Kaskus

Story

tanzakuAvatar border
TS
tanzaku
Sekai No Chusin De, Ai Wo Sakebu
~Sekai No Chusin De, Ai Wo Sakebu~

Quote:


Pertama2, cerita ini bukanlah pengalaman pribadi atau karangan gue sendiri. Tapi cerita ini adalah novel karya Katayama Kyoichi-sensei pada tahun 2001, dan diterjemahkan sekaligus diterbitkan dalam bahasa indonesia pada tahun 2015. Tujuan gue menulis cerita ini di SFTH hanya untuk berbagi kepada teman2 semua, karna cerita ini benar2 menarik menurut gue. Tidak ada motif lain untuk menduplikat, membajak, memperbanyak atau semacamnya.

Bukan maksud untuk promosi, tapi jika suka dengan cerita ini dan ingin menghargai karya penulisnya. Novelnya bisa dibeli di Gramedia emoticon-Big Grin


Quote:


Quote:
Diubah oleh tanzaku 13-10-2015 15:51
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
3K
11
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.8KAnggota
Tampilkan semua post
tanzakuAvatar border
TS
tanzaku
#10
Chapter 1 : ~ Festival Budaya dan Acara Radio Di Malam Natal ~
Chapter 1
~ Festival Budaya dan Acara Radio Di Malam Natal ~


Rumahku ada di lingkungan perpustakaan kota. Bangunan putih yang bersebelahan dengan gedung perpustakaan itu adalah bangunan rokumeikan atau demokrasi taishou. Bangunan ini ditetapkan sebagai warisan budaya kota dan penghuninya tidak boleh merenovasi seenaknya. Ditetapkan sebagai warisan budaya kota sepertinya hal yang patut disyukuri, tapi tidak demikian bagi penghuninya. Kenyataannya, rumah ini sulit untuk ditinggali orang-orang tua seperti kakekku, hingga akhirnya kakek pindah sendirian ke mansiontua. Rumah yang tak ramah pada orang tua jelas sulit untuk dihuni oleh orang tua, orang muda, laki-laki, ataupun perempuan. Keeksentrikan ini seperti penyakit bawaan ayah. Jadi dari apa yang kulihat, ibu pun dibuat repot. Dan ini juga tidak nyaman buat anak-anak.

Aku tak tahu mengapa keluargaku akhirnya tinggal disini. Dengan mengabaikan soal ayahku yang suka mabuk, hal itu pasti ada kaitannya dengan ibu yang bekerja di perpustakaan. Atau mungkin ada koneksi dari kakekku yang dulunya seorang parlemen. Apa pun itu, aku tak pernah sengaja menanyakannya karena aku tak ingin tahu soal masa lalu menjijikan di rumah ini. Jarak terpendek antara rumah dan perpustakaan hanya tiga meter. Karena itu dari kamarku yang ada di lantai dua, aku bisa ikut membaca buku orang yang duduk di kursi yang terletak di pinggir jendela. Tapi, itu bohong.

Meski begitu, aku adalah anak yang berbakti kepada orangtua. Jadi sejak SMP, kadang aku suka membantu ibuku saat tak ada kegiatan klub. Hari-hari saat sedang banyak pengunjung seperti misalnya hari sabtu sore atau hari libur nasional, aku bekerja keras layaknya Giovanni dalam "Night of The Galactic Road", memasukkan barcode buku di konter peminjaman atau menumpuk buku-buku yang sudah dikembalikan ke kereta dorong, kemudian mengembalikannya ke rak buku. Karena keluarga kami bukan keluarga tanpa ayah dan ini bukan kerja sukarela, tentu saja aku mendapat honor harian. Dan sebagian besar uang yang kuterima kubelikan CD.

Setelah itu Aku dan Aki tetap menjalani hubungan yang tak kurang dan tak lebih sebagai pengurus kelas. Kami memiliki banyak kesempatan untuk berkunjung ke rumah sakit bersama-sama, tapi tak ada rasa khusus sebagai lawan jenis. Mungkin aku tak terlalu menyadari daya tarik Aki karena kami terlalu dekat. Dia cukup cantik, sifatnya baik, dan pandai dalam pelajaran, serta banyak anak laki-laki sekelas yang jadi penggemarnya. Dan tanpa aku sadari, aku sudah menimbulkan rasa iri dan antipati dari mereka. Misalnya saat main basket atau sepak bola di jam pelajaran olahraga, pasti ada orang yang sengaja menubruk atau menendang kakiku. Meski bukan bentuk kekerasan yang jelas, tapi aku bisa merasakan niat jahat mereka. Awalnya aku tak tahu apa alasannya. Yang kutahu hanyalah ada yang membenciku. Kalau memikirkan kenapa aku dibenci, aku jadi terluka.

