- Beranda
- Stories from the Heart
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
...
TS
Shadowroad
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Ane mau share novel buatan ane sendiri gan
Novel ane bergenre action, horror, romance, school-life dan supranatural
Inspirasi dapat dari alur game, film, anime, kehidupan, komik, mitologi, legenda dan novel yang pernah ane amati
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Spoiler for Begini gan ceritanya::
Cerita ini tentang seorang remaja dari Jakarta yang keluarganya terbunuh karena kaum vampire. Cowok remaja ini bernama Erik Calendula. Setelah selamat dari bencana yang dibuat kaum vampire, dia lalu memohon pada Arthur Pendragon. Arthur adalah salah satu dari beberapa pemburu vampire yang menyelamatkan Erik. Dibakar oleh tangisan, amarah dan dendam atas kematian keluarganya, Erik meminta Arthur untuk mendidiknya agar menjadi seorang pemburu vampire. Erik berniat menghancurkan organisasi vampire penebar bencana yang menjadi penyebab kematian orang tuanya.
Arthur menyetujui permintaan Erik. Sebelum dididik, Erik dibawa ke markas pemburu vampire di Jakarta yang bernama Knights of the Silver Sword. Lebih singkatnya, organisasi ini biasa disebut Silver Sword. Setelah bergabung dengan Silver Sword dan dibekali pelatihan dari Arthur, karir Erik sebagai pemburu vampire dimulai. Seperti Arthur, Erik juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan listrik.
Arthur menyetujui permintaan Erik. Sebelum dididik, Erik dibawa ke markas pemburu vampire di Jakarta yang bernama Knights of the Silver Sword. Lebih singkatnya, organisasi ini biasa disebut Silver Sword. Setelah bergabung dengan Silver Sword dan dibekali pelatihan dari Arthur, karir Erik sebagai pemburu vampire dimulai. Seperti Arthur, Erik juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan listrik.
Spoiler for Daftar Isi:
Prolog: Hotel Indonesia
Part 1: Arthur Datang Menjenguk
Part 2: Sekolah
Part 3: Kekuatan Dietrich
Part 4: Amanda Myrna
Part 5: Kisah Raja Arthur
Part 6: Pelabuhan
Part 7: Ghoul
Part 8: Bersembunyi di Rumah Kosong
Part 9: Amanda sang Pembunuh
Part 10: Lightning Versus Sand
Part 11: Kematian Rudy
Part 12: Rumah Sakit
Part 13: Teman Sekelas
Part 14: Kunjungan Mario dan Maya
Part 15: Cerita di Malam Hari
Part 16: Serangan Vampire
Part 17: Sungai Kapuas
Part 18: Kelompok Elena Versus Taiyou no Kishi
Part 19: Lantai Tiga
Part 20: Maya Versus Callista
Part 21: Lantai Dua
Part 22: Serangan Balik
Part 23: Kekuatan Callista
Part 24: Rumah Bergaya Belanda
Part 25: Immortals
Part 26: Empat Pertanyaan
Part 27: Der Schwarze Stein
Part 28: Mantra Deprehensio
Part 29: Kelompok Elena Versus Si Ekor Kalajengking
Part 30: Kolam-kolam Air
Part 31: Hydromancer Magnus
Part 32: Sepulang Sekolah
Part 33: Mall Kemang
Part 34: Korban Vampire
Part 35: Chibi, Chernov dan Minsk
Part 36: Pengejaran
Part 37: Tim Erik dan Tim Maul Versus Geng James Wood
Part 37.1: Hutan Ilusi
Part 37.2: Eyes of Markmanship
Part 37.3: Sand Versus Fire
Part 37.4: Pedang dan Tameng Es
Part 37.5: Maul dan Vira Versus James Wood
Part 38: Arthur Versus Lu Bu
Part 39: Agen Ganda
Part 40: Rumah Darkwing Bersaudara
Part 41: Tiga Produk
