- Beranda
- Stories from the Heart
Sometimes Love Just Ain't Enough
...
TS
jayanagari
Sometimes Love Just Ain't Enough
Halo, gue kembali lagi di Forum Stories From The Heart di Kaskus ini 
Semoga masih ada yang inget sama gue ya
Kali ini gue kembali lagi dengan sebuah cerita yang bukan gue sendiri yang mengalami, melainkan sahabat gue.
Semoga cerita gue ini bisa berkenan di hati para pembaca sekalian

Semoga masih ada yang inget sama gue ya

Kali ini gue kembali lagi dengan sebuah cerita yang bukan gue sendiri yang mengalami, melainkan sahabat gue.
Semoga cerita gue ini bisa berkenan di hati para pembaca sekalian


*note : cerita ini sudah seizin yang bersangkutan.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 24-04-2016 00:40
Dhekazama dan 8 lainnya memberi reputasi
9
421.6K
1.5K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#49
PART 2
Gue menghembuskan asap rokok yang sedari tadi gue hisap, sambil duduk termenung di pekarangan sebuah rumah. Gue memperhatikan banyak orang berlalu lalang di hadapan gue, dan kesemuanya dengan ekspresi yang sama, dan berpakaian nyaris identik. Ekspresi kesedihan, dan berpakaian gelap, seakan menjadi satu hal yang akrab bagi gue beberapa waktu terakhir ini. Entah apa yang terjadi pada dunia gue ketika itu.
Gue memperhatikan pakaian yang gue kenakan, dan menggeleng ketika gue menyadari bahwa gue secara sukarela ikut dalam pusaran kesedihan. Kehilangan Sari, meskipun bukan kehilangan pertama gue, tetap merupakan satu pukulan telak dalam hidup gue. Dulu, waktu gue kehilangan bokap, gue merasa lebih hancur daripada sekarang. Tapi sekarang gue menyadari, setiap kehilangan punya bobotnya sendiri-sendiri. Kenangan seseorang tentang orang lain tak pernah sama.
Beberapa waktu kemudian, gue menyadari ada sahabat gue yang datang mendekati. Dia duduk di samping gue, dan kemudian menyalami sambil memeluk gue, menepuk-nepuk punggung gue agar gue tetap tegar. Gue kemudian menyalami pacar sahabat gue ini sambil tersenyum tipis, dan menjawab sekadarnya dengan lirih.
“Lo baik-baik aja Dhik?”
Gue mendengar sahabat gue itu bertanya, dan menoleh ke arahnya.
“Apa keliatan baik-baik aja?” sahut gue.
“Ya gue tahu sih itu pertanyaan retoris.”
Gue menunduk dan menghembuskan napas panjang. Gue merasakan tangan sahabat gue itu di pundak dan memijat-mijatnya.
“Lo gak perlu berpura-pura baik-baik aja. Lo cuma harus percaya bahwa semua bakal baik-baik aja, pada akhirnya.” ucapnya lagi.
“Mungkin gak sekarang, Bas.” jawab gue pelan.
“Kapanpun lo siap.” sahutnya serius.
Gue memainkan batang rokok di tangan kanan, sambil melamun. Begitu banyak yang ada di pikiran gue, tapi seperti gak ada kata yang bisa mengungkapkan. Gue menyandarkan punggung ke belakang, dan menoleh ke sahabat gue.
“Menurut lo, apa yang harus gue lakuin sekarang?” tanya gue.
“Bangkit.” jawabnya singkat.
“Meskipun gue sendiri gak tau seberapa dalem gue jatuh?”
“Iya, lo harus bangkit dan cari jalan keluar. Sejauh apapun itu. Jangan bikin batasan untuk diri lo sendiri, karena lo gak akan tau seberapa tinggi lo bakal melompat setelah ini semua.” sahutnya sambil tersenyum.
Gue hanya berkedip-kedip mendengar saran sahabat gue ini, dan beringsut ke seberang, mencari sekardus air mineral kemasan gelas. Ketika gue sedang mencari, tiba-tiba pacar sahabat gue itu sudah menyodorkan segelas air mineral ke gue sambil tersenyum.
“Nih, Dhik. Ati-ati sedotannya ntar jatuh.”
Gue menerima itu sambil tersenyum.
“Iya, makasih ya, Nin.”
Kemudian Anin berdiri, dan berpindah duduknya menjadi di sebelah kiri gue. Jadilah sekarang gue diapit antara Baskoro, sahabat gue itu, dan Anin, pacarnya. Gue melihat si Bas sedang menggulung lengan kemeja hitamnya, menjadi sedikit diatas pergelangan tangan.
