Jeritan Malam (ketika keindahan menjadi sebuah ketakutan)
TS
meta.morfosis
Jeritan Malam (ketika keindahan menjadi sebuah ketakutan)
pernahkan agan merinding disuatu tempat, merasakan kehadiran seseorang yang menurut agan hanya merupakan permainan imajinasi otak belaka dan ketika sebuah karunia datang untuk memberikan agan sebuah kesempatan untuk melihat sekilas apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan semua fenomena tersebut, apakah anda akan tetap tersenyum dengan logika dan keyakinan bahwa semua hanya imajinasi otak atau berteriak dan berharap agar mata ini tetap terpejam dan semua itu hanyalah sebuah mimpi ane akan bercerita sebuah kisah yang mungkin akan merubah cara pandang agan tentang semua kejadian yang pernah menimpa agan, ketika agan membaca dan bertanya apakah ini real story ? semua kembali kepada agan untuk menilai apakah ini sebuah fiksi belaka atau real story, selamat menikmati semoga sebuah sensasi akan menemani agan dalam gelapnya malam Mohon para reader yang masih dibawah umur agar bisa memilah antara yang baik dan buruk di cerita ini, ambil yang baik dan bermanfaat..jauhi yang buruk dan menyesatkan Waktu Update : Penulis adalah seorang pekerja yang akan selalu menulis disela sela waktu luangnya, jadi untuk update bisa dilakukan kapan saja entah itu malam, pagi ataupun siang, jadi tidak ada istilah mengulur ulur waktu Peraturan membaca di thread ini : Hargai hasil karya penulis, karena menulis adalah suatu hoby dimana penulis membutuhkan pembaca dan pembaca memberikan apresiasi/kritik/masukan sebagai bentuk penghargaan karya penulis
Jangan menjiplak/mengakui hasil karya penulis, ketika ingin copy paste ke thread atau blog lain biasakan etika untuk meminta izin dan mencantumkan sumber penulisan
Penulis berharap kepada para reader untuk tidak terpengaruh atau berusaha membalas apabila ada komentar reader negatif yang berusaha membuat rusuh atau mencari sensasi karena komentar balasan adalah motivasi mereka menjadi reader negatif Line Id : meta.morfosis untuk update harap bersabar gan
Spoiler for Prologue:
Menjadi manusia normal adalah sebuah impian setiap manusia, tapi apa jadinya ketika sebuah kejadian yang menimpa anda membuat semuanya menjadi sebuah mimpi buruk, saat waktu2 yang terasa indah untuk dinikmati kini menjadi sebuah kecemasan, saat tempat tempat terindah yang kita kunjungi kini menjadi sebuah pemandangan yang penuh dengan rasa ketakutan.
Nama gw reza, gw merupakan lulusan salah satu perguruan negeri ternama disalah satu universitas negeri di Jakarta, sebuah kampus yang berada dalam suatu lingkungan asri dengan pohon pohon besar disekitarnya bahkan hampir mirip disebut dengan sebutan hutan kota, gw menyelesaikan pendidikan SI dalam waktu yang normal, dengan predikat yang lumayan hingga akhirnya sebuah panggilan kerja mengantarkan kaki gw untuk berlabuh disalah satu kota di jawa timur.
Semua terasa begitu indah, begitu sempurna, bisa dibilang yang maha kuasa memudahkan semua langkah kehidupan gw, orang tua gw yang semula tidak menyetujui gw untuk pindah kota, akhirnya menyetujuinya, walaupun dengan resiko mereka kini harus tinggal hanya berdua saja di kota bogor yang tenang. Sebenarnya orang tua gw khususnya bokap gw menginginkan agar gw bekerja di Jakarta atau setidaknya meneruskan usaha yang sudah dirintisnya selama ini, berbagai macam argumen telah mereka keluarkan untuk menggagalkan keinginan gue untuk meninggalkan Jakarta, terutama alasan umur mereka yang sudah tua, berat rasanya meninggalkan mereka bila mengingat semua alasan itu, tapi keinginan untuk mandiri membuat gw bisa mengalahkan semua rasa tidak tega itu.
