- Beranda
- Stories from the Heart
ROCKER Juga Butuh CINTA
...
TS
micky10
ROCKER Juga Butuh CINTA

Quote:
"Mas.... dapat paketan lagi nih...."
"Paketan opo Fan?"
"Embuh iki mas.... dari Gagas Media.... paling yo returan naskah mas.... Ditolak lagi yo..."
"Wes taruhen kamar wae Fan...."
"Owalah.... wes jualan gado-gado ae lho mas.... jadi penulis itu ndak gampang e..."
"Sing penting lak udah usaha... nembak cewek juga gak langsung di terima toh?"
"Yowes lah... tak berangkat kuliah dulu yo mas... owh iyo mas, Bokep e sing kemarin ojo di hapus sek yo... mau tak copy e...."
"??? Ndasmu...!!!!"
"Paketan opo Fan?"
"Embuh iki mas.... dari Gagas Media.... paling yo returan naskah mas.... Ditolak lagi yo..."
"Wes taruhen kamar wae Fan...."
"Owalah.... wes jualan gado-gado ae lho mas.... jadi penulis itu ndak gampang e..."
"Sing penting lak udah usaha... nembak cewek juga gak langsung di terima toh?"
"Yowes lah... tak berangkat kuliah dulu yo mas... owh iyo mas, Bokep e sing kemarin ojo di hapus sek yo... mau tak copy e...."
"??? Ndasmu...!!!!"
Hari itu tepat untuk ke-empat kalinya naskah novel aku di tolak sama penerbit. Kenapa? yo ndak tau aku... mungkin naskah aku terlalu jelek, terlalu tebal, terlalu menguras air mata atau terlalu susah di mengerti karena di ketik dengan bahasa sansekerta.... tapi yo embuh lah rek. mungkin nanti teman-teman bisa lah menilai gitu.
owh iyo aku dari malang nama aku Micky....nama asli iki... beneran.... bukan nama panggung....sumpah. Aku ini e cuma penulis lepas musiman. Yang cuma nulis pas abis gajian doang. Pas uang gajian udah habis ya ndak nulis lagi. Yo gimana yo.... aku tuh percaya gitu kalau inspirasi terbesar akan datang kalau dompet kita lagi penuh.... Kalau uang wes habis ya gitu lemes lagi nggak punya inspirasi. Jadi Fakir Inspirasi... ahhh wes embuh lah rek...
Setelah melalui beberapa penolakan, akhirnya aku udah sampai di taraf putus asa. Mungkin memang ndak layak terbit. Ndak layar di komersilkan naskah ini. untuk itulah saya mencoba untuk berbagi, Sharing lah gitu maksudnya di SFTH. Semoga bisa menjadi obat susah buang air besar... Mungkin penolakan-penolakan itu membuat aku tuh sadar kalau bakat ku bukan di dunia menulis... mungkin yang lain... nambal ban, nggoreng endog atau ngosek njeding...
Koyok kata temenku...
"Mas... Tenang wae.... aku yakin banget di balik sebuah penolakan, pasti ada penolakan-penolakan berikutnya... Sing sabar..."
"??? Uassuu...!!"
"??? Uassuu...!!"
ROCKER Juga Butuh CINTA
Quote:
1. Rocker Edan
2. Mie Ayam Pak Dul
3. Tragedi Mr. Shock
4. Numpang ngeksis di Mading
5. The Gankster
6. Senyum Manis di Jazz Biru
7. I'll find you...
8. Naya...
9. Asep, Ilmuwan gila...
10. Rujak 24 Cabe
11. I Need You Sep
12. Lagu buat Naya
13. Finding Naya...
14. “No handphoneku, ingatkan aku ya…”
15. Persiapan Manggung...
16. Rockin Cafe, I’m broken heart
17. Don't You Cry, Naya...
18. Semua Sayang Ken
19. Pengintaian
20. Undangan Naya
21. Happy Birthday Nay...
22. Hah?? Jakarta??
23. Good Bye Naya.... (End)
Quote:
1. Rocker Edan
Malang, kota terbesar ke 2 di jawatimur. Lokasinya yang di kelilingi gunung dan perbukitan membuat kota ini menjadi lebih sejuk dan tenang. Jauh dari segala pencemaran, udara, air dan pencemaran manusia. Maksudnya tingkat kepadatan penduduk di malang masih relative rendah. Tidak sepadat Surabaya atau Jakarta yang dimana setiap kita melangkah selalu bertemu dengan makhluk yang namanya manusia.
