- Beranda
- Stories from the Heart
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
...
TS
Shadowroad
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Ane mau share novel buatan ane sendiri gan
Novel ane bergenre action, horror, romance, school-life dan supranatural
Inspirasi dapat dari alur game, film, anime, kehidupan, komik, mitologi, legenda dan novel yang pernah ane amati
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Spoiler for Begini gan ceritanya::
Cerita ini tentang seorang remaja dari Jakarta yang keluarganya terbunuh karena kaum vampire. Cowok remaja ini bernama Erik Calendula. Setelah selamat dari bencana yang dibuat kaum vampire, dia lalu memohon pada Arthur Pendragon. Arthur adalah salah satu dari beberapa pemburu vampire yang menyelamatkan Erik. Dibakar oleh tangisan, amarah dan dendam atas kematian keluarganya, Erik meminta Arthur untuk mendidiknya agar menjadi seorang pemburu vampire. Erik berniat menghancurkan organisasi vampire penebar bencana yang menjadi penyebab kematian orang tuanya.
Arthur menyetujui permintaan Erik. Sebelum dididik, Erik dibawa ke markas pemburu vampire di Jakarta yang bernama Knights of the Silver Sword. Lebih singkatnya, organisasi ini biasa disebut Silver Sword. Setelah bergabung dengan Silver Sword dan dibekali pelatihan dari Arthur, karir Erik sebagai pemburu vampire dimulai. Seperti Arthur, Erik juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan listrik.
Arthur menyetujui permintaan Erik. Sebelum dididik, Erik dibawa ke markas pemburu vampire di Jakarta yang bernama Knights of the Silver Sword. Lebih singkatnya, organisasi ini biasa disebut Silver Sword. Setelah bergabung dengan Silver Sword dan dibekali pelatihan dari Arthur, karir Erik sebagai pemburu vampire dimulai. Seperti Arthur, Erik juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan listrik.
Spoiler for Daftar Isi:
Prolog: Hotel Indonesia
Part 1: Arthur Datang Menjenguk
Part 2: Sekolah
Part 3: Kekuatan Dietrich
Part 4: Amanda Myrna
Part 5: Kisah Raja Arthur
Part 6: Pelabuhan
Part 7: Ghoul
Part 8: Bersembunyi di Rumah Kosong
Part 9: Amanda sang Pembunuh
Part 10: Lightning Versus Sand
Part 11: Kematian Rudy
Part 12: Rumah Sakit
Part 13: Teman Sekelas
Part 14: Kunjungan Mario dan Maya
Part 15: Cerita di Malam Hari
Part 16: Serangan Vampire
Part 17: Sungai Kapuas
Part 18: Kelompok Elena Versus Taiyou no Kishi
Part 19: Lantai Tiga
Part 20: Maya Versus Callista
Part 21: Lantai Dua
Part 22: Serangan Balik
Part 23: Kekuatan Callista
Part 24: Rumah Bergaya Belanda
Part 25: Immortals
Part 26: Empat Pertanyaan
Part 27: Der Schwarze Stein
Part 28: Mantra Deprehensio
Part 29: Kelompok Elena Versus Si Ekor Kalajengking
Part 30: Kolam-kolam Air
Part 31: Hydromancer Magnus
Part 32: Sepulang Sekolah
Part 33: Mall Kemang
Part 34: Korban Vampire
Part 35: Chibi, Chernov dan Minsk
Part 36: Pengejaran
Part 37: Tim Erik dan Tim Maul Versus Geng James Wood
Part 37.1: Hutan Ilusi
Part 37.2: Eyes of Markmanship
Part 37.3: Sand Versus Fire
Part 37.4: Pedang dan Tameng Es
Part 37.5: Maul dan Vira Versus James Wood
Part 38: Arthur Versus Lu Bu
Part 39: Agen Ganda
Part 40: Rumah Darkwing Bersaudara
Part 41: Tiga Produk
Part 42: Di Perbatasan Uni Soviet
Part 42.1: Diego Versus Dragovich
Part 43: FlyHigh
Part 44: Pecandu dari Pluit's Boat
Part 45: Kartel Ching Yan
Part 46: Ervan Versus Werewolf
Part 47: Berlindung di Balik Mobil
