- Beranda
- Stories from the Heart
1 Flat! 2 Wanita! 2 Cerita!
...
TS
galonze.b.c.n.b
1 Flat! 2 Wanita! 2 Cerita!

1 Flat2 Wanita 2 Cerita

Quote:
Spoiler for Rules:
Spoiler for F.A.Q:
Quote:
Diubah oleh galonze.b.c.n.b 11-06-2016 21:40
sormin180 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
1.1M
3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
galonze.b.c.n.b
#909
Part 49 Trip to Sumedang (4) [ Don’t Cry My Angel ]
Esok paginya, Alarm Handphone Gue Berdering! Gue yang bangun langsung mematikan jam weker yang ketika dilihat baru jam 05.00, melihat sekeliling ternyata anak anak masih pada tidur, gue melangkah ke air untuk segera shalat Shubuh.
30 menit setelah melamun didepan Rumah, gue mendengar ada seseorang yang sedang berada di dapur, gue pun langsung melangkah menuju kebelakang, dan setelah dilihat ternyata intan sedang membuat sarapan pagi di dapur.
“Intan, lagi bikin sarapan?” tanya gue.
“iya, buat berdua aja” jawab dia sambil tersenyum.
gue pun yang mendengar ucapan itu dari dia kembali ikut tersenyum “ya udah, aku sambil mandi dulu ya, keburu anak anak yang lain ikut bangun soalnya”
“iya” jawab dia singkat.
Saat sudah keluar dari kamar mandi, gue lihat di dapur sudah ada mila norman dan yohanes sedang mengobrol sambil memasak di dapur.
“Inang! Ini harum banget miel, sarapan buat aku yah?” tanya Yohanes sambil menyerobot mendekati mila yang masih menggoreng nasinya.
“Enak aja abang ih! Ini buat aku tau! Kalo mau abang bikin aja sendiri” jawab mila.
ketika menuangkan nasi goreng ke kedua piring ya sudah disediakan, Intan kembali masuk ke dapur dan mengambil mie goreng yang sudah dibuatnya, gue pun langsung melangkah mendeati mereka semua.
“Wah bikin apa ini?” Aromanya harum bener! Jadi laper ini” celetuk gue sambil menyimpan handuk.
“Eh rangga, udah beres mandi! Kok gak keliatan ke kamar mandinya?”sapa mila.
“Eh iya, tadi emang ada ‘panggilan alam’ jadi agak lama dikamar mandinya hehehe” jawab gue.
“Sini ngga! Aku udah buatin nasi goreng buat berdua, spesial pake telor setengah mateng” ucap dia sabil tersenyum.
Gue sedikit kaget dengan ucapannya itu, gue pikir dia membuat nasi goreng untuk bersama, ternyata hanya untuk berdua aja, apalagi ketika gue melirik melihat raut muka intan disebelahnya menyiratkan kekecewaan, namun karna gue merasa tidak enak menolak tawaran mila, akhirnya gue terima tawaran nasi goreng buatannya, meskipun merasa tidak enak dengan intan karna sudah berjanji untuk makan bersamanya.
“gimana? Udah enak kan nasi gorengku sekarang?” tanya dia.
“enak miel, enak banget” ucap gue mengangguk ngangguk, memang nasi goreng buatan mila sekarang ini terasa lebih enak dari yang sebelumnya, dan gue harus jujur mengakui itu.
“Bang, ni aku bikinin sarapan, panggil norman juga, tapi maaf ya kalo aku cuma buatin mie, gak sehat kan makan mie pagi pagi” ucap dia dengan nada suara ditekankan sambil melangkah ketengah rumah kearah gue.
“ahhhh tak apalah! Yang penting ada yang buatkan sarapan” ucap yohanes sambil melangkah kearah dia diikuti oleh norman.
Gue yang melirik kearah intan pun masih merasa tidak enak hati padanya, mata Intan yang mulai memerah saat itu langsung berlari meninggalkan ruangan tengah dan segera di susul oleh agnas kedalam kamar.
