Jeritan Malam (ketika keindahan menjadi sebuah ketakutan)
TS
meta.morfosis
Jeritan Malam (ketika keindahan menjadi sebuah ketakutan)
pernahkan agan merinding disuatu tempat, merasakan kehadiran seseorang yang menurut agan hanya merupakan permainan imajinasi otak belaka dan ketika sebuah karunia datang untuk memberikan agan sebuah kesempatan untuk melihat sekilas apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan semua fenomena tersebut, apakah anda akan tetap tersenyum dengan logika dan keyakinan bahwa semua hanya imajinasi otak atau berteriak dan berharap agar mata ini tetap terpejam dan semua itu hanyalah sebuah mimpi ane akan bercerita sebuah kisah yang mungkin akan merubah cara pandang agan tentang semua kejadian yang pernah menimpa agan, ketika agan membaca dan bertanya apakah ini real story ? semua kembali kepada agan untuk menilai apakah ini sebuah fiksi belaka atau real story, selamat menikmati semoga sebuah sensasi akan menemani agan dalam gelapnya malam Mohon para reader yang masih dibawah umur agar bisa memilah antara yang baik dan buruk di cerita ini, ambil yang baik dan bermanfaat..jauhi yang buruk dan menyesatkan Waktu Update : Penulis adalah seorang pekerja yang akan selalu menulis disela sela waktu luangnya, jadi untuk update bisa dilakukan kapan saja entah itu malam, pagi ataupun siang, jadi tidak ada istilah mengulur ulur waktu Peraturan membaca di thread ini : Hargai hasil karya penulis, karena menulis adalah suatu hoby dimana penulis membutuhkan pembaca dan pembaca memberikan apresiasi/kritik/masukan sebagai bentuk penghargaan karya penulis
Jangan menjiplak/mengakui hasil karya penulis, ketika ingin copy paste ke thread atau blog lain biasakan etika untuk meminta izin dan mencantumkan sumber penulisan
Penulis berharap kepada para reader untuk tidak terpengaruh atau berusaha membalas apabila ada komentar reader negatif yang berusaha membuat rusuh atau mencari sensasi karena komentar balasan adalah motivasi mereka menjadi reader negatif Line Id : meta.morfosis untuk update harap bersabar gan
Spoiler for Prologue:
Menjadi manusia normal adalah sebuah impian setiap manusia, tapi apa jadinya ketika sebuah kejadian yang menimpa anda membuat semuanya menjadi sebuah mimpi buruk, saat waktu2 yang terasa indah untuk dinikmati kini menjadi sebuah kecemasan, saat tempat tempat terindah yang kita kunjungi kini menjadi sebuah pemandangan yang penuh dengan rasa ketakutan.
Nama gw reza, gw merupakan lulusan salah satu perguruan negeri ternama disalah satu universitas negeri di Jakarta, sebuah kampus yang berada dalam suatu lingkungan asri dengan pohon pohon besar disekitarnya bahkan hampir mirip disebut dengan sebutan hutan kota, gw menyelesaikan pendidikan SI dalam waktu yang normal, dengan predikat yang lumayan hingga akhirnya sebuah panggilan kerja mengantarkan kaki gw untuk berlabuh disalah satu kota di jawa timur.
Semua terasa begitu indah, begitu sempurna, bisa dibilang yang maha kuasa memudahkan semua langkah kehidupan gw, orang tua gw yang semula tidak menyetujui gw untuk pindah kota, akhirnya menyetujuinya, walaupun dengan resiko mereka kini harus tinggal hanya berdua saja di kota bogor yang tenang. Sebenarnya orang tua gw khususnya bokap gw menginginkan agar gw bekerja di Jakarta atau setidaknya meneruskan usaha yang sudah dirintisnya selama ini, berbagai macam argumen telah mereka keluarkan untuk menggagalkan keinginan gue untuk meninggalkan Jakarta, terutama alasan umur mereka yang sudah tua, berat rasanya meninggalkan mereka bila mengingat semua alasan itu, tapi keinginan untuk mandiri membuat gw bisa mengalahkan semua rasa tidak tega itu.
