- Beranda
- Stories from the Heart
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
...
TS
Shadowroad
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Ane mau share novel buatan ane sendiri gan
Novel ane bergenre action, horror, romance, school-life dan supranatural
Inspirasi dapat dari alur game, film, anime, kehidupan, komik, mitologi, legenda dan novel yang pernah ane amati
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Spoiler for Begini gan ceritanya::
Cerita ini tentang seorang remaja dari Jakarta yang keluarganya terbunuh karena kaum vampire. Cowok remaja ini bernama Erik Calendula. Setelah selamat dari bencana yang dibuat kaum vampire, dia lalu memohon pada Arthur Pendragon. Arthur adalah salah satu dari beberapa pemburu vampire yang menyelamatkan Erik. Dibakar oleh tangisan, amarah dan dendam atas kematian keluarganya, Erik meminta Arthur untuk mendidiknya agar menjadi seorang pemburu vampire. Erik berniat menghancurkan organisasi vampire penebar bencana yang menjadi penyebab kematian orang tuanya.
Arthur menyetujui permintaan Erik. Sebelum dididik, Erik dibawa ke markas pemburu vampire di Jakarta yang bernama Knights of the Silver Sword. Lebih singkatnya, organisasi ini biasa disebut Silver Sword. Setelah bergabung dengan Silver Sword dan dibekali pelatihan dari Arthur, karir Erik sebagai pemburu vampire dimulai. Seperti Arthur, Erik juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan listrik.
Arthur menyetujui permintaan Erik. Sebelum dididik, Erik dibawa ke markas pemburu vampire di Jakarta yang bernama Knights of the Silver Sword. Lebih singkatnya, organisasi ini biasa disebut Silver Sword. Setelah bergabung dengan Silver Sword dan dibekali pelatihan dari Arthur, karir Erik sebagai pemburu vampire dimulai. Seperti Arthur, Erik juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan listrik.
Spoiler for Daftar Isi:
Prolog: Hotel Indonesia
Part 1: Arthur Datang Menjenguk
Part 2: Sekolah
Part 3: Kekuatan Dietrich
Part 4: Amanda Myrna
Part 5: Kisah Raja Arthur
Part 6: Pelabuhan
Part 7: Ghoul
Part 8: Bersembunyi di Rumah Kosong
Part 9: Amanda sang Pembunuh
Part 10: Lightning Versus Sand
Part 11: Kematian Rudy
Part 12: Rumah Sakit
Part 13: Teman Sekelas
Part 14: Kunjungan Mario dan Maya
Part 15: Cerita di Malam Hari
Part 16: Serangan Vampire
Part 17: Sungai Kapuas
Part 18: Kelompok Elena Versus Taiyou no Kishi
Part 19: Lantai Tiga
Part 20: Maya Versus Callista
Part 21: Lantai Dua
Part 22: Serangan Balik
Part 23: Kekuatan Callista
Part 24: Rumah Bergaya Belanda
Part 25: Immortals
Part 26: Empat Pertanyaan
Part 27: Der Schwarze Stein
Part 28: Mantra Deprehensio
Part 29: Kelompok Elena Versus Si Ekor Kalajengking
Part 30: Kolam-kolam Air
Part 31: Hydromancer Magnus
Part 32: Sepulang Sekolah
Part 33: Mall Kemang
Part 34: Korban Vampire
Part 35: Chibi, Chernov dan Minsk
Part 36: Pengejaran
Part 37: Tim Erik dan Tim Maul Versus Geng James Wood
Part 37.1: Hutan Ilusi
Part 37.2: Eyes of Markmanship
Part 37.3: Sand Versus Fire
Part 37.4: Pedang dan Tameng Es
Part 37.5: Maul dan Vira Versus James Wood
Part 38: Arthur Versus Lu Bu
Part 39: Agen Ganda
Part 40: Rumah Darkwing Bersaudara
Part 41: Tiga Produk
Part 42: Di Perbatasan Uni Soviet
Part 42.1: Diego Versus Dragovich
Part 43: FlyHigh
Part 44: Pecandu dari Pluit's Boat
Part 45: Kartel Ching Yan
Part 46: Ervan Versus Werewolf
Part 47: Berlindung di Balik Mobil
Part 48: Marga Asakura
Part 49: Hantu di Rumah Amanda
