Kaskus

Story

ovallenAvatar border
TS
ovallen
SEKOLAH, SAHABAT DAN CERITA DI DALAMNYA
Namaku Valen Alexander. Panggil saja Valen. Sebenarnya masih ada satu kata lagi di namaku yang tidak ingin aku sebutkan, sebuah nama marga. Aku anak pertama dari dua bersaudara. Nyokab seorang desain interior, Bokap mengurus perusahaannya sendiri. Adikku, bersekolah sama sepertiku.

Aku tidak bersekolah secara formal, tetapi mengikuti program homeschooling. Sebenarnya aku tidak ingin mengikuti cara belajar seperti itu. Tapi, bokap-lah yang mempunyai kewenangan penuh atas pendidikanku. Di umur ku yang ke-10 aku sudah mendapat ijazah setingkat SMP. Masih bocah? Tentu.

Sebentar.

Aku ingin bercerita tentang masa-masa SMA. Masa-masa yang katanya indah itu. Masa dimana aku pertama kali mengenal kata-kata kotor, umpatan dan makian. Masa dimana aku berkelahi dan menjadi sok jagoan demi mempertahankan harga diri. Tapi aku tidak tau, harga diri seperti apa.

Aku bukan seorang penulis atau sastrawan. Apalagi sarjana di bidang bahasa. Jika kalian tidak siap, silahkan tutup tab browser ini, tidak ada yang melarang.

Inilah kisahku, kisahku sendiri..




Quote:


Quote:
Diubah oleh ovallen 11-12-2015 17:56
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
5.5K
59
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.5KAnggota
Tampilkan semua post
ovallenAvatar border
TS
ovallen
#1
01

Aku mengeluarkan sweater dari dalam tas, lalu mengenakannya di badan. Suhu di Stasiun Lempuyangan kini makin dingin. Aku melirik jam di pergelangan tanganku dengan gelisah, entah kapan aku bisa melanjutkan perjalanan setelah setengah jam transit di stasiun ini.

Pertengkaranku dengan bokap masih terbayang jelas di pikiranku. Bahkan aku masih mengingat semua kejadiannya. Aku mengalihkan pikiranku dengan membaca sebuah ensiklopedia yang kubawa dari rumah. Aku memang suka membaca ensiklopedia, bahkan di rumah ada satu buah rak buku besar berisi ensiklopedia. Lengkap. Kecuali ensiklopedia matematika yang tak akan aku tambah koleksinya lagi, sejak aku mempelajari matematika SMA.

Menurutku, pelajaran matematika dasar sudah cukup untuk bekal masa depan. Tak perlu aku bersusah payah mempelajari logaritma atau integral yang tak kuketahui kegunaannya di masa depanku. Itu pendapatku. Mungkin akan berbeda menurut orang lain.

Aku berhenti ketika mendengar sebuah pengumuman. Kereta yang menuju Malang akan segera berangkat. Aku memasukkan ensiklopedia kedalam tas dan menggendongnya memasuki kereta. Dengan sedikit berdesakan di pintu masuk, aku akhirnya menemukan tempat duduk. Aku melihat kemabali jam di pergelangan tanganku. Pukul 1 pagi. Aku mengambil nafas panjang dan mulai menutup mata.

***

Aku terbangun ketika seorang penumpang di sebelah membangunkanku. Menanyakan apakah aku turun di Malang. Aku hanya mengangguk pelan. Dia kemudian mengatakan kalau sebentar lagi akan tiba di Malang. Aku bergegas mengambil ponsel di saku celanaku. Sial. Aku lupa kalau baterainya sudah habis waktu di Jogya. Aku mendengus kesal, sampai orang di samping bertanya kepadaku.

“Ada apa dik ?” Tanya penumpang itu sambil menurunkan tasnya bersiap untuk turun dari kereta.

“Gak ada apa-apa pak.” Aku berkata seolah tidak terjadi apa-apa kepadaku. Padahal sebuah masalah besar sedang menimpaku.

