- Beranda
- Stories from the Heart
Sometimes Love Just Ain't Enough
...
TS
jayanagari
Sometimes Love Just Ain't Enough
Halo, gue kembali lagi di Forum Stories From The Heart di Kaskus ini 
Semoga masih ada yang inget sama gue ya
Kali ini gue kembali lagi dengan sebuah cerita yang bukan gue sendiri yang mengalami, melainkan sahabat gue.
Semoga cerita gue ini bisa berkenan di hati para pembaca sekalian

Semoga masih ada yang inget sama gue ya

Kali ini gue kembali lagi dengan sebuah cerita yang bukan gue sendiri yang mengalami, melainkan sahabat gue.
Semoga cerita gue ini bisa berkenan di hati para pembaca sekalian


*note : cerita ini sudah seizin yang bersangkutan.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 24-04-2016 00:40
Dhekazama dan 8 lainnya memberi reputasi
9
421.5K
1.5K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#149
PART 7
Kami berdua tiba di kampus Anin, dan kebetulan kami gak perlu menunggu terlalu lama. Gue terpaksa pindah jok belakang, kesadaran gue sendiri sih, karena gue tau jok depan untuk Anin. Ketika Anin udah masuk mobil, dia tersenyum menyapa gue.
Di tengah-tengah perjalanan, Anin bertanya ke Bas, sambil membetulkan rambutnya di kaca yang terpasang di sun visor mobil.
Gue kikuk sendiri waktu ditanyain Anin kayak begitu. Gaya bertanyanya seperti seorang kakak nanya ke adiknya. Apalagi nanyanya sambil memiringkan kepala. Mungkin kalo orang lain yang nanya, gue bakal langsung jawab. Tapi kalo Anin yang nanya, gue malah salting sendiri.
Akhirnya Bas yang menentukan pilihan makan siang hari itu, dan kami berdua nurut-nurut aja. Setelah memesan makanan, Anin memandangi gue dan Bas sambil senyum-senyum agak gak jelas. Bas tertawa kecil, kemudian menoleh ke gue.
Anin tersenyum, merapikan rambutnya yang indah itu, kemudian menggeser kursinya mendekat ke arah gue. Kemudian dia berbicara sambil bertopang dagu.
Gue terdiam dan merasakan kebenaran kata-kata pasangan di hadapan gue ini. Ucapan Anin begitu telak memasuki pikiran gue, dan membuat gue sadar, bahwa gue bukan patah hati, tapi kehilangan. Bas pun tadi sebenarnya juga berkata hal yang sama. Tapi masih ada pertanyaan yang mengganjal di hati gue.
Anin tersenyum lagi, mengerling ke Bas sebentar, kemudian menjawab gue dengan suara yang jernih.
Anin tersenyum dan memandangi gue, kemudian dia berbicara dengan serius, dengan lembut tapi terukur dan tajam.
Gue terpaku dan membisu. Segala ucapan Anin ini bener-bener susah dibantah. Segalanya benar dan langsung menghantam telak hati dan pikiran gue. Kemudian gue mendengar Anin berbicara lagi.
Kami berdua tiba di kampus Anin, dan kebetulan kami gak perlu menunggu terlalu lama. Gue terpaksa pindah jok belakang, kesadaran gue sendiri sih, karena gue tau jok depan untuk Anin. Ketika Anin udah masuk mobil, dia tersenyum menyapa gue.
Quote:
Di tengah-tengah perjalanan, Anin bertanya ke Bas, sambil membetulkan rambutnya di kaca yang terpasang di sun visor mobil.
Quote:
Gue kikuk sendiri waktu ditanyain Anin kayak begitu. Gaya bertanyanya seperti seorang kakak nanya ke adiknya. Apalagi nanyanya sambil memiringkan kepala. Mungkin kalo orang lain yang nanya, gue bakal langsung jawab. Tapi kalo Anin yang nanya, gue malah salting sendiri.
Quote:
Akhirnya Bas yang menentukan pilihan makan siang hari itu, dan kami berdua nurut-nurut aja. Setelah memesan makanan, Anin memandangi gue dan Bas sambil senyum-senyum agak gak jelas. Bas tertawa kecil, kemudian menoleh ke gue.
Quote:
Anin tersenyum, merapikan rambutnya yang indah itu, kemudian menggeser kursinya mendekat ke arah gue. Kemudian dia berbicara sambil bertopang dagu.
Quote:
Gue terdiam dan merasakan kebenaran kata-kata pasangan di hadapan gue ini. Ucapan Anin begitu telak memasuki pikiran gue, dan membuat gue sadar, bahwa gue bukan patah hati, tapi kehilangan. Bas pun tadi sebenarnya juga berkata hal yang sama. Tapi masih ada pertanyaan yang mengganjal di hati gue.
Quote:
Anin tersenyum lagi, mengerling ke Bas sebentar, kemudian menjawab gue dengan suara yang jernih.
Quote:
Anin tersenyum dan memandangi gue, kemudian dia berbicara dengan serius, dengan lembut tapi terukur dan tajam.
Quote:
Gue terpaku dan membisu. Segala ucapan Anin ini bener-bener susah dibantah. Segalanya benar dan langsung menghantam telak hati dan pikiran gue. Kemudian gue mendengar Anin berbicara lagi.
Quote:
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3

: ya jok depan kan buat kamu Nin.
: oh silakan aja kalo mau gitu, tapi abis itu masuk rumah sakit
: idih serem amat ancemannya....
: gini nih namanya suami kolonel istri brigjen.
: mau makan dimana mas?
: ternyata sama aja....
: tanya apaan? enggak ada kok.
: maksudnya Nin?
: terus, jadinya aku harus cerita ya ke Fira tentang Sari? Aku takut aku masih belum bisa ngendaliin perasaan aku sendiri, jadi nanti Fira ngeliatnya aku masih belum ikhlas Sari pergi.