Kaskus

Story

karnaufalAvatar border
TS
karnaufal
One More Hour
One More Hour







Cerita ini kupersembahkan untukmu.
Hanya untuk dirimu.


Much Love,

-B-


emoticon-Matahari
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 477 suara
Siapakah yang akan menjadi pasangan hidup Bayu?
Muthia
6%
Sita
28%
Alexy
54%
Wanita lain selain pilihan-pilihan di atas
12%
fawaid113Avatar border
umbhelijo35Avatar border
pavideanAvatar border
pavidean dan 69 lainnya memberi reputasi
66
1.6M
6.1K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Tampilkan semua post
karnaufalAvatar border
TS
karnaufal
#271
12.
Beautiful Coincidence
kaskus-image



Hari Senin pagi ini gue telah kembali berhadapan dengan rutinitas harian yang sangat membosankan sekali. Bangun subuh-subuh, shalat, mandi, sarapan, menahan emosi sambil bergelut melawan kemacetan agar bisa sampai di kantor tepat pada waktunya, lalu gue harus langsung bekerja hingga sang mentari menghilang di ujung senja, dan proses tersebut pastikembali lagi menuju fase awal dimana gue harus bangun subuh-subuh. Ya beginilah hidup gue. Kalo menurut bahasa gaul anak IT sih, kehidupan gue itu disebut dengan looping. Berputar pada sebuah lingkaran yang tak berkesudahan.

Kadang-kadang gue juga sering merasa jenuh dengan kehidupan serta pekerjaan yang seperti ini. Sebuah pekerjaan yang harus selalu menuntut gue untuk terus berhadapan dengan komputer selama hampir delapan jam penuh dalam sehari. Namun mau bagaimana lagi? Ini merupakan konsekuensi gue ketika menandatangani persetujuan mengenai pekerjaan ini, ini merupakan kewajiban yang harus gue laksanakan, ini merupakan sumber penghidupan sehari-hari gue, dan ini juga merupakan sumber biaya tambahan bagi adik perempuan gue yang sedang berkuliah di salah satu universitas swasta yang cukup terkenal di Kota Kembang.

Ting!

Bunyi denting lift terdengar pada telinga dan sedetik kemudian pintunya terbuka. Gue beserta beberapa orang lainnya langsung keluar dan berpisah menuju meja kerjanya masing-masing. Gue berjalan menuju meja kerja sambil sesekali menjawab pertanyaan dari rekan-rekan kantor yang kebanyakan dari mereka hanya bertanya mengenai kabar gue karena beberapa hari kebelakang gue tidak berada disini.

"Oleh-oleh gue mana Bay?" Ujar Gina dengan berapi-api ketika gue baru saja sampai pada meja kerja dan gue hanya memberikan sebuah gelengan kepala untuknya. Lalu setelah itu, sekonyong-konyong Gina langsung manyun sambil ngedumel. "Ah elu mah Bay pesenan gue ga dibawain. Jahat lu ah, parah!"

Gue menyimpan tas, duduk bersandar pada kursi dan memutarnya ke belakang hingga kami berdua saling berhadapan. "Eh mbak, gue kan disana bukan jalan-jalan. Uda sukuuur gue diongkosin pulang pergi sama dapet tempat tinggal gratis. Ya ga mungkin lah kalo gue tiba-tiba beli oleh-oleh buat elu atau anak-anak lainnya. Tapi kalo gue kesana buat liburan, mungkin ceritanya bakal lain."

Lalu kemudian Gina pun memasang wajah polosnya, mencondongkan badannya yang bulet ke ke depan seraya bertanya. "Emangnya kalo liburan, elu bakal ngasih gue oleh-oleh?"

Gue nyengir kuda sambil menggeleng. "Enggak."

"..."

Setelah gue berkata seperti itu, Gina tiba-tiba menjadi dingin kepada gue.


Seharian penuh.

***


Enggak di mall, enggak di kantor. Gue sangat menyayangkan sekali tentang keberadaan mushala yang serasa 'di anak tirikan' oleh para pemilik mall atau kantor tersebut. Mushala di kantor gue ini berukuran kecil, dan bahkan dapat dibilang sangatkecil sekali untuk ukuran sebuah gedung berlantai enam sehingga banyak dari rekan-rekan gue yang lebih memilih untuk shalat di masjid terdekat dibandingkan dengan mushala kantor. Namun karena alasan penghematan waktu, gue lebih memilih untuk shalat di mushala kecil ini.

Setelah menunaikan ibadah shalat dzuhur, gue berleha-leha sejenak sambil duduk bersandar pada dinding dan menikmati sensasi dingin dari air wudhu yang masih tersisa pada wajah dan lengan. Saat melihat pada jam di tangan, ternyata gue masih memiliki waktu sekitar 10 menit lagi sebelum kembali bekerja. Oleh karena itu, gue mencoba untuk memejamkan mata sebentar dan menghirup udara dalam-dalam, sebelum pada akhirnya gue menyadari kehadiran seseorang di sekitar gue dan gue menoleh kepada orang tersebut.

Terlihat Lia sedang membungkuk, memeluk mukena pada lengan kiri dan tangan kanannya mencoba untuk melepas high heels pada kakinya yang jenjang. Tidak biasanya Lia shalat di mushala, gue pun langsung bangkit berdiri dan menghampirinya karena semenjak hari Senin kemarin gue sama sekali belum bertemu dengannya.

"Mbak Lia." Sapa gue. "Tumben shalat disini."

"Eh, mas Bayu. Iya tadi saya makan siangnya telat jadi saya ga keburu buat shalat ke masjid." Ujarnya. "Gimana waktu di Padang kemaren? Lancar?"

