- Beranda
- Stories from the Heart
Sometimes Love Just Ain't Enough
...
TS
jayanagari
Sometimes Love Just Ain't Enough
Halo, gue kembali lagi di Forum Stories From The Heart di Kaskus ini 
Semoga masih ada yang inget sama gue ya
Kali ini gue kembali lagi dengan sebuah cerita yang bukan gue sendiri yang mengalami, melainkan sahabat gue.
Semoga cerita gue ini bisa berkenan di hati para pembaca sekalian

Semoga masih ada yang inget sama gue ya

Kali ini gue kembali lagi dengan sebuah cerita yang bukan gue sendiri yang mengalami, melainkan sahabat gue.
Semoga cerita gue ini bisa berkenan di hati para pembaca sekalian


*note : cerita ini sudah seizin yang bersangkutan.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 24-04-2016 00:40
jenggalasunyi dan 9 lainnya memberi reputasi
10
422.1K
1.5K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#22
PART 1
Selimut putih yang membungkus tubuh itu terhampar di depan mata gue, di depan tubuh gue, dan di dalam jangkauan tangan gue. Tangan gue bergetar, dan gue ulurkan untuk memegang tangan yang terkulai di samping selimut putih itu. Gue sentuh tangan itu, dan masih merasakan kehangatan yang tersisa. Kehangatan tubuhnya yang terakhir yang bisa gue rasakan. Berulang kali gue berusaha membendung air mata yang terbit dari kedua mata gue.
Gue memandangi wajahnya yang pucat, dan cantik. Matanya terpejam, dan bibirnya terkatup, dengan sedikit lekukan senyum. Gue harap, itulah senyumnya yang terakhir yang menunjukkan kebahagiaannya lepas dari segala penderitaan. Gue berharap semoga dia tersenyum karena dia telah berada di tempat yang lebih baik daripada di dunia fana ini. Dan gue yakin, Tuhan pun tersenyum menyambutnya.
Kemudian, secara bergiliran, masing-masing anggota keluarganya mulai menciuminya, satu per satu. Kedua orang tuanya menciumi kening, pipi dan tangan anak kesayangan mereka untuk yang terakhir kali dengan rasa haru. Semua orang di ruangan itu menitikkan air mata, dan tak terkecuali gue. Tangan gue bergerak tanpa sadar, menghapus air mata yang mengalir di pipi gue. Kali itu gue membuang semua ego dan harga diri sebagai laki-laki, dan gue memilih untuk berdiri sebagai manusia fana yang melihat akhir dari kehidupan manusia lain.
Ketika seluruh anggota keluarga yang lain telah selesai mengucapkan perpisahan kepada sesosok wanita yang terbaring damai di hadapan kami semua, gue merasa inilah giliran gue untuk mengucapkan selamat tinggal kepadanya. Dengan langkah kaki gemetar dan perasaan yang tak terlukiskan, gue bergerak maju dan berdiri di samping tempat tidurnya, kemudian membungkukkan badan. Gue berbisik lembut di telinga yang gue tahu sudah tak akan bisa mendengar apapun lagi dari gue.
“Selamat tinggal, Sari. Semoga kamu tenang disana. Tetaplah bersinar dan memberi arti di hati kami semua. Selamat tinggal, Sayang. Aku cinta kamu. Selalu.”
Gue mencium keningnya yang mulai mendingin itu perlahan, dan gue menarik diri untuk memandangi wajahnya yang selama ini gue kenal dan gue cintai, sebelum dia mengenakan kain putih yang akan dia pakai selamanya. Gue memperhatikan dengan seksama setiap detail wajah dan rambutnya, dan berusaha menjadikannya abadi di hati gue. Mungkin gue akan terus terpaku di tempat yang sama jika tidak ada satu genggaman di lengan yang menyadarkan gue. Ibunda Sari lah yang menggenggam lengan gue erat. Gue menoleh.