Saat jalan jalan disekitar desa, Rio mengajak kita berkeliling untuk lebih mengakrabkan diri dengan warga sekitar, gue yang sebenarnya malas ikut karna sedang tidak mood untuk banyak berbicara akgirnya memilih untuk lbih banyak diam. Gue masih memikirkan kejadian tadi pagi, ketika intan menawarkan makanan kepada norman dengan mata yang memerah mungkin mencoba untuk tidak menangis dihadapan banyak orang.
Karna dia tidak ikut berkeliling dan hanya ingin diam saja dirumah hari ini, gue pun ber inisiatif untuk mengirim sms kepada intan.
Selang berapa lama pun datang sms balasan dari dia.
Gue yang menerima sms dari dia itu memahami betapa sakitnya hati dia saat itu, beberapa kalo sms yang gue kirimkan kedia tidak ada yang dibalas satupun, maka gue putuskan untuk minta maaf secara langsung.
“Woy! lu kenapa ngelamun aja? Ayo kita pulang, besok baru kita jalan jalan ke Desa sebelah, katanya disana sungainya bersih” ucap norman menyadarkan lamunan gue.
“Iya daritadi si Rangga itu kerjaannya melamun terus! Pening juga aku melihatnya” timpal Yohanes.
Sementara anak anak yang lain melangkah di depan, norman menepuk pudak gue dari samping “Ngga! enak ye dikasih perhatian lebih sama mereka bedua”
Gue menoleh ke arah norman “hehehe, iya nih bro..” jawab gue sambil cengengesan.
“kasian loh ngga intan tadi, gue tau kalo di posisi lu pasti susah banget buat milih, makannya gue kasih saran cepet pilih salah satu dari mereka, biar gak ada yang ngerasa tersakiti terus terusan aja” ucap norman memberikan saran.
“gue juga gak enak sih tadi makan sarapan jatah elu, tapi lebih gak enak lagi kalo nolak tawaran dari dia, kesannya kayak yang gimana gitu” ucap norman lagi.
“iya nih, gue juga ngerasa aneh aja sama mila akhir akhir ini, tumben soalnya dia ngasih perhatian lebih gitu sama gue” jawab gue.
“ya namanya juga cewek ngga, perasaannya kan cepet berubah rubah, hari ini A, besok bisa jadi B, susah lah buat ditebak, apalagi mereka berdua udah mulai perang dingin gitu” ucap norman sambil tersenyum.
Sepulangnya berkeliling desa, gue terus berusaha untuk mendekati intan, namun dia selalu menjauh dan menghindar, hingga keesokan harinya, keadaan seperti itu masih belum berubah, intan tetap menghindari gue dan hanya berkumpul dan mengobrol dengan anak anak yang lain.
---
Saat sedang berada di depan rumah sendiri, karna gue tidak ikut anak anak untuk mancing disungai, akhirnya gue memutuskan untuk pergi sendirian keluar, gue mencoba untuk menyendiri beberapa saat, entah kenapa kali ini merasa butuh waktu untuk sendiri dan berfikir mencari jalan keluar yang enak agar masalah seperti ini tidak terulang kembali, dengan langkah lunglai dan tak tentu arah melangkah tanpa tujuan.
Gue yang terus berjalan tanpa arah disekitar desa dengan pikiran yang mengawang ngawang, gue mulai merasa sayang kembali sama intan, namun di sisilain, hati ini mulai terpikat dengan mila. Wajah mereka berdua bergantian bermain main di pelupuk mata gue.
Pinggg!! Saat itu HP gue berbunyi dan bergetar, ternyata sms dari Rio.
Guepun dengan segera membalas sms dari rio tersebut.
Gue pun kembali berjalan lagi, setelah beberapa meter berjalan sendirian, kemudian mendengar isak tangis seorang perempuan, entah kenapa bulu kuduk tba tiba berdiri “Wah ditempat sepi gini ada suara cewek nangis? Hiiiiii! Tapi masa siang bolong gini ade yang aneh aneh” ucap gue di dalam hati.
Karena mulai penasaran, gue dengan langkah hati hati menuju ke arah suara tangis itu, setelah dekat gue pun terkejut melihat wanita itu ternyata intan “Intan!” ucap gue sambil mendekati dia.