Malang diKenal sebagai kota pendidikan, lebih dari 20 universitas tersebar disini. Mau yang kecil sampai besar, D1 sampai S3, ato sekedar universitas penyemarak alias universitas yang tak lebih dari sekedar tempat kursus pun ada disini. Namun dari itu semua, ada 2 universitas negeri yang menjadi tujuan mahasiswa dari seluruh pelosok negeri. Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang, letak keduanya pun berhadapan. Soal kualitas, jangan pernah memandang sebelah mata. Keduanya memiliki kredibilitas tinggi dalam segi pendidikan, dan prospek karier kedepannya.
Satu lagi instansi negeri yang juga bisa dianggap menjadi pilarnya pendidikan kota malang, Politeknik Negeri Malang. Menawarkan jenjang D1-D4, dalam hal teknik dan perniagaan Politeknik Negeri Malang boleh di banggakan. Tapi ada yang aneh, seharusnya kita tak perlu membahas sejauh ini tentang pendidikan kota Malang. Namun hal ini lah yang akan mewarnai awal cerita kita.
Ken atau Kenthus Prawiryasudhirja, 20 tahun,mahasiswa semester 4 fakultas Teknik Elektro Brawijaya. Penampilan lebih mirip preman kampung yang baru masuk kampus. Gelang metal terbuat dari perpaduan besi daur ulang dan karet sisa produksi sandal jepit gak pernah lepas dari pergelangan tangannya. Jaket lusuh nan kumal yang sudah sejak 2 tahun lalu produksinya dihentikan karena dinilai sudah tak layak publish masih saja menghiasi tubuhnya yang kurus nan proposional. Rambut setengah gondrongnya membuatnya paten sebagai pemuda anti kemapanan, terutama kemapanan soal penampilan. Mandi aja udah untung tuh. Merek deodorant sih hafal, tapi tak satu pun pernah dia gunakan manfaatnya.
Langkahnya begitu ceria, seakan tak ada beban hari itu. Baginya tugas laporan penelitian ala Mr.Shock bukan sesuatu hal patut dipusing kan. Sebagai informasi, Mr Shock adalah julukan familiar untuk dosen bernama lengkap Drs.Pomo Supomo ST , MT. Tuh kan, dari namanya aja mungkin lu bisa ngebayangin bagaimana tampang tuh orang. Perawakan tinggi semampai dengan postur agak kurus dan berkaca mata. Rambutnya yang cepak di sisir mengikuti arah angin, karna tidak bisa di prediksikan hari ini apakah belah pinggir kiri ato kanan.
Julukan Mr. Shock di berikan bukan tanpa alasan, pengumuman kuis yang di berikan 5 menit menjelang kuis itu dilaksanakan. Mungkin satu alasan jelas mengapa beliau layak mendapatkan julukan tersebut. Mr. shock adalah satu dari beberapa dosen yang selalu menjadi point penting dari hari-hari Ken dikampus. Bukan karena Ken anak rajin yang selalu membantu dosen menyampaikan materi ke adik2 angkatan ato yang biasa kita sebut asisten dosen, melainkan defisit nilai Ken dalam mata kuliah yang mereka ajar cukup memusingkan.
Apapun itu tak menjadikan langkah kecil dari telapak kaki berbalut sepatu punk converse tahun 2009 itu berhenti melangkah. Senyumnya terus merekah sepanjang lorong gedung Fakultas Ekonomi. Meskipun bukan gedung dimana dia kuliah namun cuek aja. Hanya sapaan kecil yang kerap di tebarnya kala berpapasan dengan mahasiswi siapa saja, entah Ana, Susi, Deri, Prita, Jovanca, Meri, Alina pokoknya di sapa abis, layak nya playboy cap “senapan angin” yang tidak pernah kehabisan pelor. Selalu aja ada ribuan “serbet dapur” untuk merayu mahasiswi-mahasiswi itu.