Kereta benar-benar berhenti di stasiun tujuan akhir. Aku turun paling terakhir dari kereta. Aku mulai panik, tak mengerti kemana harus pergi selanjutnya. Seandainya baterai ponselku masih ada, aku akan menghubungi seseorang yang bisa menolongku.

Hanya sebuah buku catatan yang bisa kuandalkan sekarang ini. Sebuah alamat rumah yang berisi blok dan nomor rumah. Aku berfikir keras, menggunakan semua ingatanku. Kemudian aku mendatangi penumpang yang duduk di sebelahku tadi. Menanyakan apakah dia orang asli Malang. Dia mengangguk. Kemudian aku bertanya lagi bagaimana cara menuju ke SMA xxxx.

“Kebetulan jalan rumah saya sejalan dengan SMA itu. Kalau adik mau, bisa ikut sama saya. Saya janji gak akan berbuat jahat.” Ujar penumpang tadi.

Aku mengkor di belakangnya, menuju sebuah parkiran mobil yang tak jauh dari stasiun. Sebuah mobil MPV berwarna hitam menghentikan langkahku. Selama perjalanan ke parkiran aku berkenalan dengan Pak Dodi.

Pak Dodi kemudian membuka pintu mobilnya, di ikuti denganku yang duduk di sebelahnya. Tak berselang lama, mobil akhirnya melaju dengan mulusnya. Salam di perjalanan aku lebih banyak berbincang dengan Pak Dodi. Aku menceritakan kalau baterai ponselku habis, dan satu-satunya harapan yang aku punya hanya menunggu seseorang pulang dari sekolahnya. Aku juga menceritakan sedikit pertengkaranku dengan bokap.

Entah merasa iba atau apa, Pak Dodi menawariku untuk menginap di rumahnya. Atau mampir sebentar di rumahnya sembari aku mengisi daya bateraiku yang habis dan mengantarkan ke tujuanku. Pak Dodi memang orang baik, aku tidak berprasangka buruk sama sekali tentangnya. Walaupun bokap selalu menyuruhku untuk selalu berhati-hati terhadap orang asing.

Pak Dodi juga mengajakku ke sebuah tempat makan, sambil menunggu jam pulang sekolah. Aku menuruti saja, perutku juga sudah lapar, tidak terisi sejak kemarin sore. Hanya beberapa lembar roti yang aku bawa seadanya dari rumah. Ya, aku benar-benar kabur dari rumah, itu lebih tepat menggambarkanku saat itu.

***

Selesai dengan acara makan dengan Pak Dodi, akhirnya kami menuju ke sebuah sekolah. Sebuah sekolah yang sangat indah menurutku. Aku duduk di dalam mobil dengan pak Dodi, menunggu 15 menit sebelum bel akhir pelajaran. 15 menit itu terasa lama buatku, aku mulai berfikir bagaimana jika seseorang yang kutunggu tidak masuk sekolah.

Bel sekolah berbunyi dengan sangat keras. Suara sepatu yang di hentakkan dengan cepat terdengar sangat jelas di balik mobil ini. Aku mulai mengamati semua siswa yang keluar dari gerbang. Cukup banyak yang keluar secara bergerombol. 10 menit sudah aku mengawasi semua murid yang keluar dari sekolah. Tak ada satupun orang yang aku cari menampakkan dirinya.

Aku semakin gusar.

Aku meminta Pak Dodi mengantarkan ke sebuah hotel, aku tidak enak jika merepotkan Pak Dodi terus. Pak Dodi terus meyakinkan aku kalau dia tidak merasa di repotkan sama sekali. Tapi aku terus menolak permintaanya, dengan alasan yang masuk akal bagiku. Sudah cukup Pak Dodi membelikanku makanan tadi siang, aku tidak ingin lebih merepotkannya.

Pak Dodi menyalakan mobilnya, bersiap untuk mencari penginapan untukku. Aku memandangi keluar jendela. Mataku menatap nanar gerbang sekolah itu dengan pikiran kosong. Tak ada harapan.
Diubah oleh ovallen 15-10-2015 20:13
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.