Kecemasan yang ada dalam waktu jangka panjang akhirnya lenyap dengan cepat karena suatu kejadian kecil. Dalam acara festival budaya semester kedua, masing-masing kelas VIII SMP harus menampilkan pertunjukan drama. Hasil pengumpulan suara di kelas menunjukkan dominasi suara perempuan dan akhirnya diputuskan kalau kelas kami akan menampilkan "Romeo & Juliet". Dan berdasarkan rekomendasi murid-murid perempuan, Aki terpilih untuk memerankan Juliet dan untuk pemeran Romeo, karena tak ada yang mau memainkan akhirnya berdasarkan peraturan tak tertulis, aku sebagai pengurus kelaslah yang ditunjuk untuk memerankannya.

Dengan dipimpin murid-murid perempuan, latihan berjalan dalam suasana yang akrab. Adegan di sisi jendela ketika Juliet mengutarakan perasaannya dengan berkata "Romeo, Romeo, kenapa kau adalah Romeo? Lawanlah ayahmu dan buanglah namamu itu. Jika kau tak bisa, setidaknya lakukanlah sumpah cinta..." terasa lucu karena Aki memerankannya dengan serius. Ibu kepala sekolah juga tampil secara khusus berperan sebagai bibi pengasuh dan tawa kami semua meledak saat beliau mengucapkan dialog, "Tidak salah. Aku bersumpah demi waktuku selama 12 tahun sebagai seorang perawan." Di kamar Juliet kami berdua menyongsong pagi dan pada adegan saat romeo berbisik, "Jika diluar sudah terang, hati kita berdua akan gelap," adegan ciuman telah diatur. Juliet yang menghentikan Romeo, dan Romeo yang rambut belakangnya ditarik kemudian saling menatap lalu berciuman dengan dipisahkan oleh pegangan tangan balkon.

"Hei, kau jangan terlalu mesra dengan Hirose, ya," kata seorang anak laki-laki.

"Jangan sok mentang-mentang kau pintar dalam pelajaran!" kata yang lain.

"Apa maksud kalian?" kataku.

"Dasar cerewet!" salah seorang tiba-tiba menonjok perutku.

Hampir tak ada cedera yang kudapat karena cara memukulnya yang cuma seperti gertakan, dan secara refleks aku juga mengeluarkan tenagaku. Entah apa mereka sudah puas, tapi kemudian mendadak mereka berbalik dan pergi dengan sikap mengecilkan. Bukan rasa malu yang kurasakan, tapi rasa lega karena kekhawatiran yang telah lama mengganjal akhirnya terbongkar. Sepertinya cairan asam yang ditambahkan secukupnya ke cairan merah fenolftalin yang bereaksi dengan sifat alkali yang akan menimbulkan reaksi penetralisir yang membuat larutan air menjadi bening. Demikianlah dunia jadi benar-benar jelas. Aku kembali mencoba mengulangi jawaban yang tak terduga di dalam hatiku. Mereka cemburu padaku. Mereka memusuhiku karena aku selalu ke rumah sakit bersama Aki.

Saat itu, Aki dirumorkan sudah punya pacar seorang murid SMA. Bukan berarti aku sudah memastikan atau menanyakan langsung pada yang bersangkutan. Aku hanya secara tak sengaja mendengar pembicaraan murid-murid perempuan sekelas. Katanya pacar Aki main basket dan seorang yang tampan dengan postur tinggi. Dengan bercanda di dalam hati, pikiranku berkata kalau anak laki-laki harusnya main kendo.

