- Beranda
- Stories from the Heart
Sometimes Love Just Ain't Enough
...
TS
jayanagari
Sometimes Love Just Ain't Enough
Halo, gue kembali lagi di Forum Stories From The Heart di Kaskus ini 
Semoga masih ada yang inget sama gue ya
Kali ini gue kembali lagi dengan sebuah cerita yang bukan gue sendiri yang mengalami, melainkan sahabat gue.
Semoga cerita gue ini bisa berkenan di hati para pembaca sekalian

Semoga masih ada yang inget sama gue ya

Kali ini gue kembali lagi dengan sebuah cerita yang bukan gue sendiri yang mengalami, melainkan sahabat gue.
Semoga cerita gue ini bisa berkenan di hati para pembaca sekalian


*note : cerita ini sudah seizin yang bersangkutan.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 24-04-2016 00:40
Dhekazama dan 8 lainnya memberi reputasi
9
421.6K
1.5K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#362
PART 18
Ucapan Sherly barusan benar-benar gak gue duga. Gue gak menyangka bahwa Sherly tumbuh dan besar di panti asuhan. Gue memandangi wajah Sherly yang damai, tampaknya terlihat betul gimana dia berusaha untuk berdamai dengan masa lalunya. Gue menyadari bahwa betapa Sherly telah melalui sebuah fase hidup yang jauh lebih besar daripada kebanyakan orang seumurannya.
Gue terdiam. Menunggu apa yang akan Sherly katakan selanjutnya. Waktu itu gue bener-bener melupakan mie ayam gue. Gue memandangi Sherly lekat-lekat, sementara dia masih tersenyum menghadap arah lain, dengan pandangan menerawang. Seakan dia sedang berhadapan dengan masa lalunya.
Gue terdiam dan berusaha mencerna apa yang dikatakan Sherly barusan. Gue sedang memilah-milah pertanyaan yang akan gue ajukan. Pertanyaan yang sekiranya gak menyakiti perasaannya. Gue mengangguk-angguk sejenak.
Sherly gak langsung menjawab. Dia seperti berpikir dulu, sambil memainkan sedotan di hadapannya.
Gue mengangguk-angguk. Dibalik jawabannya itu gue merasa ada sesuatu yang gak mau, atau belum mau Sherly ceritakan ke orang asing macam gue. Caranya menjawab dan gesturenya udah cukup buat gue untuk mengerti perasaannya tentang itu.
Gue tertawa. Setelah itu ada kebisuan yang cukup lama diantara kami berdua, dan kami pergunakan itu untuk menghabiskan mie ayam kami. Setelah selesai makan, sambil menghabiskan minuman gue bertanya ke Sherly.
Begitulah. Beberapa lama kemudian gue dan Sherly udah berjalan berdua menyusuri sebuah jalan yang penuh dengan deretan kios toko buku bekas. Sambil sesekali berhenti dan membuka-buka buku yang dipajang di depan kios, Sherly mencari buku yang dia inginkan dengan antusias. Waktu itu gue baru menyadari kalo ternyata Sherly cewek yang lumayan kutu buku. Pantesan aja berkacamata, pikir gue geli.
Selama gue dan Sherly mengubek-ubek deretan kios toko buku bekas itu, berulang kali juga Sherly memberitahukan kepada gue tentang pengetahuan-pengetahuan umum, sesuai dengan buku apa yang dia pegang. Misalnya ketika dia pegang buku tentang candi Borobudur, dia akan bercerita tentang sisi historis dari Borobudur, dan sedikit sisi arkeologinya. Semakin banyak dia bercerita, semakin takjub pula gue akan luasnya cakrawala pengetahuannya.
Dengan ceriwis dia menceritakan satu-persatu topik yang dia pahami tentang buku yang sedang dia pegang. Gue cuma mendengarkan sambil tertawa dan mengangguk-angguk. Gue mau buka mulut ngasih pendapat, tapi gue takut wawasan gue belum terlalu luas untuk itu. Nanti malah terlalu timpang, jadi mending gue tanggapi dengan mengiyakan aja, tanpa memberikan argumen yang berbobot.
Jalan-jalan gue dengan Sherly pada hari itu berakhir ketika hingga pada kios terakhir di deretan itu Sherly belum menemukan buku yang dicarinya. Mungkin ada di sisi jalan yang lain, tapi kami udah cukup lelah, sehingga kami memutuskan akan mencari lagi di lain waktu.
-----
Beberapa hari setelah kunjungan kami ke panti asuhan.
Sejak kami ke panti asuhan itu, kehidupan gue perlahan mulai dipenuhi dengan sosok Sherly. Gak jarang gue mengajaknya ketemuan di warung dekat kosan kami berdua, atau sekedar keluar sebentar mencari makan malam. Oh ya, gue udah punya nomor handphonenya dan beberapa akun chat nya. Kadang-kadang gue iseng chat dia duluan di malam hari, sekedar iseng ngecek dia udah tidur apa belum.