Tapi semua keindahan rangkuman perjalan hidup gw kini berubah secara drastis, seiring langkah kaki gw menaiki sebuah kereta yang mengantarkan gw menuju sebuah kota di jawa timur. Sebuah kereta yang menjadi awal dimulainya rentetan kejadian yang merubah perjalanan hidup gw….
Dan percayalah ketika gw menuliskan ini semua, gw tercekam dalam rasa ketakutan, rangkaian kata yang gw tulis dengan menjentikan jari dalam barisan huruf di keyboard tidak lepas dari tatapan mata mereka, gw hanya berharap semoga malam cepat berlalu berganti menjadi siang.
Spoiler for Chapter 1 ( sebuah kabar indah tentang masa depan ):
Juli 2007, Irama langkah kaki gw bergegas cepat meninggalkan sebuah toko buku dan menuju ke stasiun kereta, kebetulan hari ini sehabis berkunjung kerumah seorang teman, gw mampir ke sebuah toko buku untuk membeli beberapa buah buku yang gw butuhkan untuk sekedar menjadi bahan bacaan peneman hari hari gw setelah lulus kuliah, disaat kesibukan mata gw mencari cari buku yang mungkin bisa menjadi bahan bacaan gw, sebuah panggilan telepon masuk, ya sebuah panggilan yang sama sekali tidak terduga dan akan menjadi awal hidup gw memasuki dunia kerja
“ hallo selamat siang, dengan bapak reza ” sebuah kalimat pembuka pembicaraan di telepon terdengar dari seorang wanita
“ benar mba, kalau boleh tau saya bicara dengan siapa ?”
“ saya indri pak, kami dari perusahaan PT. XXXXX, meminta bapak untuk hadir ke perusahaan kami untuk mengikuti proses seleksi penerimaan kerja ”
Sebuah kabar yang bagus, tapi kembali gw berpikir dan mencoba mengingat kembali surat surat lamaran yang pernah gw kirimkan, ingatan gw masih bisa mengingat perusahaan2 yang pernah gw layangkan surat lamaran kerja, dan menurut gw perusahaan ini tidak termasuk didalam daftar perusahaan yang masuk dalamlist surat lamaran kerja yang gw layangkan
“ aneh, ah masa bodo, yang penting gw jalanin aja dulu ” gumam gw, hingga akhirnya gw tertidur dikursi kereta yang mengantarkan gw ke stasiun bogor
“ wah tumben sudah rapih pagi pagi za ” tegur mamah ketika melihat gw yang sudah rapih dan mencoba menyiapkan sarapan sendiri
“ iya mah, hari ini ada panggilan kerja ”
“ Alhamdulillah za, cepat juga kamu dapat panggilan semoga diterima za ” terlihat mamah tersenyum dibalik kata katanya yang mengandung doa
“ diantar mang iwan aja za, biar tidak telat ” ucap bapak yang rupanya mencuri dengar pembicaraan kami, mang iwan merupakan supir yang bekerja dikeluarga kami
“ haduhh jangan pak, biar reza sendiri aja sekalian biar tau jalan ” jawab gw menolak tawaran itu
Setelah menyelesaikan sarapan dan pamit, segera gw pergi menuju perusahaan tempat gw akan melakukan tes pekerjaan, jam masih menunjukan pukul 7.30 sedangkan jadwal interview yang akan gw lakukan pukul 11, jadi cukuplah waktu tempuh yang akan gw habiskan untuk menuju perusahaan tersebut, dan kereta menjadi salah satu pilihan gw untuk mempersingkat jarak tempuh itu,tepat jam 10 kurang 15 akhirnya gw tiba di perusahaan tersebut, sebuah lokasi perusahaan yang terletak di Jakarta selatan
Setelah menuju ke bagian resepsionis dan memberitahukan maksud kedatangan gw, akhirnya gw dipersilahkan duduk disebuah ruang tunggu, waktu luang itu gw manfaatkan untuk mencoba membaca baca dan kembali mengingat materi kuliah yang pernah gw pelajari
“ bapak reza, mari ikut saya ” tegur seorang wanita yang mempersilahkan gw untuk mengikutinya ke salah satu ruangan tempat akan dilaksanakan interview
“ silahkan duduk pak, nanti usernya akan segera datang ” ucap wanita itu kembali sambil tersenyum dan beranjak pergi
Ada rasa tegang ketika pertama kali melaksanakan proses penerimaan kerja, ditambah gw masih terasa asing dengan perusahaan ini, hingga akhirnya rasa tegang itu sirna seiring sosok yang gw lihat memasuki ruangan
“ lohh mas kamil..?” ucap gw heran melihat sosok yang tersenyum dihadapan gw, mas kamil merupakan senior gw yang telah lulus satu tahun lebih cepat dari gw
“ kaget ya za ?”
