- Beranda
- Stories from the Heart
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
...
TS
Shadowroad
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Ane mau share novel buatan ane sendiri gan
Novel ane bergenre action, horror, romance, school-life dan supranatural
Inspirasi dapat dari alur game, film, anime, kehidupan, komik, mitologi, legenda dan novel yang pernah ane amati
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Spoiler for Begini gan ceritanya::
Cerita ini tentang seorang remaja dari Jakarta yang keluarganya terbunuh karena kaum vampire. Cowok remaja ini bernama Erik Calendula. Setelah selamat dari bencana yang dibuat kaum vampire, dia lalu memohon pada Arthur Pendragon. Arthur adalah salah satu dari beberapa pemburu vampire yang menyelamatkan Erik. Dibakar oleh tangisan, amarah dan dendam atas kematian keluarganya, Erik meminta Arthur untuk mendidiknya agar menjadi seorang pemburu vampire. Erik berniat menghancurkan organisasi vampire penebar bencana yang menjadi penyebab kematian orang tuanya.
Arthur menyetujui permintaan Erik. Sebelum dididik, Erik dibawa ke markas pemburu vampire di Jakarta yang bernama Knights of the Silver Sword. Lebih singkatnya, organisasi ini biasa disebut Silver Sword. Setelah bergabung dengan Silver Sword dan dibekali pelatihan dari Arthur, karir Erik sebagai pemburu vampire dimulai. Seperti Arthur, Erik juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan listrik.
Arthur menyetujui permintaan Erik. Sebelum dididik, Erik dibawa ke markas pemburu vampire di Jakarta yang bernama Knights of the Silver Sword. Lebih singkatnya, organisasi ini biasa disebut Silver Sword. Setelah bergabung dengan Silver Sword dan dibekali pelatihan dari Arthur, karir Erik sebagai pemburu vampire dimulai. Seperti Arthur, Erik juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan listrik.
Spoiler for Daftar Isi:
Prolog: Hotel Indonesia
Part 1: Arthur Datang Menjenguk
Part 2: Sekolah
Part 3: Kekuatan Dietrich
Part 4: Amanda Myrna
Part 5: Kisah Raja Arthur
Part 6: Pelabuhan
Part 7: Ghoul
Part 8: Bersembunyi di Rumah Kosong
Part 9: Amanda sang Pembunuh
Part 10: Lightning Versus Sand
Part 11: Kematian Rudy
Part 12: Rumah Sakit
Part 13: Teman Sekelas
Part 14: Kunjungan Mario dan Maya
Part 15: Cerita di Malam Hari
Part 16: Serangan Vampire
Part 17: Sungai Kapuas
Part 18: Kelompok Elena Versus Taiyou no Kishi
Part 19: Lantai Tiga
Part 20: Maya Versus Callista
Part 21: Lantai Dua
Part 22: Serangan Balik
Part 23: Kekuatan Callista
Part 24: Rumah Bergaya Belanda
Part 25: Immortals
Part 26: Empat Pertanyaan
Part 27: Der Schwarze Stein
Part 28: Mantra Deprehensio
Part 29: Kelompok Elena Versus Si Ekor Kalajengking
Part 30: Kolam-kolam Air
Part 31: Hydromancer Magnus
Part 32: Sepulang Sekolah
Part 33: Mall Kemang
Part 34: Korban Vampire
Part 35: Chibi, Chernov dan Minsk
Part 36: Pengejaran
Part 37: Tim Erik dan Tim Maul Versus Geng James Wood
Part 37.1: Hutan Ilusi
Part 37.2: Eyes of Markmanship
Part 37.3: Sand Versus Fire
Part 37.4: Pedang dan Tameng Es
Part 37.5: Maul dan Vira Versus James Wood
Part 38: Arthur Versus Lu Bu
Part 39: Agen Ganda
Part 40: Rumah Darkwing Bersaudara
Part 41: Tiga Produk
