- Beranda
- Stories from the Heart
Sometimes Love Just Ain't Enough
...
TS
jayanagari
Sometimes Love Just Ain't Enough
Halo, gue kembali lagi di Forum Stories From The Heart di Kaskus ini 
Semoga masih ada yang inget sama gue ya
Kali ini gue kembali lagi dengan sebuah cerita yang bukan gue sendiri yang mengalami, melainkan sahabat gue.
Semoga cerita gue ini bisa berkenan di hati para pembaca sekalian

Semoga masih ada yang inget sama gue ya

Kali ini gue kembali lagi dengan sebuah cerita yang bukan gue sendiri yang mengalami, melainkan sahabat gue.
Semoga cerita gue ini bisa berkenan di hati para pembaca sekalian


*note : cerita ini sudah seizin yang bersangkutan.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 24-04-2016 00:40
jenggalasunyi dan 9 lainnya memberi reputasi
10
422.3K
1.5K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#601
PART 26
Kepala kami berada sangat dekat, dan gue merasakan hembusan lembut napasnya. Sherly mulai sedikit memejamkan matanya, dan gue tersenyum. Waktu itu gue gak memikirkan apapun, dan segalanya mengalir apa adanya. Mendadak terdengar suara pintu terbuka di belakang gue, dan kami berdua langsung tersadar dari keadaan yang menghanyutkan itu, dan kembali berusaha menguasai diri. Gue melihat Sherly salah tingkah, dan begitu pula gue.
Gue menoleh ke arah pintu, dan melihat nyokap sedang keluar membawa keranjang yang berisi entah apa. Kemudian gue melirik ke Sherly yang duduk terdiam disamping gue. Jarak kami duduk yang tadinya mendekat, jadi agak menjauh lagi. Gue menggaruk-garuk kepala yang gak gatal, berusaha menenangkan diri gue lagi. Gue kemudian bertanya ke Sherly.
Gue menjulurkan lidah, dan berdiri diikuti Sherly. Gue menunjukkan kamar mandi di belakang rumah, dan memberikan selembar handuk besar ke Sherly. Beberapa saat kemudian Sherly sudah berada di dalam kamar mandi, sementara gue duduk di ruang tengah sambil menyalakan TV. Nisa entah dimana, di kamarnya mungkin, sementara nyokap gue sedang bersiap-siap untuk pergi ke laundry miliknya.
Beberapa waktu kemudian, gue melihat Sherly sedang bersiap-siap, sambil ngobrol dengan Nisa di kamarnya. Gue kemudian bergegas mandi, dan setelah mandi gue menghampiri mereka berdua.
Sherly memandangi gue dan Nisa sambil ketawa-ketawa, mungkin dia gak ngebayangin ada kakak-adik absurdnya macem gue sama Nisa ini. Dengan tampang bersalah gue menjelaskan ke Sherly.
Sherly tertawa semakin lebar, sementara Nisa melotot ke gue. Gue sih cuek aja. Kemudian gue dan Sherly bersiap-siap untuk pergi, dengan menggunakan motor Nisa. Proses ijin ke Nisa itu berlangsung dengan gak gampang, tentu saja, dan diakhiri dengan imbalan sebungkus siomay dan sebungkus es campur yang nanti harus gue bawa waktu pulang.
Gue dan Sherly kemudian berangkat menuju ke tempat yang gue bicarakan. Tempat itu gak jauh dari rumah gue, dan dipenuhi banyak jajanan kuliner selayaknya sebuah pasar. Tempat itu selalu ramai, dan Sherly menyukainya. Terlihat dengan jelas dari raut wajahnya kalo dia bahagia. Gue tersenyum, bersyukur melihat antusiasme Sherly, dan bersyukur gue bisa sedikit menorehkan senyum di wajahnya.
Sherly pertama-tama mengunjungi sebuah stand yang menjual tempura dan jajanan gorengan. Dengan bahagia dia memilih-milih.
Gue kemudian mengambil beberapa jenis makanan yang masih mentah, yang ditusuk seperti sate, dan kemudian baru digoreng oleh penjualnya. Sementara itu gue melihat Sherly udah menikmati makanannya sambil sesekali mengipas-ngipaskan mulutnya yang terbuka, karena kepanasan. Gue tertawa melihat ulah Sherly itu. Gue memegang bungkus kertas yang berisi gorengan gue itu dengan berganti-ganti, karena kepanasan, apalagi Sherly yang langsung memakannya.