Asik berjalan di lorong gedung membuat Ken teringat kejadian beberapa waktu yang lalu. Kejadian yang mungkin akan menjadi peristiwa memalukan dalan hidupnya. Dimana seorang mahasiswa teknik elektro bertampang sangar harus mengepel lantai lorong selama seminggu hanya karena hal bodoh yang jarang di lakukan mahasiswa pada umumnya. Membuat kegaduhan dengan jimbe dekil untuk misi menakluk hati Diana, anak FE 2009. Iya kalo pada saat itu adalah hari-hari normal, sialnya saat itu tengah di lakukan rapat yudisium dosen-dosen Fakultas Ekonomi. Bukan hati Diana yang berhasil di taklukkan, tapi kain pel dan ember karbol lah yang menemani Ken selama seminggu di lorong itu.
Cerita lama, setidaknya saat itu Ken bisa tahu berapa perbandingan komposisi antara karbol dan air agar kerak-kerak di ubin bisa hilang tanpa menjadikan lantai itu licin. Ken adalah anak sulung dari 3 bersaudara, adiknya yang pertama masih bergelut di kelas X di sebuah SMA negeri di Blitar. Dan yang kedua masih mereguk manisnya masa-masa SMP. Ayahnya hanya seorang Seniman pembuat Gerabah yang mengadu peruntungan dari sebuah bengkel kecil di ujung pasar Gede Blitar. Dunia gerabah memang tak begitu mengena di diri Ken, tapi Ken lebih suka pada dunia Teknik. Gen yang lebih dominan adalah gen Musisi. Dalam sejarah nenek moyang Ken, tidak ada kakek buyut nya yang menekuni seni musik. Petani, Masinis kereta, dan seorang juragan tanah. Tidak ada darah seniman, entah dia dapat dari mana darah seni itu. Mungkin dulu dia pernah kecelakaan dan mengalami pendarahan hebat butuh transfusi darah dari PMI. dan bisa disimpulkan darah yang di transfusikan berasal dari donor seorang seniman terKenal, sekelas Piyu, Dewa Bujana, Andra Ramadhan, Ahmad Dhani atau mungkin juga Freddie Mercury. Entah lah, yang jelas darah seni itu membuat Ken kadang bertindak di luar akal sehat.
Ibu Ken adalah seorang ibu rumah tangga yang anggun, banyak petuah-petuah hidup yang Ken dapatkan dari sang ibu, mulai dari nasihat untuk terus menyambung tali silahturahmi hingga wejangan tentang memilih calon istri yang lebih membumi. Membumi? Sampai novel ini di tulis saya belum tahu arti sebenarnya dari kata-kata itu. Maybe anda bisa googling ato sekedar mencari primbon jawa warisan eyang kakung. Sebagai saran, kalo nyari primbon cari yang cetakan pertama karena lebih original dari segi isi dan bahan kertas. ya itu pun kalo belum menjadi fosil.
“Wooii!!…pak de kalo nulis cerita yang bener dunk…ini gimana ceritanya ? nyeritain keluarga malah ngomongin primbon…!!!”
“Iyee…ini saya terusin…wong cuma ngasih tips doang dikit…ini saya terusin…”
“Iyee…ini saya terusin…wong cuma ngasih tips doang dikit…ini saya terusin…”
Maaf gangguan dikit pembaca, biasa Ken. Bawaannya sensitif tuh orang. Kita kembali ke cerita.
Kakinya terus melangkah sepanjang lorong gedung, hingga dia temukan tulisan “Kantin”. Tempat favorit semua mahasiswa berduit yang kelaparan. Tapi buat Ken kriteria kelaparan saja sudah bisa menjadikan kantin sebagai tempat favorit. Soal duit…kan bisa ngutang. Itulah fungsinya sahabat, versi dia tentunya.