“ iyalah mas, soalnya seingat gw, gw belum pernah melamar ke perusahaan ini ” kembali mas kamil tersenyum mendengar jawaban gw
Hingga akhirnya mas kamil menceritakan tentang sejarah dan bergerak dalam bidang apa perusahaan tempat kerjanya itu bergerak, kebetulan dia sudah memegang posisi penting didalam perusahaan tersebut dan merekomendasikan gw untuk mengisi sebuah tempat dalam departemennya yang kebetulan kosong
“ bagaimana za ?” tampak mata mas kamil mencoba memperhatikan gw
“ ternyata diluar Jakarta ya mas, sepertinya gw harus bicara sama kedua orang tua gw dulu ”
“ lu udah dewasa za, lelaki dewasa harus bisa punya keputusan sendiri ”
“ jangan sampai kesempatan yang sudah didepan mata lu sia siakan karena keraguan lu ” terang mas kamil kembali, sambil berupaya menumbuhkan rasa semangat gw
“ kalau lu berminat, sekarang jg gw minta bagian hrd mengurus surat kontraknya, karena gw memang lagi butuh cepat ” lama gw berpikir mencoba menimbang semua omongan mas kamil, antara keinginan bekerja dan restu dari orang tua, setelah gw berpikir lama akhirnya gw memutuskan untuk menerimanya, pasti orang tua gw akan menyetujui ini, niat yang baik untuk sebuah pekerjaan yang baik pasti akan disetujui
“ baik mas, saya terima ” sebuah senyum sumringah terlihat dari wajah mas kamil
“ gitu dong za, baik gw ke bagian hrd dulu untuk mengurus semua surat2nya ” ucap mas kamil sambil menepuk bahu gw dan pergi meninggalkan gw
Setelah semua surat surat kontrak telah gw tanda tangani, mas kamil segera menerangkan tentang pekerjaan yang akan gw lakukan dan proses training terlebih dahulu yang akan gw lakukan setibanya gw di kantor cabang
“ lu di training dulu selama seminggu za, tenang aja gw yakin lu bisa ” ucap mas kamil antusias
“ insha allah mas, jadi kapan gw berangkat ”
“ seminggu dari sekarang za, lu persiapin dah semuanya, jangan lupa izin sama orang tua lu ”
“ siap mas, terima kasih atas bantuannya ”
Dan akhirnya gw meninggalkan perusahaan tersebut dengan langkah kemenangan, seperti layaknya orang yang pulang dari pertempuran, gw diterima kerja dan gw akan memberitahukan kabar gembira ini kepada orang tua gw dan tidak lupa kepada wulan yang telah menjadi pacar gw selama kuliah
“ mah, saya diterima kerja ” ucap gw sesampainya dirumah dan menyampaikan kabar gembira ini kepada bapak dan mamah yang sedang bersantai diruang tamu
“ Alhamdulillah za..” jawab mamah sambil memeluk gw
“ selamat za, selamat jadi lelaki dewasa ” ucap bapak sambil tertawa dan memberikan selamat
Kegembiraan itu tidakberlangsung lama, ketika gw menerangkan tentang penempatan kerja gw
“ memangnya tidak bisa meminta posisi dijakarta za, bapak sama mamahmu ini sudah tua, kenapa tidak di jakarta aja, atau kamu nerusin usaha bapak ” ucap bapak sambil tangannya mencoba mengelap2 keris yang terlihat sudah tua, memeang bapak adalah pengkoleksi keris2 tua, bahkan bukan cuma keris saja, asalkan itu bernilai seni dan peninggalan masa lalu pasti dikoleksinya
Setelah gw menerangkan tentang keinginan gw untuk mandiri, dan alasan masa depan yang bagus di pekerjaan ini, akhirnya bapak dan mamah mengijinkan gw untuk pergi keluar kota dan menerima perkerjaan ini
“ kapan kamu berangkat za ” ucap bapak mencoba mencari keterangan
“ minggu depan pak, mohon restunya pak, mah ”
“ iya za, bapak sama mamah restuin yang penting kamu bisa jaga diri, dan bawa diri disana ” ucap mamah kembali memeluk gw disela sela isak tangisnya.