Part 42: Di Perbatasan Uni Soviet
Part 42.1: Diego Versus Dragovich
Part 43: FlyHigh
Part 44: Pecandu dari Pluit's Boat
Part 45: Kartel Ching Yan
Part 46: Ervan Versus Werewolf
Part 47: Berlindung di Balik Mobil
Part 48: Marga Asakura
Part 49: Hantu di Rumah Amanda
Part 50: Emmy Merah
Part 51: Pisau Dapur yang Melayang
Part 52: Lantai Dua
Part 53: Tim Sandra dan Dua Emmy
Part 54: Elektrokimia
Part 55: Aswatama
Part 56: Erik, Dietrich, Amanda Versus Arthur
Part 57: Erik, Dietrich, Amanda Versus Aswatama
Part 58: Napoleon Bonaparte dan Timnya
Part 59: Melacak
Part 60: Arthur Versus Jie Xiong
Part 61: Penyelamatan Professor Vaugh
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Part 1: Arthur Datang Menjenguk
Part 2: Sekolah
Part 3: Kekuatan Dietrich
Part 4: Amanda Myrna
Part 5: Kisah Raja Arthur
Part 6: Pelabuhan
Part 7: Ghoul
Part 8: Bersembunyi di Rumah Kosong
Part 9: Amanda sang Pembunuh
Part 10: Lightning Versus Sand
Part 11: Kematian Rudy
Part 12: Rumah Sakit
Part 13: Teman Sekelas
Part 14: Kunjungan Mario dan Maya
Part 15: Cerita di Malam Hari
Part 16: Serangan Vampire
Part 17: Sungai Kapuas
Part 18: Kelompok Elena Versus Taiyou no Kishi
Part 19: Lantai Tiga
Part 20: Maya Versus Callista
Part 21: Lantai Dua
Part 22: Serangan Balik
Part 23: Kekuatan Callista
Part 24: Rumah Bergaya Belanda
Part 25: Immortals
Part 26: Empat Pertanyaan
Part 27: Der Schwarze Stein
Part 28: Mantra Deprehensio
Part 29: Kelompok Elena Versus Si Ekor Kalajengking
Part 30: Kolam-kolam Air
Part 31: Hydromancer Magnus
Part 32: Sepulang Sekolah
Part 33: Mall Kemang
Part 34: Korban Vampire
Part 35: Chibi, Chernov dan Minsk
Part 36: Pengejaran
Part 37: Tim Erik dan Tim Maul Versus Geng James Wood
Part 37.1: Hutan Ilusi
Part 37.2: Eyes of Markmanship
Part 37.3: Sand Versus Fire
Part 37.4: Pedang dan Tameng Es
Part 37.5: Maul dan Vira Versus James Wood
Part 38: Arthur Versus Lu Bu
Part 39: Agen Ganda
Part 40: Rumah Darkwing Bersaudara
Part 41: Tiga Produk
Part 42: Di Perbatasan Uni Soviet
Part 42.1: Diego Versus Dragovich
Part 43: FlyHigh
Part 44: Pecandu dari Pluit's Boat
Part 45: Kartel Ching Yan
Part 46: Ervan Versus Werewolf
Part 47: Berlindung di Balik Mobil
Part 48: Marga Asakura
Part 49: Hantu di Rumah Amanda
Part 50: Emmy Merah
Part 51: Pisau Dapur yang Melayang
Part 52: Lantai Dua
Part 53: Tim Sandra dan Dua Emmy
Part 54: Elektrokimia
Part 55: Aswatama
Part 56: Erik, Dietrich, Amanda Versus Arthur
Part 57: Erik, Dietrich, Amanda Versus Aswatama
Part 58: Napoleon Bonaparte dan Timnya
Part 59: Melacak
Part 60: Arthur Versus Jie Xiong
Part 61: Penyelamatan Professor Vaugh
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Gan, setelah baca mohon komennya, ya
Ane sangat menerima kritik dan saran
Pertanyaan juga sangat dianjurkan, supaya agan2 dapat lebih memahami cerita yang rumit ini
Kalau terjadi kesalahan seperti tanda baca, kurang jelas, ketidak konsistenan cerita mohon diingatkan ya gan
Terima kasih gan
Diubah oleh Shadowroad 26-11-2017 06:31
2
87K
Kutip
544
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Shadowroad
#203
Part 29: Kelompok Elena Versus Si Ekor Kalajengking
Spoiler for Part 29:
Quote:
“Jika kalian ingin makan, lakukan dengan cepat,” kata Elena.
