidup gue. Tersenyum di pagi hari bisa berubah jadi menangis di waktu jam makan siang. Vice versa. Kesalahan demi kesalahan, kekacauan, kekecewaan, pengkhianatan, ego, cinta dan air mata menjadi sebuah pengalaman yang tidak terlupakan. Bertahun-tahun menjalani kehidupan dengan berat namun pada akhirnya tertawa terbahak-bahak mengingat kebodohan masa muda yang seolah didramatisir itu.
Tapi gue bersyukur sama Tuhan yang benar-benar sayang sama gue. Tuhan mencambuk, menghardik, mendidik dan menganugerahi hidup gue dengan begitu penuh kasih sayangnya. Terima kasih Tuhan atas segala anugerah yang telah Kau berikan padaku. Semua kisah petualangan hidup yang benar-benar gue syukuri, gue belajar untuk bisa survive dari semua problematika kehidupan yang telah Tuhan skenario-kan buat gue. Alhamdulillah puji syukur.
Oh iya hampir gue lupa, semua yang bakal gue ceritain ini 100% bukan hasil imajinasi gue. Tapi 100% kisah hidup gue. Nama pemeran, lokasi kejadian, bukan lah nama yang sebenarnya. Untuk menjaga privasi mereka yang hari ini sudah memiliki masa depan nya masing-masing.
Tujuan gue menulis cerita ini, karena gue sadar banyak kesalahan yang gue lakukan di masa lalu. Kesalahan yang mungkin tidak termaafkan, belum dimaafkan. Gue harap orang-orang yang pernah gue sakiti, atau pernah tersakiti, bisa dan mau memaafkan gue. Dan tentu untuk kembali mengingatkan gue, bahwa sesungguh nya gue ini adalah manusia yang jauh dari sempurna, karena sesungguhnya sempurna adalah hak dari Tuhan Yang Maha Esa, Allah Azza wa Jalla.
Walau sedikit berat gue menceritakan kisah hidup gue, tapi gue berharap bisa jadi pelajaran buat adik-adik gue yang membaca cerita ini, menjadikan pelajaran untuk bisa menghindari kesalahan yang pernah gue buat.
Terima kasih buat istri gue. Terima kasih sudah menerima gue dengan semua keterbatasan yang gue miliki, dengan semua masa lalu gue yang pasti membuat hati istri gue kesal, meringis, simpati, dll. Dan terima kasih sudah mengizinkan gue menuangkan ini semua didalam karya tulis yang seadanya ini.
Tidak lupa Terima kasih yang tidak terbatas untuk kedua orang tua gue, bapak mertua gue, almarhumah ibu mertua gue. Gue sayang sama kalian semua.
Terutama untuk bokap gue. Gue sayang elo. Gue harap elo sadar dengan semua yang terjadi.
“belajar dari perjalanan hidup untuk perjalanan masa depan”
Quote:
Spoiler for Index:
Spoiler for Season 1 (END):
Prolog
Bagian Satu - Mencari Pintu Masa Depan
Bagian Dua - Tak Disangka
Bagian Tiga - Tangis Bahagia
Bagian Empat - "Rumah" Baru Part 1Part 2
Bagian Lima - MOS Part 1 Part 2
Bagian Enam - Ekskul Part 1 Part 2
Bagian Tujuh - Awal Dari Akhir
Bagian Delapan - X-A
------>Mini Chapter 1 - Ikut gak ikut yang penting asik!
------>Mini Chapter 2 - Prolog Kehidupan
------>Mini Chapter 3 - Cewek jutek & cewek rese
------>Mini Chapter 4 - Hockey
------>Mini Chapter 5 - Skenario Langit
------>Mini Chapter 6 - Accident
------>Mini Chapter 7 - Terasa ada yang salah (berbeda)
------>Mini Chapter 8 - Obsesi?
------>Mini Chapter 9 - Kisah Langit, Laut, dan Udara
------>Mini Chapter 10 - Antara Obsesi dan Realita
------>Mini Chapter 11 - Memutuskan untuk memulai
Bagian Sembilan - A New Day
------>Mini Chapter 1 - A New Day
------>Mini Chapter 2 - OSIS
------>Mini Chapter 3 - Kepercayaan
------>Mini Chapter 4 - Road to Limbangan
------>Mini Chapter 5 - Pelatihan OSIS
------>Mini Chapter 6 - Rahasia Malam
A Moment to Remember
------>Mini Chapter 7 - Kadang Cinta butuh Logika
A Pray and Promise for Vonny
------>Mini Chapter 8 - Jadian Massal
Bagian 10 - Never Back Again Part 1 Part 2
Bagian 11 - A Very First Mistake
------>Mini Chapter 1 - Namanya, Anak SMA!
------>Mini Chapter 2 - What's Wrong With These People?
------>Mini Chapter 3 - Friendship and Romance
------>Mini Chapter 4 - A Very First Mistake
------>Mini Chapter 5 - Rahasia
------>Mini Chapter 6 - Epilog
Outro
Spoiler for Season 2:
Bagian Satu - Romi, The Yes Man!
Bagian Dua - Super Sibuk
Bagian Tiga - Second Sins
------>Mini Chapter 1 - Unknown Number
------>Mini Chapter 2 - Namanya, Cemburu!
------>Mini Chapter 3 - First Date's Incident! (17+)
------>Mini Chapter 4 - Laga
------>Mini Chapter 5 - Anti Klimaks
------>Mini Chapter 6 - A Moment Before New Years Eve
------>Mini Chapter 7 - Second Sins (17+)
Bagian Empat - Happy Birthday Sayang! Part 1Part 2 Part 3
Bagian Lima - Transisi
Bagian Enam - More Friends More Story
------>Mini Chapter 1 - More Friends
------>Mini Chapter 2 - Introduction
------>Mini Chapter 3 - Kaka Pembimbing (MOS part 1)
------>Mini Chapter 4 - Cemburu Lagi (MOS part 2)
Quote:
Spoiler for Respect:
Terima kasih untuk senior-senior H2H dan SFTH yang bersedia menyempatkan diri untuk membaca kisah hidup saya, mohon maaf atas segala kekurangan nya. Saya baru pertama posting di kaskus, jadi mohon bimbingan nya jika masih banyak kekurangan, baik dari sisi kerapihan penulisan (maklum penulis amatiran hehe), ataupun kerapihan posting nya (maklum kaskuser newbie hehe). Segala kritik dan saran dengan senang hati saya tunggu.Terima kasih.
Quote:
Spoiler for FAQ:
Q: Cerita real atau fiksi?
A: Real.
Q: Dialog nya?
A: Beberapa yang inget dialog nya asli, yang gak inget dialog nya di improvisasi.
Q: Gak real dong?