Seminggu sudah berlalu dan tiba harinya keberangkatan gw, dengan diantar oleh mang iwan dan wulan, segera gw menuju ke stasiun kereta yang akan mengantarkan gw ke jawa bagian timur, sepanjang jalan terlihat wajah wulan yang agak berat melepas kepergian gw,hingga akhirnya kamipun tiba distasiun kereta
“ jangan lupa kasih kabar ” ucap wulan sebelum melepas gw menaiki kereta
“ doain aku, semoga aku cepat nikahi kamu dan kamu bisa ikut sama aku kesana ” ucap gw sambil memeluk wulan kemudian melepaskannya dalam balutan air matanya, dan akhirnya pijakan kaki gw mantap menaiki kereta
“ selamat tinggal Jakarta…selamat datang pekerjaan baru..semoga cepat sukses ” doa gw didalam hati Next Chapter : sebuah perjalanan dan celoteh seorang kakek tua Heran rasanya mendengar ocehan kakek tua ini, antara sebuah misteri atau sakit jiwa yang menimpa kakek ini, hingga akhirnya gw berlabuh di kantor cabang yang mengharuskan gw untuk menempati sebuah mess tua
Spoiler for Tumbal…? ( ketika keyakinan itu semakin menipis ) 3:
“ astaga…apa yang terjadi ini bi, koq semuanya bisa berantakan seperti ini ?” ucap gw sambil memperhatikan keris dan benda antik lainnya yang terlihat berserakan dilantai, sungguh sangat tidak logis jika melihat rak tempat menyimpan keris dan benda antik lainnya terlihat masih berdiri dengan kokohnya, bagaimana mungkin benda benda ini bisa berserakan dilantai, tatapan mata gw berputar mengawasi setiap sudut ruangan, baru kali ini gw memasuki ruangan tempat bapak biasa menyimpan benda benda antik koleksinya, hingga akhirnya tatapan mata gw tertuju pada sebuah wadah yang terletak disudut ruangan
“ apa ini bi…?” tanya gw sambil mengangkat wadah kecil yang berisi bunga bunga yang sudah layu dan semangkok cairan yang tercium sangat wangi, pikiran gw langsung teringat pada sesajen yang pernah gw temui di mess tua
“apakah ini sesajen bi ?”
“ bibi enggak tau kang, tapi setau bibi…benda itu selalu digunakan bapak untuk memandikan benda benda antik koleksinya “ terang bibi sambil memunguti benda antik yang berserakan dilantai dan meletakannya di tempat semula
“ memandikan ?” ucap gw dengan setengah berpikir akan arti kata memandikan, sungguh aneh untuk memaknai semua itu, mungkin jika tujuan dari semua itu adalah untuk memberikan perawatan dan menghilangkan bau yang kurang enak dari benda benda tua itu, bagi gw itu masih bisa diterima oleh akal sehat
“ sebaiknya bibi ambil sapu dan membersihkan ruangan ini, sepertinya ruangan ini sudah lama enggak bapak bersihkan “ pinta gw kepada bi nani, terlihat bi nani keluar dan kembali lagi dengan sebuah sapu ditangannya
“ kang reza diluar aja, biar bibi bersihkan dulu ruangannya “ dengan tersenyum bi nani mulai membersihkan lantai ruangan
“ terima kasih bi “ ucap gw mulai melangkahkan kaki keluar ruangan, baru saja beberapa langkah gw meninggalkan ruangan kembali gw mendengar suara yang cukup keras seperti layaknya pintu yang terbanting, dan gw bisa menebak bahwa sumber asal suara itu berasal dari arah belakang gw…dan itu adalah..
“ kang rezaaaaa !!! tolong bibi…tolonggg..bukain pintunya “ terdengar suara teriakan bi nani diiringi dengan suara pukulan tangannya pada daun pintu, mendengar suara teriakan bi nani yang terdengar sangat panik, dengan segera gw langsung berlari ke arah pintu dan mencoba membukanya
“ kenapa dikunci bi…buka pintunya !!”
