- Beranda
- Stories from the Heart
Sometimes Love Just Ain't Enough
...
TS
jayanagari
Sometimes Love Just Ain't Enough
Halo, gue kembali lagi di Forum Stories From The Heart di Kaskus ini 
Semoga masih ada yang inget sama gue ya
Kali ini gue kembali lagi dengan sebuah cerita yang bukan gue sendiri yang mengalami, melainkan sahabat gue.
Semoga cerita gue ini bisa berkenan di hati para pembaca sekalian

Semoga masih ada yang inget sama gue ya

Kali ini gue kembali lagi dengan sebuah cerita yang bukan gue sendiri yang mengalami, melainkan sahabat gue.
Semoga cerita gue ini bisa berkenan di hati para pembaca sekalian


*note : cerita ini sudah seizin yang bersangkutan.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 24-04-2016 00:40
jenggalasunyi dan 9 lainnya memberi reputasi
10
422.1K
1.5K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#109
PART 5
Gue berhenti di depan pagar kosan dan membuka kaca helm. Selama beberapa saat gue terpaku di tempat karena melihat Fira sedang duduk dan ngobrol berdua dengan seorang laki-laki yang belum pernah gue kenal sebelumnya. Gue mematikan motor dan melepas helm, kemudian berdiri memegang pagar kosan. Fira kemudian menyadari bahwa gue sudah tiba, berdiri sambil tersenyum dan membukakan pagar untuk gue.
Sambil tersenyum Fira berlari kecil ke dalam, meninggalkan gue di teras. Gue melirik ke laki-laki yang katanya pacarnya Arin ini, kemudian tersenyum sambil mengangguk ke dia. Gue kembali ke motor, dan iseng ngecek motor matic gue ini. Agak kotor emang, karena jarang gue cuci. Maklum anak kosan.
Beberapa saat kemudian Fira keluar dari kosan, dan sudah memakai jaket berwarna merah maroon, sambil menenteng tas dan helmnya. Gue memakai helm, kemudian naik ke motor, disusul Fira membonceng di belakang gue. Perlahan gue menjalankan motor, sambil sedikit menoleh ke belakang.
Gue terdiam. Perkataan “terserah” dari seorang cewek merupakan teka-teki yang rumit buat para cowok. Gue bertanya lagi ke Fira.
Gue tertawa sendiri, sambil menggeleng pelan. Yah beginilah cewek, tadi katanya “terserah”, begitu gue kasih pilihan, minta yang lain. Tapi ya sudahlah, gue turutin aja apa maunya Fira. Gue pun menjalankan motor perlahan sambil berpikir mau kemana kami. Mendadak gue teringat sesuatu. Di traffic light gue bertanya ke Fira.
Gue pun mengarahkan motor menuju ke suatu daerah yang telah sangat gue kenal, dan meninggalkan banyak memori bagi gue. Motor gue melewati jalan-jalan perkampungan yang padat, dan akhirnya berhenti di sebuah ujung jalan yang berakhir di tembok pemakaman yang berwarna hijau. Kami berdua turun dari motor dan memasuki areal pemakaman, dimana sebelumnya kami mengucapkan salam terlebih dulu.
Gue berjalan disamping Fira, dengan perasaan yang aneh. Rasanya aneh untuk kembali disini, tapi dengan keadaan yang baru, dan dengan orang baru. Perasaan gue lebih baik daripada yang lalu, tentu saja, cuma gue masih merasakan ada kenangan masa lalu yang menyergap ketika gue melangkah masuk ke areal pemakaman ini.
Kemudian gue dan Fira berhenti di sebuah makam, yang telah diperbarui dengan semen dan nisan dari batu. Gue terpaku memandangi makam itu, dan melupakan segalanya, termasuk Fira disamping gue. Mungkin gue akan terus terpaku, kalau saja Fira gak bertanya.
Gue sempatkan berdoa di dalam hati, diantara kebisuan kami. Setelah beberapa waktu, gue memutuskan untuk mengakhiri kunjungan kami itu. Gue mengajak Fira keluar dari areal pemakaman, kemudian menuju ke warung seafood seperti yang Fira inginkan. Makan malam yang agak terlalu awal itu berlangsung biasa-biasa saja, tanpa banyak hal yang bisa diceritakan.
Setelah makan, gue antarkan Fira pulang ke kosan. Gue memarkirkan motor, dan kami berdua turun. Gue melepas helm, supaya lebih mudah untuk ngobrol sama Fira sebelum gue pamit balik ke kosan.
Gue terdiam, dan menunduk sambil memainkan kaki. Kemudian gue memandangi Fira lagi sambil tersenyum kaku.
Fira tersenyum dan mengulurkan tangannya ke gue, dan gue sambut genggaman tangannya itu.