A: Ya elah gan kejadian mulai dari 10 tahun yang lalu gituu
. maklum ya hehe. tapi story line nya real banget.Q: Cerita cinta ya gan?
A: Basic nya sih gitu. tapi karena hidup TS sedikit banyak ada pengalaman mistis nya. nanti di update kedepan ada part mistis nya jg.
Q: Kesimpulan?
A: Perjalanan hidup TS sejak 2004-sekarang.
Spoiler for Tambahan:
Tambahan:
Gue berusaha menceritakan dengan santay biar cerita nya bisa terungkap se-detail mungkin.
So, jangan buru-buru pengen klimaks ya. hehehe. STAY TUNED, SUBSCRIBE
, RATE
, dan CENDOL nya yaa. 
Yang terpenting comment nya ya, pendapat, kritik, saran apa aja asal sesuai dengan rules SFTH.
Gue berusaha menceritakan dengan santay biar cerita nya bisa terungkap se-detail mungkin.
So, jangan buru-buru pengen klimaks ya. hehehe. STAY TUNED, SUBSCRIBE
, RATE
, dan CENDOL nya yaa. 
Yang terpenting comment nya ya, pendapat, kritik, saran apa aja asal sesuai dengan rules SFTH.
Diubah oleh halberdiers 25-12-2015 23:18
anasabila memberi reputasi
1
81.5K
Kutip
427
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
halberdiers
#285
Quote:
BAGIAN SATU – Romi, The Yes Man!
“Romi, kesini sebentar.”, panggil bu Titin.
“Ya bu, ada apa?”
Kenalkan, bu Titin adalah guru seni musik disekolahan gue. Kehadiran nya bisa dirasakan meski dari jauh. Bukan karena beliau memiliki kekuatan sage mode naruto atau super saiya songoku, tapi karena, hmmm gimana ya gue bilang nya. Oke jujur aja, anak-anak bilang nya guru make up lima centimeter
. Guru yang dandanan nya haduhh
, ampe warna muka sama leher udah kaya kuda zebra, belang. Jarak 10 meter aja masih kecium parfum nya. Hehe maaf ya bu, kenyataan nya emang gitu
. Tapi guru yang satu ini selalu jadi salah satu guru favorit gue. Di era beliau menjadi wakil kepala sekolah lah bazaar SMA Harapan untuk pertama kali nya diselenggarakan. Itu jaman gue masih sekolah bukan ya? Bukan! #angkattopi. 
“Kamu bisa main keyboard ya?”, tanya bu Titin.
“Ha? Kata siapa bu?”, gue kaget karena identitas musisi gue terbongkar.