“Rangga?!” jawab dia sambil mengusap air mata di pipinya.
“Kamu ngapain ditempat kayak gini? Sendirian lagi?” ucap gue sambil duduk disampingnya.
“enggak, gak ngapa ngapain, emang cuma lagi pengen sendiri aja” jawab intan.
“masalah yang kemaren itu..” ucap gue ke dia yang langsung dipotong olehnya.
“udah gak usah di bahas, aku tau kamu orangnya paling gak bisa nolak, jadi wajar aja kalo kayak kemaren gitu kejadiannya” jawab dia dengan cuek.
“iya aku salah, maaf..” jawab gue.
Cukup lama kita diem dieman saat itu, intan yang sedari tadi diam pun tidak ngucapkan satu patah kata apapun, hingga saatnya gue kembali angkat bicara.
“aku mulai suka sama mila” ucap gue.
“....” dia diam tanpa menjawab.
“entah suka ini hanya sebatas kagum akan sifatnya atau memang bener bener cinta.. yang jelas saat ini aku mulai pingin buka hati ini untuk perempuan lain setelah dengan puri” ucap gue ke dia.
dia yang sedari tadi diam pun mulai berbicara “terus terang aja, walaupun kamu gak sekaya laki laki lain, tapi emang pesona kamu yang bisa narik hati perempuan manapun, kamu juga bebas memilih perempuan yang kamu suka!”
“heemmmm, awalnya aku coba untuk mulai bawa hubungan kita ke arah yang serius sama kamu, tapi saat aku inget kejadian kemaren lagi, rasanya perlahan lahan rasa sayangnya kayak mulai pudar, tapi perlahan lahan sering terasa tumbuh lagi, aku bingung... aku bingung kalau harus memilih pergi atau tetap bersama kamu” ucap gue mengeluarkan semua isi yang ada di hati.
dia kembali terdiam saat mendengar ucapan dari gue itu, matanya yang memerah menandakan bahwa dia tak sanggup lagi menahan air matanya.
“kamu tau kan saat ayahku meninggal ibu sering sakit sakitan, aku coba bawa kedokter tapi penyakitnya gak kunjung sembuh, sampe puncaknya saat setahun kamu pergi pesantren semua sawah yang kita punya dijual sama paman untuk nutupin biaya berobat ibu, aku yang gak bisa berbuat apa apa cuma bisa nangis aja dikamar saat semua yang kita punya habis ke jual”
“sampe sebulan kemudian aku mutusin buat ke bandung, aku ikut tinggal seminggu di rumah imas (temen smp intan) sambil mencari cari pekerjaan yang cocok buat lulusan smp kayak aku disana, susah banget nyari kerja dengan modal lulusan smp disini, jangankan kerjaan yang kantoran, jadi tukang cuci piring aja aku gak keterima, sampe akhirnya keadaan memaksa aku buat masuk ke tempat kayak gitu” ucap intan mulai menangis.
“semua yang aku lakuin ke mereka Cuma sebatas untuk uang, untuk keluargaku supaya mereka bisa hidup layak dan senang, walaupun ibu gak tau aku kerja kayak gini, yang pasti kalo dia tau anaknya kerja jadi perempuan penghibur pasti dia bakal sedih banget, dia pasti bakal ngerasa gagal jadi orang tua dan yang paling penting dia bakal sakit sakitan lagi, aku gak mau itu kejadian lagi, karna aku belum siap buat ditinggal oleh orangtua ku lagi....”
“kamu tau? Aku tuh ngelakuin kerjaan itu tanpa ada rasa suka sedikitpun, kamu salah kalau nilai aku kerja kayak gini cuma sebatas pengen hidup mewah dan ingin hidup senang,karna kemewahan sesungguhnya buat aku itu saat ibu dan ayah masih bersama, saat melihat mereka berdua tersenyum ,dan kesenangan sesungguhnya buat aku itu saat ada disamping kamu,saat kita cuma ngelewatin hari hari berdua, aku sadar saat pertama kali aku masuk ke dunia seperti ini perlahan tapi pasti kamu bakal tau, dan perlahan lahan kamu bakal pergi ninggalin aku... tapi aku udah siap buat semua itu.... aku harus nanggung semua itu... walaupun rasanya di dada ini sakit banget saat liat orang yang aku sayang mulai pergi untuk mencintai orang lain” ucap dia sambil menangis.