Part 48: Marga Asakura
Part 49: Hantu di Rumah Amanda
Part 50: Emmy Merah
Part 51: Pisau Dapur yang Melayang
Part 52: Lantai Dua
Part 53: Tim Sandra dan Dua Emmy
Part 54: Elektrokimia
Part 55: Aswatama
Part 56: Erik, Dietrich, Amanda Versus Arthur
Part 57: Erik, Dietrich, Amanda Versus Aswatama
Part 58: Napoleon Bonaparte dan Timnya
Part 59: Melacak
Part 60: Arthur Versus Jie Xiong
Part 61: Penyelamatan Professor Vaugh
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Part 1: Arthur Datang Menjenguk
Part 2: Sekolah
Part 3: Kekuatan Dietrich
Part 4: Amanda Myrna
Part 5: Kisah Raja Arthur
Part 6: Pelabuhan
Part 7: Ghoul
Part 8: Bersembunyi di Rumah Kosong
Part 9: Amanda sang Pembunuh
Part 10: Lightning Versus Sand
Part 11: Kematian Rudy
Part 12: Rumah Sakit
Part 13: Teman Sekelas
Part 14: Kunjungan Mario dan Maya
Part 15: Cerita di Malam Hari
Part 16: Serangan Vampire
Part 17: Sungai Kapuas
Part 18: Kelompok Elena Versus Taiyou no Kishi
Part 19: Lantai Tiga
Part 20: Maya Versus Callista
Part 21: Lantai Dua
Part 22: Serangan Balik
Part 23: Kekuatan Callista
Part 24: Rumah Bergaya Belanda
Part 25: Immortals
Part 26: Empat Pertanyaan
Part 27: Der Schwarze Stein
Part 28: Mantra Deprehensio
Part 29: Kelompok Elena Versus Si Ekor Kalajengking
Part 30: Kolam-kolam Air
Part 31: Hydromancer Magnus
Part 32: Sepulang Sekolah
Part 33: Mall Kemang
Part 34: Korban Vampire
Part 35: Chibi, Chernov dan Minsk
Part 36: Pengejaran
Part 37: Tim Erik dan Tim Maul Versus Geng James Wood
Part 37.1: Hutan Ilusi
Part 37.2: Eyes of Markmanship
Part 37.3: Sand Versus Fire
Part 37.4: Pedang dan Tameng Es
Part 37.5: Maul dan Vira Versus James Wood
Part 38: Arthur Versus Lu Bu
Part 39: Agen Ganda
Part 40: Rumah Darkwing Bersaudara
Part 41: Tiga Produk
Part 42: Di Perbatasan Uni Soviet
Part 42.1: Diego Versus Dragovich
Part 43: FlyHigh
Part 44: Pecandu dari Pluit's Boat
Part 45: Kartel Ching Yan
Part 46: Ervan Versus Werewolf
Part 47: Berlindung di Balik Mobil
Part 48: Marga Asakura
Part 49: Hantu di Rumah Amanda
Part 50: Emmy Merah
Part 51: Pisau Dapur yang Melayang
Part 52: Lantai Dua
Part 53: Tim Sandra dan Dua Emmy
Part 54: Elektrokimia
Part 55: Aswatama
Part 56: Erik, Dietrich, Amanda Versus Arthur
Part 57: Erik, Dietrich, Amanda Versus Aswatama
Part 58: Napoleon Bonaparte dan Timnya
Part 59: Melacak
Part 60: Arthur Versus Jie Xiong
Part 61: Penyelamatan Professor Vaugh
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Gan, setelah baca mohon komennya, ya
Ane sangat menerima kritik dan saran
Pertanyaan juga sangat dianjurkan, supaya agan2 dapat lebih memahami cerita yang rumit ini
Kalau terjadi kesalahan seperti tanda baca, kurang jelas, ketidak konsistenan cerita mohon diingatkan ya gan
Terima kasih gan
Diubah oleh Shadowroad 26-11-2017 06:31
2
86.9K
Kutip
544
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Shadowroad
#205
Part 31: Hydromancer Magnus
Spoiler for Part 31: Hydromancer Magnus:
Penyihir yang memakai jubah berwarna biru laut itu menghampiri kelompok Elena. Matanya biru dan hidungnya bengkok. Kepalanya terlihat tirus. Di bawah hidungnya ada kumis tipis. Rambutnya yang panjang dan keriting disemir biru laut. Dilihat dari mukanya, umurnya kira-kira tiga puluhan
Penyihir air ini menghentikan langkahnya. Dia menyunggingkan senyum pada kelompok Elena. Terlihatlah giginya yang memiliki taring. Sama seperti Elena dan kelompoknya. Penyihir ini adalah vampire.