“Kata Alisha. Bisa kan?”, jawab bu Titin.
“Errrr sialan Alisha pake bilang-bilang. Biar apa atuh?”, gerutu gue kesal.

“I… Iya bisa bu.”, jawab gue pasrah.

“Nah kebetulan sekali, bisa bantu ibu untuk mengiringi padus?”, tanya bu Titin.
“Untuk acara apa bu?”
“Untuk pertama, kita coba dulu buat upacara tiap hari Senin.”, jelas bu Titin.
“Mati gue!”, pikir gue.

“Ya udah bu, saya coba dulu aja.”, gue pasrah.
“Ya sudah. Keyboard nya kamu punya kan? Pakai keyboard kamu saja ya, biar tidak usah adaptasi lagi.”, lanjut bu Titin.

“Ada bu.”, jawab gue pendek.
“Ya elah bu, udah nyuruh, suruh ngemodal pula. Lagian mau pake keyboard apa aja juga sama aja kali, asal gak pake keyboard komputer.”, gerutu gue dalem hati.

Saat itu gue belom punya keyboard sendiri, keyboard yang gue pake waktu perpisahan SMP itu adalah properti milik kantor bokap. So, untuk kali ini kaya nya bakal minjem lagi. Gue ada piano sih di rumah, cuma gila aja tiap senin mau upacara bawa-bawa piano yang segede gaban gitu.

“Yang, kamu bilang sama bu Titin aku bisa main keyboard?”, tanya gue.

“Iya hehe. Kenapa emang yang?”, Alisha balik bertanya.

“Aduhh yanggg, pelanggaran kamu mah ah.”, gue nepok jidat.

“Kenapa sih emang?”

“Aku disuruh ngiringin padus tau!”, gerutu gue.

“Ya bagus lah, jadi kan kamu ada kegiatan di sekolah gak cuma nongkrong.”, kata Alisha nyengir.

“Yanggg, aku tuh udah ikutan hockey, OSIS. Sekarang diculik jadi anggota padus. Nanti pacaran nya kapan hahaha?”, kata gue.

“Ihhh pacaran ajaa. Gak bisa jauh dari aku ya yang?”, kata Alisha.

“Iya hehe. Emang kamu mau jauh-jauh dari aku?”

“Engga hehehe.”, jawab Alisha.

“Lain kali bilang dulu sama akuuu kalo ada yang nanya-nanya soal aku.”, pinta gue.

“Iya maaf ya yang.”, jawab Alisha.
Hari itu gue gak saling tegur sapa sama Vonny. Gue mencoba untuk jaga jarak dari dia. Sering nya gue menghindar begitu Vonny sudah mulai terlacak oleh radar gue. Setidak nya sampai keadaan kembali dingin.
Sepulang sekolah,
“Yang, tadi aku ketemu bu Titin, katanya kamu suruh kumpul sama anak padus di Lab kimia.”, kata Alisha.
“Mau nyanyi apa mau bikin bom yang? Hahaha.”, jawab gue sekena nya.

“Ihhh serius.”, jawab Alisha.