“ bibi..enggak menguncinya kang…tiba tiba pintu tertutup sendiri, bibi takut kang..tolong bukain pintunya…tolong..” kali ini gw bisa mendengar suara teriakan dari mulut bi nani sudah bercampur dengan isak tangisnya, dengan sekuat tenaga gw mencoba kembali membuka pintu yang terasa berat untuk dibuka, seperti ada kekuatan yang menahan semua upaya yang gw lakukan
“ brengsekkk..” ucap gw sedikit memaki mendapati usaha yang gw lakukan terasa sia sia, hingga akhirnya terdengar suara yang berasal dari seseorang yang sangat tidak gw harapkan mengetahui apa yang sedang terjadi
“ ada apa za ?” terlihat mamah sudah berdiri memandang gw dengan raut wajah keheranan
“ enggak ada apa apa mah “
“ enggak ada apa apa gimana za !! cepat buka pintunya…kasihan bi nani “ teriak mamah memarahi kebohongan yang gw lakukan, dengan sigap tangannya memncoba membuka pintu kamar, tapi kembali semua usaha kami terasa sia sia, hingga akhirnya kembali terdengar suara yang berasal dari dalam ruangan, seperti layaknya suara benda benda yang berjatuhan
“ bu…tolong buka pintunya.....” kembali terdengar suara teriakan dari bi nani hingga akhirnya suara itu tidak terdengar kembali…menyisakan tatapan mata gw dan mamah yang saling berpandangan penuh dengan tanda tanya..apa yang telah terjadi didalam ruangan
“ cepat kamu minta bantuan mang iwan za “ perintah mamah dengan wajah serius, bergegas gw berlari menuruni anak tangga dan menuju ke teras taman, melihat gw yang datang dengan wajah panik, mang iwan mungkin sudah bisa menduga bahwa ada hal aneh yang telah terjadi
“ ada apa kang ?”
“ bantu saya mang, bi nani terkunci didalam kamar “ tanpa menunggu jawaban dari mang iwan, bergegas gw dan mang iwan kembali menuju ke kamar tempat bi nani terkunci, begitu langkah kaki ini tepat berada di lantai atas, betapa terkejutnya gw mendapati pemandangan mamah yang terlihat berdiri terpaku diluar kamar dengan tatapan mata memandang kedalam kamar yang kini terlihat pintunya sudah terbuka lebar
“ bagaimana mungkin mamah bisa membukanya…” ucap gw pelan dengan nada tidak percaya, mang iwan menoleh sejenak begitu mendengar ucapan gw, lalu dia melangkah mendekati mamah yang tampak masih kaget menyaksikan kondisi didalam kamar, sejenak mang iwan mencoba menenangkan mamah, lalu kemudian pergi berjalan memasuki kamar
“ kang rezaa, jangan bengong aja atuh..bantu saya “ ucapnya sebelum memasuki kamar, perkataan mang iwan seperti menyadarkan gw dari lamunan, bergegas gw berjalan memasuki kamar diiringi tatapan mata mamah yang berharap sebuah penjelasan dari mulut gw, alangkah terkejutnya gw begitu mendapati pemandangan didalam kamar yang terlihat sangat berantakan, semua benda antik yang semula telah diletakan kembali pada tempatnya kini kembali terlihat berserakan dilantai, sebagian terlihat ada yang menimpa tubuh bi nani yang terkapar tidak sadarkan diri, dengan dibantu mang iwan, akhirnya dengan susah payah kami memindahkan tubuh bi nani ke kamar tempat dimana tamu biasa tidur bila datang berkunjung dan menginap
“ kalian rapihkan semua benda yang berserakan itu, biar mamah yang menemani bi nani “ ucap mamah seraya member isyarat agar kami meninggalkan kamar
Kejadian siang ini benar benar membalikan sedikit kepercayaan gw yang semula sedikit mempercayai apa yang pernah dikatakan mang iwan tentang keberadaan kujang/keris kecil yang mempunyai fungsi untuk menjaga gw selama merantau bekerja, andai memang benda benda antik koleksi bapak mempunyai fungsi untuk menjaga anggota keluarga ini dari berbagai macam gangguan, bagaimana mungkin peristiwa ini bisa terjadi… bagaimana mungkin benda benda yang semula gw pikir akan memberikan jaminan keamanan dan bersifat baik, kini berbalik memberikan sebuah teror…. ataukah semua benda benda itu memberikan suatu kebaikan setelah bapak melayani semua kebutuhan benda benda tersebut dengan memberikan wadah berbentuk sesajen yang gw temukan didalam kamar, andai memang seperti itu…..hanya ada dua pilihan yang harus gw lakukan, meneruskan semua bentuk pelayanan ini atau gw harus berani melawan dan menyingkirkan semua benda benda itu..entahlah..