Elena dan kelompoknya tetap diam. Mata para gadis vampire ini menatap tajam si vampire penyihir. Tetap tidak ada perubahan jarak pada mereka. Mereka tetap pada tempatnya.
Semua kelompok Elena tetap terdiam. Mereka tahu dalam pikiran mereka bahwa meskipun para Nazi sangatlah luar biasa kuat. Kalimat Hydromancer itu sangat benar. Bagi para Nazi, cukup butuh satu orang dan sedikit waktu untuk mengoyak tubuh para vampire.
Kelompok Elena menatap penyihir itu dengan pandangan tidak percaya. Kelompok Elena memang benar-benar lelah saat ini. Dalam hati, mereka ingin membunuh vampire mencurigakan ini, membunuh murid si penyihir di pondoknya dan menggunakan pondoknya untuk beristirahat. Namun, mereka tahu bahwa itu tidak mungkin. Penyihir ini kelewat kuat. Penyihir ini mampu menenggelamkan mereka di kolam-kolamnya.
Tidak ada jawaban dari kelompok Elena. Para gadis vampire itu tetap memandang si penyihir dengan tatapan curiga. Bahkan tubuh mereka benar-benar siap tempur.
Elena sekarang hanya melihat punggung sang Hydromancer yang semakin menjauh. Dia tak bisa berpikir lagi. Energi mereka sudah tinggal sedikit. Habis untuk melakukan kecepatan vampire. Mau tidak mau dan sedikit gambling pula, Elena terpaksa harus “bermalam” di pondok bambu milik penyihir tak jelas itu.
Beberapa detik kemudian, pintu pondok terbuka dan keluarlah seorang vampire wanita. Dia memakai jubah berwarna biru seperti ayahnya. Gadis itu membuka tudung jubahnya dan memandang Elena. Caranya memandang Elena tidak biasa. Matanya terbelalak dan mulutnya menganga. Elena pun juga sama terkejutnya.
Mereka semua akhirnya segera masuk ke pondok bambu milik sang Hydromancer. Di sana mereka berlima untuk sementara beristirahat di ruang tamu. Mereka yang awalnya tidak mau masuk karena tidak percaya pada si penyihir, sekarang akhirnya masuk juga. Mereka berani masuk karena Latvia kenal dengan Elena. Sambil menunggu masakan Latvia selesai, mereka mengobrol berbagai hal.
Angelicalah yang kali ini bercerita. Dia menceritakan dari awal bagaimana mereka beristirahat di tengah hutan, melakukan mantra pendeteksi hingga dikejar-kejar oleh Manticore. Magnus tersenyum ketika Angelica menceritakan seekor herbivora tepat berlari ke arah mereka. Benar-benar nasib sial.
Magnus menghentikan kata-katanya sejenak. Napasnya tertahan dan matanya terus menatap lantai. Entah apa yang dipikirkannya. Melihat ekspresi muka Magnus, Elena menafsirkan bahwa Magnus sedikit trauma dengan jenis Manticore keempat. Ada mimik ketakutan di muka Magnus.
Semuanya menganga mendengar kata 40 meter disebut. Tentu tak terbayang bagi mereka yang hanya melihat Manticore setinggi 1,5 meter. Mereka bersyukur makhluk itu tidak berasal dari bumi. Bersyukur ‘alien’ itu letaknya jauh dari bumi. Hanya Lina yang tidak terkejut.
Suasana hening sejenak. Hanya terdengar suara Latvia yang sedang menggoreng sesuatu di dapur. Elena menatap Magnus. Penyihir yang hebat ini sekarang terlihat rapuh. Secara tak sengaja, Elena membuatnya mengingat sesuatu yang sedih.
Quote:
“Mundur, penyihir!” kata Lia sambil menodongkan pistolnya tepat ke kepala sang penyihir.
Penyihir air ini menghentikan langkahnya. Dia menyunggingkan senyum pada kelompok Elena. Terlihatlah giginya yang memiliki taring. Sama seperti Elena dan kelompoknya. Penyihir ini adalah vampire.
Quote:
“Kuingatkan pada kalian, tidak baik membawa benda milik Nazi. Apalagi dengan …,” Vampire penyihir menghentikan kata-katanya dan berdehem beberapa kali, “… Mohon maaf … apalagi dengan kelompok yang kecil dan tidak terlalu kuat seperti kalian.”
Elena dan kelompoknya tetap diam. Mata para gadis vampire ini menatap tajam si vampire penyihir. Tetap tidak ada perubahan jarak pada mereka. Mereka tetap pada tempatnya.
