- Beranda
- Stories from the Heart
My Cerpen. Sari
...
TS
danytrikusuma
My Cerpen. Sari
Pembukaan
Quote:
Ketemu lagi dengan ane TS Dany Tri Kusuma. Sebenarnya ini Thread Lama ane.
Dan Sempat Vakum Beberapa Lama. Tapi Kayaknya Mau Nerusin Lagi Cerita ini Sampai Tamat.
Tanpa Basa Basi.
Cerpen ini adalah Hasil imajinasi ane ajha ya. kalau ada nama atau lokasi yang mirip atau gimanapun itu, mungkin ketidaksengajaan TS dalam berimajinasi.
Langsung ajha ke TKP
Dan Sempat Vakum Beberapa Lama. Tapi Kayaknya Mau Nerusin Lagi Cerita ini Sampai Tamat.
Tanpa Basa Basi.
Cerpen ini adalah Hasil imajinasi ane ajha ya. kalau ada nama atau lokasi yang mirip atau gimanapun itu, mungkin ketidaksengajaan TS dalam berimajinasi.
Langsung ajha ke TKP
Quote:
Kita Mulai Saja Cerpennya.. Cekidot Gan
Part 1 - Lamunan
Part 2 - Kecelakaan
Part 3 - Amputasi
Part 4 - Penyesalan
Part 5 - Perpisahaan
Part 6 - Semakin Dekat
Part 1 - Lamunan
Part 2 - Kecelakaan
Part 3 - Amputasi
Part 4 - Penyesalan
Part 5 - Perpisahaan
Part 6 - Semakin Dekat
Penutupan dan Pesan
Quote:
Semoga akan Terus Update
Kalau mau berkunjung lihat Youtubeku n kenalan lebih dekat ama TS Dany Tri Kusuma
Youtube ku
Kalau mau lihat foto fotoku di Instagram ku
Kalau mau baca baca Thread ku yang lain. Ada lumayan Banyak kok Hot Thread nya.
Kumpulan Thread Dany Tri Kusuma
websiteku www.danytrikusuma.com
Sumur Kata Kata : Imajinasi Pribadi TS
Kalau mau berkunjung lihat Youtubeku n kenalan lebih dekat ama TS Dany Tri Kusuma
Youtube ku
Kalau mau lihat foto fotoku di Instagram ku
Kalau mau baca baca Thread ku yang lain. Ada lumayan Banyak kok Hot Thread nya.
Kumpulan Thread Dany Tri Kusuma
websiteku www.danytrikusuma.com
Sumur Kata Kata : Imajinasi Pribadi TS

Diubah oleh danytrikusuma 17-12-2016 12:27
anasabila memberi reputasi
1
3.2K
Kutip
35
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
danytrikusuma
#6
Part 3 - Amputasi
Quote:
Bunyi sirine ambulance segera membangunkanku, aku terkejut melihat keadaanku sendiri, bajuku sangat kotor dan dipenuhi darah. Tangan dan badanku memar, Darah menetes banyak di dahiku. “Tenang ya Nak” , seorang perawat menenangkanku yang terlihat begitu panik. “Mana Nana sus?” tanyaku kepadanya. Dia ada di ambulance depan tenang saja, saya sudah menelepon orang tua mu dan orang tua teman kamu itu, saya juga sudah menelepon guru guru kamu, jadi jangan kuatir ya. Kamu beruntung hanya luka luka memar seperti ini.
“Bagaiamana keadaan Nana sus?” Tanyaku dengan nada yang agak keras dan sedikit menahan rasa sakit dibadan. “Kita doakan saja dia baik baik saja, Semoga dia bisa cepat sembuh” Katanya sambil mengelus rambutku. Iya sus amiin aku bilang.
Setibanya dirumah sakit, aku langsung di tempatkan di kamar UGD bersama dengan Nana, namun aku masih dalam keadaan sadar, dan Dokter hanya menjahit luka lukaku yang tidak terlalu parah ini. Tetapi disisi lain aku melihat Nana dalam keadaan tak sadarkan diri, aku meronta dan menangis melihat dia seperti itu, aku merasa bersalah atas apapun yang aku lakukan kepadanya. Nana cepat sembuh ya, Hatiku berkata seperti itu. Rasanya ingin sekali memeluknya dan meminta maaf kepadanya.
Karena keadaan Nana semakin parah, Nana dipindahkan ke meja operasi, sedangkan aku sudah dipindahkan ke ruangan biasa dan sudah banyak tetangga, teman, guru, keluarga yang datang melihat keadaanku yang semakin membaik ini, Termasuk Sari wanita pujaanku yang selama ini aku bayangkan setiap mau beranjak tidur datang menjenguk keadaanku. Melihatnya seakan seperti melihat bidadari cantik yang jatuh dari langit. Senyumannya membuat hatiku berdebar debar.