“satu hal yang pingin aku sampaikan ke kamu, kalau suatu saat nanti kamu udah bisa memilih, entah itu kamu pilih dia ataupun aku, tolong aku minta satu hal tolong jangan pernah kamu kecewain dia, jangan pernah kamu tinggalin dia, walaupun aku yakin kamu gak bakal kayak gitu, karna nyakitin perempuan itu bukan sifat kamu” ucap dia.
“aku tuh orangnya paling gak mau bersaing buat dapetin orang yang aku suka, karena terakhir kali aku bersaing untuk dapetin hati cowo itu saat smp dulu, saat itu dengan puri, dan kamu lebih milih dia daripada aku, sekarang pun juga sama... kamu pasti sadarkan mila mulai berubah saat kamu pulang ke bandung? Dia bilang ke aku kalo dia mulai ada rasa ke kamu, dan saat itu aku bilang ke dia bahwa biar kamu yang memilih nanti pada akhirnya...”
“....” gue yang sedari tadi mendengarkan penjelasan dari dia masih belum bisa berbicara, tapi yang paling penting, akhirnya gue mulai tau alasan sebenernya dia kerja kayak gitu, dan untuk mila? Biarlah waktu yang menentukan yang mana yang harus gue pilih pada akhirnya.
“aku bingung kalau harus memilih... aku tau dia perempuan baik, saat pertama kali dateng ke bandung pun aku banyak dikenalin ke berbagai tempat disini sama dia, tapi kamu lebih baik dari dia.. atas semua yang udah kamu lakuin ke aku... kamu lebih baik daripada dia.. entahlah aku gak tau jawabannya kalo kamu suruh milih, biar waktu yang menjawab semua itu... entah nanti aku sama dia atau pun sama kamu... atau mungkin dengan oranglain. yang pasti kalian berdua itu yang terbaik! Kalian masing masing selalu punya tempat di hati ini..” ucap gue sambil menarik badan dia untuk berdiri.
“kamu pengen tau kenapa aku dulu pilih puri? Aku akhirnya pilih dia walaupun kita dulu beda kepercayaan, karna menurutku hubungan kita itu anugrah dari Tuhan,walaupun hubungan kita masih kecil saat itu,tapi Tuhan sudah mengajarkan arti cinta sesungguhnya dalam agama yang berbeda, yang membuat aku lebih bisa menghargai wanita yang satu kepercayaan denganku saat kita berhubungan nanti, yang membuat aku ingin lebih bisa menjaganya supaya tidak kehilangan, karna saat dengan puri dulu,kita sadar bahwa lambat laun kita pasti bakal mulai kehilangan, rasa takut kehilangan itulah yang Tuhan ajarkan untuk kita agar nanti jika aku ataupun puri sudah punya pasangan masing masing dengan orang lain, kita bisa lebih menghargai dan menyayangi pasangan kita itu” ucap gue memberi penjelasan pada dia.
“intan.. mulai sekarang.. tolong kamu jangan tangisin aku lagi, jangan pernah beranggapan bahwa aku bakal ninggalin kamu, aku gak bakalan pernah ninggalin kamu walau mungkin nanti kita gak bakal bersama sama lagi, karna kamu selalu punya tempat disini... di hati ini...” ucap gue menarik tangannya dan menempelakannya di dada.
“....” intan hanya menangis dan memeluk gue erat saat itu.. dan entah kenapa.. perlahan lahan air mata gue pun mulai membasahi pipi ini.
“ucapan kamu itu... aku akan anggap itu sebagai janji kamu.. janji walau nanti pada akhirnya kamu memilih orang lain, kamu gak bakal pernah ninggalin aku sendirian disini...” ucap dia sambil memeluk erat badan gue.
