- Beranda
- Stories from the Heart
Sekai No Chusin De, Ai Wo Sakebu
...
TS
tanzaku
Sekai No Chusin De, Ai Wo Sakebu
~Sekai No Chusin De, Ai Wo Sakebu~
Quote:
Pertama2, cerita ini bukanlah pengalaman pribadi atau karangan gue sendiri. Tapi cerita ini adalah novel karya Katayama Kyoichi-sensei pada tahun 2001, dan diterjemahkan sekaligus diterbitkan dalam bahasa indonesia pada tahun 2015. Tujuan gue menulis cerita ini di SFTH hanya untuk berbagi kepada teman2 semua, karna cerita ini benar2 menarik menurut gue. Tidak ada motif lain untuk menduplikat, membajak, memperbanyak atau semacamnya.
Bukan maksud untuk promosi, tapi jika suka dengan cerita ini dan ingin menghargai karya penulisnya. Novelnya bisa dibeli di Gramedia

Quote:
Quote:
Diubah oleh tanzaku 13-10-2015 15:51
anasabila memberi reputasi
1
3K
11
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
tanzaku
#11
Chapter 1 : ~ Cerita Kelas IX ~
Chapter 1
~ Cerita Kelas IX ~
~ Cerita Kelas IX ~
Di kelas IX kami berbeda kelas. Tapi, karena lagi-lagi kami berdua menjadi pengurus kelas, setidaknya seminggu sekali ada kesempatan bagi kami untuk bertemu seperti misalnya pada kegiatan komite siswa. Selain itu sejak akhir semester satu, Aki jadi sering datang ke perpustakaan untuk belajar. Dan sejak memasuki liburan musim panas, dia datang hampir setiap hari. Aku juga tak ada kegiatan klub setelah turnamen tingkat kota usai, jadi aku bekerja keras untuk menghasilkan uang di perpustakaan lebih banyak dari sebelumnya. Dan untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian SMA, kami belajar di ruang yang ber-AC. Dengan sendirinya kesempatan kami untuk bertemu jadi bertambah, dan ketika bertemu kami belajar bersama lalu ngobrol sambil makan es krim saat istirahat.
"Aku benar-benar santai, ya," kataku. "Padahal sudah liburan musim panas, tapi aku sama sekali tak berusaha kelas belajar."
"Tanpa berusaha keras pun, kau sudah aman, kan?"
"Masalahnya bukan itu. Beberapa waktu lalu aku baca 'Newton'. Katanya sekitar tahun dua ribu asteroid akan menabrak bumi dan ekosistem akan kacau balau."
"Hmm," sambil menjilati es krim dengan ujung lidahnya Aki mengangguk dengan bodohnya.
"Hmm?" kataku dengan wajah serius. "Dari tahun ke tahun, lapisan ozon terus dirusak dan hutan hujan tropis juga berkurang. Kalau kondisinya terus begini, saat kita jadi kakek nenek nanti makhluk hidup tak akan bisa lagi tinggal di bumi."
"Gawat juga ya?"
"Gawat juga? Kau sama sekali nggak terlihat khawatir."
"Maaf," katanya. "Entah kenapa aku tak bisa benar-benar merasakannya. Apa kau bisa benar-benar merasakan hal seperti itu?"
"Kalau ditanya balik begitu, sih..."
"Nggak, kan?"
"Walaupun kita tak bisa merasakannya, suatu saat nanti hari itu akan datang."
"Kalau begitu, biar saja."
Mendengar Aki bicara begitu, Aku jadi merasakan hal yang sama.
"Percuma saja memikirkan masa depan dari sekarang."
"Tapi, itu akan terjadi dalam waktu sepuluh tahun ke depan."
"Berarti usia kita dua puluh lima tahun," Aki memandang jauh, "Tapi kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi nanti, baik aku ataupun kamu."