Part 50: Emmy Merah
Part 51: Pisau Dapur yang Melayang
Part 52: Lantai Dua
Part 53: Tim Sandra dan Dua Emmy
Part 54: Elektrokimia
Part 55: Aswatama
Part 56: Erik, Dietrich, Amanda Versus Arthur
Part 57: Erik, Dietrich, Amanda Versus Aswatama
Part 58: Napoleon Bonaparte dan Timnya
Part 59: Melacak
Part 60: Arthur Versus Jie Xiong
Part 61: Penyelamatan Professor Vaugh
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Part 1: Arthur Datang Menjenguk
Part 2: Sekolah
Part 3: Kekuatan Dietrich
Part 4: Amanda Myrna
Part 5: Kisah Raja Arthur
Part 6: Pelabuhan
Part 7: Ghoul
Part 8: Bersembunyi di Rumah Kosong
Part 9: Amanda sang Pembunuh
Part 10: Lightning Versus Sand
Part 11: Kematian Rudy
Part 12: Rumah Sakit
Part 13: Teman Sekelas
Part 14: Kunjungan Mario dan Maya
Part 15: Cerita di Malam Hari
Part 16: Serangan Vampire
Part 17: Sungai Kapuas
Part 18: Kelompok Elena Versus Taiyou no Kishi
Part 19: Lantai Tiga
Part 20: Maya Versus Callista
Part 21: Lantai Dua
Part 22: Serangan Balik
Part 23: Kekuatan Callista
Part 24: Rumah Bergaya Belanda
Part 25: Immortals
Part 26: Empat Pertanyaan
Part 27: Der Schwarze Stein
Part 28: Mantra Deprehensio
Part 29: Kelompok Elena Versus Si Ekor Kalajengking
Part 30: Kolam-kolam Air
Part 31: Hydromancer Magnus
Part 32: Sepulang Sekolah
Part 33: Mall Kemang
Part 34: Korban Vampire
Part 35: Chibi, Chernov dan Minsk
Part 36: Pengejaran
Part 37: Tim Erik dan Tim Maul Versus Geng James Wood
Part 37.1: Hutan Ilusi
Part 37.2: Eyes of Markmanship
Part 37.3: Sand Versus Fire
Part 37.4: Pedang dan Tameng Es
Part 37.5: Maul dan Vira Versus James Wood
Part 38: Arthur Versus Lu Bu
Part 39: Agen Ganda
Part 40: Rumah Darkwing Bersaudara
Part 41: Tiga Produk
Part 42: Di Perbatasan Uni Soviet
Part 42.1: Diego Versus Dragovich
Part 43: FlyHigh
Part 44: Pecandu dari Pluit's Boat
Part 45: Kartel Ching Yan
Part 46: Ervan Versus Werewolf
Part 47: Berlindung di Balik Mobil
Part 48: Marga Asakura
Part 49: Hantu di Rumah Amanda
Part 50: Emmy Merah
Part 51: Pisau Dapur yang Melayang
Part 52: Lantai Dua
Part 53: Tim Sandra dan Dua Emmy
Part 54: Elektrokimia
Part 55: Aswatama
Part 56: Erik, Dietrich, Amanda Versus Arthur
Part 57: Erik, Dietrich, Amanda Versus Aswatama
Part 58: Napoleon Bonaparte dan Timnya
Part 59: Melacak
Part 60: Arthur Versus Jie Xiong
Part 61: Penyelamatan Professor Vaugh
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Gan, setelah baca mohon komennya, ya
Ane sangat menerima kritik dan saran
Pertanyaan juga sangat dianjurkan, supaya agan2 dapat lebih memahami cerita yang rumit ini
Kalau terjadi kesalahan seperti tanda baca, kurang jelas, ketidak konsistenan cerita mohon diingatkan ya gan
Terima kasih gan
Diubah oleh Shadowroad 26-11-2017 06:31
2
87K
Kutip
544
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Shadowroad
#211
Part 32: Sepulang Sekolah
Spoiler for Part 32: Sepulang Sekolah:
Empat minggu berlalu sejak penyerangan Black Heartdi Rumah Sakit Lotus. Tubuh Erik dan teman-temannya sudah sembuh total. Selain itu, keseharian mereka saat ini lumayan tenang. Hanya ada beberapa misi ringan di bawah pimpinan Arthur. Salah satu misi kelompok Erik adalah mencari jejak vampire pengedar narkoba bernama James Woods. Arthur akhir-akhir ini jarang memberikan misi pada kelompok Erik karena Arthur saat ini sedang sibuk menjalankan misi dengan didikannya yang lain. Tidak ada peristiwa besar seperti penyerangan rumah sakit oleh Black Heart.