“Kamu yang tegar ya Dhik. Semua manusia pasti akan mengalami hal yang sama kok seperti ini. Kita semua cuma sedang nunggu antrian aja. Meskipun aku tau ini berat buat kamu, tapi bersyukurlah Sari sekarang udah damai disana, udah gak dikasih kesempatan untuk berbuat dosa lagi. Ini semua cuma soal waktu kok, Dhik, sampai nanti dateng waktunya kita kembali kepada-Nya.” ucap Anin sambil tersenyum.
“Iya, Nin. Terimakasih ya...”
“Setelah ini, jalanilah hidupmu sebaik-baiknya, seperti waktu masih ada Sari disini. Aku yakin, Sari juga menginginkan seperti itu kok. Dia pasti gak mau ngeliat kamu lama-lama terpuruk kayak begini. Ya kan?”
“Iya, Nin...”
Akhirnya tibalah waktunya jenazah Sari dimakamkan. Bagi kami yang masih hidup, inilah kali terakhir kami melihat Sari secara fisik. Gue mengajukan diri secara sukarela memanggul peti jenazahnya, dan membawanya ke pemakaman di dekat rumahnya, meskipun sebenernya itu cukup jauh. Tapi gue sama sekali gak merasa berat tentang itu. Bagi gue, inilah hal terakhir yang bisa gue persembahkan ke Sari, selain doa-doa yang akan selalu terlantun dalam setiap sujud gue.
Ketika peti jenazah beserta rombongan telah tiba di pemakaman, gue melihat ada sebuah liang lahat yang telah disiapkan, dan beberapa orang berdiri di sampingnya. Jadi inilah rumah terakhir Sari, tempat dia bakal bersemayam selamanya, pikir gue getir. Perlahan-lahan, jenazah Sari dikeluarkan dari peti dan mulai dimasukkan kedalam liang lahat. Gue langsung mengajukan diri jadi salah satu orang yang masuk ke dalam liang lahat untuk menerima jenazah.
Setelah jenazah diletakkan kemudian dihadapkan ke arah kiblat sesuai dengan ajaran agama, kami mulai membuka tali pengikat kafannya. Gue kebagian membuka bagian perut. Gue keluar dari liang lahat itu dibantu oleh dua orang yang menarik tangan gue, dan mendengarkan adzan yang diucapkan di telinga Sari. Adzan adalah suara pertama yang diucapkan di telinga Sari ketika dia lahir, dan adzan pula yang terakhir kali diucapkan di telinga Sari ketika dia akan berpisah dari dunia ini. Hati gue terasa tersayat-sayat mendengar lantunan adzan dari dalam liang lahat itu. Pertanda sebentar lagi Sari akan tertutup oleh timbunan tanah, dan tak akan kami lihat lagi untuk selamanya.
Gue merasakan sebuah tangan merangkul dan menepuk pundak gue, kemudian gue menoleh. Gue melihat sahabat gue itupun terpaku ke liang lahat, sambil bergumam, “innalillahi wa inna ilaihi rajiun.”
Gue menghembuskan asap rokok yang sedari tadi gue hisap, sambil duduk termenung di pekarangan sebuah rumah. Gue memperhatikan banyak orang berlalu lalang di hadapan gue, dan kesemuanya dengan ekspresi yang sama, dan berpakaian nyaris identik. Ekspresi kesedihan, dan berpakaian gelap, seakan menjadi satu hal yang akrab bagi gue beberapa waktu terakhir ini. Entah apa yang terjadi pada dunia gue ketika itu.
Gue memperhatikan pakaian yang gue kenakan, dan menggeleng ketika gue menyadari bahwa gue secara sukarela ikut dalam pusaran kesedihan. Kehilangan Sari, meskipun bukan kehilangan pertama gue, tetap merupakan satu pukulan telak dalam hidup gue. Dulu, waktu gue kehilangan bokap, gue merasa lebih hancur daripada sekarang. Tapi sekarang gue menyadari, setiap kehilangan punya bobotnya sendiri-sendiri. Kenangan seseorang tentang orang lain tak pernah sama.
Beberapa waktu kemudian, gue menyadari ada sahabat gue yang datang mendekati. Dia duduk di samping gue, dan kemudian menyalami sambil memeluk gue, menepuk-nepuk punggung gue agar gue tetap tegar. Gue kemudian menyalami pacar sahabat gue ini sambil tersenyum tipis, dan menjawab sekadarnya dengan lirih.
“Lo baik-baik aja Dhik?”
Gue mendengar sahabat gue itu bertanya, dan menoleh ke arahnya.
“Apa keliatan baik-baik aja?” sahut gue.
“Ya gue tahu sih itu pertanyaan retoris.”
Gue menunduk dan menghembuskan napas panjang. Gue merasakan tangan sahabat gue itu di pundak dan memijat-mijatnya.
“Lo gak perlu berpura-pura baik-baik aja. Lo cuma harus percaya bahwa semua bakal baik-baik aja, pada akhirnya.” ucapnya lagi.