Part 42: Di Perbatasan Uni Soviet
Part 42.1: Diego Versus Dragovich
Part 43: FlyHigh
Part 44: Pecandu dari Pluit's Boat
Part 45: Kartel Ching Yan
Part 46: Ervan Versus Werewolf
Part 47: Berlindung di Balik Mobil
Part 48: Marga Asakura
Part 49: Hantu di Rumah Amanda
Part 50: Emmy Merah
Part 51: Pisau Dapur yang Melayang
Part 52: Lantai Dua
Part 53: Tim Sandra dan Dua Emmy
Part 54: Elektrokimia
Part 55: Aswatama
Part 56: Erik, Dietrich, Amanda Versus Arthur
Part 57: Erik, Dietrich, Amanda Versus Aswatama
Part 58: Napoleon Bonaparte dan Timnya
Part 59: Melacak
Part 60: Arthur Versus Jie Xiong
Part 61: Penyelamatan Professor Vaugh
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Part 1: Arthur Datang Menjenguk
Part 2: Sekolah
Part 3: Kekuatan Dietrich
Part 4: Amanda Myrna
Part 5: Kisah Raja Arthur
Part 6: Pelabuhan
Part 7: Ghoul
Part 8: Bersembunyi di Rumah Kosong
Part 9: Amanda sang Pembunuh
Part 10: Lightning Versus Sand
Part 11: Kematian Rudy
Part 12: Rumah Sakit
Part 13: Teman Sekelas
Part 14: Kunjungan Mario dan Maya
Part 15: Cerita di Malam Hari
Part 16: Serangan Vampire
Part 17: Sungai Kapuas
Part 18: Kelompok Elena Versus Taiyou no Kishi
Part 19: Lantai Tiga
Part 20: Maya Versus Callista
Part 21: Lantai Dua
Part 22: Serangan Balik
Part 23: Kekuatan Callista
Part 24: Rumah Bergaya Belanda
Part 25: Immortals
Part 26: Empat Pertanyaan
Part 27: Der Schwarze Stein
Part 28: Mantra Deprehensio
Part 29: Kelompok Elena Versus Si Ekor Kalajengking
Part 30: Kolam-kolam Air
Part 31: Hydromancer Magnus
Part 32: Sepulang Sekolah
Part 33: Mall Kemang
Part 34: Korban Vampire
Part 35: Chibi, Chernov dan Minsk
Part 36: Pengejaran
Part 37: Tim Erik dan Tim Maul Versus Geng James Wood
Part 37.1: Hutan Ilusi
Part 37.2: Eyes of Markmanship
Part 37.3: Sand Versus Fire
Part 37.4: Pedang dan Tameng Es
Part 37.5: Maul dan Vira Versus James Wood
Part 38: Arthur Versus Lu Bu
Part 39: Agen Ganda
Part 40: Rumah Darkwing Bersaudara
Part 41: Tiga Produk
Part 42: Di Perbatasan Uni Soviet
Part 42.1: Diego Versus Dragovich
Part 43: FlyHigh
Part 44: Pecandu dari Pluit's Boat
Part 45: Kartel Ching Yan
Part 46: Ervan Versus Werewolf
Part 47: Berlindung di Balik Mobil
Part 48: Marga Asakura
Part 49: Hantu di Rumah Amanda
Part 50: Emmy Merah
Part 51: Pisau Dapur yang Melayang
Part 52: Lantai Dua
Part 53: Tim Sandra dan Dua Emmy
Part 54: Elektrokimia
Part 55: Aswatama
Part 56: Erik, Dietrich, Amanda Versus Arthur
Part 57: Erik, Dietrich, Amanda Versus Aswatama
Part 58: Napoleon Bonaparte dan Timnya
Part 59: Melacak
Part 60: Arthur Versus Jie Xiong
Part 61: Penyelamatan Professor Vaugh
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Gan, setelah baca mohon komennya, ya
Ane sangat menerima kritik dan saran
Pertanyaan juga sangat dianjurkan, supaya agan2 dapat lebih memahami cerita yang rumit ini
Kalau terjadi kesalahan seperti tanda baca, kurang jelas, ketidak konsistenan cerita mohon diingatkan ya gan
Terima kasih gan
Diubah oleh Shadowroad 26-11-2017 06:31
2
87K
Kutip
544
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Shadowroad
#204
Part 30: Kolam-Kolam Air
Spoiler for Part 30:
Quote:
“Kami berhasil melukai kakinya,” kata Lia, “Sekarang bagaimana, Nyonya Elena?”