Tapi semua keindahan rangkuman perjalan hidup gw kini berubah secara drastis, seiring langkah kaki gw menaiki sebuah kereta yang mengantarkan gw menuju sebuah kota di jawa timur. Sebuah kereta yang menjadi awal dimulainya rentetan kejadian yang merubah perjalanan hidup gw….
Dan percayalah ketika gw menuliskan ini semua, gw tercekam dalam rasa ketakutan, rangkaian kata yang gw tulis dengan menjentikan jari dalam barisan huruf di keyboard tidak lepas dari tatapan mata mereka, gw hanya berharap semoga malam cepat berlalu berganti menjadi siang.
Spoiler for Chapter 1 ( sebuah kabar indah tentang masa depan ):
Juli 2007, Irama langkah kaki gw bergegas cepat meninggalkan sebuah toko buku dan menuju ke stasiun kereta, kebetulan hari ini sehabis berkunjung kerumah seorang teman, gw mampir ke sebuah toko buku untuk membeli beberapa buah buku yang gw butuhkan untuk sekedar menjadi bahan bacaan peneman hari hari gw setelah lulus kuliah, disaat kesibukan mata gw mencari cari buku yang mungkin bisa menjadi bahan bacaan gw, sebuah panggilan telepon masuk, ya sebuah panggilan yang sama sekali tidak terduga dan akan menjadi awal hidup gw memasuki dunia kerja
“ hallo selamat siang, dengan bapak reza ” sebuah kalimat pembuka pembicaraan di telepon terdengar dari seorang wanita
“ benar mba, kalau boleh tau saya bicara dengan siapa ?”
“ saya indri pak, kami dari perusahaan PT. XXXXX, meminta bapak untuk hadir ke perusahaan kami untuk mengikuti proses seleksi penerimaan kerja ”
Sebuah kabar yang bagus, tapi kembali gw berpikir dan mencoba mengingat kembali surat surat lamaran yang pernah gw kirimkan, ingatan gw masih bisa mengingat perusahaan2 yang pernah gw layangkan surat lamaran kerja, dan menurut gw perusahaan ini tidak termasuk didalam daftar perusahaan yang masuk dalamlist surat lamaran kerja yang gw layangkan
“ aneh, ah masa bodo, yang penting gw jalanin aja dulu ” gumam gw, hingga akhirnya gw tertidur dikursi kereta yang mengantarkan gw ke stasiun bogor
“ wah tumben sudah rapih pagi pagi za ” tegur mamah ketika melihat gw yang sudah rapih dan mencoba menyiapkan sarapan sendiri
“ iya mah, hari ini ada panggilan kerja ”
“ Alhamdulillah za, cepat juga kamu dapat panggilan semoga diterima za ” terlihat mamah tersenyum dibalik kata katanya yang mengandung doa
“ diantar mang iwan aja za, biar tidak telat ” ucap bapak yang rupanya mencuri dengar pembicaraan kami, mang iwan merupakan supir yang bekerja dikeluarga kami
“ haduhh jangan pak, biar reza sendiri aja sekalian biar tau jalan ” jawab gw menolak tawaran itu
Setelah menyelesaikan sarapan dan pamit, segera gw pergi menuju perusahaan tempat gw akan melakukan tes pekerjaan, jam masih menunjukan pukul 7.30 sedangkan jadwal interview yang akan gw lakukan pukul 11, jadi cukuplah waktu tempuh yang akan gw habiskan untuk menuju perusahaan tersebut, dan kereta menjadi salah satu pilihan gw untuk mempersingkat jarak tempuh itu,tepat jam 10 kurang 15 akhirnya gw tiba di perusahaan tersebut, sebuah lokasi perusahaan yang terletak di Jakarta selatan
Setelah menuju ke bagian resepsionis dan memberitahukan maksud kedatangan gw, akhirnya gw dipersilahkan duduk disebuah ruang tunggu, waktu luang itu gw manfaatkan untuk mencoba membaca baca dan kembali mengingat materi kuliah yang pernah gw pelajari
“ bapak reza, mari ikut saya ” tegur seorang wanita yang mempersilahkan gw untuk mengikutinya ke salah satu ruangan tempat akan dilaksanakan interview
“ silahkan duduk pak, nanti usernya akan segera datang ” ucap wanita itu kembali sambil tersenyum dan beranjak pergi
Ada rasa tegang ketika pertama kali melaksanakan proses penerimaan kerja, ditambah gw masih terasa asing dengan perusahaan ini, hingga akhirnya rasa tegang itu sirna seiring sosok yang gw lihat memasuki ruangan
“ lohh mas kamil..?” ucap gw heran melihat sosok yang tersenyum dihadapan gw, mas kamil merupakan senior gw yang telah lulus satu tahun lebih cepat dari gw
“ kaget ya za ?”