Erik dan teman-temannya saat ini sedang bermain basket di lapangan utara sekolah. Sebetulnya sekarang sudah tidak ada kegiatan belajar mengajar lagi karena sekolah sudah usai. Tapi Erik tetap bermain basket tanpa kenal waktu. Pertandingannya tiga lawan tiga. Tim Erik adalah Dietrich dan Rama melawan tim Mario. Mario bermain dengan dua teman yang sama-sama atlet basketnya. Selain itu, di lapangan basket ada dua cewek yaitu Audrey dan Amanda.
Tindakan Dietrich yang berhenti tadi mengakibatkan bolanya hilang kendali sehingga berhasil direbut Mario. Mario sudah berhasil sampai di depan ring dan mulai menembak. Rama berusaha menghentikannya namun sia-sia. Bola yang dilempar bintang basket SMA itu berhasil masuk ke ring dengan mudah.
Kali ini bola berada dalam kendali Mario. Mario mendribble bolanya ke tengah lapangan. Setelah sampai di tengah lapangan, dia memprovokasi Erik untuk merebut bola darinya. Dengan sebal, Erik langsung berlari menghampiri Mario. Berkali-kali tangan Erik menggapai bola tapi selalu gagal. Tangan-tangan Mario terlalu lihai dalam memainkan bola basket.
Kedua tim sudah terengah-rengah. Tim Erik tidak kuat mengikuti si atlet basket. Sementara itu, tim Mario sendiri juga tidak kuat mengikuti gaya permainan Mario yang luas, cepat dan akurat. Dua rekan Mario memang anak basket. Tapi mereka tidak termasuk tim sekolah. Kemampuan Mario memang hebat. Tim Mario sendiri takluk pada kemampuan basketnya.
“Pertandingan selesai,” kata Erik.
“Apaan? Kan belum lima menit?” balas Mario.
“Aku sudah lelah menghadapimu,” kata Rama.
“Ya sudahlah,” kata Mario seraya menarik dua temannya agar bangkit dari duduknya.
“Pertandingan yang bagus, Erik,” kata salah satu teman Mario, “Playboy sialan ini benar-benar membuat kita lelah.”
Mario tertawa, “Kalian kurang latihan, sih. Lemah banget.”
“Lemah kepalamu,” canda Rama, “Malah hidupmu yang makanan sehari-harinya adalah bola basket.”
Setelah bersalaman dengan semuanya, Mario berjalan meninggalkan tim Erik dan para gadis. Dia diikuti oleh kedua temannya. Sambil berjalan, dua teman Mario meminum air mineral. Mereka terlihat benar-benar haus dan lelah karena Mario sendiri. Gaya mainnya yang hebat itulah yang tiga kali membawa piala juara pertama di kejuaraan basket antar SMA.
Audrey bangkit dan menarik tangan Erik. Gadis itu memaksa Erik berdiri. Awalnya Erik ogah-ogahan karena masih capek. Karena tarikan Audrey kuat, lama-lama Erik menyerah juga dan akhirnya berdiri. Setelah Erik berdiri, kini giliran Amanda yang ditarik tangannya oleh Audrey. Tak perlu waktu lama untuk membuat Amanda berdiri, Amanda langsung mengajak Audrey untuk segera pulang.
Erik, Audrey dan Amanda berjalan menuju tempat parkir. Di sana, mereka berunding sebentar di dekat sepeda motor milik Audrey. Mereka sepakat untuk bertemu di depan pintu masuk parkiran mall. Setelah itu, Audrey segera pulang dan meninggal Erik bersama Amanda di tempat parkir.
Amanda dan Erik segera menaiki sepeda motor masing-masing. Mereka menyalakan mesin dan langsung bergegas keluar dari sekolah. Mereka saling melambaikan tangan begitu berpisah di perempatan jalan. Dengan cepat, Erik melesat menuju rumahnya. Hanya butuh waktu sepuluh menit bagi Erik untuk sampai rumah.
Erik menaruh sepeda motornya di teras rumah. Dia merogoh saku celananya untuk mengambil kunci rumah. Tak sengaja kepalanya menunduk dan melihat sepatu boot ala geng motor berada di depan pintu rumahnya. Tak perlu membuka pintu dengan kunci lagi, Erik langsung mendorong gagang pintu dan masuk ke rumahnya.
Erik tidak mengomentari jawaban Arthur. Dia langsung masuk ke kamar mandi dan mandi secepat mungkin. Setelah selesai mandi, dia cepat-cepat masuk kamarnya dan memakai pakaian terbaiknya. Kaos berwarna hitam legam dan bergambar seekor naga di bagian depannya. Ditambah dengan celana jeans berwarna hitam pula. Tidak lupa dia menyemprotkan parfum di kaosnya.