Diubah oleh micky10 12-04-2016 15:48
Gimi96 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
23.6K
Kutip
99
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
micky10
#13
Quote:
5.The Gankster…
The Ganksters, band yang memproklamasikan mengusung genre Alternatif Rock. Tapi bentar, Alternatif Rock apaan sih??? Sampai sekarang saya nggak tau apa itu Alternatif Rock, mungkin kayak semacam pengobatan alternatif gitu kali yaa...ahh emboh lah rek... Kiblat musik mereka adalah band-band dunia seperti Alterbridge, Creed, Linkin Park, Hoobastank dan Good charlotte. Tapi sampai saat ini saya belum nemu letak ke-Rocker-an musik mereka. Mereka bilang hanya orang-orang yang berhati bersih yang bisa mendengar kadar musik cadas yang mereka mainkan. Mereka?? Termasuk Ken dan Dodo. The Ganksters adalah band mereka. Band yang terbentuk karena kurang kerjaan, kurang gizi, dan kurang perhatian. Jadi kronologisnya begini, saat itu di sebuah pojokan gedung fakultas teknik. Ken, Dodo, Ano dan Jeje meratapi nasib yang tak kunjung berubah. Percakapan yang dramatis dan menguras emosi pun terjadi
Dramatis??? Muke Lu Dramatis!!! Ini mah bukan dramatis dan menguras emosi, tapi lebih ironis dan menumpuk emosi. Gua bakar juga ni tulisan??? Emosi…emosi…!!! Saya kira bakal gimana gitu…bersejarah ato berkesan…hiyaaah…tapi yaudah lah kita lupakan soal dramatis, rasanya pengen nimpuk aja. Dramatis-dramatis Ndasmu…!
Okey…The Gankster ada komposisi band dengan selera musik paling parah. Dari 4 personil hanya Ano yang tau nada, gitaris handal, musisi genius dengan musikalitas tinggi yang pada akhirnya harus mengubur mimpi dalam-dalam untuk menjadi Rocker papan atas setelah membentuk band bersama orang-orang gila.
Jeje, dia percaya kalo tingkat ke-Rockeran seseorang tergantung dari musik yang dia dengarkan, namun bit-bit Bass nya berubah setelah dia dengerin lagu-lagu Kahitna. Sehingga menjadi lebih melow dan tidak metal lagi. Dengerin lagu betharia sonata aja dia nangis….
Ken dan Dodo, kalo ini mah gak usah di ceritakan lebih detail yak. Kemampuan Dodo di belakang drum okelah bisa diandalkan. Namun skill Ken di balik gitar yang perlu di pertanyakan. Dia adalah gitaris yang sering lupa kunci nada dan selalu ketinggalan tempo. Jadi ya bisa kita bayangkan sendiri mau jadi apa band ini. Dan masa-masa mendekati bazzar inilah masa dimana sibuk untuk latihan. Studio adalah tempat yang paling padat dan rame. Entah mengantri untuk latihan, pengen dengerin live musik, ato untuk sekedar numpang sibuk biar di sebut anak band. Yang jelas jika kita dengar dari suara gemuruh nggak jelas dari dalam studio, pasti itu adalah The Gankster. Menggubah sebuah lagu lama sehingga menjadi lebih…hummm hancur.
Bukan menyalahkan mereka, tapi jika mereka manggung dalam sebuah konser akbar bisa-bisa mereka akan membawa pulang banyak pecahan telor, tomat dan sandal jepit. Lumayan buat souvenir. Lagian mereka akan menciptakan genre musik baru “The throwing Rock”. Musik rock yang selalu di lempar-lemparin.
The Ganksters, band yang memproklamasikan mengusung genre Alternatif Rock. Tapi bentar, Alternatif Rock apaan sih??? Sampai sekarang saya nggak tau apa itu Alternatif Rock, mungkin kayak semacam pengobatan alternatif gitu kali yaa...ahh emboh lah rek... Kiblat musik mereka adalah band-band dunia seperti Alterbridge, Creed, Linkin Park, Hoobastank dan Good charlotte. Tapi sampai saat ini saya belum nemu letak ke-Rocker-an musik mereka. Mereka bilang hanya orang-orang yang berhati bersih yang bisa mendengar kadar musik cadas yang mereka mainkan. Mereka?? Termasuk Ken dan Dodo. The Ganksters adalah band mereka. Band yang terbentuk karena kurang kerjaan, kurang gizi, dan kurang perhatian. Jadi kronologisnya begini, saat itu di sebuah pojokan gedung fakultas teknik. Ken, Dodo, Ano dan Jeje meratapi nasib yang tak kunjung berubah. Percakapan yang dramatis dan menguras emosi pun terjadi
“Pren udah pada ngerjain tugas teknik industri kelistrikan??” Ken, pencetus deklarasi.