Quote:
“Cukup lima belas hingga tiga puluh menit bagi seorang personil SS Paranormal Divisionuntuk membunuh kalian berlima sekaligus,” kata penyihir, “Atau … dalam kondisi yang lebih ekstrim lagi … cukup satu menit bagi salah satu dari dua puluh Ritterkreuz untuk menghabisi kalian.”
Semua kelompok Elena tetap terdiam. Mereka tahu dalam pikiran mereka bahwa meskipun para Nazi sangatlah luar biasa kuat. Kalimat Hydromancer itu sangat benar. Bagi para Nazi, cukup butuh satu orang dan sedikit waktu untuk mengoyak tubuh para vampire.
Quote:
Elena tetap tenang menghadapi si vampire penyihir, “Kelompok kami memang lemah dan jumlahnya memang kecil. Tapi ada alasannya kenapa kelompok kami seperti ini. Lalu untuk para Nazi, kelemahan mereka adalah lemahnya jaringan informasi.”
Penyihir itu tersenyum, “Kalian tahu juga soal kelemahan Nazi, ya? Beristirahatlah di rumahku. Anakku akan memasakkan makanan untuk kalian. Kalian pasti lelah setelah menghadapi Manticore barusan.”
Agak terdiam lama, Elena baru menjawab, “Tidak, terima kasih atas tawarannya, Tuan Hydromancer.”
“Aku tidak tertarik pada Black Orb, saudari vampireku. Aku hanya berniat menolongmu,” Hydromancer itu langsung paham kenapa Elena menolak.
Penyihir itu tersenyum, “Kalian tahu juga soal kelemahan Nazi, ya? Beristirahatlah di rumahku. Anakku akan memasakkan makanan untuk kalian. Kalian pasti lelah setelah menghadapi Manticore barusan.”
Agak terdiam lama, Elena baru menjawab, “Tidak, terima kasih atas tawarannya, Tuan Hydromancer.”
“Aku tidak tertarik pada Black Orb, saudari vampireku. Aku hanya berniat menolongmu,” Hydromancer itu langsung paham kenapa Elena menolak.
Kelompok Elena menatap penyihir itu dengan pandangan tidak percaya. Kelompok Elena memang benar-benar lelah saat ini. Dalam hati, mereka ingin membunuh vampire mencurigakan ini, membunuh murid si penyihir di pondoknya dan menggunakan pondoknya untuk beristirahat. Namun, mereka tahu bahwa itu tidak mungkin. Penyihir ini kelewat kuat. Penyihir ini mampu menenggelamkan mereka di kolam-kolamnya.
Quote:
“Kalian masih tidak percaya?” tanya si penyihir.
Tidak ada jawaban dari kelompok Elena. Para gadis vampire itu tetap memandang si penyihir dengan tatapan curiga. Bahkan tubuh mereka benar-benar siap tempur.
Quote:
“Jika aku benar-benar menginginkan Black Orb, aku pasti akan membiarkan Manticore tadi membunuh kalian. Setelah itu, kubunuh Manticore itu dan kuambil Black Orbnya. Masalah selesai,” kata si penyihir, “Atau kondisi yang lebih ekstrim lagi, kuhadapi kalian dan Manticore itu dalam waktu yang sama.”
Para vampire sekarang menundukkan pandangannya. Mereka berpikir bahwa pendapat si penyihir ada benarnya. Cukup mudah bagi penyihir itu untuk membunuh mereka. Mereka tak bisa berpikir lebih jernih lagi. Tubuh dan pikiran mereka sudah lelah karena pertarungan dengan Manticore atau entah apa namanya tadi.
“Masih tidak percaya?” kata si penyihir, “Ya, sudah. Terserah kalian. Aku akan berbalik ke pondokku. Silahkan ketuk pintunya jika berubah pikiran.”
Para vampire sekarang menundukkan pandangannya. Mereka berpikir bahwa pendapat si penyihir ada benarnya. Cukup mudah bagi penyihir itu untuk membunuh mereka. Mereka tak bisa berpikir lebih jernih lagi. Tubuh dan pikiran mereka sudah lelah karena pertarungan dengan Manticore atau entah apa namanya tadi.
“Masih tidak percaya?” kata si penyihir, “Ya, sudah. Terserah kalian. Aku akan berbalik ke pondokku. Silahkan ketuk pintunya jika berubah pikiran.”
Elena sekarang hanya melihat punggung sang Hydromancer yang semakin menjauh. Dia tak bisa berpikir lagi. Energi mereka sudah tinggal sedikit. Habis untuk melakukan kecepatan vampire. Mau tidak mau dan sedikit gambling pula, Elena terpaksa harus “bermalam” di pondok bambu milik penyihir tak jelas itu.