“ iyalah mas, soalnya seingat gw, gw belum pernah melamar ke perusahaan ini ” kembali mas kamil tersenyum mendengar jawaban gw
Hingga akhirnya mas kamil menceritakan tentang sejarah dan bergerak dalam bidang apa perusahaan tempat kerjanya itu bergerak, kebetulan dia sudah memegang posisi penting didalam perusahaan tersebut dan merekomendasikan gw untuk mengisi sebuah tempat dalam departemennya yang kebetulan kosong
“ bagaimana za ?” tampak mata mas kamil mencoba memperhatikan gw
“ ternyata diluar Jakarta ya mas, sepertinya gw harus bicara sama kedua orang tua gw dulu ”
“ lu udah dewasa za, lelaki dewasa harus bisa punya keputusan sendiri ”
“ jangan sampai kesempatan yang sudah didepan mata lu sia siakan karena keraguan lu ” terang mas kamil kembali, sambil berupaya menumbuhkan rasa semangat gw
“ kalau lu berminat, sekarang jg gw minta bagian hrd mengurus surat kontraknya, karena gw memang lagi butuh cepat ” lama gw berpikir mencoba menimbang semua omongan mas kamil, antara keinginan bekerja dan restu dari orang tua, setelah gw berpikir lama akhirnya gw memutuskan untuk menerimanya, pasti orang tua gw akan menyetujui ini, niat yang baik untuk sebuah pekerjaan yang baik pasti akan disetujui
“ baik mas, saya terima ” sebuah senyum sumringah terlihat dari wajah mas kamil
“ gitu dong za, baik gw ke bagian hrd dulu untuk mengurus semua surat2nya ” ucap mas kamil sambil menepuk bahu gw dan pergi meninggalkan gw
Setelah semua surat surat kontrak telah gw tanda tangani, mas kamil segera menerangkan tentang pekerjaan yang akan gw lakukan dan proses training terlebih dahulu yang akan gw lakukan setibanya gw di kantor cabang
“ lu di training dulu selama seminggu za, tenang aja gw yakin lu bisa ” ucap mas kamil antusias
“ insha allah mas, jadi kapan gw berangkat ”
“ seminggu dari sekarang za, lu persiapin dah semuanya, jangan lupa izin sama orang tua lu ”
“ siap mas, terima kasih atas bantuannya ”
Dan akhirnya gw meninggalkan perusahaan tersebut dengan langkah kemenangan, seperti layaknya orang yang pulang dari pertempuran, gw diterima kerja dan gw akan memberitahukan kabar gembira ini kepada orang tua gw dan tidak lupa kepada wulan yang telah menjadi pacar gw selama kuliah
“ mah, saya diterima kerja ” ucap gw sesampainya dirumah dan menyampaikan kabar gembira ini kepada bapak dan mamah yang sedang bersantai diruang tamu
“ Alhamdulillah za..” jawab mamah sambil memeluk gw
“ selamat za, selamat jadi lelaki dewasa ” ucap bapak sambil tertawa dan memberikan selamat
Kegembiraan itu tidakberlangsung lama, ketika gw menerangkan tentang penempatan kerja gw
“ memangnya tidak bisa meminta posisi dijakarta za, bapak sama mamahmu ini sudah tua, kenapa tidak di jakarta aja, atau kamu nerusin usaha bapak ” ucap bapak sambil tangannya mencoba mengelap2 keris yang terlihat sudah tua, memeang bapak adalah pengkoleksi keris2 tua, bahkan bukan cuma keris saja, asalkan itu bernilai seni dan peninggalan masa lalu pasti dikoleksinya
Setelah gw menerangkan tentang keinginan gw untuk mandiri, dan alasan masa depan yang bagus di pekerjaan ini, akhirnya bapak dan mamah mengijinkan gw untuk pergi keluar kota dan menerima perkerjaan ini
“ kapan kamu berangkat za ” ucap bapak mencoba mencari keterangan
“ minggu depan pak, mohon restunya pak, mah ”
“ iya za, bapak sama mamah restuin yang penting kamu bisa jaga diri, dan bawa diri disana ” ucap mamah kembali memeluk gw disela sela isak tangisnya.