Dan hari itupun kita lewati hanya berdua, gue tau pada akhirnya memang harus memilih apakah akan memilih dia ataupun orang lain pada akhirnya, tapi yang pasti, untuk saat ini gue hanya ingin fokus untuk masa depan gue kedepan nanti, biarlah waktu yang menjawab tentang perasaan ini, karna jika tuhan sudah menghendaki, siapapun pasangan gue nanti... harus yakin itu adalah jodoh terbaik yang Tuhan berikan untuk menemani hidup gue sampai ajal menjemput.
30 menit setelah melamun didepan Rumah, gue mendengar ada seseorang yang sedang berada di dapur, gue pun langsung melangkah menuju kebelakang, dan setelah dilihat ternyata intan sedang membuat sarapan pagi di dapur.
“Intan, lagi bikin sarapan?” tanya gue.
“iya, buat berdua aja” jawab dia sambil tersenyum.
gue pun yang mendengar ucapan itu dari dia kembali ikut tersenyum “ya udah, aku sambil mandi dulu ya, keburu anak anak yang lain ikut bangun soalnya”
“iya” jawab dia singkat.
Saat sudah keluar dari kamar mandi, gue lihat di dapur sudah ada mila norman dan yohanes sedang mengobrol sambil memasak di dapur.
“Inang! Ini harum banget miel, sarapan buat aku yah?” tanya Yohanes sambil menyerobot mendekati mila yang masih menggoreng nasinya.
“Enak aja abang ih! Ini buat aku tau! Kalo mau abang bikin aja sendiri” jawab mila.
ketika menuangkan nasi goreng ke kedua piring ya sudah disediakan, Intan kembali masuk ke dapur dan mengambil mie goreng yang sudah dibuatnya, gue pun langsung melangkah mendeati mereka semua.
“Wah bikin apa ini?” Aromanya harum bener! Jadi laper ini” celetuk gue sambil menyimpan handuk.
“Eh rangga, udah beres mandi! Kok gak keliatan ke kamar mandinya?”sapa mila.
“Eh iya, tadi emang ada ‘panggilan alam’ jadi agak lama dikamar mandinya hehehe” jawab gue.
“Sini ngga! Aku udah buatin nasi goreng buat berdua, spesial pake telor setengah mateng” ucap dia sabil tersenyum.
Gue sedikit kaget dengan ucapannya itu, gue pikir dia membuat nasi goreng untuk bersama, ternyata hanya untuk berdua aja, apalagi ketika gue melirik melihat raut muka intan disebelahnya menyiratkan kekecewaan, namun karna gue merasa tidak enak menolak tawaran mila, akhirnya gue terima tawaran nasi goreng buatannya, meskipun merasa tidak enak dengan intan karna sudah berjanji untuk makan bersamanya.
“gimana? Udah enak kan nasi gorengku sekarang?” tanya dia.
“enak miel, enak banget” ucap gue mengangguk ngangguk, memang nasi goreng buatan mila sekarang ini terasa lebih enak dari yang sebelumnya, dan gue harus jujur mengakui itu.
“Bang, ni aku bikinin sarapan, panggil norman juga, tapi maaf ya kalo aku cuma buatin mie, gak sehat kan makan mie pagi pagi” ucap dia dengan nada suara ditekankan sambil melangkah ketengah rumah kearah gue.
“ahhhh tak apalah! Yang penting ada yang buatkan sarapan” ucap yohanes sambil melangkah kearah dia diikuti oleh norman.
Gue yang melirik kearah intan pun masih merasa tidak enak hati padanya, mata Intan yang mulai memerah saat itu langsung berlari meninggalkan ruangan tengah dan segera di susul oleh agnas kedalam kamar.
Saat jalan jalan disekitar desa, Rio mengajak kita berkeliling untuk lebih mengakrabkan diri dengan warga sekitar, gue yang sebenarnya malas ikut karna sedang tidak mood untuk banyak berbicara akgirnya memilih untuk lbih banyak diam. Gue masih memikirkan kejadian tadi pagi, ketika intan menawarkan makanan kepada norman dengan mata yang memerah mungkin mencoba untuk tidak menangis dihadapan banyak orang.
Karna dia tidak ikut berkeliling dan hanya ingin diam saja dirumah hari ini, gue pun ber inisiatif untuk mengirim sms kepada intan.