Quote:
“Karena kita sudah terlalu lelah untuk melanjutkan perjalanan dan aku khawatir tidak ada tempat untuk ‘bermalam’,” Elena mengungkapkan alasannya terlebih dahulu, “Maka kita terpaksa menginap di pondok tak jelas itu.”
“Tapi, Kak,” kata Lina, “Orangnya tak jelas begitu. Bagaimana jika dia merencanakan sesuatu yang lebih jahat?”
“Seperti apa?”
“Yah … emmm … seperti … seperti apa ya?”
“Baiklah,” kata Elena, “Kita istirahat di luar saja. Tanpa masuk ke rumahnya. Bagaimana?”
“Begitu lebih baik,” kata Rita.
Elena menggunakan kecepatan vampire untuk mendekati sang penyihir. Elena lalu berkata, “Tuan Hydromancer! Kami butuh bantuanmu!”
Penyihir itu tersenyum ramah pada Elena, “Ya. Ajak teman-temanmu kemari, vampire muda. Akan kuutus anakku untuk memasakkan kalian sesuatu.”
“Begini … sebenarnya tidak perlu ...,” Elena berusaha mencegah sang Hydromancer.
“Latvia! Latvia! Ada tamu! Kemarilah!” teriak penyihir.
“Apakah Mantirocenya sudah Ayah bunuh?” terdengar suara wanita dari dalam pondok.
“Tidak perlu repot-repot,” kata Elena pada penyihir sambil memberi isyarat pada empat anak buahnya untuk mendekatinya.
“Sudah! Manticorenya sudah kubunuh!” penyihir air itu pura-pura tak mendengar Elena, “Kemarilah! Tak perlu takut!”
“Tapi, Kak,” kata Lina, “Orangnya tak jelas begitu. Bagaimana jika dia merencanakan sesuatu yang lebih jahat?”
“Seperti apa?”
“Yah … emmm … seperti … seperti apa ya?”
“Baiklah,” kata Elena, “Kita istirahat di luar saja. Tanpa masuk ke rumahnya. Bagaimana?”
“Begitu lebih baik,” kata Rita.
Elena menggunakan kecepatan vampire untuk mendekati sang penyihir. Elena lalu berkata, “Tuan Hydromancer! Kami butuh bantuanmu!”
Penyihir itu tersenyum ramah pada Elena, “Ya. Ajak teman-temanmu kemari, vampire muda. Akan kuutus anakku untuk memasakkan kalian sesuatu.”
“Begini … sebenarnya tidak perlu ...,” Elena berusaha mencegah sang Hydromancer.
“Latvia! Latvia! Ada tamu! Kemarilah!” teriak penyihir.
“Apakah Mantirocenya sudah Ayah bunuh?” terdengar suara wanita dari dalam pondok.
“Tidak perlu repot-repot,” kata Elena pada penyihir sambil memberi isyarat pada empat anak buahnya untuk mendekatinya.
“Sudah! Manticorenya sudah kubunuh!” penyihir air itu pura-pura tak mendengar Elena, “Kemarilah! Tak perlu takut!”
Beberapa detik kemudian, pintu pondok terbuka dan keluarlah seorang vampire wanita. Dia memakai jubah berwarna biru seperti ayahnya. Gadis itu membuka tudung jubahnya dan memandang Elena. Caranya memandang Elena tidak biasa. Matanya terbelalak dan mulutnya menganga. Elena pun juga sama terkejutnya.
Quote:
“Latvia??? Kau di sini???” tanya Elena.
“Nyonya juga … apa yang anda lakukan di sini?” kata Latvia.
Hydromancer menatap Elena dan Latvia bergantian, “Kalian … saling kenal?”
Latvia tersenyum pada ayahnya, “Ayah ingat kan ketika aku berada di Jakarta? Nah, aku tinggal di rumah Nyonya Elena selama sebulan karena ada buku tentang teknik hydromancy yang sangat menarik. Dialah Nyonya Elena yang kuceritakan.”
“Astaga! Aku benar-benar merasa tidak sopan pada penolong anakku,” Penyihir itu langsung setengah membungkuk pada Elena, “Maafkan aku, Elena. Terima kasih juga karena telah menolong anakku ketika di Jakarta. Maafkan kami telah merepotkanmu.”
“Ah, tidak,” Elena tersenyum, “Bukan hal yang besar, Tuan Hydromancer.”
