Kaskus

Story

whiteshark21Avatar border
TS
whiteshark21
[ Science Fiction ] CODING A LIFE
[ Science Fiction ] CODING A LIFE


Quote:



Spoiler for Daftar Isi - Coding A Life:



Please Kindly Enjoyemoticon-Toast
Diubah oleh whiteshark21 25-10-2015 02:27
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
16.5K
84
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
whiteshark21Avatar border
TS
whiteshark21
#58
[ Chapter 26.5 ] - Pseudo Night-War

kaskus-image


Ari masih melanjutkan langkahnya tanpa menegok kanan kiri ,dimana semua tamu tengah duduk memperhatikannya.
sementara Ilham justru sesekali mencoba menengok ke arah kanan maupun kiri.
"silahkan,justru aku berharap ke sepuluh dari kalian datang ke mari semuanya" kata Andre yang terlihat berjalan menuju meja kosong di belakangnya,tak ketinggalan dengan Kiki yang menyempatkan diri untuk melempar senyum ke arah Ari.

nampak lumayan jauh dari meja tamu lainnya,meja berbentuk bundar dengan 6 kursi di dekatnya sudah diduduki oleh sang tuan rumah dan teman perempuannya,sementara 2 tamu yang sedang ditunggunya masih berjalan membelah luasnya ruangan tersebut.
"kami jarang berkumpul,jadi sedikit merepotkan kalau kau mengundang semuanya untuk hadir" balas Ari hampir sampai di meja yang sama dengan Andre.

"duduklah" ujar Andre.
"..."
"aku nampak familiar dengan orang-orangmu" kata Ilham selepas duduk bersama 3 orang lainnya.
"jadi kau masih ingat yah?"
"mereka ada di acara lomba yang kami ikuti beberapa bulan yang lalu"
"benar,mereka memang orang-orangku.. dan lomba saat itu juga aku yang senggarakan"

"jadi kecurigaanku ada benarnya juga,tidak terlalu mengejutkan sih" ujar Ari.
"haha,iya.. walau aku kalah cepat dengan orang itu" jawab Andre.
"siapa?"
"Akbar terlebih dahulu menemukanmu sebelum aku.."

"owh,jadi lomba itu hanya kedok untuk mencari peserta yang menggunakan bahasa pemrogamman baru,yang dalam hal ini berarti targetnya adalah Ari" kata Ilham.
"benar,ayahku menghabiskan banyak waktu dan sering sekali mengurusi hal yang berurusan denganmu.. aku hanya penasaran seperti apa orang yang dicari oleh ayahku" kata Andre yang ditujukan untuk Ari.
di sisi lain,Kiki tetap ramah dan tersenyum sesekali saat Ari memandang ke arahnya.
"uh,kau yang bernama Andre kan? ada perlu apa kau mengundangku ke sini? lalu orang-orang itu,ada perlu apa ikut dihadirkan di sini?" tanya Ari seiring pandangannya dialihkan lagi dari Kiki.

"maaf telaaaaat.." teriak seorang yang baru saja datang.
"tidak perlu berdiri,tidak perlu berdiri" kata seorang yang satunya.
sementara para tamu lainnya nampak menyorakinya dan beberapa hanya melambaikan tangan dan melempar sapaan akrab.
"oh,tamunya sudah sampai yah? kalau begitu acaranya boleh dimulai dong" kata pemuda itu lagi.

"mereka teman kami,yang sedang berlari ke arah sini namanya Bagas,sedangkan yang di belakang namanya Galih" kata Kiki memperkenalkan dua pemuda yang baru datang tersebut.
"periang sekali? kau yakin mereka tidak sedang mabuk?" sindir Ari.
"sifat mereka memang seperti itu.. lagipula itu juga sifatmu bukan?" jawab Andre.
"hoh,aku lupa kapan terakhir kali aku seperti itu"
"kurasa aku bisa membantumu mengingat.." balas Andre diikuti senyum licik.

"wah,ternyata bukan Akbar.. apa dia tidak datang karena takut,huh?" tanya pemuda bernama Bagas sesampainya di meja Ari.
"Akbar?" tanya Ilham kembali.
"kami juga mengundang dia ke mari malam ini,tapi nampaknya dia tidak akan datang kan?" jawab Kiki.
"jadi kursiku sudah ada yang pesan yah," komentar Ilham.
"hm,tidak apa-apa" balas Kiki.

