Kaskus

Story

karnaufalAvatar border
TS
karnaufal
One More Hour
One More Hour







Cerita ini kupersembahkan untukmu.
Hanya untuk dirimu.


Much Love,

-B-


emoticon-Matahari
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 477 suara
Siapakah yang akan menjadi pasangan hidup Bayu?
Muthia
6%
Sita
28%
Alexy
54%
Wanita lain selain pilihan-pilihan di atas
12%
fawaid113Avatar border
umbhelijo35Avatar border
pavideanAvatar border
pavidean dan 69 lainnya memberi reputasi
66
1.6M
6.1K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.6KAnggota
Tampilkan semua post
karnaufalAvatar border
TS
karnaufal
#378
15.
Do I Want To?
kaskus-image



Hujan telah berhenti pada pukul sepuluh malam yang lalu namun gue masih saja tetap terjaga dengan posisi yang sama, terduduk sambil memeluk kedua kaki dan gue juga menyandarkan dagu pada lutut sambil memandang kosong ke arah dinding yang terlihat gelap. Suara ketukan dari balik pintu kamar juga sudah tidak terdengar lagi. Mungkin Sita telah menyerah setelah berkali-kali mencoba membujuk gue agar mau membukakan pintu untuknya yang selalu gue hiraukan. Gue menghela nafas berat sebelum pada akhirnya gue bangkit berdiri dan menatap lurus ke arah cermin.

Di dalam cermin tersebut gue melihat sebuah pantulan dari wajah sayu milik seseorang yang baru saja menerima kekalahan telak pada medan perang walaupun ia tidak pernah ikut berperang, dan wajah tersebut menyiratkan sebuah rasa sakit yang teramat dalamwalaupun ia sedang tidak menderita penyakit apapun. Mata yang terlihat pada wajah tersebut juga tidak lagi berbinar seperti apa yang sering gue lihat sebelumnya, hanya menyiratkan sebuah lorong kehampaan yang tak pernah diketahui dimana ujungnya. Kemudian gue melihat bahwa pantulan bayangan itu menggelengkan kepala, lalu kemudian bayangan tersebut menghilang dari cermin seiring dengan berlalunya gue menuju toilet untuk membersihkan diri.

Setelah gue selesai berganti baju dan lain sebagainya, gue langsung tidur telentang di atas kasur tanpa dipan lalu kemudian gue meraba-raba sisi kasur untuk mengambil handphone, memutar lagu Only When I Sleep-nya The Corrs sebelum pada akhirnya gue menyelimuti badan dengan selimut tipis yang semoga saja dapat menghangatkan badan gue yang dingin dan gue juga berharap, semoga saja selimut ini juga dapat memberi sedikit kehangatan bagi hati gue yang sedang membeku layaknya suhu udara pada malam hari ini.


But when it's time to rest

I'm lying in my bed

Listening to my breath

Falling from the edge



***


Alarm pada handphone gue berbunyi tepat pada pukul lima pagi. Dengan mata yang segaris gue mencoba untuk mencari handphone yang terletak di samping bantal lalu mematikan alarmnya. Kemudian gue bangkit dari tidur, bersandar pada dinding yang dingin sambil menundukkan kepala dan memejamkan kedua mata rapat-rapat. Tidur yang hanya berlangsung selama kurang dari empat jam ini telah membuat kepala gue pusing. Lalu entah kenapa, secara otomatis alam bawah sadar gue tiba-tiba melayang dan membayangkan sesosok Muthia beserta senyuman indah pada bibirnya yang seketika menimbulkan rasa nyeri di dalam dada. Ternyata, sedikit banyak dari pikiran gue masih memikirkan dirinya.

Setelah selesai bersiap-siap untuk berangkat ke kantor, gue kembali menatap cermin dan gue kembali mendapati sebuah pantulan wajah yang sama. Pantulan wajah pada cermin itu masih terlihat sama seperti apa yang gue lihat semalam, namun kini wajah tersebut mimiliki kantung mata yang agak menebal sehingga memperparah keadaan dari wajah tersebut tetapi gue tidak terlalu mempedulikannya. Lalu kemudian gue membuka pintu dan melongokkan kepala ke luar kamar untuk melihat ke arah pintu kamar Sita.

Pintu kamarnya masih tertutup rapat, jendelanya belum terbuka dan juga lampu di dalamnya masih belum menyala sehingga membuat gue berasumsi bahwa Sita masih terlelap dengan pulas. Hal ini membuat gue sedikit lega karena gue sedang tidak ingin berdebat dengannya mengenai kejadian hari kemarin. Lalu pada akhirnya gue langsung memutuskan untuk pergi ke kantor sambil dengan mengenakan pantofel yang masih sedikit basah.

***


Berjam-jam kegiatan gue di kantor hanya gue habiskan dengan mengerjakan kerjaan dengan pikiran yang tidak dapat gue fokuskan yang mengakibatkan gue kena omel oleh Gina. "Elu kenapa sih?!" Tanya Gina dengan nada marah kepada gue yang sedang memegang dahi dengan kedua tangan yang bertumpu pada meja. "Kerjaan elu direvisi semua sama gue nih!" Lanjutnya.

Gue memejamkan mata lalu kemudian menggeleng lemah seraya menjawab. "Sorry Gin, sorry... Sorry..."