Mereka berlima sekarang masih berlari. Tidak selalu menggunakan kecepatan vampire. Sesekali mereka tidak menggunakannya karena menghemat energi. Mereka sekarang berani melakukan hal seperti itu karena jarak mereka selama bekejar-kejaran bertambah menjadi sekitar sepuluh meter. Sebelum kaki singa itu tertembus oleh peluru-peluru Lia, jarak mereka hanya lima meter.
Karena kakinya terluka, makhluk itu sekarang terbang rendah. Elena melihat sayap singa itu sudah mulai berlubang karena ledakan sihir api milik Angelica. Akibatnya, terbangnya menjadi tidak stabil. Sayapnya yang cukup lebar juga membuatnya beberapa kali tersangkut pohon.
Quote:
“Kita akan membuatnya menjadi singa biasa,” kata Elena yang masih berlari memimpin, “Masalah kita adalah sayapnya dan ekor kalajengkingnya yang mematikan.”
Empat anak buah Elena takut jika harus mengurus ekor kalajengkingnya. Ekor yang sangat beracun itu adalah senjata utama si singa karena aliran manna terbesar berada di ekornya. Angelica, Rita dan Lia hanya diam karena Elena adalah pemimpin mereka. Hanya Lina yang berani bicara.

Quote:
“Melawan ekor makhluk itu sama saja menantang kematian dengan cara tersiksa, Kak,” bantah Lina.
Elena tertawa, “Aku tidak bilang harus memotong ekornya, Lina. Selama ekornya tidak mampu menjangkau kita, itu sudah cukup.”
“Caranya?”
“Hancurkan sepasang sayapnya dulu. Dengan begitu, dia tidak akan bisa terbang. Lalu kita secepat mungkin harus memanjat pohon dan menyerangnya dari atas. Setelah semua sampai di atas, kita gempur mukanya agar kepalanya hancur.”
“Kenapa kita tidak kabur saja daripada harus berhadapan dengannya?”
“Makhluk itu tidak menyerah untuk mengejar buruannya. Aku tidak mau terus-terusan dikejar makhluk itu tanpa beristirahat.
“Kakak benar juga.”
“Di rencana ini, kaulah yang menjadi kunci utamanya. Ciptakan butiran-butiran air yang lebih banyak dari biasanya. Lalu, tembaklah dia seperti senapan mesin. Fokuskan semua seranganmu ke sayapnya.”
“Tapi, Kak … aku tidak memiliki air sebanyak itu sekarang. Meskipun aku mampu membuat air dari reaksi gas hidrogen dan gas oksigen, air yang tercipta hanya sedikit.”
“Angelica, apa kau bisa mendeteksi sumber air? Jika bisa lakukan sekarang.”
Elena tertawa, “Aku tidak bilang harus memotong ekornya, Lina. Selama ekornya tidak mampu menjangkau kita, itu sudah cukup.”
“Caranya?”
“Hancurkan sepasang sayapnya dulu. Dengan begitu, dia tidak akan bisa terbang. Lalu kita secepat mungkin harus memanjat pohon dan menyerangnya dari atas. Setelah semua sampai di atas, kita gempur mukanya agar kepalanya hancur.”
“Kenapa kita tidak kabur saja daripada harus berhadapan dengannya?”
“Makhluk itu tidak menyerah untuk mengejar buruannya. Aku tidak mau terus-terusan dikejar makhluk itu tanpa beristirahat.