“Nyonya juga … apa yang anda lakukan di sini?” kata Latvia.
Hydromancer menatap Elena dan Latvia bergantian, “Kalian … saling kenal?”
Latvia tersenyum pada ayahnya, “Ayah ingat kan ketika aku berada di Jakarta? Nah, aku tinggal di rumah Nyonya Elena selama sebulan karena ada buku tentang teknik hydromancy yang sangat menarik. Dialah Nyonya Elena yang kuceritakan.”
“Astaga! Aku benar-benar merasa tidak sopan pada penolong anakku,” Penyihir itu langsung setengah membungkuk pada Elena, “Maafkan aku, Elena. Terima kasih juga karena telah menolong anakku ketika di Jakarta. Maafkan kami telah merepotkanmu.”
“Ah, tidak,” Elena tersenyum, “Bukan hal yang besar, Tuan Hydromancer.”
Mereka semua akhirnya segera masuk ke pondok bambu milik sang Hydromancer. Di sana mereka berlima untuk sementara beristirahat di ruang tamu. Mereka yang awalnya tidak mau masuk karena tidak percaya pada si penyihir, sekarang akhirnya masuk juga. Mereka berani masuk karena Latvia kenal dengan Elena. Sambil menunggu masakan Latvia selesai, mereka mengobrol berbagai hal.
Quote:
“Namaku Magnus Romanov,” kata sang Hydromancer memperkenalkan diri, “Aku dan Latvia adalah vampire yang berasal dari Stalingrad. Tepatnya sebuah kota di bagian barat Uni Soviet. Aku, istriku dan Latvia adalah penyihir yang fokus mempelajari hydromancy. Kami pergi ke berbagai belahan dunia untuk mendalami sihir air ini.”
“Berasal dari organisasi manakah anda?” tanya Angelica.
“Aku berasal dari Order of Undine. Tentu saja sebuah organisasi penyihir yang fokus mempelajari air dan zat cair,” jawab Magnus, “Lalu ceritakan padaku bagaimana kalian bisa dikejar-kejar oleh Manticore?”
“Berasal dari organisasi manakah anda?” tanya Angelica.
“Aku berasal dari Order of Undine. Tentu saja sebuah organisasi penyihir yang fokus mempelajari air dan zat cair,” jawab Magnus, “Lalu ceritakan padaku bagaimana kalian bisa dikejar-kejar oleh Manticore?”
Angelicalah yang kali ini bercerita. Dia menceritakan dari awal bagaimana mereka beristirahat di tengah hutan, melakukan mantra pendeteksi hingga dikejar-kejar oleh Manticore. Magnus tersenyum ketika Angelica menceritakan seekor herbivora tepat berlari ke arah mereka. Benar-benar nasib sial.
Quote:
“Jadi nama makhluk itu Manticore?” tanya Elena.
Magnus mengangguk, “Ya. Namanya Manticore. Beruntung kalian hanya menghadapi Manticore biasa.”
“Memangnya ada Manticore jenis lain?” tanya Lia.
“Ada empat jenis Manticore yang kuketahui. Yang pertama adalah Manticore biasa yang kalian hadapi barusan. Biasa disebut Regular Manticore. Yang kedua adalah Archer Manticore. Berhati-hatilah dengan Archer Manticore karena dia bisa menembakkan duri-durinya yang beracun dari ekornya. Lalu yang ketiga adalah Lethal Manticore. Meskipun jenis ketiga ini tidak memiliki sayap, tapi sengatan racunnya luar biasa. Cukup lima menit untuk membunuh manusia dewasa. Lalu yang terakhir …”
Magnus mengangguk, “Ya. Namanya Manticore. Beruntung kalian hanya menghadapi Manticore biasa.”
“Memangnya ada Manticore jenis lain?” tanya Lia.
“Ada empat jenis Manticore yang kuketahui. Yang pertama adalah Manticore biasa yang kalian hadapi barusan. Biasa disebut Regular Manticore. Yang kedua adalah Archer Manticore. Berhati-hatilah dengan Archer Manticore karena dia bisa menembakkan duri-durinya yang beracun dari ekornya. Lalu yang ketiga adalah Lethal Manticore. Meskipun jenis ketiga ini tidak memiliki sayap, tapi sengatan racunnya luar biasa. Cukup lima menit untuk membunuh manusia dewasa. Lalu yang terakhir …”
Magnus menghentikan kata-katanya sejenak. Napasnya tertahan dan matanya terus menatap lantai. Entah apa yang dipikirkannya. Melihat ekspresi muka Magnus, Elena menafsirkan bahwa Magnus sedikit trauma dengan jenis Manticore keempat. Ada mimik ketakutan di muka Magnus.