Quote:
Selang berapa lama pun datang sms balasan dari dia.
Quote:
Gue yang menerima sms dari dia itu memahami betapa sakitnya hati dia saat itu, beberapa kalo sms yang gue kirimkan kedia tidak ada yang dibalas satupun, maka gue putuskan untuk minta maaf secara langsung.
“Woy! lu kenapa ngelamun aja? Ayo kita pulang, besok baru kita jalan jalan ke Desa sebelah, katanya disana sungainya bersih” ucap norman menyadarkan lamunan gue.
“Iya daritadi si Rangga itu kerjaannya melamun terus! Pening juga aku melihatnya” timpal Yohanes.
Sementara anak anak yang lain melangkah di depan, norman menepuk pudak gue dari samping “Ngga! enak ye dikasih perhatian lebih sama mereka bedua”
Gue menoleh ke arah norman “hehehe, iya nih bro..” jawab gue sambil cengengesan.
“kasian loh ngga intan tadi, gue tau kalo di posisi lu pasti susah banget buat milih, makannya gue kasih saran cepet pilih salah satu dari mereka, biar gak ada yang ngerasa tersakiti terus terusan aja” ucap norman memberikan saran.
“gue juga gak enak sih tadi makan sarapan jatah elu, tapi lebih gak enak lagi kalo nolak tawaran dari dia, kesannya kayak yang gimana gitu” ucap norman lagi.
“iya nih, gue juga ngerasa aneh aja sama mila akhir akhir ini, tumben soalnya dia ngasih perhatian lebih gitu sama gue” jawab gue.
“ya namanya juga cewek ngga, perasaannya kan cepet berubah rubah, hari ini A, besok bisa jadi B, susah lah buat ditebak, apalagi mereka berdua udah mulai perang dingin gitu” ucap norman sambil tersenyum.
Sepulangnya berkeliling desa, gue terus berusaha untuk mendekati intan, namun dia selalu menjauh dan menghindar, hingga keesokan harinya, keadaan seperti itu masih belum berubah, intan tetap menghindari gue dan hanya berkumpul dan mengobrol dengan anak anak yang lain.
---
Saat sedang berada di depan rumah sendiri, karna gue tidak ikut anak anak untuk mancing disungai, akhirnya gue memutuskan untuk pergi sendirian keluar, gue mencoba untuk menyendiri beberapa saat, entah kenapa kali ini merasa butuh waktu untuk sendiri dan berfikir mencari jalan keluar yang enak agar masalah seperti ini tidak terulang kembali, dengan langkah lunglai dan tak tentu arah melangkah tanpa tujuan.
Gue yang terus berjalan tanpa arah disekitar desa dengan pikiran yang mengawang ngawang, gue mulai merasa sayang kembali sama intan, namun di sisilain, hati ini mulai terpikat dengan mila. Wajah mereka berdua bergantian bermain main di pelupuk mata gue.
Pinggg!! Saat itu HP gue berbunyi dan bergetar, ternyata sms dari Rio.
Quote:
Guepun dengan segera membalas sms dari rio tersebut.
Quote:
Gue pun kembali berjalan lagi, setelah beberapa meter berjalan sendirian, kemudian mendengar isak tangis seorang perempuan, entah kenapa bulu kuduk tba tiba berdiri “Wah ditempat sepi gini ada suara cewek nangis? Hiiiiii! Tapi masa siang bolong gini ade yang aneh aneh” ucap gue di dalam hati.
Karena mulai penasaran, gue dengan langkah hati hati menuju ke arah suara tangis itu, setelah dekat gue pun terkejut melihat wanita itu ternyata intan “Intan!” ucap gue sambil mendekati dia.
“Rangga?!” jawab dia sambil mengusap air mata di pipinya.
“Kamu ngapain ditempat kayak gini? Sendirian lagi?” ucap gue sambil duduk disampingnya.
“enggak, gak ngapa ngapain, emang cuma lagi pengen sendiri aja” jawab intan.
“masalah yang kemaren itu..” ucap gue ke dia yang langsung dipotong olehnya.
“udah gak usah di bahas, aku tau kamu orangnya paling gak bisa nolak, jadi wajar aja kalo kayak kemaren gitu kejadiannya” jawab dia dengan cuek.