“Kakak benar juga.”
“Di rencana ini, kaulah yang menjadi kunci utamanya. Ciptakan butiran-butiran air yang lebih banyak dari biasanya. Lalu, tembaklah dia seperti senapan mesin. Fokuskan semua seranganmu ke sayapnya.”
“Tapi, Kak … aku tidak memiliki air sebanyak itu sekarang. Meskipun aku mampu membuat air dari reaksi gas hidrogen dan gas oksigen, air yang tercipta hanya sedikit.”
“Angelica, apa kau bisa mendeteksi sumber air? Jika bisa lakukan sekarang.”
Angelica langsung memulai ritual sihirnya. Seperti biasa tongkatnya menyentuh permukaan tanah. Terdengar suara gesekan antara tongkatnya dengan tanah. Dia mengalirkan manna ke ujung bawah tongkatnya dan mulai merapalkan mantra. Angelica berhasil mendeteksi sumber airnya. Namun, hasil deteksinya menangkap adanya keanehan pada sumber-sumber air yang ditemukannya. Meskipun begitu, Angelica tetap melaporkan pada Elena.
Quote:
“Antara empat hingga lima puluh meter. Utara,” kata Angelica, “Ada sumber-sumber air yang sangat luas.”
“Ke kiri, saudari-saudariku!” teriak Elena.
“Ke kiri, saudari-saudariku!” teriak Elena.
Mereka berlima langsung berbelok ke kiri. Belokan mendadak itu membuat si makhluk mitologi terkejut dan memaksa berbelok mendadak. Akibatnya, makhluk itu terbentur pohon. Tubuhnya tidak stabil dan kakinya tersangkut akar. Singa berekor kalajengking itu jatuh tersungkur dan bergesekan dengan tanah.
Quote:
Rita tertawa, “Secara tak sengaja, kita menyerangnya.”
“Itu memberikan waktu untuk kita. Kita akan menggempurnya jika aku sudah mendapatkan air-airku,” kata Lina.
“Itu memberikan waktu untuk kita. Kita akan menggempurnya jika aku sudah mendapatkan air-airku,” kata Lina.
Betapa terkejutnya mereka ketika sudah sampai di sumber air. Mereka berpikiran bahwa akan ada sungai atau danau kecil yang terbentang luas. Namun, yang mereka lihat sekarang adalah kolam-kolam air yang jelas-jelas buatan manusia. Kolam-kolam air itu mengelilingi sebuah pondok yang terbuat dari kayu, bambu dan jerami. Hanya Angelica yang tidak terkejut melihat hal itu. Sebelumnya, Angelica sudah mendeteksi adanya air yang tidak alami ketika diperintah oleh Elena tadi. Jadinya dia sudah terkejut terlebih dahulu. Mereka berlari mengikuti Elena melewati kolam-kolam. Kolam-kolam itu penuh dengan ikan-ikan laut. Mereka semakin bingung melihat ikan laut yang bisa hidup di air tawar.
Quote:
“Kita bertahan di atap rumah itu,” kata Elena.
“Bagaimana jika ada orangnya?” kata Lia.
“Mudah. Kita bunuh saja,” jawab Elena.
“Bagaimana jika ada orangnya?” kata Lia.
“Mudah. Kita bunuh saja,” jawab Elena.
Mereka berlima akhirnya sampai di atap rumah. Lina segera mengambil sebagian air dari kolam. Membuat gumpalan-gumpalan air besar itu menjadi kecil seperti peluru. Ukurannya memang kecil, tapi butiran-butiran air ini memenuhi udara. Siap ditembakkan untuk menghujani singa bermuka manusia itu. Selain Lina, yang lainnya juga sudah siap. Elena, Lia dan Rita sudah menodongkan senjata api ke arah hutan. Sementara Angelica menciptakan bola api di sekelilingnya.