Quote:
“Yang terakhir?” Rita semakin tidak sabar.
“Yang terakhir adalah Titan Manticore,” kata Magnus yang akhirnya menaklukkan traumanya, “Makhluk ini bukan berasal dari bumi. Titan Manticore berasal dari Asgard. Sebuah dimensi tempat tinggal para dewa-dewi Nordik. Setelah peristiwa Ragnarok yang menandai berakhirnya Mitologi Nordik di alam semesta. Odin, Thor dan yang lainnya mati di Ragnarok. Asgard sekarang menjadi puing-puing. Menyisakan makhluk-makhluk liar yang salah satunya bernama Titan Manticore.”
“Apakah ada perbedaannya dengan tiga jenis Manticore sebelumnya?’
“Bentuknya sama dengan Regular Manticore. Perbedaannya hanya dua. Yaitu aliran manna dan ukuran tubuhnya. Aliran mannanya terletak di sayap, gigi, cakar dan ekornya. Tentu saja semakin memperkuat kemampuan tempurnya. Lalu yang terakhir adalah ukuran tubuhnya. Dari namanya, ‘Titan Manticore’, Coba tebak berapa tingginya.
“12 meter?” tebak Elena.
“22 meter?” tanya Lia.
Magnus menunjuk Lia dan berkata, “20 meter itu tinggi minimumnya. Aku pernah melihat Titan Manticoredengan tinggi 40 meter.”
“Yang terakhir adalah Titan Manticore,” kata Magnus yang akhirnya menaklukkan traumanya, “Makhluk ini bukan berasal dari bumi. Titan Manticore berasal dari Asgard. Sebuah dimensi tempat tinggal para dewa-dewi Nordik. Setelah peristiwa Ragnarok yang menandai berakhirnya Mitologi Nordik di alam semesta. Odin, Thor dan yang lainnya mati di Ragnarok. Asgard sekarang menjadi puing-puing. Menyisakan makhluk-makhluk liar yang salah satunya bernama Titan Manticore.”
“Apakah ada perbedaannya dengan tiga jenis Manticore sebelumnya?’
“Bentuknya sama dengan Regular Manticore. Perbedaannya hanya dua. Yaitu aliran manna dan ukuran tubuhnya. Aliran mannanya terletak di sayap, gigi, cakar dan ekornya. Tentu saja semakin memperkuat kemampuan tempurnya. Lalu yang terakhir adalah ukuran tubuhnya. Dari namanya, ‘Titan Manticore’, Coba tebak berapa tingginya.
“12 meter?” tebak Elena.
“22 meter?” tanya Lia.
Magnus menunjuk Lia dan berkata, “20 meter itu tinggi minimumnya. Aku pernah melihat Titan Manticoredengan tinggi 40 meter.”
Semuanya menganga mendengar kata 40 meter disebut. Tentu tak terbayang bagi mereka yang hanya melihat Manticore setinggi 1,5 meter. Mereka bersyukur makhluk itu tidak berasal dari bumi. Bersyukur ‘alien’ itu letaknya jauh dari bumi. Hanya Lina yang tidak terkejut.
Quote:
“40 meter kira-kira setinggi apa, Tuan Magnus?” tanya Lina.
“Bayangkan sebuah gedung dan asumsikan tiap lantainya setinggi 4 meter. Jika seekor Titan Manticore memiliki tinggi 40 meter, berarti itu sama saja dengan gedung 10 lantai.”
“Jika makhluk itu bukan makhluk bumi, lalu bagaimana anda bertemu?” tanya Elena, “Apakah anda sedang berada di Asgard?”
Magnus menghela nafas panjang. Matanya mengarah ke lantai dengan tatapan kosong. Dengan sedikit terisak, Magnus berkata, “Ya. Makhluk itulah yang membunuh ibu Latvia.”
“Bayangkan sebuah gedung dan asumsikan tiap lantainya setinggi 4 meter. Jika seekor Titan Manticore memiliki tinggi 40 meter, berarti itu sama saja dengan gedung 10 lantai.”
“Jika makhluk itu bukan makhluk bumi, lalu bagaimana anda bertemu?” tanya Elena, “Apakah anda sedang berada di Asgard?”
Magnus menghela nafas panjang. Matanya mengarah ke lantai dengan tatapan kosong. Dengan sedikit terisak, Magnus berkata, “Ya. Makhluk itulah yang membunuh ibu Latvia.”