“Aku belum e…” Tukas Ano
“Aku juga belum…” Jawab Jeje.
“Kalo gitu gimana kalo kita bikin band?”
“Heeh?????yaudah…yuk…” Dodo, Ano, Jeje serentak.
“Aku belum e…” Tukas Ano
“Aku juga belum…” Jawab Jeje.
“Kalo gitu gimana kalo kita bikin band?”
“Heeh?????yaudah…yuk…” Dodo, Ano, Jeje serentak.
Dramatis??? Muke Lu Dramatis!!! Ini mah bukan dramatis dan menguras emosi, tapi lebih ironis dan menumpuk emosi. Gua bakar juga ni tulisan??? Emosi…emosi…!!! Saya kira bakal gimana gitu…bersejarah ato berkesan…hiyaaah…tapi yaudah lah kita lupakan soal dramatis, rasanya pengen nimpuk aja. Dramatis-dramatis Ndasmu…!
Okey…The Gankster ada komposisi band dengan selera musik paling parah. Dari 4 personil hanya Ano yang tau nada, gitaris handal, musisi genius dengan musikalitas tinggi yang pada akhirnya harus mengubur mimpi dalam-dalam untuk menjadi Rocker papan atas setelah membentuk band bersama orang-orang gila.
Jeje, dia percaya kalo tingkat ke-Rockeran seseorang tergantung dari musik yang dia dengarkan, namun bit-bit Bass nya berubah setelah dia dengerin lagu-lagu Kahitna. Sehingga menjadi lebih melow dan tidak metal lagi. Dengerin lagu betharia sonata aja dia nangis….
Ken dan Dodo, kalo ini mah gak usah di ceritakan lebih detail yak. Kemampuan Dodo di belakang drum okelah bisa diandalkan. Namun skill Ken di balik gitar yang perlu di pertanyakan. Dia adalah gitaris yang sering lupa kunci nada dan selalu ketinggalan tempo. Jadi ya bisa kita bayangkan sendiri mau jadi apa band ini. Dan masa-masa mendekati bazzar inilah masa dimana sibuk untuk latihan. Studio adalah tempat yang paling padat dan rame. Entah mengantri untuk latihan, pengen dengerin live musik, ato untuk sekedar numpang sibuk biar di sebut anak band. Yang jelas jika kita dengar dari suara gemuruh nggak jelas dari dalam studio, pasti itu adalah The Gankster. Menggubah sebuah lagu lama sehingga menjadi lebih…hummm hancur.
“Pren…My chemical romance, I don’t love you…dari C yak…1…2…3…”
“Teng…tong…teng…tong….Jreeeenggg….”
“Dung…dung….cheessss…”
1 menit kemudian
“Stop…stop…Do…drum lu kok lembek banget yak…” Ano menghentikan permainan
“Yee…ini udah ngebit…aku pake double pedal nih”
“Trus Ken…vocal mu Kenapa jadi lebih mirip Once ?”
“Wah….telinga mu tuh yang siwer…jelas-jelas aku ngudak vocalnya andhika kangen band. Pada kagak ngarti musik rock lu semua…”
“Hadeeh…break-break…daripada tak bakar ni studio…”
“Teng…tong…teng…tong….Jreeeenggg….”
“Dung…dung….cheessss…”
1 menit kemudian
“Stop…stop…Do…drum lu kok lembek banget yak…” Ano menghentikan permainan
“Yee…ini udah ngebit…aku pake double pedal nih”
“Trus Ken…vocal mu Kenapa jadi lebih mirip Once ?”
“Wah….telinga mu tuh yang siwer…jelas-jelas aku ngudak vocalnya andhika kangen band. Pada kagak ngarti musik rock lu semua…”
“Hadeeh…break-break…daripada tak bakar ni studio…”
Bukan menyalahkan mereka, tapi jika mereka manggung dalam sebuah konser akbar bisa-bisa mereka akan membawa pulang banyak pecahan telor, tomat dan sandal jepit. Lumayan buat souvenir. Lagian mereka akan menciptakan genre musik baru “The throwing Rock”. Musik rock yang selalu di lempar-lemparin.
Diubah oleh micky10 23-10-2015 13:46
1
Kutip
Balas