Singa bermuka manusia itu muncul dari hutan. Dia masih berlari dengan kencangnya meskipun larinya terlihat tidak stabil karena peluru di kakinya. Beberapa kali dia tercebur kolam. Meskipun begitu, singa itu tidak menyerah.
Quote:
“Baiklah. Apa kalian sudah siap untuk menjalankan rencanaku? Apakah senjata kita sudah penuh dengan peluru?”
Melihat semuanya tampak yakin, Rita menjawab, “Kami siap, Nyonya Elena!”
“Hancurkan!” teriak Elena.
Melihat semuanya tampak yakin, Rita menjawab, “Kami siap, Nyonya Elena!”
“Hancurkan!” teriak Elena.
Butiran peluru air yang jumlahnya ratusan menghujani singa bermuka manusia itu. Tembakan-tembakan peluru dari Elena, Lia, Rita dan tembakan bola api dari Angelica mendukung serangan Lina. Semuanya melesat dan terfokus ke sayap dan kepala si singa.
Singa berekor kalajengking itu melakukan suatu hal yang di luar dugaan. Dia berbalik dan membelakangi para vampire. Ekor kalajengkingnya berputar cepat untuk menepis semua serangan para vampire. Hanya sebagian kecil tembakan yang benar-benar menembus kulitnya. Para vampire tercengang melihat semua serangan mereka digagalkan sehingga tanpa sengaja mereka menghentikan serangan. Di saat itulah singa itu langsung melesat menghampiri para vampire. Makhluk itu mulai terbang rendah. Dengan ekornya dia bertahan dan dengan ekornya pula dia menyerang. Ekor kalajengkingnya itu mencambuk para vampire yang baru bersiap untuk menembak lagi. Lima vampire itu terhempas ke segala arah karena cambukan ekor yang begitu keras. Saking kerasnya sampai menghancurkan atap rumah yang terbuat dari bambu dan jerami.
Lima vampire itu buru-buru bangkit dan berkumpul kembali di belakang rumah bambu. Lina dan Rita benar-benar basah kuyup. Mereka berdua terlempar dan tepat mendarat di kolam. Vampire-vampire yang lain mendarat di tanah. Yang paling parah adalah kondisi Lia. Tangan kirinya patah ketika mendarat karena membentur batu.
Quote:
“Keadaan benar-benar berbalik,” kata Rita panik, “Ternyata makhluk itu masih punya kekuatan untuk terbang dan menghempaskan kita.”
“Tentu saja,” timpal Lia, “Memang benar kata Nyonya. Sumber masalahnya sekarang adalah sayap dan ekornya.
“Tak apa. Aku masih punya cara,” kata Elena yang masih tenang dan memandang semua anak buahnya, “Tidak ada yang tersengat, kan?”
Semuanya menggeleng. Hanya Lia yang berkata, “Hanya patah tulang. Sebentar lagi juga akan meregenerasi lagi.”
“Kak, kali ini rencanamu apalagi?” tanya Lina yang sudah tak sabar. Dalam hatinya dia sangat ingin beristirahat. Ingin segera menyelesaikan semua ini.
“Kita akan merebusnya di kolam-kolam ini dengan pengendali air Lina dan sihir api Angelica,” kata Elena pada semua anak buahnya.
“Tentu saja,” timpal Lia, “Memang benar kata Nyonya. Sumber masalahnya sekarang adalah sayap dan ekornya.
“Tak apa. Aku masih punya cara,” kata Elena yang masih tenang dan memandang semua anak buahnya, “Tidak ada yang tersengat, kan?”
Semuanya menggeleng. Hanya Lia yang berkata, “Hanya patah tulang. Sebentar lagi juga akan meregenerasi lagi.”
“Kak, kali ini rencanamu apalagi?” tanya Lina yang sudah tak sabar. Dalam hatinya dia sangat ingin beristirahat. Ingin segera menyelesaikan semua ini.
“Kita akan merebusnya di kolam-kolam ini dengan pengendali air Lina dan sihir api Angelica,” kata Elena pada semua anak buahnya.