"Orang itu juga bisa jadi gantinya kalau Akbar tidak bersedia" tanggap Galih dari belakang.
"tentu saja beda,anak baru seperti dia mana setara dengan Akbar" balas Bagas.
"untuk kalian itu tidak masalah,tapi urusanku hanya dengan 2 orang itu saja" ujar Andre serius.
"jadi kau berniat membalas untuk hari itu?" tanya Ari langsung ke pointnya.
"benar sekali.. bagaimana pendapatmu?" jawab Andre.

"dengarkan aku dul-" ujar Ari yang terpotong sebelum perkataannya selesai.
"sudah cukup perihal itu.. sekarang aku tanya,apa pendapatmu!?" potong Andre.
"..."
"lawan aku!"

"...aku tidak punya alasan untuk melawanmu,maaf" Ujar Ari yang langsung berdiri dari duduknya.
"lalu apa yang akan kau katakan tentang kematian ayahku!?" bentak Andre.
"aku.. sudah menghentikan ayahmu dengan cara yang salah.. aku akui kesalahanku" balas Ari yang mengharap pengertian dari lawan bicaranya.
"kau bilang kau tidak punya alasan melawanku?"
"..."

"pertama kalian ke sini kalian pasti mengira ini mirip seperti pesta perjudian,bukan?"
{ !!! ...dia mengamati kami berdua juga? apa cuma menebak saja? ..bukan,perempuan yang pernah jadi lawanku dulu pernah bilang kalau ada orang yang kemampuan analisanya melebihiku.. orang ini } pikir Ilham masih duduk diam selagi temannya beradu kata.
"yang ada di tanganmu saat ini adalah apa yang kita sebut sebagai 'Royal Flush', jadi tidak ada alasan untuk mundur,bukan?" ujar Andre meneruskan.
"..."
"kau bilang kau telah menghentikan ayahku dengan cara yang salah!?"

"aku minta maaf atas kematian ayahmu dulu"
"kalau begitu,kenapa tidak kau coba hentikan aku dengan cara yang benar? itu cukup untuk membayar kesalahanmu di masa lalu kan?"
"apa maksudmu?"
"senjata pemusnah yang diinginkan ayahku.. hanya aku dan kau yang saat ini memilikinya,jadi kuputuskan untuk menantangmu berperang di jalan yang sama dengan yang ayahku ambil!"
"cukup ayahmu saja yang jadi korban.. kau sendiri juga pasti sadar kalau rencana ayahmu di masa lalu sangat tidak baik,jadi jangan meneruskannya dengan alasan apapun!"
"itu menurutmu! ...aku sudah putuskan malam ini juga"
"..."
"bagaimana? aku sudah memberimu satu alasan kuat untuk melawanku.. kita berdua perang atau dunia ini yang akan perang?"

{ orang ini.. apa kelainan mental milik ayahnya menurun padanya? } pikir Ari mengingat jalan hidup yang dipilih Henri di masa lalu.
"aku sudah bosan bertarung semacam itu.. aku sudah berhenti semenjak kejadian ayahmu,jadi lupakan saja tentang ambisi ayahmu untuk membuat kekacauan di dunia ini dan juga rencanamu untuk menantangku" ujar Ari.
"tak perlu bohong,kawan.. perlawananmu tadi pagi bukanlah perlawanan orang yang sedang bosan.. kau sebenarnya merindukan lawan yang sepadan bukan? lawan aku!"
"aku tidak mau melukai orang lagi"
"ayolah! kau sudah mempunyai set kartu terkuat,pasang taruhanmu!"
"aku menol-"
"dua lawan satu,sama seperti saat itu.. saat kau mencelakai ayahku!"

suasana di meja Ari nampak tegang karna keduanya masih beradu argumentasinya masing-masing,namun di meja tamu lainnya situasi masih terjaga dan tenang,beberapa tamu hanya berpura-pura tidak terjadi apa-apa sedangkan sisanya sibuk dengan pasangan
duduknya masing-masing.