Gue pun pulang ke kosan gue yang sangat dekat letaknya dari sini. Sesampai di kamar kosan, gue langsung menjatuhkan badan ke kasur dan menutupi muka dengan bantal. Perasaan gue campur aduk. Gue ingin memulai satu lembaran baru di hidup, tapi sepertinya gue salah melangkah hari ini. Dan gue merasa bersalah terhadap Fira. Mungkin suatu hari nanti akan gue ceritakan semuanya ke dia. Kalau masih ada kesempatan bagi gue untuk bercerita.
Gue berhenti di depan pagar kosan dan membuka kaca helm. Selama beberapa saat gue terpaku di tempat karena melihat Fira sedang duduk dan ngobrol berdua dengan seorang laki-laki yang belum pernah gue kenal sebelumnya. Gue mematikan motor dan melepas helm, kemudian berdiri memegang pagar kosan. Fira kemudian menyadari bahwa gue sudah tiba, berdiri sambil tersenyum dan membukakan pagar untuk gue.
Quote:
Sambil tersenyum Fira berlari kecil ke dalam, meninggalkan gue di teras. Gue melirik ke laki-laki yang katanya pacarnya Arin ini, kemudian tersenyum sambil mengangguk ke dia. Gue kembali ke motor, dan iseng ngecek motor matic gue ini. Agak kotor emang, karena jarang gue cuci. Maklum anak kosan.
Beberapa saat kemudian Fira keluar dari kosan, dan sudah memakai jaket berwarna merah maroon, sambil menenteng tas dan helmnya. Gue memakai helm, kemudian naik ke motor, disusul Fira membonceng di belakang gue. Perlahan gue menjalankan motor, sambil sedikit menoleh ke belakang.
Quote:
Gue terdiam. Perkataan “terserah” dari seorang cewek merupakan teka-teki yang rumit buat para cowok. Gue bertanya lagi ke Fira.
Quote:
Gue tertawa sendiri, sambil menggeleng pelan. Yah beginilah cewek, tadi katanya “terserah”, begitu gue kasih pilihan, minta yang lain. Tapi ya sudahlah, gue turutin aja apa maunya Fira. Gue pun menjalankan motor perlahan sambil berpikir mau kemana kami. Mendadak gue teringat sesuatu. Di traffic light gue bertanya ke Fira.
Quote:
Quote:
Gue pun mengarahkan motor menuju ke suatu daerah yang telah sangat gue kenal, dan meninggalkan banyak memori bagi gue. Motor gue melewati jalan-jalan perkampungan yang padat, dan akhirnya berhenti di sebuah ujung jalan yang berakhir di tembok pemakaman yang berwarna hijau. Kami berdua turun dari motor dan memasuki areal pemakaman, dimana sebelumnya kami mengucapkan salam terlebih dulu.
Gue berjalan disamping Fira, dengan perasaan yang aneh. Rasanya aneh untuk kembali disini, tapi dengan keadaan yang baru, dan dengan orang baru. Perasaan gue lebih baik daripada yang lalu, tentu saja, cuma gue masih merasakan ada kenangan masa lalu yang menyergap ketika gue melangkah masuk ke areal pemakaman ini.
Kemudian gue dan Fira berhenti di sebuah makam, yang telah diperbarui dengan semen dan nisan dari batu. Gue terpaku memandangi makam itu, dan melupakan segalanya, termasuk Fira disamping gue. Mungkin gue akan terus terpaku, kalau saja Fira gak bertanya.
Quote:
Gue sempatkan berdoa di dalam hati, diantara kebisuan kami. Setelah beberapa waktu, gue memutuskan untuk mengakhiri kunjungan kami itu. Gue mengajak Fira keluar dari areal pemakaman, kemudian menuju ke warung seafood seperti yang Fira inginkan. Makan malam yang agak terlalu awal itu berlangsung biasa-biasa saja, tanpa banyak hal yang bisa diceritakan.
Setelah makan, gue antarkan Fira pulang ke kosan. Gue memarkirkan motor, dan kami berdua turun. Gue melepas helm, supaya lebih mudah untuk ngobrol sama Fira sebelum gue pamit balik ke kosan.
Quote:
Gue terdiam, dan menunduk sambil memainkan kaki. Kemudian gue memandangi Fira lagi sambil tersenyum kaku.
Quote:
Fira tersenyum dan mengulurkan tangannya ke gue, dan gue sambut genggaman tangannya itu.
Quote:
Gue pun pulang ke kosan gue yang sangat dekat letaknya dari sini. Sesampai di kamar kosan, gue langsung menjatuhkan badan ke kasur dan menutupi muka dengan bantal. Perasaan gue campur aduk. Gue ingin memulai satu lembaran baru di hidup, tapi sepertinya gue salah melangkah hari ini. Dan gue merasa bersalah terhadap Fira. Mungkin suatu hari nanti akan gue ceritakan semuanya ke dia. Kalau masih ada kesempatan bagi gue untuk bercerita.
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3
: ada tamu Fir?
: kirain apa?
: hehe iya juga sih. udah siap? mau makan dimana sih?
: seafood yang enak dimana ya? tapi yang murah aja, maklum akhir bulan.
: terserah. hehehe.
: kasian ya, seumuran kita tapi udah lebih dulu dipanggil.