“iya aku salah, maaf..” jawab gue.
Cukup lama kita diem dieman saat itu, intan yang sedari tadi diam pun tidak ngucapkan satu patah kata apapun, hingga saatnya gue kembali angkat bicara.
“aku mulai suka sama mila” ucap gue.
“....” dia diam tanpa menjawab.
“entah suka ini hanya sebatas kagum akan sifatnya atau memang bener bener cinta.. yang jelas saat ini aku mulai pingin buka hati ini untuk perempuan lain setelah dengan puri” ucap gue ke dia.
dia yang sedari tadi diam pun mulai berbicara “terus terang aja, walaupun kamu gak sekaya laki laki lain, tapi emang pesona kamu yang bisa narik hati perempuan manapun, kamu juga bebas memilih perempuan yang kamu suka!”
“heemmmm, awalnya aku coba untuk mulai bawa hubungan kita ke arah yang serius sama kamu, tapi saat aku inget kejadian kemaren lagi, rasanya perlahan lahan rasa sayangnya kayak mulai pudar, tapi perlahan lahan sering terasa tumbuh lagi, aku bingung... aku bingung kalau harus memilih pergi atau tetap bersama kamu” ucap gue mengeluarkan semua isi yang ada di hati.
dia kembali terdiam saat mendengar ucapan dari gue itu, matanya yang memerah menandakan bahwa dia tak sanggup lagi menahan air matanya.
“kamu tau kan saat ayahku meninggal ibu sering sakit sakitan, aku coba bawa kedokter tapi penyakitnya gak kunjung sembuh, sampe puncaknya saat setahun kamu pergi pesantren semua sawah yang kita punya dijual sama paman untuk nutupin biaya berobat ibu, aku yang gak bisa berbuat apa apa cuma bisa nangis aja dikamar saat semua yang kita punya habis ke jual”
“sampe sebulan kemudian aku mutusin buat ke bandung, aku ikut tinggal seminggu di rumah imas (temen smp intan) sambil mencari cari pekerjaan yang cocok buat lulusan smp kayak aku disana, susah banget nyari kerja dengan modal lulusan smp disini, jangankan kerjaan yang kantoran, jadi tukang cuci piring aja aku gak keterima, sampe akhirnya keadaan memaksa aku buat masuk ke tempat kayak gitu” ucap intan mulai menangis.
“semua yang aku lakuin ke mereka Cuma sebatas untuk uang, untuk keluargaku supaya mereka bisa hidup layak dan senang, walaupun ibu gak tau aku kerja kayak gini, yang pasti kalo dia tau anaknya kerja jadi perempuan penghibur pasti dia bakal sedih banget, dia pasti bakal ngerasa gagal jadi orang tua dan yang paling penting dia bakal sakit sakitan lagi, aku gak mau itu kejadian lagi, karna aku belum siap buat ditinggal oleh orangtua ku lagi....”
“kamu tau? Aku tuh ngelakuin kerjaan itu tanpa ada rasa suka sedikitpun, kamu salah kalau nilai aku kerja kayak gini cuma sebatas pengen hidup mewah dan ingin hidup senang,karna kemewahan sesungguhnya buat aku itu saat ibu dan ayah masih bersama, saat melihat mereka berdua tersenyum ,dan kesenangan sesungguhnya buat aku itu saat ada disamping kamu,saat kita cuma ngelewatin hari hari berdua, aku sadar saat pertama kali aku masuk ke dunia seperti ini perlahan tapi pasti kamu bakal tau, dan perlahan lahan kamu bakal pergi ninggalin aku... tapi aku udah siap buat semua itu.... aku harus nanggung semua itu... walaupun rasanya di dada ini sakit banget saat liat orang yang aku sayang mulai pergi untuk mencintai orang lain” ucap dia sambil menangis.
“satu hal yang pingin aku sampaikan ke kamu, kalau suatu saat nanti kamu udah bisa memilih, entah itu kamu pilih dia ataupun aku, tolong aku minta satu hal tolong jangan pernah kamu kecewain dia, jangan pernah kamu tinggalin dia, walaupun aku yakin kamu gak bakal kayak gitu, karna nyakitin perempuan itu bukan sifat kamu” ucap dia.