Selintas aku teringat bunga bokor di Shiroyama. Karena banyak yang terjadi setiap harinya, aku benar-benar lupa soal bunga bokor itu. Kurasa Aki juga begitu. Dan meski aku membicarakan soal tubrukan asteroid atau rusaknya lapisan ozon, aku merasa kalau bunga bokor di Shiroyama akan mekar di awal musim panas tahun 2000 nanti. Karena itu, menurutku tak perlu buru-buru melihatnya dan kami bisa melihatnya kapan saja kami mau.
Demikianlah liburan musim panas berakhir. Dan seperti biasa, sambil mengkhawatirkan masa depan lingkungan bumi, aku menghapal soal "pembantaian ras Jerman" atau "Cromwell di tahun 1642", dan memecahkan soal persamaan linier atau fungsi kuadrat. Kadang aku juga pergi memancing bersama Ayah. Atau membeli CD baru. Dan ngobrol dengan Aki sambil makan es krim.
Saat dia tiba-tiba memanggilku "Saku", aku terdesak es krim yang meleleh di dalam mulutku.
"Ada apa? Mendadak sekali."
"Ibumu selalu memanggilmu begitu, kan?" Tanya Aki sambil senyum-senyum.
"Kau, kan, bukan Ibuku"
"Tapi sudah kuputuskan kalau mulai hari ini aku akan memanggilmu 'Saku'."
"Tolong jangan seenaknya memutuskan begitu, ya."
"Sudah kuputuskan."
Begitulah Aki. Selalu memutuskan seenaknya soal aku sampai akhirnya aku tak tahu lagi siapa aku ini.
Tak lama setelah semester kedua dimulai, mendadak dia muncul di hadapanku dengan membawa sebuah buku catatan sewaktu istirahat siang.
"Ini!" dia berkata sambil mengulurkan buku catatan ke atas meja.
"Apa ini?"
"Catatan harian barter."
"Oh."
"Saku, kau nggak tahu, kan?"
Sambil melihat sekeliling, aku berkata "Tolong jangan lakukan ini di sekolah."
"Orangtuamu nggak melakukan ini, ya?"
Entahlah apa dia mendengarkan ucapanku atau tidak.
"Catatan harian barter adalah catatan yang ditulis oleh laki-laki dan perempuan tentang kejadian atau apa yang mereka pikirkan dan rasakannya di hari itu, kemudian mereka saling bertukar."
"Aku nggak bisa melakukan hal merepotkan seperti ini. Memang tak ada teman sekelas lain yang bisa kau pilih secara acak?"
"Nggak bisa sembarang orang lain, kan?"
Sepertinya Aki agak sedikit marah.
"Ini ditulis dengan bolpoin atau pena tinta, kan?"
"Atau pensil berwarna."
"Nggak boleh lewat telepon?"
Sepertinya tidak boleh. Dia mengaitkan tangannya ke belakang pinggang dan menatap wajahku serta buku catatan secara bergantian. Ketika aku hendak membuka halaman buku itu dengan asal-asalan, Aki buru-buru menghentikannya.
"Bacanya nanti setelah kamu sampai di rumah. Karena seperti itulah peraturan catatan harian barter."
Halaman awal diisi dengan perkenalan. Tanggal lahir, bintang, golongan darah, hobi, makanan kesukaan, warna kesukaan, dan analisis yang terkait dengan sifat diri. Di halaman berikutnya ada gambar seorang gadis yang sepertinya sosok Aki yang digambar dengan pensil berwarna, dan di bagian tiga ukuran tubuh tertulis "rahasia", "rahasia", dan "rahasia". Sambil tetap membuka buku catatan itu aku berbisik, "Aku nggak tahan."
Saat natal kelas IX, guru perempuan wali kelas Aki meninggal dunia. Padahal ketika darmawisata di semester satu dia ikut dan sehat, tapi sejak awal semester dua dia istirahat mengajar. Kadang Aki bercerita kalau kondisinya tak sehat. Katanya Kanker. Umurnya antara menjelang lima puluh atau sudah lima puluh tahun. Upacara pemakaman diadakan di hari berikutnya setelah upacara penutupan pelajaran dan semua murid di kelas Aki datang beserta pengurus kelas laki-laki dan perempuan dari kelas IX. Karena murid-murid tak bisa masuk ke kuil utama, kami melakukan upacara belasungkawa dengan berdiri di halaman. Hari itu rasa dingin menusuk tulang. Aku sampai berpikir mungkin pembacaan doa biksu tak akan pernah berakhir. Sambil melakukan oshikura manju, kami berusaha agar tidak mati kedinginan di halaman kuil yang sangat dingin.