“Iya iya, kamu mau pulang duluan apa mau nungguin?”, tanya gue.
“Aku pulang sama Vonny ya. Mau ke rumah Vonny dulu. Ntar pulang nya jemput ya hehe.”, pinta Alisha.

“Oh gitu, ya udah tar aku jemput ke rumah Vonny.”, jawab gue.
“Ya udah aku duluan ya yang, haiyuu say!”, pamit Alisha sambil menggandeng Vonny keluar kelas.
“…”, Vonny tersenyum.

“…”, Gue bales senyum, dikit.

“Hadehhhh nambah-nambah kerjaan gue aja ahhh.”, sambil kesal gue membereskan buku gue yang masih ada di atas meja.

“Mi…”, seseorang lelaki memanggil.
“Oi Gas kenapa?”, tanya gue.
“Lo mau yah jadi seksi kebersihan? Ini gue bikin bagan organisasi kelas gak kelar-kelar pada susah anak-anak nya.”, pinta Bagas.

“Ya udah serah lo aja gas.”, jawab gue sambil masih membereskan tas.
“Okeee. Tar bikin jadwal piket yah.”, lanjut Bagas.
“Siap bos!”, jawab gue.
“Gas gue duluan.”, gue pamit sambil keluar kelas.
Gue pun menuju ruang Lab kimia seperti yang tadi Alisha katakan. Lab kimia sekolah gue saat itu tidak begitu bagus. Ada beberapa baris meja yang memanjang, dan dipinggir ruangan ada beberapa wastafel dengan keramik putih, ada yang sudah tidak ada keran nya. Beberapa keramik nya pun ada yang sudah retak bahkan belah. Entah karena percobaan kimia yang meledak atau apa. Hahaha.
“Eh lo Romi yah?”, tanya seorang cowok.
“Iya.”, jawab gue pendek.
“Gue Radit.”, cowok itu memperkenalkan diri.

“Lo nyanyi apa ngapain Dit?”, tanya gue.
“Gue maen gitar.”, jawab Radit.

“Ohhh. Padahal udah ada gitar ngapain nyuruh gue lagi ya si ibu.”, kata gue.

“Emang lo maen apaan?”, tanya Radit.
“Keyboard gue.”, jawab gue.
“Loh padahal udah ada loh pemain keyboard.”, jawab Radit bingung.

“Hadehhhh capedeh.”, gue rebahan di atas meja panjang itu.

“Radiiitttt.”, sapa seorang cewek yang memasuki ruang lab.

“…”, gue nengok.
“Belom pada dateng Dit anak-anak nya?”, tanya cewek itu.
“Belom baru Romi aja ini.”, jawab Radit.

“Lo ngapain disini Rom?”, tanya cewek itu.

“Dikerjain bu Titin gue Jeng.”, kata gue pada Ajeng.

Kenalkan lagi temen gue, namanya Ajeng Ratna Ayu. Dia salah satu anggota di sekbid 8 OSIS bareng gue. Cewek berkacamata, dan memakai behel. Saat itu cukup langka melihat orang yang pake behel, gak kaya jaman sekarang, tiap lirikan mata pasti ada orang pake behel. Ajeng cukup manis juga sebenar nya, tapi karena gue udah cukup pusing dengan dua cewek yang ada di hidup gue kemaren-kemaren, gue putus kan untuk men-skip yang satu ini hahaha.

“Dikerjain gimana Mi?”, tanya Ajeng.

“Suruh maen keyboard gue ngiringin padus.”, jawab gue.

“Hahaha. Bagus lahhh.”, kata ajeng nyengir.

“Bagus gimana?”, tanya gue heran.

“Ya jadi kan gue ada temen nya. Gak terus-terusan gue yang disuruh.”, jawab Ajeng.

“Maksud nya?”, tanya gue masih bingung.

“Gue main keyboard juga Miii.”, jawab Ajeng.

“Hadehhhhhhh.”, tepok jidat lagi gue.

“Eh kalian udah kenal toh?”, tanya Radit kepo.

“Kenal lah oncom, si Romi ini kan OSIS bareng gue.”, jawab Ajeng.

“Nah ini mi orang nya yang main keyboard juga.”, kata Radit.