Setelah membayar gorengan itu, kami berdua berjalan-jalan lagi menyusuri jalanan yang dipenuhi dengan makanan kecil itu. Langit hari itu seakan mendukung kami, karena cukup mendung teduh, namun belum akan turun hujan. Sherly menoleh ke gue.
Kami berdua mampir ke stand yang menjual churros itu, dan dilanjutkan dengan mampir ke stand-stand lainnya. Sesekali gue becandain Sherly, dengan menawari makanan di tangan gue, tapi ketika dia mau mengambilnya, gue tarik lagi. Kalo udah gitu Sherly gemes sampe mencubit lengan gue, sementara gue ketawa-ketawa geli. Ketika kami berdua melewati seorang penjual gula-gula kapas, gue berinisiatif membelikan Sherly setangkai gula-gula kapas berwarna merah jambu.
Sherly tersenyum dengan menggemaskan, dan mengangkat kedua alisnya sebagai tanda persetujuan. Gue tertawa. Sherly kemudian menerima gula-gula kapas itu dan memakannya dengan mencubit sedikit demi sedikit. Ketika gue mau meminta sedikit, Sherly membalas ulah gue sebelumnya, dan menarik gula-gula kapas sambil mencibir. Gue dan Sherly tertawa cekikikan setelah itu.
Beberapa waktu kami berjalan, gerimis pun mulai turun, dan beberapa orang mulai berjalan lebih cepat, menghindari hujan. Gue dan Sherly juga melakukan hal yang sama, berjalan lebih cepat, mencari tempat berteduh. Tiba-tiba hujan turun semakin deras, dan gue menarik tangan Sherly untuk ikut berlari dengan gue menyusuri jalan itu. Hingga akhirnya kami berteduh di depan sebuah toko, bersama beberapa orang lain. Gue melihat rambut Sherly yang mulai lemas karena basah, dan tersenyum sambil merapikan beberapa helai diantaranya. Sherly pun melakukan hal yang sama, mengusap wajah dan rambut gue yang basah, sambil tertawa kecil.
Satu hal yang gue sadari, dan gue berharap akan berlangsung selama mungkin, adalah tangan gue dan tangan Sherly masih saling tergenggam dengan erat.
Kepala kami berada sangat dekat, dan gue merasakan hembusan lembut napasnya. Sherly mulai sedikit memejamkan matanya, dan gue tersenyum. Waktu itu gue gak memikirkan apapun, dan segalanya mengalir apa adanya. Mendadak terdengar suara pintu terbuka di belakang gue, dan kami berdua langsung tersadar dari keadaan yang menghanyutkan itu, dan kembali berusaha menguasai diri. Gue melihat Sherly salah tingkah, dan begitu pula gue.
Gue menoleh ke arah pintu, dan melihat nyokap sedang keluar membawa keranjang yang berisi entah apa. Kemudian gue melirik ke Sherly yang duduk terdiam disamping gue. Jarak kami duduk yang tadinya mendekat, jadi agak menjauh lagi. Gue menggaruk-garuk kepala yang gak gatal, berusaha menenangkan diri gue lagi. Gue kemudian bertanya ke Sherly.
Quote:
Gue menjulurkan lidah, dan berdiri diikuti Sherly. Gue menunjukkan kamar mandi di belakang rumah, dan memberikan selembar handuk besar ke Sherly. Beberapa saat kemudian Sherly sudah berada di dalam kamar mandi, sementara gue duduk di ruang tengah sambil menyalakan TV. Nisa entah dimana, di kamarnya mungkin, sementara nyokap gue sedang bersiap-siap untuk pergi ke laundry miliknya.
Beberapa waktu kemudian, gue melihat Sherly sedang bersiap-siap, sambil ngobrol dengan Nisa di kamarnya. Gue kemudian bergegas mandi, dan setelah mandi gue menghampiri mereka berdua.
Quote:
Sherly memandangi gue dan Nisa sambil ketawa-ketawa, mungkin dia gak ngebayangin ada kakak-adik absurdnya macem gue sama Nisa ini. Dengan tampang bersalah gue menjelaskan ke Sherly.