Elena sekarang menjadi sangat waspada. Beda dengan beberapa menit sebelumnya dimana dia bersantai dan ogah-ogahan diajak berangkat oleh adiknya. Dia terpaksa membuang sepuluh menit istirahat. Semua ini karena kecepatan si hewan mitologi yang tidak masuk akal. Bisa mempersempit jarak dalam waktu sesingkat itu. Elena tidak yakin apakah makhluk itu memang secara alami secepat itu atau dia menjadi cepat karena kelaparan. Entahlah. Yang jelas, dia dan kelompoknya harus segera pergi dari tempat ini.
Quote:
“Rusa sialan,” kata Lina setelah selesai makan.
“Ya,” Lia menyetujui, “Jika saja rusa atau herbivora atau apapun tidak ada, kita bisa lebih santai di sini.”
“Ya,” Lia menyetujui, “Jika saja rusa atau herbivora atau apapun tidak ada, kita bisa lebih santai di sini.”
Memang benar semua ini karena nasib sial yang dialami oleh kelompok Elena. Istirahatnya di tempat yang tidak pas. Hewan mitologi itu juga berlari ke selatan juga karena mengejar hewan herbivora. Tepat mengarah ke kelompok Elena.
Quote:
“Rita, bagaimana pendapatmu tentang makhluk ini?” tanya Elena.
“Naga memang jauh lebih kuat daripada makhluk ini,” jawab Rita, “Tapi makhluk ini tak kalah berbahaya dari naga.”
“Dengar,” kata Elena sambil memandang seluruh timnya, “Kita terus berlari ke arah timur. Jika kemungkinan terburuk terjadi, ketika makhluk itu menatap kita dan beralih mengejar kita, kita harus tetap berlari menuju timur. Lemparkan apapun yang menjadi keahlian. Peluru, sihir, ataupun pengendalian air.”
Tim Elena mengangguk dan berkata, “Siap!”
“Aku ingat namanya,” kata Lia sambil memandang Rita, “Namanya Sphinx, kan? Makhluk berbadan singa berkepala manusia?”
“Bukan,” kata Elena, “Sphink memang manusia berbadan singa tapi ekornya ekor biasa. Bukan ekor kalajengking.”
“Aku jadi kepikiran,” kata Angelica, “DEPREHENSIO! QUINTUS DECIMUS! UNA! ANIMA!”
“Naga memang jauh lebih kuat daripada makhluk ini,” jawab Rita, “Tapi makhluk ini tak kalah berbahaya dari naga.”
“Dengar,” kata Elena sambil memandang seluruh timnya, “Kita terus berlari ke arah timur. Jika kemungkinan terburuk terjadi, ketika makhluk itu menatap kita dan beralih mengejar kita, kita harus tetap berlari menuju timur. Lemparkan apapun yang menjadi keahlian. Peluru, sihir, ataupun pengendalian air.”
Tim Elena mengangguk dan berkata, “Siap!”
“Aku ingat namanya,” kata Lia sambil memandang Rita, “Namanya Sphinx, kan? Makhluk berbadan singa berkepala manusia?”
“Bukan,” kata Elena, “Sphink memang manusia berbadan singa tapi ekornya ekor biasa. Bukan ekor kalajengking.”
“Aku jadi kepikiran,” kata Angelica, “DEPREHENSIO! QUINTUS DECIMUS! UNA! ANIMA!”
Angelica merasakan keberadaan makhluk itu. Hewan mitologi mengejar si herbivore. Pergerakan mereka memang zigzag seperti kilat. Namun tetap saja dua hewan itu berlari ke selatan. Mendekati kelompok Elena. Sekarang jarak antara kelompok Elena dengan hewan mitologi adalah 220 meter.
Quote:
“Jarak kita dengannya tinggal 220 meter, Nyonya Elena,” kata Angelica.
“Gila!” kata Lia, “Mana mungkin ada makhluk secepat itu?”
“Baiklah, kita mulai atur formasi,” kata Elena, “Lina dan Lia, kalian berada di paling belakang. Lindungi Angelica apapun yang terjadi. Sementara aku dan Rita berada di paling depan. Tugasku dan Rita adalah membuka jalan. Lalu tugas Angelica adalah mendeteksi keberadaan makhluk itu. Selain itu, gunakan sihir apimu untuk menyerang balik makhluk apapun yang menyerang kita.”
“Mengerti!” jawab semua anak buah Elena.
“Angelica, jaraknya tinggal berapa?” tanya Elena.