Suatu siang menjelang sore gue pulang ke kosan sehabis nongkrong di kampus dengan basah kuyup. Hari itu entah kenapa memang hujan turun secara tiba-tiba dan deras. Gue yang gak punya jas hujan, otomatis basah kuyup karena gue nekat menerobos hujan. Sesampai di kosan gue langsung melepas baju gue yang basah kuyup, dan langsung berganti pakaian kering. Gak berapa lama kemudian gue tidur.
Baru sebentar gue tidur, mendadak gue terbangun dengan badan yang kerasa gak enak. Sakit kepala, pusing dan mual. Gue meraih sebotol air mineral di samping kasur, dan meminumnya. Tapi justru karena kemasukan air itu mendadak mual gue semakin menjadi-jadi, dan gue memuntahkan air itu beserta isi perut gue. Jadilah setelah itu dengan badan lemas, gue membersihkan lantai kamar, dan setelah bersih gue melanjutkan tidur.
Entah jam berapa, gue terbangun karena seseorang mengetuk pintu kamar gue yang tertutup rapat karena gue kedinginan. Dengan malas dan susah payah gue bangun lalu membuka pintu. Ternyata diluar dugaan gue, Sherly lah yang datang dan mengetuk pintu. Sontak gue terkaget-kaget karena kedatangan Sherly itu, apalagi muka gue pasti gak karuan gara-gara baru bangun tidur.
Sherly tersenyum memandangi gue, kemudian dia memperhatikan wajah gue, yang pasti menurut dia aneh. Entah karena gue barusan bangun tidur, atau karena hal lain.
Belum sempat gue menjawab pertanyaannya, tangan Sherly udah menempel di dahi gue. Gue terbengong-bengong dengan keadaan ini.
Gue menggeleng pelan dengan kikuk, sambil membuka pintu lebih lebar lagi.
Gue mau menjawab lebih banyak lagi, tapi Sherly udah keburu berjalan keluar dari kosan gue, mencari makan malam untuk gue. Sejenak gue terbengong-bengong dengan apa yang terjadi pada gue barusan. Kemudian gue melihat handphone yang emang sedari pulang kuliah tadi gak gue sentuh. Disitu ada beberapa chat dari Sherly yang belum gue baca. Intinya dia menanyakan kabar gue.
Sambil menunggu Sherly yang membeli makan malam itu, gue tiduran lagi di kasur, dengan pintu yang gue biarkan terbuka sedikit. Hawa malam itu masih dingin, dengan bau tanah basah karena hujan. Perlahan-lahan mata gue mulai berat, dan gue tertidur lagi.
Ucapan Sherly barusan benar-benar gak gue duga. Gue gak menyangka bahwa Sherly tumbuh dan besar di panti asuhan. Gue memandangi wajah Sherly yang damai, tampaknya terlihat betul gimana dia berusaha untuk berdamai dengan masa lalunya. Gue menyadari bahwa betapa Sherly telah melalui sebuah fase hidup yang jauh lebih besar daripada kebanyakan orang seumurannya.
Quote:
Gue terdiam. Menunggu apa yang akan Sherly katakan selanjutnya. Waktu itu gue bener-bener melupakan mie ayam gue. Gue memandangi Sherly lekat-lekat, sementara dia masih tersenyum menghadap arah lain, dengan pandangan menerawang. Seakan dia sedang berhadapan dengan masa lalunya.
Quote:
Gue terdiam dan berusaha mencerna apa yang dikatakan Sherly barusan. Gue sedang memilah-milah pertanyaan yang akan gue ajukan. Pertanyaan yang sekiranya gak menyakiti perasaannya. Gue mengangguk-angguk sejenak.
Quote:
Sherly gak langsung menjawab. Dia seperti berpikir dulu, sambil memainkan sedotan di hadapannya.
Quote:
Gue mengangguk-angguk. Dibalik jawabannya itu gue merasa ada sesuatu yang gak mau, atau belum mau Sherly ceritakan ke orang asing macam gue. Caranya menjawab dan gesturenya udah cukup buat gue untuk mengerti perasaannya tentang itu.
Quote:
Gue tertawa. Setelah itu ada kebisuan yang cukup lama diantara kami berdua, dan kami pergunakan itu untuk menghabiskan mie ayam kami. Setelah selesai makan, sambil menghabiskan minuman gue bertanya ke Sherly.
Quote:
Begitulah. Beberapa lama kemudian gue dan Sherly udah berjalan berdua menyusuri sebuah jalan yang penuh dengan deretan kios toko buku bekas. Sambil sesekali berhenti dan membuka-buka buku yang dipajang di depan kios, Sherly mencari buku yang dia inginkan dengan antusias. Waktu itu gue baru menyadari kalo ternyata Sherly cewek yang lumayan kutu buku. Pantesan aja berkacamata, pikir gue geli.