Waktu itu, belajar sambil mendengar Radio jadi kebiasaan Aki. Aku juga tahu acara kesukaannya. Karena aku pernah beberapa kali mendengarkannya, jadi aku familiar dengan itu. Acara dengan konsep dimana anak laki-laki dan perempuan yang sepertinya ber-IQ rendah saling berkirim kartu pos, lalu mereka akan merasa senang karena kartu pos mereka dibacakan oleh DJ yang fasih mengucapkan "r." Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menulis kartu pos untuk Aki. Entah kenapa aku melakukan itu. Mungkin sindiran buatnya yang berpacaran dengan anak SMA. Dan sedikit banyak mungkin balas dendam karena kesusahan yang kualami gara-gara Aki. Dan di atas segala-galanya, menjadi sebuah pertanda dari rasa cinta yang belum kusadari.

Hari itu malam Natal dan acara radio itu mengusung tema "Request spesial untuk para kekasih di malam Natal" yang membuat bulu kudukku merinding. Tentu saja bisa diprediksi kalau tingkat persaingan meningkat. Supaya dibacakan, isi kartu pos harus bisa menarik hati mereka.

"Baiklah, akan kami bacakan kartu pos berikutnya. Dari seseorang dengan nama radio, Romeo dari kelas VIII-4. Hari ini aku ingin menulis tentang A. H., teman sekelasku. Dia gadis berambut panjang dan pendiam. Wajahnya seperti Nausicaa dalam Naausicaa of The Valley of The Wind, tapi dengan versi sedikit lebih lembut. Sifatnya ceria, dan sudah lama jadi pengurus kelas. Di acara festival budaya bulan november, kami sekelas menampilkan drama 'Romeo & Juliet' dimana dia memerankan Juliet dan aku memerankan Romeo. Namun, sejak latihan dimulai, kondisi tubuhnya melemah, dan dia jadi sering tak masuk sekolah. Apa boleh buat akhirnya dicari pemeran pengganti dan aku pun memerankan 'Romeo & Juliet' bersama dengan gadis lain. Setelah itu, aku baru tahu kalau dia menderita leukemia. Saat ini pun, dia masih diopname dan melanjutkan pengobatannya. Menurut cerita teman-teman sekelas yang menjenguk, rambutnya yang dulu panjang sekarang rontok akibat obat dan dia menjadi kurus hingga raut wajahnya yang dulu hampir tak terlihat lagi. Kurasa di malam Natal ini pun, dia melewatkannya di tempat tidur rumah sakit. Dan mungkin dia sedang mendengarkan acara radio. Aku ingin mempersembahkan lagu 'Tonight' dari West Side Story untuk dia yang tak bisa memerankan Juliet dalam festival budaya."

"Apa-apaan, sih?" ucap Aki esok harinya setelah menangkapku di sekolah. "Matsumoto, kamu yang mengajukan request kemarin, kan?"

"Apa maksudmu?"

"Percuma saja pura-pura bodoh. Romeo dari kelas VIII-4...? Dan leukemia katamu? Rambut rontok, lalu menjadi kurus hingga raut wajahnya yang dulu hampir tak tampak lagi? Bisa-bisanya kamu berbohong seperti itu."

"Awalnya aku memuji, kan?"

"Maksudmu Nausicaa yang lembut itu?" katanya sambil menarik nafas panjang. "Matsumoto, kamu boleh menulis macam-macam tentang aku. Tapi, di dunia ini benar-benar ada orang yang menderita karena sakit, kan? Walaupun bercanda, aku nggak suka kalau kamu mencari simpati dengan cara menjadikan orang-orang seperti itu sebagai bahan candaanmu."

Aku bereaksi atas cara bicara Aki yang seperti orang berpengalaman. Tapi, aku suka melihat dia marah. Rasanya seperti ada angin sejuk yang berhembus di dadaku. Dan sepertinya itu adalah angin yang membawa rasa puas terhadap diriku sendiri yang untuk pertama kalinya melihat dia sebagai lawan jenis bersamaan dengan rasa sukaku pada Aki.









Footnote :

Bangunan Rokumeikan = Bangunan besar berlantai dua di Tokyo, selesai pada tahun 1883, yang menjadi simbol kontroversial Westernisasi pada zaman Meiji.

Demokrasi Taishou = Salah satu nama zaman pemerintahan Kaisar Jepang sewaktu Kaisar Taishou (Yoshihito) memerintah Jepang, sesudah zaman Meiji dan sebelum zaman Shouwa.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.