“160 meter, Nyonya,” kata Angelica, “Pergerakannya tidak beraturan.”
“Baiklah,” kata Elena, “Menuju ke timur.”
“Gila!” kata Lia, “Mana mungkin ada makhluk secepat itu?”
“Baiklah, kita mulai atur formasi,” kata Elena, “Lina dan Lia, kalian berada di paling belakang. Lindungi Angelica apapun yang terjadi. Sementara aku dan Rita berada di paling depan. Tugasku dan Rita adalah membuka jalan. Lalu tugas Angelica adalah mendeteksi keberadaan makhluk itu. Selain itu, gunakan sihir apimu untuk menyerang balik makhluk apapun yang menyerang kita.”
“Mengerti!” jawab semua anak buah Elena.
“Angelica, jaraknya tinggal berapa?” tanya Elena.
“160 meter, Nyonya,” kata Angelica, “Pergerakannya tidak beraturan.”
“Baiklah,” kata Elena, “Menuju ke timur.”
Semua segera berlari menuju ke timur untuk menghindari makhluk horror dari arah utara. Mereka menembus lebatnya hutan Kalimantan dengan menggunakan kecepatan vampire. Dengan menggunakan pedang dan golok, Elena dan Rita menebus akar-akar yang menghalangi jalan. Sementara Lina dan Lia sesekali menoleh ke segala arah. Takut jika makhluk yang memiliki kecepatan tinggi ini tiba-tiba muncul begitu saja. Lalu si vampire penyihir terus mengaktifkan mantra deteksinya. Manna (energy yang digunakan untuk mengaktifkan sihir) Angelica berkurang sedikit demi sedikit.
Quote:
“Nyonya Elena ... ” kata Rita.
“Ya?” kata Elena.
“Saya memohon pada anda, Nyonya Elena, agar segera menggunakan kesempatan untuk kabur jika makhluk itu menelan saya …”
“Tidak akan ada yang mati malam ini!”
“Tapi, Nyonya Elena, kita harus memperhitungkan semua kemungkinan …”
“Cukup, Rita! Cukup!”
“Nyonya … ini demi nyonya dan tim kita.”
“Aku memang pemimpinmu. Meskipun begitu, bukan berarti aku seenaknya mengorbankan teman-temanku demi keselamatan diriku sendiri. Meskipun kita tak memiliki hubungan darah. aku menganggapmu seperti adikku sendiri, sama seperti Lina. Apa kau paham, Rita?”
Rita hanya bisa menjawab, “Paham, Nyonya.”
“Bagaimana, Angelica?” tanya Elena.
“90 meter,” jawab Angelica, “Aku merasakan ada hawa kehidupan …”
“Ya?” kata Elena.
“Saya memohon pada anda, Nyonya Elena, agar segera menggunakan kesempatan untuk kabur jika makhluk itu menelan saya …”
“Tidak akan ada yang mati malam ini!”
“Tapi, Nyonya Elena, kita harus memperhitungkan semua kemungkinan …”
“Cukup, Rita! Cukup!”
“Nyonya … ini demi nyonya dan tim kita.”
“Aku memang pemimpinmu. Meskipun begitu, bukan berarti aku seenaknya mengorbankan teman-temanku demi keselamatan diriku sendiri. Meskipun kita tak memiliki hubungan darah. aku menganggapmu seperti adikku sendiri, sama seperti Lina. Apa kau paham, Rita?”
Rita hanya bisa menjawab, “Paham, Nyonya.”
“Bagaimana, Angelica?” tanya Elena.
“90 meter,” jawab Angelica, “Aku merasakan ada hawa kehidupan …”
BRUK!!
Angelica tiba-tiba saja terjatuh. Tubuhnya melayang dan mukanya langsung membentur batang pohon besar di depannya. Angelica bisa merasakan hangatnya darah yang keluar dari pelipisnya. Dia mengusap darah dengan jubahnya. Meskipun kulit pelipisnya yang terluka itu meregenerasi kembali, jantungnya masih terlalu terkejut untuk bangkit kembali. Pikirannya masih bertanya-tanya apa yang baru saja terjadi. Sesuatu yang besar melilit telapak kaki kirinya. Begitu melihatnya, Angelica menghela nafas lega karena bukan ular. Hanya akar pohon. Dia masih trauma dengan ular karena tujuh bulan yang lalu Angelica berhadapan dengan ular sepanjang empat puluh kaki di Afrika.