"..."
"sudah kuputuskan!"
"terserah apa katamu!"
"hahaha.. benar juga,aku juga ingin merasakan seperti apa rasanya menjadi dirimu.. Kriminal berkedok pahlawan"
"sudahlah,aku kira sudah selesai.. Ari juga sudah meng-iyakan,ayo?" ujar Kiki yang ikut beranjak dari kursinya dan mengajak pergi Andre.
"aku ingin sendirian.. kau boleh pulang" kata Andre memilih untuk pergi sendirian meninggalkan teman perempuannya dan pergi dari ruangan tersebut.


"kau tau? dia hanya seperti ayahnya.. keras kepala" kata Bagas mengomentari temannya yang barusaja pergi.
"justru menurutku tidak sama sekali" balas Ilham setelah mengamati perdebatan barusan.
"oh,matamu jeli juga yah."
"hanya.. tebakan"
"ngomong-ngomong tak kusangka 2 tahun setelah kami justru banyak orang yang pandai membuat bahasa pemrogramman lagi yah,sepertimu.. aku penasaran"


kini hanya ada 5 orang tersisa di bangku yang menjadi pusat perkumpulan,sedangkan puluhan tamu lainnya nampak sibuk sementara perbincangan tadi.
"hey?"
"hmmm?"
"apa kau selalu tersenyum seperti tadi ke semua orang?" tanya Ari terheran pada Kiki yang hendak menyusul temannya pergi dari ruangan tersebut.
"hmm,emm.." jawab Kiki tersenyum sambil menggelengkan kepala membuat Ari bingung dan diam sejenak.
"kenapa memangnya?" tanya Kiki lagi.

"bukan apa-apa.. ngomong-ngomong acara kumpul-kumpulnya sudah selesai kan? kami mau pulang" jawab Ari.
"aku dan Andre sudah selesai,berikutnya bagian mereka berdua.. kurasa kalian tidak akan dibiarkan pulang begitu saja,jadi tinggal lah sebentar lagi di sini.. aku tinggal yah?" ujar Kiki saat berpamitan pergi.
"aku tahu arti senyumu barusan.." balas Ari.
"apa artinya? ...jangan terlalu percaya dengan artikel di internet yah,hihi" balas Kiki lagi sesaat sebelum meninggalkan ruangan tersebut lewat pintu lain yang menuju ke arah belakang bangunan.

"oke,di luar rencana.. tapi kurasa orang itu bisa menggantikan Akbar di sesi ini" ujar Bagas tiba-tiba membuka pembicaraan baru.
"ini sudah malam,katakan mau apa dan cepat selesaikan" komentar Ari tanpa basa-basi.
"keluarkan laptop kalian!" kata Galih ikut andil berbicara.
"aku sudah bilang di percakapan tadi,bukan?" balas Ari enggan mengeluarkan isi tas punggungnya.
"bolehlah kalau kau ingin menginap di ruangan ini semalaman.."
"...."

"pintunya terkunci dari luar,kami buka kalau kalian mau menerima tantangannya" jelas Bagas.
"merepotkan saja,ayo ladeni!" ajak Ilham menerima ajakan tersebut.
"tidak ada waktu untuk ragu.. kau bilang ingin cepat pulang,jadi cepat lakukan saja" balas Galih yang masih menunggu jawaban dari Ari.
"huh,apa yang kalian mau? berlomba mengetik? melumpuhkan server internet? keuangan negara? data kampus? asuransi? satelit?" jawab Ari rada kesal.
"simpel saja kok,100 orang tamu di sana masing-masing adalah murid di perguruan ini.. sekaligus murid terpilih yang ada di bawah didikan kami,kita main 100 lawan 2 orang bagaimana?"

"lalu? kalian berdua guru mereka kan? kenapa tidak dibuat 102 vs 1 sekalian saja.. aku sendiri sudah cukup"
"oh,kau menantang yah? bagus sekali" balas Bagas.
"malu juga kalau kami lari saat ditantang yah?"tambah Galih ikut menyiapkan notebook kecilnya.
"kalian dengar sendiri kan? ayo mulai pestanya" seru Bagas pada 100 orang tamu yang sedari tadi hanya duduk-duduk saja.

.
.
.

saat semua pihak telah siap dengan perangkatnya masing-masing,Bagas memberi isyarat agar pertarungannya bisa dimulai.
"Mulai!"
#Badai serangan mulai bergerak
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.