- Beranda
- Stories from the Heart
Sometimes Love Just Ain't Enough
...
TS
jayanagari
Sometimes Love Just Ain't Enough
Halo, gue kembali lagi di Forum Stories From The Heart di Kaskus ini 
Semoga masih ada yang inget sama gue ya
Kali ini gue kembali lagi dengan sebuah cerita yang bukan gue sendiri yang mengalami, melainkan sahabat gue.
Semoga cerita gue ini bisa berkenan di hati para pembaca sekalian

Semoga masih ada yang inget sama gue ya

Kali ini gue kembali lagi dengan sebuah cerita yang bukan gue sendiri yang mengalami, melainkan sahabat gue.
Semoga cerita gue ini bisa berkenan di hati para pembaca sekalian


*note : cerita ini sudah seizin yang bersangkutan.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 24-04-2016 00:40
Dhekazama dan 8 lainnya memberi reputasi
9
421.6K
1.5K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#268
PART 13
Gue menghela napas panjang ketika punggung gue terasa pegal gara-gara terlalu lama duduk tanpa bersandar. Gue meregangkan tubuh dan menarik tangan keatas, untuk melemaskan otot-otot punggung gue yang kaku. Malam itu gue sedang mengerjakan tugas kuliah, kebetulan tugas ditulis tangan dan harus dikumpul besok pagi. Jadilah malam ini gue lembur. Dengan sebatang rokok yang gue jepitkan di jemari tangan kiri, gue berusaha menyelesaikan tugas itu.
Sambil beristirahat sebentar di kasur, pikiran gue melayang ke Fira. Udah beberapa waktu ini gue sama sekali gak berkomunikasi dengannya, dan dia udah gak minta jemput lagi di kosannya. Ada perasaan lega karenanya, tapi juga ada perasaan rindu dan sedih. Mungkin sebagian dari hati gue masih belum terbiasa. Disela-sela pikiran gue tentang Fira itu, mendadak gue teringat sosok Sherly.
Sherly, sosok misterius yang gue kenal dari sebuah kejadian tak terduga. Secara fisik memang dia hanya berjarak beberapa puluh meter dari tempat gue sekarang, tapi gue merasa dia seorang asing yang gak asing lagi bagi gue. Beberapa pertemuan gue dengannya udah cukup membuat satu memori gue tentangnya. Di dalam hati dan pikiran gue telah ada satu tempat untuknya.
Gue melirik jam di handphone, dan waktu menunjukkan pukul 9 malam. Gue berpikir beberapa saat, menimbang-nimbang apa yang akan gue lakukan setelah ini. Kemudian gue bangkit dari kasur, memakai sandal jepit dan berjalan keluar kosan. Gue berjalan ke arah kosan Sherly, hanya sekedar iseng. Bahkan gue sendiri gak habis pikir kenapa gue iseng melakukan itu.
Gue berjalan ke arah kosan Sherly, kemudian berhenti di depan pagar setinggi dada gue sambil memandangi bagian depan kosan bercat krem tersebut. Kosan tersebut lumayan sepi, namun tampak ada beberapa motor parkir di halaman depannya, termasuk motor milik Sherly. Gue menghisap rokok di tangan, sambil tetap memandangi kosan tersebut. Mendadak ada suara di balik bahu gue.
Gue menoleh, dan mendapati sesosok cewek berambut pendek dengan dandanan santai, kaos dan celana pendek berdiri di belakang gue. Di tangannya ada sebungkus belanjaan dari minimarket. Gue kaget dan kemudian mencari alibi sambil tersenyum.
Cewek berambut pendek itupun masuk ke dalam kosan, dan gue menepuk jidat. Mendadak gue menyesali keisengan gue ini, karena ternyata gue jadi ketemu Sherly tanpa direncanakan. Gue gak tau harus beralasan apa nanti ketika udah ketemu Sherly.