Erik dan teman-temannya saat ini sedang bermain basket di lapangan utara sekolah. Sebetulnya sekarang sudah tidak ada kegiatan belajar mengajar lagi karena sekolah sudah usai. Tapi Erik tetap bermain basket tanpa kenal waktu. Pertandingannya tiga lawan tiga. Tim Erik adalah Dietrich dan Rama melawan tim Mario. Mario bermain dengan dua teman yang sama-sama atlet basketnya. Selain itu, di lapangan basket ada dua cewek yaitu Audrey dan Amanda.
Quote:
“Kalian pasti bisa … Erik, Dietrich, Rama! Cepat selesaikan!” dukung Audrey.
“Kau tahu, Erik,” kata Rama, “Didukung dua ratu sekolah membuatku merasa ingin terus bermain walaupun tubuh ini lelah.”
Erik tertawa juga, “Aku juga, bung. Rasanya aku tak ingin pulang.”
“Ayo, Mario!” teriak Amanda, “Hancurkan tim Erik yang penuh tipu daya itu. Libas juga si bocah Nazi.”
“Aku bukan Nazi …,” kata Dietrich yang berhenti mendribble bola dan menggerutu karena ejekan Amanda.
“Kau tahu, Erik,” kata Rama, “Didukung dua ratu sekolah membuatku merasa ingin terus bermain walaupun tubuh ini lelah.”
Erik tertawa juga, “Aku juga, bung. Rasanya aku tak ingin pulang.”
“Ayo, Mario!” teriak Amanda, “Hancurkan tim Erik yang penuh tipu daya itu. Libas juga si bocah Nazi.”
“Aku bukan Nazi …,” kata Dietrich yang berhenti mendribble bola dan menggerutu karena ejekan Amanda.
Tindakan Dietrich yang berhenti tadi mengakibatkan bolanya hilang kendali sehingga berhasil direbut Mario. Mario sudah berhasil sampai di depan ring dan mulai menembak. Rama berusaha menghentikannya namun sia-sia. Bola yang dilempar bintang basket SMA itu berhasil masuk ke ring dengan mudah.
Quote:
“Erik, Dietrich, Rama … kalian semua payah, ah,” kata Audrey.
Erik menatap Audrey, “Playboy sialan ini lumayan susah dilawan, Audrey. Butuh kerja keras.”
“Cepatlah, Erik,” Audrey memaksa lagi, “Bukankah kita bertiga harus berangkat jam setengah empat?”
“Iya, iya. Lima menit lagi selesai,” kata Erik.
Erik menatap Audrey, “Playboy sialan ini lumayan susah dilawan, Audrey. Butuh kerja keras.”
“Cepatlah, Erik,” Audrey memaksa lagi, “Bukankah kita bertiga harus berangkat jam setengah empat?”
“Iya, iya. Lima menit lagi selesai,” kata Erik.
Kali ini bola berada dalam kendali Mario. Mario mendribble bolanya ke tengah lapangan. Setelah sampai di tengah lapangan, dia memprovokasi Erik untuk merebut bola darinya. Dengan sebal, Erik langsung berlari menghampiri Mario. Berkali-kali tangan Erik menggapai bola tapi selalu gagal. Tangan-tangan Mario terlalu lihai dalam memainkan bola basket.
Quote:
“Erik, besok setelah pulang sekolah, kutraktir makan di kantin, ya?” kata Mario sambil memainkan bola.
“Hah?” Erik terkejut karena tiba-tiba Mario mentraktir, “Aku mau-mau saja. Memangnya ada apa?”
“Aku mau berdiskusi denganmu tentang pengkhianat di dalam Silver Sword,” Mario mulai berbisik.
“Ada info baru?”
“Sudahlah, besok saja kujelaskan,” kata Mario yang tiba-tiba melesat melewati Erik. Dia lalu berhenti di luar lingkaran dan menembakkan bolanya. Tim Mario langsung mendapatkan tiga poin.
“Hah?” Erik terkejut karena tiba-tiba Mario mentraktir, “Aku mau-mau saja. Memangnya ada apa?”
“Aku mau berdiskusi denganmu tentang pengkhianat di dalam Silver Sword,” Mario mulai berbisik.
“Ada info baru?”
“Sudahlah, besok saja kujelaskan,” kata Mario yang tiba-tiba melesat melewati Erik. Dia lalu berhenti di luar lingkaran dan menembakkan bolanya. Tim Mario langsung mendapatkan tiga poin.