"Kalo kemaren gue kasih kerjanya kebanyakan, ngomong dong! Bukan jadinya kayak gini! Ah rese lu kerjaan gue bukannya ngurangin malah jadi makin numpuk!" Gerutu Gina lalu kemudian tiba-tiba dia menarik kursinya hingga berada tepat di samping gue. "Elu kenapa sih Baaay?" Ujarnya dengan ramah. "Kalo ada apa-apa, sini cerita sama gue."

Gue melepaskan tangan dari dahi lalu secara perlahan menoleh kepada Gina sambil tersenyum simpul. "Gin, kita berdua emang deket sebagai rekan kerja dan gue sangat berterima kasih karena elu udah mau nawarin bantuan elu. Tapi sorry sebelumnya, bukannya gue ga mau cerita, gue cuman belum bisa cerita tentang masalah ini sama elu..."

"Yah, yaudah deh..." Ujarnya lemah. "Take your time,dan kapanpun gue siap buat denger curhatan elu. Ya?" Tanya Gina dan gue balas dengan sebuah anggukkan kepala. "Terus satu lagi, awas aja kalo kerjaan elu direvisi lagi sama gue!" Ujar Gina dengan ketus sambil mengangkat telunjuknya yang membuat senyuman gue semakin mengembang, lalu kemudian gue mengangguk pelan seiring dengan berjalannya Gina menuju ruangan atasan kami berdua untuk memberikan brief kerjaan hari ini. Setelah Gina meninggalkan gue sendiri di sini, gue kembali memegang dahi dengan kedua tangan dan kemudian gue pun mulai merenung.

Gue bukanlah seseorang yang dapat dengan mudah bercerita mengenai suatu hal kepada orang lain walaupun itu adalah sebuah hal yang dapat dibilang cukup sepele. Gue hanya bisa bercerita tentang kehidupan pribadi gue kepada seseorang yang memang sudah kenal dekat dengan pribadi gue, dan sayangnya Gina bukanlah salah satu dari orang tersebut. Selama ini gue hanya menganggap Gina sebagai rekan kerja saja, tidak lebih.

Sorry, Gin...

***




Hari ini gue harus rela untuk bekerja lembur karena banyak sekali pekerjaan gue yang perlu direvisi dan gue tidak ingin lagi merepotkan Gina yang secara cuma-cuma mau merevisi pekerjaan gue tadi siang. Lalu sekitar pukul 8 malam, gue baru dapat kembali pulang menuju sebuah kamar di lantai dua yang selama setahun belakangan ini gue sebut sebagai 'rumah'.

Gue berjalan menaiki anak tangga menuju lantai dua sambil memegang tas laptop pada tangan kanan sementara lengan kiri gue memeluk setumpuk file kerjaan yang benar-benar membuat kepala gue ingin pecah. Ketika gue berbelok ke kanan, gue mendapati Sita yang sedang duduk di atas bangku plastik di depan kamarnya dengan kedua kaki yang diangkat sambil mengapit sebatang rokok menthol yang menyala pada sela-sela jemari tangan kanannya.

Mungkin karena Sita yang telah menyadari kehadiran gue, dia langsung menoleh seraya berdiri. "Sekarang utang lo nambah lagi Bey." Ujar Sita dari kejauhan. "Elo masih utang rendang telor sama gue dan sekarang elo utang penjelasan tentang kenapa elo tiba-tiba ngediemin gue kemaren." Lanjutnya.

Gue tidak mempedulikan Sita dan hanya terus berjalan menuju pintu kamar kost. Setelah gue membuka kunci dan menyalakan lampu kamar, gue langsung masuk ke dalam lalu menyimpan file kerjaan di atas meja dan menyimpan tas laptop di sudut kamar lainnya sambil disusul oleh Sita yang mengekor di belakang gue.

Gue melepaskan jaket kulit berwarna cokelat terang yang gue kenakan dan menyimpannya pada hanger lalu kemudian menoleh kepada Sita yang kini ternyata sedang duduk berselonjor di atas kasur gue yang agak berantakan. "Mau ngapain sih masuk kesini?" Tanya gue.

Sita menghirup dalam-dalam rokok yang ia pegang, lalu kemudian dia menghembuskan asap putih di udara sambil menjawab pertanyaan gue sebelumnya. "Gue punya waktu semalaman buat ngedenger cerita elo."

Gue mendengus kesal setelah mendengar jawaban Sita seraya duduk di atas lantai dan bersandar pada dinding. "Kalo gitu, gue juga punya waktu semaleman buat making lovesama elo."

Sekonyong-konyong Sita langsung melempar rokoknya keluar kamar, lalu kemudian dia menatap gue dalam-dalam. "Abis elo cerita semuanya..." Omongannya terhenti sebentar, dan tiba-tiba Sita memberikan sebuah senyuman nakalnya pada gue sambil menggigit bibir bawahnya yang membuat Sita semakin terlihat menggoda.

"...do everything that you want, I'm all yours for tonight."



Dirty babe
You see these shackles
Baby I’m your slave
I’ll let you whip me if I misbehave
It’s just that no one makes me feel this way


Justin Timberlake - Sexyback
itkgid
jenggalasunyi
jiyanq
jiyanq dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.