Seminggu sudah berlalu dan tiba harinya keberangkatan gw, dengan diantar oleh mang iwan dan wulan, segera gw menuju ke stasiun kereta yang akan mengantarkan gw ke jawa bagian timur, sepanjang jalan terlihat wajah wulan yang agak berat melepas kepergian gw,hingga akhirnya kamipun tiba distasiun kereta
“ jangan lupa kasih kabar ” ucap wulan sebelum melepas gw menaiki kereta
“ doain aku, semoga aku cepat nikahi kamu dan kamu bisa ikut sama aku kesana ” ucap gw sambil memeluk wulan kemudian melepaskannya dalam balutan air matanya, dan akhirnya pijakan kaki gw mantap menaiki kereta
“ selamat tinggal Jakarta…selamat datang pekerjaan baru..semoga cepat sukses ” doa gw didalam hati Next Chapter : sebuah perjalanan dan celoteh seorang kakek tua Heran rasanya mendengar ocehan kakek tua ini, antara sebuah misteri atau sakit jiwa yang menimpa kakek ini, hingga akhirnya gw berlabuh di kantor cabang yang mengharuskan gw untuk menempati sebuah mess tua
Spoiler for Tumbal…? ( ketika keyakinan itu semakin menipis ) 2:
Dua hari setelah semua prosesi pemakaman selesai dilaksanakan, kini tinggalah gw beserta dengan mamah ditemani seorang pembantu rumah tangga, menempati rumah yang kini bertambah sepi semenjak kepergian bapak, mamah yang biasanya selalu memberi warna keceriaan dirumah ini kini lebih banyak terdiam dalam lamunannya, entah apa yang akan dirasakannya begitu mengetahui apa yang telah gw lakukan selama merantau bekerja, mencoba memberitahukan apa yang telah gw lakukan rasanya bukanlah hal yang bijak, disaat kondisi mamah belum bisa menerima kepergian bapak, dia harus menerima kembali sebuah kabar tentang ritual yang telah gw lakukan, dimana gw sendiri belum bisa meyakini bahwa semua yang terjadi adalah tumbal dari semua ritual yang telah gw lakukan
“ mah….” masih terlihat sisa genangan air mata di kedua matanya, begitu menyadari kehadiran gw mamah berusaha terlihat lebih tegar, jari jari tangannya terlihat mencoba menghilangkan genangan air mata yang tersisa, sebuah senyum terlihat dari wajahnya, tampaknya mamah ingin menunjukan bahwa masih ada sedikit keceriaan yang bisa diberikan untuk anaknya
“ sini za…duduk, temani mamah “ ucap mamah mengajak gw untuk duduk disampingnya, layar televisi yang menyajikan tontonan komedi, sepertinya bukanlah sebuah tontonan yang bisa membuat mamah menitikan air mata,
“ sabar ya mah…” tangan gw berusaha merangkul bahu mamah dan berharap rangkulan ini bisa memberikan sebuah gambaran, bahwa masih ada gw yang akan selalu menemani dirinya
“ kini cuma kamu za.., yang menjadi harapan mamah untuk menjaga mamah dan melanjutkan semua usaha yang telah dirintis bapakmu..”