Kedua tim sudah terengah-rengah. Tim Erik tidak kuat mengikuti si atlet basket. Sementara itu, tim Mario sendiri juga tidak kuat mengikuti gaya permainan Mario yang luas, cepat dan akurat. Dua rekan Mario memang anak basket. Tapi mereka tidak termasuk tim sekolah. Kemampuan Mario memang hebat. Tim Mario sendiri takluk pada kemampuan basketnya.
Quote:
“Pertandingan selesai,” kata Erik.
“Apaan? Kan belum lima menit?” balas Mario.
“Aku sudah lelah menghadapimu,” kata Rama.
“Ya sudahlah,” kata Mario seraya menarik dua temannya agar bangkit dari duduknya.
“Pertandingan yang bagus, Erik,” kata salah satu teman Mario, “Playboy sialan ini benar-benar membuat kita lelah.”
Mario tertawa, “Kalian kurang latihan, sih. Lemah banget.”
“Lemah kepalamu,” canda Rama, “Malah hidupmu yang makanan sehari-harinya adalah bola basket.”
Setelah bersalaman dengan semuanya, Mario berjalan meninggalkan tim Erik dan para gadis. Dia diikuti oleh kedua temannya. Sambil berjalan, dua teman Mario meminum air mineral. Mereka terlihat benar-benar haus dan lelah karena Mario sendiri. Gaya mainnya yang hebat itulah yang tiga kali membawa piala juara pertama di kejuaraan basket antar SMA.
Quote:
“Mario benar-benar lawan yang hebat, ya?” kata Dietrich.
“Tentu saja, Dietrich,” kata Rama, “Bisa apa kita melawan orang yang membawa piala tiga kali berturut-turut.”
“Dia masih mengincarmu, Audrey?” kata Amanda.
Audrey tersenyum mengejek, “Entahlah, Amanda. Kalaupun masih mengincar aku tak peduli. Habisnya, sudah ada cowok yang kusuka.”
“Bolehkah aku menebak cowok yang kau suka, Audrey?”
“Jangan. Jika kau tahu pun, tolong jangan bilang siapa-siapa. Hanya dua cewek yang tahu akan hal ini.”
“Apakah si Nazi ini?” kata Amanda seraya melirik Dietrich.
Dietrich mendengus dan memandang Amanda, “Aku bukan Nazi.”
“Boleh juga,” canda Audrey, “Ganteng, sih.”
“Betapa beruntungnya kau, Dietrich, disukai cewek secantik Audrey,” kata Rama.
“Betapa sialnya kau, Nazi, disukai cewek segalak Audrey,” canda Erik.
Lagi-lagi Dietrich mendengus dan berkata, “Aku bukan Nazi.”
“Tentu saja, Dietrich,” kata Rama, “Bisa apa kita melawan orang yang membawa piala tiga kali berturut-turut.”
“Dia masih mengincarmu, Audrey?” kata Amanda.
Audrey tersenyum mengejek, “Entahlah, Amanda. Kalaupun masih mengincar aku tak peduli. Habisnya, sudah ada cowok yang kusuka.”
“Bolehkah aku menebak cowok yang kau suka, Audrey?”
“Jangan. Jika kau tahu pun, tolong jangan bilang siapa-siapa. Hanya dua cewek yang tahu akan hal ini.”
“Apakah si Nazi ini?” kata Amanda seraya melirik Dietrich.
Dietrich mendengus dan memandang Amanda, “Aku bukan Nazi.”
“Boleh juga,” canda Audrey, “Ganteng, sih.”
“Betapa beruntungnya kau, Dietrich, disukai cewek secantik Audrey,” kata Rama.
“Betapa sialnya kau, Nazi, disukai cewek segalak Audrey,” canda Erik.
Lagi-lagi Dietrich mendengus dan berkata, “Aku bukan Nazi.”
Audrey bangkit dan menarik tangan Erik. Gadis itu memaksa Erik berdiri. Awalnya Erik ogah-ogahan karena masih capek. Karena tarikan Audrey kuat, lama-lama Erik menyerah juga dan akhirnya berdiri. Setelah Erik berdiri, kini giliran Amanda yang ditarik tangannya oleh Audrey. Tak perlu waktu lama untuk membuat Amanda berdiri, Amanda langsung mengajak Audrey untuk segera pulang.
Quote:
“Kalian mau ke mana, sih?” tanya Dietrich.
“Mau ke mall,” jawab Audrey, “Pasti kalian ingin ikut, yaaa?”