“Dani Gimana keadaannya?” Tanyanya kepadaku. Aku gemetaran mau menjawab apa karena terpaku melihat wajahnya yang begitu mempesona. “Aku sudah baik baik saja kok Sari, tapi Nana kayaknya luka parah, Kepalanya menabrak batu dipinggir jalan itu.” Jawabku kepadanya. “Lha kok bisa jatuh kenapa dan?” Sari bertanya lagi. “Jadi tadi pas kita mau sampai didepan pintu sekolah, di belokan terakhir itu kita tiba tiba ditabrak oleh mobil sedan hitam. Mobil itu nampaknya buru buru dan tidak melihat adanya aku dan nana yang lagi berboncengan. Mobil itu sempat berhenti, namun akhirnya dia melarikan diri, Beruntung masih banyak orang yang mau menolong kami. “Sabar ya Dani, ini hanya cobaan untuk kamu dan Nana.” Sari mencoba menenangkanku. Namun tiba tiba air mataku menetes, aku masih tak percaya melihat keadaan Nana yang begitu parah.
Disisi lain Nana sedang melakukan operasi patah tulang di kakinya sebelah kanan, Dokter takjub dengan keadaan fisik dan mental Nana, Dokter tak percaya Nana masih bisa bertahan dengan keadaannya yang begitu mengerikan. Sampai pada akhirnya keputusan yang sangat luar biasa harus diambil tim dokter di Rumah Sakit Cipta Harapan, yaitu harus mengamputasi kaki kanan Nana. Dokter segera bertemu dengan orang tua Nana yaitu ibu Nisa dan Pak Aryo.
“Apakah Bapak dan Ibu adalah Orang Tua dari Nana?” Iya pak jawab ibu Nisa sambil menangis terisak isak. “Ada apa sama anak saya Dok?” Tanya ibu Nisa. “gini ya buk dan bapak, Kaki Kanan Nana sudah membusuk, Bakteri sudah meracuni kaki kanannya sehingga harus dilakukan proses amputasi untuk menghentikan proses pembusukan ke daerah daerah tubuh yang lain. Apakah bapak dan ibu setuju dengan tindakan ini? Karena kalau tidak di amputasi sangat membahayakan diri Nana sendiri.” Dokter mencoba meyakinkan orang tua Nana agar merestui tindakan amputasi tersebut.
“Iya Dok, Kami setuju, Lakukan yang terbaik demi anak kita satu satunya Dok.” Pak Aryo yang begitu tegas dalam kehidupan sehari harinya pun tak kuasa membendung tangisanya. Setelah penandatanganan perjanjian bahwasanya orang tua si Nana setuju melakukan amputasi, Dokter Purba pun langsung menuju ruang operasi, Dengan sigap dan peralatannya beliau memulai operasi Amputasi kaki kanan si Nana, Nana sendiri masih belum sadar, Dalam keadaan seperti ini Dokter Purba dan tim segera melakukan kegiatan amputasi tersebut.
3 Jam berlalu dan akhirnya proses amputasi terjadi, Ibu dan Ayah Nana yang menunggu diluar tak kuasa menahan tangis haru, namun mereka harus menerima kenyataan bahwa anak cantik satu satunya itu harus kehilangan kaki kanannya, dan setelah kejadian ini Orang Tua Nana mulai membenci aku dan melarang Nana untuk bermain lagi kepadaku, Bahkan sebelum Operasi dilakukan orang tua si Nana datang kepadaku dan berbisik kepadaku. “gara gara kamu, anakku satu satunya harus kehilangan kaki kanannya, sampai kapanpun aku tidak akan memaafkan kamu.” Setelah membisikkan kata kata itu, pak Aryo bergegas pergi, Beliau tak mempedulikan keadaanku yang sakit. Aku mencoba tenang dengan kejadian ini, namun aku semakin sedih menerima kenyataan bahwa sahabat terbaikku harus kehilangan kakinya.
“Bagaiamana keadaan Nana sus?” Tanyaku dengan nada yang agak keras dan sedikit menahan rasa sakit dibadan. “Kita doakan saja dia baik baik saja, Semoga dia bisa cepat sembuh” Katanya sambil mengelus rambutku. Iya sus amiin aku bilang.
Setibanya dirumah sakit, aku langsung di tempatkan di kamar UGD bersama dengan Nana, namun aku masih dalam keadaan sadar, dan Dokter hanya menjahit luka lukaku yang tidak terlalu parah ini. Tetapi disisi lain aku melihat Nana dalam keadaan tak sadarkan diri, aku meronta dan menangis melihat dia seperti itu, aku merasa bersalah atas apapun yang aku lakukan kepadanya. Nana cepat sembuh ya, Hatiku berkata seperti itu. Rasanya ingin sekali memeluknya dan meminta maaf kepadanya.
