- Beranda
- Stories from the Heart
Sometimes Love Just Ain't Enough
...
TS
jayanagari
Sometimes Love Just Ain't Enough
Halo, gue kembali lagi di Forum Stories From The Heart di Kaskus ini 
Semoga masih ada yang inget sama gue ya
Kali ini gue kembali lagi dengan sebuah cerita yang bukan gue sendiri yang mengalami, melainkan sahabat gue.
Semoga cerita gue ini bisa berkenan di hati para pembaca sekalian

Semoga masih ada yang inget sama gue ya

Kali ini gue kembali lagi dengan sebuah cerita yang bukan gue sendiri yang mengalami, melainkan sahabat gue.
Semoga cerita gue ini bisa berkenan di hati para pembaca sekalian


*note : cerita ini sudah seizin yang bersangkutan.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 24-04-2016 00:40
Dhekazama dan 8 lainnya memberi reputasi
9
421.4K
1.5K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#313
PART 16
Sebuah hari Minggu gue dimulai dengan absurd ketika kosan gue dilanda musibah kecil. Trafo di dekat kosan gue meledak, dan alhasil sebagian rumah di lingkungan sekitar gue mati listrik semua. Waktu itu masih pagi, dan hari masih panjang. Gue menghela napas panjang, membayangkan hari ini bakal sepi tanpa hiburan anak kos yang semuanya membutuhkan listrik. Bahkan sekedar untuk menyalakan handphone aja gue harus berpikir dua kali.
Gue menyalakan rokok, dan berdiri di luar kamar sambil memandangi parkiran motor di hadapan gue. Pagi itu belum terlalu panas, dan sepertinya waktu yang tepat bagi gue untuk keluar dari kosan, mencari hiburan. Seisi kos gue juga melakukan hal yang sama, rata-rata pada keluar kamar, bukan karena kepanasan tapi karena gelap. Yang apes yang kebetulan lagi ada di kamar mandi, terpaksa menyelesaikan “acara” nya lebih cepat.
Gue belum mandi, dan gue cuek aja cuci muka di tempat cuci piring di dapur. Biarin lah daripada gelap-gelapan. Setelah itu gue berpakaian agak lebih rapi, dan duduk di kursi karet depan kamar. Kemudian terlintas di pikiran gue, kosan Sherly pasti juga kena imbasnya. Kecuali kosannya memiliki genset. Gue meraih handphone gue, bermaksud menghubungi Sherly. Tindakan gue itu langsung berhenti sedetik kemudian, sambil mengerang. Mendadak gue baru sadar bahwa selama ini gue belum punya nomor handphone Sherly.
Gue bangkit dari duduk, membuang rokok dan kemudian berjalan ke kosan Sherly. Selama perjalanan singkat itu gue berpikir ulang, meyakinkan diri gue bahwa tindakan gue ini gak salah. Toh beberapa waktu lalu iseng-iseng berhadiah gue membuahkan hasil. Gak lama kemudian gue sampai di kosan Sherly, dan mengetuk pagar yang terbuat dari besi tempa itu perlahan. Setelah menunggu beberapa waktu, ada seorang cewek yang belum pernah gue lihat sebelumnya, keluar dari kosan.
Kemudian cewek itu berlalu ke dalam, dan sambil memanggil Sherly dengan suara keras. Karena mati listrik, suasana jadi cukup sunyi, dan gue jadi bisa mendengar sayup-sayup obrolan mereka di dalam. Gak berapa lama kemudian, Sherly keluar. Dia memandangi gue kemudian tersenyum.
Gue meringis sambil menggaruk-garuk kepala yang gak gatal.
Tiba-tiba gue menyadari kebodohan gue barusan, dan merasa malu.
Gue kemudian kembali ke kosan secepat kilat, dan mandi secepat kilat juga. Peduli amat gelap, yang penting badan sendiri masih keliatan. Setelah berpakaian dan bersiap-siap, gue mengendarai motor perlahan ke kosan Sherly. Gue menunggu beberapa menit di depan kosan Sherly, sebelum gue melihat dia keluar dari dalam kosan sambil menenteng helmnya dan membawa tas di bahunya.
Gue tersenyum, dan membantunya membuka pintu pagar yang lumayan berat itu. Dia mengancingkan jaketnya, kemudian bertanya ke gue.
Sherly hanya tersenyum. Kemudian dia berjalan keluar pagar, dan memakai helmnya.