Gak lama kemudian gue melihat Sherly keluar dari pintu, dan pandangannya mencari sosok yang diceritakan temannya. Sesaat kemudian dia menemukan gue berdiri di balik pagar. Dia kemudian berjalan mendekati gue sambil tersenyum. Malam itu dia memakai kaos, celana pendek dan berkacamata. Rambutnya yang hitam ikal itu diikat ke belakang.
Gue terdiam dan berpikir, snack apa yang gue cari. Karena aslinya gue keluar murni cuma iseng ke kosan Sherly, tanpa ada tujuan cari snack. Gue bahkan ga bawa dompet waktu itu.
Gue terpaksa jujur sambil meringis tanpa dosa ke Sherly, sementara dia hanya tertawa dengan manis.
Sherly tertawa sambil sedikit menutupi mulutnya. Mendadak gue merasa malu sendiri atas kekonyolan gue barusan. Gue memang harus banyak-banyak belajar mengontrol diri sendiri, pikir gue menyesal.
Sherly berpikir sebentar, sambil menggigit bibirnya dan memainkan rambutnya. Sesaat kemudian dia tersenyum.
Sherly kemudian berlalu ke dalam, mengambil handphone dan dompetnya. Beberapa saat kemudian kami berdua telah berjalan menuju kosan gue, karena dompet gue ketinggalan. Sambil berjalan itu gue menoleh ke Sherly dan bertanya.
Setelah gue sampai di kosan, kemudian mengambil dompet, gue melangkah keluar, menemui Sherly yang menunggu di halaman. Gue kemudian mengajaknya keluar, dan dia berjalan di samping gue. Setelah beberapa jauh, gue tertawa sendiri perlahan, kemudian menunduk sambil tersenyum. Sherly menoleh ke gue dengan heran.
Gue mendongak dan memandangi Sherly sambil tersenyum geli, kemudian menggeleng.
Gue tertawa sendiri karena keisengan gue itu berbuah manis. Siapa sangka tadi gue kepikiran Sherly, 10 menit kemudian gue udah berjalan berdua dengannya? Gue menghela napas dan tersenyum, seandainya tadi gue gak nekat mencari Sherly di kosannya, mungkin sekarang gue masih berangan-angan di kamar kosan.
Kadang-kadang mimpi kita itu hanya ada disamping kita, dan cuma tergantung kita sendiri ingin meraihnya atau enggak.
Gue menghela napas panjang ketika punggung gue terasa pegal gara-gara terlalu lama duduk tanpa bersandar. Gue meregangkan tubuh dan menarik tangan keatas, untuk melemaskan otot-otot punggung gue yang kaku. Malam itu gue sedang mengerjakan tugas kuliah, kebetulan tugas ditulis tangan dan harus dikumpul besok pagi. Jadilah malam ini gue lembur. Dengan sebatang rokok yang gue jepitkan di jemari tangan kiri, gue berusaha menyelesaikan tugas itu.
Sambil beristirahat sebentar di kasur, pikiran gue melayang ke Fira. Udah beberapa waktu ini gue sama sekali gak berkomunikasi dengannya, dan dia udah gak minta jemput lagi di kosannya. Ada perasaan lega karenanya, tapi juga ada perasaan rindu dan sedih. Mungkin sebagian dari hati gue masih belum terbiasa. Disela-sela pikiran gue tentang Fira itu, mendadak gue teringat sosok Sherly.
Sherly, sosok misterius yang gue kenal dari sebuah kejadian tak terduga. Secara fisik memang dia hanya berjarak beberapa puluh meter dari tempat gue sekarang, tapi gue merasa dia seorang asing yang gak asing lagi bagi gue. Beberapa pertemuan gue dengannya udah cukup membuat satu memori gue tentangnya. Di dalam hati dan pikiran gue telah ada satu tempat untuknya.
Gue melirik jam di handphone, dan waktu menunjukkan pukul 9 malam. Gue berpikir beberapa saat, menimbang-nimbang apa yang akan gue lakukan setelah ini. Kemudian gue bangkit dari kasur, memakai sandal jepit dan berjalan keluar kosan. Gue berjalan ke arah kosan Sherly, hanya sekedar iseng. Bahkan gue sendiri gak habis pikir kenapa gue iseng melakukan itu.