Gue tersenyum seraya mengangguk pelan. "Alhamdulillah lancar, hampir ga ada kendala sama sekali mbak. Oh iya, ada salam dari pak Rhomi."

"Hmmm, pak Rhomi ya... Udah lama saya ga ketemu sama beliau." Lia tersenyum. "Gimana kabar Muthia selama disana? Dia ga kenapa-napa kan?"

"Enggak kok, dia ga kenapa-napa." Gue menggeleng "Emangnya Muthia tuh kenapa mbak sampe ga boleh cape? Sakit ya?"

"Setahu saya, Muthia itu punya penyakit darah rendah jadi dia ga boleh terlalu cape."

"Ooh pantes." Gue membulatkan bibir, memaklumi kejadian dimana Muthia mengeluh pusing sewaktu berada di Padang beberapa hari yang lalu.

Lia pun mengkerutkan keningnya setelah gue menjawab seperti itu lalu kemudian Lia bertanya. "Pantes kenapa?"

"Eh, enggak kok mbak. Enggak..." Jawab gue dengan kikuk sambil memberikan gesture tangan dan gelengan kepala.

"Oh iya kerjaan kamu kan banyak yang dibackup sama Gina selama kamu pergi ke Padang, nah sekarang coba kamu bantu-bantu dia deh. Kasian kerjaan dia jadi double."

"Oke deh mbak."

"Yaudah ya saya mau shalat dulu, keburu masuk lagi."

"Oke, mari mbak saya duluan." Gue pun langsung pergi meninggalkan Lia di mushala dan kembali menuju meja kerja.

***


Sore harinya dan setelah diberi beberapa pekerjaan tambahan dari Gina, akhirnya gue dapat pergi meninggalkan kantor. Setelah menimang-nimang sebentar, gue memutuskan untuk pergi menuju sebuah restoran fast food yang terletak tidak terlalu jauh dari kantor dan berniat untuk mencicil pekerjaan yang menumpuk di tempat tersebut sambil makan malam.

Saat gue sedang berjalan dari basement menuju restoran yang gue tuju, tiba-tiba handphone di saku celana gue bergetar. Gue mengambilnya dan melihat bahwa ada sebuah panggilan masuk yang berasal dari Sita. Tanpa pikir panjang lagi, gue langsung menerima panggilannya.

"Ya? Halo? Kenapa Sit?"

"Bey, lagi dimana? Masih di kantor ga?"

"Lagi di luar, mau ke mekdi nih. Kenapa?"

"Wah kebetulan, gue nitip makanan dong!"

"Yeee dikirain ada apaan. Kenapa ga beli di luar aja sendiri sih?"

"Aaah males gue keluar jam segini mah."

"Yaudah, lo mau apa?"

"Terserah deh apa aja. Tapi gue lagi ingin burger. Dua yak."

"..." Gue langsung mematung sejenak dan menggelengkan kepala. Bingung. Gue tidak mungkin salah dengar bahwa Sita telah berkata 'terserah', namun sesaat kemudian dia langsung berkata yang sebaliknya. Jadi, apa maksud dari kata 'terserah' yang dilontarkan oleh Sita?

"Halo? Bey?"

"Iya, iya. Gue beliin. Udah ya, gue mau masuk ke mekdi dulu."

"Okeee, makasih Bey!"

Klik!Telfon gue matikan secara sepihak dan gue langsung masuk ke dalam restoran tersebut. Di dalam sini ternyata sudah cukup ramai karena diisi oleh orang-orang yang juga sepertinya baru pulang kerja, sama seperti gue yang masih lengkap menggunakan pantofel hitam mengkilap, celana bahan, dan juga kemeja berwarna biru tua beserta tas laptop yang gue jinjing pada tangan kiri.

Gue tidak langsung membeli makanan pesanan Sita melainkan hanya membeli makanan bagi gue sendiri dan baru akan membelinya ketika hendak pulang nanti. Setelah gue selesai memesan makanan, gue celinguk kanan dan kiri untuk mencari spot yang kosong sambil membawa baki pada kedua tangan, lalu kemudian berjalan menuju sebuah meja yang terletak dekat dengan kaca.

Mungkin hanya membutuhkan waktu lima hingga sepuluh menit saja bagi gue untuk menghabiskan seluruh makanan yang tersaji. Setelah itu, gue bangkit berdiri menuju wastafel untuk mencuci tangan sebelum pada akhirnya mulai bekerja bersama laptop. Saat gue sedang serius menatap layar monitor tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pelan pundak gue. Tepukan pelan pada pundak gue tersebut seketika membuat konsentrasi gue buyar dan gue langsung menoleh ke arah seseorang yang menepuk pundak gue tersebut, yang membuat gue terhenyak kaget.

Dia sedang berdiri di samping meja gue, berdiri sambil menyunginggkan sebuah senyuman manis miliknya yang selalu gue rindukan setiap malam sebelum gue terbang menuju alam mimpi. Ketika dia tersenyum, entah kenapa, gue selalu merasa bahwa kedua mata indahnya juga ikut tersenyum dan kemudian dia langsung memberikan sapaan hangatnya pada gue. "Hallo, Bayu."

Ah... Suara yang dikeluarkan olehnya sangatlah terdengar lembut sekali pada telinga gue. Lalu yang terakhir, sapaannya pada sore hari ini telah sukses membuat bibir gue tersenyum bahagia seolah-olah gue baru saja menemukan sesuatu yang sangat berharga, dan kini sesuatu yang sangat berharga tersebut sedang berdiri tepat di depan gue.

"Hallo, Muthia."




The Piano Guys - Home
jenggalasunyi
jiyanq
pavidean
pavidean dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.