Gue menuruti apa kata Sherly, meskipun sambil bertanya-tanya di dalam hati. Sepanjang perjalanan itu gue diarahkan oleh Sherly, menuju ke suatu daerah yang nyaris belum pernah gue kunjungi selama gue kuliah di kota ini. Gue sedikit heran, darimana Sherly bisa mengenal daerah ini. Kemudian Sherly memandu gue hingga kami berdua sampai di sebuah rumah besar namun tampak sederhana, dengan pagar tinggi di sekelilingnya. Di samping rumah itu tampak ada musholla kecil, dan beberapa tanaman obat yang tumbuh di dekatnya.
Kami berdua melangkah masuk, dan di samping pintu utama itu gue baru menyadari kemana kami berkunjung. Bangunan ini adalah panti asuhan, dan tampaknya tidak begitu memiliki dana yang mencukupi untuk kebutuhan sehari-harinya. Di dalam, ada seorang ibu-ibu setengah baya, yang kemudian gue tahu bernama Bu Ismi, menyambut kami. Bu Ismi ini adalah pengurus dari panti asuhan ini, dan beliau menyambut kami dengan sangat ramah.
Kami bertiga kemudian masuk ke sebuah kamar yang berisi beberapa anak-anak berumur sekitar 8-10 tahunan. Sebagian dari mereka sedang bermain dengan mainan balok seadanya, ada yang sedang menggambar di sebuah buku gambar kecil yang lusuh, dan ada pula yang sedang membaca buku cerita bergambar yang entah sudah dibaca berapa kali.
Sementara itu, di sudut, kami melihat seorang anak laki-laki bertubuh mungil, sedang terbaring lemas di tempat tidur dengan seprei usang. Tampaknya dia barusan bangun tidur, sehingga masih dalam kondisi setengah sadar. Kami melewati anak-anak yang sedang bermain itu, dan mereka menyadari kehadiran Sherly diantara mereka, kemudian menyambutnya dengan memegangi kedua tangan Sherly dengan gembira.
Sherly menyempatkan diri menyapa anak-anak itu terlebih dahulu, baru kemudian bergeser ke tempat tidur dimana anak yang sakit itu terbaring. Sherly meraih tangan anak itu, dan mengelus-elus rambutnya yang kering tak terawat. Gue memandangi anak itu, dan secara naluriah ikut mengelus-elus tangan dan kakinya. Anak itu tersenyum lemah, dan gue melirik Sherly, dia juga tersenyum. Tapi kali itu senyuman Sherly diiringi dengan air mata lembut yang mengalir pelan di pipinya.
Sebuah hari Minggu gue dimulai dengan absurd ketika kosan gue dilanda musibah kecil. Trafo di dekat kosan gue meledak, dan alhasil sebagian rumah di lingkungan sekitar gue mati listrik semua. Waktu itu masih pagi, dan hari masih panjang. Gue menghela napas panjang, membayangkan hari ini bakal sepi tanpa hiburan anak kos yang semuanya membutuhkan listrik. Bahkan sekedar untuk menyalakan handphone aja gue harus berpikir dua kali.
Gue menyalakan rokok, dan berdiri di luar kamar sambil memandangi parkiran motor di hadapan gue. Pagi itu belum terlalu panas, dan sepertinya waktu yang tepat bagi gue untuk keluar dari kosan, mencari hiburan. Seisi kos gue juga melakukan hal yang sama, rata-rata pada keluar kamar, bukan karena kepanasan tapi karena gelap. Yang apes yang kebetulan lagi ada di kamar mandi, terpaksa menyelesaikan “acara” nya lebih cepat.
Gue belum mandi, dan gue cuek aja cuci muka di tempat cuci piring di dapur. Biarin lah daripada gelap-gelapan. Setelah itu gue berpakaian agak lebih rapi, dan duduk di kursi karet depan kamar. Kemudian terlintas di pikiran gue, kosan Sherly pasti juga kena imbasnya. Kecuali kosannya memiliki genset. Gue meraih handphone gue, bermaksud menghubungi Sherly. Tindakan gue itu langsung berhenti sedetik kemudian, sambil mengerang. Mendadak gue baru sadar bahwa selama ini gue belum punya nomor handphone Sherly.
Gue bangkit dari duduk, membuang rokok dan kemudian berjalan ke kosan Sherly. Selama perjalanan singkat itu gue berpikir ulang, meyakinkan diri gue bahwa tindakan gue ini gak salah. Toh beberapa waktu lalu iseng-iseng berhadiah gue membuahkan hasil. Gak lama kemudian gue sampai di kosan Sherly, dan mengetuk pagar yang terbuat dari besi tempa itu perlahan. Setelah menunggu beberapa waktu, ada seorang cewek yang belum pernah gue lihat sebelumnya, keluar dari kosan.