Quote:
Elena dan tiga anak buahnya berusaha menolong Angelica. Dengan pisaunya, Elena memotong akar yang melilit kaki Angelica. Begitu sudah bebas, Angelica segera mencoba bangkit yang dibantu oleh Lina dan Lia.
“Maafkan aku,” tanya Angelica, “Aku tidak konsentrasi dalam berlari.”
Elena menepuk bahu Angelica, “Salahku juga memintamu melakukan mantra deteksi.”
“Aku akan mendeteksinya lagi. DEPREHENSIO! DECIMUS! UNA! ANIMA!” kata Angelica.
“Maafkan aku,” tanya Angelica, “Aku tidak konsentrasi dalam berlari.”
Elena menepuk bahu Angelica, “Salahku juga memintamu melakukan mantra deteksi.”
“Aku akan mendeteksinya lagi. DEPREHENSIO! DECIMUS! UNA! ANIMA!” kata Angelica.
Semuanya berdiri sejenak menunggu hasil deteksi Angelica. Angelica langsung membuka matanya dan terlihat panik.
Quote:
“Empat puluh meter, Nyonya! Kita harus segera kabur!” kata Angelica, “Makhluk itu sekarang mengarah ke sini! Mencium bau kita! Dia tidak lagi memburu hewan herbivora!”
“Ayo!” teriak Elena.
“Ayo!” teriak Elena.
Semuanya segera berlari mengikuti Elena. Sambil berlari, mereka menyiapkan semua senjata yang ada untuk menghadapi makhluk apapun itu. Mereka benar-benar ketakutan. Namun, apapun yang terjadi, mereka berlima harus bertahan hidup. Mereka menggunakan kecepatan vampire secepat mungkin
Quote:
“Kau tak perlu melakukan deteksi lagi, Angelica,” kata Elena, “Sekarang fokuskan semua energimu untuk menghadapi makhluk itu.”
“Sepertinya makhluk itu lebih suka melempar lima burung dengan sebuah batu,” komentar Rita.
“Kau benar,” kata Elena, “Karena itulah dia memilih untuk meninggalkan hewan herbivora itu.”
“Sepertinya makhluk itu lebih suka melempar lima burung dengan sebuah batu,” komentar Rita.
“Kau benar,” kata Elena, “Karena itulah dia memilih untuk meninggalkan hewan herbivora itu.”
Terdengar suara auman dari balik pepohonan. Auman yang terdengar seperti auman singa. Suara auman itu cukup membuat jantung para vampire berdetak kencang. Nafas mereka pun tertahan karena suasan yang penuh terror merasuk ke pikiran mereka. Rasa panik semakin tak kuasa mereka bendung. Keringat dingin langsung membasahi tubuh mereka. Mencoba tenang berkali-kali pun tak bisa. Karena mau tak mau, mereka harus menghadapi makhluk ini.
Quote:
“Dia datang!” kata Lina yang berada di paling belakang, “Siapkan senjata kalian!”
Elena menoleh ke belakang dan melihat jelas wujud hewan mitologi itu dengan mata vampirenya. Seekor makhluk yang tubuh utama menyerupai singa. Kulit dan surainya berwarna kuning. Elena bergidik ngeri karena melihat muka makhluk itu yang menyerupai manusia. Bedanya adalah seluruh giginya runcing. Dia memiliki sayap kelelawar yang cukup besar. Bentuk ekornya sesuai bentuk yang digambarkan oleh Angelica ketika menggunakan Mantra Deprehensio. Makhluk itu memiliki ekor kalajengking yang besar dan ujungnya runcing. Di ujung ekornya ada cairan racun berwarna kekuningan yang menetes-netes. Makhluk itu terus menggeram dengan air liur yang menetes-netes. Dia benar-benar kelaparan. Empat kakinya yang terlihat kekar berlari cepat mengejar Elena dan kelompoknya. Dia begitu lincah. Dengan kombinasi sayap dan kakinya yang cepat itu dengan mudahnya makhluk itu berpijak dari satu dahan ke dahan lain.
Quote:
“Angelica, Rita … apakah wujud makhluk itu memang begitu?” tanya Elena, “Bermuka manusia?”