“ reza enggak akan ngecewain mamah…tapi mah, ada sesuatu yang reza ingin bicarakan… “ lama gw terdiam dalam keraguan untuk melanjutkan perkataan itu, ingin rasanya gw berkata jujur di momen seperti ini, tapi ketika melihat wajah mamah…rasanya tidak sanggup gw meneruskan semua perkataan itu
“ ada apa za ?” raut wajah mamah menunjukan rasa penasarannya, begitu melihat gw masih terdiam dalam lamunan
“ enggak ada apa apa mah…reza hanya ingin bilang, kapanpun mamah memerlukan reza..reza akan selalu ada buat mamah…” ucap gw tak kuasa lagi menatap wajah mamah yang sudah menampakan kerutan usianya
“ mamah percaya za…” terlihat sebuah keyakinan diwajahnya, andai mamah mengetahui apa yang telah gw lakukan, akankah semua keyakinan itu tetap bertahan ataukah akan berubah dengan sebuah rasa kekecewaan..entahlah…
“ sepertinya ada yang datang za..coba kamu lihat “ ucap mamah begitu mendengar suara pintu yang diketuk, bergegas gw menghampiri pintu dan membukanya, kini tampak berdiri dihadapan gw sosok mang iwan yang sudah menunjukan tanda tanda bahwa dia sudah kembali sehat
“ lohhh bukannya mang iwan baru akan mulai kerja esok hari..memangnya sudah sehat mang ?”
“ Alhamdulillah sudah kang…memang iya kang, tapi rasanya saya sudah enggak sanggup menahan diri lagi untuk menceritakan apa yang telah terjadi sewaktu kecelakaan terjadi “ ucap mang iwan memberikan sebuah keterangan, mendengar keterangan yang keluar dari mulut mang iwan, gw mencoba memberikan tanda kepada mang iwan untuk mengecilkan suaranya
“ siapa za ?” ucap mamah terlihat menghampiri, begitu melihat mang iwan wajah mamah menampakan keterkejutannya, mungkin mamah tidak menyangka mang iwan akan mulai kembali bekerja secepat ini, ada kekhawatiran yang gw rasakan, gw takut mamah akan menanyakan perihal kronologis terjadinya kecelakaan, tapi ternyata semua kekhawatiran gw tidak menjadi kenyataan, mamah hanya terlihat berbasa basi sebentar menanyakan kondisi terakhir mang iwan
“ sebaiknya kita ngobrol2 di teras taman mang, sudah lama saya enggak ngobrol..” gw mencoba mengajak mang iwan ke taman dengan harapan mamah tidak melanjutkan kembali pertanyaan pertanyaannya
“ ya udah, sebaiknya mamah istirahat dulu…hari ini mang iwan enggah usah bawa kendaraan dulu “ ucap mamah seraya berlalu pergi
Siang ini banyak sekali pertanyaan yang akan gw tanyakan kepada mang iwan, bila gw merunut ulang semua kejadian, dimulai pada saat gw kembali ke Jakarta…hingga peristiwa kecelakaan yang telah merenggut nyawa bapak terjadi, sudah berapa banyak kejadian kejadian aneh yang mungkin mang iwan telah alami
“ apa yang mau mang iwan ceritakan..?” tanya gw sambil menyulut sebatang rokok
“ mengenai kecelakaan itu kang…” sejenak perkataan mang iwan terhenti melihat bi nani yang mengantarkan dua cangkir kopi, bi nani adalah seorang wanita yang membantu semua pekerjaan rumah tangga di rumah kami, usianya mungkin sudah sekitar lima puluh tahun, sudah hampir tujuh tahun dia bekerja dirumah ini meninggalkan anak anaknya yang sudah berumah tangga dikampung halamannya
“ terima kasih bi “ dengan tersenyum bi nani meletakan cangkir kopi di meja dan bergegas pergi, begitu melihat bi sumi sudah tidak terlihat lagi, kembali mang iwan melanjutkan perkataannya
“ begini kang, sebelum semua kejadian ini terjadi..bapak pernah mengatakan sesuatu “
“ mengatakan apa mang ?” tanya gw dengan rasa penasaran
“ bapak bilang..bahwa kang reza sedang dalam masalah besar, saya enggak ngerti dengan maksud kujang/keris yang dikatakan bapak, tapi dari perkataan bapak saya bisa menyimpulkan bahwa kang reza telah meninggalkan benda itu disuatu tempat dan kang reza enggak menyadari bahwa dengan meninggalkan benda itu, ada kekuatan jahat yang akhirnya mengikuti kang reza….”