Dietrich mengangguk, “Tentu saja. Tahu sendiri, kan, kalau aku dan Rama akan ke rumah Gita untuk mengerjakan tugas kelompok?”
Audrey tertawa. Cewek itu menarik tangan Amanda dan Erik sambil berkata, “Sudah dulu, ya, Dietrich, Rama. Baik-baik dengan Gita, ya.”
“Yeah. Kalian juga. Titip camilan yang enak,” kata Rama sambil melambaikan tangannya.
“Mau ke mall,” jawab Audrey, “Pasti kalian ingin ikut, yaaa?”
Dietrich mengangguk, “Tentu saja. Tahu sendiri, kan, kalau aku dan Rama akan ke rumah Gita untuk mengerjakan tugas kelompok?”
Audrey tertawa. Cewek itu menarik tangan Amanda dan Erik sambil berkata, “Sudah dulu, ya, Dietrich, Rama. Baik-baik dengan Gita, ya.”
“Yeah. Kalian juga. Titip camilan yang enak,” kata Rama sambil melambaikan tangannya.
Erik, Audrey dan Amanda berjalan menuju tempat parkir. Di sana, mereka berunding sebentar di dekat sepeda motor milik Audrey. Mereka sepakat untuk bertemu di depan pintu masuk parkiran mall. Setelah itu, Audrey segera pulang dan meninggal Erik bersama Amanda di tempat parkir.
Quote:
“Bagaimana adikmu? Emmy Merah dan Emmy Putih … apakah dua hantu itu membuat masalah lagi?” tanya Erik.
Amanda hanya menunduk dan menghela nafas, “Kemarin malam, aku menyalakan laptopku. Belum kuapa-apakan laptopnya, tiba-tiba laptopku membuka Microsoft Word dengan sendirinya dan kulihat tulisan dengan warna merah yang bertuliskan ‘DINDA’. Nama adikku. Semuanya ditulis dengan huruf kapital. Ini ulah Emmy Merah.”
“Bagaimana kau yakin kalau itu ulah Emmy Merah?”
“Yang paling sering membuat masalah adalah Emmy Merah. Ditambah lagi, tulisan berwarna merah itu sudah cukup buatku untuk menyimpulkan bahwa ini adalah ulah Emmy Merah. Setelah muncul tulisan itu, tadi pagi Dinda bercerita padaku bahwa dia bermimpi diajak Emmy Merah ke sebuah rumah yang catnya berwarna merah. Dinda memasuki rumah itu. Semua perabotannya berwarna merah. Lampunya juga berwarna merah. Semuanya serba merah.”
“Bagaimana wujud Emmy Merah? Pastinya di mimpi Dinda melihat wujudnya kan?”
Amanda mengangguk, “Kata Dinda, Emmy Merah adalah gadis kecil yang seumuran dengan Dinda. Emmy Merah selalu memakai pakaian berwarna merah. Ada lingkaran hitam di sekeliling kedua matanya. Matanya berwarna merah. Dinda juga berkata padaku kalau Emmy Merah sering sakit.”
“Sakit?” tanya Erik dengan mulut menganga, “Hantu bisa sakit?”
“Iya. Aku juga tak terlalu paham. Tapi itulah yang diceritakan Ketika Emmy Merah sedang sakit, biasanya hantu itu mengeluarkan air mata darah dan memuntahkan darah.”
“Tunggu, Amanda ... kalau masalah sakit ini … aku kurang …”
“… percaya? Ya, awalnya aku juga kurang percaya. Namun kejadian minggu lalu mengubah pikiranku. Aku menemukan darah tercecer di teras rumah. Aku langsung berlari ke Dinda dan bertanya padanya soal darah di teras rumah. Dinda lalu berkata bahwa itu bukan darahnya. Melainkan darah Emmy Merah.
“Sepertinya tambah parah, ya …”
“Mau bagaimana lagi. Seandainya kedua orang tuaku percaya lebih mudah, maka masalah akan lebih cepat selesai.”
“Apakah Emmy Merah pernah menampakkan dirinya padamu?”
“Sialnya belum menampakkan diri padaku, Erik.”
“Sial?! Belum menampakkan diri kau bilang sial?! Amanda … setiap orang normal pasti sangat bersyukur jika tidak terlibat dengan makhluk semacam itu. Termasuk aku. Aku membantumu pun karena kau temanku.”
“Jika dia menampakkan dirinya, aku hanya membekukannya dan menginterogasi hantu sialan itu.”
