Kaskus

Story

jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
Sometimes Love Just Ain't Enough
Halo, gue kembali lagi di Forum Stories From The Heart di Kaskus ini emoticon-Smilie
Semoga masih ada yang inget sama gue ya emoticon-Malu
Kali ini gue kembali lagi dengan sebuah cerita yang bukan gue sendiri yang mengalami, melainkan sahabat gue.
Semoga cerita gue ini bisa berkenan di hati para pembaca sekalian emoticon-Smilie

Sometimes Love Just Ain't Enough



*note : cerita ini sudah seizin yang bersangkutan.


Quote:


Quote:
Diubah oleh jayanagari 24-04-2016 00:40
pulaukapokAvatar border
afrizal7209787Avatar border
DhekazamaAvatar border
Dhekazama dan 8 lainnya memberi reputasi
9
421.6K
1.5K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
#532
PART 24

Spoiler for :


Sepanjang perjalanan itu Sherly kebanyakan tertidur. Gue sebenernya juga kepingin tidur, tapi udah jadi kelemahan gue, susah tidur selama perjalanan. Gue bukan tipe orang yang bisa tidur di sembarang tempat. Gue mencari posisi yang paling enak buat tidur, tapi apa daya, karena tempat duduk gue di pinggir gang, gue jadi gak bisa bersandar di dinding gerbong. Sementara itu gue lihat Sherly meringkuk menghadap ke jendela. Gue berusaha memejamkan mata, dan usaha gue mulai membuahkan hasil ketika gue merasa sedikit ngantuk.

Beberapa penumpang yang berlalu lalang di gang samping gue dengan sukses membuat gue bangun kembali. Gue mencari handphone dan mengecek beberapa medsos yang gue punya. Sejenak kemudian gue menyadari Sherly mengubah posisi tidurnya. Perlahan-lahan kepalanya mulai bersandar ke bahu gue. Gue melirik ke samping, dan melihat sebagian wajahnya tertutup oleh rambut hitam ikal miliknya. Gue tersenyum.

Wajah itu damai, seakan semua beban yang selama ini dipikulnya menguap entah kemana. Barangkali hanya di dalam tidurnyalah dia bisa menemukan dunia yang lebih lunak untuknya. Barangkali hanya di dalam mimpinya itu dia bisa bertemu dengan orang-orang terkasih yang telah lebih dulu meninggalkannya sendirian di dunia yang keras ini. Barangkali hanya di dalam mimpinya itulah dia bisa menumpahkan segala rindu dan perasaan yang selama ini dipendamnya. Mungkin hanya itulah yang tersisa dari masa lalunya.

Gue merasakan tekanan yang semakin berat di bahu gue, dan gue menyadari bahwa Sherly bener-bener bersandar di bahu gue. Diluar kemauannya, tentu saja. Gue merasakan dada gue berdebar ketika gue mencium bau harum rambutnya yang hanya beberapa sentimeter dari wajah gue. Gue tahu bahwa dia mulai menghuni hati gue, semoga saja harapan gue ini menjadi nyata. Sedetik kemudian gue merasa harapan gue itu mulai pudar ketika gue inget Sherly bilang bahwa dia belum siap untuk mencintai orang. Gue menghela napas berat.

Sherly.

Seorang wanita yang hadir di hidup gue selama beberapa waktu terakhir ini, dan telah membuat hidup gue berubah banyak dengan segala kepribadiannya. Tadinya gue menganggap Sherly hanyalah seorang wanita asing, sesama mahasiswa yang berjuang di kota rantauan, seperti layaknya orang seumuran kami. Tapi ketika Sherly mulai menyingkap perlahan tabir kemisteriusannya, gue merasakan bahwa hidup lebih dari apa yang kita lihat di dunia. Gue merasakan betapa seseorang bisa memiliki cerita luar biasa, dan memberi inspirasi bagi sesama.

Gue tahu antara gue dan Sherly gak ada apa-apa. Kami hanyalah teman baik, yang kebetulan letak kos-kosan kami berdekatan. Tapi selayaknya manusia dimanapun, kedekatan itu pasti tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam. Gak terkecuali perasaan gue ke Sherly. Gue belum berani meyakinkan diri bahwa gue mencintainya, tapi gue yakin bahwa gue perduli terhadapnya. Gue ingin menjaganya dari dunia yang keras ini, yang mungkin akan melukainya lebih dalam lagi. Bagi gue, hanya itulah yang bisa gue harapkan, untuk saat ini.

Gue memandangi wajah Sherly yang tertidur, dan gue tersenyum. Gue bersyukur bisa sedikit membahagiakannya, mengajaknya liburan di Jakarta. Semoga dia bisa sedikit melupakan apa yang jadi beban hidupnya selama berlibur bersama gue.

Gue kemudian menyentuh tangannya perlahan-lahan, berusaha untuk tidak membangunkannya. Akhirnya gue memegang punggung tangannya dengan sebelah tangan gue. Gue merasakan dinginnya tangan Sherly, dan gue menahan napas. Sebisa mungkin gue menahan segala perasaan gue kepadanya, karena gue takut perasaan gue itu justru bakal jadi bumerang bagi kami berdua.

Gue masih memegang punggung tangannya, dan kemudian gue baru sadar bahwa Sherly tersenyum sambil matanya tetap terpejam.
itkgid
oktavp
pulaukapok
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.