- Beranda
- Stories from the Heart
Kisah Tak Sempurna
...
TS
aldiansyahdzs
Kisah Tak Sempurna
Quote:

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh.
Selamat pagi warga Kaskus di Seluruh Muka Bumi.
Terimakasih kepada Agan / Aganwati yang sudah mampir di Thread ini. Terimakasih pula untuk sesepuh dan moderator SFTH. Thread ini adalah thread pertama kali saya main kaskus . Saya berharap Thread pertama kali saya di Kaskus bisa membuat Agan / Aganwati terhibur dengan coretan sederhana saya ini.
Thread ini bercerita tentang kisah putih abu - abu seorang laki laki yang saya beri nama Erlangga. Dari pada penasaran, lebih baik langsung baca aja gan! Selamat galau eh selamat membacaaa.
NB; Kritik dan Saran sangat saya butuhkan agar saya dapat menulis lebih baik lagi.
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Keep in touch with me.
twitter: aldiansyahdzs
instagram : aldisabihat
twitter: aldiansyahdzs
instagram : aldisabihat
Diubah oleh aldiansyahdzs 17-06-2019 18:30
JabLai cOY dan 31 lainnya memberi reputasi
32
132.3K
879
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aldiansyahdzs
#298
Hujan dan Secangkir Teh – Part 1
Hari sabtu ini pelajaran ku lewati seperti biasanya, hanya pada saat jam mata pelajaran terakhir guru berhalangan tidak hadir karena anaknya sedang dirawat di Rumah Sakit. Guru hanya memberikan beberapa tugas dan dikumpulkan minggu depan. Seisi kelasku kompak untuk mengerjakannya di rumah.
“Tong, nanti aku nanya ya kalo ga ngerti pelajaran ini.” Ujar Dean. “Yoi.” Ujarku singkat. “Betewe adik kelas kamu lolos test Ausie ya?” Tanya Dean, sepertinya ia ingin membuka pembicaraan. “Iya lolos.” Ujarku kembali singkat. “Otong cabut duluan, kalo ada apa apa sms aja.” Ujarku.
Aku keluar dari kelas, namun tak ku sangka Octa sedang menungguku. Ia tersenyum . “Tadi yang ngobrol sama Aa, teh Dean ya?” Tanya Octa, aku heran mengapa ia tau jika aku tadi sedang mengobrol dengan Dean. “Iya teh Dean, senior kamu di PMR kan?” Ujarku balik menanya. “He’em” Jawabnya. “Kok tau tadi Aa lagi ngobrol sama Dean?” Tanyaku penasaran. “Aku tadi liat soalnya ngintip dari jendela hihihi” Ia tertawa ringan. “Dasar tukang intip” Ujarku. “Temenin Octa beli buku yuk mumpun masih jam 1” Ujar Octa sambil melirik jam tangannya. Aku hanya menggangukan kepalaku yang mengisyaratkan jika aku setuju dengan ajakannya.
[/QUOTE]
Cukup jauh memang jarak dari kelasku untuk sampai di parkiran. Aku langsung menancapkan gas lalu keluar dari gerbang sekolahku. Jalanan siang ini seperti biasanya, macet. Bandung saat weekend memang selalu padat. Maklum saja, kota Parahyangan ini memang menjadi tujuan untuk menghabiskan akhir pekan.
Akhirnya kami sampai di toko buku yang Octa maksud. Kami berjalan melewati buku demi buku yang tersimpan rapi di rak. Ia langsung mencari buku yang ia ingin sedangkan aku hanya melihat – lihat novel yang saat ini menjadi best seller.
“A ini teh Dean nelpon.” Ujar Octa, ia lalu menyerahkan handphoneku. “Bentar ya ngangkat dulu telpon”. Ujarku meminta izin.
“Iya dean ada apa?” Ujarku membuka pembicaraan. “Ga ada apa apa sih.” Ujarnya ringan. “Gabener malah iseng.” Ujarku lalu menutup panggilani ini. Aku memang seseorang yang tidak suka dengan basa basi sehingga langsung menutup telpon dari Dean.
“Ada apa A itu teh Dean?” Tanya Octa dengan mata yang masih menatap ke arah buku. “Gatau sih iseng aja ga jelas banget dia mah” Ujarku lalu menyerahkan handphoneku kembali kepada Octa. “Kirain ada apa.” Ujar Octa, lalu ia menyimpan handphoneku ke dalam tas.