“Mungkin gak sekarang, Bas.” jawab gue pelan.
“Kapanpun lo siap.” sahutnya serius.
Gue memainkan batang rokok di tangan kanan, sambil melamun. Begitu banyak yang ada di pikiran gue, tapi seperti gak ada kata yang bisa mengungkapkan. Gue menyandarkan punggung ke belakang, dan menoleh ke sahabat gue.
“Menurut lo, apa yang harus gue lakuin sekarang?” tanya gue.
“Bangkit.” jawabnya singkat.
“Meskipun gue sendiri gak tau seberapa dalem gue jatuh?”
“Iya, lo harus bangkit dan cari jalan keluar. Sejauh apapun itu. Jangan bikin batasan untuk diri lo sendiri, karena lo gak akan tau seberapa tinggi lo bakal melompat setelah ini semua.” sahutnya sambil tersenyum.
Gue hanya berkedip-kedip mendengar saran sahabat gue ini, dan beringsut ke seberang, mencari sekardus air mineral kemasan gelas. Ketika gue sedang mencari, tiba-tiba pacar sahabat gue itu sudah menyodorkan segelas air mineral ke gue sambil tersenyum.
“Nih, Dhik. Ati-ati sedotannya ntar jatuh.”
Gue menerima itu sambil tersenyum.
“Iya, makasih ya, Nin.”
Kemudian Anin berdiri, dan berpindah duduknya menjadi di sebelah kiri gue. Jadilah sekarang gue diapit antara Baskoro, sahabat gue itu, dan Anin, pacarnya. Gue melihat si Bas sedang menggulung lengan kemeja hitamnya, menjadi sedikit diatas pergelangan tangan.
“Kamu yang tegar ya Dhik. Semua manusia pasti akan mengalami hal yang sama kok seperti ini. Kita semua cuma sedang nunggu antrian aja. Meskipun aku tau ini berat buat kamu, tapi bersyukurlah Sari sekarang udah damai disana, udah gak dikasih kesempatan untuk berbuat dosa lagi. Ini semua cuma soal waktu kok, Dhik, sampai nanti dateng waktunya kita kembali kepada-Nya.” ucap Anin sambil tersenyum.
“Iya, Nin. Terimakasih ya...”
“Setelah ini, jalanilah hidupmu sebaik-baiknya, seperti waktu masih ada Sari disini. Aku yakin, Sari juga menginginkan seperti itu kok. Dia pasti gak mau ngeliat kamu lama-lama terpuruk kayak begini. Ya kan?”
“Iya, Nin...”
Akhirnya tibalah waktunya jenazah Sari dimakamkan. Bagi kami yang masih hidup, inilah kali terakhir kami melihat Sari secara fisik. Gue mengajukan diri secara sukarela memanggul peti jenazahnya, dan membawanya ke pemakaman di dekat rumahnya, meskipun sebenernya itu cukup jauh. Tapi gue sama sekali gak merasa berat tentang itu. Bagi gue, inilah hal terakhir yang bisa gue persembahkan ke Sari, selain doa-doa yang akan selalu terlantun dalam setiap sujud gue.
Ketika peti jenazah beserta rombongan telah tiba di pemakaman, gue melihat ada sebuah liang lahat yang telah disiapkan, dan beberapa orang berdiri di sampingnya. Jadi inilah rumah terakhir Sari, tempat dia bakal bersemayam selamanya, pikir gue getir. Perlahan-lahan, jenazah Sari dikeluarkan dari peti dan mulai dimasukkan kedalam liang lahat. Gue langsung mengajukan diri jadi salah satu orang yang masuk ke dalam liang lahat untuk menerima jenazah.
Setelah jenazah diletakkan kemudian dihadapkan ke arah kiblat sesuai dengan ajaran agama, kami mulai membuka tali pengikat kafannya. Gue kebagian membuka bagian perut. Gue keluar dari liang lahat itu dibantu oleh dua orang yang menarik tangan gue, dan mendengarkan adzan yang diucapkan di telinga Sari. Adzan adalah suara pertama yang diucapkan di telinga Sari ketika dia lahir, dan adzan pula yang terakhir kali diucapkan di telinga Sari ketika dia akan berpisah dari dunia ini. Hati gue terasa tersayat-sayat mendengar lantunan adzan dari dalam liang lahat itu. Pertanda sebentar lagi Sari akan tertutup oleh timbunan tanah, dan tak akan kami lihat lagi untuk selamanya.
Gue merasakan sebuah tangan merangkul dan menepuk pundak gue, kemudian gue menoleh. Gue melihat sahabat gue itupun terpaku ke liang lahat, sambil bergumam, “innalillahi wa inna ilaihi rajiun.”
pulaukapok dan 4 lainnya memberi reputasi
5