Karena keadaan Nana semakin parah, Nana dipindahkan ke meja operasi, sedangkan aku sudah dipindahkan ke ruangan biasa dan sudah banyak tetangga, teman, guru, keluarga yang datang melihat keadaanku yang semakin membaik ini, Termasuk Sari wanita pujaanku yang selama ini aku bayangkan setiap mau beranjak tidur datang menjenguk keadaanku. Melihatnya seakan seperti melihat bidadari cantik yang jatuh dari langit. Senyumannya membuat hatiku berdebar debar.
“Dani Gimana keadaannya?” Tanyanya kepadaku. Aku gemetaran mau menjawab apa karena terpaku melihat wajahnya yang begitu mempesona. “Aku sudah baik baik saja kok Sari, tapi Nana kayaknya luka parah, Kepalanya menabrak batu dipinggir jalan itu.” Jawabku kepadanya. “Lha kok bisa jatuh kenapa dan?” Sari bertanya lagi. “Jadi tadi pas kita mau sampai didepan pintu sekolah, di belokan terakhir itu kita tiba tiba ditabrak oleh mobil sedan hitam. Mobil itu nampaknya buru buru dan tidak melihat adanya aku dan nana yang lagi berboncengan. Mobil itu sempat berhenti, namun akhirnya dia melarikan diri, Beruntung masih banyak orang yang mau menolong kami. “Sabar ya Dani, ini hanya cobaan untuk kamu dan Nana.” Sari mencoba menenangkanku. Namun tiba tiba air mataku menetes, aku masih tak percaya melihat keadaan Nana yang begitu parah.
Disisi lain Nana sedang melakukan operasi patah tulang di kakinya sebelah kanan, Dokter takjub dengan keadaan fisik dan mental Nana, Dokter tak percaya Nana masih bisa bertahan dengan keadaannya yang begitu mengerikan. Sampai pada akhirnya keputusan yang sangat luar biasa harus diambil tim dokter di Rumah Sakit Cipta Harapan, yaitu harus mengamputasi kaki kanan Nana. Dokter segera bertemu dengan orang tua Nana yaitu ibu Nisa dan Pak Aryo.
“Apakah Bapak dan Ibu adalah Orang Tua dari Nana?” Iya pak jawab ibu Nisa sambil menangis terisak isak. “Ada apa sama anak saya Dok?” Tanya ibu Nisa. “gini ya buk dan bapak, Kaki Kanan Nana sudah membusuk, Bakteri sudah meracuni kaki kanannya sehingga harus dilakukan proses amputasi untuk menghentikan proses pembusukan ke daerah daerah tubuh yang lain. Apakah bapak dan ibu setuju dengan tindakan ini? Karena kalau tidak di amputasi sangat membahayakan diri Nana sendiri.” Dokter mencoba meyakinkan orang tua Nana agar merestui tindakan amputasi tersebut.
“Iya Dok, Kami setuju, Lakukan yang terbaik demi anak kita satu satunya Dok.” Pak Aryo yang begitu tegas dalam kehidupan sehari harinya pun tak kuasa membendung tangisanya. Setelah penandatanganan perjanjian bahwasanya orang tua si Nana setuju melakukan amputasi, Dokter Purba pun langsung menuju ruang operasi, Dengan sigap dan peralatannya beliau memulai operasi Amputasi kaki kanan si Nana, Nana sendiri masih belum sadar, Dalam keadaan seperti ini Dokter Purba dan tim segera melakukan kegiatan amputasi tersebut.
3 Jam berlalu dan akhirnya proses amputasi terjadi, Ibu dan Ayah Nana yang menunggu diluar tak kuasa menahan tangis haru, namun mereka harus menerima kenyataan bahwa anak cantik satu satunya itu harus kehilangan kaki kanannya, dan setelah kejadian ini Orang Tua Nana mulai membenci aku dan melarang Nana untuk bermain lagi kepadaku, Bahkan sebelum Operasi dilakukan orang tua si Nana datang kepadaku dan berbisik kepadaku. “gara gara kamu, anakku satu satunya harus kehilangan kaki kanannya, sampai kapanpun aku tidak akan memaafkan kamu.” Setelah membisikkan kata kata itu, pak Aryo bergegas pergi, Beliau tak mempedulikan keadaanku yang sakit. Aku mencoba tenang dengan kejadian ini, namun aku semakin sedih menerima kenyataan bahwa sahabat terbaikku harus kehilangan kakinya.
Diubah oleh danytrikusuma 16-04-2016 08:41
0
Kutip
Balas