“aku tuh orangnya paling gak mau bersaing buat dapetin orang yang aku suka, karena terakhir kali aku bersaing untuk dapetin hati cowo itu saat smp dulu, saat itu dengan puri, dan kamu lebih milih dia daripada aku, sekarang pun juga sama... kamu pasti sadarkan mila mulai berubah saat kamu pulang ke bandung? Dia bilang ke aku kalo dia mulai ada rasa ke kamu, dan saat itu aku bilang ke dia bahwa biar kamu yang memilih nanti pada akhirnya...”
“....” gue yang sedari tadi mendengarkan penjelasan dari dia masih belum bisa berbicara, tapi yang paling penting, akhirnya gue mulai tau alasan sebenernya dia kerja kayak gitu, dan untuk mila? Biarlah waktu yang menentukan yang mana yang harus gue pilih pada akhirnya.
“aku bingung kalau harus memilih... aku tau dia perempuan baik, saat pertama kali dateng ke bandung pun aku banyak dikenalin ke berbagai tempat disini sama dia, tapi kamu lebih baik dari dia.. atas semua yang udah kamu lakuin ke aku... kamu lebih baik daripada dia.. entahlah aku gak tau jawabannya kalo kamu suruh milih, biar waktu yang menjawab semua itu... entah nanti aku sama dia atau pun sama kamu... atau mungkin dengan oranglain. yang pasti kalian berdua itu yang terbaik! Kalian masing masing selalu punya tempat di hati ini..” ucap gue sambil menarik badan dia untuk berdiri.
“kamu pengen tau kenapa aku dulu pilih puri? Aku akhirnya pilih dia walaupun kita dulu beda kepercayaan, karna menurutku hubungan kita itu anugrah dari Tuhan,walaupun hubungan kita masih kecil saat itu,tapi Tuhan sudah mengajarkan arti cinta sesungguhnya dalam agama yang berbeda, yang membuat aku lebih bisa menghargai wanita yang satu kepercayaan denganku saat kita berhubungan nanti, yang membuat aku ingin lebih bisa menjaganya supaya tidak kehilangan, karna saat dengan puri dulu,kita sadar bahwa lambat laun kita pasti bakal mulai kehilangan, rasa takut kehilangan itulah yang Tuhan ajarkan untuk kita agar nanti jika aku ataupun puri sudah punya pasangan masing masing dengan orang lain, kita bisa lebih menghargai dan menyayangi pasangan kita itu” ucap gue memberi penjelasan pada dia.
“intan.. mulai sekarang.. tolong kamu jangan tangisin aku lagi, jangan pernah beranggapan bahwa aku bakal ninggalin kamu, aku gak bakalan pernah ninggalin kamu walau mungkin nanti kita gak bakal bersama sama lagi, karna kamu selalu punya tempat disini... di hati ini...” ucap gue menarik tangannya dan menempelakannya di dada.
“....” intan hanya menangis dan memeluk gue erat saat itu.. dan entah kenapa.. perlahan lahan air mata gue pun mulai membasahi pipi ini.
“ucapan kamu itu... aku akan anggap itu sebagai janji kamu.. janji walau nanti pada akhirnya kamu memilih orang lain, kamu gak bakal pernah ninggalin aku sendirian disini...” ucap dia sambil memeluk erat badan gue.
Dan hari itupun kita lewati hanya berdua, gue tau pada akhirnya memang harus memilih apakah akan memilih dia ataupun orang lain pada akhirnya, tapi yang pasti, untuk saat ini gue hanya ingin fokus untuk masa depan gue kedepan nanti, biarlah waktu yang menjawab tentang perasaan ini, karna jika tuhan sudah menghendaki, siapapun pasangan gue nanti... harus yakin itu adalah jodoh terbaik yang Tuhan berikan untuk menemani hidup gue sampai ajal menjemput.
Diubah oleh galonze.b.c.n.b 05-10-2015 09:50
oktavp dan 4 lainnya memberi reputasi
5

To : Intan