Kaskus

Story

karnaufalAvatar border
TS
karnaufal
One More Hour
One More Hour







Cerita ini kupersembahkan untukmu.
Hanya untuk dirimu.


Much Love,

-B-


emoticon-Matahari
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 477 suara
Siapakah yang akan menjadi pasangan hidup Bayu?
Muthia
6%
Sita
28%
Alexy
54%
Wanita lain selain pilihan-pilihan di atas
12%
umbhelijo35Avatar border
pavideanAvatar border
yukidiaz23Avatar border
yukidiaz23 dan 70 lainnya memberi reputasi
67
1.6M
6.1K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.5KAnggota
Tampilkan semua post
karnaufalAvatar border
TS
karnaufal
#284
13.
Uh, Alas!
kaskus-image



"Hallo Muthia." Gue membalas sapaan serta senyumannya. Untuk sesaat, gue agak pangling dengan penampilan Muthia yang seperti ini. Penampilannya sangatlah berbeda jauh dengan apa yang sering gue lihat seperti keseharian kami berdua di Padang dulu. Muthia yang dulu selalu terlihat santai dan berpenampilan seperti seorang mahasiswi semester pertengahan, kini telah bertransformasi sedemikian rupa hingga menjadi seseorang yang berpenampilan layaknya seorang wanita karir. Kemeja putih yang dibalut dengan blazer berwarna biru beserta scarf batik yang melingkar pada kerahnya telah memberikan kesan yang sederhana namun tetap terlihat elegan bagi gue. Rambut hitam panjangnya yang bergelombang itu, juga tergerai dengan rapi di depan dadanya sehingga penampilan Muthia sangatlah menawan sekali. "Duduk dulu Mut, duduk..." Ujar gue dengan semangat.

"Hehe, iya." Muthia memposisikan diri untuk duduk di seberang meja dan gue langsung memindahkan laptop agar kami berdua bisa saling bertatapan secara leluasa.

"Sering main kesini juga?" Tanya gue kepada Muthia setelah dia menyimpan tas miliknya di atas meja, tepat di samping laptop gue.

Muthia menggeleng sambil sedikit memainkan bibirnya yang terlihat lebih menggoda, karena pada saat ini Muthia telah memakai lipstick berwarna krem yang glossy dan juga wajahnya terlihat lebih cantik berkali-kali lipat karena diberi polesan make up yang sesuai dengan wajahnya yang putih. "Enggak kok. Aku kebetulan lagi ada di sini gara-gara udah janjian."

"Ooh." Gue manggut-manggut sambil menopang dagu dengan kedua punggung tangan. "Tapi kok bisa nemu aku di sini?"

"Orang yang aku tunggu tuh kan belom dateng, jadinya aku muter-muter dulu buat liat-liat baju. Terus pas aku lewat sini, eh ternyata aku ngeliat kamu di dalem, jadi aja aku masuk kesini buat nyamperin kamu. Gituuu..." Ujar Muthia panjang lebar. "Eh, Bay, bentar ya aku mau pesen makanan dulu."

Gue mengangguk sambil membenarkan posisi duduk. "Oke."

Muthia memundurkan kursinya ke belakang, lalu kemudian dia berdiri dan langsung berjalan menuju kasir untuk memesan makanan sementara gue mencoba untuk kembali berhadapan dengan laptop dan sesekali mencomot kentang goreng yang masih tersisa sambil menunggu Muthia. Setelah berkali-kali mencoba untuk memfokuskan pikiran pada kerjaan yang sangat menumpuk, entah kenapa, pikiran gue selalumentok kepada seorang gadis yang kini sedang mengantri makanan pada kasir dan pada akhirnya mood gue untuk bekerja pun menjadi hilang seketika. Gue langsung memutuskan untuk mematikan laptop dan memasukannya ke dalam tas, lalu kemudian disusul dengan Muthia yang kembali bersama makanan pesanannya.

***


Muthia telah selesai memakan makanannya beberapa saat yang lalu dan menyisakan beberapa sampah bekas makanan serta kentang goreng yang sudah mulai mendingin. Tidak ada yang berbicara sama sekali diantara kami berdua, hanya terdengar obrolan samar-samar dari orang-orang yang berada di sekeliling kami. Lalu pada akhirnya gue mencoba untuk membuka topik obrolan setelah gue teringat akan perkataan Mike bahwa gue harus terus menjaga komunikasi dengan Muthia.

"Gimana kerjaan hari ini?"

Muthia mengambil gelas dan menyedot isinya, lalu kemudian menghela nafas pelan. "Yah gitu-gitu aja Bay, masih sama kayak waktu sebelum kita pergi ke Padang. Bikin bosen. Terus kerjaan kamu sendiri gimana?"