Hujan mulai turun di tengah kebersamaan kami. Sesekali aku memandang keluar memperhatikan rintik hujan yang turun membasahi bumi. Banyak orang yang mulai berlarian untuk berteduh di pinggiran toko. Ada yang gelisah, cemas, kesal karena hujan turun Namun bagiku hujan adalah rezeki. Dan berdo’a saat hujan pula akan di ijabah. Octa kini memandangku, ia tersenyum mencoba menghilangkan kegundahannya. Namun aku masih masih bisa melihat jika ia sedang gusar sama dengan diriku.
Hari sabtu ini pelajaran ku lewati seperti biasanya, hanya pada saat jam mata pelajaran terakhir guru berhalangan tidak hadir karena anaknya sedang dirawat di Rumah Sakit. Guru hanya memberikan beberapa tugas dan dikumpulkan minggu depan. Seisi kelasku kompak untuk mengerjakannya di rumah.
“Tong, nanti aku nanya ya kalo ga ngerti pelajaran ini.” Ujar Dean. “Yoi.” Ujarku singkat. “Betewe adik kelas kamu lolos test Ausie ya?” Tanya Dean, sepertinya ia ingin membuka pembicaraan. “Iya lolos.” Ujarku kembali singkat. “Otong cabut duluan, kalo ada apa apa sms aja.” Ujarku.
Aku keluar dari kelas, namun tak ku sangka Octa sedang menungguku. Ia tersenyum . “Tadi yang ngobrol sama Aa, teh Dean ya?” Tanya Octa, aku heran mengapa ia tau jika aku tadi sedang mengobrol dengan Dean. “Iya teh Dean, senior kamu di PMR kan?” Ujarku balik menanya. “He’em” Jawabnya. “Kok tau tadi Aa lagi ngobrol sama Dean?” Tanyaku penasaran. “Aku tadi liat soalnya ngintip dari jendela hihihi” Ia tertawa ringan. “Dasar tukang intip” Ujarku. “Temenin Octa beli buku yuk mumpun masih jam 1” Ujar Octa sambil melirik jam tangannya. Aku hanya menggangukan kepalaku yang mengisyaratkan jika aku setuju dengan ajakannya.
[/QUOTE]
Cukup jauh memang jarak dari kelasku untuk sampai di parkiran. Aku langsung menancapkan gas lalu keluar dari gerbang sekolahku. Jalanan siang ini seperti biasanya, macet. Bandung saat weekend memang selalu padat. Maklum saja, kota Parahyangan ini memang menjadi tujuan untuk menghabiskan akhir pekan.
Akhirnya kami sampai di toko buku yang Octa maksud. Kami berjalan melewati buku demi buku yang tersimpan rapi di rak. Ia langsung mencari buku yang ia ingin sedangkan aku hanya melihat – lihat novel yang saat ini menjadi best seller.
“A ini teh Dean nelpon.” Ujar Octa, ia lalu menyerahkan handphoneku. “Bentar ya ngangkat dulu telpon”. Ujarku meminta izin.
“Iya dean ada apa?” Ujarku membuka pembicaraan. “Ga ada apa apa sih.” Ujarnya ringan. “Gabener malah iseng.” Ujarku lalu menutup panggilani ini. Aku memang seseorang yang tidak suka dengan basa basi sehingga langsung menutup telpon dari Dean.
“Ada apa A itu teh Dean?” Tanya Octa dengan mata yang masih menatap ke arah buku. “Gatau sih iseng aja ga jelas banget dia mah” Ujarku lalu menyerahkan handphoneku kembali kepada Octa. “Kirain ada apa.” Ujar Octa, lalu ia menyimpan handphoneku ke dalam tas.
Quote:
Hujan mulai turun di tengah kebersamaan kami. Sesekali aku memandang keluar memperhatikan rintik hujan yang turun membasahi bumi. Banyak orang yang mulai berlarian untuk berteduh di pinggiran toko. Ada yang gelisah, cemas, kesal karena hujan turun Namun bagiku hujan adalah rezeki. Dan berdo’a saat hujan pula akan di ijabah. Octa kini memandangku, ia tersenyum mencoba menghilangkan kegundahannya. Namun aku masih masih bisa melihat jika ia sedang gusar sama dengan diriku.
Quote:
junti27 dan 3 lainnya memberi reputasi
4