Quote:
Sherly tertawa semakin lebar, sementara Nisa melotot ke gue. Gue sih cuek aja. Kemudian gue dan Sherly bersiap-siap untuk pergi, dengan menggunakan motor Nisa. Proses ijin ke Nisa itu berlangsung dengan gak gampang, tentu saja, dan diakhiri dengan imbalan sebungkus siomay dan sebungkus es campur yang nanti harus gue bawa waktu pulang.
Spoiler for :
Gue dan Sherly kemudian berangkat menuju ke tempat yang gue bicarakan. Tempat itu gak jauh dari rumah gue, dan dipenuhi banyak jajanan kuliner selayaknya sebuah pasar. Tempat itu selalu ramai, dan Sherly menyukainya. Terlihat dengan jelas dari raut wajahnya kalo dia bahagia. Gue tersenyum, bersyukur melihat antusiasme Sherly, dan bersyukur gue bisa sedikit menorehkan senyum di wajahnya.
Sherly pertama-tama mengunjungi sebuah stand yang menjual tempura dan jajanan gorengan. Dengan bahagia dia memilih-milih.
Quote:
Gue kemudian mengambil beberapa jenis makanan yang masih mentah, yang ditusuk seperti sate, dan kemudian baru digoreng oleh penjualnya. Sementara itu gue melihat Sherly udah menikmati makanannya sambil sesekali mengipas-ngipaskan mulutnya yang terbuka, karena kepanasan. Gue tertawa melihat ulah Sherly itu. Gue memegang bungkus kertas yang berisi gorengan gue itu dengan berganti-ganti, karena kepanasan, apalagi Sherly yang langsung memakannya.
Setelah membayar gorengan itu, kami berdua berjalan-jalan lagi menyusuri jalanan yang dipenuhi dengan makanan kecil itu. Langit hari itu seakan mendukung kami, karena cukup mendung teduh, namun belum akan turun hujan. Sherly menoleh ke gue.
Quote:
Kami berdua mampir ke stand yang menjual churros itu, dan dilanjutkan dengan mampir ke stand-stand lainnya. Sesekali gue becandain Sherly, dengan menawari makanan di tangan gue, tapi ketika dia mau mengambilnya, gue tarik lagi. Kalo udah gitu Sherly gemes sampe mencubit lengan gue, sementara gue ketawa-ketawa geli. Ketika kami berdua melewati seorang penjual gula-gula kapas, gue berinisiatif membelikan Sherly setangkai gula-gula kapas berwarna merah jambu.
Quote:
Sherly tersenyum dengan menggemaskan, dan mengangkat kedua alisnya sebagai tanda persetujuan. Gue tertawa. Sherly kemudian menerima gula-gula kapas itu dan memakannya dengan mencubit sedikit demi sedikit. Ketika gue mau meminta sedikit, Sherly membalas ulah gue sebelumnya, dan menarik gula-gula kapas sambil mencibir. Gue dan Sherly tertawa cekikikan setelah itu.
Beberapa waktu kami berjalan, gerimis pun mulai turun, dan beberapa orang mulai berjalan lebih cepat, menghindari hujan. Gue dan Sherly juga melakukan hal yang sama, berjalan lebih cepat, mencari tempat berteduh. Tiba-tiba hujan turun semakin deras, dan gue menarik tangan Sherly untuk ikut berlari dengan gue menyusuri jalan itu. Hingga akhirnya kami berteduh di depan sebuah toko, bersama beberapa orang lain. Gue melihat rambut Sherly yang mulai lemas karena basah, dan tersenyum sambil merapikan beberapa helai diantaranya. Sherly pun melakukan hal yang sama, mengusap wajah dan rambut gue yang basah, sambil tertawa kecil.
Satu hal yang gue sadari, dan gue berharap akan berlangsung selama mungkin, adalah tangan gue dan tangan Sherly masih saling tergenggam dengan erat.
Diubah oleh jayanagari 10-11-2015 15:50
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Tutup
: kemana?
: kayaknya rame amat ngobrolnya
: iya nih bang kelamaan nungguin lo mandi
: paan, gue mandi semenit doang
: mmm, apa ya...