"Aku?" Gue bertanya kepadanya dan Muthia langsung memberi anggukan kepala. "Wah numpuk semua!" Ujar gue sambil terkekeh. "Puyeng lah ngerjainnya juga hahaha."

Handphone Muthia yang disimpan di atas meja tiba-tiba bergetar dan menampilkan sebuah panggilan masuk pada layarnya. Muthia mengelap tangannya yang agak basah dengan menggunakan tissue, lalu kemudian dia mengangkat telepon seraya mengangkat telapak tangannya ke arah gue yang artinya kurang lebih menyuruh gue untuk menunggu, gue pun mengangguk.

Sambil menunggu Muthia berurusan dengan teleponnya, gue juga melakukan hal yang sama dengan Muthia. Gue mengambil handphone dari saku celana dan melihat notifikasinya yang ternyata ada beberapa notifikasi chat yang masuk. Gue pun membuka satu persatu chat tersebut, dan kemudian gue melihat ada sebuah chat dari Sita.

"Ada dimana sih? Gue laper nih. Oiya, di kosan ujan guede."

Kedua ibu jari sudah gue letakan di atas keypad dan hendak membalas chat Sita, sebelum pada akhirnya pikiran gue teralihkan ketika suara Muthia terdengar lebih nyaring dari sebelumnya sehingga gue mendongak dan memperhatikan Muthia yang sedang mengobrol pada telepon.

"Aku udah di sini dari tadi, sekarang lagi makan di mekdi. Kamu dimana?"

"..."

"Enggak sendiri kok, aku lagi berdua sama temen."

"..."

"Oke deh, aku tunggu ya. See you." Ujar Muthia yang sekaligus mengakhiri panggilan telepon tersebut. Lalu setelah itu, Muthia kembali meletakkan handphonenya di atas meja dan kembali menatap gue yang langsung membuat gue salah tingkah.

Gue menundukkan kepala, berpura-pura memainkan handphone sambil mencoba membuka kembali sebuah topik pembicaraan untuk menutupi kegugupan gue. "Tadi aku di chat sama temen, katanya sekarang tuh lagi ujan di luar."

Setelah gue berkata seperti itu, Muthia menyandarkan punggungnya pada kursi dengan lesu. "Yah pantesan aja lama, ternyata di luar lagi ujan."

"Udah ga sabar pengen ketemu ya?"

"Hehehe iya, aku udah ga sabar pengen ketemu dia nih."

Tidak selang beberapa lama, Muthia menengokkan kepalanya ke arah jendela dan dia langsung melambaikan sebelah tangannya seraya menyunggingkan sebuah senyuman yang lebar. Kelakuan Muthia itu membuat gue penasaran akan seseorang yang disapa olehnya, lalu kemudian gue menoleh ke arah dimana Muthia menatap. Di luar sana terlihat ada seorang laki-laki berpenampilan necis yang membalas lambaian tangan Muthia dan senyumannya juga tidak kalah lebar dengan senyuman Muthia.

Kedua mata Muthia sama sekali tidak berkedip. Bola mata Muthia yang putih bersih itu bergerak seirama, mengikuti langkah kaki dari laki-laki tersebut yang kini sedang berjalan kemari, sebelum pada akhirnya dia berdiri tepat di samping meja kami berdua. "Hallo sayang." Muthia menyapa hangat laki-laki tersebut sambil memberikan sebuah senyuman yang lebih lebar dari sebelumnya.

Dan seketika, deg!Jantung gue mencelos saat mengetahui kenyataan yang sangat menyakitkan ini.

"Hallo juga sayang." Laki-laki tersebut membalas sapaan Muthia dan dia langsung duduk di samping Muthia, lalu kemudian dia menoleh kepada gue sambil tersenyum. "Temennya Muthia ya?"

"Eh..." Jawab gue dengan kikuk, lalu gue memberikan sebuah senyuman kecut yang tersungging pada bibir gue seraya menjawabnya. "Hehe, iya mas..."

"Bay, kenalin nih cowok aku." Ujar Muthia dengan sumringah.

Lalu kemudian cowok yang sedang duduk di samping Muthia di seberang meja gue itu, dia langsung menjulurkan tangannya kepada gue. "Kenalin mas, Frandias, pacarnya Muthia."

Setelah mendengarnya, hati gue merasakan sakit yang amat sangat.

Lalu kemudian hati gue remuk.

Hancur.

Dan habis tak bersisa.




And I just can’t look its killing me
And taking control

Jealousy, turning saints into the sea
Swimming through sick lullabies
Choking on your alibis

But it’s just the price I pay
Destiny is calling me
Open up my eager eyes
‘Cause I’m Mr. Brightside


The Killers - Mr. Brightside

emoticon-breakheart
jenggalasunyi
jiyanq
pavidean
pavidean dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.