“Udah tau kampret, kan dia tadi bilang.”, gerutu gue.

“Eh btw, gue baru tau kalo lo maen keyboard jeng.”, kata gue.

“Ya bisa gitu-gitu aja sih. Tar ajarin gue ya.”, kata Ajeng.

“Ya elah ajarin gimana. Siapa yang tau lo lebih jago.”, jawab gue.

“Engga engga, pasti lo lebih jago. Kan lo kursus. Gue otodidak.”, lanjut Ajeng.

“Loh tau darimana?”, tanya gue.

“Kata Vonny.”, jawab Ajeng.

“Alahhh ini Vonny sama Alisha emang sebelas dua belas kelakuan nya.”, pikir gue.

“Ya udah tar gue ajarin kalo gue bisa.”, jawab gue.

“Ya udah kita latihan dulu aja bertiga sambil nunggu yang lain.”, ajak Radit.

“Latihan pake apaan?”, tanya gue.

“Tenang gue bawa gitar. Lo bawa keyboard kan jeng?”, tanya Radit.
“Ada di kelas. Bawain Dit hehe.”, kata Ajeng.

“Buset lo bawa-bawa keyboard kesekolah jeng?”, tanya gue.

“Hahaha iya kalo mau latihan padus aja.”, jawab Ajeng nyengir.

“Mi anterin yok.”, kata Radit.
“Ayo.”
Gue dan Radit menuju kelas nya Ajeng, mengambil keyboard nya Ajeng. Kemudian kembali ke lab kimia.
***
“Lo pake keyboard apaan Mi?”, tanya Ajeng.
“Gue gak punya keyboard jeng, dirumah gue pake piano.”, jawab gue.
“Wiihhh asik dong. Piano yang gede gitu?”, tanya Ajeng.

“Bukan yang grand sih, yang rada kecil nya itu.”, jelas gue.
“Terus ntar kalo suruh bawa gimana? Mau bawa piano?”, tanya Radit.

“Gila aja Dit, lo mau gotong nya? Hahaha.”, jawab gue.

“Paling gue minjem keyboard dari kantor bokap aja.”, lanjut gue.

“Nyanyi mi nyanyi.”, kata Radit.

“Ogah gue gak bisa nyanyi, punya pengalaman buruk gue sama nyanyi hahaha.”, jawab gue ketawa mengingat momen perpisahan SMP dulu.

“Unintended bisa lo?”, tanya Radit.
“Bisa. Jeng pinjem ya keyboard nya.”, kata gue.
“Iya iya sok aja.”, kata Ajeng mengijinkan.
Gue dan Radit pun berkolaborasi memainkan lagu Muse itu.
“Tuh kan jagoan.”, puji Ajeng.

“Alahh kebeneran aja gue pernah bawain waktu SMP dulu.”, jawab gue.

“Ajarin ajarin.”, kata Ajeng nemplok di bahu gue yang masih duduk di depan keyboard nya Ajeng.

“Hadeh ini kaya burung kaka tua nya bajak laut aja nemplok-nemplok.”, pikir gue.

“Yang penting hafal chord nya aja jeng. Sisa nya improve aja.”, kata gue.

“Kalo gak hafal?”, tanya Ajeng.

“Ya hafalin bloon. Hahaha.”, kata gue ketawa.

Kami pun tertawa bersama. Sesekali gue bergantian dengan Ajeng bermain keyboard. Sebenarnya dia cukup pandai juga bermain keyboard. Hanya saja Ajeng gak bisa baca not balok, sedangkan gue yang sedari kecil belajar piano sudah cukup akrab dengan “pohon toge” alias not balok. Radit juga cukup baik bermain gitar, dia otodidak juga sama seperti Ajeng. Dibanding Gaoy gitaris gue, Radit sedikit lebih baik. Tapi soal style, Gaoy juara nya. Hehe.
Latihan padus pun dimulai, gue cuma memperhatikan saja, gue gak hafal dengan songlist-songlist nya, termasuk Indonesia Raya saja gue gak hafal chord nya hahaha.