Selama gue dan Sherly mengubek-ubek deretan kios toko buku bekas itu, berulang kali juga Sherly memberitahukan kepada gue tentang pengetahuan-pengetahuan umum, sesuai dengan buku apa yang dia pegang. Misalnya ketika dia pegang buku tentang candi Borobudur, dia akan bercerita tentang sisi historis dari Borobudur, dan sedikit sisi arkeologinya. Semakin banyak dia bercerita, semakin takjub pula gue akan luasnya cakrawala pengetahuannya.
Dengan ceriwis dia menceritakan satu-persatu topik yang dia pahami tentang buku yang sedang dia pegang. Gue cuma mendengarkan sambil tertawa dan mengangguk-angguk. Gue mau buka mulut ngasih pendapat, tapi gue takut wawasan gue belum terlalu luas untuk itu. Nanti malah terlalu timpang, jadi mending gue tanggapi dengan mengiyakan aja, tanpa memberikan argumen yang berbobot.
Jalan-jalan gue dengan Sherly pada hari itu berakhir ketika hingga pada kios terakhir di deretan itu Sherly belum menemukan buku yang dicarinya. Mungkin ada di sisi jalan yang lain, tapi kami udah cukup lelah, sehingga kami memutuskan akan mencari lagi di lain waktu.
-----
Beberapa hari setelah kunjungan kami ke panti asuhan.
Sejak kami ke panti asuhan itu, kehidupan gue perlahan mulai dipenuhi dengan sosok Sherly. Gak jarang gue mengajaknya ketemuan di warung dekat kosan kami berdua, atau sekedar keluar sebentar mencari makan malam. Oh ya, gue udah punya nomor handphonenya dan beberapa akun chat nya. Kadang-kadang gue iseng chat dia duluan di malam hari, sekedar iseng ngecek dia udah tidur apa belum.
Suatu siang menjelang sore gue pulang ke kosan sehabis nongkrong di kampus dengan basah kuyup. Hari itu entah kenapa memang hujan turun secara tiba-tiba dan deras. Gue yang gak punya jas hujan, otomatis basah kuyup karena gue nekat menerobos hujan. Sesampai di kosan gue langsung melepas baju gue yang basah kuyup, dan langsung berganti pakaian kering. Gak berapa lama kemudian gue tidur.
Baru sebentar gue tidur, mendadak gue terbangun dengan badan yang kerasa gak enak. Sakit kepala, pusing dan mual. Gue meraih sebotol air mineral di samping kasur, dan meminumnya. Tapi justru karena kemasukan air itu mendadak mual gue semakin menjadi-jadi, dan gue memuntahkan air itu beserta isi perut gue. Jadilah setelah itu dengan badan lemas, gue membersihkan lantai kamar, dan setelah bersih gue melanjutkan tidur.
Entah jam berapa, gue terbangun karena seseorang mengetuk pintu kamar gue yang tertutup rapat karena gue kedinginan. Dengan malas dan susah payah gue bangun lalu membuka pintu. Ternyata diluar dugaan gue, Sherly lah yang datang dan mengetuk pintu. Sontak gue terkaget-kaget karena kedatangan Sherly itu, apalagi muka gue pasti gak karuan gara-gara baru bangun tidur.
Sherly tersenyum memandangi gue, kemudian dia memperhatikan wajah gue, yang pasti menurut dia aneh. Entah karena gue barusan bangun tidur, atau karena hal lain.
Quote:
Belum sempat gue menjawab pertanyaannya, tangan Sherly udah menempel di dahi gue. Gue terbengong-bengong dengan keadaan ini.
Quote:
Gue menggeleng pelan dengan kikuk, sambil membuka pintu lebih lebar lagi.
Quote:
Gue mau menjawab lebih banyak lagi, tapi Sherly udah keburu berjalan keluar dari kosan gue, mencari makan malam untuk gue. Sejenak gue terbengong-bengong dengan apa yang terjadi pada gue barusan. Kemudian gue melihat handphone yang emang sedari pulang kuliah tadi gak gue sentuh. Disitu ada beberapa chat dari Sherly yang belum gue baca. Intinya dia menanyakan kabar gue.
Sambil menunggu Sherly yang membeli makan malam itu, gue tiduran lagi di kasur, dengan pintu yang gue biarkan terbuka sedikit. Hawa malam itu masih dingin, dengan bau tanah basah karena hujan. Perlahan-lahan mata gue mulai berat, dan gue tertidur lagi.
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4
: kalo kamu nanti mau main ke panti lagi, ajak aku ya. enak ternyata ngajarin anak-anak soal sejarah. hehehe....
: asyik kan? sebenernya panti asuhan itu bukan tempat yang menyedihkan. justru sebaliknya, banyak yang bisa dibanggakan dari tempat itu.
: kamu kenapa? kok pucet? sakit?
: tuh kan badan kamu panas. kamu baru bangun tidur yah? pantesan dari tadi chat aku gak ada balesan. udah makan belom kamu?
: aku beliin makanan ya? yang panas-panas gitu?
: enggak papa, lagian kamu harus makan. orang sakit kalo gak makan gimana bisa sembuh. aku beliin makanan dulu ya, tunggu bentar.