“ sebaiknya mang iwan enggak usah pulang hari ini…firasat saya beberapa hari belakangan ini sedang enggak enak mang..” ucap gw begitu mendapati hari sudah beranjak sore, setelah semua peristiwa yang gw alami, entah mengapa kini malam bagaikan sebuah momok yang menakutkan bagi gw, berbagai macam kejadian datang silih berganti dan itu benar benar tidak bisa dijelaskan dengan sebuah akal sehat
“ kang reza..sebaiknya kang reza jujur, apa yang sebenarnya telah terjadi, siapa tau saya bisa membantu kang reza…” tanya mang iwan sambil menepuk nyamuk yang menggigit lengannya, sesekali tatapan matanya melihat langit yang kini secara perlahan mulai meredupkan cahayanya
“ sepertinya sudah hampir magrib mang…” ucap gw mencoba mengalihkan pembicaraan
“ kang rezaa….tolong jawab ?” seakan sudah mengerti gw akan mengalihkan pembicaraan, mang iwan kembali meminta sebuah jawaban jujur yang mungkin menjadi latar belakang semua peristiwa yang telah terjadi
Sejenak gw terdiam dan berpikir haruskan gw menceritakan semua kejadian yang telah gw lakukan, gw enggak ingin setelah mendengar semua cerita ini, mang iwan kemudian akan menelan bulat bulat semua kisah yang gw ceritakan, dan kemudian meyakini bahwa semua itu adalah titik awal dari semua kejadian yang terjadi, setelah lama berpikir akhirnya gw putuskan untuk menceritakan semua kejadian dan ritual yang telah gw lakukan, seakan tidak percaya dengan apa yang telah gw ceritakan, wajah mang iwan menampakan keterkejutannya
“ astaga kang…karena rasa penasaran akang teh nekat ngelakuin itu semua, apakah kang reza sekarang sudah percaya…kalau yang ghaib itu memang ada ?”
“ mang iwan jangan salah tangkap..saya bukannya enggak percaya, tapi sejujurnya saya hanya menguji sebuah kebenaran “ jawab gw sambil menyulut sebatang rokok dan menghembuskan asapnya ke udara
“ maksud kang reza ?”
“ terkadang kita terlalu melebih lebihkan sesuatu yang bersifat ghaib bahkan cenderung beranggapan bahwa kejadian kejadian yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah lalu dihubungkan dengan hal yang berbau ghaib….setelah itu kita akan ketakutan, dan menyembunyikan ketakutan itu dengan memberikan pelayanan kepada mereka..itu yang saya kurang setuju mang “
“ tapi akhirnya kang reza terjebak dalam sebuah situasi yang kang reza sendiri enggak mengerti apa yang sedang kang reza hadapi “ sebuah ucapan yang terlontar dari mulut mang iwan sungguh sangat mengena, dan itu memang salah satu hal yang tidak sempat gw pikirkan hingga akhirnya gw nekat melakukan semua ritual itu
“ semula saya meyakini bahwa apa yang dikatakan dengan tumbal itu adalah sebuah omong kosong belaka…tapi kini…” sejenak gw terdiam, mendadak muncul kembali semua kenangan tentang minto, indra, wulan dan bapak, yang selama ini telah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup gw
“ semua keyakinan ini semakin menipis…bahkan nyaris menghilang, saya sudah terlibat sebuah ritual dan perjanjian dengan suatu kekuatan jahat..sangat jahat…tapi saya enggak berpikir bahwa semua kejadian yang terjadi adalah tumbal…”
“ tapi semua terjadi setelah kang reza melakukan semua ritual itu…” ucap mang iwan mencoba berargumen
“ setiap kematian adalah hak prerogative tuhan, dia yang menentukan semuanya…tapi saya meyakini kekuatan jahat ini memanfaatkan…maaf mang iwan jika ini agak sedikit menyinggung… semua ini memanfaatkan ruang kosong dalam pikiran kita, hingga akhirnya semua kejadian itu terjadi, bukankah mang iwan pernah mendengar perkataan bapak tentang kujang/keris yang saya tinggalkan di suatu tempat..disitu saya sedikit mengambil kesimpulan bahwa mang iwan mulai berpikir tentang sesuatu…dan disitu pula kekuatan itu membentuk imajinasi…. “ terlihat kerutan didahi mang iwan mencoba menyimak apa yang gw terangkan, sebuah argumen sederhana yang mungkin bisa menjawab penyebab semua kejadian yang terjadi
Perbincangan kami sejenak terhenti melihat kehadiran mamah yang berjalan menghampiri
“ zaa….”