“Persis seperti yang saya lihat di ilustrasi di buku ensiklopedia hewan-hewan sihir, Nyonya,” jawab Angelica.
“Sesuai dengan deskripsi teman-temanku,” jawab Rita.
“Lina! Lia! Tembak makhluk itu!” perintah Elena, “Aku mau kondisi makhluk itu terluka parah terlebih dahulu jika kita memang harus berhadapan dengannya dalam pertarungan terbuka.”
“Taktik hit and run, Kak?” tanya Lina.
“Yeah. Singkatnya begitu. Kita harus menyerang sambil berlari.”
“Persis seperti yang saya lihat di ilustrasi di buku ensiklopedia hewan-hewan sihir, Nyonya,” jawab Angelica.
“Sesuai dengan deskripsi teman-temanku,” jawab Rita.
“Lina! Lia! Tembak makhluk itu!” perintah Elena, “Aku mau kondisi makhluk itu terluka parah terlebih dahulu jika kita memang harus berhadapan dengannya dalam pertarungan terbuka.”
“Taktik hit and run, Kak?” tanya Lina.
“Yeah. Singkatnya begitu. Kita harus menyerang sambil berlari.”
Lina mengelilingi tubuhnya dengan butiran-butiran air yang diambil dari tanah dan pohon. Membentuk air-air itu seperti peluru dan menembakkannya ke makhluk itu seperti senapan mesin. Singa berekor kalajengking itu menggeram kesakitan begitu peluru-peluru air milik Lina menembus dan mengoyak kulitnya. Semakin singa aneh itu terluka, maka semakin terlihatlah amarahnya.
Quote:
“Tembak kepalanya!” kata Lina, “Surainya menghalangi air-airku.”
“Percuma,” kata Rita, “Meskipun peluru airmu tidak terkena surainya pun efeknya sangat kecil. Untuk membunuh di bagian kepala, tidak cukup hanya dengan satu luka kecil. Paling tidak, kita harus menghancurkan atau memenggal kapalanya.”
“Kalau begitu tembak kakinya, Lia!” kata Lina yang terus menembaki si monster dengan peluru-peluru airnya, “Memang tidak membunuhnya tapi lumayan untuk melambatkan larinya.”
“Tidak semudah itu, Lina,” kata Lia yang mulai membidik, “Pola lompatan makhluk itu tidak jelas dan gerakannya pun sangat cepat sehingga tidak mudah untuk ditebak. Lalu aku sendiri juga harus memperhatikan jalan depan dan bawah agar kakiku tidak tersangkut oleh akar sialan. Sekali tersangkut dan terjatuh, habislah aku.”
“Kalau begitu kita harus bagaimana?” tanya Lina.
“Makhluk itu harus menghentikan langkahnya sesaat. Lalu Lia juga berhenti sesaat. Di saat itulah Lia harus menembak kakinya dan segera lari,” usul Elena.
“Caranya?” kata Lina dan Lia bersamaan
“Angelica, dulu aku pernah melihat temanku yang juga spesialis sihir api. Dia bisa menciptakan sebuah bola api yang melayang di udara. Kemudian temanku bisa meledakkannya dengan mudah. Singkatnya, dia membuat bom kendali. Pertanyaanku, apa kau bisa, Angelica?”
Angelica tertawa kecil, “Saya bisa, Nyonya Elena. Bukan bola tapi jaring.”
“Bagus, Angelica,” kata Lia sambil menembak si makhluk mitologi. Memang tidak kena kakinya, tapi Lia bersyukur pelurunya menembus tubuh singa aneh itu.
“IGNIS! DECIMUS! UNA! INRETIO!” Angelica merapalkan mantra.
“Percuma,” kata Rita, “Meskipun peluru airmu tidak terkena surainya pun efeknya sangat kecil. Untuk membunuh di bagian kepala, tidak cukup hanya dengan satu luka kecil. Paling tidak, kita harus menghancurkan atau memenggal kapalanya.”
“Kalau begitu tembak kakinya, Lia!” kata Lina yang terus menembaki si monster dengan peluru-peluru airnya, “Memang tidak membunuhnya tapi lumayan untuk melambatkan larinya.”