Quote:
Kemudian cewek itu berlalu ke dalam, dan sambil memanggil Sherly dengan suara keras. Karena mati listrik, suasana jadi cukup sunyi, dan gue jadi bisa mendengar sayup-sayup obrolan mereka di dalam. Gak berapa lama kemudian, Sherly keluar. Dia memandangi gue kemudian tersenyum.
Quote:
Gue meringis sambil menggaruk-garuk kepala yang gak gatal.
Quote:
Tiba-tiba gue menyadari kebodohan gue barusan, dan merasa malu.
Quote:
Gue kemudian kembali ke kosan secepat kilat, dan mandi secepat kilat juga. Peduli amat gelap, yang penting badan sendiri masih keliatan. Setelah berpakaian dan bersiap-siap, gue mengendarai motor perlahan ke kosan Sherly. Gue menunggu beberapa menit di depan kosan Sherly, sebelum gue melihat dia keluar dari dalam kosan sambil menenteng helmnya dan membawa tas di bahunya.
Gue tersenyum, dan membantunya membuka pintu pagar yang lumayan berat itu. Dia mengancingkan jaketnya, kemudian bertanya ke gue.
Quote:
Sherly hanya tersenyum. Kemudian dia berjalan keluar pagar, dan memakai helmnya.
Quote:
Gue menuruti apa kata Sherly, meskipun sambil bertanya-tanya di dalam hati. Sepanjang perjalanan itu gue diarahkan oleh Sherly, menuju ke suatu daerah yang nyaris belum pernah gue kunjungi selama gue kuliah di kota ini. Gue sedikit heran, darimana Sherly bisa mengenal daerah ini. Kemudian Sherly memandu gue hingga kami berdua sampai di sebuah rumah besar namun tampak sederhana, dengan pagar tinggi di sekelilingnya. Di samping rumah itu tampak ada musholla kecil, dan beberapa tanaman obat yang tumbuh di dekatnya.
Kami berdua melangkah masuk, dan di samping pintu utama itu gue baru menyadari kemana kami berkunjung. Bangunan ini adalah panti asuhan, dan tampaknya tidak begitu memiliki dana yang mencukupi untuk kebutuhan sehari-harinya. Di dalam, ada seorang ibu-ibu setengah baya, yang kemudian gue tahu bernama Bu Ismi, menyambut kami. Bu Ismi ini adalah pengurus dari panti asuhan ini, dan beliau menyambut kami dengan sangat ramah.
Quote:
Kami bertiga kemudian masuk ke sebuah kamar yang berisi beberapa anak-anak berumur sekitar 8-10 tahunan. Sebagian dari mereka sedang bermain dengan mainan balok seadanya, ada yang sedang menggambar di sebuah buku gambar kecil yang lusuh, dan ada pula yang sedang membaca buku cerita bergambar yang entah sudah dibaca berapa kali.
Sementara itu, di sudut, kami melihat seorang anak laki-laki bertubuh mungil, sedang terbaring lemas di tempat tidur dengan seprei usang. Tampaknya dia barusan bangun tidur, sehingga masih dalam kondisi setengah sadar. Kami melewati anak-anak yang sedang bermain itu, dan mereka menyadari kehadiran Sherly diantara mereka, kemudian menyambutnya dengan memegangi kedua tangan Sherly dengan gembira.
Sherly menyempatkan diri menyapa anak-anak itu terlebih dahulu, baru kemudian bergeser ke tempat tidur dimana anak yang sakit itu terbaring. Sherly meraih tangan anak itu, dan mengelus-elus rambutnya yang kering tak terawat. Gue memandangi anak itu, dan secara naluriah ikut mengelus-elus tangan dan kakinya. Anak itu tersenyum lemah, dan gue melirik Sherly, dia juga tersenyum. Tapi kali itu senyuman Sherly diiringi dengan air mata lembut yang mengalir pelan di pipinya.
Diubah oleh jayanagari 25-10-2015 22:19
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Tutup
: cari siapa ya?
: mmm, Sherly nya ada?
: eh enggak... kan lagi mati lampu nih, terus suntuk di kosan. jadi main kesini deh...
: disini juga mati lampu loh. kan sama aja...
: loh kok aku? yang ngajakin kan kamu?
: untuk biaya rumah sakitnya gimana bu?