Lama gw terdiam mencoba menyimak keterangan yang diberikan mang iwan, muncul pertanyaan didalam benak ini, ternyata semuanya benar..bahwa bapak yang menyelipkan kujang/keris tua itu didalam tas gw…tapi… bagaimana mungkin bapak bisa mengetahui bahwa benda itu telah gw tinggalkan di hutan sana bersama seseorang yang bisa gw percaya untuk menjaganya
“ hingga akhirnya malam itu bapak minta diantarkan ke rumah salah satu sahabatnya, tapi…. “ terlihat mang iwan merasa berat untuk melanjutkan perkataannya, kedua matanya terlihat mulai berkaca kaca, mungkin dia teringat kembali akan sosok bapak
“…..belum sempat kami tiba dirumah sahabat bapak, saya melihat seorang pria tua berdiri menghalangi laju kendaraan yang saya kendarai…yang membuat saya kaget..ada beberapa mahluk kecil..entah saya harus menyebutnya monyet..atau mahluk apa…susah untuk saya jelaskan kang…yang pasti semua mahluk itu berwujud sangat menyeramkan…” tangan mang iwan terlihat mengambil sebatang rokok dan mulai menyulutnya, baru pertama kalinya gw melihat mang iwan merokok
“ saya mencoba menghindari orang tua itu kang…tapi laju kendaraan yang saya kendarai memang dalam keadaan melaju dengan sangat cepat…saya mencoba membanting mobil..tapi sayang..saya kehilangan kontrol kang…hingga akhirnya menabrak salah satu toko yang berada di pinggir jalan….” ucap mang iwan dengan nada berat…terlihat sekali sebuah gambaran penyesalan di wajahnya
“ baiktt !!” tanpa gw sadari terlontar kalimat makian begitu mendengar keterangan yang mang iwan berikan, jika semua ini benar…sungguh sangat sama semua gambaran yang mang iwan ceritakan dengan apa yang pernah dilihat minto dan indra, wajah mang iwan menampakan keheranannya mendengar kalimat makin yang gw ucapkan
“ maaf mang…” ucap gw meminta maaf atas apa yang telah gw ucapkan “ masih ada yang ingin saya tanyakan lagi mang..”
“ apa itu kang “
“ mang iwan masih ingat, sewaktu kita mengantarkan wulan dimalam itu, sebenarnya apa yang mang iwan lihat ?”
“ sejujurnya saya enggak melihat apa apa kang…tapi…”
“ tapi apa mang…?”
“ tapi saya heran bercampur takut kang, begitu melihat kang reza seperti berbicara dengan seseorang yang sama sekali saya enggak keberadaannya… dan seseorang itu ternyata adalah neng wulan… soalnya saya kan sudah mendapat kabar kalau neng wulan itu sudah meninggal akibat kecelakaan di sebuah stasiun..”
“ sialll…kenapa mang iwan enggak ngasih tau saya ?” tanya gw mencoba mencari alasan mang iwan tidak memberitahukan semua yang sudah mang iwan ketahui
“ bagaimana saya memberitahukannya kang… sumpah saya takut kang…begitu kang reza berbicara seolah olah ada neng wulan yang sedang menemani… “ wajah mang iwan menunjukan ekspresi ketakutannya
“ untuk sementara waktu semua pembicaraan ini jangan sampai mamah tau…belum waktunya “ pinta gw kepada mang iwan
“ sebenarnya apa sih yang telah terjadi kang ?” tanya mang iwan memberanikan diri bertanya, belum sempat gw menjawab pertanyaan mang iwan, terdengar suara teriakan bi nani yang memanggil dari kejauhan sambil melambaikan tangannya
“ kang rezaa…ada telepon !!”
dengan setengah berlari gw tinggalkan mang iwan dengan sebuah rasa penasarannya “ dari siapa bi ?”
“ dari teman kang reza….bibi lupa namanya “ gw hanya menggeleng gelengkan kepala melihat kepikunan bi nani, bergegas gw mengangkat gagang telepon yang diletakan
“ hallo…saya bicara dengan siapa ?”