“ bagaimana keadaan bi nani…mah?” tanya gw memotong perkataan mamah
“ sudah baikan, sekarang sedang istirahat dikamarnya…kamu ini main motong omongan mamah aja, za… coba besok kamu jemput kawan mamah yang akan datang dari sukabumi di stasiun..jangan lupa “
“ siapa mah ?”
“ om wisnu beserta keluarga, sudah hampir magrib…sebaiknya kalian bersiap siap untuk sholat “ ucap mamah mengakhiri pembicaraannya dan berlalu pergi
“ itu yang saya maksud kang…lebih tepatnya saya duga, untuk dua sketsa wajah yang kang reza jelaskan..belum kang reza beritahu sosok siapa aja yang terlihat, tapi untuk sketsa gambaran utuh seorang bayi….saya jadi menduga apakah ada hubungannya dengan kang reza dan tamu ibu yang akan datang..” gw hanya terbengong mendengar ucapan mang iwan, sama sekali gw tidak mengerti arah dari pembicaraan ini
“ mungkin tamu yang dimaksud ibu tadi akan ada hubungannya dengan sketsa yang kang reza bilang “
“ maksud mang iwan apa ?” tanya gw dengan nada bingung akan maksud ucapan mang iwan
“ lohh kang reza belum tau ?”
“ belum tau apa sih mang ?”
“ saya pernah mencuri dengar, tentang sosok om wisnu itu dan tentang rencana bapak dan ibu kang reza yang akan menjodohkan dan menikahkan kang reza dalam waktu dekat ini..” mendengar penjelasan dari mang iwan, seperti layaknya mendengar petir di siang hari yang cerah, sungguh kabar ini merupakan sebuah kabar yang sama sekali tidak gw ketahui, belum ada sama sekali pemberitahuan baik itu dari bapak ataupun mamah mengenai rencana ini
“ ini benar benar gila !!” ucap gw dengan nada meninggi
“ maaf kang..saya hanya menduga..jangan marah “ terlihat kekhawatiran di wajah mang iwan melihat reaksi yang gw berikan, mungkin dia menduga gw tersinggung dengan apa yang di ceritakannya
“ saya enggak marah dengan mang iwan…hanya kaget saja “ ucap gw dengan tersenyum
“ apakah kang reza..sudah mendapatkan hasil dari semua ritual yang kang reza lakukan ?” kembali mang iwan bertanya mencoba menghilangkan semua rasa penasarannya, gw hanya tersenyum dan tidak mejawab pertanyaan yang mang iwan lontarkan
“ koq malah tersenyum kang…..andai kedepannya masih banyak kejadian kejadian aneh yang akan terus terjadi dan mungkin membahayakan, masihkah kang reza hanya bermain dengan argumen..dan enggak mencari jalan keluar dari semua ini ?“ rasanya sebuah senyum yang gw berikan hanya akan menambah rasa penasaran dalam diri mang iwan
“ saya belum tau apa yang akan terjadi selanjutnya mang, andai semuanya semakin memburuk…saya akan mencoba mencari solusinya…percayalah mang..saya akan bertanggung jawab dengan apa yang telah saya perbuat “ jawab gw mengakhiri pembicaraan seiring suara kumandang azan magrib yang mulai terdengar
Next Chapter : andira…. ( kedatangan om wisnu dan sebuah rencana )