Gue berjalan ke arah kosan Sherly, kemudian berhenti di depan pagar setinggi dada gue sambil memandangi bagian depan kosan bercat krem tersebut. Kosan tersebut lumayan sepi, namun tampak ada beberapa motor parkir di halaman depannya, termasuk motor milik Sherly. Gue menghisap rokok di tangan, sambil tetap memandangi kosan tersebut. Mendadak ada suara di balik bahu gue.
Quote:
Gue menoleh, dan mendapati sesosok cewek berambut pendek dengan dandanan santai, kaos dan celana pendek berdiri di belakang gue. Di tangannya ada sebungkus belanjaan dari minimarket. Gue kaget dan kemudian mencari alibi sambil tersenyum.
Quote:
Cewek berambut pendek itupun masuk ke dalam kosan, dan gue menepuk jidat. Mendadak gue menyesali keisengan gue ini, karena ternyata gue jadi ketemu Sherly tanpa direncanakan. Gue gak tau harus beralasan apa nanti ketika udah ketemu Sherly.
Gak lama kemudian gue melihat Sherly keluar dari pintu, dan pandangannya mencari sosok yang diceritakan temannya. Sesaat kemudian dia menemukan gue berdiri di balik pagar. Dia kemudian berjalan mendekati gue sambil tersenyum. Malam itu dia memakai kaos, celana pendek dan berkacamata. Rambutnya yang hitam ikal itu diikat ke belakang.
Quote:
Gue terdiam dan berpikir, snack apa yang gue cari. Karena aslinya gue keluar murni cuma iseng ke kosan Sherly, tanpa ada tujuan cari snack. Gue bahkan ga bawa dompet waktu itu.
Quote:
Gue terpaksa jujur sambil meringis tanpa dosa ke Sherly, sementara dia hanya tertawa dengan manis.
Quote:
Sherly tertawa sambil sedikit menutupi mulutnya. Mendadak gue merasa malu sendiri atas kekonyolan gue barusan. Gue memang harus banyak-banyak belajar mengontrol diri sendiri, pikir gue menyesal.
Quote:
Sherly berpikir sebentar, sambil menggigit bibirnya dan memainkan rambutnya. Sesaat kemudian dia tersenyum.
Quote:
Sherly kemudian berlalu ke dalam, mengambil handphone dan dompetnya. Beberapa saat kemudian kami berdua telah berjalan menuju kosan gue, karena dompet gue ketinggalan. Sambil berjalan itu gue menoleh ke Sherly dan bertanya.
Quote:
Setelah gue sampai di kosan, kemudian mengambil dompet, gue melangkah keluar, menemui Sherly yang menunggu di halaman. Gue kemudian mengajaknya keluar, dan dia berjalan di samping gue. Setelah beberapa jauh, gue tertawa sendiri perlahan, kemudian menunduk sambil tersenyum. Sherly menoleh ke gue dengan heran.
Quote:
Gue mendongak dan memandangi Sherly sambil tersenyum geli, kemudian menggeleng.
Quote:
Gue tertawa sendiri karena keisengan gue itu berbuah manis. Siapa sangka tadi gue kepikiran Sherly, 10 menit kemudian gue udah berjalan berdua dengannya? Gue menghela napas dan tersenyum, seandainya tadi gue gak nekat mencari Sherly di kosannya, mungkin sekarang gue masih berangan-angan di kamar kosan.
Kadang-kadang mimpi kita itu hanya ada disamping kita, dan cuma tergantung kita sendiri ingin meraihnya atau enggak.
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4
: mau cari siapa ya?
: ooh temennya Sherly?
: beneran cuma itu?
: gak tau cari snack apaan, dompet aku aja ketinggalan di kosan. jadi kayaknya abis ini aku balik lagi ke kosan ambil dompet....
: udah makan?
: menurut kamu aku mau apa enggak kalo udah jalan keluar gini? hahahaha...