Akhirnya upacara pemakaman selesai dan upacara belasungkawa dimulai. Beberapa orang memberikan ucapan belasungkawa dimulai dengan kepala sekolah. Dan salah seorang dari mereka adalah Aki. Kami berhenti melakukan oshikura manjudan mendengarkan. Aki membacakan ucapan belasungkawa dengan suara tenang. Sama sekali tak ada suara tangisan ketika dia membacakannya. Tentu saja yang kami dengar bukan suara naturalnya, tapi suara dengan signal-to-noise ratio yang sangat buruk yang mengalir melalui pengeras suara ke halaman. Tapi, aku bisa langsung tahu kalau itu suara Aki. Tapi karena sendu, suaranya terdengar lebih dewasa dari biasanya. Rasanya dia seperti pergi meninggalkan kami yang masih saja kekanak-kanakan dan aku merasa sedikit kesepian.
Didorong rasa tidak sabar, aku mencari sosok Aki di antara orang-orang yang hadir di pemakaman. Setelah berpindah ke depan dan ke belakang, kanan dan kiri, akhirnya sosok Aki yang sedang membaca ucapan belasungkawa dengan sedikit tertunduk di depan mikrofon yang dipasang di depan pintu masuk kuil utama tertangkap oleh penglihatanku. Detik itu, pikiran yang seolah membuka mata menyergapku. Dari sini sosok Aki yang biasa dibalut seragam model pelaut terlihat seperti orang lain. Jelas itu dia, tapi ada suatu hal berbeda yang meyakinkan. Hampir sebagian besar isi ucapan belasungkawa yang dibaca tak masuk telingaku. Aku tak bisa melepaskan dari sosoknya yang terlihat jauh.
"Hirose memang hebat, ya," kata seseorang yang berdiri di dekatku.
"Karena dia berani, tak seperti yang terlihat di wajahnya," kata seseorang yang lain mengikuti.
Saat itu awan tebal yang menutupi langit terkoyak dan halaman kuil diterpa cahaya terang. Cahaya juga menerpa Aki yang masih terus membaca ucapan belasungkawa, dan sosoknya yang berdiri muncul dengan jelas dari bayangan kuil utama yang gelap. Aah, inilah sosok Aki yang kukenal. Aki yang saling bertukar catatan harian kekanak-kanakan denganku dan memanggilku "Saku" seolah dia teman masa kecilku. Dia yang selalu dekat hingga malah membuat keberadaannya jadi transparan, saat ini berdiri sebagai seorang perempuan yang sedang beranjak dewasa. Bagaikan kristalisasi mineral yang dibiarkan di atas meja yang mendadak mulai melepaskan pancaran indahnya berdasarkan dari sudut mana dia dilihat.
Aku disergap oleh dorongan yang ingin kukeluarkan secara mendadak. Bersamaan dengan kegembiraan yang membuncah dari dalam diriku, untuk pertama kalinya aku menyadari kalau aku merupakan salah satu siswa yang menaruh hati padanya. Dengan berkaca pada diriku sendiri, aku jadi bisa paham kecemburuan teman seangkatanku yang mereka perlihatkan selintas. Bukan cuma itu saja, saat ini bahkan aku merasa cemburu dengan diriku sendiri. Lubuk hatiku merasakan kecemburuan getir pada diriku sendiri yang bisa bersama Aki tanpa bersusah payah dan dengan mudah bisa melewatkan waktu yang akrab bersamanya.
Footnote :
Oshikura Manju = Permainan tradisional anak-anak Jepang yang dimainkan ketika cuaca dingin untuk mendapatkan kehangatan.
0