“Tidak semudah itu, Lina,” kata Lia yang mulai membidik, “Pola lompatan makhluk itu tidak jelas dan gerakannya pun sangat cepat sehingga tidak mudah untuk ditebak. Lalu aku sendiri juga harus memperhatikan jalan depan dan bawah agar kakiku tidak tersangkut oleh akar sialan. Sekali tersangkut dan terjatuh, habislah aku.”
“Kalau begitu kita harus bagaimana?” tanya Lina.
“Makhluk itu harus menghentikan langkahnya sesaat. Lalu Lia juga berhenti sesaat. Di saat itulah Lia harus menembak kakinya dan segera lari,” usul Elena.
“Caranya?” kata Lina dan Lia bersamaan
“Angelica, dulu aku pernah melihat temanku yang juga spesialis sihir api. Dia bisa menciptakan sebuah bola api yang melayang di udara. Kemudian temanku bisa meledakkannya dengan mudah. Singkatnya, dia membuat bom kendali. Pertanyaanku, apa kau bisa, Angelica?”
Angelica tertawa kecil, “Saya bisa, Nyonya Elena. Bukan bola tapi jaring.”
“Bagus, Angelica,” kata Lia sambil menembak si makhluk mitologi. Memang tidak kena kakinya, tapi Lia bersyukur pelurunya menembus tubuh singa aneh itu.
“IGNIS! DECIMUS! UNA! INRETIO!” Angelica merapalkan mantra.
Jaring besar keluar dari tongkat sihir Angelica. Jaring-jaring itu terbuat dari api yang berkobar-kobar. Angelica melemparkan jaring itu jauh-jauh. Karena kemunculannya begitu mendadak dan ruang lingkupnya luas, makhluk mitologi itu terkena serangan Angelica. Begitu jaring api menyentuh kulit si singa, jaring api itu langsung meledak. Singa itu terhenti dan meraung kesakitan
Quote:
“Sekarang!” kata Lina yang juga ikut berhenti, “Kalian bertiga larilah dulu!”
Lia menghentikan larinya. Dia berbalik arah dan membidik kaki kanan depan makhluk itu. Kali ini tembakannya benar-benar kena. Lia sempat mengangkat kakinya untuk berlari, namun dia ditahan oleh Lina.
Quote:
“Kau pasti bisa menembak kaki kiri,” kata Lina, “Ayo kulapisi pelurumu dengan pengendalian airku. Nanti kujelaskan kenapa.”
Lia awalnya ragu mendengar kata-kata Lina. Tapi akhirnya Lia membidik kaki kiri si singa. Ada butiran air besar di tiap moncong pistol Lia. Lia penasaran apa yang sebenarnya dilakukan Lina. Dia segera membunang rasa penasarannya jauh-jauh dan konsentrasi untuk menembak si singa. Si singa masih kesakitan karena ledakan jaring api Angelica masih bergulung-gulung di antara akar dan tanah. Dengan pistolnya, peluru Lia melesat di udara. Dua tembakan tepat melukai kaki kiri si singa.
Quote:
“Bagus,” kata Lina yang segera menarik tangan Lia, “Nah, sekarang kita lari.”
Lina dan Lia segera lari untuk mengejar Elena dan yang lainnya. Meninggalkan si singa yang sedang berguling-guling karena tubuhnya terbakar. Jarak mereka tidak begitu jauh karena memang sengaja menunggu Lina dan Lia. Lina dan Lia melihat Elena dan yang lainnya sedang beristirahat dan bersandar di pepohonan sambil meminum darah.
Quote:
“Lho, sudah minum?” tanya Lina.
“Pelarian yang menegangkan ini membuat kita lelah,” kata Rita.
Elena melemparkan satu kantong kecil darah pada Lina dan Lia, “Ini untuk kalian.”
“Bagaimana, Nyonya? Sebaiknya kita segera lari,” saran Angelica.
Elena mengangguk dan mengalihkan pandangannya dari Angelica ke Lina dan Lia, “Sebaiknya minumlah sambil berlari.”
“Pelarian yang menegangkan ini membuat kita lelah,” kata Rita.
Elena melemparkan satu kantong kecil darah pada Lina dan Lia, “Ini untuk kalian.”
“Bagaimana, Nyonya? Sebaiknya kita segera lari,” saran Angelica.
Elena mengangguk dan mengalihkan pandangannya dari Angelica ke Lina dan Lia, “Sebaiknya minumlah sambil berlari.”
0
Kutip
Balas