Makhluk itu muncul lagi. Kali ini singa berekor kalajengking itu berada di atap rumah. Ekor kalajengkingnya mengibas kesana kemari dan berputar. Air liur menetes dari mulutnya. Aumannya yang keras membuat mental para vampire down. Menunjukkan taring-taring runcingnya yang lebih menakutkan daripada singa biasa. Darah menetes dari lubang-lubang di tubuhnya.
Quote:
“TERUSKAN!! TERUSKAN!! RUSAKKAN SEMUA!!” terdengar suara teriakkan yang penuh amarah dari rumah bambu.
Munculnya suara itu diikuti oleh rapalan mantra. Rapalan mantra tak terdengar begitu jelas di telinga para vampire. Tahu-tahu, sebuah meriam peluru besar menghantam tubuh singa. Hantaman yang sangat keras hingga membuat singa itu jatuh dari atap. Lina bertanya-tanya pengendali air macam apa yang bisa menggumpalkan air hingga membuat singa itu terhempas.
Quote:
“SINGA BRENGSEK!! TEMPATMU BUKAN DI SINI!!” suara yang penuh kemarahan itu terdengar lagi.
Muncullah seorang laki-laki yang memakai jubah biru. Dia terlihat siap bertarung. Janggutnya yang hitam legam begitu panjang hingga ke perutnya. Tangan kanannya menggenggam pedang dan tangan kirinya menggenggam sebuah tongkat sihir. Di ujung tongkatnya ada air yang melayang-layang.
Quote:
“Hydromancer!” kata Angelica.
Singa itu benar-benar tangguh. Kali ini dia bangkit lagi dan mencoba menyerang si penyihir tua. Meskipun cara berjalannya sedikit sempoyongan, singa itu terus mendekat. Dia menusukkan ekor kalajengkingnya yang runcing berkali-kali ke si penyihir. Penyihir yang tetap menjaga jarak tentu saja bisa dengan mudah menghindari atau menangkis tusukan-tusukan mematikan dari sang singa.
Quote:
“AQUA! VICESIMUS TERTIUS! TERNI! AQUA PUGNO!”
Tiga gumpalan air besar menghantam muka singa. Tubuhnya terhempas sepuluh meter. Surainya basah kuyup sehingga dia mengibas-ngibaskan kepalanya. Makhluk mitologi ini mencoba bangkit namun segera roboh lagi. Tentu saja kepalanya masih pusing. Tubuhnya terlihat memar karena hantaman air dari si penyihir. Di jeda inilah sang penyihir berjalan ke salah satu kolam, menenggelamkan pangkal tongkatnya dan mulai merapalkan mantra.
Quote:
“INVOCATIO! TRICEMUS UNUS! UNA! HUMANOID! MARE ELEMENTUM!”
Setelah mantra Invocatio dirapalkan, air dari kolam yang terkena tongkat si penyihir mulai bergerak. Kerang-kerang dan hewan-hewan bercangkang ikut terbawa air. Air itu mendarat di tanah dan terbentuk seperti tubuh manusia. Kerang-kerang dan hewan-hewan bercangkang yang terbawa air menjadi baju pelindung air yang menyerupai manusia itu. Inilah yang disebut Elemental Laut.
Elena dan kelompoknya terbius melihat pertarungan seru antara hydromancer melawan singa berekor kalajengking. Mereka berlima seperti melihat pertunjukan gulat antara dua petarung kuat. Sebuah pertunjukkan dimana dua belah pihak sama-sama kuat dan mematikan. Ditambah perasaan puas karena mereka berlima dikejar-kejar hingga kelelahan. Rasa dendam karena dikejar-kejar makhluk itu seakan terbalaskan.
Yang paling antusias adalah Angelica karena melihat penyihir seperti dirinya bertarung. Angelica semakin bergairah ketika mantra Invocatio dirapalkan. Vampire Amerika Selatan itu tahu kalau mantra Invocatio adalah mantra summoning atau pemanggilan. Angelica sangat ingin menguasai mantra pemanggilan dengan sempurna. Dia sangat kagum begitu melihat Elemental Laut bertarung melawan singa berekor kalajengking.