“Dhika...” ucapnya parau, menahan tangis.
“Ya tante...” jawab gue lirih.
“Ikhlasin Sari ya Dhika, biar dia tenang disana... Kita semua juga berusaha ikhlasin Sari kok....”
“Iya tante, saya ikhlas. Tante juga yang tabah menghadapi ini ya, saya tahu apa yang saya rasakan sekarang gak ada apa-apanya daripada apa yang Om dan Tante rasakan.”
“Sari itu anaknya baik, dia selalu jadi panutan buat adik-adiknya. Dia itu kalo sama Tante selalu-“
Kata-kata ibunda Sari itu mendadak terputus karena beliau tak kuasa menahan tangis. Entah kenapa, gue otomatis memeluk ibunda Sari, dan beliau menangis di pelukan gue. Barangkali karena rasa solidaritas diantara kami sedemikian kuat, sama-sama ditinggalkan oleh seseorang yang sangat kami cintai. Bagi gue, mungkin Sari hanyalah seseorang yang singgah di hati dan saling mencintai. Tapi bagi kedua orang tua Sari, terutama ibundanya, Sari adalah darah daging mereka, yang sangat mereka cintai sejak Sari membuka mata hingga menutup mata untuk terakhir kalinya. Dan gue yakin, doa-doa mereka akan selalu mengiringi Sari dalam menempuh perjalanan keduanya.
Ketika tubuh Sari yang telah ditutupi oleh selimut itu dibawa ke kamar jenazah, gue hanya bisa termangu melihat Sari menjauh dari gue. Bibir gue menggumamkan sesuatu tanpa suara. Selamat tinggal.
Gue berjalan dengan gontai menyusuri lorong panjang rumah sakit, dengan pikiran yang kosong. Gue masih gak percaya, seseorang yang gue cintai telah meninggalkan gue. Bahkan dia gak sempat berpamitan dengan gue. Tapi gue tahu, dia gak pernah pergi. Dia selalu ada di hati dan pikiran gue. Dan dia selalu mengawasi gue sambil tersenyum dari sana.
Tuhan mencintaimu, Sari. Itulah kenapa Tuhan memanggil kamu lebih dulu. Supaya hatimu yang indah itu gak dirusak oleh dunia. Tuhan mencintaimu, melebihi kami semua yang ada disini. Terimakasih untuk segalanya, dan terimakasih atas memori yang indah tentangmu.
Selimut putih yang membungkus tubuh itu terhampar di depan mata gue, di depan tubuh gue, dan di dalam jangkauan tangan gue. Tangan gue bergetar, dan gue ulurkan untuk memegang tangan yang terkulai di samping selimut putih itu. Gue sentuh tangan itu, dan masih merasakan kehangatan yang tersisa. Kehangatan tubuhnya yang terakhir yang bisa gue rasakan. Berulang kali gue berusaha membendung air mata yang terbit dari kedua mata gue.
Gue memandangi wajahnya yang pucat, dan cantik. Matanya terpejam, dan bibirnya terkatup, dengan sedikit lekukan senyum. Gue harap, itulah senyumnya yang terakhir yang menunjukkan kebahagiaannya lepas dari segala penderitaan. Gue berharap semoga dia tersenyum karena dia telah berada di tempat yang lebih baik daripada di dunia fana ini. Dan gue yakin, Tuhan pun tersenyum menyambutnya.
Kemudian, secara bergiliran, masing-masing anggota keluarganya mulai menciuminya, satu per satu. Kedua orang tuanya menciumi kening, pipi dan tangan anak kesayangan mereka untuk yang terakhir kali dengan rasa haru. Semua orang di ruangan itu menitikkan air mata, dan tak terkecuali gue. Tangan gue bergerak tanpa sadar, menghapus air mata yang mengalir di pipi gue. Kali itu gue membuang semua ego dan harga diri sebagai laki-laki, dan gue memilih untuk berdiri sebagai manusia fana yang melihat akhir dari kehidupan manusia lain.