Erik terdiam lama dan berpikir. Baru beberapa detik kemudian, “Akan kuhubungi Kak Sandra, Amanda. Semoga dia dan timnya segera menangani masalahmu.”
“Siapa Kak Sandra?” tanya Amanda.
“Cewek hebat dari divisi supranatural. Sandra Permatasari adalah kakaknya Maya.”
“Pastikan dia tidak sibuk. Aku sungkan kalau Kak Sandra ini sedang menjalankan misinya atau punya kesibukan lain.”
“Eh, tunggu, apakah tidak apa-apa jika meninggalkan Dinda di rumah sendirian? Bagaimana jika Emmy Merah melakukan hal yang lebih parah?”
“Tenang saja. Di rumah ada ibuku dan ada pengasuh. Lagi pula Emmy Merah selama ini tidak melakukan hal yang brutal.”
“Tunggu … tunggu, Amanda. Aku mulai menangkap sesuatu. Emmy Merah tidak melakukan sesuatu yang brutal karena hantu itu tetap mempertahankan ketidakpercayaan orang tuamu. Benar begitu?”
Amanda mengangguk, “Aku juga berpikiran seperti itu, Erik. Pertanyaannya adalah apa yang diincar Emmy Merah dari Dinda?”
Erik menggeleng, “Itulah yang nantinya akan diungkap oleh Kak Sandra.”
“Baiklah. Kalau begitu, kita segera pulang saja, Erik. Kasihan nanti Audrey menunggu kita di mall.”
“Oke. Hati-hati, Amanda,” kata Erik sambil tersenyum sambil membenturkan tinjunya ke tinju Amanda.
“Oke. Kau juga.”
Amanda hanya menunduk dan menghela nafas, “Kemarin malam, aku menyalakan laptopku. Belum kuapa-apakan laptopnya, tiba-tiba laptopku membuka Microsoft Word dengan sendirinya dan kulihat tulisan dengan warna merah yang bertuliskan ‘DINDA’. Nama adikku. Semuanya ditulis dengan huruf kapital. Ini ulah Emmy Merah.”
“Bagaimana kau yakin kalau itu ulah Emmy Merah?”
“Yang paling sering membuat masalah adalah Emmy Merah. Ditambah lagi, tulisan berwarna merah itu sudah cukup buatku untuk menyimpulkan bahwa ini adalah ulah Emmy Merah. Setelah muncul tulisan itu, tadi pagi Dinda bercerita padaku bahwa dia bermimpi diajak Emmy Merah ke sebuah rumah yang catnya berwarna merah. Dinda memasuki rumah itu. Semua perabotannya berwarna merah. Lampunya juga berwarna merah. Semuanya serba merah.”
“Bagaimana wujud Emmy Merah? Pastinya di mimpi Dinda melihat wujudnya kan?”
Amanda mengangguk, “Kata Dinda, Emmy Merah adalah gadis kecil yang seumuran dengan Dinda. Emmy Merah selalu memakai pakaian berwarna merah. Ada lingkaran hitam di sekeliling kedua matanya. Matanya berwarna merah. Dinda juga berkata padaku kalau Emmy Merah sering sakit.”
“Sakit?” tanya Erik dengan mulut menganga, “Hantu bisa sakit?”
“Iya. Aku juga tak terlalu paham. Tapi itulah yang diceritakan Ketika Emmy Merah sedang sakit, biasanya hantu itu mengeluarkan air mata darah dan memuntahkan darah.”
“Tunggu, Amanda ... kalau masalah sakit ini … aku kurang …”
“… percaya? Ya, awalnya aku juga kurang percaya. Namun kejadian minggu lalu mengubah pikiranku. Aku menemukan darah tercecer di teras rumah. Aku langsung berlari ke Dinda dan bertanya padanya soal darah di teras rumah. Dinda lalu berkata bahwa itu bukan darahnya. Melainkan darah Emmy Merah.
“Sepertinya tambah parah, ya …”
“Mau bagaimana lagi. Seandainya kedua orang tuaku percaya lebih mudah, maka masalah akan lebih cepat selesai.”
“Apakah Emmy Merah pernah menampakkan dirinya padamu?”
“Sialnya belum menampakkan diri padaku, Erik.”
“Sial?! Belum menampakkan diri kau bilang sial?! Amanda … setiap orang normal pasti sangat bersyukur jika tidak terlibat dengan makhluk semacam itu. Termasuk aku. Aku membantumu pun karena kau temanku.”
“Jika dia menampakkan dirinya, aku hanya membekukannya dan menginterogasi hantu sialan itu.”