“ hallo za…gw dedy..jangan bilang lu udah lupa deh sama gw “ jawab dedy diseberang sana diiringi suara tawanya
“ za…kalau lu enggak sibuk nanti sore gw mampir kerumah lu, kebetulan besok gw lagi enggak kerja “
“ ohhh boleh ded, kalau perlu sekalian aja lu menginap dirumah gw…” ucap gw memberikan penawaran kepada dedy, gw berpikir dengan kehadiran dedy akan mengurangi rasa sepi dirumah ini
“ okelah kalau begitu za…sampai bertemu nanti sore “ terdengar suara dedy mengakhiri pembicaraannya di telepon, belum sempat gw melangkah keluar rumah, langkah kaki gw terhenti sejenak merasakan hembusan angin dingin yang menerpa tengkuk, ini benar benar seperti angin dingin yang pernah gw rasakan di mess tua itu, mata gw mencoba menatap ke semua sudut ruangan yang sepi
“ kang reza…” suara bi nani yang terdengar tiba tiba, membuat degup jantung gw berdetak lebih kencang
“ haduh bi…ngagetin aja..ada apa bi ?”
“ maaf kang…kalau ngagetin, tapi bibi mau ngasih tau kang reza..sudah beberapa malam ini kang, setiap tengah malam..bibi ngerasa ada yang mengetuk pintu kamar bibi, setelah bibi buka pintu, bibi mencoba mencari siapa yang telah mengetuk pintu kamar.. tapi bibi sama sekali enggak menemukan siapapun…”
“ mungkin bibi hanya salah dengar kali “ ucap gw mencoba berpikir positif
“ tapi kang…disetiap waktu terjadinya ketukan itu..bibi selalu mencium bau yang enggak sedap..seperti bau bangkai hewan…”
Mendadak gw terdiam dan tidak menyanggah kelanjutan ucapan yang keluar dari mulut bi nani “ dimana bibi mencium bau bangkai itu ?”
“ bibi pikir awalnya hanya di sekitar kamar bibi aja, tetapi setelah bibi telusuri ternyata bau bangkai itu tercium dari semua ruangan kang…dan herannya kenapa semua bau itu seakan lenyap disaat pagi mulai datang....dan semuanya akan kembali berulang ketika bibi kembali terganggu dengan suara ketukan itu”
Raut wajah gw mendadak berubah mendengar lanjutan keterangan dari bi nani, ini sangat mirip dengan kejadian yang pernah gw alami di mess tua itu
“ sudah bibi periksa..mungkin ada hewan mati yang tersembunyi “ ucap gw seraya berharap bi nani tidak menaruh kecurigaan melihat perubahan raut wajah gw
“ sudah kang…bibi yakin, dirumah ini enggak ada hewan mati…”
“ coba diperiksa lagi bi…siapa tau…”
“ brakkkkkkk…” belum sempat gw melanjutkan perkataan, sebuah suara yang terdengar cukup keras, terdengar dari lantai atas
“ suara apa itu bi ?” tanya gw kepada bi nani, bergegas gw melangkah menuju ke lantai atas, diikuti oleh bi nani yang terlihat terdiam tanpa memberikan jawaban, sesampainya di lantai atas tatapan mata gw sama sekali tidak mendapati hal yang mencurigakan, tidak terlihat tanda tanda bekas benda yang terjatuh hingga akhirnya gw memutuskan untuk menuju kamar yang biasa di pergunakan jika ada tamu yang menginap, dan kembali gw tidak menemukan adanya benda yang terjatuh... hingga akhirnya hanya tersisa satu kamar lagi yang harus gw periksa..sebuah kamar dimana bapak biasa menyimpan semua koleksi benda benda antiknya…ada perasaan berbeda yang gw rasakan ketika gw menyentuh gagang pintu untuk membukanya…adrenalin gw seperti terpacu diantara rasa penasaran dan rasa takut….secara perlahan jari jari tangan gw mulai memutar gagang pintu dan mulai mendorongnya…
Next chapter : Tumbal…? ( ketika keyakinan itu semakin menipis ) 3