Quote:
“Baru pertama kali aku melihat Elemental Air,” kata Rita.
“Itu bukan Elemental Air. Itu Elemental Laut,” Angelica mengoreksi.
“Hah? Apa bedanya?” tanya Lia.
“Elemental Air hanya bisa mengendalikan unsur H2O saja. Tidak peduli ada berapa banyak senyawa yang terkandung pada Elemental Air, kita hanya bisa mengendalikan H2O saja. Sedangkan Elemental Laut, selain memanfaatkan unsur H2O, kita juga bisa mengendalikan unsur garam yang terkandung dalam air laut. Tambahannya adalah adanya hewan-hewan laut bercangkang yang bisa menjadi baju pelindung,” kata Angelica.
“Aku baru sadar kalau air di kolam-kolam itu adalah air laut,” kata Elena.
“Benar. Karena mana mungkin ada air laut di sini,” jawab Lina.
“Matilah kau!” kata si penyihir tua sambil melemparkan pedangnya pada Elemental Laut. Elemental Laut itu menangkap pedang dan menjadikannya senjata.
“Itu bukan Elemental Air. Itu Elemental Laut,” Angelica mengoreksi.
“Hah? Apa bedanya?” tanya Lia.
“Elemental Air hanya bisa mengendalikan unsur H2O saja. Tidak peduli ada berapa banyak senyawa yang terkandung pada Elemental Air, kita hanya bisa mengendalikan H2O saja. Sedangkan Elemental Laut, selain memanfaatkan unsur H2O, kita juga bisa mengendalikan unsur garam yang terkandung dalam air laut. Tambahannya adalah adanya hewan-hewan laut bercangkang yang bisa menjadi baju pelindung,” kata Angelica.
“Aku baru sadar kalau air di kolam-kolam itu adalah air laut,” kata Elena.
“Benar. Karena mana mungkin ada air laut di sini,” jawab Lina.
“Matilah kau!” kata si penyihir tua sambil melemparkan pedangnya pada Elemental Laut. Elemental Laut itu menangkap pedang dan menjadikannya senjata.
Elemental Laut itu tiba-tiba mendorong sang singa hingga masuk ke kolam. Elemental Laut juga ikut menceburkan diri ke dalam kolam. Entah apa yang direncanakan penyihir itu. Penyihir itu terus berkonsentrasi. Tatapan matanya mengarah ke kolam tempat si singa tenggelam. Sekarang sudah lewat dua menit. Namun tidak ada tanda-tanda makhluk itu bangkit lagi. Padahal singa ini sangat gigih dan tidak menyerah dalam mengejar mangsanya meskipun tubuhnya penuh dengan luka. Tentunya dia dengan mudah bisa bangkit lagi hanya dalam waktu yang kurang dari tiga puluh detik.
Para vampire penasaran apa yang terjadi pada Elemental Laut dan makhluk mitologi itu. Dua-duanya tidak muncul meski sekarang sudah lewat lima menit. Hingga akhirnya sang penyihir meninggalkan posisi bertarungnya dan mendekati kelompok Elena.
Quote:
“Kalian tidak perlu takut. Makhluk itu sudah mati,” kata penyihir itu, “Kalian bisa beristirahat di rumahku. Membawa Black Orb pasti sangat melelahkan.”
Mendengar kata Black Orb disebut, Lina dan Angelica langsung berdiri di posisi paling depan. Rita dan Lia juga langsung merapat ke Elena. Semuanya langsung melindungi Elena yang memang pembawa Black Orb. Lima vampire itu bertanya-tanya dalam hati darimana penyihir ini tahu tentang Black Orb. Mereka sadar bahwa penyihir ini bukan penyihir sembarangan.
Diubah oleh Shadowroad 18-10-2015 07:08
0
Kutip
Balas