Suasana hening sejenak. Hanya terdengar suara Latvia yang sedang menggoreng sesuatu di dapur. Elena menatap Magnus. Penyihir yang hebat ini sekarang terlihat rapuh. Secara tak sengaja, Elena membuatnya mengingat sesuatu yang sedih.
Quote:
“Ma … maafkan saya, Tuan Magnus,” kata Elena, “Mari kita bicarakan yang lain saja. Bagaimana mungkin anda mengetahui bahwa saya membawa Black Orb?”
Magnus tersenyum. Senyuman yang kelihatannya membuat dirinya lupa akan kesedihannya, “Selain belajar mantra aqua, aku juga bisa mantra deprehensio. Aku merapalkan mantranya ketika elemental lautku menenggelamkan Manticore. Tak sengaja benda kalian juga terdeteksi.”
“Lalu bagaimana anda bisa langsung menebak bahwa ini Black Orb? Bukankah ada benda sihir lain yang tentunya memiliki energi yang sama dengan Black Orb?”
“Aku pernah merasakan energi Black Orb sebelumnya, Elena. Ada dua Black Orb di Republik Nasionalis Indonesia ini. Dari sekian banyak benda sihir yang kurasakan energinya, Black Orb benar-benar ‘berbeda’. Bahkan hanya satu-satunya benda sihir yang memiliki energy seperti itu. Karena itulah aku bisa merasakannya. Yah … bagaimana menjelaskannya, ya? Jika kau bisa mantra deprehensio pasti akan tahu, Elena. Cukup level 40 untuk merasakan energy Black Orb. Kalau kau tahu, bahan yang dibuat Black Orb bukan berasal dari bumi. Entahlah dari dimensi mana. Mungkin karena itulah Black Orb memiliki energy yang berbeda.”
“Apakah anda tahu bagaimana kira-kira para Nazi membuatnya?”
Magnus mendengus dan menggeleng, “Rezim fasis itu memang penuh berisi orang-orang jenius jahat. Lebih parahnya lagi mereka juga pelit. Ketika Jerman akan jatuh pada akhir Perang Dunia Kedua, Hitler memerintahkan untuk membakar semua dokumen-dokumen. Baik itu rencana operasi militer, ekspedisi ke suatu tempat, penelitian eksak hingga penelitian supranaturalnya. Tak ada lagi yang tersisa. Mereka tak membiarkan lawan-lawan mereka menguasai pengetahuan tentang Black Orb.”
Magnus tersenyum. Senyuman yang kelihatannya membuat dirinya lupa akan kesedihannya, “Selain belajar mantra aqua, aku juga bisa mantra deprehensio. Aku merapalkan mantranya ketika elemental lautku menenggelamkan Manticore. Tak sengaja benda kalian juga terdeteksi.”
“Lalu bagaimana anda bisa langsung menebak bahwa ini Black Orb? Bukankah ada benda sihir lain yang tentunya memiliki energi yang sama dengan Black Orb?”
“Aku pernah merasakan energi Black Orb sebelumnya, Elena. Ada dua Black Orb di Republik Nasionalis Indonesia ini. Dari sekian banyak benda sihir yang kurasakan energinya, Black Orb benar-benar ‘berbeda’. Bahkan hanya satu-satunya benda sihir yang memiliki energy seperti itu. Karena itulah aku bisa merasakannya. Yah … bagaimana menjelaskannya, ya? Jika kau bisa mantra deprehensio pasti akan tahu, Elena. Cukup level 40 untuk merasakan energy Black Orb. Kalau kau tahu, bahan yang dibuat Black Orb bukan berasal dari bumi. Entahlah dari dimensi mana. Mungkin karena itulah Black Orb memiliki energy yang berbeda.”
“Apakah anda tahu bagaimana kira-kira para Nazi membuatnya?”
Magnus mendengus dan menggeleng, “Rezim fasis itu memang penuh berisi orang-orang jenius jahat. Lebih parahnya lagi mereka juga pelit. Ketika Jerman akan jatuh pada akhir Perang Dunia Kedua, Hitler memerintahkan untuk membakar semua dokumen-dokumen. Baik itu rencana operasi militer, ekspedisi ke suatu tempat, penelitian eksak hingga penelitian supranaturalnya. Tak ada lagi yang tersisa. Mereka tak membiarkan lawan-lawan mereka menguasai pengetahuan tentang Black Orb.”
0
Kutip
Balas