“Mi, ntar lo bagian Mengheningkan Cipta ya, gue Indonesia Raya. Gue gak hafal-hafal soalnya hehe.”, kata Ajeng.

“Ya udah atur-atur aja gampang.”, jawab gue.
“Terus lo bawa keyboard apa gimana ntar Senin?”, tanya Ajeng.
“Ya udah gue bawa aja ntar gampang.”, jawab gue.
“Ya udah deh gue balik duluan ya. Udah beres kan latihan nya?”, tanya gue.
“Udah Mi.”, jawab Radit.
Gue pun cabut, langsung menuju rumah Vonny untuk ngejemput Alisha.
***
“Tok tok tok. Assalamualaikum.”, salam gue.
“Walaikumsalam. Masuk Mi.”, kata Vonny yang lagi duduk-duduk di ruang tamu bareng Alisha.
“Udah beres yang?”, tanya Alisha.

“Udahhh.”, gue masang muka bete.

“Idihh jelek amat cemberut gitu lo.”, kata Vonny.

“Kenapa sih yang?”, tanya Alisha.

“Ya bete lah, disuruh ngiringin padus. Padahal itu padus udah ada pemain keyboard nya.”, gerutu gue kesal, sambil duduk di lantai dekat pintu.

“Doyan ama yang ganteng kali itu bu Titin hahaha.”, kata Alisha.

“Emang gue ganteng gitu Von?”, kata gue melirik Vonny, dengan wajah sedikit ngeledek.

“Hmmm ganteng gak ya? Eh tapi cha, kalo si Romi ini dikasih putih dikiitt aja, udah kelabakan lo pasti.”, kata Vonny.

“Maksud nya?”, tanya gue bingung.

“Ya kamu udah pasti jadi playboy yang, banyak yang suka, kalo di kasih putih pasti udah ganteng maksimal hahaha.”, kata Alisha.

“Hadehh, kalian ini muji apa ngeledek. Absurd tau.”, gerutu gue.

“Hahahaha.”, Vonny dan Alisha tertawa.

“Lah emang sekarang kurang ganteng gimana coba hahaha.”, kata gue pede.

”Euhhhh… buuukkk buuukkk.”, gue dilemparin bantal sofa.


“Von, minta minum haus gue.”, pinta gue.
“Ihhh nyuruh-nyuruh. Ambil aja sendiri sih.”, gerutu Vonny.

“Yang ambilin yang, malu atuh aku masa ngambil sendiri.”, pinta gue sama Alisha.

“Ya udah tunggu bentar ya yang.”, Alisha bangkit dari sofa tempat duduk nya menuju dapur mengambil air.
“Von, lo gak bilang apa-apa soal kemaren kan?”, tanya gue setengah berbisik.

“Gak lah, gila lo.”, jawab Vonny.

“Alisha cerita apa lagi sama lo?”, tanya gue.
“Gak cerita apa-apa ko.”, jawab Vonny.
“Ohhh ya udah deh.”, kata gue.
“Hayoo bisik-bisik apa kalian?”, tanya Alisha sudah kembali membawa segelas air dingin untuk gue.

“Engga, tadi si Romi minta tolong sama gue Cha.”, kata Vonny.

“…”, gue bengong gak ngerti maksud omongan Vonny.

“Minta tolong apaan yang?”, tanya Alisha sambil memberikan gelas itu ke gue.

“Errr….”, gue bingung jawab apa.

“Buuukkkk.”, Vonny melempar Alisha dengan bantal sofa.
“Minta tolong ini Cha hahahaha.”, kata Vonny tertawa.

“Fyuhhh. Kirain mo ngapain si Vonny.”, pikir gue.

“Sialan lo hahaha.”,Alisha pun tertawa.

Dan mereka pun saling bercanda dihadapan gue. Seolah tak pernah terjadi apa-apa diantara kami bertiga saat itu. Lah memang terjadi apa ya? Hehe.


Diubah oleh halberdiers 11-11-2015 14:19
efti108 memberi reputasi
1
Kutip
Balas
![[TRUE STORY] Stupid Romi](https://dl.kaskus.id/i1379.photobucket.com/albums/ah148/ernfachmi/Stupid%20Romi_zpsybzs8wcf.jpg)