Erik terdiam lama dan berpikir. Baru beberapa detik kemudian, “Akan kuhubungi Kak Sandra, Amanda. Semoga dia dan timnya segera menangani masalahmu.”
“Siapa Kak Sandra?” tanya Amanda.
“Cewek hebat dari divisi supranatural. Sandra Permatasari adalah kakaknya Maya.”
“Pastikan dia tidak sibuk. Aku sungkan kalau Kak Sandra ini sedang menjalankan misinya atau punya kesibukan lain.”
“Eh, tunggu, apakah tidak apa-apa jika meninggalkan Dinda di rumah sendirian? Bagaimana jika Emmy Merah melakukan hal yang lebih parah?”
“Tenang saja. Di rumah ada ibuku dan ada pengasuh. Lagi pula Emmy Merah selama ini tidak melakukan hal yang brutal.”
“Tunggu … tunggu, Amanda. Aku mulai menangkap sesuatu. Emmy Merah tidak melakukan sesuatu yang brutal karena hantu itu tetap mempertahankan ketidakpercayaan orang tuamu. Benar begitu?”
Amanda mengangguk, “Aku juga berpikiran seperti itu, Erik. Pertanyaannya adalah apa yang diincar Emmy Merah dari Dinda?”
Erik menggeleng, “Itulah yang nantinya akan diungkap oleh Kak Sandra.”
“Baiklah. Kalau begitu, kita segera pulang saja, Erik. Kasihan nanti Audrey menunggu kita di mall.”
“Oke. Hati-hati, Amanda,” kata Erik sambil tersenyum sambil membenturkan tinjunya ke tinju Amanda.
“Oke. Kau juga.”
Amanda dan Erik segera menaiki sepeda motor masing-masing. Mereka menyalakan mesin dan langsung bergegas keluar dari sekolah. Mereka saling melambaikan tangan begitu berpisah di perempatan jalan. Dengan cepat, Erik melesat menuju rumahnya. Hanya butuh waktu sepuluh menit bagi Erik untuk sampai rumah.
Erik menaruh sepeda motornya di teras rumah. Dia merogoh saku celananya untuk mengambil kunci rumah. Tak sengaja kepalanya menunduk dan melihat sepatu boot ala geng motor berada di depan pintu rumahnya. Tak perlu membuka pintu dengan kunci lagi, Erik langsung mendorong gagang pintu dan masuk ke rumahnya.
Quote:
“Kau memainkan gameku lagi, Arthur?” kata Erik dari ruang tamu dengan suara yang agak dikeraskan.
“Oh, kau sudah pulang, Erik?” terdengar suara Arthur dari ruang keluarga.
“Yeah. Tumben aku tak melihat sepeda Harley milikmu?”
“Kuserviskan di bengkel di dekat sini. Karena itulah aku ke rumahmu.”
“Memangnya kenapa sepedamu, Arthur? Bukankah biasanya kau bisa memperbaikinya sendiri?”
“Businya rusak. Aku sedang malas memperbaiki karena pikiranku fokus pada gamemu.”
“Oh, kau sudah pulang, Erik?” terdengar suara Arthur dari ruang keluarga.
“Yeah. Tumben aku tak melihat sepeda Harley milikmu?”
“Kuserviskan di bengkel di dekat sini. Karena itulah aku ke rumahmu.”
“Memangnya kenapa sepedamu, Arthur? Bukankah biasanya kau bisa memperbaikinya sendiri?”
“Businya rusak. Aku sedang malas memperbaiki karena pikiranku fokus pada gamemu.”
Erik tidak mengomentari jawaban Arthur. Dia langsung masuk ke kamar mandi dan mandi secepat mungkin. Setelah selesai mandi, dia cepat-cepat masuk kamarnya dan memakai pakaian terbaiknya. Kaos berwarna hitam legam dan bergambar seekor naga di bagian depannya. Ditambah dengan celana jeans berwarna hitam pula. Tidak lupa dia menyemprotkan parfum di kaosnya.
Quote:
“Kencan?” tanya Arthur yang melihat penampilan.
Erik tertawa puas, “Bersama Audrey dan Amanda.”
“Gila!” kata Arthur, “Dua cewek cantik begitu. Kau benar-benar menang banyak, Erik.”
Erik tertawa puas, “Bersama Audrey dan Amanda.”
“Gila!” kata Arthur, “Dua cewek cantik begitu. Kau benar-benar menang banyak, Erik.”
Diubah oleh Shadowroad 07-03-2016 21:44
0
Kutip
Balas