Ketika seluruh anggota keluarga yang lain telah selesai mengucapkan perpisahan kepada sesosok wanita yang terbaring damai di hadapan kami semua, gue merasa inilah giliran gue untuk mengucapkan selamat tinggal kepadanya. Dengan langkah kaki gemetar dan perasaan yang tak terlukiskan, gue bergerak maju dan berdiri di samping tempat tidurnya, kemudian membungkukkan badan. Gue berbisik lembut di telinga yang gue tahu sudah tak akan bisa mendengar apapun lagi dari gue.
“Selamat tinggal, Sari. Semoga kamu tenang disana. Tetaplah bersinar dan memberi arti di hati kami semua. Selamat tinggal, Sayang. Aku cinta kamu. Selalu.”
Gue mencium keningnya yang mulai mendingin itu perlahan, dan gue menarik diri untuk memandangi wajahnya yang selama ini gue kenal dan gue cintai, sebelum dia mengenakan kain putih yang akan dia pakai selamanya. Gue memperhatikan dengan seksama setiap detail wajah dan rambutnya, dan berusaha menjadikannya abadi di hati gue. Mungkin gue akan terus terpaku di tempat yang sama jika tidak ada satu genggaman di lengan yang menyadarkan gue. Ibunda Sari lah yang menggenggam lengan gue erat. Gue menoleh.
“Dhika...” ucapnya parau, menahan tangis.
“Ya tante...” jawab gue lirih.
“Ikhlasin Sari ya Dhika, biar dia tenang disana... Kita semua juga berusaha ikhlasin Sari kok....”
“Iya tante, saya ikhlas. Tante juga yang tabah menghadapi ini ya, saya tahu apa yang saya rasakan sekarang gak ada apa-apanya daripada apa yang Om dan Tante rasakan.”
“Sari itu anaknya baik, dia selalu jadi panutan buat adik-adiknya. Dia itu kalo sama Tante selalu-“
Kata-kata ibunda Sari itu mendadak terputus karena beliau tak kuasa menahan tangis. Entah kenapa, gue otomatis memeluk ibunda Sari, dan beliau menangis di pelukan gue. Barangkali karena rasa solidaritas diantara kami sedemikian kuat, sama-sama ditinggalkan oleh seseorang yang sangat kami cintai. Bagi gue, mungkin Sari hanyalah seseorang yang singgah di hati dan saling mencintai. Tapi bagi kedua orang tua Sari, terutama ibundanya, Sari adalah darah daging mereka, yang sangat mereka cintai sejak Sari membuka mata hingga menutup mata untuk terakhir kalinya. Dan gue yakin, doa-doa mereka akan selalu mengiringi Sari dalam menempuh perjalanan keduanya.
Ketika tubuh Sari yang telah ditutupi oleh selimut itu dibawa ke kamar jenazah, gue hanya bisa termangu melihat Sari menjauh dari gue. Bibir gue menggumamkan sesuatu tanpa suara. Selamat tinggal.
Gue berjalan dengan gontai menyusuri lorong panjang rumah sakit, dengan pikiran yang kosong. Gue masih gak percaya, seseorang yang gue cintai telah meninggalkan gue. Bahkan dia gak sempat berpamitan dengan gue. Tapi gue tahu, dia gak pernah pergi. Dia selalu ada di hati dan pikiran gue. Dan dia selalu mengawasi gue sambil tersenyum dari sana.
Tuhan mencintaimu, Sari. Itulah kenapa Tuhan memanggil kamu lebih dulu. Supaya hatimu yang indah itu gak dirusak oleh dunia. Tuhan mencintaimu, melebihi kami semua yang ada disini. Terimakasih untuk segalanya, dan terimakasih atas memori yang indah tentangmu.
pulaukapok dan 4 lainnya memberi reputasi
5